4.3 Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.3.5 Analisis Scenes 5
Frame 5-1 menit: 01:11:50 Frame 5-2 menit: 01:12:00
Gambar 4.0.14 Bagian scenes 5
Frame 5-1 : Pete dan teman-temannya melakukan pengeroyokan terhadap Matt. Kakak Pete yang ada disitu melerai perkelahian karena hanya kesalah pahaman dengan perkataan “Kakak Pete: kau tahu apa yang kau lakukan? Pete: Dia menyamar!”
Frame 5-2 : Matt yang memiliki luka diwajahnya berkata “itu hanya buku harian”
Kekerasan (Sign)
Bar (object) Tingkat agresif seseorang dapat terpengaruh atas alkohol yang dikonsumsi (Interpretant).
Table 4.0.5 Pembagian Tanda Scenes 5
Sign Qualisign Matt yang di pukuli oleh bovver dan pete Sinsign Ekspresi wajah matt yang jatuh ke lantai
Legisign Pemukulan berdasarkan kesalah pahaman antar anggota Object Ikon Anggota west ham berdiri yang sedang menghakimi Matt
yang berbaring di lantai
Indeks Ekspresi shock yang diperlihatkan dengan gerak lengan Simbol Wajah matt yang terluka hingga berdarah
Interpr etan
Rheme Berdasarkan permasalahan antara matt dan teman kelompoknya
Dicent Pemukulan yang dilakukan didalam BAR
Argument Perkataan matt yang menjelaskan bahwa itu hanya sebuah buku harian.
Dari gambar di atas divisualisasikan matt yang dipukuli oleh pete dan bovver dikarenakan kesalah pahaman yang disebabkan tulisan jurnal yang dibuat oleh matt, hal itu membuat pete dan bovver kecewa dan marah. Matt dipukuli oleh bovver dan pete dikarenakan bovver dan pete yang mencurigai matt adalah seorang jurnalis/wartawan media.
Dari gambar di atas terdapat tanda-tanda non verbal yang berupa eksprsi wajah matt, gesture lengan matt, dan latar lokasi. Teknis pengambilan gambar yang diambil pada scene ini adalah Medium shot dan
High angel. Teknik medium shot untuk menjelaskan hubungan antarpersonal, hubungan antara satu dengan yang lainnya (Ardiansyah 2005)sedangkan teknik close up menggunakan high angel. Biasanya dalam penggambilan gambar menggunakan high angel ingin menunjukkan bahwa objek dalam keadaan lemah dan tidak berdaya, serta menurut Selby dan Cowdery (2007: hal 6) pengambilan gambar menggunakan high angel menceritakan adanya dominasi dan perbedaan kekuasaan. Hal ini dapat dilihat dari gambar pria yang tergeletak dilantai.
Alex Sobur (2003: hal 41 ) menjelaskan Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa yang ada pada tanda. Tanda yang merupakan tanda atas dasar tampilan dalam kenyataan. Sinsign yang ada pada gambar peristiwa pemukulan tersebut dilihat dari latar tempatnya, yang menunjukkan setting an, latar tempat terjadinya, menjadi petanda bahwa bar merupakan tempat dimana orang-orang yang mengkonsumsi alkohol.
Tindakan agresi seperti diatas merupakan akibat penyalahgunaan zat atau alkohol dan riwayat prilaku kriminal lebih jauh lebih kuat terkait dengan kriminalitas yang disertai kekerasan (Walgito 2006: hal 95).
Dalam kompleksitas dari penggambaran visual yang harifah hingga simbol-simbol yang paling abstrak dan arbitrer serta metafora. Menurut Alex Sobur (2003) Metafora visual sering menyinggung objek-objek dan simbol-simbol dunia nyata serta mengonotasikan makna-makna sosial dan budaya. Pada tataran gambar bergerak, kode-kode gambar dapat di internalisasikan sebagai bentuk representasi mental.
Dilihat berdasarkan Legisign. Legisign adalah norma yang dikandung oleh tanda. Tanda-tanda lalu lintas merupakan legisigns. Hal itu juga dapat dikatakan dari gerakan isyarat tradisonal, seperti mengangguk yang berarti “ya”, mengerutkan alis, cara berjabat tangan (Sobur 2003: hal 41). Legesign pada gambar diatas adalah bagaimana matt yang di pukuli hingga mengeluarkan darah tanpa membicarakan atau mencari tahu kebenaran atas prasangka buruk. Yang sebaliknya pete dan bovver menghakimi matt dengan berutal. Machieavelli (2006: hal 95) pernah mengatakan bahwa, kekerasan menjadi absah untuk mempertahankan ancaman dan dapat dipraktekkan oleh penguasa. Kecintaan yang lebih adalah faktor dari semua ini. Kekhasan untuk menggambarkan manusia dalam persepektif cinta memberikan kesan filosofi yang mendalam bahwa kehidupan seni mencintai (the art of loving) (Walgito 2006: hal 95). Maka
dengan cinta manusia berubah dengan sadis, ambisius, dan bahkan mematikan.
Ikon yang terdapat pada potongan gambar diatas adalah anggota west ham berdiri yang sedang menghakimi Matt yang berbaring di lantai yang berada didalam sebuah bar. Sedangkan indeks yang terdapat pada gambar diatas adalah ekspresi shock yang di gambarkan oleh wajah matt, dan ekspresi wajah kesal para anggota lainnya. Gerak tangan matt yang mengusap/membersihkan luka di wajahnya pun merupakan indeks yang terdapat didalamnya. Simbol yang didapatkan dari potongan gambar diatas adalah kata-kata anggota lain yang menuduh matt adalah seorang wartawan media, dan sedangkan matt mengakuinya bahwa itu semua hanya sebuah buku harian. Berdasarkan simbol tersebut, peneliti dapat menjabarkan bahwa tindak salah paham seperti ini didalam suporter sepakbola dapat mengakibatkan akibat yang amat sangat fatal. Keanarkismean mereka bisa keluar dimana dan kapan saja.
Perilaku yang digambarkan pada scene diatas menurut faktor psikologis menurut Sigmund Freud (2006: hal 94) dalam diri manusia ada naluri kematian yang ia sebut pula thanatos yaitu energy yang bertujua untuk perusak. Agresi terutama berakar dalam naluri kematian yang diarahkan bukan ke dalam diri sendiri melainkan diarahkan pada orang lain. Dan jika dilihat dari faktor situasionalnya termasuk dalam faktor ini antara lain adalah rasa kecewa, kesal, marah dan ia tidak tahu bagaimana cara
semestinya untuk mengungkapkan perasan-perasaan itu, maka ia melampiaskan dengan perilaku agresif.
Dalam hal ini dapat menimbulkan kategorisasi prasangka ingroup
dan outgroup. Apabila ada kategorisasi kita (us) dan mereka (them), maka akan menimbulkan ingroup dan outgroup. Seseorang dalam suatu kelompok merasa dirinya sebagai ingroup dan orang lain dalam kelompok lain sebagai outgroup. Ada beberapa dampak yang akan timbul dalam kategori
ingoup, yaitu: Anggota ingroup mempersepsi anggota ingroup yang lain lebih mempunyai kesamaan apabila dibandingkan dengan anggota
outgroup. Hal seperti demikianlah yang sering disebut similarity effect. Jadi, keadaan ingroup mempunyai sifat-sifat yang berbeda dengan
outgroup. Hal diatas dapat menimbulkan prasangka satu dengan yang lain. Tidak jarang terjadi prasangka antara satu kelompok dengan kelompok yang lain (Walgito 2006: hal 96).