• Tidak ada hasil yang ditemukan

BELANJA PEMERINTAH PUSAT TINGKAT REGIONAL

Menurunnya pendapatan BLU disebabkan berkurangnya jumlah satker BLU yang semula 12 satker menjadi 11 satker karena satker Universitas Hasanuddin yang semula satker BLU menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) di tahun 2017. Namun diakhir tahun 2018, jumlah satker BLU kembali menjadi 12 satker dengan ditetapkannya RS Pelamonia sebagai satker BLU. Tahun 2019, jumlah satker BLU menjadi 13 satker dengan bertambah 1 satker yaitu Universitas Negeri Makassar.

Sementara untuk PNBP lainnya pada grafik diatas terlihat bahwa pada tahun 2019 penerimaan pendapatan administrasi dan penegakan hukum memiliki kontribusi sebesar 33,87 persen atau terbesar dalam PNBP

Lainnya di 2019. Pendapatan tersebut didominasi oleh pendapatan urusan kendaraan bermotor yaitu penerbitan STNK 22,93 persen, pendapatan BPKB 20,62 persen, Pendapatan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor 16,67 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan untuk kendaraan baik roda 2 dan 4 atau lebih masih sangat tinggi di Sulawesi Selatan.

Urutan berikutnya adalah pendapatan Pendidikan, budaya dan ristek sebesar 21,48 persen atau senilai Rp208,72 miliar. Realisasi tersebut berasal dari UIN, Sekolah Menengah Kejuruan, Sekolah Tinggi dan universitas Negeri Makassar.

3.2.3. Penerimaan Hibah

Selain perpajakan dan PNBP, pendapatan negara juga bersumber dari Penerimaan Hibah. Sampai dengan akhir tahun 2019, di Provinsi Sulawesi Selatan tidak terdapat penerimaan negara yang bersumber dari hibah

3.3. BELANJA PEMERINTAH PUSAT TINGKAT REGIONAL

Tahun anggaran 2019, secara nasional alokasi belanja pemerintah pusat di Sulawesi Selatan mengambil bagian 1,37 persen dari total belanja APBN, sedangkan alokasi belanja transfer ke daerah dan Dana Desa sebesar 3,93 persen dari total alokasi Dana Transfer ke Daerah dan Dana Desa.

Dari sisi Belanja Negara, alokasi pagu untuk Provinsi Sulawesi Selatan tahun anggaran 2019 yaitu sebesar Rp 54,81 triliun yang terbagi dalam belanja pemerintah pusat (K/L) sebesar Rp 22,30 triliun, belanja transfer ke daerah sebesar Rp 26,72 triliun, Dana Desa sebesar Rp2,35 triliun dan DAK Fisik sebesar Rp3,43 triliun.

Dibandingkan dengan capaian realisasi belanja negara secara nasional yang sebesar 93,9 persen, realisasi belanja negara di Sulawesi Selatan lebih tinggi yaitu mencapai 94,89 persen atau senilai Rp 52,01 triliun.

Realisasi sebesar Rp 52,01 triliun tersebut terdiri dari realisasi Belanja Pemerintah Pusat di Provinsi Sulawesi Selatan sebesar Rp20,46 triliun (91,76 persen), realisasi dana transfer, DAK Fisik dan Dana Desa sebesar Rp31,54 triliun (97,04 persen).

Bila disandingkan dengan provinsi lain di kawasan Sulawesi, Prov Sulsel mendapat alokasi pagu dana APBN lebih tinggi dari lainnya, namun dari sisi persentase realisasi, Sulawesi tenggara yang tertinggi yaitu mencapai 96,68 persen dan prov Sulsel hanya mencapai 94,89 persen sedikit diatas realisasi terendah di Sulawesi Utara (92,90 persen). Rendahnya realisasi di Sulsel disebabkan rendahnya penyerapan DBH sebesar 62,88 persen, DAK Non Fisik 89,98 persen, DAK Fisik 93,37 persen serta realisasi DIPA K/L yang hanya 92,30 persen. Langkah terhadap rendahnya realisasi tersebut adalah :

• Pemerintah daerah perlu bekerjasama dengan aparat pajak menggali potensi pajak untuk meningkatkan DBH ditahun berikutnya;

• Penguatan dan validasi basis data guru PNS yang bertugas di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) untuk penyaluran TPGPNS, serta perencanaan terhadap permasalahan penyaluran bantuan Operasional Kesehatan perlu dilakukan untuk mengantisipasi rendahnya realisasi DAK Non Fisik.

• Perencanaan terhadap kegiatan proyek fisik masih menjadi kendala sehingga diperlukan peningkatan skill dan koordinasi dalam melakukan perencanaan kegiatan.

3.3.1. Pagu dan Realisasi Anggaran Berdasarkan Kementerian Negara/Lembaga

Dilihat dari proporsi pagu, jumlah pagu dari 10 K/L pagu terbesar setara dengan 81,48 persen dari total pagu belanja K/L di Provinsi Sulawesi Selatan. Penyerapan 10 K/L pagu terbesar mendekati level 90 persen (89,91 persen) dengan rincian 7 K/L melebihi target dan sisanya terserap di bawah target. Secara keseluruhan terdapat 40 K/L yang

memenuhi target penyerapan 90 persen. Dengan demikian, secara umum sebaran penyerapan anggaran merata hampir pada seluruh K/L di Sulawesi Selatan.

Penyerapan yang belum optimal menyebabkan adanya sisa alokasi anggaran yang tidak direalisasikan (undisbursement) sekitar Rp2.1 triliun atau sebesar 9,41 persen dari seluruh alokasi.

K/L yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap ketidakterserapan anggaran adalah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (sisa alokasi Rp1,11 triliun atau 52,92 persen persen dari sisa alokasi K/L yang tidak terserap). Satker yang berkontribusi paling besar terhadap ketidakterserapan anggaran di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat adalah SNVT Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air-Pompengan Jeneberang (498307) yaitu sebesar Rp598,22 miliar atau 53,89 persen dari sisa alokasi di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Penyebab sisa anggaran di SNVT Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air-Pompengan Jeneberang adalah pembayaran untuk proyek pembangunan bendungan di Baliase belum bisa dilaksanakan karena masih dalam proses pembebasan lahan.

Selain alokasi yang tidak terserap, masih terdapat blokir dana hingga berakhirnya tahun anggaran 2019. Terdapat Rp11,73 miliar dana blokir atau mencapai 0,05 persen dari total alokasi belanja K/L. Dibandingkan dengan blokir di awal tahun 2019 yang sebesar 394,97 miliar atau 1,99 persen dari alokasi awal tahun 2019, tingkat persentase blokir mengalami penurunan sebesar 1,94 persen. Apabila dibandingkan tingkat persentase blokir anggaran pada akhir Tahun Anggaran 2018 yang sebesar Rp.34,49 miliar atau 0,15 persen dari alokasi, tingkat persentase blokir pada akhir Tahun Anggaran 2019 mengalami penurunan sebesar 0,1 persen.

Bila dilihat dari K/L, permasalahan utama terletak pada pengadaan barang/jasa yang disebabkan oleh kendala belum terpenuhinya persyaratan untuk dilakukan pembayaran (pembebasan lahan belum selesai) dan tidak terpenuhinya persyaratan untuk pembukaan blokir anggaran (belum adanya nomor register Pinjaman Luar Negeri (PLN).

3.3.2. Tren Realisasi Anggaran 10 K/L Pagu Terbesar

Grafik III.10 Tren Realisasi Bulanan 10 K/L Pagu terbesar 2018

Grafik III.9 Tren Realisasi Bulanan 10 K/L Pagu terbesar 2019

kenaikan signifikan pada triwulan IV. Dari total realisasi belanja 10 K/L pagu terbesar sebesar Rp16.34 triliun, nilai realisasi sepanjang triwulan IV tahun 2019 mencapai Rp5.58 triliun atau 30,70 persen dari alokasi. Termin pembayaran prestasi pekerjaan kontraktual yang jatuh pada triwulan IV menjadi salah satu faktor pendorong tingginya realisasi belanja pada periode tersebut. Tren yang sama terjadi di 2018 dimana pergerakan realisasi belanja 10 K/L pagu terbesar pada 2018 juga menunjukkan tren kenaikan, dimana penyerapan pada triwulan IV tahun 2018 sebesar Rp.6,66 triliun atau 36,26 persen dari alokasi. Tingkat realisasi triwulan IV tahun 2019 mengalami penurunan dibandingkan realisasi triwulan IV tahun 2018 yaitu sebesar 5,56 persen (yoy).

Grafik realisasi bulanan pada tahun 2019 menunjukkan bahwa realisasi bulanan tertinggi terjadi pada bulan Desember sebesar Rp2,48 triliun (13,66 persen) dan bulan Mei sebesar Rp1,92 triliun (10,57 persen). Tingginya realisasi pada bulan Desember disebabkan oleh banyaknya termin pembayaran kontrak yang jatuh tempo pada bulan Desember. Sedangkan tingginya realisasi di bulan Mei dipengaruhi oleh pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) kepada ASN dan pejabat negara. Sebagai perbandingan, pada tahun 2018 pergerakan realisasi belanja 10 K/L pagu terbesar juga menunjukkan kenaikan yang paling signifikan pada bulan Desember yaitu sebesar Rp3,62 triliun (19,73 persen). Dibandingkan dengan tingkat realisasi bulan Desember 2018, tingkat realisasi bulan Desember 2019 mengalami penurunan sebesar 6,07 persen (yoy).

Sumber : OMSPAN dan MEBE (data diolah)

Realisasi belanja pemerintah sebagai stimulus perekonomian perlu terus didorong. Tren realisasi tidak hanya nominal pagu anggaran APBN yang lebih besar dari APBD, kinerja penyerapan pun harus terus didorong. Penyerapan anggaran sebagai stimulus perekonomian, ke depan menjadi kunci peningkatan kemandirian fiskal mengingat besarnya anggaran infrastruktur, baik konektivitas maupun pelayanan dasar dan peningkatan produksi serta nilai tambah diberbagai lapangan usaha. Aktivitas sektor riil yang terus tumbuh tentunya akan meningkatkan kualitas pertumbuhan dan juga

peningkatan kemandirian fiskal dari pemerintah daerah. Pada tabel terlihat realisasi di triwulan pertama membentuk kurva normal yang meningkat sampai bulan April 2019. Namun di bulan Mei sampai November, realisasi mengalami fluktuasi dan terakhir meningkat tajam dibulan Desember. Dalam pengelolan APBN, realisasi ideal adalah pola realisasi membentuk kurva parabola terbalik yaitu realisasi tertinggi berada di pertengahan tahun dan semakin menurun di akhir tahun. Di Triwulan IV, idealnya para pengelola keuangan dan pelaksana kegiatan sudah mulai melakukan evaluasi, menyelesaikan pembayaran serta menyusun laporan pertanggungjawaban dan tidak lagi disibukkan dengan kegiatan fisik maupun belanja barang lainnya.

3.3.3. Pagu dan Realisasi Anggaran Berdasarkan Jenis Belanja

Belanja Pemerintah Pusat (Belanja K/L) berdasarkan jenis belanja memberikan gambaran struktur dan fokus belanja pemerintah di Sulawesi Selatan. Secara umum dapat dijelaskan beberapa hal sebagai berikut:

a. Belanja KL di Kanwil Provinsi Sulawesi Selatan sebagian besar dialokasikan untuk belanja barang dengan porsi 40,82 persen (Rp9,10 triliun) dari total pagu belanja KL yang dialokasikan (Rp22,30 triliun). Disusul kemudian belanja pegawai 36,44 persen (Rp8,13 triliun), belanja modal 22,57 persen (Rp5,03 triliun) dan belanja bantuan sosial 0,17 persen (Rp38,81 milyar).

b. Terdapat perubahan alokasi dalam APBN Tahun 2019 dibandingkan Tahun 2018 di Provinsi Sulawesi Selatan yaitu terjadi peningkatan pagu belanja pegawai sebesar Rp522,21 milyar year on year (yoy), dan belanja bantuan sosial Rp8,85 milyar (yoy). Sebaliknya, terjadi penurunan pagu belanja barang sebesar Rp486 milyar (yoy) dan belanja modal sebesar Rp135,94 milyar (yoy).

c. Dilihat dari proporsi kelompok belanja yang dialokasikan, sebagian besar digunakan untuk pembayaran gaji dan tunjangan PNS dan TNI/Polri yang mendapatkan alokasi terbesar mencapai Rp6,18 triliun. Alokasi tersebut merupakan 27,69 persen dari total alokasi belanja K/L di Sulawesi Selatan.

d. Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah yang berhasil menjadi lumbung pangan nasional terutama hasil panen beras. Sesuai dengan keunggulan tersebut, alokasi pagu terbesar setelah belanja gaji dan tunjangan PNS di Provinsi Sulawesi Selatan adalah belanja modal jalan, irigasi dan jaringan sebesar Rp2,90 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa proses perencanaan dan pengalokasian pagu di Sulawesi Selatan telah mempertimbangkan potensi dan keunggulan daerah.

Belanja barang merupakan jenis belanja dengan alokasi terbesar dan mampu terserap sebesar Rp8,48 triliun atau 93,27 persen dari pagu. Sebaliknya, dari ketidakserapan

alokasi terlihat sebagian besar pada belanja modal dengan tingkat penyerapan dibawah target, dengan serapan pada level 77,22 persen atau Rp3,88 triliun dari alokasi anggaran sebesar Rp5,03 triliun. Penyerapan yang belum optimal tersebut menyisakan alokasi anggaran belanja modal sebesar Rp1,82 triliun pada akhir tahun dan mengindikasikan adanya kendala/permasalahan dalam pelaksanaan anggaran.

Selain alokasi yang tidak terserap, masih terdapat blokir dana hingga berakhirnya tahun anggaran 2019 dengan total Rp11,73 milyar.

Dalam pelaksanaan penyerapan anggaran, masih terdapat beberapa kendala/permasalahan yang menjadi penyumbang ketidakserapan alokasi pada satker Kementerian Negara/Lembaga di Sulawesi Selatan. Permasalahan dilakukan dengan menggunakan analisis

tracking untuk mendukung dalam

pemetaan kendala/permasalahan.

Dari hasil analisis tracking yang dilanjutkan dengan konfirmasi kepada pejabat perbendaharaan satker, permasalahan utama dalam pelaksanaan anggaran tahun 2019 dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok utama yaitu: 1) Perencanaan anggaran, 2) Pengadaan barang/jasa, dan 3) Peraturan dan Mekanisme.

Untuk melihat gambaran karakteristik belanja K/L di Kanwil Provinsi Sulawesi Selatan, dilakukan dengan penelusuran belanja pada masing-masing jenis belanja sebagai berikut :

1) Belanja Pegawai

Sebagian besar alokasi belanja pegawai digunakan untuk pembayaran belanja gaji dan tunjangan PNS dan TNI/Polri dengan alokasi pagu sebesar Rp6.175,39 miliar atau sebesar 75,93% dari total pagu sebesar Rp8.132,94 miliar.

Dibandingkan tahun 2018, realisasi belanja pegawai tahun 2019 lebih baik dari tahun sebelumnya dengan realisasi mencapai Rp8.071,56 miliar atau 99,25 persen dari pagu, lebih tinggi 2,4 persen (yoy) dari tahun 2018 sebesar 96,85 persen.

Disatu sisi, sampai dengan tanggal 31 Desember 2019 tingkat realisasi belanja gaji dan tunjangan PNS pada satker Sekretariat Bawaslu Provinsi Sulawesi Selatan (686459) sangat rendah sebesar Rp1,20 miliar atau 7,83 persen dari pagu sebesar Rp15,38 miliar. Hal ini disebabkan pagu yang dialokasikan termasuk belanja gaji dan

tunjangan PNS pada 24 Sekretariat Bawaslu Kabupaten/Kota, namun hingga akhir tahun anggaran 2019 pembentukan Sekretariat Bawaslu Kabupaten/Kota tidak terealisasi. Permasalahan pada satker Bawaslu menyebabkan alokasi dana yang tidak digunakan sampai akhir tahun yang seharusnya dapat dialokasikan pada satker lain yang mengalami pagu minus belanja pegawai. Antara perencanaan dengan kegiatan pembentukan satker baru tidak sejalan mengakibatkan inefisiensi dalam penganggaran.

2) Belanja Barang

Belanja barang K/L di Kanwil Provinsi Sulawesi Selatan sebagian besar digunakan untuk belanja barang non operasional dengan porsi sekitar 21,45 persen dari pagu belanja barang. Tingkat realisasi belanja barang pada tahun 2019 lebih tinggi 3,95 persen yang mencapai 93,27 persen dibandingkan tingkat realisasi tahun 2018 sebesar 89,32 persen (yoy). Menurunnya pagu belanja barang diimbangi dengan kinerja realisasinya sehingga dapat disimpulkan bahwa pengalokasian belanja barang mengarah pada kesesuaian terhadap kebutuhan satker.

3) Belanja Modal

Realisasi belanja modal pada K/L di Kanwil Provinsi Sulawesi Selatan mencapai Rp3.886,50 miliar atau 77,22 persen dari pagu sebesar Rp5.033,08 miliar. Tingkat realisasi tersebut lebih rendah sekitar 6,79 persen dibanding tahun 2018 yang mencapai 84,01 persen (yoy).

Terdapat 3 (tiga) Kementerian yang berkontribusi terhadap rendahnya realisasi belanja modal dengan penyerapan di bawah target, yaitu Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (68,32 persen), Kementerian Kesehatan (62,89 persen), dan Kementerian Ketenagakerjaan (52,98 persen). Berdasarkan tren realisasi belanja, tingkat penyerapan belanja modal masih terkonsentrasi pada bulan Desember 2019 sekitar 19,25 persen. Penyebab menumpuknya realisasi di akhir tahun antara lain disebabkan DIPA terlambat diterima sehingga terlambat dilakukan proses lelang, penandatangan kontrak yang terlambat dengan jangka waktu pelaksanaan hingga akhir tahun, dan proses pembebasan tanah yang belum selesai. 4) Belanja Bantuan Sosial

Tingkat realisasi anggaran belanja bantuan sosial pada tahun 2019 sebesar 97,99 persen, mengalami penurunan sebesar 1,64 persen dibanding tahun 2018 (yoy) yang mencapai 99,63 persen. Secara umum tingkat realisasi belanja bantuan sosial yang dialokasikan pada 2 (dua) kementerian yaitu Kementerian Agama dan Kementerian Sosial, memenuhi target penyerapan anggaran, masing-masing

sebesar 98,61 persen dan 95,58 persen. Penurunan bansos karena output beasiswa siswa miskin yang melebihi kebutuhan riil.

3.3.4. Klasifikasi Anggaran Berdasarkan Fungsi

Klasifikasi anggaran menurut fungsi yang tersebar di berbagai K/L merupakan pengelompokan alokasi anggaran yang mencerminkan tugas-tugas pemerintahan yang melekat pada setiap satuan kerja

dan bagian anggaran. Sebaran alokasi anggaran per fungsi disajikan pada grafik disamping. Grafik tersebut memperlihatkan bahwa pada tahun anggaran 2019, fungsi Pelayanan Umum mendapat alokasi dana APBN tertinggi yaitu Rp7,38 triliun atau 26,28 persen. Fungsi ini dilaksanakan oleh 14 Kementerian/Lembaga (105 DIPA)

dengan porsi terbesar pada Kementerian Keuangan dengan 32 satker, BPS dan KPU masing masing 25 satker.

Tertinggi kedua adalah fungsi ekonomi yang dilaksanakan oleh 12 K/L dengan 139 DIPA. Handling fungsi ekonomi tertinggi pada Kementerian Perhubungan 25 satker, Pertanian 23 satker dan Kementerian Ketenagakerjaan 18 satker.

Sedangkan fungsi Pendidikan merupakan fungsi tertinggi ketiga dengan 16 K/L yang dilaksanakan ke dalam 202 DIPA. Dari 202 DIPA tersebut, 149 DIPA berada di Kementerian Agama dalam rangka pelaksanaan program Pendidikan, bimbingan masyarakat, dukungan manajeman dan kerukunan umat beragama. Dari total nilai Rp5,17 triliun, 41,98 persen dialokasikan untuk pelaksanan program Pendidikan di Kementerian Agama.

Fungsi Pariwisata dan Budaya mendapat alokasi paling kecil yaitu sebesar Rp 126,77 miliar (0.45 persen). Meskipun memiliki pagu terendah namun mengalami kenaikan pagu tertinggi di 2019. Pada tahun 2018 dialokasikan pagu sebesar Rp2,72 miliar dan meningkat menjadi Rp126,77 miliar pada 2019 atau naik 63 kali lipat. Kenaikan tersebut memperlihatkan keseriusan pemerintah dalam menggali potensi wisata di Sulsel yang memiliki potensi wisata yang cukup besar untuk dapat dikembangkan lebih baik. Beberapa tempat wisata di Sulawesi Selatan mulai dikenalkan secara internasional yaitu wisata alam dan budaya di Toraja dan wisata bahari di Bira. Sulawesi Selatan juga

Grafik III.12 Pagu Alokasi Per Fungsi

mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata Geopark kelas dunia. Sebagai tahap awal pemerintah (Kemenpar) telah mengajukan proposal Geopark di Kabupaten Maros ke UNESCO agar ditetapkan menjadi UNESCO Global Geopark

(UGG) pada 2019.

Perbandingan alokasi pagu per fungsi tahun 2018 dengan 2019,

terjadi peningkatan

pagu pada fungsi

pertahanan,lingkungan hidup, kesehatan, Pariwisata dan Budaya, Agama, pendidikan dan perlindungan sosial.

Sementara itu, penurunan pagu kisaran 6%-12% terjadi pada fungsi pelayanan umum, ekonomi, ketertiban dan keamanan serta perumahan dan fasilitas umum. Komposisi kenaikan dan penurunan pagu per fungsi menunjukkan arah kebijakan pemerintah untuk lebih fokus pada peningkatan indeks pembangunan manusia yaitu dengan meningkatkan jumlah pagu pada fungsi kesehatan, agama serta pendidikan. Alokasi anggaran per fungsi disesuaikan dengan kebijakan presiden serta kebutuhan terhadap sektor-sektor yang menjadi prioritas.

3.3.5. Permasalahan/Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyerapan Anggaran di Daerah

Berdasarkan analisis tracking dan konfirmasi hasil penelusuran permasalahan, berikut ini adalah permasalahan utama dalam pelaksanaan anggaran di Sulawesi Selatan: 1) Perencanaan Penganggaran

a) Terdapat beberapa DIPA yang terlambat diterima. Satker-satker pada Kementerian Perdagangan menerima DIPA bulan Juli 2019 dan terdapat 2 Satker yang menerima DIPA di bulan Oktober 2019 yakni Dinas Perdagangan Kab. Pangkep dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kab. Enrekang b) Masih ada dana blokir hingga akhir tahun pada Kementerian Pekerjaan Umum

dan Perumahan Rakyat, Kementerian Agama, Kementerian Pertanian, Kementerian Ketenagakerjaan, dan Kementerian Perdagangan.

c) Kelebihan alokasi anggaran. Satker Sekretariat Bawaslu Provinsi Sulawesi Selatan mengalokasikan anggaran untuk 24 Sekretariat Kabupaten/Kota, namun hingga akhir tahun Sekretariat Kabupaten/Kota tidak terbentuk. Selain itu masih

ada alokasi bansos untuk output beasiswa siswa miskin yang melebihi kebutuhan riil, contohnya pada satker Kantor Kemenag Kota Makassar.

2) Pengadaan Barang dan Jasa

a) Keterlambatan penandatanganan kontrak. Karena penetapan pemenang lelang Satker Pelaksanaan Prasarana Permukiman Wilayah II Provinsi Sulawesi Selatan, harus melalui persetujuan Menteri dan sebelumnya terdapat lahan yang masih dalam proses sengketa di Mahkamah Agung.

b) Pengadaan tanah untuk pembangunan bendungan di Baliase, Luwu Utara, dan bendung Giliren, Wajo masih dalam proses inventarisasi karena beberapa pihak mengklaim atas kepemilikan tanah.

c) Kendala proses lelang, terdapat sanggahan sehingga lelang diulang.

d) Proses pengadaan tanah yang belum selesai, disebabkan oleh adanya penolakan masyarakat untuk Jalan Tani oleh Satker Dinas Tenaga Kerja Kota Parepare.

3) Peraturan dan Mekanisme

a) Alokasi belanja bersumber dari PNBP Satker. Pendapatan BLU Satker Balai Kesehatan Mata Masyarakat Sulawesi Selatan yang tidak terpenuhi mengakibatkan pagu tidak terealisasi.

b) Masih adanya keterlambatan penunjukkan KPA, dimana SK menteri teknis terkait penetapan Pejabat Perbendaharaan pada satker TP baru terbit di pertengahan Agustus 2019.

c) Terlambatnya SK penetapan pergantian PPK sehingga penandatangan kontrak terlambat. Penetapan pergantian PPK pada Satker Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sulawesi Selatan terbit 3 (tiga) bulan setelah diusulkan. d) Siswa penerima bantuan KIP dan BOS tidak memenuhi syarat karena siswa

berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas.

e) Reviu design pembangunan Rumah Sakit Pendidikan UIN Alauddin dari Kementerian Kesehatan belum terbit.