VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.2. Analisis Pendapatan Usaha Tempe
6.2.1. Analisis Pendapatan Berdasarkan Keanggotaan Primkopt
6.2.1. Analisis Pendapatan Berdasarkan Keanggotaan Primkopti dan Skala Usaha
Analisis pendapatan usaha tempe dalam penelitian ini menggunakan komponen total penerimaan, total biaya tunai, dan biaya total secara keseluruhan. Besaran yang digunakan untuk ketiga komponen tersebut adalah besaran per hari per kilogram tempe yang dihasilkan. Besarnya pendapatan dihitung dengan dua cara, yaitu mengurangi total penerimaan dengan total biaya tunai dan mengurangi total penerimaan dengan biaya total secara keseluruhan. Oleh karena itu, akan didapatkan dua nilai pendapatan, yaitu pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total. Tentunya kedua jenis pendapatan tersebut akan menghasilkan nilai yang berbeda.
Sama halnya dengan perhitungan pendapatan, rasio R/C juga dihitung dengan dua cara, yaitu membagi total penerimaan dengan total biaya tunai dan membagi total penerimaan dengan biaya total secara keseluruhan. Nilai rasio R/C yang didapatkan terdapat dua besaran nilai, yaitu rasio R/C atas biaya tunai dan rasio R/C atas biaya total. Kedua jenis rasio R/C tersebut akan menghasilkan nilai yang berbeda.
Setiap pengrajin memproduksi tempe dengan takaran dan jumlah kemasan yang berbeda, sehingga perhitungan penerimaan tempe, terutama penerimaan dari penjualan tempe, dilakukan dengan menghitung penerimaan masing-masing pengrajin per skala usaha kemudian dirata-ratakan. Penerimaan dari penjualan tempe per hari per pengrajin secara rinci terdapat pada Lampiran 6.
65
Tabel 6.6 menyajikan data penerimaan, biaya tunai, dan biaya total rata- rata per kilogram tempe yang dihasilkan per pengrajin anggota maupun non anggota untuk setiap skala usaha. Nilai-nilai tersebut kemudian digunakan untuk menghitung pendapatan atas biaya tunai, pendapatan atas biaya total, rasio R/C atas biaya tunai, dan rasio R/C atas biaya total.
Tabel 6.6 Rata-rata pendapatan dan rasio R/C usaha tempe berdasarkan keanggotaan Primkopti dan skala usaha di Kelurahan Kedung Badak tahun 2015
Uraian Anggota Non Anggota
Skala I Skala II Skala III Skala I Skala II Skala III Penerimaan*
a. Penjualan Tempe 8 673 8 783 8 712 8 800 8 750 8 721
b. Sisa Hasil Usaha 5 6 7 0 0 0
c. Jasa Simpanan 9 13 15 0 0 0
d. Penjualan Ampas Kulit Kedelai 68 55 38 72 47 27 Total Penerimaan 8 755 8 857 8 772 8 872 8 797 8 748 Biaya* a. Tunai 6 581 6 789 7 329 6 753 6 909 7 560 b. Tidak Tunai 830 578 330 856 516 225 Total Biaya 7 411 7 367 7 659 7 609 7 425 7 785 Pendapatan*
a. Atas Biaya Tunai 2 174 2 068 1 443 2 119 1 888 1 187 b. Atas Biaya Total 1 345 1 489 1 113 1 262 1 372 962 Rasio R/C
a. Atas Biaya Tunai 1.33 1.31 1.2 1.32 1.27 1.16
b. Atas Biaya Total 1.18 1.2 1.15 1.17 1.19 1.12
Keterangan: * Rp/Hari/Kg Tempe Sumber: Data Primer, 2015 (Diolah)
Berdasarkan Tabel 6.6, total penerimaan per kilogram tempe yang dihasilkan pada skala I lebih besar pada pengrajin non anggota yaitu sebesar Rp 8 872 per hari dibandingkan pengrajin anggota yaitu sebesar Rp 8 755 per hari. Skala II dan III total penerimaan lebih besar pada pengrajin anggota yaitu sebesar Rp 8 857 per hari dan Rp 8 772 per hari dibandingkan pengrajin non anggota yaitu sebesar Rp 8 797 per hari dan Rp 8 748 per hari.
Berbeda dengan biaya, pada total penerimaan per kilogram tempe ini, semakin besar skala usaha total penerimaan tidak semakin besar. Hal tersebut dikarenakan total penerimaan per kilogram tempe ditentukan dari bagaimana pengrajin memberikan harga jual terhadap tempe yang dihasilkan yang dikemas dalam berbagai ukuran kemasan. Perbedaan total peneriman per kilogram tempe yang dihasilkan antara pengrajin anggota dan non anggota dipengraruhi oleh adanya tambahan penerimaan yang dirterima oleh pengrajin anggota yang berasal
66
dari simpanan dan SHU yang diterima dari Primkopti. Oleh karena itu, pada skala II dan III total penerimaan pengrajin anggota lebih besar dari pada pengrajin non anggota.
Tabel 6.6 juga menyajikan besaran pendapatan dan nilai rasio R/C untuk pengrajin anggota dan non anggota di setiap skala usaha. Terlihat bahwa pendapatan dan rasio R/C atas biaya tunai lebih besar dibanding pendapatan dan rasio R/C atas biaya total. Pada umumnya pengrajin hanya menghitung pendapatan dari usaha tempe yang dijalankan atas biaya tunai. Pendapatan atas biaya tunai tersebut terlihat lebih besar, namun pada kenyataannya terdapat biaya- biaya yang tidak secara langsung dikeluarkan tetapi sebaiknya dihitung ke dalam total biaya.
Pendapatan atas biaya tunai dan atas biaya total per kilogram tempe pada skala I, II, dan III lebih besar pada pengrajin anggota dibandingkan dengan pengrajin non anggota. Hal tersebut disebabkan oleh biaya yang dikeluarkan pengrajin anggota pada tiap skala lebih kecil dibandingkan pengrajin non anggota. Selain itu, penerimaan yang diperoleh juga cenderung lebih besar pengrajin anggota dibandingkan pengrajin non anggota. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pengrajin anggota mengeluarkan total biaya yang lebih rendah untuk setiap kilogram tempe yang dihasilkan karena kedelai dan ragi yang dibeli di Primkopti lebih murah dan mudah mendapatkannya serta terdapat tambahan penerimaan dari keanggotaan terhadap Primkopti sehingga total pendapatan pengrajin anggota jika dibandingkan antar skala usaha lebih besar jika dibandingkan dengan pengrajin non anggota.
Pendapatan atas biaya tunai paling besar secara keseluruhan terdapat pada usaha tempe anggota skala I, karena pada skala I biaya tunai yang dikeluarkan cenderung lebih kecil karena masih banyak menggunakan tenaga kerja dalam keluarga. Pendapatan atas biaya total secara keseluruhan terbesar terdapat pada usaha tempe anggota skala II. Hal tersebut dikarenakan total biaya paling kecil juga terdapat pada pengrajin anggota skala II. Oleh karena itu, usaha tempe di Kelurahan Kedung Badak tahun 2015 ini menunjukkan bahwa dengan meningkatkan skala usaha dari skala I ke skala II dapat menurunkan total biaya dan meningkatkan pendapatan atas biaya total per kilogram tempe, namun jika
67
meningkatkan hingga skala III dapat meningkatkan total biaya dan menurunkan pendapatan atas biaya total per kilogram tempe.
Usaha tempe dari skala I hingga III baik anggota maupun non anggota memiliki nilai rasio R/C lebih dari satu jika dilihat dari nilai rasio R/C atas biaya tunai dan biaya total secara keseluruhan. Hal tersebut menunjukkan bahwa usaha tempe di Kelurahan Kedung Badak menguntungkan, yang artinya bahwa setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan penerimaan lebih dari satu rupiah.
Nilai rasio R/C atas biaya tunai jika dilihat dari masing-masing skala, skala I, skala II, dan skala III pada usaha tempe pengrajin anggota secara berurutan memiliki nilai rasio R/C atas biaya tunai yang lebih besar, yaitu 1.33, 1.31, dan 1.2 dibandingkan dengan pengrajin non anggota, yaitu sebesar 1.32, 1.27, 1.16. Berbeda halnya dengan rasio R/C atas biaya tunai, nilai rasio R/C atas biaya total terbesar secara berurutan terdapat pada usaha tempe anggota dengan skala II, I, dan III, yaitu sebesar 1.2, 1.18, dan 1.15.
Hal tersebut menunjukkan bahwa setiap tambahan satu rupiah biaya yang dikeluarkan dalam usaha tempe pengrajin anggota akan menghasilkan tambahan penerimaan 1.2 rupiah untuk skala II, 1.18 rupiah untuk skala I, dan 1.15 rupiah untuk skala III. Dengan kata lain, usaha tempe anggota tersebut lebih efisien karena memiliki nilai rasio R/C atas biaya total yang lebih besar dibandingkan dengan pengrajin non anggota.
Perbedaan besaran pendapatan dan rasio R/C saja tidak cukup dalam analisis pendapatan ini. Oleh karena itu, perlu dilakukan uji statistik yaitu uji beda dua sampel bebas dan uji beda beberapa sampel bebas agar terlihat apakah perbedaan pendapatan dan rasio R/C antar keanggotaan dan antar skala usaha
berbeda secara signifikan dengan menggunakan taraf nyata (α) 5 persen.
6.2.2. Uji Beda Terhadap Pendapatan dan Rasio R/C Usaha Tempe