V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN
5.2. Gambaran Umum Responden
5.2.1. Karakteristik Umum Responden Pengrajin Tempe
Karakteristik umum responden dalam suatu penelitian diperlukan guna menggambarkan situasi dan kondisi dari responden yang diteliti. Karakteristik umum responden pengrajin tempe di Kelurahan Kedung Badak tahun 2015 dilihat dari beberapa komponen karakteristik. Komponen-komponen tersebut adalah jenis kelamin, tingkat usia, tingkat pendidikan formal, lama pengalaman berusaha tempe, pengetahuan awal membuat tempe, lama keanggotaan pengrajin anggota Primkopti Kota Bogor, jumlah tanggungan keluarga, dan status pekerjaan usaha tempe.
Pengrajin tempe di Kelurahan Kedung Badak bersifat heterogen. Oleh karena itu, karakteristik pengrajin tempe anggota dan non anggota pada tiap skala dapat berbeda, sehingga diperlukan penjabaran tentang karakteristik responden pengrajin tempe baik anggota maupun non anggota Primkopti Kota Bogor pada tiap skala usaha. Karakteristik responden pengrajin tempe untuk pengrajin anggota dan non anggota Primkopti Kota Bogor pada setiap skala usaha disajikan dalam Tabel 5.2.
Berdasarkan Tabel 5.2, terlihat bahwa mayoritas yang menjalankan usaha tempe adalah laki-laki. Hal tersebut menggambarkan bahwa usaha tempe di Kelurahan Kedung Badak tahun 2015 mayoritas dijalankan oleh laki-laki karena sebagai kepala keluarga yang merupakan pekerjaan utamanya. perempuan yang menjalankan usaha tempe pada umumnya karena mengikuti suami untuk menambah penghasilan keluarga.
43
Tabel 5.2 Karakteristik umum responden pengrajin tempe berdasarkan keanggotaan Primkopti dan skala usaha di Kelurahan Kedung Badak tahun 2015
No. Karakteristik Anggota Non Anggota Total
SI SII SIII Total SI SII SIII Total 1. Jenis Kelamin (%) Laki-Laki 100 100 100 100 100 75 62.5 84 92 Perempuan 0 0 0 0 0 25 37.5 16 8 2. Usia (Tahun) Rata-Rata 41 41 32 40 34 36 46 38 39 Maksimum 53 50 37 55 60 42 60 60 60 Minimum 28 28 27 27 22 30 35 22 22 3. Pendidikan (%)
Tidak Pernah Sekolah 13 17 0 14 20 25 12.5 19 17
Tidak Tamat SD 27 8 0 17 20 25 12.5 19 18
SD 33 42 0 35 27 37.5 12.5 26 30
SMP 13 25 50 21 27 12.5 37.5 26 23
SMA 7 8 50 10 6 0 25 10 10
Diploma 7 0 0 3 0 0 0 0 2
4. Lama Pengalaman Berusaha Tempe (Tahun)
Rata-Rata 18 18 14 18 14 14 21 16 17
Maksimum 33 30 15 33 40 20 32 40 40
Minimum 6 10 13 6 5 10 10 5 5
5. Pengetahuan Awal Membuat Tempe (%)
Turun Temurun 47 75 0 55 60 87.5 75 71 63
Dari Orang Lain
(Bekerja) 53 25 100 45 40 12.5 25 29 37
6. Lama Keanggotaan Primkopti Kota Bogor (Tahun)
Rata-Rata 14 20 10 16 0 0 0 0 0
Maksimum 30 35 12 35 0 0 0 0 0
Minimum 5 10 8 5 0 0 0 0 0
7. Jumlah Tanggungan Keluarga (Jiwa)
Rata-Rata 3 3 2 3 2 3 4 3 3
Maksimum 4 4 3 4 6 3 6 6 6
Minimum 0 2 0 0 0 3 3 0 0
8. Status Pekerjaan Usaha Tempe (%)
Pekerjaan Utama 100 100 100 100 100 100 100 100 100
Pekerjaan Sampingan 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Keterangan: SI=Skala I, SII=Skala II, SIII=Skala III Sumber: Data Primer, 2015 (Diolah)
Tabel 5.2 menunjukkan bahwa pengrajin tempe pada skala I baik anggota maupun non anggota memiliki karakteristik yang sama, yakni 100 persen pengrajin merupakan laki-laki. Responden perempuan terdapat pada skala II dan III karena mengikuti suaminya yang juga berada pada skala II dan III. Mereka saling memanfaatkan alat produksi yang dapat digunakan secara bersama, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk alat produksi tidak besar seperti pengrajin yang memulai usaha dari awal. Oleh karena itu, pengrajin perempuan tersebut dapat berada pada skala yang lebih besar, yakni skala II dan III.
44
Berdasarkan Tabel 5.2, terlihat bahwa rata-rata usia pengrajin anggota lebih besar dibandingkan rata-rata usia pengrajin non anggota. Pengrajin non anggota memiliki tingkat usia yang lebih beragam dibanding pengrajin anggota karena usia maksimum dan minimum terdapat pada pengrajin non anggota. Semakin besar skala usaha tempe, maka pengrajin yang berada pada skala tersebut rata-rata memiliki tingkat usia yang lebih rendah pada pengrajin anggota. Hal tersebut menunjukkan tingkat usia yang ideal bahwa semakin besar skala usaha membutuhkan tenaga yang lebih besar yang dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas. Tingkatan usia ini berpengaruh dalam kemampuan pengrajin dalam menjalankan usaha tempe baik kemampuan dalam menggunakan faktor produksi, kemampuan berpikir secara matang, maupun kemampuan tenaga yang dapat digunakan untuk meningkatkan pendapatan dari usaha tempe yang dijalankan.
Berdasarkan Tabel 5.2, terlihat bahwa mayoritas pengrajin tempe di Kelurahan Kedung Badak memiliki pendidikan formal terakhir hanya sampai SD, sementara pengrajin dengan pendidikan terakhir diploma hanya terdapat 1 orang. Rendahnya tingkat pendidikan para pengrajin tempe tersebut disebabkan karena mereka merupakan penduduk pendatang yang di tempat asal mereka belum terdapat fasilitas pendidikan yang mendukung dan terdapat kendala tempat tinggal yang jauh dari gedung sekolah. Pengrajin dengan pendidikan formal terakhir SMA terbanyak terdapat pada pengrajin anggota skala III dan pendidikan formal terakhir diploma terdapat pada pengrajin anggota skala I.
Berdasarkan Tabel 5.2, terlihat bahwa rata-rata lama pengalaman berusaha tempe pengrajin anggota lebih lama dibandingkan dengan pengrajin non anggota. Rata-rata lama pengalaman berusaha tempe ini berkaitan dengan rata-rata usia pengrajin tempe, baik anggota maupun non anggota. Pengrajin anggota memiliki rata-rata usia yang semakin rendah setiap skala usaha, sehingga berkaitan dengan rata-rata lama pengalaman berusaha tempe yang juga semakin rendah setiap skala usaha. Pengrajin anggota memiliki rata-rata usia yang semakin tinggi setiap skala usaha, sehingga berkaitan dengan rata-rata lama pengalaman berusaha tempe yang juga semakin tinggi setiap skala usaha.
Berdasarkan Tabel 5.2, terlihat bahwa mayoritas pengrajin tempe di Kelurahan Kedung Badak dalam menjalankan usaha tempe pengetahuan awal
45
membuat tempe didapatkan secara turun temurun, yaitu dengan cara membantu orang tua atau keluarga yang sebelumnya juga sebagai pengrajin tempe. Hal tersebut mengindikasikan bahwa usaha tempe merupakan usaha rumah tangga sehingga banyak menggunakan tenaga kerja dalam keluarga. Selain itu juga terdapat usaha tempe yang menggunakan tenaga kerja luar keluarga. Tenaga kerja luar keluarga tersebut pada akhirnya memiliki pengetahuan awal membuat tempe sehingga dapat menghasilkan tempe yang berkualitas baik. Pengetahuan awal membuat tempe yang dimiliki pengrajin anggota dan non anggota pada tiap skala pada umumnya lebih banyak didapatkan secara turun temurun. Seluruh responden pengrajin tempe anggota skala III mendapatkan pengetahuan awal membuat tempe dari bekerja dengan pengrajin lain.
Pengrajin anggota membeli bahan baku utama seperti kacang kedelai dan ragi di Primkopti serta melakukan simpanan di Primkopti. Berdasarkan Tabel 5.2, terlihat bahwa rata-rata pengrajin sudah menjadi anggota Primkopti Kota Bogor selama 16 tahun. Rata-rata terbesar, nilai maksimum, dan nilai minimum dari lama keanggotaan pengrajin tempe di Kelurahan Kedung Badak tahun 2015 terdapat pada skala II.
Berdasarkan Tabel 5.2, terlihat bahwa rata-rata jumlah tanggungan keluarga pengrajin sebanyak 3 orang, yang terdiri dari satu orang istri dan dua orang anak. Pengrajin tempe di Kelurahan Kedung Badak pada umumnya telah menyadari pentingnya program Keluarga Berencana mengingat biaya hidup yang tinggi saat ini. Mereka menyadari bahwa pendapatan dari usaha tempe tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari jika memiliki banyak tanggungan keluarga. Pengrajin anggota dari skala I hingga skala III rata-rata jumlah tanggungan keluarga semakin sedikit. Berbeda dengan pengrajin anggota, pada usaha tempe pengrajin non anggota semakin sebesar skala usaha, jumlah tanggungan keluarga semakin banyak. Jumlah tanggungan keluarga terbanyak terdapat pada pengrajin non anggota skala III.
Secara keseluruhan, usaha tempe yang dijalankan oleh pengrajin tempe di Kelurahan Kedung Badak merupakan pekerjaan utama. Mereka tidak memiliki pekerjaan lain selain usaha tempe. Hal tersebut dikarenakan memproduksi tempe setiap harinya sudah cukup menyita waktu dan tenaga, sehingga tidak dapat
46
melakukan pekerjaan lain yang juga menyita waktu sehari-hari. Pekerjaan lain selain usaha tempe yang dijalankan seperti membuka warung makan atau warung jajanan dilakukan oleh istri untuk menambah pendapatan keluarga.
5.2.2. Karakteristik Usaha Tempe Berdasarkan Keanggotaan Pengrajin Tempe Terhadap Primkopti Kota Bogor dan Skala Usaha
5.2.2.1.Karakteristik Bangunan
Proses produksi tempe pada usaha tempe rumah tangga di Kelurahan Kedung Badak tahun 2015 dilakukan di bangunan yang menyatu dengan tempat tinggal sehari-hari. Pengrajin tidak mengeluarkan biaya untuk bangunan yang secara khusus hanya diperuntukan untk proses produksi tempe, namun jika tidak memiliki tempat tinggal pun pengrajin tidak dapat memproduksi tempe. Oleh karena itu, pengrajin tetap membutuhkan bangunan untuk tempat tinggal sekaligus untuk produksi tempe baik milik sendiri maupun sewa (kontrak rumah).
Tempat produksi tempe yang menyatu dengan bangunan tempat tinggal menjadikan luas tempat produksi tempe di dalam rumah tersebut hanya membutuhkan sekitar ¼ bagian dari bangunan rumah. Bentuk bangunan tersebut merupakan bangunan permanen dengan dinding tembok, lantai semen atau keramik, dan atap genteng.
Oleh karena bangunan permanen tidak memiliki umur ekonomis atau dengan kata lain dapat selalu digunakan, maka biaya yang dihitung dari bangunan pada usaha tempe ini adalah biaya Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) bagi pengrajin yang memiliki rumah sendiri atau biaya sewa bangunan bagi pengrajin yang tidak memiliki rumah sendiri. Biaya yang dikeluarkan untuk bangunan ini yakni biaya PBB atau biaya sewa termasuk ke dalam biaya tetap dan biaya tunai. Rincian dari biaya PBB atau biaya sewa bangunan per pengrajin disajikan dalam Lampiran 3.
5.2.2.2.Karakteristik Peralatan Produksi
Berbagai macam peralatan produksi digunakan oleh pengrajin di Kelurahan Kedung Badak untuk menghasilkan tempe dengan kualitas yang baik. peralatan produksi tersebut adalah alat pemecah kacang, rak, kompor, ember,
47
pompa air, drum, ayakan, serta keranjang dan kendaraan bermotor untuk memasarkan hasil produksi yaitu tempe itu sendiri.
Alat pemecah kacang digunakan untuk memecahkan kacang kedelai sekaligus mengupas kulitnya. Kacang kedelai yang telah pecah atau terbelah membuat kulit kacang pun mudah lepas, sehingga memudahkan para pengrajin dalam mengupas kacang kedelai karena dalam memproduksi tempe kulit kacang kedelai harus terkelupas seluruhnya. Di sisi lain tidak semua pengrajin tempe menggunakan alat pemecah kacang mengingat harganya yang mahal, yakni Rp 2
500 000 Rp 4 500 000. Umumnya pengrajin skala I yang tidak memiliki alat
pemecah kacang, pemecahan kacang dilakukan dengan memasukkan kacang kedelai ke karung goni kemudian diinjak dengan kaki secara manual. Pengrajin II dan III mayoritas menggunakan alat pemecah kacang karena banyaknya kedelai yang digunakan sehingga memudahkan dan dapat menghemat tenaga pengrajin.
Rak digunakan dalam proses fermentasi yang berlangsung selama dua malam. Setelah kedelai diberi ragi kemudian dimasukan ke dalam plastik pembungkus. Lalu kedelai yang telah dibungkus tersebut ditata di rak fermentasi. Semakin banyak kedelai yang digunakan dalam proses produksi, maka semakin banyak pula rak yang digunakan.
Kompor digunakan oleh pengrajin yang menggunakan tabung gas dalam proses perebusan kacang kedelai. Hal tersebut disebabkan terdapat pengrajin yang masih menggunakan kayu bakar, sehingga tidak menggunakan kompor. Pengrajin yang menggunakan kayu bakar tersebut menggunakan drum logam sebagai wadah kacang kedelai untuk direbus. Sementara pengrajin yang menggunakan kompor
dan tabung gas menggunakan drum stainless steel yang harganya lebih mahal dari
drum logam dan mayoritas digunakan oleh pengrajin skala II dan III. Selain itu juga terdapat drum plastik yang digunakan oleh semua pengrajin untuk mencuci kacang kedelai.
Air yang digunakan oleh pengrajin untuk mencuci dan merebus kacang kedelai adalah air sumur, maka pengrajin menggunakan pompa air untuk mendapatkan air tersebut. Oleh karena itu, dalam biaya produksi tempe terdapat biaya untuk listrik. Pengrajin mencuci kedelai dan memastikan seluruh kulit kedelai terbuang pengrajin menggunakan ayakan.
48
Dalam memasarkan tempe yang siap dijual, pengrajin menggunakan keranjang yang dibawa dengan menggunakan kendaraan bermotor. Terdapat dua macam keranjang yang digunakan pengrajin di Kelurahan Kedung Badak tahun
2015, yaitu keranjang bambu dan keranjang container. Keranjang bambu
umumnya digunakan oleh pengrajin skala I dan sebagain skala II yang menggunakan motor dalam memasarkan tempe yang dihasilkan. Keranjang container digunakan oleh sebagian pengrajin skala II dan pengrajin skala III. Oleh karena banyaknya tempe yang dihasilkan oleh sebagian pengrajin skala II dan III, maka tidak cukup jika menggunakan keranjang bambu dan motor, sehingga
sebagian pengrajin skala II dan III menggunakan keranjang container dan mobil
pick up.
Biaya untuk peralatan produksi tersebut termasuk ke dalam biaya penyusutan dalam usaha tempe yang bersifat tetap dan tunai. Biaya penyusutan tersebut disajikan secara rinci dalam Lampiran 2. Gambar peralatan produksi yang digunakan oleh pengrajin tempe di Kelurahan Kedung Badak sebagian dapat dilihat pada Lampiran 27.
5.2.2.3.Input Produksi
Input produksi yang digunakan dalam usaha tempe ini adalah kacang kedelai, ragi, plastik, daun pisang, listrik untuk mendapatkan air dengan menggunakan pompa air, gas atau kayu bakar, tenaga kerja baik dalam keluarga maupun luar keluarga, dan bahan bakar untuk transportasi mengangkut tempe untuk dijual. Rata-rata penggunaan input produksi yang digunakan per hari dalam usaha tempe di Kelurahan Kedung Badak tahun 2015 ini dapat dilihat pada Tabel 5.3.
Tabel 5.3 menunjukkan bahwa rata-rata penggunaan input produksi pada pengrajin anggota maupun non anggota Primkopti pada setiap skala usaha bervariasi Jumlah input produksi yang digunakan setiap harinya berbeda antar skala usaha. Hal tersebut dipengaruhi oleh jumlah kedelai yang digunakan. Semakin banyak kedelai yang digunakan, maka semakin banyak jumlah input produksi yang digunakan setiap harinya.
49
Tabel 5.3 Rata-rata penggunaan input produksi usaha tempe berdasarkan keanggotaan Primkopti dan skala usaha di Kelurahan Kedung Badak tahun 2015 (jumlah/satuan/hari)
No. Input Produksi Satuan Anggota Non Anggota
Skala I Skala II Skala III Skala I Skala II Skala III
1. Kedelai Kg 47.7 80.8 110 47 93.8 176.3
2. Ragi Gr 71.2 119.6 166.3 69.3 133.4 235.2
3. Plastik Kg 1.0 1.7 2 1.0 1.9 2.9
4. Daun Pisang Ikat 2.1 4.0 5 2 4 6.5
5. Listrik - - - - 6. Gas (3 Kg) Tabung 1.5 2.4 3.4 1.4 2.9 4.5 Kayu Bakar - - - - 7. Tenaga Kerja Dalam Keluarga HOK 1.1 1.3 1 1.1 1.4 1
8. Tenaga Kerja Luar Keluarga
HOK 0 1 1 0 1 1.38
9. Bahan Bakar Transportasi
Liter 1.8 3.7 6 2 4.4 10.38
Sumber: Data Primer, 2015 (Diolah)
Penggunaan kedelai pada pengrajin anggota dan non anggota skala I tidak berbeda jauh, namun pada skala II dan III sedikit jauh berbeda. Hal tersebut dikarenakan rata-rata penggunaan kedelai pada pengrajin non anggota lebih besar dibandingkan pengrajin anggota. Pengrajin anggota ada yang hingga 230 kg kedelai tiap kali memproduksi tempe, sementara pengrajin anggota penggunaan kedelai paling besar sebanyak 110 kg. Input produksi yang lain seperti ragi, plastik, daun pisang, listrik, kayu bakar atau tabung gas, TKDK, TKLK, dan bahan bakar transportasi banyak atau tidak penggunaannya mengikuti banyak atau tidaknya penggunaan kedelai.
Terdapat perbedaan dalam hal bahan pembungkus kedelai hingga menjadi tempe. Terdapat pengrajin yang dari proses fermentasi hingga menjadi tempe siap jual menggunakan plastik saja, namun ada juga pengrajin yang mengganti plastik dengan daun pisang pada saat tempe masih setengah jadi. Selain itu juga terdapat perbedaan dalam bahan bakar untuk merebus kedelai. Ada pengrajin yang menggunakan kayu bakar, namun ada juga pengrajin yang menggunakan gas 3 kg. Oleh karena itu, perhitungan rata-rata total biaya input produksi yang dikeluarkan per pengrajin tidak dapat dilakukan dengan menjumlahkan biaya rata-rata dari masing-masing input produksi yang digunakan, namun dihitung berdasarkan total biaya input produksi yang dikeluarkan oleh setiap pengrajin kemudian dirata- ratakan seperti yang disajikan dalam Lampiran 4.
50
5.2.2.4.Karakteristik Produksi
Karakteristik produksi dari usaha tempe di Kelurahan Kedung Badak tahun 2015 ini homogen, yakni produksi yang dilakukan dengan cara tradisional. Pengrajin anggota dan non anggota memiliki proses produksi tempe yang sama, yaitu sebagai berikut:
1. Proses sortasi
Proses sortasi ini dilakukan dengan membersihkan kedelai kering dari sampah-sampah ringan seperti kulit kedelai, ranting-ranting, bebatuan, biji jagung, atau kedelai busuk yang kering. Proses ini penting karena sampah- sampah ringan tersebut akan mengganggu hasil akhir tempe.
2. Proses pencucian
Proses pencucian ini bertujuan untuk kembali membersihkan kedelai dari sampah kering yang masih tersisa. Kedelai dicuci dengan menggunakan air bersih, kemudian dilakukan pengadukan dengan tangan sehingga sampah-sampah kering yang masih bersisa tersebut akan timbul atau terapung. Sisa-sisa sampah kering yang telah terapung tersebut diambil dengan cara disaring dengan ayakan.
3. Proses perebusan
Proses perebusan ini bertujuan agar kedelai lebih lunak dan kulit kedelai mudah terlepas, serta untuk menghilangkan bau langu dari kedelai. Proses perebusan dilakukan dengan air mendidih selama kurang lebih 45 menit.
4. Proses perendaman
Proses perendaman ini berlangsung selama kurang lebih 24 jam setelah proses perebusan selesai dan didiamkan pada suhu ruangan. Air rendaman akan terlihat seperti berbuih dan sedikit kental setelah 24 jam.
5. Proses pengupasan kulit kedelai
Kedelai yang telah direbus dan direndam akan menyebabkan kulit kedelai lebih mudah untuk dilepaskan. Oleh karena itu, proses pengupasan ini dapat dilakukan dengan tangan dengan cara diremas-remas sebelum air rendaman dibuang. Mayoritas pengrajin menggunakan alat pemecah dan pengupas kulit kedelai atau dengan cara menginjakkan kaki ke atas kedelai
51
yang dimasukan ke dalam karung goni. Tujuannya sama yaitu agar kulit kedelai terlepas.
6. Proses pencucian
Proses ini dilakukan untuk membuang kulit kedelai yang sudah terlepas. Proses pencucian dan penyaringan kulit kedelai ini harus dilakukan dengan baik karena kulit kedelai yang tidak terbuang akan memengaruhi rasa dan tekstur tempe yang dihasilkan. Proses ini dilakukan dengan menggunakan ayakan dengan cara diputar-putar agar kulit kedelai yang telah terlepas tersebut, terapung sehingga mudah untuk diambil kemudian dibuang.
7. Proses peragian
Sebelum diberi ragi, kedelai yang telah dicuci dan dibuang seluruh kulitnya dilakukan penirisan terlebih dahulu agar air yang masih tersisa pada kedelai tidak mengganggu proses fermentasi, sehingga tempe yang dihasilkan berkualitas baik. Ragi yang diberikan pada proses peragian ini harus dilakukan secara merata dengan cara diaduk dengan baik.
8. Proses pembungkusan
Setelah kedelai diberi ragi secara merata kemudian dilakukan proses
pembungkusan dengan menggunakan plastik PE (polietilen) yang tebal.
Masing-masing pengrajin memiliki cara membungkus yang berbeda-beda dengan berbagai bentuk dan ukuran.
9. Proses fermentasi
Kedelai yang telah dibungkus diletakkan dengan rapi di rak untuk proses fermentasi. Proses fermentasi ini berlangsung selama kurang lebih 48 jam hingga tempe siap untuk dijual.
Perbedaan produksi tempe ini adalah pada proses pengemasan kedelai hingga menjadi tempe yang siap untuk dijual. Terdapat pengrajin yang hanya menggunakan plastik hingga tempe dijual ke konsumen dan ada juga pengrajin yang mengganti dari plastik ke daun pisang kurang lebih setelah 24 jam proses fermentasi, atau saat tempe masih setengah jadi. Perbedaan kemasan tempe tersebut tetap menghasilkan tempe dengan kualitas yang baik.
52
5.2.2.5.Output
Output usaha tempe adalah tempe itu sendiri yang telah mengalami proses pengolahan dan proses fermentasi sebelumnya serta siap dijual. Selain tempe yang menjadi sumber pendapatan utama guna memenuhi kebutuhan usaha dan keluarga, terdapat produk lain yang dapat dijual, yaitu ampas kulit kedelai. Tempe yang dihasilkan tersebut dijual secara berkeliling ke konsumen rumah tangga, pedagang sayur keliling, pedagang sayur di warung, dan pedagang gorengan yang menggunakan tempe sebagai bahan bakunya, serta dijual secara langsung ke pasar kepada para pedagang tempe di pasar, sementara ampas kulit kedelai dijual kepada para peternak sapi sebagai tambahan pakan untuk ternaknya.
Tempe yang dihasilkan dijual dalam beberapa bentuk kemasan. Kemasan- kemasan tersebut memiliki berat yang berbeda, sehingga memiliki harga jual yang berbeda, serta dijual dalam jumlah kemasan yang berbeda pula. Dengan menggunakan informasi dari hasil penelitian berupa harga, berat, dan jumlah kemasan dari masing-masing harga per kemasan untuk setiap pengrajin responden, maka dapat diketahui kilogram tempe yang dihasilkan setiap harinya, harga jual per kilogram tempe, dan produktivitas setiap satu kilogram kedelai menghasilkan sekian kilogram tempe seperti yang disajikan dalam Tabel 5.4. Rata-rata jumlah kemasan tempe dan berat tempe per kemasan secara keseluruhan disajikan dalam Tabel 5.4.
Tabel 5.4 Rata-rata berat dan jumlah kemasan tempe yang dihasilkan pada usaha tempe di Kelurahan Kedung Badak tahun 2015 (per hari)
No. Harga (Rp/Kemasan) Berat (Kg/Kemasan) Jumlah Kemasan
1. 2 000 0.222 51.05 2. 3 000 0.366 47.12 3. 4 000 0.495 43.39 4. 5 000 0.555 47.78 5. 6 000 0.646 50.34 6. 7 000 0.824 40.19 7. 8 000 0.969 41.48 8. 10 000 1.074 42.29
Sumber: Data Primer, 2015 (Diolah)
Berdasarkan Tabel 5.4, para pengrajin memberikan harga yang berbeda yang ditentukan berdasarkan takaran yang berbeda untuk setiap kemasan. Namun, setiap pengrajin tidak menjual semua kemasan dari harga Rp 2 000 sampai Rp 10 000. Para pengrajin hanya menjual beberapa jenis kemasan tertentu sesuai sasaran pasarnya. Informasi harga per kemasan, berat per kemasan, dan jumlah kemasan
53
yang dihasilkan oleh setiap pengrajin dapat dihitung setiap hari setiap pengrajin menghasilkan sekian kilogram tempe yang didapatkan dari hasil perkalian antara jumlah kemasan dengan berat per kemasan. Kemudian total produksi tempe dalam kilogram tersebut dibagi dengan total kilogram kedelai yang digunakan untuk mendapatkan produktivitas kedelai dalam menghasilkan tempe seperti yang disajikan dalam Tabel 5.5.
Tabel 5.5 Rata-rata input kedelai, produksi tempe, dan produktivitas berdasarkan keanggotaan Primkopti dan skala usaha di Kelurahan Kedung Badak tahun 2015
Uraian Anggota Non Anggota
Skala I Skala II Skala III Skala I Skala II Skala III A. Input Kedelai (Kg/Hari) 47.67 80.83 110 47 93.75 176.25 B. Produksi Tempe
(Kg/Hari) 65.87 114.45 151.52 63.30 132.67 230.37 C. Produktivitas (Kg
Tempe/Kg Kedelai) 1.39 1.41 1.38 1.35 1.42 1.31 Sumber: Data Primer, 2015 (Diolah)
Berdasarkan Tabel 5.5, besar kecilnya produksi tempe per hari dan produktivitas baik pengrajin anggota maupun pengrajin non anggota sangat ditentukan oleh penggunaan input kedelai setiap harinya, dengan asumsi penggunaan ragi yang cukup, serta proses mengolah, proses fermentasi, dan cara membungkus tempe dilakukan dengan baik. Tempe yang dihasilkan dengan kualitas baik dan siap untuk dijual harus segera dijual ke konsumen mengingat