4.3 Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.3.4 Analisis Scenes 4
Frame 4-1 menit: 00:30:50 Frame 4-2 menit: 00:31:33
Frame 4-3 menit: 00: 34:14
Frame 4-1 : Seorang anggota Chelsea melempar batu dan mengenai kaca mobil Dave.
Frame 4-2 : Matt tersungkur akibat di pukul oleh salah satu anggota Chelsea
Frame 4-3 : Kerumunan west ham yang datang membantu teman-temannya yang diserang oleh supporter Chelsea.
Bentrok (sign)
Suporter (Object) Tempat sepi biasa dijadikan dua kelompok suporter sepakbola yang melakukan perkelahian (Interpretan)
Table 4.0.4 Pembagian Tanda Scenes 4
Sign Qualisign Dua kelompok suporter sepak bola chelsea dan West ham united yang berkelahi.
Sinsign Wajah pria berjaket biru yang memar terluka
Legisign Bentrokan suporter sepakbola yang meresahkan masyarakat Object Ikon Lima orang suporter yang sedang berkelahi
Indeks Ekspresi wajah pria bertopi dan gestur lengan yang menggengam.
Simbol Ekspresi wajah pria berkepala botak, dan pria berjaket biru yang terpental menerima pukulan
Interpr etan
Rheme Dua kelompok suporter sepakbola yang berada disuatu tempat yang sepi
Dicent Tempat sepi yang dijadikan lokasi bertemunya dua kelompok suporter sepakbola
Argument Lokasi yang jauh dari keramaian masyarakat dijadikan tempat bertemunya dua kelompok suporter sepakbola untuk beradu kekerasan
Dari gambar di atas tanda-tanda non verbal yang didapatkan berupa eksprsi wajah pria berkepala botak, ekspresi wajah pria bertopi, gesture lengan pria bertopi, ekspresi pria berjaket biru, latar lokasi, dan ekspresi wajah pria yang berada paling belakang pada gambar.Teknis pengambilan gambar yang diambil pada scene ini adalah medium shot, high angel dan
low close up. Teknik medium shot untuk menjelaskan hubungan antarpersonal, hubungan antara satu dengan yang lainnya, high angel untuk menjelaskan tindak keanarkisan yang terjadi di sekitar lokasi, sedangkan
low angel untuk menjelaskan tindakan apa yang dilakukan oleh supporter tersebut (Ardiansyah 2005). Sedangkan teknik close up memberi penjelasan pada pesan keanarkisan yang sengaja di visualisasikan pada seoarang anggota baru klub west ham yang sedang dipukul.
Pada potongan gambar diatas jika dilihat berdasarkan qualisgn.
Qualisign yang ada pada gambar diatas divisualisasikan dua kelompok supporter Chelsea dan west ham united melakukan tindak keanarkisan. Dalam pengertiannya suatu kekerasan dapat timbul dan terjadi dikarenakan berkembangnya kebencian yang meluas terhadap suatu sasaran tertentu. Sasaran kebencian ini berkaitan dengan faktor pencetus, yaitu peristiwa tertentu yang mengawali atau memicu suatu kerusuhan (Walgito 2006: hal 96). Dendam pribadi dan dendam antar kelompok dapat memicu perkelahian diantara dua belah kubu. Menurut Bimo Walgito pada tahun 2006 berdasarkan psikologi, dijelaskan bagaimana kelompok lain akan dengan sengaja menghilangkan rasa empati mereka terhadap kelompok lainnya, dengan tujuan dimana mereka ingin mempertahankan harga diri dari masing-masing kelompok.
Hambatan psikologis pada potongan gambar diatas, menurut peneliti yaitu mengenai kepentingan (interest), prasangka (prejudice), dan steorotip (stereotype). Disebut sebagai hambatan psikologis karena hambatan-hambatan tersebut merupakan unsur-unsur dari kegiatan psikis manusia (Walgito 2006: hal 97). Selain itu dilatar belakangi juga dengan
adanya konflik atas pertandingan Chelsea berlaga melawan west ham united yang baru saja selesai. Para masing-masing supporter kedua belah pihak saling beradu ego yang didasari harga diri firma mereka. Kurang mampunya mereka untuk mengendalikan ego masing-masing berimbas kepada keseluruhan anggota dan masyarakat yang merasakan keresahan atas perilaku anarkis yang dilakukan oleh supporter-suporter tersebut.
Alex Sobur (2003: hal 41 ) menjelaskan Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa yang ada pada tanda. Tanda yang merupakan tanda atas dasar tampilan dalam kenyataan. Sinsign yang ada pada gambar peristiwa bentrok tersebut dilihat dari latar tempatnya, yang menunjukkan
setting an, tempat yang terlihat sepi dan jauh dari pihak keamanan yang ketat. Dalam kompleksitas dari penggambaran visual yang harifah hingga simbol-simbol yang paling abstrak dan arbitrer serta metafora. Menurut Alex Sobur (2003) Metafora visual sering menyinggung objek-objek dan simbol-simbol dunia nyata serta mengonotasikan makna-makna sosial dan budaya. Pada tataran gambar bergerak, kode-kode gambar dapat di internalisasikan sebagai bentuk representasi mental.
Wajah pria berjaket biru yang memiliki luka memar menandakan kejadian yang sebenarnya sedang terjadi. Luka memar terjadi akibat pukulan, maka luka memar tersebut menandakan ada suatu peristiwa keanarkismean yang sedang terjadi di antara dua kelompok suporter sepakbola.
Dilihat berdasarkan Legisign. Legisign adalah norma yang dikandung oleh tanda. Tanda-tanda lalu lintas merupakan legisigns. Hal itu juga dapat dikatakan dari gerakan isyarat tradisonal, seperti mengangguk yang berarti “ya”, mengerutkan alis, cara berjabat tangan (Sobur 2003: hal 41). Legisign
yang ada pada foto tersebut menunjukkan bahwa tindak keanarkisan di lingkup suporter merupakan tindakan yang tidak etis, tindakan seperti itu mengakibatkan tercorengnya nama suporter sepakbola dipandangan masyarakat. Sebagai seorang supporter sepak bola pun etika supporter juga dibutuhkan untuk menjaga prilaku. Pentingnya bukan hanya untuk menjaga prilaku terhadap teman sekelompok, melainkan juga untuk melindungi atau menghindarkan seseorang dari kemungkinan dampak yang merugikan dari tindakan atau perilaku keliru dari supporter yang bersangkutan (Wirawan S 2008: hal 136). Tindakan perovokator dalam suatu kerumunan seperti ini menjadi masalah besar, tingkat emosional suporter yang mudah berapi-api disalah gunakan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mengadu satu dengan yang lainnya. Pesan adegan disini ialah lebih difokuskan kepada seseorang anggota baru west ham united yang dipukul oleh pihak lawan, dan bukti visualisasi kekerasan pada adegan ini terlihat pada seoarang suporter west ham united yang memakai jaket biru yang telah babak belur akibat dipukul oleh pihak lawan.
Hasil analisis berdasarkan objek pada potongan scene diatas dilihat dari ikon. Ikon adalah tanda yang dicirikan oleh persamaannya dengan
objek yang digambarkan. Tanda visual seperti potongan scene dalam sebuah film adalah ikon, karena tanda yang ditampilkan mengacu pada persamaanya dengan objek.
Potongan gambar dari scene diatas dapat dilihat dari mulai latar belakang tempatnya, dari dua kelompok supporter, hingga pada tindakan-tindakan perkelahian dapat dijadikan suatu ikon karena dilihat dari situasi latar tempatnya menandakan lokasi itu sepi dari masyarakat yang menyebabkan memberi peluang untuk kedua kelompok supporter melakukan perkelahian atau keributan. Visualisasi dua kelompok supporter yang saling berkelahi tersebut memperlihatkan berkembangnya prasangka kebencian yang meluas terhadap suatu sasaran tertentu. Sasaran kebencian ini berkaitan dengan faktor pencetus, yaitu peristiwa tertentu yang mengawali atau memicu suatu kerusuhan (Widodo 2006: hal 82).
Indeks pada potongan scene tersebut adanya kekesalan yang diekspresikan oleh salah satu anggota west ham yang menggenggam tangannya untuk memukul menunjukkan bahwa ada kekerasan yang timbul di tempat tersebut, karena ego dari para supporter yang begitu tinggi yang mengakibatkan perkelahian itu terjadi. Sedangkan, makna dari suatu simbol ditentukan oleh suatu persetujuan bersama, atau diterima oleh umum sebagai suatu kebenaran tanda. Simbol yang didapat pada gambar tersebut menurut peneliti adalah ekspresi wajah bahagia dan penggambaran seorang anggota west ham yang tersungkur akibat pukulan yang diberikan oleh
lawannya, menandakan bahwa konflik kekerasan itu terjadi. Simbol tidak dapat disikapi secara isolatif, terpisah dari hubungan asosiatifnya dengan simbol lainnya.
Walaupun demikian berbeda dengan bunyi, simbol telah memiliki kesatuan bentuk dan makna. Peneliti pun mendapatkan simbol-simbol yang menjelaskan bahwa tindak keanarkismean itu terjadi. Dari eksprsi wajah pria berkepala botak, ekspresi wajah pria bertopi, gesture lengan pria bertopi, ekspresi pria berjaket biru, latar lokasi, dan ekspresi wajah pria yang berada paling belakang pada gambar, itu semua dapat menandakan bagaimana tindak keanarkisan.
Dalam konteks komunikasi non verbal, Argyle menyebutkan, postur, ekspresi wajah seringkali terkait dengan sikap interpersonal: bersahabat, bermusuhan, superioritas atau inferiroritas yang semuanya bisa ditunjukan lewat postur dan ekspresi (John Fiske 2006: hal 70). Pada gambar diatas terlihat gesture tubuh pada supporter west ham yang akan memukul pria berbaju hitam, pria tersebut menunjukkan sikap bermusuhan. Meskipun kedekatannya berada dalam jarak lingkar 3 kaki, dimana dijelaskan oleh Argyle bahwa kedekatan dalam jarak lingkar 3 kaki merupakan suatu hubungan relasi intim, namun dalam foto diatas tidak memperlihatkan sebuah keintiman dalam suatu relasi atau hubungan melainkan melambangkan sikap bermusuhan. Pada gambar diatas peneliti dapat
mengatakan bahwa dari luka yang ada di wajah pria berjaket biru menandakan tindak kekerasan yang tejadi.