• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEMENTERIAN KEUANGAN DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN K A J I A N

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEMENTERIAN KEUANGAN DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN K A J I A N"

Copied!
156
0
0

Teks penuh

(1)

K A J I A N

F I S K A L

R E G I O N A L

KEMENTERIAN KEUANGAN

DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN

(2)
(3)

K A T A

(4)

K A T A P E N G A N T A R

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sulawesi Selatan yang merepresentasikan KementerianKeuangan di daerah sebagai pengelola fiskal semakin berperan sebagai economic advisor dan strategic partner bagi stakeholders di Sulawesi Selatan.  Salah satu fungsi penting peran Kanwil adalah mencermati berbagai perkembangan fiskal regional, kesinambungan fiskal dan resiko fiskal yang berdampak pada perekonomian regional serta mendukung pencapaian tujuan kebijakan fiskal di Sulawesi Selatan.  Kanwil DJPb dituntut dapat mendukung pencapaian target makro ekonomi  melalui kebijakan pendapatan dan belanja yang tertuang pada APBN dan APBD yang sejalan dengan  perencanaan pembangunan nasional dan daerah dengan menyusun Kajian Fiskal Regional (KFR) Tahun 2019.

Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan di 2019 tumbuh 6,92 persen dengan mencatat beberapa perkembangan diantaranya industri manufaktur baik industri besar dan sedang, mikro dan kecil masing-masing tumbuh 6,3 persen dan 16,6 persen.  Komoditi perikanan berupa produksi rumput laut meningkat 3 persen dibanding 2018.  Dari sektor sumber daya alam, produksi gas di 2019 meningkat namun nikel matte tercatat menurun sebesar 3 000 ton dibanding 2018.  Dari sisi pengeluaran pemerintah secara kumulatif konsumsi pemerintah tumbuh positif dengan realisasi belanja pegawai meningkat 9,5 persen atau senilai 8,1 triliun.

KFR disusun dan disajikan mencakup aspek pembangunan daerah, perkembangan ekonomi regional, pelaksanaan APBN dan APBD, pelaksanaan Mandatory Spending, analisa anggaran konsolidasian, potensi ekonomi regional dan analisis tematik agar dapat menjadi salah satu referensi bagi para stakeholders di daerah dalam membuat keputusan. Sehubungan dengan hal tersebut, kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi tingginya kepada semua pihak, terutama bagi stakeholder yang telah berkontribusi dalam sharing pemikiran dan membantu dalam penyediaan

Makassar,25 Februari 2020

Kepala Kanwil DJPB Prov Sulawesi Selatan

Sudarmanto

(5)
(6)

D

A

FT

A

R

IS

I

01

BAB I SASARAN PEMBANGUNAN DAN TANTANGAN DAERAH

08

BAB II PERKEMBANGAN DAN ANALISIS EKONOMI REGIONAL

23

BAB III PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN APBN

DITINGKAT REGIONAL

51

BAB IV PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN APBD

1.1 PENDAHULUAN ...01

1.2 TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH ...02

1.3 TANTANGAN DAERAH ...04

2.1 INDIKATOR MAKRO EKONOMI FUNDAMENTAL ...08

2.2 INDIKATOR KESEJAHTERAAN ...20

2.3 EFEKTIVITAS KEBIJAKAN MAKRO EKONOMI DAN PEMBANGUNAN REGIONAL ...22

3.1 APBN TINGKAT PROVINSI ...23

3.2 PENDAPATAN PEMERINTAH PUSAT TINGKAT REGIONAL ...23

3.3 BELANJA PEMERINTAH PUSAT TINGKAT REGIONAL ...27

3.4 TRANSFER KE DAERAH DAN DANA DESA ...36

3.5 ANALISA CASH FLOW APBN TINGKAT REGIONAL ...41

3.6 PENGELOLAAN BLU PUSAT ...43

3.7 PENGELOLAAN MANAJEMEN INVESTASI PUSAT ...45

3.8 PERKEMBANGAN DAN ANALISIS BELANJA WAJIB (MANDATORY SPENDING) DAN BELANJA INFRASTRUKTUR PUSAT DI DAERAH ...48

70

BAB V PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN ANGGARAN KONSOLIDASIAN (APBN DAN APBD) 4.1 APBD TINGKAT PROVINSI (KONSOLIDASIAN PEMDA) ...51

4.2 PENDAPATAN DAERAH ...51

4.3 BELANJA DAERAH ...58

4.4 SURPLUS/DEFISIT ...62

4.5 ANALISIS KINERJA PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH ...63

4.6 PEMBIAYAAN ...67

4.7 PERKEMBANGAN BLU DAERAH ...68

5.1 LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH KONSOLIDASIAN ...70

5.2 PENDAPATAN KONSOLIDASIAN ...71

5.3 BELANJA KONSOLIDASIAN ...77

5.4 SURPLUS/DEFISIT ...83

5.5 ANALISIS DAMPAK KEBIJAKAN FISKAL AGREGAT ...84

BAB VI KEUNGGULAN DAN POTENSI EKONOMI SERTA TANTANGAN FISKAL REGIONAL

86

6.1 GAMBARAN PERKEMBANGAN EKONOMI PROVINSI SULAWESI SELATAN DAN KAWASAN SULAWESI ...86

6.2 SEKTOR UNGGULAN SULAWESI SELATAN ...88

6.3 SEKTOR POTENSIAL DAERAH SULAWESI SELATAN ...92

6.4 TANTANGAN FISKAL REGIONAL DALAM MENDORONG POTENSI EKONOMI DAERAH ...96

BAB VII KONVERGENSI STUNTING DI SULAWESI SELATAN

105

7.1 PENDAHULUAN ...105

7.2 KONVERGENSI PERCEPATAN PENCEGAHAN STUNTING ...106

7.3 PENANGANAN STUNTING OLEH PEMERINTAH ...106

BAB VIII PENUTUP

117

K A T A P E N G A N T A R D A F T A R I S I D A F T A R T A B E L D A F T A R G R A F I K / G A M B A R D A F T A R L A M P I R A N R I N G K A S A N E K S E K U T I F D A S H B O A R D M A K R O F I S K A L R E G I O N A L

(7)

DAFTAR TABEL

Tabel I.1 Target dan Proyeksi Pencapaian Indikator Ekonomi, Makro Ekonomi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2018 dan 2019

3

Tabel I.2 Penduduk Usia 15 Tahun keatas menurut Kegiatan Utama 5 Tabel II.1 Pertumbuhan Ekonomi per-Kabupaten/Kota 10

Tabel II.2 Konsumsi Rumah Tangga (RT) 11

Tabel II.3 Komponen PDRB per-Kapita Sulawesi 16 Tabel II.4 PDRB per-Kapita Kab/Kota Sulawesi Selatan 2014-2018 17 Tabel II.5 Indikator IPM Kawasan Sulawesi 20 Tabel II.6 Jumlah Penduduk Miskin Sulsel 21 Tabel II.7 Perbandingan Penduduk Miskin dan Dana Desa 21 Tabel II.8 Perkembangan Gini Rasio Pulau Sulawesi 21 Tabel II.9 Target Makro Ekonomi Sulsel 2019 22 Tabel III.1 APBN Provinsi Sulawesi Selatan 23 Tabel III.2 Realisasi APBN di Sulawesi Selatan berdasarkan Kementrerian

Negara/Lembaga 2019

29

Tabel III.3 Penerimaan Negara 2018-2019 41

Tabel III.4 Kinerja Satker BLU 2018-2019 44 Tabel III.5 Perkembangan Rasio PNBP BLU terhadap RealIsasi Belanja BLU 45 Tabel III.6 Nama Debitur dan Jumlah Pinjaman per-31 Desember 2019 46 Tabel III.7 Penyaluran KUR per-Sektor 2019 47

Tabel III.8 Penyaluran KUR per- Skema 47

Tabel III.9 Penyaluran KUR per-Wilayah di Sulsel 48 Tabel III.10 Capaian Output Strategis Bidang Prioritas Pendidikan 2019 49 Tabel III.11 Capaian Output Strategis Bidang Prioritas Kesehatan 2019 49 Tabel III.12 Capaian Output Strategis Bidang Prioritas Infrastruktur 2019 50 Tabel IV.1 Perkembanagn APBD Lingkup Sulsel 51 Tabel IV.2 Profil APBD Provinsi Sulawesi Selatan 51

Tabel IV.3 Struktur TKDD Sulsel 52

Tabel IV.4 Penyaluran Dana Desa 53

Tabel IV.5 Rasio Kemandirian Daerah 53

Tabel IV.6 Ruang Fiskal Pemerintah Daerah 54 Tabel IV.7 Struktur Pendapatan Asli Daerah (PAD) 56 Tabel IV.8 Kontribusi PAD terhadap Total Pendapatan 57 Tabel IV.9 Perkembangan Pendapatan Lain-Lain 57 Tabel IV.10 Profil APBD Sulsel Berdasarkan Klasifikasi Urusan 58 Tabel IV.11 Indikator Kualitas dan Fasilitas Kesehatan 59

Tabel IV.12 Panjang Jalan di Sulsel 60

Tabel IV.13 Jenis Belanja Daerah 61

Tabel IV.14 Struktur Belanja 63

Tabel IV.15 Kontribusi Pajak dan Retribusi terhadap PAD 64 Tabel IV.16 Kontribusi DAU, DAK dan DBH terhadap TKDD 64 Tabel IV.17 Perbandingan Horizontal Pendapatan dalam APBD Sulsel 65 Tabel IV.18 Perbandingan Horizontal Belanja dalam APBD Sulsel 65

Tabel IV.19 Kapasitas Fiskal 66

Tabel IV.20 Rasio Surplus/Defisit 66

Tabel IV.21 Pembiayaan 67

Tabel IV.22 Rasio Keseimbangan Primer 68

Tabel IV.23 Nilai Aset Satker BLUD 68

Tabel V.1 Laporan Realisasi Anggaran Konsolidasian Tingkat Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2019

(8)

Tabel V.2 Rasio Pajak terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2018 dan 2019

75

Tabel V.3 Komposisi Pendapatan Konsolidasian pada Tahun 2019 terhadap Pendapatan Konsolidasian tahun 2018

76

Tabel V.4 Realisasi Pendapatan Konsolidasian Pempus dan Pemda di Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2019 dan 2018

76

Tabel V.5 Realisasi Belanja Konsolidasian Pempus dan Pemda di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2019

77

Tabel V.6 Rasio Belanja Operasi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2019 dan 2018 79 Tabel V.7 Rasio Alokasi per-Sektor APBN terhadap APBD 81 Tabel V.8 Pagu Belanja Pempus dan Pemda di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan

Tahun 2019 dan 2018

82

Tabel V.9 Rasio Surplus/Defisit Konsolidasian terhadap PDRB pada Provinsi Sulawesi Selatan

83

Tabel VI.1 Tipologi Klassen PDRB Atas Harga Konstan dan Harga Berlaku Prov. Sulsel 2015-2019

90

Tabel VI.2 Diagram Tipologi Klassen PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Prov. Sulsel 2015-2019

92

Tabel VI.3 Analisis Shift Share Nilai PDRB Sulawesi Selatan 2015-2019 93 Tabel VI.4 Analisis Gabungan Tipologi Klassen LQ dan Shift Share Sektor Potensial

Sulawesi Selatan

93

Tabel VI.5 Analisis Shift Share Sektor Potensial Regional Sulawesi 94 Tabel VI.6 Analisis Potensial Shift Regional Sulawesi 94 Tabel VI.7 Analisis Diferensiasi Shift Wilayah Sulawesi 95 Tabel VI.8 Analisa Regresi Linier Sektor Lapangan Usaha Sulsel 2015-2019 100 Tabel VII.1 Belanja Penanganan Stunting Tahun Anggaran 2019 Intervensi Spesifik 112 Tabel VII.2 Belanja Penanganan Stunting Tahun Anggaran 2019 Intervensi Sensitif 113

(9)

DAFTAR GRAFIK

Grafik I.1 Perkembangan Inflasi per-Bulan Tahun 2019 Provinsi Sulsel 4 Grafik I.2 Angka Partisipasi Sekolah menurut Kelompok Umur 6

Grafik II.1 Shared Nominal PDRB 8

Grafik II.2 Perbandingan Pertumbuhan PDRB dan PDB 9 Grafik II.3 Laju Pertumbuhan Lapangan Usaha 9

Grafik II.4 Laju PDRB Pulau Sulawesi 10

Grafik II.5 Perbandingan PDRB Pengeluaran Pulau Sulawesi 12 Grafik II.6 Kontribusi Konsumsi Pemerintah 12 Grafik II.7 Shared Konsumsi Pemerintah Kawasan 13 Grafik II.8 Shared Konsumsi LNPRTSulawesi Selatan 13 Grafik II.9 Shared Konsumsi LNPRT Kawasan 13 Grafik II.10 Shared PMTB Sulawesi Selatan 14

Grafik II.11 Laju Pertumbuhan Ekspor 14

Grafik II.12 Komoditas Utama Ekspor 2019 15 Grafik II.13 Komparasi Ekspor di Pulau Sulawesi 15 Grafik II.14 Impor Sulawesi Selatan 2019 16 Grafik II.15 PDRB per-Kapita Sulawesi Selatan 17 Grafik II.16 PDRB per-Kapita Kawasan 2019 17 Grafik II.17 Daerah HGHI (High Growth but High Income) 18 Grafik II.18 Daerah HILG (High Income but Low Growth) 18 Grafik II.19 Daerah HGLI (High Growth but Low Income) 19 Grafik II.20 Perbandingan Inflasi Sulsel dengan Nasional 19 Grafik II.21 Tingkat Inflasi dan Pengangguran 2016-2019 19

Grafik II.22 IPM Pulau Sulawesi 20

Grafik II.23 Persentase Penduduk Miskin (HCI/P0) Sulsel 21 Grafik II.24 Perkembangan Gini Rasio Sulsel 22 Grafik II.25 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Sulsel 22

Grafik III.1 Rasio Pajak 2015-2019 24

Grafik III.2 Realisasi Penerimaan Pajak Pemerintah Pusat di Sulsel 2019 25 Grafik III.3 Realisasi Pajak DN per-Jenis Pajak 25

Grafik III.4 Realisasi Pajak LN 25

Grafik III.5 Penerimaan PNBP Sulsel 26

Grafik III.6 PNBP Lainnya 27

Grafik III.7 Pagu dan Realisasi Belanja Pemerintah Pusat di Sulsel 2018-2019 27 Grafik III.8 Realisasi Belanja APBN di Kawasan Sulawesi 2019 28 Grafik III.9 Tren realisasi Bulanan 10 K/L Pagu Terbesar 2019 30 Grafik III.10 Tren realisasi Bulanan 10K/L Pagu Terbesar 2018 30 Grafik III.11 Pagu dan Realisasi APBN di Sulsel 2018-2019 32

Grafik III.12 Pagu alokasi per-Fungsi 34

Grafik III.13 Perbandingan Realisasi Anggaran Berdasarkan Klasifikasi Fungsi 2018-2019

35

Grafik III.14 Pagu dan Realisasi Transfer 37 Grafik III.15 Pagu dan Realisasi TKDD 2019 37 Grafik III.16 Pagu dan Realisasi DAU Kawasan Sulawesi 2017-2019 38 Grafik III.17 Pagu dan Realisasi DBH Kawasan Sulawesi 2017-2019 39 Grafik III.18 Pagu dan Realisasi DAK Fisik Kawasan 2017-2019 39 Grafik III.19 Pagu dan Realisasi DAK Non Fisik Kawasan Sulawesi 2017-2019 39 Grafik III.20 Pagu dan Realisasi Dana Desa Kawasan Sulawesi 2017-2019 40 Grafik III.21 Pagu dan Realisasi DID Regional Sulawesi 2017-2019 40

(10)

Grafik III.22 Cash Flow Pemerintah Pusat 41 Grafik III.23 Arus Kas Masuk Pemerintah Pusat di Sulsel 42 Grafik III.24 Arus Kas Keluar Pemerintah Pusat di Sulsel 42 Grafik III.25 Rumpun BLU dan Nilai Aset 2019 43 Grafik IV.1 Struktur Pendapatan Sulsel 2019 52

Grafik IV.2 Strukktur DBH di Sulsel 52

Grafik IV.3 Indeks Pembangunan Desa 53

Grafik IV.4 Indeks Pembangunan Desa 53

Grafik IV.5 Rasio PAD dan TKDD terhadap Pendapatan 54

Grafik IV.6 Indikator Ruang Fiskal 55

Grafik IV.7 Perbandingan TKDD terhadap Indikator Pembangunan Regional 56

Grafik IV.8 Indeks Partisipasi Sekolah 58

Grafik IV.9 Harapan Lama Sekolah 58

Grafik IV.10 Perbandingan Rasio Belanja Modal dan Belanja Pegawai 62 Grafik IV.11 Perkembangan Surplus/Defisit 62

Grafik IV.12 Perbandingan Realisasi PA 65

Grafik V.1 Perbandingan Realisasi Pendapatan dan Belanja Konsolidasian Regional Sulawesi Tahun 2017 dan 2018

70

Grafik V.2 Perbandingan Komposisi Pendapatan Konsolidasian 2019 70 Grafik V.3 Perbandingan Komposisi Belanja Konsolidasian 2019 70 Grafik V.4 Perbandingan Penerimaan Pusat dan Daerah terhadap Penerimaan

Konsolidasian Regional Sulawesi Tahun 2017 dan 2018

71

Grafik V.5 Perbandingan Penerimaan Pusat dan Daerah terhadap Penerimaan Konsolidasian Prov. Sulsel Tahun 2019

72

Grafik V.6 Perbandingan Komposisi Pendapatan Konsolidasian di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2018 dan 2019

72

Grafik V.7 Tren Pendapatan Negara Konsolidasian 3 Tahun Terakhir 73 Grafik V.8 Perbandingan Penerimaan Perpajakan Pemerintah Pusat dan

Daerah terhadap Penerimaan Perpajakan Konsolidasian Prov. Sulsel Tahun 2019

73

Grafik V.9 Perbandingan Pajak DN dan Internasional terhadap Penerimaan Perpajakan Konsolidasian Prov. Sulsel

74

Grafik V.11 Rasio Pajak Konsolidasian per-Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2019 dan 2018

75

Grafik V.12 Perbandingan Pajak per-Kapita Konsolidasian per-Kabupaten /Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2018 dan 2019

75

Grafik V.13 Perbandingan Belanja dan Transfer Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah terhadap Belanja dan Transfer Konsolidasian pada Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2019

77

Grafik V.14 Komposisi Belanja Konsolidasian Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2019

78

Grafik V.15 Komposisi Belanja Konsolidasian Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2018

78

Grafik V.16 Perbandingan Belanja Konsolidasian Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2019 dan 2018

(11)

Grafik V.17 Belanja Pemerintah Konsolidasian Provinsi Sulwesi Selatan Tahun 2019 dan 2018

80

Grafik V.18 Perkembangan Belanja Pemerintah Konsolidasian per-Jiwa Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2019 dan 2018

80

Grafik V.19 Rasio Belanja Pendidikan Konsolidasian per-Jiwa Kabupaten/Kota pada Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2019 dan 2018

80

Grafik V.20 Rasio Pagu Belanja per-Sektor TA 2019 81 Grafik V.21 Surplus/Defisit Kab/Kota se-Sulsel 2019 dan 2018 83 Grafik V.22 Rasio Surplus/Defisit Kab/Kota se-Sulsel 84 Grafik VI.1 Perbandingan Laju Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Sulawesi

2015-2019

86

Grafik VI.2 Laju Pertumbuhan Sektor Lap. Usaha Sulsel 2015-2019 Atas Dasar Harga Konstan 2010

86

Grafik VI.3 Lima Besar Penyumbang PDRB Sulawesi Selatan Tahun 2019 87 Grafik VI.4 Rata-rata Distribusi PDRB Kawasan Pulau Sulawesi 2015-2019 87 Grafik VI.5 Distribusi (%) PDRB Sulsel 2015-2019 Atas Dasar Harga Konstan

2010

88

Grafik VI.6 Perbandingan Rata-Rata (%) Distribusi PDRB Kawasan Sulsel 2015-2019 Atas Dasar Harga Konstan 2010

88

Grafik VI.7 Nilai Koefisien LQ Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2015 s.d. 2019 89 Grafik VI.8 Perbandingan Rata-Rata Koefisien LQ Kawasan Sulawesi

2015-2019

89

Grafik VI.9 Distribusi PDRB Sulsel 2015-2019 93 Grafik VI.10 Perbandingan Belanja Pusat dan Daerah Sektor Unggulan dan

Potensial Sulsel 2017-2019

97

Grafik VI.11 Perbandingan Belanja Pusat dan Daerah Sektor Unggulan dan Potensial Sulsel 2017-2019

98

Grafik VI.12 Perbandingan Belanja Pemerintah Pusat dan PDRB Sulsel atas Dasar Harga Konstan 2010 Sektor Unggulan 2015-2019

98

Grafik VI.13 Perbandingan Belanja Pemerintah Pusat dan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 Sektor Potensial 2015-2019

98

Grafik VI.14 Nilai R (Korelasi) dan R2 (Determinan) Sektor Unggulan dan Potensial Belanja Pusat dan PDRB

99

Grafik VI.15 Nilai R (Korelasi) dan R2 (Determinan) Sektor Unggulan dan Potensial Belanja Daerah dan PDRB

101

Grafik VI.16 Penerimaan Pajak dan Non Pajak Pusat dan Daerah 2015-2019 102 Grafik VI.17 Nilai R (Korelasi) dan R2 (Determinan) PDRB terhadap Penerimaan

Pusat dan Daerah 2015-2019

102

Grafik VI.18 Perbandingan Pengeluaran Pemerintah Pusat dan Daerah 2015-2019

103

Grafik VI.19 Perbandingan Pengeluaran Pemerintah Pusat dan Daerah 2015-2019

104

Grafik VII.1 Perbandingan Balita Stunting Usia 0-59 se-Sulawesi Selatan 105 Grafik VII.2 Pagu Penanganan dan Pencegahan Stunting APBD TA 2019 108 Grafik VII.3 Pagu dan Realisasi DAK Fisik untuk Intervensi Spesifik Tahun 2019 108 Grafik VII.4 Pagu dan Realisasi DAK Fisik untuk Intervensi Sensitif Tahun 2019 108 Grafik VII.5 Alokasi Belanja untuk Intervensi Spesifik APBD TA 2019 109 Grafik VII.6 Alokasi Belanja untuk intervensi Sensitif APBD TA 2019 109

(12)

Grafik VII.7 Pagu dan Realisasi DAK Fisik untuk Intervensi Spesifik Tahun 2019 110 Grafik VII.8 Pagu dan Realisasi DAK Fisik untuk Intervensi Sensitif Tahun 2019 110 Grafik VII.9 Scatter Plot Output Intervensi Spesifik 111 Grafik VII.10 Pagu Realisasi Belanja Output Intervensi Sensitifitas 2019 112 Grafik VII.11 Scatter Plot Output Intevensi Sensitif 114 Grafik VII.12 Pagu dan Realisasi Belanja Output Pendukung 2019 115

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar II.1 Nominal PDRB Pulau Sulawesi 8 Gambar II.2 Shared PDRB Sulawesi Selatan 11 Gambar IV.1 Indeks Kapasitas Fiskal Kab/Kota 66

(14)

R I N G K A S A N

E K S E K U T I F

(15)

RINGKASAN EKSEKUTIF

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2019 mencapai 6,92 persen. Pertumbuhan ini mengalami penurunan sebesar 0,14 persen bila dibandingkan pada tahun 2018 yang tumbuh sebesar 7,06 persen. Meskipun demikian, pertumbuhan tersebut masih diatas pertumbuhan ekonomi nasional yang tumbuh 5,02 persen pada tahun 2019. Bahkan rata-rata lima tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan tumbuh diatas 7 persen yaitu sebesar 7,16 persen jauh rata-rata nasional yang tumbuh 5,03 persen. Seiring dengan hal tersebut laju pertumbuhan PDRB perkapita meningkat dalam lima tahun terakhir dari Rp 39,95 juta di tahun 2015 menjadi Rp57,03 juta di tahun 2019.

Angka Pertumbuhan Ekonomi Sulsel tersebut memiliki peran ekonomi tertinggi di regional Pulau Sulawesi yaitu sebesar 49,58 persen diikuti oleh Sulawesi Tengah 16,34 persen, Sulawesi Utara 12,79 persen, Sulawesi Tenggara 12,70 persen, Sulawesi Barat 4,55 persen dan Gorontalo 4,04 persen.

Inflasi Sulawesi Selatan hingga bulan Desember 2019 mencapai 2,35% (yoy) atau 0,04% (mtm). Merupakan inflasi terendah dalam 5 (lima) tahun terakhir. Rendahnya inflasi sepanjang tahun 2019 tersebut didorong oleh terkendalinya harga kelompok bahan makanan, penyesuaian ke bawah harga angkutan udara pada kelompok transportasi, dan terjaganya kelompok komoditas lainnya.

Inflasi terkendali dibawah target 4,5 persen yaitu rata-rata 3,84 persen dalam kurun waktu lima tahun. Gini ratio yang menurun dari 0,388 di tahun 2018 menjadi 0,391 pada tahun 2019.

Angka kemiskinan juga mengalami penurunan sebesar 8,87 persen di Sept 2019 menjadi 8,56 persen di September 2019. Persentase penduduk miskin Sulawesi Selatan terendah kedua setelah Sulawesi Utara di regional pulau Sulawesi.

Serta angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang meningkat dari 70,34 di tahun 2017 menjadi 70,90 pada tahun 2018. Hal ini dapat dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan berkualitas sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyakarat.

Dalam pengelolaan fiskal daerah pertumbuhan penerimaan negara dan belanja pemerintah pusat di Sulawesi Selatan selalu meningkat dari tahun ke tahun. Penerimaan negara pada 2019 sebesar Rp12,70 triliun meningkat dari 2018 yang mencapai sebesar

(16)

Rp11,78 triliun. Penerimaan negara tahun 2019 terdiri atas penerimaan pajak sebesar Rp 10,37 triliun dan penerimaan bukan pajak sebesar Rp2,33 triliun. Disisi belanja pemerintah pusat juga mengalami peningkatan dari sebesar Rp50,91 triliun di tahun 2018 menjadi sebesar Rp 52,01 triliun pada 2019. Belanja pemerintah ini meliputi dalam belanja pemerintah pusat (K/L) sebesar Rp20,46 triliun, belanja transfer ke daerah sebesar Rp25,99 triliun, Dana Desa sebesar Rp2,34 triliun dan DAK Fisik sebesar Rp 3,20 triliun.

Target penerimaan pajak di Sulawesi Selatan mengalami peningkatan dari tahun anggaran 2018 yang sebesar Rp11,53 triliun menjadi Rp12,38 triliun di 2019

Tidak maksimalnya penerimaan pajak tahun ini, pertama, kebijakan percepatan restitusi yang diberikan pemerintah yang memang diprediksi sebelumnya akan menurunkan penerimaan negara. Kedua, perlambatan ekonomi dunia, akibat perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok, membuat aktivitas ekspor dan impor dalam negeri ikut turun. Terakhir, rendahnya penerimaan pajak, karena harga komoditas yang menjadi andalan Sulsel yang belum membaik.

Data penerimaan perpajakan dalam lima tahun terakhir memang selalu meningkat namun terjadi paradoks terhadap tax ratio pajak. Dalam dua tahun terakhir tax ratio pajak menurun dari 2,23 persen di 2018 menjadi 2,05 persen dari PDRB di 2019. Hal ini perlu pendekatan khusus dari pemerintah pusat untuk melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi sektor perpajakan. Sisi belanja pemerintah sebagai pembentuk pendapatan daerah regional bruto, diperlukan realokasi yang tepat. Terutama untuk mempercepat dan mendorong pertumbuhan sektor-sektor potensial yang menyerap banyak tenaga kerja.

Pengelolaan keuangan pemerintah pusat di daerah terdiri juga atasi pengelolaan Badan Layanan Umum dan penyaluran kredit program. Sampai dengan tahun 2019 di Sulawesi Selatan terdapat 13 BLU pusat dengan nilai aset sebesar Rp13,24 triliun dan mampu membukukan pendapatan sebesar Rp1,28 triliun. Pendapatan BLU mengalami peningkatan dari Rp1,20 triliun menjadi Rp1,28 triliun pada tahun 2019.

Dalam penyaluran kredit program KUR tahun 2019 realisasi mencapai Rp7,55 triliun dengan nilai outstanding Rp4,67 triliun dan jumlah debitur sebanyak 287.211 debitur. Untuk penyaluran KUR perlu adanya perluasan penggunaan SKIP sebagai alat bantu untuk memetakan dan memperluas calon debitur hal ini terbukti dengan perbedaan realisasi KUR SKIP dan data OJK.

Perkembangan ekonomi di suatu wilayah tidak terlepas dari kebijakan fiskal pemerintah daerah. Tahun 2019 APBD 25 Pemda di Sulawesi Selatan mengalokasikan belanja

(17)

sebesar Rp45,13 triliun dengan realisasi belanja sebesar Rp40,56 triliun. Angka ini naik dibanding tahun 2018, Pendapatan daerah juga mengalami peningkatan dari tahun 2018 sebesar Rp40,29 triliun menjadi Rp44,17 triliun di tahun 2019.

Hasil dari data APBD Sulawesi Selatan dengan menggunakan ratio keuangan dapat diperoleh gambaran sebagai berikut :

1. Analisis PDRB dan PAD menggambarkan korelasi yang positif. PAD yang cenderung turun dalam tiga tahun terakhir berbanding lurus dengan laju pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan yang cenderung turun.

2. Analisa terhadap derajat desentralisasi diperoleh gambaran bahwa hampir seluruh kabupaten dan kota Sulawesi Selatan tergantung kepada bantuan dana transfer pemerintah pusat hanya kota makassar mempunyai pola hubungan kemandirian partisipatif.

3. Analisis derajat desentralisasi didapatkan gambaran bahwa hampir semua kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan Pendapatan Asli Daerahnya belum mampu membiayai pemerintahannya. Hanya kota Makassar yang memiliki PAD cukup besar untuk membiayai pemerintahan.

Komposisi belanja konsolidasi pemerintah, baik APBN maupun APBD, tahun 2019 didominasi oleh belanja pegawai konsolidasian sebesar 41,52 persen, yang diikuti dengan Belanja Barang Konsolidasian 31,56 persen, Belanja Modal Konsolidasian sebesar 19,80 persen, Ini memperlihatkan bahwa pengeluaran belanja untuk sektor produktif yaitu belanja modal dan belanja barang relatif cukup besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan.

Tantangan fiskal dalam perekonomian regional Sulawesi Selatan bagaimana meningkatkan sektor unggulan dan sektor potensial dalam pengembangan dan memperkuat ekonomi di masa yang akan datang. Hasil analisis tipologi klassen, LQ dan Shift Share terdapat 6 sektor utama pendorong ekonomi Sulawesi Selatan yaitu

• Sektor Pertanian,Kehutanan dan Perikanan, • Sektor konstruksi,

• Sektor Perdagangan Besar dan Eceran, dan reparasi Mobil dan Sepeda Motor, • sektor informasi dan komunikasi,

• sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial, serta • sektor jasa pendidikan.

Ke enam sektor ini juga mempengaruhi pertumbuhan sektor lainnya.

Kemajuan dan perkembangan ekonomi di Sulawesi Selatan masih meninggalkan pekerjaan rumah yang menjadi perhatian pemerintah daerah yaitu pengananan stunting

(18)

yang merupakan status kurang gizi yang bersifat kronik pada masa pertumbuhan dan perkembangan sejak awal kehidupan. Berdasarkan data dan informasi Profil Kesehatan Indonesia 2018, Sulawesi Selatan pada 2018 menunjukkan prevalansi balita stunting sebesar 35,70% yang merupakan tertinggi ke dua setelah Sulawesi Barat (41,60%). Pemerintah telah mengambil langkah konvergensi stunting melakukan delapan aksi penurunan stunting dengan menunjuk Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi serta Kab/Kota sebagai koordinator dengan mencanangkan program GAMMARA’NA (Gerakan Masyarakat Memberantas Stunting).

(19)

D A S H B O A R D

K F R T A H U N A N 2 0 1 9

(20)

46,90 45,59 1,32 44,15 40,57 3,58 0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00

Pendapatan Belanja Surplus/Defisit

Pagu Realisasi 13,95 54,81 -40,87 12,71 52,01 -39.30 -60,00 -40,00 -20,00 0,00 20,00 40,00 60,00

Pendapatan Belanja Surplus/Defisit

Pagu Realisasi

DASHBOARD MAKRO-FISKAL SULAWESI

Gorontalo Rp 41,15 T Sulawesi Tengah Rp 166,40 T Sulawesi Utara Rp 130,20 T Sulawesi Tenggara Rp 129,26 T Sulawesi Selatan Rp 504,75 T 6,31 6,01 5,66 2017 2018 2019 6,76 6,42 6,51 2017 2018 2019 7,21 7,06 6,92 2017 2018 2019 6,39 6,25 5,66 2017 2018 2019 7,10 6,28 7,15 2017 2018 2019 6,73 6,50 6,41 2017 2018 2019 SULAWESI Rp 1.018,12 T 6,95 6,64 6,65 2017 2018 2019 Sulawesi Barat Rp 46,36 T 4,04 4,55 12,70 12,79 16,34 49,58 Gorontalo Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan

Sejak tahun 2017 sebagian besar provinsi di Sulawesi mengalami perlambatan kecuali Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Tahun 2019 pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan sebesar 6,92 persen diatas rata rata pertumbuhan ekonomi di kawasan yaitu 6,65 persen, memiliki peran paling besar terhadap perekonomian di kawasan yaitu sebesar 49,58 persen.

PERBANDINGAN PDRB HARGA BERLAKU DAN PERTUMBUHAN EKONOMI (%) PROVINSI DI PULAU SULAWESI

PERBANDINGAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN DAN GINI RASIO DI PULAU SULAWESI

Gini rasio Sulawesi Selatan diatas angka nasional (0,380), dan di kawasan Sulawesi pun pada peringkat ke empat setelah Sulteng, Sulut dan Sulbar.

4,95 8,90 4,22 6,81 3,99 9,41 10,30 15,01 11,90 13,77 23,57 11,43 7,63 11,96 8,56 10,29 13,78 10,42 SULAWESI UTARA SULAWESI TENGAH SULAWESI SELATAN SULAWESI TENGGARA GORONTALO SULAWESI BARAT

Kota Desa Kota+Desa

PERSENTASE PENDUDUK MISKIN

6,92

%

Pertumbuhan Ekonomi

Sulawesi Selatan Tahun 2019

GINI RASIO

APBN

APBD

Rasio pendapatan terhadap belanja APBN Tahun 2019 di Sulsel sebesar 24,43 persen sehingga terjadi defisit sebesar Rp39,30 triliun.

Persentase penduduk miskin di Sulawesi Selatan terendah ke dua dikawasan Sulawesi (8,56%). Pada Sept 2019 berjumlah 759,58 ribu jiwa turun 20,06 ribu jiwa dari Sept 2018.

PERAN EKONOMI SETIAP PROVINSI TERHADAP PULAU SULAWESI TAHUN 2019 (%)

0,376

0,330

0,391 0,393

0,365

SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SULBAR

0,380

0,410

dalam triliun rupiah dalam triliun rupiah

Sumber: BPS Provinsi Sulawesi Selatan (data diolah)

Sumber: BPS Provinsi Sulawesi Selatan (data diolah)

Surplus APBD Rp3,58 triliun karena realisasi belanja sangat rendah, hanya mencapai 88,99% dari pagu yang telah ditetapkan.

(21)

S A S A R A N D A N

P E M B A N G U N A N D A E R A H

BAB I

"Sumbangan kawasan Sulawesi terhadap PDB 2019 sebesar 6,33 persen. Sulawesi Selatan dengan PDRB 2019 sebesar Rp504,75 triliun menyumbang ekonomi kawasan Sulawesi sebesar 49,58 persen"

(22)

BAB I SASARAN PEMBANGUNAN DAN TANTANGAN DAERAH

1.1. PENDAHULUAN

Pertumbuhan ekonomi di regional pulau Sulawesi dapat dikatakan berkualitas karena dapat mempertahankan pertumbuhan ekonomi dibandingkan Sumatera dan Kalimantan. Mayoritas kegiatan ekonomi di Sulawesi adalah milik masyarakat setempat dan tidak tergantung kepada perusahaan besar serta tidak bergantung terhadap komoditas karet dan kelapa sawit membuat pertumbuhan ekonomi lebih stabil. Fluktuasi nilai komoditas unggulan Sulawesi tidak sebesar kedua komoditas unggulan Sumatera dan Kalimantan tersebut. Kelapa banyak dihasilkan di Sulawesi Utara dan tengah sementara Sulawesi Selatan dan Tenggara banyak memproduksi Kakao serta tambang nikel. Sementara di Sulawesi Barat banyak menghasilkan cengkeh.

Sumbangan wilayah Sulawesi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional di 2019 sebesar 6,33 persen, meningkat dari 6,22 persen di 2018. Sulawesi Selatan dengan PDRB 2019 sebesar 504,75 triliun rupiah, menyumbang ekonomi Pulau Sulawesi sebesar 49,58 persen. Sedangkan terhadap nasional, ekonomi Sulsel mampu menyumbang 3,14 persen nilai tambah nasional.

Sulawesi Selatan yang terletak di jazirah selatan Pulau Sulawesi beribukota di Makassar ini secara administratif, sebelah utara berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah. Di sebelah barat berbatasan dengan Teluk Bone dan di sebelah selatan dengan Laut Flores. Letak geografis Sulsel sangat strategis, yakni menjadi tempat transit sebelum menuju wilayah-wilayah lain di timur Indonesia. Posisi geografis tersebut secara tidak langsung mengantarkan Sulawesi Selatan sebagai wilayah perdagangan dan jasa yang secara posisi memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif, karena Selat Makassar merupakan salah satu jalur pelayaran internasional, dan berfungsi sebagai titik simpul transportasi laut dan udara yang menghubungkan Asia Timur dan Benua Australia. Posisi strategis geografis Sulawesi Selatan sebagai hub distribusi barang dan jasa dari dan ke timur-barat Indonesia menjadi salah satu nilai lebih yang dapat dimanfaatkan

(23)

untuk mendorong peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Poros maritim Indonesia seyogyanya bertumpu di Makassar, apalagi infrastruktur kemaritiman dengan hadirnya New Port of Makassar dan kebijakan direct call seharusnya mejadi modal dasar untuk menjadikan Sulawesi Selatan sebagai center point of Indonesia.

Dalam proses pelaksanaan pembangunan daerah sesuai dengan peran pemerintah daerah dalam era otonomi luas, perencanaan pembangunan daerah diperlukan karena pelaksanaan pembangunan didesentralisasikan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Sesuai amanat Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, memberikan kewenangan kepada pemerintahan daerah provinsi dan kabupaten/kota untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Kepala Daerah mempunyai tugas menyusun dan mengajukan rancangan Perda tentang RPJPD dan rancangan Perda tentang RPJMD kepada DPRD untuk dibahas bersama DPRD, serta menyusun dan menetapkan RKPD sebagai bagian dari Tujuan Pembangungan Berkelanjutan atau Sustainable

Development Goals (SDGs)

Untuk mencapai agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) secara optimal, diperlukan perencanaan kerangka fiskal yang sesuai dengan kapasitas masing-masing daerah khususnya terkait kerangka fiskal dan mengindentifikasi kebutuhan, kendala, serta peluang yang dimiliki daerah. Diperlukan regulasi fiskal yang tepat untuk pelaksanaan SDGs di provinsi dan kabupaten/kota agar alokasi dana yang dimiliki pemerintah lebih tepat sasaran.

1.2. TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH

1.2.1. Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah

Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan telah menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2018-2023 yang diundangkan dengan Perda nomor 1 tahun 2019. RPJMD merupakan penjabaran dari visi, misi dan program Gubernur Sulawesi Selatan yang penyusunannya berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daeraj (RPJPD) Provinsi Sulawesi Selatan dan memperhatikan RPJMN, RTRW Provinsi Sulawesi Selatan, serta rencana pembangunan jangka menengah daerah provinsi tetangga.

1.2.2. Berdasarkan Rencana Kerja Pemerintah Daerah

Berdasarkan hasil analisis perkembangan indikator makro ekonomi dan dengan mempertimbangkan aspek prospek dan tantangan perekonomian dalam daerah, maka pada tahun 2018 berdasarkan indikator ekonomi makro 2018 telah disusun sasaran ekonomi makro Sulawesi Selatan untuk tahun 2019 sebagaimana tercantum pada tabel

(24)

dibawah. Berbagai kebijakan pemerintah diarahkan untuk memperbaiki prospek pembangunan ekonomi dan keuangan Provinsi Sulawesi Selatan, hal ini terlihat dari tinjauan terhadap perkembangan beberapa variabel ekonomi makro yang merupakan sasaran utama dari pembangunan ekonomi. Variabel tersebut berkenaan dengan aspek pendapatan dengan distribusinya, pertumbuhan ekonomi dengan pemerataan yang berkeadilan, aspek ketenagakerjaan yang ditunjukkan dengan jumlah tingkat pengangguran penduduk, aspek stabilitas harga ditunjukkan dengan fluktuasi dari tingkat harga umum yang mempengaruhi tingkat inflasi, aspek perdagangan terkait hubungan dengan negara lain yang ditunjukkan dengan kegiatan ekspor-impor. Dalam penerapan pembangunan berkualitas guna mewujudkan pemerataan di Sulawesi Selatan, disusun kerangka makro ekonomi daerah sebagai acuan dalam pengembangan kebijakan perekonomian daerah untuk tahun 2019. Kebijakan ekonomi makro Sulawesi Selatan dengan menciptakan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi daerah berkualitas, melalui arahan kebijakan perekonomian daerah yang mengedepankan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan inklusif. Dengan stabilitas ekonomi daerah, menjadi salah satu pilar guna mewujudkan perekonomian daerah Sulawesi Selatan sebagai daerah yang maju dan sejahtera di Sulawesi. Pembangunan dan pertumbuhan ekonomi berkualitas, serta stabilitas ekonomi daerah yang berlangsung baik, maka terwujud pemerataan ekonomi daerah di Sulawesi Selatan pada tahun 2019

(25)

1.3. TANTANGAN DAERAH

1.3.1. Tantangan Ekonomi Daerah

Ekonomi Sulawesi Selatan tahun 2019 tumbuh 6,92%, lebih lambat dibanding tahun 2018 yang mencapai 7,07 persen. Ditahun 2019, pertumbuhan ekonomi 2019 didorong terutama oleh peningkatan investasi yang sejalan dengan dengan penyelesaian infrastruktur. Sementara konsumsi domestik dan ekspor masih tumbuh kuat. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi di triwulan III dikontribusi oleh konstruksi, industri pengolahan dan pertambangan yang terakselerasi sedangkan pada triwulan IV 2019 ditopang oleh adanya perayaan natal, libur tahun baru dan liburan sekolah. Beberapa hal yang menjadi pendorong pertumbuhan Sulsel antara lain, perbaikan kondisi fundamental beberapa komoditas unggulan seperti kakao, kopi, rumput laut, ikan-ikanan, dan komoditas yang sesuai selera pasar global mampu mendorong kinerja ekspor yang tetap mengalami surplus neraca perdagangan. Masih positifnya pertumbuhan harga komoditas khususnya nikel juga memberikan dampak positif pada lapangan usaha pertambangan.

Dari sisi lapangan usaha industri masih menghadapi tantangan khususnya industri pengolahan yang terkendala oleh kurangnya bahan baku dan adanya persaingan usaha. Namun demikian pertumbuhan industri lebih baik dibandingkan realisasi tahun 2018 dengan dorongan pengembangan agro industri oleh pemerintah daerah.

Berlanjutnya investasi infrastruktur pemerintah juga akan mendorong lapangan usaha konstruksi serta adanya komitmen yang kuat, dalam mendorong pariwisata akan meningkatkan pertumbuhan perdagangan serta akomodasi dan makan minum

Laju inflasi perbulan Sulsel berkisar antara 0,04 – 0,76 persen dan untuk tahun 2019 (Januari-Desember 2019) berada pada angka 2,35 persen, dan laju inflasi year on year (Desember 2019 terhadap Desember 2018)

(26)

sebesar 2,35 persen. Hal tersebut terutama ditopang koordinasi dan sinergi yang kuat oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah, serta pasokan bahan pangan yang terjaga, sehingga komoditas kelompok inti stabil di tengah potensi tekanan.

Dari sisi birokrasi dan pelayanan perizinan, Pemprov Sulawesi Selatan telah memberikan dukungan layanan yang sangat baik kepada para investor yang ditandai dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan sebagai panutan di Indonesia bagian timur. Selain yang telah dijelaskan diatas, tantangan ekonomi daerah juga ditopang oleh jumlah angkatan kerja yang pada Agustus 2019 tercatat 4.030.400 orang, bertambah sebanyak 42.371 orang jika dibandingkan Agustus 2018. Sebaliknya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) menurun sebesar 0,11 persen poin menjadi 62,90 persen. Dalam setahun terakhir, pengangguran berkurang 12.801 orang, sejalan dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang menurun sebesar 0,37 persen poin menjadi 4,97 persen pada Agustus 2019. Dilihat dari tingkat pendidikan, TPT untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) paling tinggi diantara tingkat pendidikan lain, yaitu sebesar 9,70 persen.

Penduduk yang bekerja pada Agustus 2019 sebanyak 3.830.096 orang, bertambah 55.172 orang sejak Agustus 2018. Dari jumlah tersebut, pekerja yang terserap di sektor pertanian sebanyak 1.377.408 orang atau sebesar 35,96 persen dari total pekerja, sedangkan sektor perdagangan menyerap tenaga kerja sebanyak 699.686 orang (18,27 persen).

1.3.2. Tantangan Sosial Kependudukan

Jumlah dan Struktur Umur Penduduk Jumlah penduduk Sulawesi Selatan dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan, dimana pada tahun 2019 jumlah penduduk mencapai 8,81 juta jiwa dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 1,72% per tahun dengan tingkat kepadatan penduduk Sulawesi Selatan menunjukkan angka 190 jiwa/km2.

Secara demografis, distribusi penduduk di Provinsi Sulawesi Selatan pada Tahun 2019 terlihat sangat tinggi pada tiga wilayah, yaitu Kota Makassar, Kabupaten Gowa dan Kabupaten Bone, dimana sekitar 35% penduduk mendiami wilayah tersebut. Kabupaten

(27)

Kepulauan Selayar, Kota Pare-pare dan Kabupaten Barru adalah tiga daerah dengan jumlah penduduk terendah dalam provinsi Sulsel.

Tantangan berikutnya dari sisi pendidikan yang secara umum, angka partisipasi sekolah (APS) Usia 7-12 tahun 2018 di Provinsi Sulawesi Selatan tidak mengalami perubahan jika dibanding dengan tahun sebelumnya. APS SD Sulawesi Selatan tahun 2018 sebesar 99,07 dan tahun 2017 sebesar 99,16 persen.

Angka Partisipasi Sekolah (APS) usia 13-15 tahun capaiannya tidak secemerlang APS pada tingkat SD meskipun mengalami sedikit peningkatan dibanding tahun sebelumnya. APS Sulawesi Selatan tahun 2018 masih berada di angka 93,08 persen. APS Sulawesi Selatan tahun 2017 sebesar 93,09. Seiring dengan meningkatnya Angka Partisipasi Sekolah (APS) usia 7-12 tahun dan 13-15 tahun, APS usia 16-18 tahun juga mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. APS Sulawesi Selatan tahun 2018 mencapai 70,74 persen atau naik sebesar 0,14 poin dibandingkan tahun 2017.

Sementara ukuran capaian kualitas pendidikan berikutnya dilihat dari kemampuan Rata-rata Lama Sekolah (RLS), yang didefinisikan sebagai Rata-rata-Rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk dalam menempuh semua jenis pendidikan formal yang pernah dijalani (Inkesra BPS, 2018). Tahun 2018, RLS Sulsel sebesar 8,02 tahun, yang berarti secara rata-rata, penduduk di Sulsel baru mampu menempuh pendidikan hingga kelas 2 SMP. Secara Nasional, angka RLS Sulsel berada di peringkat 22 dari 35 provinsi di Indonesia.

Menurunnya persentase penduduk yang tidak lulus SD, mengisyaratkan berkurangnya anak putus sekolah di tingkat SD yang berlihat dari meningkatnya persentase lulusan SMP dan jenjang-jenjang selanjutnya.

1.3.3. Tantangan Geografi Wilayah

Provinsi Sulawesi Selatan yang terletak dibagian selatan semenanjung pulau Sulawesi, merupakan salah satu lokasi wilayah yang strategis ditengah-tengah kepulauan Indonesia dan sekaligus menjadi jembatan penghubung antara kawasan barat dan timur Indonesia, sehingga wilayah ini ditetapkan sebagai pintu gerbang Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang mempunyai luas wilayah sekitar 46.083,94 km persegi dan secara administratif terbagi 21 wilayah kabupaten, dan tiga wilayah kota. Terdiri dari 306

(28)

kecamatan dan 3.030 wilayah administrasi setingkat desa yang terdiri dari 2.255 desa, 783 kelurahan

Posisi geografis tersebut secara tidak langsung mengantarkan Sulawesi Selatan sebagai wilayah perdagangan dan jasa yang secara posisi memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif, karena Selat Makassar merupakan salah satu jalur pelayaran internasional, dan berfungsi sebagai titik simpul transportasi laut dan udara yang menghubungkan Asia Timur dan Benua Australia.

Posisi strategis geografis Sulawesi Selatan ini sebagai hub distribusi barang dan jasa dari dan ke timur-barat Indonesia menjadi salah satu nilai lebih yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Poros maritim Indonesia seyogyanya itu bertumpu di Makassar, apalagi infrastruktur kemaritiman dengan hadirnya New Port of Makassar dan kebijakan direct call dapat menjadi modal dasar untuk menjadikan Sulawesi Selatan sebagai center point of Indonesia.

Pemerintah Provinsi Sulsel menetapkan Kawasan Strategis Provinsi (KSP) di Sulawesi Selatan yaitu Kawasan Strategis Provinsi (KSP) dari sudut Kepentingan Pertumbuhan Ekonomi, KSP dari sudut Kepentingan Sosial dan Budaya, KSP dari sudut Kepentingan Pendayagunaan Sumberdaya Alam dan/atau Teknologi Tinggi, KSP dari sudut Kepentingan Fungsi dan Daya Dukung Lingkungan Hidup.

Selain KSP, pemprov Sulsel telah menetapkan Kawasan Andalan Laut dan Kawasan Andalan Darat di Sulawesi Selatan. Kawasan Andalan merupakan kawasan budidaya yang memiliki nilai strategis berupa kemampuan kawasan untuk memacu pertumbuhan ekonomi kawasan dan wilayah disekitarnya serta mendorong pemerataan perkembangan wilayah.

(29)

P E R K E M B A N G A N D A N A N A L I S I S

E K O N O M I R E G I O N A L

BAB II

Nasabah KUR

"Ekonomi Sulawesi Selatan tahun 2019 tumbuh

6,92 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan

didorong oleh semua lapangan usaha, dengan

pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan

Usaha Informasi dan Komunikasi yang tumbuh

10,99

persen.

Dari

sisi

pengeluaran,

pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen

Pengeluaran Konsumsi "

(30)

BAB II PERKEMBANGAN DAN ANALISIS EKONOMI REGIONAL

2.1. INDIKATOR MAKRO EKONOMI FUNDAMENTAL

2.1.1 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Perekonomian Sulsel tahun 2019 (PDRB ADHB) tercipta sebesar 504,75 triliun rupiah, meningkat 43,03 triliun rupiah dari tahun 2018 yang sebesar 461,72 triliun. Sedangkan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) sebesar Rp330,60 triliun meningkat 21,40 triliun dari 2018 sebesar Rp309,20 triliun. Dengan nominal PDRB sebesar Rp330,60 triliun, Sulsel mampu tumbuh 6,92% di 2019 lebih lambat dibandingkan tahun 2018 sebesar 7,06%.

Jika di-breakdown secara spasial terlihat bahwa

Sulsel menjadi motor utama penopang pertumbuhan ekonomi di Pulau Sulawesi dengan kontribusi 49,58% sedangkan Provinsi lainnya hanya berkontribusi 4–16%. Peran Sulsel yang dominan disebabkan oleh Potensi Sumber Daya Alam (SDA) diantaranya Kakao dengan produksi sebesar 720 ribu ton di 2019 atau berkontribusi 60% terhadap produksi Kakao nasional. Selain itu, Rumput Laut juga menjadi potensi unggulan, berkontribusi 33,33% dari produksi nasional. Produktifitas rumput laut di Sulsel setiap tahunnya bisa mencapai sekitar 1,5 juta ton senilai US$ 1,9 juta dengan luas lahan sekitar 500 ha. Sejauh ini, Sulsel mengalami surplus produksi beras sebesar 2,6 juta ton dari total produksi gabah kering giling alias GKG sebesar 5,8 juta ton atau setara 3,6 juta ton beras sepanjang tahun 2017 hingga 2018 namun sedikit menurun di 2019 dikarenakan terjadinya banjir di quartal pertama tahun 2019 kemudian diperparah dengan terjadinya kekeringan pada sejumlah lahan pertanian.

Sebagaimana telah diuraikan tadi bahwa Sulsel merupakan kontributor utama pembangunan ekonomi di Pulau Sulawesi dengan kontribusi mencapai 49,58% sedangkan peran wilayah lainnya masih relatif rendah.

Sulbar (4,55%) dan Gorontalo (4,04%) merupakan wilayah dengan shared terendah terhadap pembentuk PDRB Pulau Sulawesi perannya hanya mencapai 4,55% (Sulbar) dan 4,04% (Gorontalo). Hal ini mengindikasikan terjadi disparitas pembangunan dimana terdapat daerah dengan pencapaian

Gambar II.1 Nominal PDRB Pulau Sulawesi

(31)

pertumbuhan yang signifikan, sementara beberapa daerah lainnya mengalami pertumbuhan yang lambat.

a. Pertumbuhan Ekonomi

Melanjutkan tren pelemahan d 2018, tahun 2019 ekonomi Sulsel kembali melambat deselerasi pada level 6,92% atau menurun 0,14 poin dari 7,06% di 2018. Periode 5 tahun terakhir laju PDRB Sulsel cenderung menurun dan di 2019 merupakan titik terendah. Kondisi ini menunjukkan terjadi

kejenuhan pada perekonomian di Sulsel. Tahun 2015 laju pertumbuhan ekonomi Sulsel terkontraksi pada angka 7,19% kemudian rebound di 2016 menjadi 7,42% setelah itu terus menurun hingga menyentuh 6,92% di 2019. Ditengah perlambatan tersebut, PDRB Sulsel masih konsisten tumbuh diatas PDB Nasional yang hanya tumbuh sebesar 5,02% di 2019. Bila di diuraikan lebih lanjut, diketahui bahwa pelemahan ekonomi Sulsel disebabkan oleh sektor-sektor penggerak utama tumbuh melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Dari sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menurun dari 5,27% di 2018 menjadi 2,80% di 2019; Transportasi dan Pegudangan turun dari 10,31% di 2018 menjadi 1,74% di 2019, Perdagangan menurun dari 11,57% di 2018 menjadi 9,15% di 2019, Informasi dan Komunikasi turun dari 11,99 di 2018 menjadi 10,99 di 2019. Terdapat fenomena yang secara langsung mendorong terkontraksinya perekonomian Sulsel antara lain:

1. Banjir di 13 Kab/Kota sebagai lumbung Padi yang terjadi pada quartal pertama di 2019;

2. Tarif angkutan udara yang masih mahal di 2019 menyebabkan jumlah penumpang menurun sangat drastis sehingga sektor transportasi menurun dari 11,99% menjadi 10,99%.

Ditengah perlambatan pada sektor unggulan Sulsel, beberapa sektor masih dapat tumbuh positif yakni Industri Pengolahan tumbuh (9,91%), Pertambangan (2,68%), Konstruksi (8,92%), Real Estate dan Jasa (5,42%). Meskipun tumbuh tinggi namun bila dilihat berdasarkan penciptaan nominal PDRB, lapangan usaha tersebut hanya

(32)

memberikan shared kurang dari 10% sehingga belum signifikan menopang PDRB Sulsel. Secara spasial, terlihat bahwa kinerja perekonomian Sulsel terbaik kedua setelah Sulawesi Tengah (Sulteng). Sulteng mampu tumbuh pada angka 7,15% meningkat 0,87 poin dari 2018 sebesar 6,28%. Faktor pendorong akselerasi tersebut antara lain Sulteng

dalam proses rekonstruksi pembangunan pasca gempa yang terjadi di

2018. Hal ini berdampak pada meningkatnya seluruh lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi yakni Konstruksi (18,24%); Pertambangan dan Penggalian (22,07%) serta investasi atau PMTB (41,01%). Berbanding terbalik dari Sulteng, Sulut dan Sulbar merupakan wilayah dengan pertumbuhan terendah hanya mencapai 5,66% dan hanya terpaut 0,64 poin dari pertumbuhan nasional. Secara spasial, daerah yang memegang peranan tertinggi dalam laju pertumbuhan ekonomi Sulsel adalah Kab. Bone dengan rata-rata pertumbuhan 8,66% mengungguli daerah lainnya sedangkan laju pertumbuhan terendah adalah Kab. Luwu Timur sebesar 3,63%. Jika dilihat berdasarkan shared pembentukan PDRB Sulsel, lima Kab/Kota dengan shared terbesar antara lain Kota Makassar (Rp160,21 triliun), Kab. Bone (Rp33,09 triliun), Kab. Pangkep (Rp23,94), Kab. Maros (Rp21,31 triliun), Kab. Gowa (Rp19,06 triliun), Kab. Wajo (Rp18,71 triliun) dan Kab. Lainnya (Rp186 triliun). Kota Makassar mendominasi struktur PDRB Sulsel dengan kontribusi 40,23% sedangkan daerah dengan peran terkecil adalah Kab. Selayar dengan peran hanya sebesar 0,74%. Menjadi tantangan bagi pemerintah untuk menggali keunggulan komparatif di masing-masing daerah dengan tujuan menggerakkan pembangunan antar pusat pertumbuhan yang memiliki kemajuan ekonomi lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya (hinterland). Seluruh Kab/Kota di Sulsel memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah namun belum diolah dengan maksimal sehingga masih berbentuk bahan baku saja misalnya nikel di Kab. Luwu Timur, kakao di Kab. Luwu Utara

Sumber: BPS Sulsel (data diolah)

7,21 7,1 6,76 6,31 6,73 6,39 5,07 7,06 6,28 6,42 6,01 6,5 6,25 5,17 6,92 7,15 6,51 5,66 6,41 5,66 5,02 Sulsel Sulteng Sultra Sulawesi

Utara

Gorontalo Sulbar Nasional

2017 2018 2019

(33)

dan potensi Perikanan dengan dukungan pelabuhan di Kab. Sinjai serta potensi Pariwisata di Kab. Tana Toraja.

b. Nominal PDRB

b.1 PDRB Sisi Permintaan / per-Jenis Pengeluaran

Perekonomian Sulsel di 2019 masih ditopang oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga yang mencakup lebih dari separuh PDRB Sulsel mencapai 54,38%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun 2018 sebesar 54,39%. Meskipun terjadi perlambatan dalam perekonomian Sulsel, namun tidak menurunkan daya beli masyarakat. Disamping konsumsi rumah tangga, kontribusi ekonomi juga ditopang oleh

Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau Investasi dengan peranan sebesar 37,33%, ekspor sebesar 8,76%, pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 9,79%, konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) 1,72%. Sementara, komponen impor barang dan jasa sebagai faktor pengurang dalam PDRB memiliki peran sebesar 12,04%. Salah satu pilar yang penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi adalah meningkatkan ekspor, dengan pertumbuhan ekspor yang tinggi kemudian diimbangi oleh rendahnya impor maka secara otomatis pertumbuhan ekonomi dapat berjalan dengan baik.

➢ Konsumsi Rumah Tangga (RT) Ditengah perlambatan pada perekonomian Sulsel, sedikit terbantu dengan dominannya pengeluaran Konsumsi Masyarakat yang memberikan sedikit dorongan kepada

perekonomian Sulsel yang sedang lesu akibat menurunnya beberapa sektor unggulan (Pertanian dan Perdagangan). Meskipun secara nominal terjadi peningkatan, namun laju pertumbuhannya sedikit menurun dari 6,82% di 2018 menjadi 6,79% di 2019. Menurunnya pengeluaran konsumsi RT tersebut menandakan daya beli masyarakat di 2019 sedikit menurun ditengah perlambatan yang terjadi pada perekonomian Sulsel atau dapat diasumsikan bahwa masyarakat masih menahan keinginan untuk membelanjakan

Gambar II.2 Shared PDRB Sulawesi Selatan

Sumber: BPS Sulsel

Sumber: BPS Sulsel (data diolah)

(34)

Grafik II.6 Kontribusi Konsumsi Pemerintah pendapatannya sampai ekonomi benar benar pulih dan masyarakat lebih memilih menempatkan pendapatannya pada instrumen simpanan jangka pendek, seperti tabungan atau deposito, atau menginvestasikan ke dalam portofolio berjangka panjang, seperti emas, tanah, atau rumah.

Apabila dikomparasikan dengan beberapa wilayah di Pulau Sulawesi terlihat bahwa peran konsumsi Rumah tangga dalam PDRB sangat dominan berada dikisaran angka 40% hingga 60%. Dari 6 wilayah di Pulau Sulawesi 2 diantaranya pertumbuhan Pengeluaran Konsumsi RT meningkat (Sulawesi Utara dan Gorontalo) sedangkan 4 lainnya mengalami penurunan (Sulsel, Sulbar, Sulteng dan Sultra). Namun untuk Sulteng walaupun terjadi akselerasi pada pertumbuhan ekonomi namun tidak mendorong peningkatan daya beli masyarakat.

➢ Konsumsi Pemerintah

Untuk tahun 2019 kontribusi Konsumsi Pemerintah terhadap PDRB Sulsel sebesar 9,79% meningkat dari periode sebelumnya sebesar 9,71%. Simultan dengan perannya terhadap PDRB Sulsel, tren pertumbuhan Pengeluaran Pemerintah semakin meningkat dari 6,21% di 2018 menjadi 6,97% di 2019. Meningkatnya konsumsi pemerintah didorong oleh realisasi belanja

pegawai melalui APBN meningkat 9,5% atau secara nominal sebesar Rp8,1 triliun. Salah satu pendorong meningkatnya konsumsi pemerintah di 2019 adalah adanya kenaikan gaji ASN sebesar 5% dan penerimaan CPNS di beberapa K/L pada akhir tahun 2019. Secara spasial, terlihat bahwa hampir seluruh wilayah di Pulau Sulawesi pertumbuhan belanja pemerintahnya mengalami perlambatan hanya Sulsel dengan pertumbuhan maupun shared belanja pemerintah yang meningkat.

54,39 53,77 44,08 61,57 48,66 49,34 6,82 7,11 4,25 6,88 5,08 6,17 54,37 43,98 44,33 61,80 47,95 49,08 6,79 2,76 5,31 6,88 2,91 6,06 Sulawesi Selatan

Sulawesi Barat Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah

Sulawesi Tenggara

2018 Shared 2018 Pertumbuhan 2019 Shared 2019 Pertumbuhan

Sumber: BPS Sulsel (data diolah)

Grafik II.5 Perbandingan PDRB Pengeluaran P Sulawesi

(35)

Grafik II.9 Shared Konsumsi LNPRT Kawasan

Grafik II.8 Shared Konsumsi LNPRT Sulsel Namun demikian, Sulsel merupakan wilayah dengan shared Pengeluaran Pemerintah terkecil hanya 9,79% sedangkan wilayah lainnya berkisar diatas 10%. Kondisi ini menandakan bahwa dalam menopang perekonomiannya, Sulsel lebih mengandalkan Konsumsi Masyarakat dan Investasi dibandingkan konsumsi Pemerintah.

➢ Konsumsi LNPRT

Kontribusi Lembaga Non Profit Pelayan Rumah Tangga (LNPRT) mengalami pertumbuhan sangat signifikan ditahun 2019 mencapai 35,85% dari 2018 yang sebesar 15,67%. Dibandingkan dengan komponen pengeluaran lainnya, kontribusi LNPRT terhadap nominal PDRB Sulsel sangat rendah hanya 1,72%. Pertumbuhan sangat tinggi pada konsumsi LNPRT dipengaruhi oleh Pemilu

besar pada awal tahun 2019 banyak mendorong pengeluaran/konsumsi partai politik. Begitu juga dengan adanya bencana banjir besar di awal tahun 2019 meningkatkan

kegiatan Lembaga kemanusiaan. Berdasarkan grafik disamping terlihat bahwa seluruh wilayah di Pulau Sulawesi mempunyai shared

pengeluaran LNPRT sangat rendah hanya berkisar 0,7% hingga 1,9%. Sedangkan dari sisi laju pertumbuhan belanja LNPRT seluruh Prov. di Pulau Sulawesi mengalami peningkatan signifikan di 2019. Pertumbuhan tertinggi dalam pengeluaran LNPRT adalah Sulsel dari 15,67% di 2018 menjadi 35,85% di 2019. Tingginya akselerasi di Sulsel dikarenakan jumlah Kab/Kota yang lebih banyak dibandingkan wilayah lainnya sehingga pengeluaran LNPRT lebih besar dilakukan di Sulsel. Kegiatan LNPRT dilaksanakan secara musiman dan pihak yang terlibat didalamnya terbatas pada Lembaga swasta Non-Profit diantaranya Yayasan, LSM

1,33 0,71 2,04 0,75 1,88 1,07 15,67 7,74 9,35 27,93 19,43 10,91 35,85 10 12,88 35,93 15,92 11,47

Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara

2018 Shared 2018 Pertumbuhan 2019 Shared 2019 Pertumbuhan

Sumber: BPS Sulsel (data diolah)

(36)

Organisasi Masyarakat Organisasi Politik sehingga lonjakan yang terjadi pada belanja LNPRT hanya terjadi secara musiman misalnya pilkada dan bencana alam.

➢ Investasi/Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB)

Secara kumulatif pada tahun 2019 shared PMTB atau Investasi mengalami peningkatan dari 37,24% di 2018 menjadi 37,33 di 2018. Hal ini didorong oleh sejumlah pembangunan fisik seperti: Tol Pettarani, Perluasan Bandara, RS Daerah, Pembukaan akses jalan daerah sulit (seperti: Seko); Selain itu, impor barang modal dari luar negeri tergambar meningkat sebesar 34,2 persen. Sementara itu, pertumbuhan investasi di 2019 sedikit terkoreksi yakni dari 5,72% di 2018 menjadi 5,67 di 2019. Kondisi ini menunjukkan terjadinya penurunan aktivitas pembentukan kapital di Sulsel sejalan dengan pelemahan pada laju pertumbuhan di 2019. Namun PMTB secara umum masih didukung dengan adanya investasi berupa emas/Logam mulia. Apabila dihubungkan dengan laju inflasi Sulsel yang cenderung menurun terkendali pada level 2,35% seharusnya dapat menarik minat investor untuk menanamkan modalnya di Sulsel dengan pertimbangan cost produksi yang relatif terjangkau.

➢ Ekspor

Laju pertumbuhan ekspor semakin kontraktif dari tahun ke tahun. Setelah sempat rebound di 2018 (meningkat 2,50%), di 2019 ekspor kembali terpuruk pada level 0,81%. Kondisi ini disebabkan Lesunya produksi sejumlah komoditas ekspor unggulan antara lain Nikel, Rumput

Laut, Ikan dan Buah-Buahan. Dengan menurunnya nilai ekspor maka kontribusinya terhadap PDRB juga otomatis semakin menurun. Melambannya pertumbuhan ekonomi di negara tujuan utama ekspor, seperti Jepang, Tiongkok dan Korea Selatan memberikan andil terhadap menurunnya permintaan barang ekspor dari negara tersebut. Komoditas ekspor Sulsel sebagian besar masih diekspor dalam bentuk primer belum diolah menjadi bahan siap pakai, sebagai contoh kakao diekspor dalam bentuk biji-bijian. Jika bahan primer tersebut dapat diolah menjadi bahan siap pakai maka akan

(37)

meningkatkan nilai tambah ekspor. Oleh karenanya dibutuhkan pembangunan sektor Industri di wilayahyang mempunyai potensi Ekspor sehingga SDA dapat diolah menjadi komoditas siap pakai. Untuk menggairahkan ekspor Sulsel dapat dilakukan penghapusan pajak ekspor pada sektor komoditas unggulan regional, hal ini sebagai bentuk pemberian insentif kepada eksportir. Selain itu, waktu pengurusan ekspor dalam area kepabeanan agar dipersingkat.

Berdasarkan grafik disamping, terlihat bahwa terdapat 11 komoditas yang diekspor tahun 2019. Lima komoditas utama yang diekspor pada Desember

2019 yaitu Nikel (U$784,45 juta); Biji-bijian Berminyak dan Tanaman Obat (U$108,89 juta); Garam, Belerang dan Kapur (U$66,58 juta); Besi dan Baja (U$53,24 juta); Ikan, Udang dan Hewan Air Tidak Bertulang Belakang Lainnya (U$31,48 juta); Lak, Getah dan Damar (U$20,87 juta). Diantara 5 komoditas utama tersebut, Nikel masih menjadi primadona ekspor Sulsel baik ekspor antar wilayah maupun ekspor antar negara. Jika dibreakdown lebih lanjut berdasarkan negara tujuan ekspor utama Sulsel antara lain Jepang dengan nilai sebesar US$ 809,11 juta (66,67%); disusul Tiongkok dengan nilai U$ 260,69 juta (21,48%); Korea Selatan US$ 28,66 juta (2,36%); dan Malaysia US$ 25,59 juta (2,10%).

Secara spasial di Sulsel terdapat dua wilayah dengan kontribusi ekspor terbesar yaitu Sulteng sebesar Rp74,83 triliun (58,66%) kemudian Sulsel sebesar Rp31 triliun (32.26%). Untuk meningkatkan produktifitas dan nilai jual komoditas ekspor di Sulsel, maka pemerintah harus mengambil kebijakan salah satunya pendirian industri pengolahan untuk mengolah komoditas ekspor di daerah hal ini perlu disukung dengan menarik minat investor untuk berinvestasi. Melalui pendirian industri tersebut maka akan menimbulkan

(38)

Grafik II.14 Impor Sulawesi Selatan 2019 ➢ Impor

Impor Luar Negeri Sulsel tahun 2019 terkontraksi pada level minus 4,94% lebih rendah dari tahun 2018 yang sebesar minus 2,41%. terkontraksinya sektor Impor didorong oleh menurunnya 5 komoditas impor antara lain Gula dan Kembang Gula(-58,81%), BBM (-43,87%), Mesin/Peralatan Listrik (-42,91), Ampas/Sisa

Makanan (-14,5%) dan Pupuk (-9,34%). Kondisi ini mengindikasikan bahwa tingginya permintaan barang konsumsi masyarakat selama tahun 2018 berdampak peningkatan kegiatan importir. Konsumsi masyarakat yang semakin konsumtif seharusnya menjadi perhatian bagi pemangku kepentingan dan pemerintah dalam pengambilan kebijakan terkait impor barang konsumsi.

b.2 PDRB Sisi Penawaran /per-Lapangan Usaha

Secara sektoral untuk tahun 2019, lapangan usaha yang menjadi sektor unggulan Sulsel antara lain Pertanian, Kehutanan dan Perikanan sebesar Rp103,96 triliun disusul sektor Perdagangan Besar, Ecer dan Reparasi Mobil Sepeda Motor sebesar Rp66,44 triliun kemudian konstruksi sebesar Rp62,57 triliun dan sektor Industri Pengolahan sebesar Rp59,45 triliun. Dari

keempat sektor unggulan tersebut, sektor Konstruksi dan Industri Pengolahan yang dapat tumbuh positif dengan pertumbuhan mencapai 8,92% dari 8,55% di 2018 (Konstruksi) dan dari 094% menjadi 9,91% di 2019 (Industri Pengolahan). Pertumbuhan positif pada sektor Konstruksi dimotori oleh pembangunan fisik seperti Tol Pettarani, Perluasan Bandara, RS Daerah, Pembukaan akses jalan daerah sulit (seperti: Seko). Sementara itu, untuk Industri Pengolahan meningkat didorong oleh akselerasi baik Industri Besar dan Sedang (IBS) maupun Industri Mikro dan Kecil (IMK) yang tumbuh signifikan selama tahun 2019, masing-masing tumbuh 6,3% dan 16,6%. Hal ini didukung

462 63 131 103 140 47 89 7 29 13 100 418 158 135 89 81 50 46 22 19 19 117 2018 2019

(39)

Grafik II.15 PDRB per-Kapita Sulawesi Selatan 2019

pula dengan meningkatnya realisasi KUR di Sulsel tercatat sebesar Rp7,5 triliun meningkat dari Rp6,58 triliun di 2018.

c. PDRB Perkapita

Ditengah perlambatan ekonomi Sulsel, PDRB per-kapita di 2019 mengalami pertumbuhan mencapai 8,33% atau secara nominal menjadi Rp57,03 juta setara dengan US$4.030,18 juta jika dibandingkan dengan tahun 2018 dari tahun 2018 yang sebesar Rp52,64 juta. Jika dibandingkan dengan PDB per-kapita nasional yang sebesar Rp59,10 juta,

posisi PDRB per-kapita Sulsel lebih rendah. Sedangkan jika dilihat dari perkembangannya 5 tahun terakhir, terlihat bahwa tren PDRB per-kapita Sulsel cenderung meningkat. Peningkatan pendapatan per-kapita itu sejalan dengan kontribusi kelompok konsumsi pengeluaran rumah tangga yang memberikan kontribusi terbesar yakni di 2017 sebesar 54,24, 2018 sebesar 54,39 dan di 2019 sebesar 54,38%. Jika dibreakdown secara spasial, terlihat bahwa PDRB Perkapita di Sulsel lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tingkat

kesejahteraan masyarakat di Sulsel semakin meningkat. Hal ini didukung dengan IPM yang juga semakin meningkat serta tingkat kemiskinan menurun di 2019. Jika dikomparasikan antar daerah di Sulsel, terlihat bahwa lima wilayah dengan rata-rata kontribusi terbesar dalam PDRB Perkapita periode 2014 s.d. 2018 antara lain Kota Makassar sebesar Rp87,69 juta pertahun, Kab. Luwu Timur sebesar Rp68,70 juta

(40)

pertahun, Kab. Pangkep sebesar Rp62,51 juta pertahun, Kab. Maros sebesar Rp51,04 juta pertahun dan Kab. Wajo sebesar Rp41,49 juta pertahun. Sedangkan wilayah dengan PDRB Perkapita terendah adalah Kab. Jeneponto sebesar Rp21,81 juta pertahun.

Hal ini mengindikasikan di Sulsel tidak hanya terjadi ketimpangan pertumbuhan ekonomi dimana beberapa daerah memiliki nominal PDRB yang tinggi sedangkan wilayah lainnya relatif rendah. Namun juga terjadi ketimpangan tingkat kesejahteraan masyarakat yang diukur berdasarkan PDRB per-Kapita. Selanjutnya, untuk mengetahui gambaran pola dan struktur perekonomian di Sulsel salah satunya melalui analisis Tipology Klassen yakni dengan membagi wilayah berdasarkan cluster. Tools yang digunakan dalam analisis ini perbandingan rata-rata pertumbuhan ekonomi dan rata-rata pendapatan per-kapita. Berdasarkan tabel 1-11 24 Kab/Kota kedalam masing-masing kategori, sebagai berikut:

1. Daerah cepat-maju dan cepat-tumbuh (high growth

and high income), daerah yang memiliki tingkat

pertumbuhan ekonomi (6,92%) dan pendapatan per kapita yang lebih tinggi dibanding rata-rata PDRB Prov. Sulsel (52,64 juta per-tahun). Daerah yang termasuk kategori cepat-maju dan cepat- tumbuh di Sulsel hanya Kota Makassar dan Kab Maros.

2. Daerah maju tapi tertekan (high income but low

growth), daerah yang memiliki pendapatan

per-Kapita lebih tinggi, tetapi tingkat pertumbuhan ekonominya lebih rendah dibanding rata-rata. Daerah yang termasuk kategori daerah maju tapi tertekan hanya Kab. Luwu Timur dengan

pendaptan perkapita sebesar Rp71,22 juta pertahun nilai tersebut bahkan lebih besar dibandingkan PDRB per-Kapita Sulsel. Sedangkan laju pertumbuhan ekonominya hanya sebesar 3,44% jauh dibawah laju pertumbuhan ekonomi Sulsel.

3. Daerah berkembang cepat (high growth but low

income), daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan tinggi, tetapi tingkat pendapatan per-kapita lebih rendah dibanding rata-rata. Daerah

(41)

yang termasuk kategori daerah berkembang, dapat dilihat pada grafik disamping; 4. Daerah relatif tertinggal (low growth and low income) adalah daerah yang memiliki

tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapat per kapita yang lebih rendah dibanding rata-rata. Daerah yang termasuk kategori daerah berkembang, dapat dilihat pada grafik disamping.

2.1.2 Inflasi

Inflasi Sulsel hingga bulan Desember 2019 mencapai 2,35% (yoy) atau 0,04 (mtm). Inflasi di 2019 merupakan inflasi terendah dalam 5 (lima) tahun terakhir, Pencapaian ini didukung oleh inflasi bahan makanan yang relatif stabil bahkan lebih rendah dibandingkan pola historisnya. disamping itu, juga dipengaruhi oleh penyesuaian harga angkutan udara pada kelompok transportasi dan terjaganya komoditas lainnya. Beberapa bahan makan mengalami deflasi di 2019, antara lain telur ayam ras, tomat buah, kacang panjang dan pisang. Tingkat inflasi Sulsel sebesar 2,35% memberi gambaran bahwa sepanjang tahun 2019 keadaan harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan sebesar 2,35%, laju inflasi tersebut masih berada dibawah target Indikator Makro Ekonomi Sulsel tahun 2019 sebesar 3,50%. Berdasarkan grafik diatas terlihat bahwa periode 5 (lima) tahun terakhir

dipengaruhi oleh kecenderungan masyarakat untuk membelanjakan uangnya yang didorong dengan penerimaan THR dan Gaji 13/14 Karyawan Swasta dan PNS dan mengakibatkan terjadinya lonjakan harga bahan makanan/minum, pakaian dan transportasi.

Grafik 11.21 mewakili tingkat inflasi dan pengangguran selama empat tahun yakni 2016-2019, terlihat bahwa hubungan kedua indikator tersebut berbanding lurus. Penurunan laju inflasi dari level 3,50% ke 2,35% di 2019 berbanding lurus dengan menurunnya tingkat pengangguran dari level 5,34% ke 4,97%. Sehingga disimpulkan bahwa teori AW Phillips tidak berlaku di Sulsel. Kondisi ini menggambarkan keberhasilan pemerintah dalam menekan jumlah pengangguran Pada tahun 2019, pemerintah telah melakukan upaya strategis penciptaan lapangan kerja di Sulsel melalui (1) pemberian pelatihan kepada masyarakat

Gambar

Grafik II.4 Laju PDRB Pulau Sulawesi
Gambar II.2 Shared PDRB Sulawesi Selatan
Grafik II.6 Kontribusi Konsumsi Pemerintah
Grafik II.9 Shared Konsumsi LNPRT Kawasan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Metode Variabel Hasil Mallisa (2009) Internal Auditor pada sektor Perbankan di Makassar Analisis Regresi Linier Terikat : Kinerja Internal Auditor Bebas : Dukungan

Tipologi wisatawan merupakan aspek sosiologis wisatawan yang menjadi bahasan yang penting pada studi pariwisata, Menurut Pitana (2005), tipologi yang sesuai

1.. Peningkatan yang sangat signifikan tersebut dikarenakan target pada tahun 2021 mengalami perubahan/penurunan menyesuaikan dengan pemutakhiran data dari laporan

Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan ini merupakan salah satu wujud Pertanggungjawaban Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan

Selama ini Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) telah berperan penting dalam pembangunan pertanian di Sulawesi Selatan melalui penyediaan teknologi tepat

pengarusutamaan pada isu-isu sebagai berikut: kesejahteraan masyarakat, kemiskinan, disparitas dan optimalisasi kawasan selatan (lokus kewilayahan). Pembangunan yang

(2) Direktur Utama Perum Perhutani atau Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari kerja setelah menerima permohonan sebagaimana

Sehubungan dengan Rencana kerja Anggaran Satuan Perangkat Daerah (RKA-SKPD) tersebut di atas, Sekretariat Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Sulawesi Selatan menyusun