• Tidak ada hasil yang ditemukan

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3 Analisis Perbedaan Faktor Demografi

5.3.5 Analisis Perbedaan Jenis Kelamin pegawai Sarjana dan Non

(CTI)

Setelah diketahui bahwa terdapat perbedaan nyata yang signifikan antara pegawai pria dan wanita bergelar sarjana dalam mempersepsikan hasil dari Constructive Thinking Inventory (CTI), maka selanjutnya dilakukan perhitungan lebih rinci dengan membagi jenis kelamin berdasarkan kelompok usia dan tingkat pendidikan. Dengan perhitungan ini diharapkan terdapat perbedaan persepsi antara pegawai pria dan wanita berdasarkan rentang usia dan tingkat pendidikannya.

Dari hasil uji ANOVA didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan nyata yang signifikan, yaitu : 1) antara pegawai pria dan wanita untuk tingkat pendidikan sarjana pada rentang usia 21-32 tahun, khususnya pada skala Global Costructive Thinking; 2) antara pegawai pria dan wanita untuk tingkat pendidikan sarjana pada rentang usia 45-56 tahun, khususnya pada dua sub-skala, yaitu Behavioral Coping dan Categorical Thinking; dan 3) antara pegawai pria dan wanita untuk tingkat pendidikan non sarjana pada rentang usia 33-44 tahun, khususnya pada sub-skala Naive Optimism. Hasil perhitungan disajikan pada Tabel 28-36, akan tetapi hasil perhitungan keseluruhan secara lengkap dapat dilihat pada bagian lampiran (14 -20).

84

A. Analisis Perbedaan Jenis Kelamin Pegawai Sarjana rentang Usia 21-32 terhadap Hasil Constructive Thinking Inventory (CTI)

1. Hasil Rataan Skor

Tabel 28 menunjukkan nilai rataan dan standar deviasi yang diperoleh pada perhitungan ANOVA. Hasilnya menunjukkan bahwa pada skala Global Contructive Thinking, sub skala Emotional Coping dan Naive Optimism nilai rataan cenderung ke nilai 3,5. Sementara pada sub skala Personal Superstitious Thinking, Categorical Thinking dan Esoteric Thinking memiliki rataan yang cenderung ke nilai 3 atau cenderung netral. Hasil rataan lebih besar diperoleh pada sub skala Behavioral Coping yang cenderung ke nilai 4. Perbedaan nilai rataan tersebut tetap mengarah pada kecenderungan berpikir konstruktif untuk pegawai sarjana berumur 21-32 tahun.

Pada skala Behavioral Coping diperoleh nilai yang lebih besar dari sub skala yang lain, ini menunjukkan bahwa pegawai sarjana pria dan wanita yang berusia antara 21-32 tahun lebih dominan dalam berpikiran positif, memiliki sikap antusias dan enerjik dalam mengerjakan tugas yang dibebankan dibandingan pegawai sarjana pria dan wanita pada rentang usia diatasnya. Kondisi ini akan mendorong pegawai untuk mampu mengatasi stres kerja karena selalu bertindak antusias dan memiliki energi positif dalam bekerja.

Seperti telah dibahas pada bagian demografi responden bahwa meskipun rentang usia lulusan sarjana antara 21-32 tahun, namun tidak ada responden yang berusia dibawah 24 tahun. Hal ini untuk menghindari persepsi bahwa rentang kriteria yang digunakan kurang tepat karena umumnya responden lulusan sarjana (fresh graduate) berusia rata-rata 23 tahun. Hasil rataan ini belum dapat menjelaskan bagaimana sikap pegawai sarjana pria dan wanita pada rentang usia 21 -32 tahun. Hasil rataan dan standar deviasi ANOVA disajikan pada Tabel 28 berikut:

85

Tabel 28 Rataan dan standar deviasi ANOVA berdasarkan Jenis Kelamin pegawai Sarjana rentang Usia 21-32 tahun

Keterangan: N = jumlah data; Mean = nilai rataan; Std.Dev = nilai simpangan

2. Hasil Klasifikasi Rentang Kriteria berdasarkan skala dari Constructive Thinking Inventory (CTI)

Hasil rataan pada Tabel 28 belum dapat menjelaskan bagaimana kecenderungan sikap pegawai pria dan wanita pada tingkat pendidikan sarjana dengan rentang usia 21-32 tahun dalam berpikiran konstruktif, sikap tersebut baru dapat diketahui dengan melakukan perhitungan rataan berdasarkan hasil klasifikasi rentang rentang kriteria skala global dan sub-skala dari Constructive Thinking Inventory (CTI). Hasil rataan berdasarkan Constructive Thinking Inventory (CTI) pegawai pria dan wanita sarjana dengan rentang usia 21-32 tahun disajikan pada Tabel 29.

Tabel 29. Hasil Klasifikasi Rentang Kriteria dari CTI berdasarkan Jenis Kelamin pegawai Sarjana rentang Usia 21-32 tahun.

Skala

Rentang Nilai dan Arti

Pria Sarjana (Usia 21-32 tahun)

Wanita Sarjana (Usia 21-32 tahun)

Global Constructive Thinking (GCT) 3,67 konstruktif 3,45 konstruktif

Behavioral Coping (BC) 4,14 antusias 4,07 antusias

Emotional Coping (EC) 3,54 terbuka 3,32 netral

Personal Superstitious Thinking (PST) 3,16 netral 2,67 netral

Categorical Thinking (CaT) 2,90 netral 2,77 netral

Esoteric Thinking (ET) 2,91 netral 2,81 netral

Naïve Optimism (NaO) 3,40 netral 3,40 netral

CTI = Constructive Thinking Inventory

Sub-Skala Tingkat Pendidikan Sarjana Usia(21-32) N Mean Std Deviation Std. Error Mean Global Constructive Thinking Pria Wanita 2 17 3,6725 3,4564 ,21991 ,15967 ,15550 ,03873 Behavoral Coping Pria

Wanita 2 17 4,1425 4,0798 ,10112 ,22429 ,07150 ,05440 Emotional Coping Pria

Wanita 2 17 3,5400 3,3294 ,53740 ,18949 ,38000 ,04596 Personal Superstitious Thinking Pria Wanita 2 17 3,1665 2,6765 ,94257 ,46945 ,66650 ,11386 Categorical Thinking Pria

Wanita 2 17 2,9065 2,7721 ,04455 ,19757 ,03150 ,04792 Esoteric Thinking Pria

Wanita 2 17 2,9165 2,8101 ,23547 ,20083 ,16650 ,04871

Naïve Optimism Pria

Wanita 2 17 3,4000 3,4000 ,47093 ,32914 ,33300 ,07983

86

Tabel 29 menunjukkan klasifikasi rentang nilai masing-masing skala dalam perhitungan Constructive Thinking Inventory (CTI) pegawai pria dan wanita sarjana dengan rentang usia 21-32 tahun. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pada sub skala Personal Superstitious Thinking, Categorical Thinking, Esoteric Thinking dan Naive Optimism, jawaban pegawai cenderung masuk pada rentang kriteria netral. Artinya kondisi cara berpikir konstruktif di Dinas Kesehatan Kota Bogor yang menunjukkan pikiran defensif, fleksibel, logis dan optimis dipersepsikan rata-rata oleh pegawai. Sementara secara keseluruhan pegawai pria dan wanita sarjana dengan rentang usia 21-32 tahun sudah mengarah ke cara berpikir konstruktif terutama pada sub skala Behavioral Coping yang menunjukkan minat atau antusiasme yang tinggi.

3. Hasil Perhitungan ANOVA

Tabel 30 menunjukkan hasil ANOVA bahwa terdapat perbedaan nyata yang signifikan terhadap hasil Constructive Thinking Inventory (CTI) antara pegawai pria dan wanita sarjana dengan rentang usia 21 -32 tahun, khususnya skala Global Constructive Thinking dimana didapatkan nilai p dibawah 0,1 yaitu sebesar 0,096 sehingga tolak hipotesis nol artinya baik pegawai pria dan wanita sarjana dengan rentang usia 21-32 tahun memiliki kemampuan berpikir konstruktif yang berbeda, sedangkan pada keenam sub-skala lainnya tidak ditemukan perbedaan nyata, hal tersebut dilihat dari nilai p diatas 0,1 artinya terima hipotesis nol.

Tabel 30 Hasil ANOVA untuk perbedaan Jenis Kelamin pegawai Sarjana rentang Usia 21-32 tahun Skala Hasil Hipotesis t-value ≥ 1,96 df p

Global Constructive Thinking (GCT) 1.765 17 0.096 Tolak H0

Behavioral Coping (BC) 0.383 17 0.707 Terima H0

Emotional Coping (EC) 1.250 17 0.228 Terima H0

Personal Superstitious Thinking (PST) 1.286 17 0.216 Terima H0

Categorical Thinking (CaT) 0.937 17 0.362 Terima H0

Esoteric Thinking (ET) 0.701 17 0.493 Terima H0

Naïve Optimism (NaO) 0.000 17 1.000 Terima H0

87

Jika diperhatikan pada hasil perhitungan klasifikasi rentang kriteria sebelumnya (Tabel 29), baik pegawai laki-laki dan wanita sarjana berusia 21-32 tahun masuk pada rentang kriteria berpikir konstruktif, namun memiliki nilai yang berbeda, khususnya pada Global Constructive Thinking scale dimana hasil uji statistik menunjukkan selisih nilai perbedaaan lebih besar pada pegawai pria yang sarjana dengan rentang usia 21 – 32 tahun yaitu sebesar 0,22, artinya pada usia tersebut pegawai pria sarjana memiliki cara berpikir yang lebih konstruktif daripada pegawai wanita sarjana, hal ini disebabkan pada usia tersebut pegawai pria sarjana masih memiliki semangat tinggi dalam mengejar karir masa depannya

Selain itu pemikiran konstruktif juga ditunjukkan dengan sikap optimis dan mampu menerima perbedaan pendapat dengan rekan kerja. Berbeda dengan pegawai wanita yang kadang cenderung lebih memilih teman kerja dan lebih menunjukkan sikap kurang suka apabila terjadi perbedaan pendapat dengan rekan kerja.

B. Analisis Perbedaan Jenis Kelamin pegawai Sarjana rentang Usia 45-56 terhadap Hasil Constructive Thinking Inventory (CTI)

Setelah diketahui terdapat perbedaan nyata berdasarkan jenis kelamin pada pegawai sarjana dengan rentang usia 21-32 khususnya skala Global Contructive Thinking, maka didapatkan hasil yang berbeda nyata secara signifikan pada pegawai sarjana dengan rentang usia 45-56 tahun. Namun sebelumya perlu dikaji terlebih dahulu bagaimana hasil rataan skor dan klasifikasi rentang kriteria dari pegawai tersebut.

1. Hasil Rataan Skor

Tabel 31 menunjukkan nilai rataan dan standar deviasi yang diperoleh pada perhitungan ANOVA. Hasilnya menunjukkan bahwa pada skala Global Contructive Thinking, Behavioral Coping, Emotional Coping , dan Naive Optimism memiliki nilai rataan diatas 3, sementara pada sub skala Personal Superstitious Thinking, Categorical Thinking dan Esoteric Thinking memiliki nilai rataan cenderung ke nilai 3. Hasil ini memperlihatkan bahwa pegawai laki- laki dan wanita sarjana berusia 45-56 tahun, pada sub-skala yang mengukur kemampuan dalam berpikir defensif, fleksibel dan logis lebih cenderung berada di

88

tengah-tengah atau berpikiran lebih netral. Sementara pada sikap yang menunjukkan antusiasme, keterbukan dan optimis, nilainya rata-rata lebih tinggi pada pegawai pria sarjana. Namun demikian hasil rataan ini belum dapat menjelaskan bagaimana sikap pegawai sarjana pria dan wanita pada rentang usia 45 – 56 tahun. Hasil rataan dan standar deviasi ANOVA disajikan pada Tabel 31 berikut:

Tabel 31 Rataan dan standar deviasi ANOVA berdasarkan Jenis Kelamin pegawai Sarjana rentang Usia 45-56 tahun

Keterangan: N = jumlah data; Mean = nilai rataan; Std.Dev = nilai simpangan

2. Hasil Klasifikasi Rentang Kriteria berdasarkan skala dari Constructive Thinking Inventory (CTI)

Tabel 32 menunjukkan klasifikasi rentang nilai masing-masing skala dari Constructive Thinking Inventory (CTI) pegawai pria dan wanita sarjana dengan rentang usia 45-56 tahun. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pada sub skala Emotional Coping, Personal Superstitious Thinking, Categorical Thinking dan Esoteric Thinking jawaban pegawai cenderung masuk klasifikasi rentang kriteria netral. Artinya kondisi cara berpikir konstruktif di Dinas Kesehatan Kota Bogor yang menunjukkan pikiran terbuka, defensif, kaku, dan percaya pada hal gaib dipersepsikan rata-rata oleh pegawai pria dan wanita sarjana pada rentang usia 45 – 56 tahun, akan tetapi berdasarkan hasil uji statistik selisih nilai sekecil berapapun merupakan perbedaan, selisish nilai sebesar 0,12 pada skala Global Constructive Thinking lebih tinggi pada pegawai wanita sarjana usia 45 – 56

Sub-Skala Tingkat Pendidikan Sarjana usia (45-56) N Mean Std Deviation Std. Error Mean Global Constructive Thinking Pria Wanita 92 21 3,3526 3,4745 ,21624 ,38257 ,07208 ,08348 Behavoral Coping Pria

Wanita 92 21 3,7539 3,3966 ,30746 ,20389 ,10249 ,04449 Emotional Coping Pria

Wanita 92 21 3,2400 3,3257 ,25298 ,19931 ,08433 ,04349 Personal Superstitious Thinking Pria Wanita 92 21 2,7963 2,9444 ,29777 ,51190 ,09926 ,11170 Categorical Thinking Pria

Wanita 92 21 3,0697 2,7649 ,43594 ,24914 ,14531 ,05437 Esoteric Thinking Pria

Wanita 92 21 2,8611 2,8769 ,15030 ,15728 ,05010 ,03432

Naïve Optimism Pria

Wanita 92 21 3,5780 3,5270 ,25602 ,38233 ,08534 ,08343

89

tahun, artinya pegawai wanita sarjana pada usia tersebut lebih berpikir konstruktif daripada pegawai pria sarjana. Sementara itu selisih nilai sebesar 0,36; 0,3 dan 0,05 berturut-turut pada sub-skala Behavioral Coping, Categorical Thinking dan

Naive Optimism. didapatkan hasil lebih tinggi pada pegawai pria sarjana, artinya pegawai pria sarjana tersebut lebih bersikap antusias, fleksibel dan optimis daripada pegawai wanita sarjana pada usia tersebut. Sedangkan pada sub-skala Emosional Coping, Personal Superstitious Thinking dan Esoteric Thinking berturut didapatkan selisih perbedaan nilai masing-masing sebesar 0,08; 0,15 dan 0,01 lebih tinggi pada pegawai wanita sarjana usia 45 – 56 tahun, artinya pegawai wanita sarjana lebih bersikap terbuka, ofensif dan berpikir logis dibandingkan pegawai pria sarjana pada usia tersebut.

Tabel 32 Hasil Klasifikasi Rentang Kriteria dari CTI pegawai pria dan wanita Sarjana rentang Usia 45-56 tahun

Skala

Rentang Nilai dan Arti

Pria Sarjana (Usia 45-56) tahun

Wanita (Usia 45-56) tahun

Global Constructive Thinking (GCT) 3,35 netral 3,47 konstruktif

Behavioral Coping (BC) 3,75 antusias 3,39 netral

Emotional Coping (EC) 3,24 netral 3,32 netral

Personal Superstitious Thinking (PST) 2,79 netral 2,94 netral

Categorical Thinking (CaT) 3,06 netral 2,76 netral

Esoteric Thinking (ET) 2,86 netral 2,87 netral

Naïve Optimism (NaO) 3,57 optimis

unrealistis 3,52

optimis unrealis

3. Hasil Perhitungan ANOVA

Tabel 33 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata yang signifikan mengenai hasil pengukuran dari Constructive Thinking Inventory (CTI) pada pegawai laki-laki dan wanita bergelar sarjana dengan rentang usia 45-56 tahun khususnya pada sub-skala Behavioral Coping dan Categorical Thinking. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pegawai sarjana pada rentang usia 45-56 masih menunjukkan sikap berpikiran positif, antusias, enerjik dan cepat mengambil tindakan terhadap rencana yang telah dibuat (sub-skala Behavioral Coping), sedangkan sub-skala Categorical Thinking menunjukkan cara berpikiran yang terpola dan bersikap fleksibel, hasil ini dapat dilihat pada hasil klasifikasi

90

rentang kriteria sehingga kondisi tersebut dapat menekan tingkat emosi yang berlebihan yang dapat memicu timbulnya stres kerja.

Pada sub-skala Behavioral Coping dan Categorical Thinking, hasil rataan skor masuk pada klasifikasi rentang kriteria secara keseluruhan bersikap netral, akan tetapi hasil uji statistik menunjukkan bahwa selisih perbedaan sekecil apapun tetap merupakan perbedaan, sehingga hasil nilai sesungguhnya pada kedua sub- skala yaitu selisih nilai sebesar 0, 36 dan 0,3 tersebut menunjukkan bahwa pegawai pria sarjana pada usia 45 – 56 tahun lebih bersikap antusias dan fleksibel daripada pegawai wanita sarjana pada rentang usia Kenyataan ini dapat mengurangi penyebab stres kerja. Individu yang berpikiran terlalu antusias dan fleksibel dapat mengontrol emosinya sehingga dapat menekan masalah pekerjaan yang dapat memicu timbulnya stres.

Hasil penelitain ini bertolak belakang dengan hasil penelitian sebelumnya, dimana Reddy dan Ramamurthy (1991) yang menganalisis pengaruh usia pada pengalaman stres seseorang menyatakan bahwa kelompok usia 41-60 tahun mengalami stres lebih tinggi dari kelompok usia dibawahnya. Sementara hasil penelitian ini menujukkan bahwa pegawai pada rentang usia 45 -56 masih bersikap antusias dan fleksibel, sehingga dapat menekan tingkat stres.

Sementara itu pada skala global dan empat sub-skala lain (Emotional Coping, Personal Superstitious Thinking, Esoteric Thinking dan NaiveOptimism), tidak terdapat perbedaan nyata pada pegawai pria dan wanita sarjana dengan rentang usia 45 -56 tahun dalam penanggulangan stres kerja, artinya baik pegawai pria dan wanita sarjana keduanya memiliki cara yang sama. Hasil rataan skor memperlihatkan bahwa pegawai pria maupun wanita berada pada rentang kriteria yang menunjukkan hasil rata-rata lebih pada klasifikasi rentang kriteria netral. Hasil ANOVA disajikan pada Tabel 33.

91

Tabel 33 Hasil ANOVA perbedaan Jenis Kelamin pegawai Sarjana rentang Usia 45-56 tahun Skala Hasil Hipotesis t-value ≥ 1,96 df p

Global Constructive Thinking (GCT) -1.089 28 0.285 Terima H0

Behavioral Coping (BC) -2.558 28 0.016 Tolak H0

Emotional Coping (EC) -0.996 28 0.328 Terima H0

Personal Superstitious Thinking (PST) -0.806 28 0.427 Terima H0

Categorical Thinking (CaT) 2.436 28 0.021 Tolak H0

Esoteric Thinking (ET) -0.256 28 0.800 Terima H0

Naïve Optimism (NaO) 0.365 28 0.718 Terima H0

Keterangan: t-value = nilai uji-t; df = derajat kebebasan; p = nilai kemungkinan

C. Analisis Perbedaan Jenis Kelamin Pegawai Non Sarjana rentang usia 33-44 terhadap Hasil Constructive Thinking Inventory (CTI)

Setelah diketahui terdapat perbedaan nyata berdasarkan jenis kelamin pada pegawai sarjana dengan rentang usia 21-32 dan 45-56 tahun, maka didapatkan perbedaan nyata yang signifikan pada pegawai non sarjana dengan rentang usia 33-44, khususnya pada sub-skala Naive Optimism. Berikut dijabarkan analisa hasilnya dimulai dengan hasil rataan skor, klasifikasi rentang kriteria hasil uji ANOVA.

1. Hasil Rataan Skor

Tabel 34 menunjukkan nilai rataan dan standar deviasi yang diperoleh pada perhitungan ANOVA. Pada skala global Global Contructive Thinking, sub skala Behavioral Coping, Emotional Coping dan Naive Optimism, nilai rataan berada diatas nilai 3 yang menjadi pedoman nilai netral. Sementara untuk sub skala Personal Superstitious Thinking, Categorical Thinking dan Esoteric Thinking cenderung mengarah ke nilai 3.

Dengan hasil tersebut maka pegawai laki-laki dan wanita non sarjana berusia 33-44 tahun cenderung berpikir lebih netral pada pengukuran yang menyangkut sikap defensif, cara berpikir yang terpola atau sikap ketidakpercayaan pada orang lain dan cara berpikir logis. Nilai tertinggi diperoleh pada sub skala Behavioral Coping yang menunjukkan bahwa pegawai laki-laki dan wanita non sarjana berusia 33-44 tahun cenderung dapat berpikir positif dan terbuka sehingga cepat mengambil tindakan terhadap rencana yang dibuat. Akan

92

tetapi hasil rataan tersebut belum dapat menjelaskan bagaimana sikap pegawai non sarjana pria dan wanita pada rentang usia 33 – 44 tahun. Hasil rataan dan standar deviasi ANOVA disajikan pada Tabel 34.

Tabel 34 Rataan dan standar deviasi ANOVA berdasarkan Jenis Kelamin pegawai Non Sarjana rentang usia 33-44 tahun

Keterangan: N = jumlah data; Mean = nilai rataan; Std.Dev = nilai simpangan

2. Hasil Klasifikasi Rentang Kriteria berdasarkan skala dari Constructive Thinking Inventory (CTI)

Tabel 35 menunjukkan klasifikasi rentang nilai masing-masing skala dari Constructive Thinking Inventory (CTI) pegawai pria dan wanita non sarjana dengan rentang usia 33 – 44 tahun. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pada sub skala Emotional Coping, Personal Superstitious Thinking, Categorical Thinking, dan Esoteric Thinking jawaban pegawai cenderung masuk klasifikasi rentang kriteria netral. Artinya kondisi cara berpikir konstruktif di Dinas Kesehatan Kota Bogor yang menunjukkan pikiran terbuka, ofensif, fleksibel, dan berpikir logis dipersepsikan rata-rata oleh pegawai pria dan wanita non sarjana pada rentang usia 33 – 44 tahun, akan tetapi berdasarkan hasil uji statistik selisih nilai sekecil berapapun merupakan perbedaan, selisih nilai sebesar 0,11; 0,11; dan 0, 02 masing-masing pada sub-skala Emotional Coping, Personal Superstitious Thinking, dan Esoteric Thinking menunjukkan selisih nilai pada pegawai wanita non sarjana, hal ini mengindikasikan bahwa pegawai wanita non sarjana lebih memiliki sikap terbuka, ofensif dan berpikir logis dibandingkan pegawai pria non

Sub-Skala Tingkat Pendidikan Non Sarjana N Mean Std Deviation Std. Error Mean Global Constructive Thinking Pria Wanita 18 56 3,4234 3,4616 ,13000 ,19701 ,03064 ,02633 Behavoral Coping Pria

Wanita 18 56 3,9246 3,9605 ,19824 ,31825 ,04673 ,04253 Emotional Coping Pria

Wanita 18 56 3,3156 3,4257 ,25846 ,24138 ,06092 ,03226 Personal Superstitious Thinking Pria Wanita 18 56 2,8241 2,9315 ,31557 ,37575 ,07438 ,05021 Categorical Thinking Pria

Wanita 18 56 2,9167 2,8750 ,33349 ,29242 ,07860 ,03908 Esoteric Thinking Pria

Wanita 18 56 2,9167 2,9315 ,19386 ,24777 ,04569. ,03311

Naïve Optimism Pria

Wanita 18 56 3,5074 3,6702 ,26973 ,31229 ,06358 ,04173

93

sarjana pada usia tersebut, pada sub-skala Categorical Thinking didapat selisih nilai sebesar 0,04 lebih tinggi pada pegawai pria non sarjana, artinya pegawai pria non sarjana memiliki sikap lebih fleksibel daripada pegawai wanita non sarjana pada usia tersebut. Sementara itu sub-skala Behavioral Coping dan Naive Optimism masing-masing memiliki selisih nilai sebesar 0,04 dan 0.17 lebih tinggi pada pegawai wanita non sarjana usia 33 – 44 tahun, hal ini mengindikasikan bahwa pegawai wanita non sarjana lebih dapat bersikap antusias dan optimis dari pada pegawai pria non sarjana dalam melakukan pekerjaan dan menyelesaikan masalah yang dihadapi. Sedangkan skala Global Constructive Thinking lebih tinggi pada pegawai wanita non sarjana usia 33 – 44 dengan selisih nilai statistik sebesar 0,04 tahun, artinya pegawai wanita non sarjana pada usia tersebut lebih berpikir konstruktif daripada pegawai pria non sarjana

Sikap tersebut akan membantu pegawai untuk mengatasi stres kerja, terutama dengan kecenderungan pekerjaan yang monoton, perlu dijaga sikap antusiasme terhadap pekerjaan. Apalagi di Dinas Kesehatan Kota Bogor, pekerjaan yang dilakukan cenderung bertemu dengan banyak pasien, maka sangat perlu untuk menjaga tingkat optimis agar pegawai terus mampu melayani pasien dengan baik. Hasil pengukuran yang menunjukkan bahwa sikap optimis itu telah tinggi akan sangat membantu pihak manajemen untuk memikirkan cara terbaik untuk terus mempertahankan kondisi tersebut sehingga kinerja pelayanan dapat terjaga dengan baik.

Tabel 35 Hasil Klasifikasi Rentang Kriteria dari CTI pegawai pria dan wanita Non Sarjana rentang Usia 33-44 tahun

Skala Rentang Nilai dan Arti

Pria Wanita

Global Constructive Thinking (GCT) 3,42 konstruktif 3,46 konstruktif

Behavioral Coping (BC) 3,92 antusias 3,96 antusias

Emotional Coping (EC) 3,31 netral 3,42 terbuka

Personal Superstitious Thinking (PST) 2,82 netral 2,93 netral

Categorical Thinking (CaT) 2,91 netral 2,87 netral

Esoteric Thinking (ET) 2,91 netral 2,93 netral

Naïve Optimism (NaO) 3,50 optimis

unrealistis 3,67

optimis unrealistis

94

3. Hasil Perhitungan ANOVA

Tabel 36 menunjukkan hasil ANOVA dimana terdapat perbedaan nyata yang signifikan terhadap hasil Constructive Thinking Inventory (CTI) antara pegawai pria dan wanita bergelar non sarjana dengan rentang usia 33-44 tahun, khususnya skala Naive Optimism dimana didapatkan nilai p dibawah 0,1 yaitu sebesar 0,051 sehingga tolak hipotesis nol. Hasil ini mengandung arti bahwa pegawai pria dan wanita bergelar non sarjana dengan rentang usia 33-44 tahun memiliki perbedaan pandangan tentang cara mereka menghadapi suatu permasalahan. Nilai yang lebih tinggi diperoleh oleh pegawai wanita (Tabel 35) yang menunjukkan bahwa wanita non sarjana dengan rentang usia 33-44 tahun cenderung lebih berpikir optimis namun mengarah ke hal yang tidak realistis. Tabel 36 Hasil ANOVA perbedaan Jenis Kelamin pada pegawai Non Sarjana

dengan rentang Usia 33-44 tahun

Skala

Hasil

Hipotesis t-value

≥ 1,96 df p

Global Constructive Thinking (GCT) -0.774 72 0.442 Terima H0

Behavioral Coping (BC) -0.450 72 0.654 Terima H0

Emotional Coping (EC) -1.656 72 0.102 Terima H0

Personal Superstitious Thinking (PST) -1.094 72 0.277 Terima H0

Categorical Thinking (CaT) 0.508 72 0.613 Terima H0

Esoteric Thinking (ET) -0.233 72 0.817 Terima H0

Naïve Optimism (NaO) -1.985 72 0.051 Tolak H0

Keterangan: t-value = nilai uji-t; df = derajat kebebasan; p = nilai kemungkinan

Dari sisi positif, pegawai wanita tersebut akan cenderung memiliki semangat tinggi dan disukai banyak orang, namun sisi negatifnya adalah ketidak- inginan pegawai tersebut untuk menghadapi kegagalan atau kenyataan yang tidak menyenangkan. Pada rentang usia tersebut wanita memang cenderung lebih berpikir optimis terutama dalam menghadapi permasalahan hidup, namun juga sering tidak realistis. Sikap tersebut dikarenakan wanita cenderung lebih mengutamakan menggunakan perasaan dibandingkan pria yang lebih mengutamakan akal sehat. Pemikiran wanita lebih cenderung dikuasai hati dan perasaan, hal ini yang menyebabkan seringkali tidak realistis. Selain itu akan berefek negatif jika wanita berselisih pendapat terutama dengan rekan sekerja yang menyebabkannya cenderung tidak tahan menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan sehingga berpotensi timbulnya stres kerja. Hasil tersebut jika

95

terjadi sisi positif akan bertolak belakang dengan penelitian Beena dan Poduval, (1992) sedangkan jika terjadi sisi negatif hasil tersebut didukung oleh hasil penelitian Beena dan Poduval (1992) yang mengatakan bahwa wanita akan mengalami stres yang lebih tinggi daripada pria dikarena perubahan pekerjaan dan tanggung jawab yang lebih besar.

Perbedaan hasil yang diperoleh melalui pengukuran rentang nilai dan ANOVA disebabkan perbedaan dalam pengukuran statistik. Pada rentang nilai dimaksudkan untuk melihat kecenderungan responden dalam berpikir konstruktif sehingga dapat diketahui responden masuk pada klasifikasi rentang kriteria seperti apa. Namun jika responden masuk pada rentang nilai yang sama tidak berarti memiliki kecenderungan yang sama dalam berpikir, perbedaan nilai sedikit saja dapat mempengaruhi hasil perhitungan ANOVA, karena secara statistik, perbedaan nilai sekecil apapun dapat berakibat perbedaan hasil yang diperoleh.