• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Dampak dari faktor Demografi terhadap Stres Kerja

Beberapa penelitian telah mengungkapkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor demografi dengan stres kerja. Dalam penelitian ini faktor demografi yang diteliti adalah perbedaan jenis kelamin, usia dan tingkat pendidikan. Berikut akan dijabarkan beberapa hasil penelitian atau teori yang berhasil ditemukan berkaitan dengan faktor demografi (jenis kelamin, usia dan pendidikan) dengan stres kerja. Teori-teori yang dijabarkan tersebut akan menjadi dasar dalam menganalisa perbedaan karakteristik demografi dalam rangka menanggulangi stres kerja.

2.5.1 Perbedaan Jenis Kelamin dalam Menanggulangi Stres Kerja

Perbedaan jenis kelamin dapat sangat berdampak pada penelitian yang berbasis peran, seperti yang banyak dibuktikan oleh banyak penelitian dengan banyak perilaku peran atau yang lebih dikenal “gender”. Penelitian yang terus dilakukan membuktikan adanya hasil pengukuran varian yang disebabkan oleh perbedaan gender (Goleman, 1998; Liem dan Teo, 1996; Burke, 1996).

Sementara itu menurut Anisman dan Merali (1999) bahwa interaksi kelenjar fisik dapat menyebabkan perbedaan reaksi gender yang seringkali dapat terlihat dalam gangguan perilaku seperti salah satu contohnya adalah gangguan suasana hati (mood disorders), reaksi yang timbul akan berbeda antara laki-laki dan perempuan, hal tersebut sangat berdampak pada perilaku mereka di tempat kerja. Peneliti lain yaitu Schwartz (1992) menemukan bahwa perempuan yang bekerja di luar rumah lebih berpontesi membawa konflik stres ke tempat bekerja

20

setiap harinya, kecenderungan ini tidak hanya berasal dari bagaimana cara pandang perempuan terhadap pekerjaan itu melainkan pada bagaimana budaya masyarakat memandang perempuan yang bekerja.

Penelitian lanjutan yang dilakukan oleh Lim dan Teo (1996) menemukan adanya perbedaan dan persamaan dalam respon stres kerja dan strategi penanggulangan stres kerja antara laki-laki dan perempuan, dimana pegawai perempuan sangat signifikan mempunyai skor stres yang tinggi akibat faktor intrisik pada pekerjaan mereka yaitu peran manajerial yang diterimanya dibandingkan pada pegawai laki-laki, sedangkan kebutuhan pergi dari rumah untuk bekerja antara laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan. Sementara itu perbedaan lain yang terlihat adalah cara dalam menanggulangi stres (coping strategy) dimana pegawai perempuan cenderung menggunakan emosi mereka dengan mencari dukungan sosial dan berbicara kepada orang lain yang dipercayanya tentang kesulitan mereka, sedangkan pegawai laki-laki mengatasi stres mereka secara logis dan tidak emosional.

Dalam studi lanjutannya, Lim dan Teo (1996) menemukan perbedaan kehidupan profesional akademik yaitu pada jaringan kerja dan pengembangan karir antara laki-laki dan perempuan, dimana untuk laki-laki kesempatan mendapatkan jaringan kerja yang lebih luas dan pengembangan karir lebih diutamakan daripada pegawai perempuan. Sejalan dengan penelitian Lim dan Teo, Schwartz (1992) menemukan bahwa pegawai perempuan selalu mendapatkan posisi yang tidak aman dalam pekerjaan baik dalam memperluas jaringan kerja maupun kesempatan mengembangkan karir.

Penelitian Wang dan Paten (2001) menemukan bahwa penyebab stres kerja berbeda berdasarkan gender. Pada perempuan, stres lebih disebabkan oleh keadaan fisik, sedangkan laki-laki pada keadaan psikologi. Sejalan dengan Wang dan Paten, penelitian Goleman (1998) menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama dapat meningkatkan kecerdasan emosi, perempuan cenderung lebih kuat pada kemampuan berempati dan hubungan sosial, sedangkan laki-laki pada aturan dan hukum.

Perbedaan pandangan antara pria dan wanita menyebabkan perbedaan dalam cara menanggulagi stres. Umumnya wanita mengalami stres lebih

21

disebabkan karena faktor fisik karena wanita memiliki peran ganda dalam keluarga, sedangkan pada pria didominasi oleh faktor psikologi dimana pria merupakan tulang punggung keluarga.

2.5.2 Perbedaan Usia dalam Menanggulangi Stres Kerja

Park et al. (1997) menemukan bahwa usia berhubungan dengan tingkatan pemahaman terhadap pemikiran konstruktif. Timbulnya hubungan ini disebabkan oleh tingkat harapan hidup yang semakin meningkat dari generasi ke generasi sehingga membuat individu belajar lebih banyak cara menghadapi stres.

Epstein (1998) mengungkapkan bahwa Constructive Thinking berkembang sejalan dengan bertambahnya usia. Perkembangan ini berhubungan dengan proses maturity yang dialami individu, semakin bertambah usia, individu akan semakin bijaksana dalam menghadapi persoalan. Namun demikian hal ini tidak dapat digeneralisasi pada setiap individu kecuali individu tersebut mampu memanfaatkan proses ini dengan baik.

Siebert (1996) menemukan bahwa ada hubungan langsung antara stres dengan usia pekerja. Sebagai contoh, perubahan sistem komputerisasi pada suatu perusahaan dapat menyebabkan stres bagi pekerja berusia tua dan justru kesenangan bagi pekerja berusia muda. Berbeda jika terjadi permasalahan yang cukup sulit, pekerja berusia tua akan cenderung lebih berpengalaman menghadapinya dan pekerja berusia muda dapat mengalami stres.

Anisman dan Merali (1999), menyatakan bahwa bertambahnya pengalaman hidup yang dialami individu seiring dengan bertambahnya usia, membuat individu tersebut mampu mengidentifikasi dan menghadapi berbagai macam stressor. Lebih lanjut penelitian Kogan (2001) membuktikan bahwa manajer perusahaan seringkali merekrut karyawan dari generasi yang berbeda karena percaya bahwa hal ini dapat menjadi aset bagi perusahaan. Namun demikian pada beberapa kasus juga membuktikan bahwa perusahaan kesulitan dalam menangani karyawan dengan perbedaan usia yang cukup besar karena memiliki perbedaan dalam kebutuhan, motivasi dan cara berpikir, karena perbedaan yang cukup besar ini dapat memicu timbulnya stres kerja.

Perbedaan generasi menyebabkan perbedaan pemahaman terhadap kemajuan teknologi maupun kemampuan berkomunikasi. Hal ini sering menjadi

22

pemicu timbulnya stres di kalangan pegawai berbeda usia. Selain itu perbedaan cara pandang terhadap suatu masalah dan perbedaan kebutuhan juga dapat menjadi pemicu timbulnya stres kerja pada pegawai di berbagai tingkatan usia.

2.5.3 Perbedaan Tingkat Pendidikan dalam Menanggulangi Stres Kerja

Individu yang memperoleh pendidikan lebih tingi cenderung memperoleh kemampuan lebih baik dalam mengontrol emosi (Mirowsky dan Ross, 1989). Kemampuan ini dapat membantu individu dalam mengatasi stres yang dialami di tempat kerja. Ketika mendapatkan permasalahan di tempat kerja, individu dengan tingkat pendidikan lebih tinggi lebih mampu dalam mencari solusi permasalahan.

Mone (2000) mengungkapkan bahwa pendidikan formal memberikan bekal yang berguna bagi individu agar mampu berkompetisi di dunia pekerjaan dengan baik. Pekerja yang memiliki kompetensi lebih tinggi akan cepat beradaptasi dengan pekerjaan sehingga terhindar dari stres di tempat kerja.

Berdasarkan penelitian Bergeijik dan Mensink (1997), karyawan dengan tingkat pendidikan lebih tinggi memperoleh kesempatan lebih besar untuk mendapatkan promosi pada jenis pekerjaan spesifik dibandingkan pekerja dengan tingkat pendidikan dibawahnya. Selain itu pekerja dengan tingkat pendidikan rendah cenderung lebih sulit memahami pekerjaan tertentu dan membutuhkan bantuan atasan. Hal ini dapat menimbulkan stres baik bagi pekerja tersebut maupun atasannya.

Park et al. (1997) mengungkapkan bahwa individu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi dapat memahami srategi coping untuk mengatasi stres dengan lebih baik. Pemahaman akan strategi coping yang lebih baik akan membantu individu mencari solusi dalam menghadapi permasalahan atau tekanan di tempat kerja.

Tobias (1999) menyatakan bahwa setiap individu memiliki gaya belajar yang berbeda. Gaya ini didasarkan pada persepsi individu dan kemampuan ordering. Individu dapat mempersepsikan sesuatu dengan dua cara : sesuatu yang konkrit (terlihat seperti apa adanya) atau sesuatu yang abstrak (tidak selalu terlihat seperti apa adanya). Cara individu dalam menggunakan informasi yang mereka

persepsikan disebut “ordering”. Ordering terjadi dalam 2 (dua) cara : sequential (mengikuti aturan secara berurutan) atau random (acak). Dengan menggunakan

23

matriks 2 x 2, maka diperoleh 4 (empat) gaya belajar dominan, yaitu : (1) Concrete Sequential (CS), (2) Abstract Sequential (AS), (3) Abstract Random (AS) dan Concrete Random (CR).

Dengan menemukan gaya belajar dominan dari pekerja dapat meningkatkan produktifitas dalam suatu tim untuk mencapai tujuan organisasi. Atasan dan bawahan yang saling mengerti gaya pembelajarannya masing-masing akan berkontribusi secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan yang ditetapkan. Pekerja pada kondisi ini dapat mengidentifikasi penyebab stres dan mengatasinya dengan cara yang lebih produktif, sehingga pada saat pekerja mengalami stres akan lebih mudah mengatasinya dengan pola-pola pembelajaran yang telah mereka miliki.

Perbedaan latar belakang pendidikan seringkali menyebabkan terdapatnya perbedaan dalam cara berpikir dan penanganan masalah. Selain itu juga masih ditemukan pembedaan dalam hal kesempatan untuk menduduki posisi atau jabatan tertentu. Hal ini dapat menjadi potensi pemicu stres kerja, sehingga terdapat perbedaan pandangan antara pegawai di berbagai tingkatan pendidikan dalam menanggulangi stres kerja.