• Tidak ada hasil yang ditemukan

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3 Analisis Perbedaan Faktor Demografi

5.3.1 Analisis Perbedaan Jenis Kelamin terhadap Hasil

A. Hasil Rataan Skor

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa terdapat perbedaan terhadap cara pria dan wanita dalam menanggulangi stres. Seperti pada hasil penelitian Wang dan Paten (2001) yang menemukan bahwa penyebab stres kerja berbeda berdasarkan jenis kelamin. Pada wanita, stres lebih disebabkan oleh keadaan fisik, sedangkan pria pada keadaan psikologis. Stres yang dialami wanita lebih cenderung karena banyaknya pekerjaan yang harus ditanggung. Pada wanita bekerja, selain harus menyelesaikan tugas-tugas di kantor, juga dituntut untuk menyelesaikan pekerjaan di rumah seperti mengurusi anak dan suami. Beban ini yang menyebabkan terjadinya kelelahan fisik sehingga kondisi stres terjadi pada wanita.

56

Pada pria terjadi hal yang berbeda, tuntutan sebagai kepala keluarga untuk menyediakan kebutuhan bagi anak dan istri membuat pria seringkali terbebani pikirannya. Ditambah tuntutan pekerjaan yang semakin berat dan kondisi persaingan kerja membuat pria seringkali berada pada situasi stres. Pada Tabel 17 disajikan hasil rataan jawaban pegawai pria dan wanita berdasarkan uji ANOVA. Hasil perhitungan rataan menunjukkan bahwa rata-rata jawaban pegawai pria dan wanita cenderung sama. Seperti pada sub-skala Behavioral Coping memiliki nilai rataan 3,95 untuk pegawai pria, sedangkan wanita 3,96 (Tabel 17). Keduanya memiliki nilai yang tidak jauh berbeda atau cenderung sama. Demikian pula dengan hasil pada sub-skala Emotional Coping, untuk pegawai pria bernilai 3,41 dan 3,46 untuk pegawai wanita. Hasil yang serupa juga diperoleh untuk sub- skala Personal Superstitious Thinking, Categorical Thinking, Esoteric Thinking dan Naïve Optimism.

Tabel 17 Rataan dan standar deviasi ANOVA berdasarkan Jenis kelamin

Keterangan: N = jumlah data; Mean = nilai rataan; Std Deviation = nilai simpangan; Std. Error Mean = galat rataan

Hasil ini menunjukkan bahwa baik pegawai pria maupun wanita cenderung memiliki persepsi yang sama terhadap cara berpikir konstruktif untuk menanggulangi stres di Dinas Kesehatan Kota Bogor. Namun demikian hasil ini tidak dapat menjelaskan ke arah mana kecenderungan cara berpikir konstruktif tersebut berdasarkan skala-skala yang terdapat dalam Constructive Thinking Inventory (CTI). Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka dilakukan perhitungan rataan berdasarkan rumus klasifikasi rentang kriteria.

Sub-Skala Jenis Kelamin N Mean Std Deviation Std. Error Mean Global Constructive Thinking Pria Wanita 85 188 3,4284 3,4547 ,18732 ,18942 ,02032 ,01381 Behavoral Coping Pria

Wanita 85 188 3,9512 3,9680 ,24346 ,32940 ,02641 ,02402 Emotional Coping Pria

Wanita 85 188 3,4118 3,4696 ,30767 ,34407 ,03337 ,02509 Personal Superstitious Thinking Pria Wanita 85 188 3,0501 3,0954 ,48769 ,54652 ,05290 ,03986 Categorical Thinking Pria Wanita 85 188 3,0300 2,9424 ,50510 ,45568 ,05479 ,03323 Esoteric Thinking Pria

Wanita 85 188 3,0605 2,9771 ,57479 ,48445 ,06234 ,03533 Naïve Optimism Pria

Wanita 85 188 3,6418 3,6264 ,36960 ,37471 ,04009 ,02733

57

B. Hasil Klasifikasi Rentang Kriteria Skala dari Constructive Thinking Inventory (CTI)

Untuk mengetahui kecenderungan sikap pegawai dalam berpikir konstruktif, maka berdasarkan jenis kelamin pegawai, jawaban-jawaban pada kuesioner dirata-ratakan dan dimasukkan dalam klasifikasi rentang kriteria masing-masing skala. Dengan demikian akan diketahui bagaimana kecenderungan sikap pegawai pria dan wanita berdasarkan masing-masing pengukuran skala.

Berdasarkan skala global dan enam sub-skala yang ada dari Constructive Thinking Inventory (CTI) maka dapat dilihat hasil klasifikasi rentang kriteria skala dari CTI dan maknanya seperti pada Tabel 10. Tabel 10 menunjukkan klasifikasi rentang nilai dibagi menjadi lima kriteria dengan masing-masing memiliki makna sesuai dengan skalanya. Sebagai contoh nilai rataan pegawai pria pada skala Global Constructive Thinking adalah 3,43, maka masuk ke dalam klasifikasi rentang kriteria konstruktif. Artinya kecenderungan pegawai pria di Dinas Kesehatan Kota Bogor sudah berpikiran konstruktif. Rentang kriteria tersebut merupakan dasar dalam penilaian kecenderungan perilaku pegawai berdasarkan faktor demografi yang diuji yaitu: jenis kelamin, usia dan tingkat pendidikan.

Tabel 18 memperlihatkan hasil klasifikasi rentang kriteria dari Constructive Thinking Inventory (CTI) berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Berdasarkan hasil klasifikasi rentang kriteria tersebut, maka dapat diketahui bahwa baik pegawai pria maupun wanita memiliki kecenderungan persepsi yang hampir sama, akan tetapi secara hasil uji statistik selisih nilai berapapun tetap menunjukka perbedaan terhadap cara berpikir konstruktif dalam menanggulangi stres pada pegawai pria dan wanita. Pada skala Global Constructive Thinking, pegawai pria memiliki nilai rataan sebesar 3,43 dan masuk kedalam klasifikasi rentang kriteria sudah berpikir konstruktif. Demikian pula dengan pegawai wanita dengan nilai rataan sebesar 3,45, juga masuk dalam klasifikasi rentang kriteria mampu berpikir konstruktif. Pada skala pengukuran ini secara uji statistik, pegawai wanita lebih mampu berpikir konstruktif daripada pegawai pria, hal tersebut terlihat dari selisih hasil rataan yaitu sebesar 0,02 sehingga pegawai wanita dapat dikategorikan lebih mampu mengatasi stres yang terjadi di tempat

58

kerja dibandingkan pegawai pria. Kemampuan berpikir konstruktif mutlak diperlukan dalam menanggulangi stres yang terjadi.

Tabel 18 Hasil Klasifikasi Rentang Kriteria dari CTI berdasarkan Jenis Kelamin

Skala Rentang Nilai dan Makna

Pria Wanita

Global Constructive Thinking (GCT) 3,43 konstruktif 3,45 konstruktif

Behavioral Coping (BC) 3,95 antusias 3,96 antusias

Emotional Coping (EC) 3,41 terbuka 3,47 terbuka

Personal Superstitious Thinking (PST) 3,05 netral 3,09 netral

Categorical Thinking (CaT) 3,03 netral 2,94 netral

Esoteric Thinking (ET) 3,06 netral 2,98 netral

Naïve Optimism (NaO) 3,64 optimis

unrealistis 3,63

optimis unrealistis

Pada skala Behavioral Coping, baik pegawai pria maupun wanita memiliki hasil rataan yang sangat dekat, yaitu masing-masing 3,95 dan 3,96, artinya keduanya masuk dalam klasifikasi rentang kriteria sikap antusias dalam pekerjaan. Sedangkan hasil uji statistik menunjukkan selisih nilai rataan sebesar 0.01 lebih tinggi pada pegawai wanita, sehingga dapat dikategorikan bahwa pegawai wanita lebih bersikap antusias daripada pegawai pria, hal tersebut sangat mendukung pegawai dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Dengan rasa antusias yang tinggi maka pegawai dapat terhindar dari stres di tempat kerja.

Rataan nilai sebesar masing-masing 3,41 dan 3,47, dimiliki oleh pegawai pria dan wanita pada skala Emotional Coping. Nilai tersebut masuk pada klasifikasi rentang kriteria terbuka. Selisih nilai rataan secara uji statistik menunjukkan nilai sebesar 0,06 lebih tinggi pada pegawai wanita, sehingga pegawai wanita lebih bersikap terbuka daripada pegawai pria artinya lebih bersedia menerima kritikan atau tidak mudah tersinggung karena celaan dari rekan kerja maupun atasan. Sikap terbuka tersebut akan membantu pegawai untuk tidak mudah mengalami stres di tempat kerja.

Pada skala Personal Superstitious Thinking, pegawai pria dan wanita di Dinas Kesehatan Kota Bogor masuk pada klasifikasi rentang kriteria yang sama yaitu netral, artinya pegawai tersebut cenderung tidak bersikap defensif maupun ofensif dalam menghadapi permasalahan di tempat kerja. Sikap netral disini berarti menerima keadaan akan tetapi tidak cenderung pasrah menerimanya. Pegawai dengan sikap demikian cenderung tenang-tenang saja apabila

59

menghadapi kendala di tempat kerja. Tidak proaktif untuk mencari pemecahan permasalahan tetapi tidak pasrah juga terhadap keadaan jadi lebih bersikap netral. Akan tetapi secara hasil uji statistik selisih hasil rataan yang didapat menunjukkan bahwa pegawai wanita memiliki nilai yang lebih tinggi daripada pegawai pria yaitu sebesar 0,04, sehingga dapat dikategorikan pegawai wanita lebih bersikap ofensif daripada pegawai pria.

Pada skala Categorical Thinking, rataan nilai yang diperoleh oleh pegawai pria dan wanita memiliki nilai 3,03 dan 2,94. Nilai ini berada pada klasifikasi rentang kriteria yang sama yaitu menunjukkan sikap netral bila menghadapi suatu permasalahan. Sikap netral ini juga menunjukkan pegawai yang terkesan fleksibel tetapi kadang-kadang bersikap kaku dalam melakukan pekerjaan ataupun mengambil keputusan. Selanjutnya jika dilihat dari hasil uji statistik didapatkan selisih nilai sebesar 0,09 lebih tinggi pegawai pria, artinya pegawai pria lebih dapat bersikap fleksibel dibandingkan pegawai wanita.

Sub skala Esoteric Thinking salah satunya mengukur sejauh mana pegawai percaya akan hal-hal di luar kewajaran. Hasil rataan nilai adalah 3,06 untuk pegawai pria dan 2,98 untuk pegawai wanita. Ini menunjukkan bahwa keduanya masuk pada klasifikasi rentang kriteria berpikiran netral, tidak percaya akan hal-hal gaib atau di luar kewajaran tetapi juga seringkali tidak berpikir logis. Selisih nilai dari hasil uji statistik menunjukkan nilai sebesar 0,08 lebih tinggi pegawai pria daripada pegawai wanita, artinya pegawai pria lebih berpikir logis dibandingkan pegawai wanita yang kecenderungan emosinya lebih tinggi.

Hasil dari perhitungan rataan untuk sub-skala ke enam yaitu Naïve Optimism menunjukkan nilai 3,64 untuk pegawai pria dan 3,63 untuk pegawai wanita. Nilai ini masuk pada klasifikasi rentang kriteria sikap optimis unrealistis. Selisih hasil uji statistik sebesar 0,01 menunjukkan pegawai pria lebih bersikap optimis unrealistis akan tetapi cenderung optimis dalam melihat sebuah permasalahan namun terlalu mengeneralisasi keadaan dibandingkan pada pegawai wanita. Sikap ini lebih dapat berpotensi menjadi penyebab stres pada pegawai pria.

60

Tabel 19 menunjukkan hasil perhitungan ANOVA berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Skala Global Constructive Thinking memiliki t-value sebesar - 1,066, derajat kebebasan (df) 271 dan nilai probabilitas (p) 0,287. Nilai t-value merupakan nilai mutlak sehingga tidak terpengaruh oleh nilai negatif maupun positif. Nilai tersebut harus berada dibawah nilai t-tabel yaitu sebesar 1,96 agar diterima pada tingkat signifikansi 90%. Demikian pula dengan nilai p harus berada dibawah 0,1 yang artinya nilai probabilitas atau kemungkinan terdapat perbedaan jenis kelamin terhadap hasil skala Global Constructive Thinking dari Constructive Thinking Inventory (CTI) dalam strategi penanggulangan stres kerja berada pada kisaran 0 – 90% (Tabel 19). Sementara keseluruhan skala memiliki derajat kebebasan yang sama yaitu sebesar 271. Khusus untuk uji-t, derajat kebebasan memiliki rumus jumlah sampel dikurangi 2 atau N-2.

Sub-skala Behavioral Coping memiliki t-value sebesar -0,422 dan p sebesar 0,673. Kedua nilai tersebut masuk pada kriteria yang ditetapkan, sehingga hipotesis nol dapat diterima. Dengan kata lain, tidak terdapat perbedaan jenis kelamin terhadap hasil pernyataan sikap optimis, antusias dan enerjik (sub-skala Behavioral Coping) yang merupakan salah satu strategi menanggulangi stres kerja pada pegawai Dinas Kesehatan Kota Bogor.

Tabel 19 Hasil ANOVA untuk perbedaan Jenis Kelamin

Skala

Hasil

Hipotesis t-value

≥ 1,96 df p

Global Constructive Thinking (GCT) -1.066 271 0.287 Terima H0

Behavioral Coping (BC) -0.422 271 0.673 Terima H0

Emotional Coping (EC) -1.327 271 0.186 Terima H0

Personal Superstitious Thinking (PST) -0.655 271 0.513 Terima H0 Categorical Thinking (CaT) 1.421 271 0.157 Terima H0

Esoteric Thinking (ET) 1.240 271 0.216 Terima H0

Naïve Optimism (NaO) 0.109 271 0.913 Terima H0

Keterangan: t-value = nilai uji-t; df = derajat kebebasan; p = nilai kemungkinan

Pada sub-skala Emotional Coping juga diperoleh t-value sebesar -1,327 dan probabilitas sebesar 0,186. Hasil ini menunjukkan penerimaan terhadap hipotesis nol, artinya tidak terdapat perbedaan jenis kelamin terhadap hasil pernyataan kemampuan untuk tidak mudah tersinggung apabila mendapat kritikan

61

atau celaan (sub-skala Emotional Coping) sehingga pegawai pria dan wanita mampu menanggulangi stres kerja di Dinas Kesehatan Kota Bogor.

T-value sebesar -0,655 dan probabilitas sebesar 0,513, diperoleh untuk sub-skala Personal Superstitious Thinking. Pernyataan-pernyataan pada sub-skala ini mengukur kecenderungan pegawai untuk bersifat defensif terhadap suatu permasalahan. Hasil perhitungan ANOVA untuk sub-skala tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan jenis kelamin terhadap hasil sub-skala Personal Superstitious Thinking dalam strategi penanggulangan stres kerja pegawai Dinas Kesehatan Kota Bogor.

Sedangkan sub-skala Categorical Thinking memiliki t-value sebesar 1,421 dan nilai p sebesar 0,157. Kedua nilai tersebut memenuhi kriteria yang ditetapkan sehingga hipotesis nol diterima. Artinya tidak terdapat perbedaan jenis kelamin terhadap hasil pernyataan sikap fleksibilitas ketika menghadapi suatu permasalahan (sub-skala Categorical Thinking) dalam strategi menanggulangi stres kerja pada pegawai Dinas Kesehatan Kota Bogor.

Pada sub-skala Esoteric Thinking, hipotesis nol yang diajukan juga diterima karena nilai dari t-value dan probabilitasnya memenuhi kriteria yang diharuskan. Masing-masing bernilai 1,240 dan 0,216. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan jenis kelamin terhadap hasil pernyataan sikap kecenderungan berpikir logis (sub-skala Esoteric Thinking) dalam strategi penanggulangan stres kerja pada pegawai Dinas Kesehatan Kota Bogor.

Sub-skala terakhir yaitu Naïve Optimism juga memiliki nilai t-value dan probabilitas yang masuk pada kriteria penerimaan hipotesis nol, yaitu masing- masing bernilai 0,109 dan 0,913. Artinya tidak terdapat perbedaan jenis kelamin terhadap hasil pernyataan sikap optimisme (sub-skala Naïve Optimism) dalam strategi penanggulangan stres kerja pada pegawai Dinas Kesehatan Kota Bogor.

Secara keseluruhan, nilai p untuk skala Global Constructive Thinking dan 6 (enam) sub-skala (Behavioral Coping, Emotional Coping, Personal Superstitious Thinking, Categorical Thinking, Esoteric Thinking dan Naive Optimism) pada pernyataan kuesioner bernilai diatas 0,1, sehingga H0 diterima. Hipotesis nol menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan nyata berdasarkan jenis kelamin terhadap hasil dari Constructive Thinking Inventory (CTI) dalam strategi

62

menanggulangi stres kerja pada pegawai Dinas Kesehatan Kota Bogor. Artinya baik pegawai pria maupun wanita memiliki kecenderungan yang sama dalam merespon strategi menghadapi stres di tempat kerja. Hal ini bertolak belakang dengan hasil penelitian Wang dan Paten (2001) yang menyatakan bahwa pria dan wanita dalam menghadapi penyebab stres cenderung berbeda dalam cara menanggulanginya. Wanita lebih cenderung mengalami konflik dan stres dibanding pria (Austin, 2000), terutama menyangkut peran ganda yang dimiliki wanita, baik di tempat bekerja maupun di rumah.

Namun demikian hasil dari penelitian ini tidak berbeda nyata berdasarkan jenis kelamin dalam cara penanggulangan stres baik pada pegawai pria maupun wanita, dengan demikian hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Epstein (1986) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan atau perbedaan jenis kelamin dalam menanggulangi stres kerja. Kenyataan ini juga didukung oleh fakta bahwa jika tidak banyak pekerjaan yang dilakukan maka tidak banyak beban pekerjaan yang ditimbulkan, sehingga menghilangkan faktor dominan penyebab stres.

Tidak terdapatnya perbedaan antara pegawai pria dan wanita dalam merespon hasil dari strategi penanggulangan stres kerja berdasarkan metode Constructive Thinking mengindikasikan bahwa berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan nyata yang signifikan dalam menanggulangi stres kerja pada pegawai pria dan wanita, hal ini disebabkan:

1. Populasi yang homogen (PNS) sehingga kurangnya competitiveness diantara pegawai baik pria maupun wanita di Dinas Kesehatan Kota Bogor, hal ini sangat berbeda dengan pegawai swasta yang selalu dituntut untuk bekerja berdasarkan target yang ditetapkan, sehingga apabila tidak menunjukkan kinerja yang baik akan berpengaruh pada kompensasi, penilaian pegawai bahkan harus berhadapan dengan situasi kehilangan pekerjaan.

2. Keamanan kerja (job security) di Dinas Kesehatan Kota Bogor, artinya kenyataan bahwa pegawai negeri sipil (PNS) merupakan pekerjaan dengan tingkat keterjaminan tinggi, membuat pegawai pria dan wanita berada pada kondisi yang nyaman. Kondisi kerja yang nyaman membuat

63

lingkungan kerja menjadi lebih stabil, sehingga tingkat stres menjadi rendah, akibatnya baik pegawai pria maupun wanita tidak memiliki perbedaan dalam menanggulangi stres.

3. Perlakuan yang sama terhadap pegawai pria dan wanita dalam hal pekerjaan. Tidak adanya pembatasan jenis kelamin dalam menduduki jabatan tertentu di Dinas Kesehatan Kota Bogor. Adanya peluang yang sama pada pegawai pria dan wanita untuk pengembangan karirnya. Kondisi ini meminimalisasi timbulnya stres di kalangan pegawai yang diakibatkan tidak tersalurkannya keinginan untuk pencapaian prestasi dengan menduduki suatu jabatan. Penentuan pegawai yang dapat menduduki jabatan tertentu ditentukan berdasarkan kinerja dan prestasi yang berhasil diraih, hal ini menghilangkan timbulnya konflik antara pegawai pria dan wanita.

4. Atasan selalu mengutamakan musyawarah apabila menemui persoalan yang membutuhkan pemecahan. Kebebasan pada pegawai pria dan wanita dalam mengemukakan pendapat lebih diutamakan sehingga pegawai lebih mampu mengekspresikan kritik dan saran dalam menjalankan pekerjaannya. Kenyataan ini mampu meminimalkan timbulnya stres akibat keluhan yang tidak tersalurkan, sehingga baik pegawai pria maupun wanita dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik karena selalu dapat berdiskusi dengan atasan apabila menemui hambatan.

5. Untuk meminimalkan timbulnya stres di kalangan pegawai, penempatan pegawai baik pria dan wanita baik pada kantor pusat maupun puskesmas- puskesmas berdasarkan tempat tinggal pegawainya. Seperti diketahui bahwa kemacetan akan menyebabkan bertambahnya waktu tempuh yang harus digunakan pegawai untuk berangkat maupun pulang dari kantor. Bertambahnya waktu tempuh akan mengakibatkan berkurangnya waktu yang dibutuhkan di tempat kerja maupun setelah pulang bekerja. Tepatnya penempatan pegawai yang dilakukan oleh bagian kepegawaian menyebabkan terutama pada pegawai wanita tidak harus berangkat lebih pagi dan dapat pulang tepat waktu sehingga mampu memaksimalkan perannya sebagai wanita bekerja dan sebagai ibu rumah tangga. Kondisi-

64

kondisi tersebut diatas yang menyebabkan tidak adanya perbedaan dalam menanggulangi stres antara pegawai pria dan wanita.

5.3.2 Analisis Perbedaan Usia terhadap Hasil Constructive Thinking