3 METODOLOGI
3.7 Teknik Pengolahan dan Analisis Data
3.7.3 Metode Rataan Skor
Metode rataan skor menurut Umar (2001) digunakan untuk mengetahui persepsi masing-masing tipe responden terhadap pernyataan-pernyataan yang diberikan dalam kuesioner. Yang dimaksud dengan persepsi adalah merupakan proses kognitif terhadap rangsangan atau stimuli yang diterima dari organisasi atau lingkungannya, dievaluasi dan ditafsirkan realitasnya, sehingga menghasilkan suatu reaksi atau sikap dan dari sikap atau reaksi tersebut mempengaruhi rangsangan atau stimuli yang diterimanya kembali. Selanjutnya hasil dari rataan skor tersebut diterjemahkan kedalam rentang kriteria pada masing-masing faktor/variabel yang diamati.
Perhitungan dari rataan skor hingga pada menerjemahkan klasifikasi rentang kriteria dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
36
1. Mengelompokkan frekuensi jawaban berdasarkan bobot skala kuesioner 2. Melakukan penghitungan skor dengan rumus :
Skor = ∑ (frekuensi jawaban X bobot skala) ... (16) 3. Mencari nilai rataan skor yang didapatkan dengan rumus :
Nilai rataan skor (RS) = (Skor / Jumlah responden) ...(17) 4. Menerjemahkan rataan skor persepsi kedalam klasifikasi rentang
kriteria dengan menggunakan rumus, sebagai berikut :
...(18) Dimana :
Rk = Rentang Kriteria
N = Skala Jawaban Terbesar n = Skala Jawaban Terkecil k = Jumlah Kelas
Dalam penelitian ini, nilai n adalah 1, nilai N adalah 5 dan nilai k adalah jumlah kelas, maka rentang kriterianya adalah: RK = (5 – 1) / 5 = 0,8
Klasifikasi rentang kriteria dalam penelitian ini disajikan secara lengkap pada Tabel 10.
Tabel 10 Klasifikasi Rentang Krteria skala pengukuran dari CTI dan maknanya
Skala Rentang Kriteria dan Maknanya
1.00 – 1.80 1.81 – 2.60 2.61 – 3.40 3.41 – 4.20 4.21 – 5.00 Global Constructive
Thinking (GCT)
sangat
destruktif destruktif netral konstruktif
sangat konstruktif Behavioral Coping (BC) sangat tidak antusias tidak
antusias netral antusias
sangat antusias Emotional Coping
(EC)
sangat
sensitif sensitif netral terbuka
sangat terbuka Personal Superstitious
Thinking (PST)
sangat
defensif defensif netral ofensif
sangat ofensif Categorical Thinking
(CaT) sangat kaku kaku netral fleksibel
sangat fleksibel Esoteric Thinking (ET) sangat percaya hal gaib percaya hal gaib netral berpikir logis sangat berpikir logis Naïve Optimism (NaO) sangat optimis realistis optimis realistis netral optimis unrealistis sangat optimis unrealistis
37
3.7.4 Definisi Operasional Skala Global dan 6 (enam) Sub-skala dari
Constructive Thinking Inventory
Constructive Thinking Inventory dari Epstein (1996) adalah pemodelan yang digunakan untuk mengidentifikasi stres dan mendapatkan strategi manajemen stres (coping strategy) yang didasarkan pada teori berpikir konstruktif (Constructive Thinking). Untuk mengujinya Epstein (1986) menggunakan 1(satu) Global Constructive Thinking Scale dan 6 (enam) sub-scales (behavioral coping, emotional coping, personal superstitious thinking, categorical thinking, esoteric thinking dan naive optimism) dengan 108 (seratus delapan) pernyataan kuesioner, definisi operasional skala global dan 6 (enam) sub-skala diuraikan sebagai berikut :
1. Global Constructive Thinking (GCT)
Global Constructive Thinking (GCT) merupakan pernyataan kategori utama yang mencakup pernyataan-pernyataan dari 6 (enam) sub-skala kecuali skala Naive Optimism (NaO) yang dapat mengindikasikan gaya pemikiran konstruktif maupun destruktif dimana memiliki potensi dalam penanggulangan stres (coping strategies). Responden yang memiliki nilai Global Constructive Thinking (GCT) scale tinggi merupakan individu yang dapat berpikiran fleksibel, optimis, cepat beradaptasi dengan permasalahan yang terjadi dan mampu menerima perbedaan diantara rekan kerja. Dalam beberapa situasi sulit, individu tersebut dapat mengontrol emosinya dengan baik dan biasanya dapat memberikan manfaat terhadap orang lain atau rekan kerja. Global Constructive Thinking (GCT) memiliki 29 (dua puluh sembilan) pernyataan.
2. Behavioral Coping (BC)
Sub-skala Behavioral Coping (BC) merupakan kategori turunan dan dibagi menjadi 3 (tiga) sub kategori, yaitu : berpikir positif, berorientasi pada tindakan dan kesadaran diri. Responden yang memiliki nilai tinggi pada kategori ini memiliki sikap optimis, antusias dan enerjik. Mereka cenderung lebih terbuka dan cepat mengambil tindakan terhadap rencana yang telah dibuat. Behavioral Coping (BC) memiliki 14 (empat belas) pernyataan.
38 3. Emotional Coping (EC)
Sub-skala Emotional Coping (EC) merupakan kategori turunan dan dibagi menjadi 4 (empat) sub kategori, yaitu : penerimaan diri, tidak cepat mengeneralisasi, tidak sensitif dan tidak memikirkan kegagalan di masa lalu. Responden dengan nilai tinggi pada kategori ini memiliki kemampuan beradaptasi dengan kondisi stres, tidak sensitif terhadap kesalahan atau penolakan dari orang lain dan tidak terlalu memikirkan kegagalan. Emotional Coping (EC) memiliki 25 (dua puluh lima) pernyataan.
4. Personal Superstitious Thinking (PST)
Sub-skala Personal Superstitious Thinking (PST) merupakan katergori turunan dimana pernyataan pada kategori ini berupa latihan pikiran pada diri individu, seperti pernyataan bahwa jika sesuatu yang baik terjadi pasti akan diikuti oleh sesuatu yang buruk. Responden dengan nilai tinggi pada kategori ini cenderung bersifat ofensif terhadap ancaman ataupun perubahan dan melihat permasalahan sebagai sebuah tantangan. Personal Superstitious Thinking (PST) memiliki 7 (tujuh) pernyataan.
5. Categorical Thinking (CaT)
Sub-skala Categorical Thinking (CaT) merupakan kategori turunan dan dibagi menjadi 3 (tiga) sub kategori, yaitu: berpikiran yang terpola, ketidakpercayaan terhadap orang lain dan tidak toleran. Responden yang memiliki nilai tinggi pada kategori ini cenderung sangat fleksibel sehingga tidak melihat dunia dalam bentuk hitam dan putih saja, akan tetapi dari berbagai sisi. Dari sisi positif individu dapat melakukan tindakan dengan fleksibel, namun dari sisi negatif individu cenderung berpikiran sederhana sehingga dapat merugikan. Categorical Thinking (CaT) memiliki 16 (enam belas) pernyataan.
6. Esoteric Thinking (ET)
Sub-skala Esoteric Thinking (ET) merupakan kategori turunan dan dibagi menjadi 2 (dua) sub kategori, yaitu : kepercayaan terhadap sesuatu yang tidak biasa dan pemikiran formal. Kategori ini menunjukkan tingkatan dimana responden mempercayai sesuatu yang tidak biasa atau fenomena yang masih dipertanyakan secara keilmuan seperti : hantu, kutukan, dan hal-hal lain yang diluar nalar. Responden dengan nilai tinggi menunjukkan individu yang telah
39
berpikiran secara logika dan kritis. Esoteric Thinking (ET) memiliki 13 (tiga belas) pernyataan.
7. Naive Optimism (NaO)
Subskala Naïve Optimism (NaO) merupakan sub kategori turunan dan dibagi menjadi 3 (tiga) sub kategori, yaitu: optimis berlebihan, pemikir stereotip dan pemikir Pollyanna-ish. Kategori ini mengindikasikan tingkatan dimana responden berpikir optimis yang tidak realistis. Dari sisi positif, individu akan cenderung memiliki semangat tinggi dan disukai banyak orang, namun di sisi negatif adalah ketidak-inginan individu untuk menghadapi kegagalan atau kenyataan yang tidak menyenangkan. Naïve Optimism (NaO) memiliki 15 (lima belas) pernyataan.