• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.3 Hasil Penelitian dan Pembahasan

4.3.1 Analisis Scenes 1

Frame 1-1 - menit 00:01:53 Frame 1-2 – menit 00:01:54

Frame 1-1 : supporter tothenham melontarkan penghinaan kepada supporter west ham united.

Frame 1-2 : Salah satu anggota West ham united merasa emosi atas perilaku penghinaan yang dilontarkan kelompok tothenham.

Penghinaan (Sign)

Meludahi (Object) Tindakan supporter yang melecehkan dan menghina kelompok lain. (Intepretant)

Table 4.0.1 Pembagian Tanda Scenes 1

Sign Qualisign Enam orang suporter totthenham berusia sedang bernyanyi dan bersorak menghina suporter west ham united.

Sinsign Laki-laki dengan tubuh besar dari pihak totthenham yang meludah ke arah pihak west ham.

Legisign Meludah kearah seseorang didalam kode etik itu tindakan yang tidak baik.

Object Ikon Dua kelompok suporter sepak bola totthenham united dan West ham united yang beradu menghina.

Indeks Salah seorang pihak west ham united menunjuk dengan ekspresi marah

Simbol Kata-kata “kau keparat.kau” yang diucapkandengan penuh emosi oleh pihak west ham united

Interpr etan

Rheme Dilihat dari keseluruhan gambar yang menandakan terjadinya tindak anarkisme

Dicent Keributan antar dua kelompok suporter menjadi pemandangan yang tidak etis terjadi di stasiun kereta api. Argument Tindakan dua belah pihak yang memicu kekerasan.

Dari gambar 1, 2 di atas tanda-tanda non verbal yang didapatkan berupa latar belakang yang cukup sepi di stasiun kereta, dua kelompok supporter, gesture tangan yang merentang, laki-laki yang berbadan tinggi besar sedang meludahi ke arah lawan, seorang laki-laki dengan pakaian berjaket biru dongker berambut pendek menunjuk dan berkata kasar. Teknis pengambilan gambar yang diambil pada scene pertama ini adalah

long shot dan close up. Teknik long shot memberikan gambaran setting

latar berada di tempat stasiun kereta, dan bagaimana keadaan yang terjadi di sekitar objek utama pada foto. Sedangkan penggunaan close up pada foto diatas bertujuan untuk menunjukkan bagaimana ekspresi (Wright Terence 1999).

Pada gambar diatas jika dilihat berdasarkan qualisgn. Qualisign

adalah kualitas yang ada pada tanda. Kata keras menunjukkan suatu tanda. Misalnya, suaranya keras yang menunjukkan orang itu marah atau ada sesuatu yang diinginkan (Sobur 2003: hal 41). Qualisign yang ada pada gambar diatas divisualisasikan sekelompok supporter tottenham yang berada di stasiun kereta api bertemu dengan kelompok west ham united. Enam orang supporter totthenham yang melontarkan penghinaan kepada supporter west ham united. Dilihat dari penghinaan yang dilontarkan menandakan ketua dari supporter totthenham memiliki dendam terhadap ketua west ham. Dalam pengertiannya suatu kekerasan dapat timbul dan terjadi dikarenakan berkembangnya kebencian yang meluas terhadap suatu sasaran tertentu. Sasaran kebencian ini berkaitan dengan faktor pencetus, yaitu peristiwa tertentu yang mengawali atau memicu suatu kerusuhan (Walgito 2006: hal 96). Dendam pribadi yang dimiliki oleh ketua

totthenham ini berimbas kepada semua anggotanya, yang dimana mau tidak mau para anggota mereka pun harus ikut merasakan dendam yang dirasakan oleh ketua mereka. Menurut Bimo Walgito (2006: hal 96)

berdasarkan psikologi massa, bagaimana kelompok lain dengan sengaja menghilangkan rasa empati mereka terhadap kelompok lainnya, dengan tujuan dimana mereka ingin mempertahankan harga diri dari masing-masing kelompok. Dari perkataan dan yel-yel kasar yang dilontarkan oleh supporter totthenham kepada supporter west ham united menandakan bahwa mereka tidak akan memberi pengampunan kepada west ham united.

Walgito Bimo pada tahun 2006 menjelaskan bahwa hambatan yang termasuk dalam hambatan psikologis adalah kepentingan (interest), prasangka (prejudice), steorotip (stereotype), dan motivasi (motivasion). Disebut sebagai hambatan psikologis karena hambatan-hambatan tersebut merupakan unsur-unsur dari kegiatan psikis manusia.. Selain itu dilatar belakangi juga dengan adanya konflik atas pertandingan totthenham berlaga melawan west ham united yang akan mulai. Para masing-masing supporter kedua belah pihak saling beradu ego yang didasari harga diri firma mereka. Kurang mampunya mereka untuk mengendalikan ego masing-masing berimbas kepada keseluruhan anggota dan masyarakat yang merasa resah dan takut.

Kekurangan empati pada diri masing-masing supporter merupakan faktor yang berkontribusi terhadap kekerasan yang terjadi antar dua belah pihak supporter sepak bola, seperti yang ada pada gambar diatas. Sedangkan pihak west ham yang menunjuk dengan berkata “kau keparat.kau” menandakan bahwa dirinya merasa tersinggung dan kesal atas

penghinaan yang diucapkan pihak totthenham. Raut wajah yang terlihat begitu besar amarah yang muncul, menandakan bahwa mereka pihak west ham tidak akan berdiam diri. Symbol mewakili sumber acuannya dalam cara yang konvensional. Kata-kata pada umumnya merupakan symbol. Tetapi penanda manapun sebuah objek, suara, sosok, dan seterunya dapat bersifat simbolik. Tangan yang menunjuk menandakan keamarahan, menunjukkan lokasi tempat dan seterusnya (Marcel Danesi 2004: hal 45).

Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa yang ada pada tanda. Tanda yang merupakan tanda atas dasar tampilan dalam kenyataan. Semua pernyataan individual yang tidak dilambangkan dapat merupakan

setting. Misal jerit kesakitan, heran atau ketawa riang. Kita dapat mengenal orang dan cara berjalan, ketawanya, nada suara yang semuanya itu merupakan sinsigns (Sobur 2003: hal 42).

Sinsign yang ada pada gambar peristiwa bentrok tersebut dilihat dari latar tempatnya, yang menunjukkan setting an, tempat yang terlihat sepi dan jauh dari pihak keamanan yang ketat, dan seorang peria bertubuh tinggi besar mengenakan jaket berwarna krem meludahi pihak lawan dengan sengaja, yang bertujuan menghina kelompok supporter west ham. Dalam kompleksitas dari penggambaran visual yang harifah hingga simbol-simbol yang paling abstrak dan arbitrer serta metafora. Metafora visual sering menyinggung objek-objek dan simbol-simbol dunia nyata serta mengonotasikan makna-makna sosial dan budaya. Pada keabsahannya

petanda meludahi orang dengan secara sengaja itu merupakan tindakan yang tidak etis, tindakan seperti itu mengakibatkan kekerasan diantara banyak pihak (Alex Sobur 2003: hal 42). Pada tataran gambar bergerak, kode-kode gambar dapat diinternalisasikan sebagai bentuk representasi

mental. Jadi, orang (dan sering) berfikir dalam gambar bergerak dengan kilas balik, gerakan cepat dan lambat, pelaturan ke dalam waktu lain dan tempat lain.

Kejadian yang ditunjukkan gambar diatas yang berawal dari hinaan yang akirnya mencapai titik akhir tindak kekerasan pun terjadi. Kita ketahui banyak kejadian-kejadian, banyak konflik-konflik yang didasari atas tindak kekerasan yang dilakukan sebuah kerumunan, terutama yang sudah tidak lazim terjadi adalah tindak kekerasan yang terjadi atas pemberontakan dari supporter-supporter sepak bola di berbagai belahan dunia. Semua itu terjadi berdasarkan mereka yang tidak dapat membuat sebuah pertahanan ego. Sebagai sistem yang bertugas mengelola energi-energi yang datang dari kedua sistem yang lain, ego seringkali berada dalam keadaan yang tidak menyenangkan, seperti ketegangan dan kecemasan ( Wirawan S 2008: hal 126).

Peristiwa kekerasan yang terjadi di dalam film green street holigans ini disebabkan tidak bisa nya mereka dalam membuat pertahanan ego dalam diri mereka. Hal ini dapat disebabkan karena psikologi mereka yang mengalami sedikit gangguan. Gangguan psikologi seperti ini dapat

dikarenakan terlalu sering dan banyaknya mengkonsumsi alkohol. Pada dasarnya alkohol dapat merubah sistem emosional dalam tubuh seseorang, sehingga orang susah dalam mengontrol emosinya sendiri.

Dilihat berdasarkan Legisign. Legisign adalah norma yang dikandung oleh tanda. Tanda-tanda lalu lintas merupakan legisigns. Hal itu juga dapat dikatakan dari gerakan isyarat tradisonal, seperti mengangguk yang berarti “ya”, mengerutkan alis, cara berjabat tangan (Alex Sobur 2003: hal 42).

Legisign yang ada pada foto tersebut menunjukkan bahwa meludahi orang dengan secara sengaja itu merupakan tindakan yang tidak etis, tindakan seperti itu mengakibatkan kekerasan diantara banyak pihak. Sebagai seorang supporter sepak bola pun etika supporter juga dibutuhkan untuk menjaga prilaku. Pentingnya bukan hanya untuk menjaga prilaku terhadap teman sekelompok, melainkan juga untuk melindungi atau menghindarkan seseorang dari kemungkinan dampak yang merugikan dari tindakan atau perilaku keliru dari supporter yang bersangkutan (Wirawan S 2008: hal 136).

Setiap supporter harus memiliki etika dalam mendukung yang mengatas namakan pembela team kesayangan mereka. Jika dilihat potongan scene dalam film green street holigans ini, mereka tidak lagi menjaga nama baik team kesayangan yang mereka idolakan. Namun sebaliknya, mereka hanya memegang teguh mempertahankan kehormatan firma (kelompok) mereka dengan berbagai cara. Agar firma mereka dapat di takuti dan di

hargai oleh firma-firma lainnya. Yang dimana permasalahan itu timbul atas perselisihan antar pribadi. Seperti yang dijelaskan oleh gambar di atas, awal mula permasalahan terjadi hanya berdasarkan dendam pribadi antara ketua satu dan ketua pihak lain, yang akhirnya berunjuk kepada permasalahan antar firma (kelompok).

Hasil analisis berdasarkan objek pada potongan scene diatas dilihat dari ikon. Menurut Alex Sobur (2003: hal 42) Ikon adalah tanda yang dicirikan oleh persamaannya dengan objek yang digambarkan. Tanda visual seperti potongan scene dalam sebuah film adalah ikon, karena tanda yang ditampilkan mengacu pada persamaanya dengan objek. Potongan gambar dari scene diatas dapat dilihat dari mulai latar belakang tempatnya, dari dua kelompok supporter, hingga pada tindakan-tindakan penghinaan dapat dijadikan suatu ikon karena dilihat dari situasi latar tempatnya menandakan lokasi itu sepi dari masyarakat yang menyebabkan memberi peluang untuk kedua kelompok supporter melakukan perkelahian atau keributan (Widodo 2006: hal 81). Visualisasi dua kelompok supporter yang saling menghina tersebut memperlihatkan berkembangnya prasangka kebencian yang meluas terhadap suatu sasaran tertentu. Sasaran kebencian ini berkaitan dengan faktor pencetus, yaitu peristiwa tertentu yang mengawali atau memicu suatu kerusuhan (Widodo 2006: hal 82).

Menurut Alex Sobur (2003: hal 42) Indeks adalah hubungan langsung antara sebuah tanda dan objek yang kedua-duanya dihubungkan.

Indeks, merupakan tanda yang hubungan eksistensinya langsung dengan objeknya. Sebuah indeks dapat dikenali bukan hanya dengan melihat seperti halnya dalam ikon, tetapi juga perlu dipikirkan hubungan antara dua objek tersebut. Indeks pada potongan scene tersebut adanya kekesalan yang diekspresikan oleh salah satu anggota west ham menunjukkan bahwa ada kekerasan yang timbul disekitar tempat tersebut, karena hinaan dan celaan terhadap kelompok west ham itulah yang mengakibatkan kemarahan yang dirasakan oleh salah satu anggota tersebut. Peristiwa penghinaan dengan perkataan dan tindakan meludahi yang menjadi indeks dalam potongan scene dua kelompok supporter.

Sedangkan Simbol menurut alex sobur (2003: hal 155) adalah tanda yang memiliki hubungan dengan objeknya berdasarkan konvensi, kesepakatan, atau aturan. Ada pula yang menyebut simbol, yang berarti tanda atau ciri yang memberitahukan sesuatu hal kepada seseorang. Makna dari suatu simbol ditentukan oleh suatu persetujuan bersama, atau diterima oleh umum sebagai suatu kebenaran tanda. Simbol yang didapat pada gambar tersebut menurut peneliti adalah perkataan “kau keparat. kau” yang dituturkan oleh salah satu anggota west ham menandakan bahwa konflik kekerasan itu terjadi. Berdasarkan semiotika yang membahas akan simbol-simbol, perkataan seperti yang diucapkan diatas yang berarti melemparkan bersama suatu (benda, perbuatan) dikaitkan dengan suatu ide. (Hartoko & Rahmanto, 1998: hal 133). Simbol tidak dapat disikapi secara isolatif,

terpisah dari hubungan asosiatifnya dengan simbol lainnya. Walaupun demikian berbeda dengan bunyi, simbol telah memiliki kesatuan bentuk dan makna.

Peneliti mencoba menganalisis terjadinya simbol kekerasan juga disebabkan akibat dari masing-masing kelompok yang tidak bisa memberikan pertahanan ego dalam diri mereka. Tingkat empati yang sudah tidak digunakan dalam diri mereka terhadap kelompok-kelompok lain. Masyarakat lain sering menjadi korban atas perilaku dan tidak ke empatiannya mereka terhadap lingkungan sekitar. Proses yang kacau seakan-akan membuat supporter sepak bola menjadi suatu kerumunan yang terpuruk dari segi kemanusiaannya.

Hasil dari analisis berdasarkan klasifikasi interpretan, peneliti dapat menjabarkan bahwa Rheme adalah tanda yang memungkinkan orang menafsirkan berdasarkan pilihan (Sobur 2003: hal 44). Rhame yang ada pada foto dalam penelitian dilihat dari keseluruhan foto menandakan terjadinya konflik kekerasan baik kekerasan mental maupun keanarkismean fisik. Dilihat dari latar belakang permasalahannya yang dimana sorang

holigans akan bertindak kasar apabila dirinya sudah merasakan hal yang membuat diri dan kelompoknya kesal. Seperti hal nya yang divisualisasikan pada gambar diatas, tindakan-tindakan yang tidak etis dilakukan seakan itu adalah tindakan yang wajar untuk seorang musuh. Bagaimana musuh harus dilihat dengan sebelah mata dan hanya harus mendapatkan hinaan.

Jika dilihat dari dicentsign peneliti menjabarkan bahwa dicentsign

adalah tanda sesuai dengan kenyataan yang ada. Dicentsign pada foto diatas menurut peneliti merupakan suatu pamandangan yang sangat memalukan kenyataan bahwa nama persepak bolaan dunia hanya dirusak oleh para kelompok-kelompok holigans yang pada dasarnya holigans ini adalah supporter dari team yang mereka idolakan. Keanarkismean yang terjadi ditempat umum membuat dan mencoreng nama baik suporter sepak bola. Yang pada akhirnya banyak masyarakat yang membenarkan hal itu, bahwa suporter sepak bola hanya segelincir kerumunan yang bisanya hanya membuat keanarkismean dan perusakan atas segala hal. Peneliti mendapatkan argument atas apa yang telah divisualisasikan dari gambar tersebut. Dua belah pihak yang memicu keanarkismean karena didasari atas hilangnya rasa empati dari masing-masing kelompok.

Dokumen terkait