2.7. Penelitian Terdahulu
2.7.1. Penelitian Lembaga Kerjasama Antar Daerah d
Ada satu penelitian tentang kerjasama antar daerah yang langsung berkait dengan lembaga kerjasama antara daerah BARLINGMASCAKEB, yaitu penelitian yang dilakukan oleh Warsono (2009) yang mencoba untuk mendiskripsikan pola kerjasama regional yang terjadi di Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga pola region dari kerjasama regional yang saat ini terjadi di Jawa Tengah, yakni:
1. Keruangan Tanpa Kerjasama
Region ini memiliki karakter: tidak terjadi komunikasi, hampir tidak terjadi kerjasama (kecuali koordinasi sektoral), tidak ada lembaga kerjasama dan baru tahap identifikasi kebutuhan. Kerjasama jenis region ini meliputi:
a. Purwomanggung: Purworejo, Wonosobo, Magelang dan Temanggung. b. Banglor : Rembang dan Blora.
c. Wanarakuti : Juwana, Jepara, Kudus, dan Pati. 2. Kerjasama Bersifat Koordinatif
Region ini memiliki karakter: baru bersifat koordinatif, meski telah tersusun visi namun belum menggunakan konsep management regional. Misi dan
platform: sangat makro dan intensitas kegiatan rendah. Kerjasama jenis region ini meliputi:
Kedungsepur :Kendal, Demak, Ungaran (Kabupaten Semarang), Kota Semarang dan Purwodadi (Kabupaten Grobogan)
3. Kerjasama Dengan Konsep Manajemen Regional
Region ini memiliki karakter: digerakkan visi, misi, dilandasi konsep regional marketing, intensitas kegiatan tinggi, dan telah teridentifikasi kebutuhan kerjasama pada pelayanan publik. Kerjasama jenis region ini meliputi:
a.BARLINGMASCAKEB : Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen,
b.Subosukawonosraten : Surakarta, Boyolali, Kartasura, Karanganyar, Wonogiri, Sragen dan Klaten.
c.Sampan : Kota Tegal, Kota Pekalongan, Kabupaten Tegal, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Batang, Kabupaten Pemalang, dan Kabupaten Brebes. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa Ada dua pola hubungan antar pemerintah daerah, yakni intergovernmental relation dan intergovernmental management. Keduanya mengedepankan karakter networking. Intergovernmental relations merupakan sebuah pola organisasi antar daerah yang hanya memungkinkan koordinasi dalam aspek umum di seluruh wilayah kerjasama, sedangkan Intergovernmental Management merupakan sebuah pola organisasi antar daerah yang memberikan kemungkinan penyelenggaraan manajemen yang
terkendali penuh dengan sektor kerjasama yang jelas. Dari kedua pola hubungan tersebut, pola hubungan Intergovernmental Management lebih dapat mengekspresikan collective action sehingga lebih bisa menumbuhkan semangat kolaborasi antar pemerintah daerah.
2..7.2. Penelitian Lembaga Kerjasama Antar Daerah di Negara Lain
Dari hasil studi mengenai kerjasama antar daerah di beberapa negara menunjukkan adanya beberapa pola hubungan kerjasama antar daerah yang dapat dijadikan referensi, berbagai pola tersebut antara lain (Mas’udi, Hanif dan Bayo (2007) dalam Pratikno, 2007):
1. South African Local Goverment Association (SALGA) di Afrika Selatan
South African Local Goverment Association (SALGA) merupakan lembaga yang mewadahi kerjasama antar daerah di Afrika Selatan. Lembaga ini mempunyai fokus kegiatan kerjasama yang sangat komprehensif. Lembaga ini terbentuk atas dasar mandat konstitusi baru Afrika Selatan (1997) untuk mempercepat proses teranformasi demokrasi di ranah pemerintahan lokal yang memfokuskan diri pada pemberian pelayanan. Lembaga ini berfungsi sebagai
interest groups dari kepentingan daerah terhadap pemerintah pusat. Sebagai lembaga kerjasama yang mempunyai fokus kegiatan yang komprehensif SALGA mengemban beberapa peran sebagai berikut:
a. Merepresentasikan, mempromosikan dan melindungi kepentingan- kepentingan pemerintah daerah.
b. Membangun kapasitas pemerintah lokal untuk meningkatkan perannya dalam pembangunan
c. Memperkaya peran asosiasi pemerintah daerah dalam badan-badan perwakilan dan konsultasi daerah.
d. Meningkatkan profil dan kekuatan pemerintah daerah.
e. Menjadi forum bersama antar pemerintah daerah sebagai instrumen untuk menekan pemerintah nasional dan provinsi untuk memperhatikan permasalahan-permasalahan di pemerintah daerah.
g. Bertindak sebagai Organisasi Pekerja Nasional bagi anggota-anggotanya di level daerah dan provinsi.
h. Mengatur dan memperkuat hubungan-hubungan kerja.
i. Memberikan bantuan hukum kepada para anggotanya dalam tiap permasalahan yang berimplikasi pada hubungan kerja.
Untuk membiayai kegiatannya, SALGA memmperoleh dana dari iuran anggotanya. Sebagai organisasi kerjasama yang dibentuk melalui konstitusi Afrika Selatan, SALGA memiliki kekuatan penekan yang kuat terhadap anggota- anggotanya. Oleh karena itu, organisasi ini memiliki kejelasan dan ketegasan aturan main bagi tiap anggotanya. Misalnya anggota pemerintah daerah di SALGA bisa dikeluarkan atau dibekukan jika disetujui oleh komite eksekutif nasional jika gagal membayar iuran anggota atau denda lainnya. Dengan kekuatan aturan main semacam ini, SALGA menjadi pola kelembagaan kerjasama antar daerah yang cukup kuat, terutama sebagai forum koordinasi, monitoring sekaligus sebagai forum evaluasi.
2. Sound Transit di Washington
Di Amerika Serikat pada umumya ada dua konsep pola asosiasi antar pemerintah daerah, yaitu intergovernmental relations (IGR) dan intergovenmental management (IGM). Pada pola pertama, hubungan antara para anggota hanyalah hubungan koordinatif dalam rangka melakukan kerjasama untuk memperbesar
bargaining power mereka ketika berhadapan dengan pemerintah federal. Pola asosiasi ini lebih bersifat public interest group, fungsi lembaga ini hanya memberikan masukan kepada pemerintah federal berkaitan dengan penggunaan dana federal di negara bagian. Status hukum asosiasi ini hanya menjadi sebuah forum tanpa adanya kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu.
Pola asosiasi yang kedua, adalah pola asosiasi antar pemerintah daerah untuk melakukan pengelolaan suatu bidang pemerintahan tertentu yang sama- sama mereka butuhkan. Asosiasi ini terbentuk karena adanya kebutuhan yang sama, dan mereka berkeyakinan ketika bidang tersebut dikerjakan bersama-sama maka akan tercipta efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan bidang tersebut secara keseluruhan.
Sound Transit adalah lembaga kerjasama antar daerah yang dibentuk dengan menggunakan pola asosiasi intergovenmental management (IGM). Lembaga ini membidangi kerjasama di bidang transportasi publik yang melibatkan King County, Snohomish County, dan Pierce County. Ketiga County
ini terletak pada wilayah perkotaan Seattle. Bidang kerjasama yang dikelola oleh
Sound Transit adalah High Capacity Transportation (HCT), yang membidangi perkeretaapian dan bus, pusat pemberhentian, parkir dan jalur-jalur khusus. Dengan persetujuan Dewan Legislatif Washington, status legas dari Sound Transit
adalah menjadi agensi pada Departemen Transportasi. Kosekuensi hukum sebagai sebuah agensi Sound Transit dapat diklasifikasikan sebagai sebuah badan quasi eksekutive , quasi legislative dan quasi yudicative, sebab Sound Transit dapat membuat peraturan, enforcing peraturan yang dikeluarkan, dan juga menyelesaikan perselisihan internal pada tingkat pertama.
Sumber pendanaan dari pembiayaan kegiatannya, Sound Transit
mendapatkan porsi pajak yang ditarik oleh pemerintah dari penduduk yang berdomisili di ketiga County tersebut. Pada tingkat pimpinan puncak, Sound Transit dipimpin oleh sebuah board (Sound Transit Board) yang terdiri dari walikota dari ketiga kota, dan para anggota dewan kota (city council members).
Sound Transit Board mempunyai kewenangan dalam membuat peraturan dan mengawasi jalannya kegiatan midle management. Midle management dipimpin oleh seorang kepala dan dua orang wakil yang dipilih oleh Sound Transit Board.
Dari karakteristik tersebut, Sound Transit merupakan bentuk kerjasama antar daerah yang akhirnya membentuk badan yang terpisah dan dijalankan oleh sebuah direksi yang terpisah dari negara bagian baik county, regency, maupun distri, namun segala kegiatannya tetap diawasi oleh pejabat struktural pemerintahan.
3. The Local Autonomy Act (LAA) di Korea Selatan
The Local Autonomy Act (LAA) di Korea Selatan merupakan asosiasi dari pemerintah lokal yang dapat dikategorikan sebagai jenis asosiasi otonomi lokal. Namun, asosiasi ini merupakan bentuk asosiasi antar pemerintah daerah yang dikelola oleh pemerintah pusat. Dalam konteks kerjasama, asosiasi ini banyak diwarnai oleh ketidakberdayaan pemerintah lokal terhadap intervensi pemerintah
pusat. Sehingga terbentuknya asosiasi ini justru lebih memperlemah otonomi pemerintah daerah.
LAA tidak cukup memiliki power dalam mengimplementasikan hasil kerja komunitas lokal. Namun, asosiasi dapat memberikan kesempatan kepada pemerintah daerah untuk melakukan suatu proyek tertentu. Dalam melindungi kepentingan bersama, lembaga kerjasama ini memiliki jaminan untuk membuat keputusan dan mengelola konflik yang terjadi antar pemerintah daerah, tetapi tetap di bawah kendali The Minister of Home affairs and Governor (Kementerian Dalam Negeri) sebagai supervisor.
Lembaga kerjasama ini sangat bersifat sentralistik dan sangat tergantung kepada kementerian dalam negeri. Kondisi ini diperkuat bahwa kepala pemerintahan lokal masih ditunjuk oleh pemerintahan pusat, sehingga kepentingan pusat masih sangat mewarnai pemerintahan lokal. Dengan peranan yang demikian, maka efektvitas dari lembaga kerjasama seperti ini sangat diragukan.
4. League of Cities of the Philippines (LCP) di Filipina
Kewenangan membentuk kerjasama antar daerah di Filipina di atur dalam
Local Government Code of 1991. Berdasarkan kewenangan tersebut kemudian terbentuklah League of Cities of the Philippines (LCP) yang beranggotakan 117 kota. Lembaga ini merupakan institusionalisasi lebih lanjut dari League City mayors of the Philippines. Keanggotaan dari organisasi ini semula adalah para politisi lokal kemudian berubah menjadi institusi yang basis keanggotaanya adalah pemerintahan kota. Perubahan ini juga menembus sampai ranah fungsi, yaitu dari yang semula hanya memberikan pelayanan administratif bergeser menjadi institusi yang memberikan pelayanan teknis dan terlibat dalam perumusan kebijakan berkait dengan pemerintahan kota.
Apabila dilihat dari kewenangannya, lembaga kerjasama ini memiliki kewenangan yang cukup berarti. Misalnya lembaga ini berhak terlibat dalam proses formulasi dan implementasi kebijakan yang dibuat berkaitan dengan otonomi di level pemerintahan kota. Lembaga ini juga memiliki tanggungjawab untuk meningkatkan derajad kesejahteraan di wilayah perkotaan.
Beberapa ciri dari LCP sebagi bentuk lembaga kerjasama adalah (1) adanya pergeseran karakter dan fungsi organisasi yang semula bersifat politis menjadi bersifat fungsional, yaitu terjadinya perubahan basis keanggotaan yang semula adalah para politisi menjadi institusi pemerintahan kota; (2) karakter asosiasi bersifat fungsional yaitu dimilikinya kewenangan dan tanggungjawab untuk terlibat dalam perumusan kebijakan berkait dengan otonomi kota dalam rangka mencapai derajat kesejahteraan yang lebih baik bagi daerah perkotaan; (3) dengan kewenangan dan tanggungjawab yang dimilikinya menunjukkan adanya
collective action dari pemerintahan kota, sekaligus sebagai arena untuk mengkonsolidari aspirasi dan kepentingan dalam rangka melakukan bargaining
dengan pemerintah pusat.
2.7.3. Penelitian Lembaga Kerjasama Antar Daerah di Amerika Serikat Di Amerika Serikat sejumlah kerjasama antar daerah telah dibentuk untuk membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Olberding (2002) menemukan bahwa jumlah kemitraan regional untuk pembangunan ekonomi meningkat lima kali lipat selama dekade terakhir di daerah metropolitan besar di Amerika Serikat tenggara dari tiga pada tahun 1987 menjadi 16 pada tahun 1997. Bentuk kerjasama yang dilakukan dengan memberikan layanan masyarakat secara bersama pada satu atau dua bidang pelayanan publik saja. Upaya kerjasama dalam memberikan layanan dalam banyak bidang kepada masyarakat mengalami kesulitan karena membutuhkan tingkat koordinaasi antar pemerintah yang cukup luas.
Hanya terdapat sedikit kajian mengenai kemitraan antar daerah di Amerika Serikat. Salah satunya dilakukan oleh Bennett dan Nathanson (1997) yang meneliti tentang 13 kemitraan regional untuk pembangunan ekonomi wilayah metropolitan di Amerika Serikat. Penelitian lebih difokuskan pada faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan lembaga kerjasama antar daerah, namun tidak diteliti sampai pada tingkat keberhasilan dari keberadaan lembaga kerjasama antar daerah tersebut.
Berdasarkan dari hasil penelitian, beberapa faktor tampaknya mempengaruhi pembentukan kemitraan regional untuk pembangunan ekonomi.
Salah satu faktornya adalah tradisi regionalisme antara pejabat pemerintah lokal di daerah. Pembentukan kemitraan antar daerah akan semakin kuat apabila pemimpin bisnis (pengusaha) di daerah dan masyarakatnya juga memiliki norma kerjasama yang tinggi. Di berbagai daerah dimana para pemimpin lokal, pengusaha dan masyarakatnya lebih mementingkan nilai-nilai kompetitif (bersaing) di antara mereka maka akan sulit terbentuk kemitraan antar daerah.
Di samping adanya norma kerjasama, faktor kebutuhan daerah juga dapat mempengaruhi pembentukan kemitraan regional untuk pembangunan ekonomi. Faktor kebutuhan daerah bisa berupa tingginya angka pengangguran maupun adanya keterbatasan sumber daya pemerintah daerah. Sebagai contoh, pejabat pemerintah lokal di daerah Pittsburgh metropolitan termotivasi untuk bekerja sama dengan daerah lain karena beberapa kota sedang berjuang untuk membiayai polisi, pemeliharaan jalan, dan pelayanan publik lainnya, dan bahkan beberapa kota mengalami kebangkrutan. Dimensi lain kebutuhan yang dapat berpengaruh terhadap pembentukan kemitraan regional untuk pembangunan ekonomi adalah derajat kesamaan potensi ekonomi kota-kota di daerah metropolitan. Adanya kesamaan potensi ekonomi ini akan lebih dapat dikembangkan secara lebih efisien apabila dilakukan secara bersama-sama.
Para ahli telah lama mengakui sulitnya mencapai dan mempertahankan kerjasama sukarela antara sejumlah besar individu atau daerah tanpa adanya otoritas yang terpusat (Axelrod 1997), hal ini biasa disebut "dilema tindakan kolektif". Solusi untuk dilemma ini adalah adanya norma kooperatif. Ostrom (1998) menyimpulkan bahwa penentu utama kerjasama adalah adanya "norma timbal balik", yaitu kecenderungan individu "untuk bereaksi terhadap tindakan positif orang lain dengan tanggapan positif dan negatif tindakan orang lain dengan respon negatif ". Solusi lain untuk mengatasi "dilema tindakan kolektif" adalah melakukan komunikasi face-to-face antar pihak yang bekerjasama serta membangun aturan sanksi bagi pihak-pihak yang melakukan pelanggaran atas kesepakatan yang telah dilakukan secara bersama.