• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS PUTUSAN PENGADILAN AGAMA NOMOR

B. Analisis Putusan Pengadilan Agama Nomor 1595/

1595/PDT. G/2010/PA Sidoarjo dapat dikatakan menarik, karena dalam perkara tersebut sebenarnya terdapat unsur perbuatan zina yang terlihat dari keterangan Pemohon dan Termohon dalam duduk perkara, yang telah saling melakukan hubungan badan sebelum mereka melangsungkan pernikahan. Meskipun demikian unik, pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalil bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya, artinya bahwa Hakim dianggap mengetahui hukum karena jabatannya bertugas menemukan dan menentukan titik apa yang berlaku terhadap perkara yang sedang diperiksa. Untuk itu perlu dilakukan analisis terhadap kasus dan putusan tersebut untuk dapat mengetahui alasan-alasan serta hal-hal yang menjadi pertimbangan dasar dapat dilakukannya sumpah li’an

terhadap anak hasil zina atau anak diluar nikah di dalam putusan tersebut.

Hakim Pengadilan Agama Sidoarjo dalam menyelesaikan dan mengadili perkarali’an nomor 1595/PDT. G/2010/PA Sidoarjo yang diajukan kepadanya harus mengetahui dengan jelas tentang fakta dan peristiwa yang menjadi dasar adanya tuduhan zina dan pengingkaran/penyangkalan terhadap anak yang lahir dalam

perkawinan tersebut yang kemudian menimbulkan perselisihan dan pertengkaran terus menerus dalam rumah tangga tersebut untuk selanjutnya dibuktikan dengan saksi-saksi dan alat bukti yang diajukan para pihak.

Perlu ditegaskan kembali mengenai pengertian dan konsep li’an disertai dengan pengingkaran dan penyangkalan anak yang sebenarnya. Bahwa li’anadalah sumpah yang diucapkan oleh suami ketika ia menuduh istrinya berbuat zina dengan empat kali kesaksian bahwa ia termasuk orang yang benar dalam tuduhannya, kemudian pada sumpah kesaksian kelima disertai persyaratan bahwa ia bersedia menerima laknat Allah jika ia berdusta dalam tuduhannya itu, dan dalam hal ini suami tidak memiliki bukti serta tidak dapat menghadirkan empat orang saksi dalam tuduhannya tersebut. Li’an merupakan ucapan tertentu yang digunakan untuk menuduh istri yang telah melakukan perbuatan yang mengotori dirinya (berzina) yang kemudian menjadi alasan suami untuk menolak anak (anakli’an).

Jika dilihat dari status hukumnya, antara anak zina dengan anakli’anini pada akhirnya sama-sama berstatus menjadi anak luar kawin, atau disebut dengan anak luar kawin. Namun demikian, tetap ada perbedaan antara keduanya, bahwa anak zina telah jelas statusnya sejak awal, seperti lahir dari perempuan yang tidak bersuami sedangkan anak li’an lahir dari perempuan yang bersuami dalam suatu ikatan perkawinan yang sah, namun anak tersebut tidak diakui oleh suaminya.

Dalam Hukum Islam, seorang suami dapat menolak untuk mengakui bahwa anak yang dilahirkan istrinya bukanlah anaknya asal si suami dapat membuktikannya, untuk menguatkan penolakannya suami harus dapat membuktikan bahwa :188

1. Suami belum pernah menjima’ istrinya, akan tetapi si istri tiba-tiba melahirkan. 2. Lahirnya anak itu kurang dari enam bulan sejak menjimak istrinya, sedangkan

bayinya lahir seperti bayi yang cukup umur.

Bila dikaitkan dengan perkarali’an yang diputus melalui Putusan Pengadilan Agama Nomor 1595/PDT. G/2010/PA Sidoarjo tersebut, terlihat jelas unsur-unsur untuk menguatkan pengingkaran dan penyangkalan anak ada pada kasusli’andalam perkara Nomor 1595/PDT. G/2010/PA Sidoarjo tersebut diatas. Bahwa dalam perkara tersebut, terbukti bahwa suami belum pernah menjima’ istrinya selama perkawinan berlangsung, hanya saja mereka pernah melakukan hubungan badan sebanyak dua kali sebelum dilangsungkannya perkawinan yang kemudian menyebabkan kehamilan (zina), dan jarak antara waktu dilangsungkannya perkawinan yang sah diantara mereka dengan waktu kelahiran anak yang dili’an dalam perkara tersebut hanyalah berselang 3 hari (sangat kurang dari waktu minimum kehamilan), yaitu pada tanggal 4 Mei 2010 mereka melangsungkan perkawinan sah dan kemudian pada tanggal 7 Mei 2010 lahirlah anak tersebut. Maka, jika dilihat dari keadaan yang demikian, suami memang dapat dan berhak untuk menafikan anak tersebut melalui li’an jika suami merasa ada kejanggalan terhadap anak yang dikandung oleh istrinya tersebut, 188 Bahder Johan Nasution dan Sri Warjiyati,Hukum Perdata Islam Kompetensi Peradilan Agama Tentang Perkawinan, Waris, Wasiat, Hibah, Waqaf, dan Shodaqah, Mandar Maju, Bandung, 1997, hlm. 41

terlepas dari keadaan mereka pernah melakukan zina sebelum dilangsungkan perkawinan sah.

Suatu perkara yang diajukan ke pengadilan harus berakhir dengan adanya suatu putusan hakim atau pengadilan. Putusan hakim adalah suatu pernyataan yang oleh hakim, sebagai pejabat Negara yang diberi wewenang untuk itu, diucapkan dipersidangan dan untuk bertujuan untuk mengakhiri atau menyelesaikan suatu perkara diantara para pihak. Dengan berdasarkan bukti-bukti dan keterangan para saksi yang diajukan oleh para pihak dalam persidangan, pada akhirnya Hakim Pengadilan Agama Sidoarjo mengabulkan permohonan putusnya perkawinan secara

li’an yang berarti menceraikan kedua belah pihak untuk selama-lamanya, dan mengenai anak yang diingkari/dinafikan oleh Pemohon ditetapkan dikembalikan

nasabnya kepada ibu dan keluarga ibunya. Dalam amar Putusan Pengadilan Agama perkara nomor 1595/PDT.G/2010/PA Sidoarjo tersebut memang tidak ada menyebutkan ketentuan tentang hak waris yang dapat diperoleh anak li’an, tetapi melihat dari pertimbangan hukum yang dipergunakan oleh para hakim pengadilan agama yang memutus perkara ini adalah ketentuan hukum Islam, maka apabila terhadap anak li’an tersebut ditetapkan ia hanya dapat dinisbahkan kepada ibu dan keluarga ibunya saja dan kedudukannya menjadi anak luar kawin, maka demikian hubungan waris mewarisinya hanya kepada ibu dan keluarga ibunya saja. Anakli’an

tersebut hanya berhak memperoleh hak waris dari ibu dan keluarga ibunya, demikian sebaliknya anak li’an hanya dapat mewarisi bagi ibu dan keluarga ibunya saja, kecuali ditetapkan lain.

Adapun yang menjadi dasardiberikannya izin oleh pengadilan kepada Pemohon (suami) untuk mengucapkan sumpah li’andihadapan persidangan pada perkara tersebut adalah untuk menyangkal dan mengingkari anak yang dikandung Termohon sebagai darah daging Pemohon, karena perbuatan zina yang pernah dilakukan Termohon sebelum menikah dengan Pemohon. Sebab sebenarnya jika dilihat dari ketentuan hukum Islam bahwa anak sah bagi seorang suami adalah bila anak tersebut lahir tidak kurang dari waktu minimal kehamilan (enam bulan) dan tidak melebihi batas waktu maksimal yang ditetapkan (dua tahun), sementara anak dalam perkara li’an tersebut lahir hanya berjarak 3 (tiga) hari setelah dilakukannya perkawinan sah antara Pemohon dengan Termohon. Dengan demikian, walaupun anak tersebut lahir dalam perkawinan sah antara Pemohon dengan Termohon, tetapi dalam ketentuan hukum Islam anak tersebut bukanlah anak sah bagi Pemohon dan Termohon yang dapat dinasabkan kepada Pemohon sebagai ayahnya, melainkan anak tersebut adalah anak hasil zina karena kelahirannya kurang dari batas minimal kandungan yang ditetapkan. Maka, dengan berdasarkan pengertian li’an yang dapat digunakan untuk tidak mengakui bahwa anak itu sebagai keturunannya189 dapatlah dilakukan sumpah li’an untuk menafikan anak yang lahir dari Termohon bukan sebagai anak Pemohon. Selain itu, dasar pertimbangan lain bila dikaitkan dengan hukum perkawinan yang berlaku di Indonesia maka jika dilihat dari Pasal 42 Undang- Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 yang menyebutkan pengertian anak sah sebagai anak yamg dilahirkan ‘dalam’ atau sebagai akibat perkawinan yang sah,

189

maka status anak Pemohon dengan Termohon dalam perkara tersebut adalah merupakan anak sah, karena dilahirkan 3 hari setelah perkawinan sah dilangsungkan, dan untuk menafikan anak sah tersebut maka dilakukan dengan sumpah li’an.

Sumpah li’an yang diucapkan bukan sebagai pembuktian alasan perceraian karena salah satu pihak berbuat zina, seperti yang diatur dalam Pasal 19 huruf a Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, karena pengingkaran dan penyangkalan Pemohon terhadap anak yang lahir dalam perkawinan sah mereka, bukanlah hasil perbuatan Termohon yang dilakukan setelah menikah tetapi perbuatan yang dilakukan sebelum menikah. Jadi, dalam perkara ini sumpahli’anyang diucapkan dapat dikatakan tidak untuk membuktikan adanya perzinahan yang dilakukan oleh Termohon (istri) dalam perkawinan sah mereka, melainkan untuk menafikan anak yang lahir dari Termohon bukan sebagai anak Pemohon sehingga tidak dapat dinisbahkan dengan Pemohon.Sebab ada kemungkinan bahwa anak tersebut merupakan hasil perbuatan zina Termohon dengan lelaki lain sebelum menikah, bukan mutlak dengan Pemohon.

Oleh karena dalam perkara ini masing-masing Pemohon telah mengucapkan sumpah li’an terhadap Termohon, begitu juga Termohon telah mengangkat sumpah

nukul, maka berdasarkan Pasal 125 Kompilasi Hukum Islam perkawinan mereka harus diceraikan selama-lamanya dan tidak dapat kawin kembali antara mereka, meskipun Pemohon dan Termohon telah saling melakukan perkawinan dengan orang lain kemudian bercerai, tetap keduanya tidak dapat kawin kembali. Hal ini juga berdasarkan hadist nabi SAW yang berbunyi :

“dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi SAW bersabda : “suami istri yang telah saling mengucapkan li’an bila telah pisah, maka mereka tidak dapat kembali selama-lamanya” (Hadist Riwayat Daraquthni).

Dengan demikian maka berdasarkan Pasal 162 Kompilasi Hukum Islam190 secara otomatis anak yang dilahirkan oleh Termohon tidak dapat dinisbahkan kepada Pemohon dan tidak berhak atas wali nikah dan hak waris dari Pemohon. Anak tersebut hanya mempunyai hubungan nasab dengan Termohon dan keluarga Termohon sebagai pemegang hak pemeliharaan dan hadhonah terhadap anak tersebut, serta suami (Pemohon) dibebaskan dari tuntutan nafkah terhadap anak.

Menurut Bapak Dr. H. Ardiansyah M.A. yang memberikan pendapatnya sebagai salah satu pemuka agama di Kota Medan, terhadap perkara nomor 1595/PDT. G/2010/PA Sidoarjo tersebut dinilai sebagai suatu hal yang rumit, ketika anak yang sebenar-benarnya diketahui sebagai anak hasil hubungan badan yang dilangsungkan sebelum pernikahan (zina) kemudian di li’an, hal ini seperti diumpamakan sebagai istilah seks bebas yang ditarik kepada syar’i , sementara sebenarnyali’an seharusnya diucapkan ketika benar-benar tidak mampu menahan lagi aib yang ada.191

Sebuah Hadits Sahih yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda,“Anak hanya bernasab kepada pemilik tempat tidur suami, sedangkan pezina hanya akan memperoleh sial atau batu hukuman.”

Dari hadits itu, dapat dijelaskan anak bernasab(hubungan hukum) dengan lelaki yang

190 Pasal 162 Kompilasi Hukum Islam menyatakan bilamanali’anterjadi maka perkawinan itu putus untuk selamanya dan anak yang dikandung dinasabkan kepada ibunya, sedang suaminya terbebas dari kewajiban memberi nafkah.

191Hasil wawancara dengan Dr. H. Ardiansyah, L.C, M.A, Sekretaris Bidang Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, pada tanggal 27 Juni 2012.

memiliki tempat tidur yang sah, sebab ia adalah suami sah dari ibu kandungnya. Sementara, perzinaan tidak pernah mengakibatkan adanya hubungan nasab anak terhadap bapaknya karena pezina hanya layak diberi hukuman. Jika pernikahan sah, anak yang dilahirkan bernasab pada ibu dan bapaknya, kecuali karena perzinahan anak hanya bernasab dengan ibunya, dan dalam perkara li’an nomor 1595/PDT. G/2010/PA Sidoarjo tersebut diatas sudah jelas sebenarnya bahwa anak tersebut adalah anak hasil zina. Seolah-olah dalam perkara ini soal zina bukan lagi dianggap sebagai aib yang besar, tetapi dengan mudah dilakukan, dan kemudian untuk menghindari pertanggungjawaban yang harus dipikul oleh suami dan ayah atas istri dan anak dalam perkawinan tersebut, maka carali’an yang dipakai agar tetap terlihat bersandar kepada syar’i. Disinilah dituntut kejelian dan kemampuan para Hakim Pengadilan Agama untuk dapat menyelesaikan perkara-perkara seperti ini dengan seadil-adilnya dan tetap berlandaskan pada ketentuan syar’i.

Dalam perkara ini, sudah jelas pada akhirnya anak yang diingkari itulah yang terkena dampak merugikan yang lebih besar daripada istri (ibu) yang dili’an itu sendiri. Secara hukum positif dan syar’i anak tidak dapat dinisbahkan kepada ayah dan keluarga ayahnya, oleh karena itu pula tidak mendapatkan haknya dalam wali nikah (anak yang dilahirkan dalam kasus perkara nomor 1595/PDT. G/ 2010/PA Sidoarjo adalah anak perempuan), anak tersebut juga tidak berhak mendapatkan nafkah serta hak waris dari ayahnya yang telah mengingkarinya tersebut. Selain itu, secara kehidupan sosial anak yang dilahirkan tanpa memiliki kejelasan status ayah seringkali mendapatkan perlakuan yang tidak adil dan stigma di tengah-tengah

masyarakat. Hal-hal tersebut secara tidak langsung dapat dikatakan seperti ‘hukuman’ bagi anak yang sebenarnya lahir dalam keadaan suci dan tak berdosa. Tetapi karena ulah dan perbuatan dosa yang dilakukan orangtuanya, anak harus ikut menerima akibatnya.

Hukum harus memberi perlindungan dan kepastian hukum yang adil terhadap status seorang anak yang dilahirkan dan hak-hak yang ada padanya, termasuk terhadap anak dengan keadaan seperti pada kasus perkara nomor 1595/PDT. G/2010/PA Sidoarjo, yaitu anak yang dihasilkan sebelum perkawinan akibat hubungan zina, tetapi lahir dalam suatu perkawinan yang sah dan kemudian diingkari oleh ayahnya dari perkawinan yang sah tersebut melalui li’an. Oleh karena itu, sebenarnya terhadap anak dalam perkara tersebut dapat diupayakan agar lelaki yang menjadi ayah biologis anak tersebut dapat setidaknya sedikit bertanggungjawab terhadap anak biologisnya, misalnya melalui penetapan hukumanta’zirbagi laki-laki yang menjadi ayah biologis dari anak tersebut.

Pemerintah berwenang menjatuhkan hukuman ta’zir bagi lelaki yang mengakibatkan lahirnya anak tersebut, tentunya dalam hal ini lelaki yang telah melakukan hubungan zina dengan Termohon sebelum menikah dengan Pemohon. Jika pun Pemohon menyatakan bahwa Termohon juga melakukan hubungan badan dengan lelaki lain selain dengan Pemohon sebelum menikah, maka kemudian dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada dapat dilakukan tes uji DNA untuk memastikan siapa sebenarnya yang menjadi ayah biologis dari si anak. Setelah diperoleh hasilnya, baru kemudian Pemerintah dapat menetapkan hukuman

ta’zir dengan mewajibkan ayah biologis anak tersebut untuk mencukupi kebutuhan hidup dan pendidikan bagi si anak dan memberikan harta setelah ia meninggal melalui wasiat wajibah, seperti yang telah difatwakan melalui Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 11 Tahun 2012 tentang Anak Hasil Zina dan Perlakuan Terhadapnya. Setidaknya upaya ini dapat dilakukan untuk meminimalkan sikap tidak bertanggung jawab dari lelaki yang mengakibatkan lahirnya anak tersebut. Ini pun dilakukan bila ada permohonan dari pihak-pihak yang berkaitan dengan perkara tersebut. Hal ini dapat didasarkan pada wasiat Khalifah ‘Umar ibn al-Khattab yang mewasiatkan untuk senantiasa memperlakukan anak hasil zina dengan baik (sebagaimana ditulis oleh Imam al-Shan’ani dalam al-Mushannaf bab ‘Itq walad al- zina, hadist nomor 13781).192 Sehingga harus diupayakan untuk tetap melindungi anak yang berstatus sebagai anak luar kawin.

Namun terlepas dari upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk melindungi hak-hak anak luar kawin seperti yang tersebut di atas, yang terpenting adalah kesadaran manusia pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk menghindari semaksimal mungkin seluruh hal-hal yang dapat mendekatkan diri ke arah perbuatan zina, Allah melarang perbuatan zina dan seluruh hal yang mendekatkan ke zina, seperti tercantum dalam Al Qur’an Surah Al-Isra ayat 32 :

“dan janganlah kamu mendekati zina ; sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

192Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 11 Tahun 2012 tentang Anak Hasil Zina dan Perlakuan Terhadapnya.

Jika perbuatan zina dan seluruh hal-hal yang dapat mendekatkan diri ke arah perbuatan zina itu sendiri telah berhasil dihindari, tentulah tuduhan berbuat zina, dalam hal ini khususnya bagi suami istri yang terikat dalam suatu perkawinan yang sah, yaitu tuduhan suami terhadap istri yang menyatakan bahwa istrinya telah berbuat zina tidak akan terjadi. Bila tuduhan berbuat zina dari suami terhadap istri (atau sebaliknya) itu tidak terjadi, maka sumpahli’antidak perlu diucapkan dan tidak akan ada anak-anak yang diingkari oleh ayahnya dari perkawinan tersebut. Tidak akan ada anak-anak yang kehilangan hubungan nasab dari ayah dan keluarga ayahnya yang sekaligus menghilangkan hak nafkah, wali nikah, dan waris si anak dari ayahnya tersebut dan digolongkan ke dalam status anak luar kawin seperti pada kasus perkara nomor 1595/PDT. G/2010/PA Sidoarjo di atas.

Bila li’an tidak terjadi, perkawinan yang berlangsung di antara suami istri akan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa sesuai dengan tujuan perkawinan dalam Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974. Perlindungan terhadap kejelasan nasab dan asal- usul kekerabatan dari anak-anak yang lahir dalam perkawinan tersebut dapat juga dapat terpenuhi. Dengan demikian, setidaknya dua dari enam tujuan hukum Islam (Mashlahah Mursalah) yaitu memelihara kehormatan dan memelihara keturunan dapat terwujud dengan tetap berpegang teguh pada ketentuan-ketentuan agama Islam dan taat terhadap hukum yang ditetapkan Pemerintah Republik Indonesi