• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.4 Analisis Kelayakan Usahatani Cabai Keriting di PT. INAGRO

5.4.2 Analisis Rasio Keuntungan atas Biaya (B/C rasio)

Menurut Hanafie (2010:204) B/C Ratio menunjukan apakah perubahan pola usahatani atau manajemen suatu tanaman memberikan hasil yang lebih baik atau malah sebaliknya. Di dalam penerapannya analisis B/C rasio merupakan suatu analisis yang diperlukan untuk melihat sampai sejauh mana perbandingan antara nilai manfaat terhadap nilai biaya. Suatu usaha dikatakan layak dan memberi manfaat apabila nilai B/C Ratio lebih besar dari nol (B/C Ratio > 0), semakin besar nilai B/C Ratio maka semakin besar pula manfaat yang akan di peroleh dari usaha tersebut. Gambaran mengenai analisis rasio keuntungan atas biaya (B/C

67 rasio) usahatani cabai keriting di musim hujan dan musim kemarau disajikan pada Tabel 10 di bawah ini.

Tabel 10. Analisis Rasio Keuntungan atas Biaya (B/C Rasio) Usahatani Cabai Keriting di PT. INAGRO Dengan Luas Areal 1 Ha Pada Tahun 2018

No Uraian Musim Hujan Musim Kemarau

1 Pendapatan (Rp.) 28.425.875 ( 77.691.400)

2 Total Biaya Usahatani (Rp.) 128.574.400 117.691.400 Nilai Penerimaan atas Biaya (B/C

Rasio)

0,22 -0,66

Sumber: Data Primer (diolah), 2018

Berdasarkan tabel 10, dapat dilihat bahwa usahatani cabai keriting pada musim hujan layak karena nilai B/C rasionya lebih dari 0 yaitu 0,22, yang mengindikasikan jika modal yang dikeluarkan sebesar Rp. 1.000.000, maka pemilik usahatani cabai keriting di musim hujanmendapatkankeuntungan atau pendapatan sebesar Rp. 220.000. Sedangkan usahatani cabai keriting pada musim kemarau tidak layak karena nilai B/C rasionya kurang dari 0 yaitu -0,66, yang mengindikasikan jika modal yang dikeluarkan sebesar Rp. 1.000.000, maka pemilik usahatani cabai keriting di musim hujan mendapatkan kerugian sebesar Rp. 660.000.

Jika dibandingkan dengan nilai B/C rasio dari penelitian terdahulu tentang analisis pendapatan usahatani cabai keriting oleh Nining Mayanti Siregar tahun 2011, yaitu sebesar 1,46, B/C rasio usahatani cabai keriting di PT. INAGRO jauh lebih rendah, hal ini dikarenakan pada proses produksi cabai keriting di PT INAGRO mengalami masalah sehingga mengakibatkan penurunan produktivitas dan mengakibatkan pendapatan atau keuntungan yang diterima PT. INAGRO sedikit, dan total biaya yang dikeluarkan oleh PT. INAGRO lebih besar dibandingkan dengan penelitian terdahulu.

68 5.4.3 Analisis Break Even Point (BEP)

Break Even Point (BEP) merupakan titik impas karena pada titik tersebut

suatu usahatani cabai keriting tidak memperoleh untung dan tidak pula rugi.

kondisi ini akan menghasilkan laba yang diperoleh adalah nol (impas).

Analisis Break Even Point (BEP), titik impas produksi selain dinyatakan dalam satuan kilogram, juga dinyatakan dalam satuan rupiah. Perhitungan BEP memiliki dua cara yaitu BEP produksi dan BEP harga.

1. BEP Produksi

Analisis BEP Produksi merupakan hasil pembagian antara total biaya usahatani cabai keriting pada musim hujan dan musim kemarau yang dikeluarkan PT. INAGRO dengan harga jual cabai keriting yang berlaku saat itu. Gambaran mengenai analisis BEP produksi usahatani cabai keriting di musim hujan dan musim kemarau disajikan pada Tabel 11 di bawah ini.

Tabel 11. BEP Produksi yang Diperoleh Usahatani Cabai Keriting di PT.

INAGRO Dengan Luas Areal 1 Ha Pada Tahun 2018

No Uraian Musim Hujan Musim Kemarau

1 Total Biaya Usahatani (Rp.) 128.574.400 117.691.400

2 Harga Jual (Rp/Kg) 27.900 20.000

BEP Produksi (Kg) 4.608 5.885

Sumber: Data Primer (diolah), 2018

Berdasarkan tabel 11, menunjukan bahwa hasil BEP produksi yang harus dihasilkan oleh usahatani cabai keriting di musim hujan sebesar 4.608 kg. Artinya jika usahatani cabai keriting di musim hujan ingin menguntungkan harus menghasilkan lebih dari 4.608 kg, jika kurang dari 4.608 kg maka usahatani cabai keriting di musim hujan akan mengalami kerugian. Sedangkan hasil BEP produksi yang harus dihasilkan oleh usahatani cabai keriting di musim kemarau sebesar

69 5.885 kg. Artinya jika usahatani cabai keriting di musim hujan ingin menguntungkan harus menghasilkan lebih dari 5.885 kg, jika kurang dari 5.885 kg maka usahatani cabai keriting di musim kemarau akan mengalami kerugian.

Jadi dari perhitungan BEP produksi menyatakan bahwa usahatani cabai keriting dimusim hujan dinyatakan layak dan menguntungkan karena hasil produksinya lebih tinggi dari 4.608 kg yaitu 5.627,25 kg, sedangkan usahatani cabai keriting dimusim kemarau dinyatakan tidak layak dan rugi karena hasil produksinya lebih rendah dari 5.885 kg yaitu 2.000 kg. Hal itu karena pada saat proses produksi cabai di musim kemarau mengalami berbagai kendala dan hambatan yang mempengaruhi hasil panen cabai, yaitu tingkat produktivitas tanaman cabai keriting mengalami penurunan yang diakibatkan kekeringan sehingga tanaman menjadi layu dan buahnya menjadi kecil.

Jika dibandingkan dengan nilai BEP produksi usahatani cabai dari penelitian terdahulu oleh Abdul Kholik Hidayah tahun 2014, yaitu sebesar 1.888 kg. BEP produksi usahatani cabai keriting di PT. INAGRO jauh lebih tinggi, hal ini karena total biaya produksi dan harga jual cabai di penelitian terdahulu yaitu di kelurahan Lempake kota Samarinda lebih rendah yaitu dengan total biaya sebesar Rp.

28.320.793 dan harga jual sebesar Rp. 15.000/kg.

2. BEP Harga

Analisis BEP Harga merupakan hasil pembagian antara total biaya usahatani cabai keriting pada musim hujan dan musim kemarau yang dikeluarkan PT.

INAGRO dengan total produksi atau jumlah panen yang dihasilkan.Gambaran

70 mengenai analisis BEP produksi usahatani cabai keriting di musim hujan dan musim kemarau disajikan pada Tabel 12 di bawah ini.

Tabel 12. BEP Harga yang Diperoleh Usahatani Cabai Keriting di PT. INAGRO Dengan Luas Areal 1 Ha Pada Tahun 2018

No Uraian Musim Hujan Musim Kemarau

1 Total Biaya Usahatani (Rp.) 128.574.400 117.691.400

2 Total Produksi (Kg) 5.627,25 2.000

BEP Harga (Rp/Kg) 22.849 58.846

Sumber: Data Primer (diolah), 2018

Berdasarkan tabel 12, menunjukan bahwa hasil BEP harga yang harus dijual oleh usahatani cabai keriting di musim hujan sebesar Rp. 22.849/Kg Artinya jika usahatani cabai keriting di musim hujan ingin menguntungkan harus dapat menjual cabai keriting dengan harga lebih dari Rp. 22.849/Kg, jika kurang dari 22.849/Kg, maka usahatani cabai keriting di musim hujan akan mengalami kerugian. Sedangkan hasil BEP harga yang harus dijual oleh usahatani cabai keriting di musim kemarau sebesar Rp. 58.846/Kg. Artinya jika usahatani cabai keriting di musim hujan ingin menguntungkan harus menjual cabai dengan harga lebih dari Rp. 58.846/Kg, jika kurang dari Rp. 58.846/Kg maka usahatani cabai keriting di musim kemarau akan mengalami kerugian

Jadi dari perhitungan BEP harga menyatakan bahwa usahatani cabai keriting dimusim hujan dinyatakan layak dan menguntungkan karena harga jual lebih tinggi dari Rp. 22.849/Kg yaitu Rp. 27.900/Kg, sedangkan usahatani cabai keriting dimusim kemarau dinyatakan tidak layak dan rugi karena harga jualnya lebih rendah dari Rp. 58.846/Kg yaitu Rp. 20.000/Kg.

Jika dibandingkan dengan nilai BEP harga usahatani cabai dari penelitian terdahulu oleh Abdul Kholik Hidayah tahun 2014, yaitu sebesar Rp. 6.276. BEP

71 harga usahatani cabai keriting di PT. INAGRO jauh lebih tinggi, hal ini karena total biaya produksi dan total produksi cabai di penelitian terdahulu yaitu di kelurahan Lempake kota Samarinda lebih rendah yaitu dengan total biaya sebesar Rp. 28.320.793 dan total produksi sebesar 4.512,5 kg.

72 BAB VI

Dokumen terkait