• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KINERJA PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

kembali defisit sebesar Rp1,36 triliun, setelah itu terjadi surplus sebesar Rp3,5 triliun di 2019.

Terjadinya defisit di 2017 dan 2018 dikarenakan realisasi pendapatan tidak dapat mencover realisasi belanja. Tahun 2017 dan 2018 realisasi pendapatan hanya sebesar Rp39,78 triliun (2017) dan Rp40,29 triliun (2019). Sedangkan realisasi belanja mencapai Rp40,45 triliun (2017) dan Rp41,66 (2018). Pada dasarnya, terjadinya defisit anggaran wajar terjadi apabila defisit disebabkan realisasi pendapatan tidak dapat mencover realisasi belanja, namun dalam

konteks ini belanja yang mendatangkan manfaat atau memiliki value of money yang lebih besar di masa yang akan datang.

Misalnya belanja modal yang digunakan untuk membangun infrastruktur. Kondisi ini kontradiksi dengan defisit yang terjadi di 2017-2018, berdasarkan tabel IV.16 terlihat bahwa belanja yang paling dominan adalah belanja operasi sedangkan belanja modal masih relative rendah dan cenderung mengalami penurunan. Hal ini menandakan bahwa realisasi pendapatan sebagaian besar digunakan untuk mencover belanja operasi dengan masa manfaat jangka pendek.

Sedangkan di 2019 terjadinya surplus simultan dengan realisasi Pendapatan yang cukup tinggi namun tidak diimbangi dengan realisasi belanja yang optimal. Realisasi Pendapatan di 2019 sebesar Rp44,14 triliun sedangkan realisasi belanja hanya mencapai Rp40,56 triliun, kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat optimalisasi penggunaan anggaran belanja rendah.

4.5 ANALISIS KINERJA PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

4.5.1. Analisis Horizontal dan Vertikal

a. Analisis Vertikal

Selain membandingkan dan menganalisa kinerja APBD antar Pemda, perlu juga membandingkan dan menganalisa kontribusi setiap komposisi pendapatan terhadap total realisasi pendapatan (analisa vertikal). Berdasarkan tabel IV.20 diketahui bahwa kontribusi Pajak Daerah terhadap total pendapatan di Sulsel memiliki porsi yang lebih besar dibandingkan retribusi. Kontribusi Pajak Daerah terhadap total pendapatan adalah sebesar 70,05% sedangkan porsi retribusi daerah hanya mencapai 5,16% dari total PAD. Bila dikomparasikan antar komponen pendapatan terhadap total pendapatan daerah, maka secara agregat TKDD memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan daerah sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. Proporsi dana perimbangan terhadap pendapatan daerah mencapai 71,45%.

Sebaliknya proporsi PAD terhadap pendapatan daerah hanya mencapai 18,23%, sisanya merupakan proporsi lain-lain pendapatan daerah yang sah.

Bila di-breakdown lebih lanjut, diketahui bahwa kontribusi TKKD yang bersumber dari DAU terhadap total pendapatan masih merupakan sumber pendapatan utama bagi Pemda di Sulsel. Pangsa DAU terhadap TKDD mencapai 67,63%, kondisi ini menunjukkan peran Pemerintah Pusat pada APBD Sulsel masih sangat dominan. Tingginya porsi DAU tersebut simultan dengan realisasi belanja pegawai dan barang yang juga tinggi, padahal dalam earmarking belanja ditentukan untuk Dana Transfer Umum (DTU) termasuk didalamnya DAU minimal dialokasikan 25% pada belanja modal (infrastruktur). Beberapa Pemda dengan ketergantungan terhadap DAU yang cukup tinggi antara lain Kab. Pangkep (77,68%), Kab. Selayar (76,45%) dan Kota Makassar (75,49%) sedangkan Pemda dengan porsi DAU yang rendah antara lain Prov. Sulsel (47,57%), Kab. Jeneponto (66,16%) dan Kab. Luwu Timur (66,01%).

Kontribusi pajak terhadap PAD mencapai lebih dari 70,05% sedangkan kontribusi retribusi terhadap PAD hanya mencapai 5,16%. Sisanya dihasilkan dari kontribusi hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain PAD yang sah. Prov Sulsel dan Kota Makassar merupakan Pemda dengan capaian PAD lebih optimal dibandingkan daerah lainnya yakni mencapai 92,36%, bahkan melebihi rata-rata porsi pajak daerah di Sulsel yang sebesar 70,05%. Sedangkan Pemda dengan kontribusi retribusi tertinggi adalah Kab. Gowa sebesar 50,25% dan Kab. Jeneponto mencapai 45,90%.

b. Analisis Horizontal

Analisis horizontal merupakan analisis untuk membandingkan angka-angka dalam laporan realisasi Pemda (Kabupaten/Kota) satu dengan Pemda lain dalam satu wilayah (Provinsi).

Sumber: BPS (data diolah)

Berdasarkan tabel IV.17 terlihat bahwa Pemda dengan pendapatan terbesar antara lain Pemprov Sulsel (Rp9,5 triliun) dan Kota Makassar (Rp3,5 triliun). Besarnya realisasi pendapatan tersebut didukung oleh realisasi PAD yang juga tertinggi. Sedangkan Pemda dengan pendapatan terkecil adalah Pemkab Barru (Rp985,46 miliar). Jika dibreakdown lebih lanjut, diketahui bahwa terjadi ketimpangan antar Pemda dalam peroleh PAD, beberapa Pemda realisasi PAD-nya sangat tinggi bahkan melampaui target yang ditetapkan antara lain Kab. Sidrap (180%), Pinrang (119), Bone (117), Sinjai (113) dan Luwu Timur (105%). Sebaliknya masih terdapat beberapa Pemda dengan realisasi PAD yang sangat rendah bahkan dibawah 50% dari target yang ditetapkan antara lain Kab. Gowa (40%), Luwu Utara (40%), Bantaeng dan Soppeng (10%).

Apabila diamati lebih lanjut, maka dapat dilihat penyebab dari rendahnya realisasi PAD, antara lain karena Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) belum banyak memberikan keuntungan kepada Pemerintah Daerah dan kurangnya kesadaran masyarakat dalam membayar pajak, retribusi, dan pungutan lainnya.

Apabila diperbandingkan antar jenis belanja daerah secara horizontal, telihat bahwa seluruh pemda lebih banyak mengalokasikan anggarannya pada belanja barang dan pegawai. Besarnya alokasi anggaran yang disediakan oleh masing-masing Pemda ternyata tidak berkorelasi positif terhadap serapan

anggarannya. Hal ini terlihat bahwa masih terdapat pemda dengan realisasi penyerapan dibawah 90%, bahkan Kota Makassar dengan alokasi belanja pegawai yang tinggi ternyata daya serapnya hanya 86,14%. Begitu juga dengan Kab. Soppeng realisasi belanjanya sangat rendah hanya mencapai 16,38%. Untuk ralisasi belanja barang dan belanja modal, anggaran Pemprov Sulsel (Rp1,5 triliun untuk belanja barang dan RpRp974 miliar untuk belanja modal) dan Kota Makassar (Rp1,2 triliun untuk belanja

barang dan Rp851 miliar untuk belanja modal) tertinggi dibanding pemkab/pemkot yang lain. Kondisi ini dipengaruhi oleh luasnya urusan yang menjadi tanggung jawabnya Pemprov dan Kota Makassar sejalan dengan alokasi belanja barang dan belanja pegawai lebih besar dari belanja modal.

Dari sisi serapan anggaran belanja barang dan Modal, Kabupaten Pinrang (123,36% untuk belanja barang dan 127,89% untuk belanja modal) dan Bone (107% untuk belanja barang dan 113,32% untuk belanja modal) merupakan yang tertinggi dibanding Pemda yang lain, dengan persentase sebesar. Sebaliknya penyerapan terendah pada belanja barang dan modal adalah Kab. Soppeng (23,63% untuk belanja barang dan 42,51% untuk belanja modal).

4.5.2. Analisis Kapasitas Fiskal Daerah

Kapasitas fiskal di Sulsel periode 2018-2019 mengalami kenaikan. Kapasitas Fiskal di 2018 sebesar 13.605,98 meningkat 26,36% menjadi 17.192,73 di 2019. Kenaikan kapasitas fiskal tersebut sejalan dengan

penurunan jumlah penduduk miskin dari 779,64 ribu orang di 2018 menjadi 767,80 ribu orang di 2019. Kondisi ini menunjukkan terjadi peningkatan kemampuan keuangan masing-masing Pemda dalam menurunkan angka kemiskinan. Akselerasi pada kapasitas fiskal tersebut didorong oleh realisasi DAU yang semakin meningkat sebesar 6,06% dari Rp18,36 triliun di 2018 menjadi Rp19,48 triliun di 2019 dan Lain-Lain PAD yang sah meningkat lebih dari 100%.

Berdasarkan gambar IV.1 disamping terlihat bahwa Pemkot Makassar dan Kab. Luwu Timur merupakan pemda dengan kapasitas fiskal sangat tinggi dan tinggi. Sedangkan dominan pemda memiliki kategori Kapasitas Fiskal rendah sebanyak 11 pemda dan sedang sebanyak 9 pemda. Kondisi ini selain dipengaruhi faktor jumlah penduduk miskin yang cukup besar namun tidak diimbangi oleh kemampuan fiskal dalam menghasilkan sumber pendapatan selain itu, besarnya jumlah

belanja pegawai mengurangi kemampuan fiskal daerah dalam membiayai sektor pelayanan umum dan

insfrastruktur. Secara agregat, Pemerintah Sulsel cenderung mengambil kebijakan ekspansional pada saat penyusunan APBD yang bertujuan untuk memberikan stimulasi terhadap ekonomi yang berasal dari injeksi pendanaan dari luar daerah.

Kecenderungan lemahnya penyerapan anggaran menyebabkan kebijakan ekspansional menjadi tidak efektif, hal tersebut diindikasikan oleh rasio realisasi surplus terhadap agregat pendapatan yang justru tumbuh positif dari rasio minus 0,03 di 2018 menjadi 0,08 di 2019. Ketidakefektifan penyerapan anggaran menyebabkan penumpukan dana pemerintah pada SILPA. SILPA merupakan indikasi ketidakefektifan penganggaran dan realisasi, namun jika dikelola dengan baik akan menguntungkan anggaran periode berikutnya bila SILPA digunakan sebagai pembiayaan.