• Tidak ada hasil yang ditemukan

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3 Analisis Perbedaan Faktor Demografi

5.3.3 Analisis Perbedaan Tingkat Pendidikan terhadap Hasil

Mirowsky dan Ross (1989) mengungkapkan bahwa pegawai yang memperoleh pendidikan lebih tingi cenderung memperoleh kemampuan lebih baik dalam mengontrol emosi. Kemampuan ini dapat membantu pegawai dalam mengatasi stres yang dialami di tempat kerja. Ketika mendapatkan permasalahan di tempat kerja, pegawai dengan tingkat pendidikan lebih tinggi lebih mampu dalam mencari solusi permasalahan. Berdasarkan hal itu maka perlu dilakukan analisis mengenai apakah terdapat perbedaan dalam menganggulangi stres berdasakan tingkat pendidikan di Dinas Kesehatan Kota Bogor khususnya bagi pegawai bergelar sarjana dan non-sarjana.

A. Hasil Rataan Skor

Tabel 23 menunjukkan nilai rataan dan standar deviasi untuk seluruh sub- skala pengukuran, terlihat bahwa pada sub-skala Personal Superstitious Thinking dan Naïve Optimism terdapat perbedaan nilai rataan antara pegawai bergelar sarjana dan non-sarjana. Pada sub-skala Personal Superstitious Thinking, nilai rataan pengukuran sarjana 2,97 sedangkan non-sarjana 3,13, terdapat perbedaan nilai sebesar 0,14. Perbedaan nilai tersebut diduga dapat menyebabkan perbedaan pada hasil ANOVA. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh sub-skala NaO, nilai pengukuran sarjana 3,56 sedangkan non-sarjana 3,67 terdapat perbedaan nilai rataan sebesar 0,11. Sementara pada sub-skala lain, perbedaan nilai hanya berkisar antara 0,02 – 0,09.

Hasil rataan skor yang ditunjukkan pada Tabel 23, menunjukkan jawaban yang mengarah ke nilai 4 untuk skala Behavioral Coping, Emotional Coping dan Naïve Optimism, sementara sub-skala Personal Superstitious Thinking, Categorical Thinking dan Esoteric Thinking, mengarah ke nilai 3. Kecenderungan ini sangat beralasan karena pada sub-skala Personal Superstitious Thinking, Categorical Thinking dan Esoteric Thinking, terdiri dari pernyataan-pernyaaan

74

yang cenderung negatif, sehingga jawaban pegawai lebih mengarah pada penolakan atau skala pengukuran yang lebih kecil. Namun demikian hasil tersebut harus dikonfirmasi melalui hasil rataan skor berdasarkan penggolongan sikap dalam Constructive Thinking Inventory, sehingga diperoleh kecenderungan sikap pegawai yang lebih akurat.

Tabel 23 Rataan dan standar deviasi ANOVA berdasarkan Tingkat Pendidikan

Keterangan: N = jumlah data; Mean = nilai rataan; Std Deviation = nilai simpangan; Std. Error Mean = galat rataan

B. Hasil Klasifikasi Rentang Kriteria dari Constructive Thinking Inventory

(CTI)

Tabel 24 menunjukkan hasil klasifikasi rentang kriteria skala dari Constructive Thinking Inventory untuk skala global dan 6 (enam) sub-skala berdasarkan perbedaan tingkat pendidikan. Pada skala Global Constructive Thinking, pegawai lulusan sarjana dan non-sarjana memiliki rataan nilai yang sama dan masuk pada klasifikasi rentang kriteria konstruktif. Artinya pegawai dengan gelar sarjana maupun non sarjana di Dinas Kesehatan Kota Bogor telah mampu berpikiran konstruktif.

Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan nilai 0,02 lebih besar pada pegawai non sarjana, hal ini dapat dikategorikan bahwa pegawai non sarjana lebih berpikiran konstruktif daripada pegawai sarjana. Artinya pegawai non sarjana cenderung mampu mengendalikan emosi dengan baik dan dapat menghindari stres kerja. Kondisi ini sangat penting terutama dalam mengatasi stres yang terjadi di tempat kerja.

Sub-Skala Tingkat Pendidikan

N Mean Std.Dev Std. Error

Mean Global Constructive Thinking Sarjana Non Sarjana 92 181 3,4314 3,4542 ,19240 ,18704 ,02006 ,01390 Behavoral Coping Sarjana

Non Sarjana 92 181 3,9782 3,9550 ,31382 ,30084 ,03272 ,02236 Emotional Coping Sarjana

Non Sarjana 92 181 3,4230 3,4661 ,35393 ,32295 ,03690 ,02400 Personal Superstitious Thinking Sarjana Non Sarjana 92 181 2,9760 3,1348 ,51968 ,52619 ,05418 ,03911 Categorical Thinking Sarjana

Non Sarjana 92 181 2,9387 2,9855 ,46687 ,47575 ,04867 ,03536 Esoteric Thinking Sarjana

Non Sarjana 92 181 3,0645 2,9719 ,55893 ,48930 ,05827 ,03637 Naïve Optimism Sarjana

Non Sarjana 92 181 3,5653 3,6751 ,36061 ,37390 ,03760 ,02779

75

Berdasarkan sub-skala Behavioral Coping, diperoleh nilai 3,98 untuk pegawai bergelar sarjana dan 3,95 untuk non sarjana. Keduanya sama-sama menunjukkan klasifikasi rentang kriteria bersikap antusias, namun hasil uji statistis menunjukkan selisih nilai 0,03 lebih pegawai sarjana. Hal ini menunjukkan bahwa pegawai sarjana memiliki sikap antusias lebih baik daripada pegawai non sarjana. Sikap ini diperlukan terutama untuk tetap menjaga semangat dalam bekerja, rasa antusias terhadap pekerjaan diperlukan agar pegawai tidak cepat bosan dan tertekan dalam mengerjakan tugas yang diberikan. Kebosanan dan perasaan tertekan dapat memicu timbulnya stres di tempat kerja. Sikap antusiasme yang tinggi akan membantu pegawai terhindar dari stres kerja.

Tabel 24 Hasil Klasifikasi Rentang Kriteria dari CTI berdasarkan Tingkat Pendidikan

Skala Rentang Nilai dan Arti

Sarjana Non Sarjana

Global Constructive Thinking (GCT) 3,43 konstruktif 3,45 konstruktif

Behavioral Coping (BC) 3,98 antusias 3,95 antusias

Emotional Coping (EC) 3,42 terbuka 3,47 terbuka

Personal Superstitious Thinking (PST) 2,98 netral 3,13 netral

Categorical Thinking (CaT) 2,93 netral 2,98 netral

Esoteric Thinking (ET) 3,06 netral 2,97 netral

Naïve Optimism (NaO) 3,56 optimis

unrealistis 3,67

optimis unrealistis

Untuk sub-skala Emotional Coping, baik pegawai bergelar sarjana maupun non-sarjana masuk pada klasifikasi rentang kriteria berpikir terbuka, artinya keduanya tidak mudah tersinggung apabila menghadapi penolakan atau kritikan. Akan tetapi hasil uji statistik menunjukkan selisih perbedaan nilai sebesar 0,05, lebih tinggi pada pegawai non sarjana, hal ini mengindikasikan bahwa pegawai non sarjana lebih bersikap terbuka daripada pegawai sarjana. Pegawai non sarjana lebih terbuka dalam menerima masukan dan kritikan terkaiat kemajuan dalam pekerjaannya. Dengan memiliki sikap seperti ini maka pegawai tersebut mampu mengaplikasikan salah satu strategi penanggulangan stres kerja dengan baik.

Pada sub-skala Personal Superstitious Thinking, pegawai sarjana maupun non sarjana sama-sama masuk pada klasifikasi rentang kriteria bersikap netral. Sikap ini menunjukkan sikap kurang pro-aktif memecahkan suatu permasalahan di tempat kerja dan cenderung menunggu atau bahkan lepas tangan terhadap

76

beban pekerjaan yang diterima. Pada kenyataannya, hasil uji statistik menunjukkan nilai yang berbeda dengan selisih sebesar 0,15 lebih tinggi pada pegawai non sarjana. Hal ini menunjukkan bahwa pegawai non sarjana lebih menerima permasalahan sebagai tantangan demi kemajuan pekerjaannya dibandingkan dengan pegawai sarjana.

Rataan nilai 2,93 dan 2,98 untuk pegawai bergelar sarjana dan non sarjana diperoleh melalui pengukuran terhadap sub-skala Categorical Thinking. Sub-skala tersebut mengukur sejauh mana pegawai mampu menghadapi suatu permasalahan dan hasilnya menunjukkan bahwa keduanya masuk dalam klasifikasi rentang kriteria berpikiran netral atau kurang fleksibel tetapi tidak terlalu kaku. Kaku dalam arti kurang mampu berpikir di luar konteks untuk menemukan suatu solusi permasalahan. Keduannya cenderung melakukan pendekatan permasalahan dengan cara yang sama dan kurang improvisasi. Akan tetapi hasil uji statistis menunjukkan perbedaan nilai lebih tinggi pada pegawai non sarjana yaitu sebesar 0,05, hal ini menunjukkan bahwa pegawai non sarjana lebih bersikap fleksibel daripada pegawai sarjana.

Pada sub-skala Esoteric Thinking, seluruh pegawai yang bergelar sarjana maupun non-sarjana memiliki nilai rataan 3,06 dan 2,97. Nilai ini digolongkan pada klasifikasi rentang kriteria netral. Artinya keduanya sangat percaya akan sesuatu yang dapat dijelaskan dengan akal sehat walaupun juga kadang percaya hal-hal gaib. Sikap percaya akan kemampuan yang dimiliki akan membuat pegawai lebih semangat dalam menghadapi pekerjaan dan tidak menghalalkan segala cara untuk memperoleh sesuatu. Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan nilai uji lebih tinggi pada pegawai sarjana, yaitu selisih sebesar 0,09. Hal ini menunjukkan bahwa pegawai yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi lebih dapat berpikir logis sehingga tidak percaya akan hal-hal diluar kewajaran dibandingkan pegawai non sarjana.

Sub-skala Naïve Optimism berhubungan dengan tingkatan optimisme pegawai dalam mengerjakan sesuatu. Pegawai bergelar sarjana dan non-sarjana sama-sama memiliki klasifikasi rentang kriteria kecenderungan bersikap optimis unrealistis, yaitu nilai sebesar 3,56 pada pegawai sarjana dan 3,67 pada pegawai non sarjana. Kecenderungan sikap ini dimungkinkan jika pegawai terpaksa

77

menerima suatu pekerjaan yang di luar kemampuannya namun tetap bersemangat untuk menyelesaikannya, akibatnya jika pekerjaan tidak selesai cenderung mencari penyelesaian dengan cara-cara yang tidak realistis, sehingga jika hasil kerja tidak sesuai yang diharapkan dapat memicu timbulnya stres kerja. Hasil uji statistik menunjukkan nilai uji lebih besar pada pegawai non sarjana dengan selisih perbedaan nilai sebesar 0,11. Artinya pegawai non sarjana lebih dapat bersikap optimis realistis dibandingkan pegawai sarjana.

C. Hasil Perhitungan ANOVA

Tabel 25 menunjukkan bahwa pada skala global (Global Constructive Thinking) dan 4 (empat) sub-skala (Behavioral Coping, Emotional Coping, Categorical Thinking dan Esoteric Thinking) nilai probabilitas (p) berada diatas 0,1 yang berarti terima hipotesis nol atau tidak terdapat perbedaan nyata yang signifikan pada tingkat pendidikan terhadap skala Global Constructive Thinking dan 4 (empat) sub-skala Behavioral Coping, Emotional Coping, Categorical Thinking dan Esoteric Thinking dalam strategi menanggulangi stres kerja pada pegawai Dinas Kesehatan Kota Bogor. Nilai mutlak t-value untuk skala-skala tersebut juga berada dibawah 1,96 yang merupakan batas atas tingkat signifikansi 90%, sehingga masuk pada kriteria terima hipotesis nol.

Berbeda dengan hasil perhitungan ANOVA terhadap skala global dan 4 (empat) sub-skala diatas, maka didapatkan dua sub-skala yang memperoleh nilai p dibawah 0,1, yaitu Personal Superstitious Thinking dan Naïve Optimism dengan nilai masing-masing 0,019 dan 0,021, serta memiliki nilai mutlak t-value berada diatas 1,96. Hasil ini masuk dalam kriteria tolak hipotesis nol. Dengan nilai tersebut artinya terdapat perbedaan nyata yang signifikan dalam menanggulangi stres berdasarkan tingkat pendidikan pada pernyataan yang menunjukkan sikap defensif Personal Superstitious Thinking (PST) dan pernyataan optimisme Naïve Optimism (NaO), sebagaimana dapat dilihat hasilnya pada Tabel 25.

78

Tabel 25 Hasil ANOVA untuk perbedaan Tingkat Pendidikan

Skala

Hasil

Hipotesis

t-value

≥ 1,96 df p

Global Constructive Thinking (GCT) -0.942 271 0.347 Terima H0

Behavioral Coping (BC) 0.593 271 0.554 Terima H0

Emotional Coping (EC) -1.007 271 0.315 Terima H0

Personal Superstitious Thinking (PST) -2.367 271 0.019 Tolak H0

Categorical Thinking (CaT) -0.773 271 0.440 Terima H0

Esoteric Thinking (ET) 1.407 271 0.160 Terima H0

Naïve Optimism (NaO) -2.320 271 0.021 Tolak H0

Keterangan: t-value = nilai uji-t; df = derajat kebebasan; p = nilai kemungkinan

Hasil perhitungan pada skala Global Constructive Thinking dan 4 (empat) sub-skala diatas menunjukkan bahwa perbedaan tingkat pendidikan tidak ada kaitannya dengan sikap pegawai dalam berpikir konstruktif. Setiap pegawai dari berbagai jenjang pendidikan memiliki kemampuan yang sama dalam menerima perbedaan di tempat kerja dan sanggup mengontrol emosi saat menghadapi suatu permasalahan. Sifat-sifat tersebut tidak meningkat seiring dengan naiknya tingkat pendidikan yang dimiliki pegawai.

Hasil analisis ANOVA pada empat sub-skala juga tidak menunjukkan perbedaan berdasarkan tingkat pendidikan. Sub skala tersebut adalah sikap antusias dan enerjik (Behavioral Coping), tidak mudah tersinggung atau tidak sensitif (Emotional Coping), bersikap kaku atau fleksibel (Categorical Thinking) dan kemampuan berpikir logis (Esoteric Thinking). Hal ini membuktikan bahwa berdasarkan kriteria-kriteria tersebut, pegawai sarjana maupun non-sarjana tidak memiliki perbedaan dalam cara berpikirnya.

Pada sub-skala Behavioral Coping, hasil signifikan yang diperoleh yaitu nilai p sebesar 0,554 menunjukkan bahwa sikap antusias dan enerjik dalam menghadapi tantangan tidak berkembang sejalan dengan semakin tingginya tingkat pendidikan. Pegawai bergelar sarjana maupun non-sarjana dapat memiliki sikap optimis, antusias dan enerjik dalam rangka menanggulangi stres kerja.

Sama halnya dengan perhitungan pada sub-skala Categorical Thinking dan Esoteric Thinking dengan nilai probabilitas masing-masing sebesar 0,44 dan 0,16 menunjukkan bahwa perbedaan tingkat pendidikan tidak memiliki kaitan dengan sikap tidak percaya, tidak toleran (kaku) dan kecenderungan mempercayai

79

fenomena yang tidak logis dari setiap pegawai. Perbedaan tingkat pendidikan tidak menjadi halangan bagi setiap pegawai Dinas Kesehatan Kota Bogor untuk mengembangkan sikap dalam menanggulangi stres di tempat kerja.

Pada sub-skala Emotional Coping, hasil ini menunjukkan bahwa pegawai yang bergelar sarjana maupun non-sarjana memiliki kemampuan yang tidak berbeda terhadap cara mereka dalam beradaptasi menghadapi stres kerja. Hal ini tidak sejalan dengan pernyataan Mone (2000) yang mengungkapkan bahwa pendidikan formal memberikan bekal yang berguna bagi pegawai agar mampu berkompetisi di dunia pekerjaan dengan baik. Pekerja yang memiliki kompetensi lebih tinggi akan cepat beradaptasi dengan pekerjaan sehingga terhindar dari stres di tempat kerja.

Berlatarbelakang dari pernyataan Mone (2000) tersebut, pernyataan tolak H0 pada kategori Personal Superstitious Thinking mengindikasikan cara pandang yang berbeda antara pegawai bergelar sarjana dan non-sarjana terhadap kecenderungan pikiran yang negatif. Sebagai contoh pernyataan kecenderungan pegawai untuk bertindak defensif dalam melihat sebuah permasalahan dibandingkan melihatnya sebagai sebuah tantangan. Bagi pegawai yang memperoleh pendidikan sarjana, kemampuan manajerial menjadi salah satu pokok bahan pengajaran, sehingga lulusan bergelar sarjana lebih mampu menghadapi permasalahan di tempat kerja dengan baik dan cenderung melihatnya sebagai sebuah tantangan yang harus diselesaikan. Sementara pegawai lulusan D2, D3 atau bahkan SLTA yang memiliki kemampuan lebih baik dalam menyelesaikan tugas administratif cenderung bersifat defensif dalam melihat sebuah permasalahan.

Berdasarkan hasil rataan dari uji statistik dalam penelitian ini didapatkan perbedaan nilai lebih besar pada pegawai non sarjana, hal ini mengindikasikan bahwa pegawai non sarjana lebih bersikap ofensif dibandingkan dengan pegawai sarjana, karena merasa memiliki latar belakang pendidikan yang belum maksimal sehingga pegawai non sarjana lebih bersikap ofensif terhadap masukan dan permasalahan yang ada dan dijadikannya sebagai sebuah tantangan yang harus dikejarnya demi kemajuan dalam pekerjaannya. Sementara pada pegawai sarjana, karena merasa sudah memiliki latar belakang pendidikan yang lebih baik, maka

80

setiap kali ada permasalahan atau perubahan dalam pekerjaannya dianggap sebuah ancaman yang akan merubah kondisi yang sudah dianggapnya baik.

Dari hasil uji diatas dapat disimpulkan bahwa tidak selalu tepat apabila dikatakan bahwa pegawai yang berlatar belakang sarjana dapat menghasilkan pemikiran yang positif dan bersikap lebih baik daripada pegawai yang berlatar belakang non sarjana.

Sub-skala pengukuran lain yang menunjukkan perbedaan nyata yang signifikan adalah Naïve Optimism, dimana sub-skala pengukuran ini mengindikasikan tingkatan dimana pegawai berpikir optimis yang tidak realistis. Pernyataan tolak H0 pada kategori ini menunjukkan ada perbedaan dalam cara menghadapi stres antara pegawai bergelar sarjana dan non-sarjana khususnya dalam berpikir optimis menghadapi suatu permasalahan. Sejalan dengan penjelasan pada kategori Personal Superstitious Thinking, maka cara pandang pegawai bergelar sarjana dalam menghadapi masalah sebagai sebuah ancaman sering membuat pegawai yang bersangkutan merasa optimis yang berlebihan dan cenderung tidak realistis. Sisi baiknya, pegawai tersebut akan cenderung memiliki semangat tinggi dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan, sedangkan sisi buruknya akan lebih mudah stres ketika menghadapi kegagalan atau kenyataan yang tidak menyenangkan. Sementara pegawai bergelar non-sarjana tidak mudah stres karena memang permasalahan yang ada dijadikan tantangan demi kemajuan pekerjaannya sehingga terhindar dari kemungkinan kegagalan yang menjadi penyebab stres.

Perbedaan hasil pengukuran ANOVA untuk sub skala Personal Superstitious Thinking dan Naïve Optimism dengan hasil rataan skor pada klasifikasi rentang kriteria cukup beralasan. Perbedaan tersebut disebabkan karena faktor pengukuran dalam metode statistika sangat memperhitungkan perbedaan nilai sekecil apapun. Dengan perhitungan rataan yang berbeda maka hasil perhitungan ANOVA menunjukkan perbedaan juga. Jadi meskipun masuk pada rentang kriteria yang sama, tetap memiliki perbedaan berdasarkan perhitungan uji statistik ANOVA.

81

5.3.4 Analisis Perbedaan Jenis Kelamin Pegawai Sarjana dan Non Sarjana