GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
4.4 Struktur Organisasi
Struktur organisasi pada PT. Intidaya Agrolestari (INAGRO) termasuk kedalam bentuk lini dan staf. Struktur organisasi ini memberikan gambaran tentang tugas dan tanggung jawab yang ada untuk memperlancar pekerjaan.
Sedangkan tujuan dari pengorganisasian adalah untuk memperlancar pelaksanaan tugas karyawan dan mempermudah pimpinan dalam mengawasi bawahannya.
PT. Intidaya Agrolestari (INAGRO) dipimpin oleh seorang direktur operasional yang membawahi dua belas divisi yaitu keuangan, HR/GA dan legal, training center, kultur jaringan, mikoriza, marketing IT, kebun buah non durian, hidroponik dan durian, tabulampot, perikanan, dan sayuran semusim dan benih (Lampiran 1).
38 4.5 Gambaran Budidaya Cabai Keriting di PT Intidaya Agrolestari
Budidaya cabai keriting di PT. Intidaya Agrolestari meliputi beberapa tahapan diantaranya persiapan lahan, penyemaian, penanaman, pemeliharaan serta panen.
1. Persiapan Lahan
Persiapan lahan dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki struktur tanah sebelum penanaman cabai sehingga diharapkan memperoleh hasil yang maksimal.
Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam pengolahan lahan cabai keriting diantaranya melakukan pengolahan tanah yaitu tanah digemburkan dengan menggunakan cangkul dan garpu dengan kedalaman kira-kira 20 cm agar akar tanaman dapat dengan leluasa memperoleh zat hara yang ada di dalam tanah, dan untuk membuang gulma. Selanjutnya pembuatan bedengan yaitu pada musim hujan dengan lebar 120 cm, tinggi 50 cm, lebar selokan antara 80 cm,dan panjang bedengan ± 12 meter. Musim kemarau lebar bedengan 100 cm, tinggi bedengan sekitar 30 cm, lebar selokan antara 80 cm, dan panjang bedengan
± 12 meter. Pembuatan bedengan dilakukan dengan cangkul, dan tali plastik sebagai patokan agar rapi. Setelah menentukan ukuran bedengan, gali selokan disekeliling bedengan, dan buang tanah galiannya keatas bedengan, setelah itu ratakan tanah yang ada di atas bedengan.
Setelah bedengan siap langkah selanjutnya menaburkan pupuk kandang sekitar 40 kg per bedengan dan kapur dolomit sekitar 4,7 kg perbedengan lalu tutup bedengan dengan mulsa plastik hitam perak dan sekeliling plastik mulsa dijepit dengan pasak yang terbuat dari bambu yang dilekungkan. Tahap
39 selanjutnya pembuatan lubang tanam menggunakan pelat panas berbentuk tabung dengan diameter sekitar 10 cm dan kedalaman sekitar 15 cm seperti pada gambar 7 dibawah ini.
Gambar 7. Pelubangan Mulsa
Lubang tanam cabai keriting untuk musim hujan lebih banyak yaitu 17.000 lubang tanam jika dibandingkan di musim kemarau yaitu 12.000 lubang tanam, hal itu dikarenakan pada musim hujan setiap bedengan terdapat dua baris lubang tanam dengan jarak tanam 70 cm x 60 cm, sedangkan musim kemarau setiap bedengan terdapat hanya satu baris lubang tanam dengan jarak antar tanaman 40 cm x 130 cm, seperti pada gambar 8 dibawah ini.
Gambar 8. Jarak Tanam Tanaman Cabai
Setelah itu pada lubang tanam diberikan furadan dan campuran pupuk kimia seperti urea, SP36, KCL, dan ZA, dengan dosis masing-masing yaitu pada musim hujan furadan 20 kg/ha, urea 154 kg/ha, SP36 232 kg/ha, KCL 309 kg/ha, ZA 154 kg/ha, dan musim kemarau furadan 20 kg/ha, urea 109 kg/ha, SP36 164 kg/ha, KCL 218 kg/ha, dan ZA 109 kg/ha. Kemudian bedengan tersebut
Musim Hujan Musim Kemarau
60
70 40 130
40 dibiarkan selama 10 hari sebelum masa tanam dilakukan agar pupuk yang ditaburkan memiliki waktu untuk diserap dan diuraikan oleh tanah.
2. Penyemaian Benih dan Penanaman
PT. INAGRO dalam proses penyemaian menggunakan tray dan media tanam berupa campuran pupuk kandang dan tanah. Varietas benih yang digunakan oleh PT. INAGRO yaitu jinawi. PT. INAGRO pada musim hujan populasi tanaman cabai yang ditanam dalam satu hektar sebanyak 17.000 pohon, sedangkan pada musim kemarau hanya 12.000 pohon, sehingga jumlah benih cabai yang dibutuhkan jika diasumsikan 1 gram terdapat 170 benih dan untuk penyulaman 10 %, maka benih cabai untuk musim hujan sebanyak 110 gram, sedangkan untuk musim kemarau sebanyak 80 gram. Benih kemudian ditanam satu persatu diatas tray yang telah disiapkan. Penyiraman dengan air menggunakan handsprayer harus dilakukan secara hati-hati. Selanjutnya penyiraman dilakukan hanya ketika media semai mulai mengering.
Setelah bibit berumur 2 minggu atau cirinya sudah memiliki 4 daun sejati, bibit siap ditanam dilahan permanen. Bibit dilepaskan beserta media perakarannya kemudian ditanam di tengah lubang tanam yang telah digali kemudian ditimbun kembali dengan media tanam bekas galian sebelumnya hingga kembali cukup padat. Hal ini bertujuan agar akar tanaman lebih kokoh dan tanaman tidak mudah goyah.
3. Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan setelah bibit ditanam ke bedengan hingga tanaman cabai selesai dipanen. Kegiatan pemeliharaan tanaman cabai keriting
41 antara lain pemasangan ajir, penyulaman, penyiraman, ikat dan perempelan, pemupukan tambahan , pengobatan untuk pengendalian hama dan penyakit, dan penyiangan. Setelah bibit tanaman cabai ditanam di lahan langkah selanjutnya yaitu pemasangan ajir. Pemasangan ajir yaitu penancapan bambu dengan panjang satu meter dan lebar sekitar tiga cm yang berfungsi sebagai penyangga tanaman agar ajek dan tidak roboh terkena embusan angin. Setelah bibit tanaman cabai ditanam di lahan biasanya banyak tanaman cabai yang terkena penyakit sehingga tanaman cabai banyak yang mati dan mengalami pertumbuhan yang lambat, maka dari itu diperlukan penyulaman. PT. INAGRO menyediakan bibit tanaman untuk penyulaman sebanyak 10% dari total bibit yang ditanam.
Penyiraman cabai di musim hujan dilakukan sejak bibit cabai ditanam dilahan sampai dua minggu setelah tanam, menggunakan handsprayer agar tanaman cabai tidak roboh, dan dilakukan dua kali sehari pada saat pagi dan sore bila tidak hujan.
Sedangkan di musim kemarau penyiraman cabai dilakukan sejak bibit cabai ditanam dilahan sampai panen saat pagi dan sore, hal ini karena pada musim kemarau tanaman cabai mudah kekeringan.
Setelah tanaman cabai semakin membesar maka rawan sekali roboh terkena angin, dan tumbuh tunas air yang dapat mengganggu pertumbuhannya, oleh karena itu perlu dilakukan pengikatan pohon cabai ke ajir agar tanaman menjadi kokoh, dan melakukan perempelan yaitu kegiatan memangkas tunas dan daun yang tumbuh di batang utama cabai hingga titik percabangan. Perempelan dilakukan menggunakan tangan hingga ke pangkal tangkai daun. Biasanya hingga muncul percabangan, PT. INAGRO merempel daun dan tunas sebanyak 3- 4 kali.
42 Bunga dan buah pertama yang muncul di percabangan juga termasuk yang dirempel. Tujuannya untuk memaksimalkan pertumbuhan tanaman dan mempertinggi produksi cabai per tanaman.
Penggunaan pupuk kimia untuk pemupukan tambahan diperlukan agar tanaman cabai keriting mendapatkan cukup nutrisi makanan yang tersedia dalam tanah. Pemupukan tambahan dilakukan pada saat 20 hari setelah tanam dengan menggunakan pupuk NPK dan biasanya dilakukan delapan kali susulan selama musim tanam. Pemupukan dilakukan dengan teknik kocoran karenaagar tanah yang sudah tertutup mulsa pada permukaan dapat dengan mudah menyerap nutrisi pupuk, caranya yaitu dengan mencampurkan pupuk dengan air dengan dosis 14,7 gram NPK dicampur dengan satu liter air, dan dosis pemakaian pupuk untuk satu kali susulan sebanyak 200 ml/pohonnya, sehingga pupuk NPK yang diperlukan di musim hujan dengan populasi 17.000 tanaman cabai keriting yaitu400 kg/ha, dan musim kemarau dengan populasi 12.000 tanaman cabai keritingyaitu 282 kg/ha. Selain menggunakan pupuk NPK sebagai unsur makro untuk tanaman cabai, PT. INAGRO juga memberikan Pupuk Pelengkap Cair (PPC) sebagai unsur mikro yang dibutuhkan tanaman cabai. PPC yang diperlukan di musim hujan yaitu 30 liter/ha, dan musim kemarau yaitu 21 liter/ha, dengan dosis 3 ml/liter dan diberikan dalam sebulan tujuh kali.
Pemberian obat-obatan dilakukan dengan tujuan mengendalikan dan mencegah serangan hama serta penyakit pada tanaman cabai keriting. Obat-obatan yang digunakan oleh petani cabai keriting di PT. INAGRO terdiri dari fungisida dan insektisida. Jenis fungisida untuk tanaman cabai keriting yang biasa
43 digunakan diantaranya Caminox 250 SC, Nufarm Kuproxat 345 SC, Ridomil Gold, Utama 250 EC, Nativo, dan Infinito. Sedangkan jenis insektisida yang digunakan antara lain Floric 340 EC, Arrivo 30 EC, Abacel 18 EC, Metachlor 650 EC, dan Duit 18 EC. PT. INAGRO melakukan penyemprotan obat-obatan setiap tujuh kali dalam sebulan. Penggunaan dosis obat-obatan berbeda-beda pada setiap musimnya, untuk musim hujan dengan luas lahan 1 ha, penggunaan fungisida sebanyak 50 liter dan insektisida sebanyak 40 liter, dengan harga rata-rata Rp 200.000 per liternya. Sedangkan musim kemarau dengan luas lahan 1 ha, penggunaan fungisida sebanyak 30 liter dan insektisida sebanyak 50 liter, dengan harga rata-rata Rp 200.000 per liternya.
Kebersihan lahan juga sangat berhubungan dengan serangan hama dan penyakit. Rumput dan gulma yang tidak disiangi akan menjadi lebat sehingga sering dijadikan tempat persembunyian hama pada siang hari.
Selain itu, rumput dan gulma yang tidak dibersihkan juga bisa meningkatkan kelembapan disekitar tajuk tanaman sehingga cendawan, jamur, dan sejenisnya lebih mudah berkembang biak. PT. INAGRO menggunakan mulsa pada lahannya, sehingga para karyawan biasanya melakukan penyiangan hanya satu kali dalam satu bulan
4. Panen
Pemanenan cabai keriting pertama kali dapat dilakukan setelah usia tanaman memasuki bulan keempat atau sekitar 100 hari setelah tanam.
Tanaman cabai keriting di PT. INAGRO rata-rata memiliki usia produktif (masa panen) selama 15 minggu dengan intensitas panen dua kali setiap
44 minggunya. Cara pemetikan buah dilakukan dengan memegang pangkal tangkai buah yang sudah matang kemudian mengungkitnya ke atas sampai terlepas dari percabangan.
Setelah selesai melakukan pemanenan, PT. INAGRO biasanya mengemas cabai keriting hasil panen dalam karung ukuran 40 kilogram. PT.
INAGRO menjual hasil panen kepada pedagang pengumpul di pasar TU Kemang Bogor. PT. INAGRO tidak harus mengantarkan hasil panennya kepada pedagang pengumpul, karena para pedagang pengumpul akan mengambil langsung ke PT. INAGRO sehingga PT. INAGRO tidak mengeluarkan biaya angkut atau transportasi.
45 BAB V