METODOLOGI PENELITIAN
PENEMUAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian
2. Analisis Regresi Jalur a.Analisis Regresi
Dalam analisis ini di bagi menjadi dua bagian. Pertama, melihat pengaruh secara simultan dan kedua, melihat pengaruh secara parsial. 1) Melihat pengaruh nilai tukar, inflasi, SWBI dan JII secara gabungan
atau simultan terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah.
Untuk mengetahui pengaruh nilai tukar, inflasi SWBI dan JII secara gabungan atau simultan terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah, dilihat dari perhitungan model summary, khususnya angka R square di bawah ini.
Tabel 4.6
Hasil Koefisien Determinasi
Model Summary
.836a .698 .662 .12792
Model
1 R R Square
Adjusted
R Square the EstimateStd. Error of Predictors: (Constant), JII, inflasi, nilaitukar, SWBI a.
Sumber : Output SPSS
Besarnya angka R square (r²) adalah 0,698. angka tersebut dapat digunakan untuk melihat besarnya pengaruh nilai tukar, inflasi, SWBI dan JII terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah dengan cara menghitung koefisien determinasi (KD) dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
87 KD = r² x 100 %
KD = 0,698 x 100 % KD = 69,8%
Angka tersebut mengartikan bahwa pengaruh nilai tukar, inflasi, SWBI dan JII terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah adalah 69,8 % .Sedangkan sisanya sebesar 30,2 % ( 100% - 69,8%) dipengaruhi oleh varibel-variabel lain diluar model ini.
Kemudian, untuk mengetahui apakah model regresi di atas sudah benar atau salah diperlukan uji hipotesis. Uji hipotesis menggunakan uji F test berikut ini.
Tabel 4.7 Uji F Regresi ANOVAb 1.249 4 .312 19.077 .000a .540 33 .016 1.789 37 Regression Residual Total Model 1 Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Predictors: (Constant), JII, inflasi, nilaitukar, SWBI a.
Dependent Variable: NAB b.
Sumber : Output SPSS
Dengan membandingkan besarnya angka F penelitian dengan F tabel, dimana F penelitian 19,077 > F tabel 2,66 dan Berdasarkan perhitungan angka signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Sehingga H0 di tolak dan H1 diterima. Artinya ada pengaruh yang signifikan antara nilai tukar, inflasi, SWBI dan JII terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah. Dengan demikian, model regresi di atas sudah layak dan benar. Kesimpulannya, nilai tukar, inflasi, SWBI dan JII
88 secara simultan mempengaruhi reksadana syariah di Indonesia. Besarnya pengaruh adalah 69,8 % dan sisanya sebesar 30,2 % (100% - 69,8%) dipengaruhi oleh variabel lain di luar model regresi tersebut. 2) Melihat pengaruh nilai tukar, inflasi, SWBI dan JII secara sendiri -
sendiri atau parsial terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah Untuk melihat besarnya pengaruh variabel nilai tukar, inflasi, SWBI dan JII secara sendiri - sendiri atau parsial terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah secara parsial, digunakan Uji t, sedangkan untuk melihat besarnya pengaruh, digunakan angka Beta atau
Standardized Coeffecient di bawah ini. Tabel 4.8 Uji t Regresi Coefficientsa -7.900 6.686 -1.182 .246 4.521 1.637 .313 2.761 .009 -30.329 6.228 -.517 -4.870 .000 -51.562 24.663 -.260 -2.091 .044 1.010 .200 .697 5.045 .000 (Constant) nilaitukar inflasi SWBI JII Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardized Coefficients t Sig.
Dependent Variable: NAB a.
Sumber : Output SPSS
(a)Pengaruh nilai tukar terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah. Dengan nilai t hitung sebesar 2,761 > t tabel sebesar 1,68 dan Berdasarkan perhitungan angka signifikansi sebesar 0,009 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya, nilai tukar berpengaruh signifikan terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah.
89 Karena nilai beta menunjukan nilai yang positif, maka pengaruh nilai tukar terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah positif. Besarnya pengaruh nilai tukar berpengaruh terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah sebesar 0,313 atau 31,3%, dianggap signifikan.
(b)Pengaruh inflasi terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah. Dengan nilai t hitung sebesar -4,870 < t tabel sebesar -1,68 dan Berdasarkan perhitungan angka signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya, inflasi berpengaruh signifikan terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah.
Karena nilai beta menunjukan nilai yang negatif, maka pengaruh inflasi terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah negatif. Besarnya pengaruh inflasi terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah sebesar - 0,517 atau -51,7% dianggap signifikan. (c)Pengaruh SWBI terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah.
Dengan nilai t hitung sebesar -2,091 < t tabel sebesar -1,68 dan Berdasarkan perhitungan angka signifikansi sebesar 0,044 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya, SWBI berpengaruh signifikan terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah.
Karena nilai beta menunjukan nilai yang negatif, maka pengaruh SWBI terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah
90 negatif .Besarnya pengaruh SWBI terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah sebesar -0,260 atau -26,7% dianggap signifikan. (d)Pengaruh JII terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah.
Dengan nilai t hitung sebesar 5,045 > t tabel sebesar 1,68 dan Berdasarkan perhitungan angka signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya, JII berpengaruh signifikan terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah.
Karena nilai beta menunjukan nilai yang positif, maka pengaruh JII terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah positif. Besarnya pengaruh JII terhadap nilai aktiva bersih reksadana syariah sebesar 0,697 atau 69,7 % dianggap signifikan.
Tabel 4.9
Hasil Pengujian Secara Parsial
Variabel Koefisien Jalur Signifikansi Kesimpulan Taraf
Nilai Tukar 0,313 0,009 signifikan Inflasi -0,517 0,000 signifikan SWBI -0,260 0,044 signifikan JII 0,697 0,000 signifikan Sumber : Data Diolah
Tabel di atas menjelaskan bahwa semua variabel eksogen
mempunyai pengaruh yang signifikan secara parsial atau sendiri – sendiri terhadap variabel endogen (NAB Reksadana Syariah).
91 b. Analisis Korelasi
Korelasi antara variabel nilai tukar rupiah, inflasi, SWBI dan JII dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.10 Hasil Korelasi Correlations 1 .249 -.435** -.518** .132 .006 .001 38 38 38 38 .249 1 -.263 -.432** .132 .111 .007 38 38 38 38 -.435** -.263 1 .624** .006 .111 .000 38 38 38 38 -.518** -.432** .624** 1 .001 .007 .000 38 38 38 38 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N nilaitukar inflasi SWBI JII
nilaitukar inflasi SWBI JII
Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). **.
Sumber : Outpt SPSS
1) Korelasi antara nilai tukar dengan inflasi
Berdasarkan perhitungan diperoleh angka korelasi antara variabel tingkat nilai tukar dengan inflasi sebesar 0,249. untuk menafsirkan angka tersebut digunakan kriteria sebagai berikut:
0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah ( dianggap tidak ada)
> 0,25 – 0,5 : Korelasi cukup kuat
> 0,5 – 0,75 : Korelasi kuat
> 0,75 – 1 : Korelasi sangat kuat
Korelasi sebesar 0,249 mempunyai maksud hubungan antara variabel nilai tukar dan inflasi sangat lemah dan searah (karena hasilnya
92 positif). Searah artinya jika nilai tukar mengalami kenaikan maka nilai inflasi akan mengalami kenaikan juga. Korelasi dua variabel tersebut bersifat tidak signifikan, karena angka signifikansi sebesar 0,132 > 0,05.
2) Korelasi antara nilai tukar dan SWBI.
Berdasarkan perhitungan diperoleh angka korelasi antara variabel nilai tukar dan SWBI sebesar -0,435. Korelasi sebesar -0,435 mempunyai maksud hubungan antara variabel nilai tukar rupiah dan SWBI yang cukup kuat dan tidak searah (karena hasilnya negatif). Tidak searah artinya jika nilai nilai tukar rupiah mengalami kenaikan maka nilai SWBI akan mengalami penurunan. Korelasi dua variabel tersebut bersifat signifikan, karena angka signifikansi sebesar 0,006 < 0,01.
3) Korelasi antara nilai tukar rupiah dan JII.
Berdasarkan perhitungan diperoleh angka korelasi antara variabel nilai tukar dan JII sebesar -0,518. Korelasi sebesar -0,518 mempunyai maksud hubungan antara variabel nilai tukar dan JII yang kuat dan tidak searah (karena hasilnya negatif). Tidak searah artinya jika nilai tukar rupiah mengalami kenaikan maka JII akan mengalami penurunan. Korelasi dua variabel tersebut bersifat signifikan, karena angka signifikansi sebesar 0,001 < 0,01.
93 4) Korelasi antara Inflasi dan SWBI.
Berdasarkan perhitungan diperoleh angka korelasi antara variabel inflasi dan SWBI sebesar -0,263. Korelasi sebesar -0,263 mempunyai maksud hubungan antara variabel tingkat inflasi dan SWBI cukup kuat dan tidak searah (karena hasilnya negatif). Tidak searah artinya jika nilai inflasi mengalami kenaikan maka nilai SWBI akan mengalami penurunan. Korelasi dua variabel tersebut bersifat tidak signifikan, karena angka signifikansi sebesar 0,111 > 0,05.
5) Korelasi antara inflasi dan JII.
Berdasarkan perhitungan diperoleh angka korelasi antara variabel inflasi dan JII sebesar -0,432. Korelasi sebesar - 0,432 mempunyai maksud hubungan antara variabel tingkat Inflasi dan JII yang cukup kuat dan tidak searah (karena hasilnya negatif). Tidak searah artinya jika nilai inflasi mengalami kenaikan maka JII akan mengalami penurunan. Korelasi dua variabel tersebut bersifat signifikan, karena angka signifikansi sebesar 0,007 < 0,01.
6) Korelasi antara SWBI dan JII.
Berdasarkan perhitungan diperoleh angka korelasi antara variabel SWBI dan JII sebesar 0,624. Korelasi sebesar 0,624 mempunyai maksud hubungan antara variabel SWBI dan JII yang kuat dan searah (karena hasilnya positif). Searah artinya jika SWBI mengalami kenaikan maka nilai JII akan mengalami kenaikan juga. Korelasi dua
94 variabel tersebut bersifat signifikan, karena angka signifikansi sebesar 0,000 < 0,01.
Tabel 4.11
Analisis Korelasi Variabel Eksogen
Variabel Koefisien Korelasi Hubungan Signifikansi Kesimpulan Taraf
Nilai Tukar dan
Inflasi 0,249
Sangat
Lemah 0,132 Tidak Signifikan Nilai Tukar dan SWBI -0,435 Cukup Kuat 0,006 Signifikan** Nilai Tukar dan
JII -0,518 kuat 0,001 Signifikan ** Inflasi dan
SWBI -0,263 Cukup Kuat 0,111 Tidak Signifikan Inflasi dan
JII -0,432 Cukup Kuat 0,007 Signifikan** SWBI dan
JII 0,624 Kuat 0,000 Signifikan** ** Signifikan pada alfa 0.01
* Signifikan pada alfa 0.05 Sumber : Data diolah
Tabel di atas menjelaskan mengenai besarnya hubungan atau korelasi antara masing–masing variabel eksogen dalam model penelitian yang ditunjukan dengan besarnya koefisien korelasi dan taraf signifikansi sebesar 0,05 (5 %) dan 0,01 (1%).