• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.7. Metode Analisis Data

3.7.2. Evaluasi Kinerja Lembaga Kerjasama Antar Daerah

Evaluasi kinerja lembaga kerjasama antar daerah dilakukan untuk: (1) mengetahui bagaimana kinerja lembaga tersebut selama ini, serta (2) mengindentifikasi faktor-faktor apa yang menyebabkan mengapa lembaga tersebut mempunyai capaian kinerja seperti itu. Untuk mengetahui bagaimana kinerja lembaga kerjasama antar daerah BARLINGMASCAKEB dilakukan secara deskriptif melalui penggambaran kinerja dari lembaga kerjasama antar daerah tersebut. Kinerja diartikan sebagai tingkat pencapaian hasil (the degree of accomplishment) atau tingkat pencapaian tujuan organisasi (Keban, 2004). Bernardin dan Russel (1993) mengartikan kinerja sebagai catatan tentang

outcome atau hasil akhir yang diperoleh setelah suatu pekerjaan atau aktivitas dijalankan selama kurun waktu tertentu.

Berdasarkan pengertian tersebut untuk melakukan evaluasi kinerja didasarkan pada pengukuran output dan outcome. Output adalah hasil langsung dari suatu proses, atau keluaran dari kegiatan organisasi. Ukuran output

menunjukkan hasil implementasi dari suatu kegiatan. Sedangkan pengertian

outcome adalah hasil yang dicapai dari suatu kegiatan dibandingkan dengan yang diharapkan. Ukuran outcome menunjuk pada pencapaian tujuan.

3.7.2.1. Evaluasi Kinerja Lembaga Kerja Sama Antar Daerah Dari Sisi Output

Untuk mengukur output dilihat dari berbagai capaian yang diperoleh oleh lembaga kerjasama antar daerah BARLINGMASCAKEB selama menjalankan aktivitasnya. Untuk megukur capaian hasil kegiatan dapat dilakukan melalui; (1) membandingkan antara realisasi capaian terhadap target capaian berdasarkan program kerja lembaga KSAD, (2) dengan menghitung efisiensi biaya (cost- efficiency) aktivitas lembaga dalam menghasilkan output (keluaran).

Untuk mengukur kinerja dari sisi output dengan membandingkan antara realisasi terhadap target diperoleh melalui capaian indikator sebagai berikut: Tabel 10 Pengukuran Kinerja dari Sisi Output Berdasar perbandingan Realisasi Capaian terhadap Target Capaian Program Kerja Lembaga KSAD

No. Kegiatan Indikator Kinerja Pengukuran Periode Tahun Sumber Data 1. Perdagang an Omset perdagangan yang difasilitasi lembaga KSAD Jumlah peserta lelang

Perbandingan realisasi terhadap target 2003 - 2009 Laporan kegiatan RM

2. Investasi Jumlah nilai investasi yang masuk yang difasilitasi lembaga KSAD Perbandingan realisasi terhadap target 2003 - 2009 Laporan kegiatan RM Laporan Kegiatan SKPD 3. Pariwisata Jumlah wisatawan yang

berkunjung ke obyek wisata yang

pengembangannya difasilitasi oleh lembaga KSAD Perbandingan realisasi terhadap target 2003 - 2009 Laporan kegiatan RM Laporan Kegiatan SKPD

Untuk mengukur kinerja dari sisi output dengan menghitung efisiensi biaya (cost-efficiency) yaitu biaya per unit output, dilakukan dengan menggunakan rumus: (Mahmudi, 2007).

Input Output

efisiensi

Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan input adalah kondisi hasil kegiatan ketika tidak bekerjasama sedangkan yang dimaksud dengan output

adalah kondisi hasil kegiatan ketika bekerjasama. Untuk memperoleh nilai efisiensi biaya berdasarkan rumus di atas diperlukan berbagai informasi capaian kegiatan seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut:

Tabel 11 Pengukuran Kinerja Dari Sisi output berdasar penghitungan efisiensi biaya (cost-efficiency)

No .

Kegiatan Input Output Periode

Tahun

Sumber Data

1. Investasi Rata-rata Investasi baru yang masuk di kabupaten dikurangi biaya mendatangakan invesatsi ketika tidak kerjasama

Rata-rata Investasi baru yang masuk di kabupaten dikurangi biaya mendatangakan invesatsi ketika kerjasama 2003 - 2009  Lap. kegiat. RM  Lap. Kegiat. SKPD 2. Perdaga ngan Keuntungan pedagang ketika tidak ada pelaksanaan lelang

Keuntungan pedagang ketika ada lelang dikurangi biaya lelang

2003 - 2009  Data Primer  Lap. Kegiat RM 3. Pariwi sata Rata-rata penerimaan retribusi Pariwisata dikurangi biaya pengembangan obyek wisata ketika tidak kerjasama

Rata-rata penerimaan retribusi Pariwisata dikurangi biaya pengembangan obyek wisata ketika ada kerjasama 2003 - 2009  Lap. Kegiat. RM  Lap. Kegiat. SKPD

3.7.2.2. Evaluasi Kinerja Lembaga Kerja Sama Antar Daerah Dari Sisi Outcome

Untuk mengukur kinerja organisasi lembaga kerjasama antar daerah dari sisi outcome dilakukan dengan melihat apakah ouput organisasi telah mengarah pada pencapaian tujuan dari dibentuknya lembaga kerjasama antar daerah, yaitu penguatan skala ekonomi daerah. Oleh karena itu, untuk melihat capaian outcome

dapat diketahui melalui capaian indikator kinerja sebagai berikut:

Tabel 12 Pengukuran Capaian Kinerja Lembaga Kerjasama Antar Daerah Dilihat Dari Sisi outcome

No .

Variabel Indikator Kinerja Periode

Tahun

Sumber Data

1. Nilai Investasi

Kontribusimasuknya investasi baru yang difasilitasi lembaga KSAD terhadap jumlah investasi baru di kabupaten

2003 - 2009 Laporan Kegiatan SKPD 2. Penyera pan tenaga Kerja

Kontribusi tenaga kerja yang bekerja pada perusahaan yang keberadaannya difasilitasi oleh lembaga KSAD terhadap total tenaga kerja di kabupaten yang bekerja di perusahaan

2003 - 2009 Laporan Kegiatan SKPD Kab. Dlm Angka 3. Potensi Sumber daya Alam

Kontribusi Jumlah perush. pertambangan dan penggalian yang keberadaannya difasilitasi oleh lembaga KSAD terhadap total perusahaan pertambangan dan penggalian di kabupaten Kontribusi jumlah obyek wisata yang telah

memberikan manfaat ekonomi yang pengembangannya difasilitasi oleh lembaga KSAD terhadap total obyek wisata yang telah memberikan manfaat ekonomi di kabupaten

2003 - 2009

Laporan Kegiatan SKPD

3.7.2.3. Identifikasi Penyebab Capaian Kinerja Lembaga Kerjasama Antar Daerah

Setelah mengetahui capaian kinerja lembaga kerjasama antar daerah, perlu dilakukan indentifikasi faktor penyebab mengapa capaian kinerja dari organisasi tersebut baru pada tingkatan tertentu. Untuk mengidentifikasi faktor penyebab capaian kinerja lembaga kerjasama antara daerah dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif. Untuk mendapatkan data akan digali dengan melakukan wawancara mendalam (indept interview) kepada para informan yaitu pengelola lembaga kerjasama BARLINGMASCAKEB serta para stakeholders yang relevan.

Faktor-faktor penyebab capaian kinerja dari lembaga KSAD diidentifikasi berdasarkan aspek kelembagaan dengan mengacu pada pendapat Pratikno (2007) yang mencakup (1) format kerjasama, (2) pengelolaan kerjasama, (3) struktur organisasi, (4) kerangka regulasi, (5) sumber pendanaan, dan (6) sistem pendukung. Berikut ditampilkan berbagai variabel dan ukuran standar penilaian yang akan dianalisis.

Tabel 13 Panduan Analisis Faktor Pengaruh Kinerja Lembaga KSAD

No. Variabel Analisis

Dimensi Kriteria Penilaian 1. Format

Kerjasama

Kewenangan  Lembaga Kerjasama: Developmental networks, outreach networks, dan action networks.

Forum Koordinasi: Memfasilitasi komunikasi dan koordinasi antar daerah anggota,

Forum Koordinasi, Monitoring dan Evaluasi: Developmental networks, outreach networks, dan action networks.

Badan Usaha Bersama: Developmental networks, outreach networks, dan action networks.

Lingkup Otoritas  Lembaga Kerjasama: Otoritas pengaturan (regulatory) yang kuat dalam bentuk Sanksi yang ketat

Forum koordinasi: Pengaturan longgar dengan mengutamakan toleransi

Forum Koordinasi, Monitoring dan Evaluasi: Tidak memiliki otoritas pemberian sanksi yang mengikat dan ketat pada anggotanya.

Badan Usaha Bersama: Otoritas pengaturan (regulatory) yang kuat dalam bentuk Sanksi yang ketat. Pola Relasi  Lembaga Kerjasama: Pelibatan anggota tinggi

Forum Koordinasi: Hubungan antar anggota bersifat cair dan fleksibel.

Forum Koordinasi, Monitoring dan Evaluasi:

Hubungan antar anggota bersifat cair dan fleksibel

Badan Usaha Bersama: Pelibatan anggota tinggi 2. Pengelola

an Kerjasama

Birokrasi Pelaksana

Membentuk Struktur Mandiri: Tenaga profesional

Struktur Melekat Pada Lembaga Pemerintah:

Birokrasi pemerintah daerah 3. Struktur Organisasi Kesetaraan Organissi yang bekerjasama  Setara: Network

Tidak Setara: Hierarkhis 4. Kerangka

Regulasi

Lingkup yang diatur

MoU: Mengatur pelaksanaan perjanjian induk

Deklarasi: Perjanjian mengatur ketentuan umum untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan dimasa mendatang

Perjanjian: Mengatur hal prisip dan membutuhkan pengesahan

Persetujuan: Perjanjian yang mengatur hal teknis 5. Sumber

Pendanaan

Proporsi pendanan dari berbagai sumber

Ideal: Proposi terbesar dari anggota

Tidak Ideal: Proporsi terbesar dari luar anggota 6. Sistem

Pendukung

Ketersediaan sistem informasi yang kuat

 Tersedianya situs resmi yang terupdate

 Memiliki jaringan (link) dengan lembaga lain Dukungan

lembaga donor

 Adanya dukungan pendanaan dan dukungan teknis (kegiatan pelatihan peningkatan kapasitas SDM) Keterlibatan

Pemerintah Pusat dan Provinsi

 Tersedianya perangkat hukum yang mendukung lembaga kerjasama

 Ketersediaan alokasi pendanaan bagi lembaga kerjasama

3.7.3. Analisis Kebijakan Pembentukan Lembaga Kerjasama Antar Daerah