DAFTAR LAMPIRAN
2. TINJAUAN PUSTAKA
3.4 Analisis Data
3.4.2 Analisis Skala Prioritas Pemanfaatan Ruang
Analisis skala prioritas pemanfaatan ruang ini menggunakan metode multi criteria decision making (MCDM) dan diarahkan pada relevansi keputusan jenis pemanfaatan ruang di pulau kecil yang akan lebih tepat, cocok, dan representatif sebagai skala prioritas bagi pengembangan melalui urutan rangking. Pada analisis pemilihan prioritas dengan MCDM, pembobotan suatu kriteria dan alternatif yang diambil, disusun berdasarkan matriks pembobotan kriteria dalam penentuan prioritas pemanfaatan ruang, sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah teknik simple multi atribute rating technique (SMART).
Teknik SMART merupakan keseluruhan proses dari peratingan alternatif-alternatif dan pembobotan atribut-atribut. Proses ini terdiri dari 2 tahap yaitu: (1) mengurutkan tingkat kepentingan perubahan-perubahan dalam atribut mulai dari atribut terburuk (peringkat terendah) sampai atribut terbaik (peringkat tertinggi); dan (2) melakukan estimasi rasio kepentingan relatif dan ranking setiap atribut terhadap atribut yang paling rendah tingkat kepentingannya. Analisis selanjutnya adalah penggabungan kedua hasil analisis data di atas menjadi satu dengan menggunakan persamaan agregasi sebagai berikut:
γ = π Si 1/n
……… (1) dimana
γ = rata-rata geometrik :
Si = nilai skor akhir hasil analisis prioritas berdasarkan kelompok kriteria analisis n = 2
Sehingga persamaan menjadi:
γ = √ S1 x S2
Berdasarkan hasil analisis di atas maka diperoleh hasil akhir untuk peringkat dalam menentukan prioritas pemanfaatan lahan yang perlu dikembangkan.
……… (2)
Matriks pembobotan kriteria dalam penentuan prioritas pemanfaatan ruang seperti yang ditunjukan pada Tabel 8.
Tabel 8 Matriks pembobotan kriteria dalam penentuan prioritas pemanfaatan ruang
Kriteria C1 C2 ... Cn Alternatif W1 W2 ... Wn A1 A11 A21 ... A A 1n A 2 12 A22 ... A ... 2n ... ... ... ... Am Am1 Am2 ... Amn Sumber : Subandar (1999). dimana A : i C
, (i = 1,2,3, … ,m) = menunjukkan pilihan alternatif yang ada j, (j = 1,2,3, … ,n) = merujuk pada kriteria dengan bobot W A
j ij
A
, (i = 1, ... ,m, j = 1, ... ,n) = adalah pengukuran keragaan dari suatu alternatif i berdasarkan kriteria Cj
Untuk menyusun peringkat jenis pemanfaatan lahan yang dikembangkan, maka dilakukan penentuan kriteria/subkriteria yang telah disesuaikan dengan kondisi lokasi penelitian. Hal ini dilakukan dengan menggunakan teknik SMART dengan bantuan perangkat lunak criterium decision plus (Cdplus) version 3.0. sehingga pengukuran terhadap kriteria ekologi; ekonomi; sosial budaya; dan kelembagaan dapat dilakukan. Masing-masing kriteria dapat dikembangkan lagi menjadi subkriteria. Subkriteria diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan dan juga bersumber dari data sekunder. Kriteria ekologi; ekonomi; sosial budaya, dan kelembagaan dapat diuraikan seperti berikut:
a. Kriteria ekologi, antara lain kesesuaian lahan, dan daya dukung lingkungan. b. Kriteria ekonomi, antara lain manfaat ekonomi, dan tingkat pendapatan
masyarakat.
c. Kriteria sosial budaya, antara lain kebiasaan masyarakat, dan penyerapan tenaga kerja.
d. Kriteria kelembagaan, antara lain bentuk kelembagaan, dan aturan pengelolaan. 3.4.3 Analisis Daya Dukung Lingkungan
Untuk menentukan daya dukung lingkungan bagi model pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi ini digunakan 2 pendekatan yaitu:
1) Pendekatan yang mengacu pada daya dukung fisik, yaitu jumlah maksimum penggunaan atau kegiatan yang dapat diakomodasikan dalam suatu kawasan tanpa menyebabkan kerusakan atau penurunan kualitas kawasan tersebut secara fisik. Metoda yang digunakan adalah daya dukung lahan dan daya dukung kawasan.
2) Pendekatan yang mangacu pada daya dukung ekologis, yaitu tingkat maksimum penggunaan suatu kawasan atau suatu ekosistem, baik berupa jumlah maupun kegiatan yang diakomodasikan di dalamnya sebelum terjadi penurunan dalam kualitas ekologis kawasan atau ekosistem tersebut. Metoda yang digunakan adalah pendugaan kapasitas asimilasi lingkungan perairan. Pendekatan 1:
Berkaitan dengan semakin meningkatnya pertambahan jumlah penduduk, maka kebutuhan lahan juga semakin bertambah yang akhirnya berdampak kepada semakin terbatasnya lahan, baik untuk tempat tinggal maupun untuk kegiatan pemanfaatan yang lain. Oleh karena itu diperlukan suatu analisis untuk menentukan seberapa besar daya dukung suatu lahan untuk menampung kegiatan pemanfaatan pada suatu wilayah tanpa merusak kelestarian lingkungan yang ada.
Daya dukung lahan (DDL) menunjukkan kemampuan maksimum lahan untuk mendukung suatu aktivitas tertentu secara terus menerus tanpa menimbulkan penurunan kualitas baik lingkungan biofisik maupun sosial. DDL yang dianalisis dalam penelitian ini dibatasi pada kemampuan lahan dalam menampung suatu aktivitas tertentu ditinjau dari aspek kesesuaian fisik, hasil dari analisis ini akan memberikan informasi mengenai berapa besar luas lahan yang
dapat dimanfaatkan. Kapasitas Lahan (KL) diartikan sebagai luasan lahan yang dapat dimanfaatkan untuk suatu aktivitas tertentu secara terus menerus tanpa mengalami gangguan dan merusak ekosistem yang ada. Besarnya kapasitas lahan yang digunakan dalam model pengelolaan minawisata bahari berbasis konservasi di Pulau Dullah ini adalah 30% dari luas lahan yang sesuai. Kapasitas lahan ditetapkan sebesar 30% karena berdasarkan morfogenesis pulau, Pulau Dullah termasuk kelompok pulau oseanik dengan kategori pulau karang (koral) dimana sebagian besar dari pulau-pulau ini tergolong pulau kecil (Bengen dan Retraubun 2006). Disamping itu berdasarkan ukurannya Pulau Dullah termasuk kategori pulau kecil dimana sangat peka dan rentan terhadap pengaruh eksternal baik alami maupun akibat kegiatan manusia sehingga dalam pengelolaannya harus memperhatikan prinsip dan kriteria pemanfaatan sumberdaya pulau-pulau kecil. Berdasarkan pendekatan tersebut di atas maka daya dukung lahan dapat dihitung dengan rumus atau formula yang dikemukakan dalam KMNLH dan FPIK IPB (2002) sebagai berikut:
DDL = LLS X KL ……… (3) dimana
DDL = Daya Dukung Lahan :
LLS = Luas Lahan yang Sesuai KL = Kapasitas Lahan
Sedangkan untuk menghitung jumlah unit (sarana pemancingan ikan dan karamba pembesaran ikan) maka digunakan rumus yang dimodifikasi dari formula yang dikemukakan dalam KMNLH dan FPIK IPB (2002) sebagai berikut:
JU = DDL / LOG ……… (4) dimana
JU = Jumlah Unit :
DDL = Daya Dukung Lahan LO = Luas Olah Gerak
Luasan optimal sarana pemancingan ikan adalah besaran yang menunjukkan luasan dari 1 unit perahu bercadik dengan ukuran panjang perahu 4 meter dan
lebar perahu termasuk cadiknya adalah 3 meter, sementara luas olah gerak (LOG) untuk 1 unit sarana pemancingan ikan agar dapat bergerak dengan leluasa tanpa menggangu atau terganggu oleh sarana pemancingan lainnya adalah 900 m2 (30 m X 30 m). Sedangkan luasan optimal karamba pembesaran ikan adalah besaran yang menunjukkan luasan dari 1 unit rakit dengan 4 buah karamba berukuran 3m X 3m X 3m, luasan optimal untuk 1 unit rakit agar ikan-ikan yang dipelihara dapat bertumbuh dengan baik adalah 144 m2 (12 m X 12 m), luasan ini merupakan ukuran optimal yang digunakan secara umum di perairan Indonesia (Sunyoto 1993),sementara luas olah gerak untuk 1 unit rakit karamba agar perahu yang menuju dan kembali dari rakit karamba tersebut dapat bergerak dengan leluasa tanpa menggangu atau terganggu oleh perahu lainnya adalah 3600 m2
Selanjutnya untuk menghitung berapa jumlah orang yang dapat ditampung di kawasan tersebut maka digunakan metoda daya dukung kawasan (DDK). DDK adalah jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat ditampung dikawasan yang disediakan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan manusia. DDK untuk minawisata bahari pancing dan minawisata bahari karamba pembesaran ikan dihitung dengan menggunakan rumus yang dimodifikasi dari formula yang dikemukakan dalam KMNLH dan FPIK IPB (2002) sebagai berikut:
(60 m X 60 m).
DDK = JU X JP ……… (5) dimana
DDK = Daya Dukung Kawasan :
JU = Jumlah Unit
JP = Jumlah Pengunjung
Sedangkan DDK untuk minawisata bahari pengumpulan kerang (moluska), minawisata bahari selam, dan minawisata bahari mangrove dihitung dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Yulianda (2007) sebagai berikut:
……… (6) Wp Wt x Lt Lp x K DDK =
dimana
DDK = Daya dukung kawasan :
K = Potensi ekologis pengunjung per satuan unit area Lp = Luas area atau panjang area yang dapat dimanfaatkan Lt = Unit area untuk kategori tertentu
Wt = Waktu yang disediakan oleh kawasan untuk kegiatan wisata dalam satu hari
Wp = Waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk setiap kegiatan tertentu
Potensi ekologis pengunjung (K) dan unit area (Lt) ditentukan oleh kondisi sumberdaya dan jenis kegiatan yang akan dikembangkan seperti ditunjukan pada Tabel 9.
Tabel 9 Potensi ekologis pengunjung (K) dan luas area kegiatan (Lt)
Jenis Kegiatan K
(∑ Pengunjung) Unit Area (Lt) Keterangan Minawisata bahari
pengumpulan kerang 1 2500 Setiap orang dalam 50 m x 50 m
Minawisata bahari selam 2 2000 m 2 Setiap 2 orang dalam 200 m x 10 m Minawisata bahari mangrove 1 50 m Dihitung panjang track, setiap 1
orang sepanjang 50 m
Sumber : Yulianda (2007).
Waktu kegiatan pengunjung (Wp) dihitung berdasarkan lamanya waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk melakukan kegiatan wisata. Waktu pengunjung diperhitungkan dengan waktu yang disediakan oleh kawasan (Wt) seperti yang disajikan pada Tabel 10.
Pendekatan 2 :
Pendekatan yang mangacu pada daya dukung ekologis untuk pengembangan minawisata bahari pulau kecil berbasis konservasi adalah kapasitas asimilasi lingkungan perairan. Penentuan daya dukung lingkungan berdasarkan kapasitas asimilasi lingkungan perairan seperti yang dikemukakan oleh Quano (1993)
Tabel 10 Prediksi waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan wisata
Jenis Kegiatan Waktu yang dibutuhkan / Wp ( jam )
Total waktu 1 hari / Wt ( jam )
Minawisata bahari pengumpulan
kerang 4 8
Minawisata bahari selam 2 8
Minawisata bahari mangrove 2 8
Sumber : Yulianda (2007).
adalah metode hubungan antara konsentrasi limbah dengan beban limbahnya. Variabel yang diamati adalah debit air yang masuk ke teluk oleh pasut dan konsentrasi limbah di lingkungan perairan. Metode ini cukup dapat menggambarkan atau menunjukan kapasitas asimilasi dari lingkungan perairan dimaksud.
Nilai kapasitas asimilasi didapatkan dengan cara membuat grafik hubungan antara konsentrasi masing-masing parameter limbah di lingkungan perairan dengan total beban limbah parameter tersebut di muara sungai, dan selanjutnya dianalisis dengan cara memotongkan dengan garis baku mutu air laut yang diperuntukan bagi biota laut dan kegiatan wisata bahari berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004. Pola hubungan antara konsentrasi limbah dengan beban pencemaran yang dimaksud disajikan pada Gambar 7.
Jika pola hubungan tersebut direpresentasikan terhadap nilai baku mutu air laut maka akan dapat diketahui kapasitas asimilasi lingkungan perairan tersebut terhadap suatu parameter limbah tertentu. Nilai kapasitas asimilasi didapat dari titik potong beban pencemaran dengan nilai baku mutu yang berlaku untuk setiap parameter, dan selanjutnya dianalisis seberapa besar peran masing-masing parameter terhadap beban pencemarannya.
Beberapa asumsi dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1) Nilai kapasitas asimilasi hanya berlaku di lingkungan perairan pada batas yang telah ditetapkan dalam lokasi penelitian.
2) Nilai hasil pengamatan, baik di muara sungai maupun di lingkungan perairan diasumsikan telah mencerminkan dinamika yang ada di perairan tersebut. 3) Perhitungan beban pencemaran dibatasi hanya yang berasal dari land based,
sedangkan apabila ada pencemaran dari kegiatan lainnya di lingkungan perairan dan laut sekitarnya, maka itu tidak dihitung.
Gambar 7 Grafik hubungan antara beban pencemaran dan kualitas air.
Data yang diamati merupakan data pencemaran yang mempengaruhi kualitas air dilokasi penelitian. Hubungan yang ingin dilihat adalah pengaruh nilai parameter yang ada di muara sungai terhadap nilai parameter tersebut di lingkungan perairan. Alat analisis yang digunakan untuk melihat hubungan tersebut adalah ”regresi linier” dimana sebagai peubah bebas (independent) adalah nilai parameter di muara sungai, dan sebagai peubah tak bebas (dependent) adalah nilai parameter di lingkungan perairan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa peubah pencemaran di lingkungan perairan dapat dijelaskan oleh peubah pencemaran di muara sungai atau dapat dituliskan dalam bentuk hubungan matematik yaitu : Y = f(x) sehingga menurut Quano (1993) bentuk hubungan tersebut dalam regresi linier dapat dituliskan sebagai berikut:
K ua li tas A ir (K ons en tra si L im ba h ) Beban Pencemaran Baku Mutu
Y = a + b(x) ……… (7) dimana
Y = nilai parameter di lingkungan perairan :
a = nilai tengah atau rataan umum
b = koefisien regresi untuk parameter di muara sungai x = nilai parameter di muara sungai
x dan y adalah jenis dari parameter yang sama, yang diukur di muara sungai dan di lingkungan perairan.
Peubah x merupakan jumlah nilai dari semua muara yang diamati untuk parameter tertentu, dan peubah y merupakan nilai parameter lingkungan perairan yang dianggap tepat untuk mewakili seluruh nilai parameter yang ada di lingkungan perairan, sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa y merupakan penduga terbaik untuk nilai parameter di lingkungan perairan tersebut. 3.4.4 Analisis Ekonomi
Barbier et al. (1997) in Adrianto (2006b) menyediakan sebuah kerangka pendekatan penilaian ekonomi, dimana terdapat 3 tahapan utama dalam melakukan valuasi ekonomi sumberdaya pesisir dan laut, yaitu :
1) Tahap pertama, adalah mendefinisikan problem dan memilih pendekatan yang tepat untuk melakukan penilaian ekonomi.
2) Tahap kedua, adalah mendefinisikan ruang lingkup dan batasan dari analisis yang dilakukan serta informasi yang diperlukan untuk melakukan pendekatan terpilih.
3) Tahap ketiga, adalah mendefinisikan metoda pengumpulan data dan teknik valuasi termasuk analisis dan distribusi dampak yang mungkin dari pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut.
Ketiga tahapan tersebut diatas dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan penilaian ekonomi secara utuh yang menggambarkan willingness to pay yang benar dari masyarakat terhadap manfaat yang dihasilkan dari ekosistem pesisir dan laut. Berdasarkan kerangka pendekatan tersebut diatas, maka analisis nilai ekonomi minawisata bahari yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan
pendekatan extended cost-benefit analysis (ECBA) yang diawali dengan metoda Valuasi Ekonomi.
Barton (1994) in Adrianto (2006b) mengemukakan bahwa Total Economic Value (TEV) dalam valuasi ekonomi dikategorikan kedalam 2 (dua) komponen yaitu Use Value (UV) dan Non Use Value (NUV) sehingga dapat diformulasikan sebagai berikut:
TEV = UV + NUV ……… (8) dimana
TEV = Total Economic Value (nilai ekonomi total) :
UV = Use Value (nilai guna)
NUV = Non Use Value (bukan nilai guna)
Pada dasarnya nilai guna (use value) diartikan sebagai nilai yang diperoleh seorang individu atas pemanfaatan langsung dari sumberdaya alam dimana individu tersebut berhubungan langsung dengan sumberdaya alam dan lingkungan, yang didalamnya termasuk pemanfaatan secara komersial atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam misalnya ikan, kayu, dan lain-lain yang bisa dikonsumsi langsung atau dijual. Nilai guna ini secara lebih rinci menurut Barton (1994) in Adrianto (2006b) adalah sebagai berikut :
UV = DUV + IUV + OV ……...………..…...…………..…...…..…... (9) dimana
UV = Use Value (nilai guna) :
DUV = Direct Use Value (nilai guna langsung) IUV = Indirect Use Value (nilai guna tidak langsung) OV = Option Value (nilai pilihan)
Nilai guna langsung (direct use value) merujuk langsung pada konsesi sumberdaya alam seperti kayu sebagai bahan bakar, sedangkan nilai guna tidak langsung (indirect use value) merujuk pada nilai yang dirasakan secara tidak langsung dari barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam dan lingkungan seperti pencegahan banjir dan nursery ground dari ekosistem mangrove, sedangkan nilai pilihan (option value) merupakan suatu nilai yang
menunjukan pilihan seorang individu untuk membayar dalam melestarikan sumberdaya alam bagi pengguna lainnya dimasa mendatang.
Komponen bukan nilai guna (non use value) adalah nilai yang diberikan kepada sumberdaya alam atas keberadaannya meskipun tidak digunakan secara langsung, yang lebih bersifat sulit diukur karena lebih didasarkan pada preferensi terhadap lingkungan ketimbang pengamatan langsung. Bukan nilai guna ini secara lebih rinci menurut Barton (1994) in Adrianto (2006b)adalah sebagai berikut : NUV = BV + EV + QOV .………...………...………….. (10) dimana
NUV = Non Use Value (bukan nilai guna) :
BV = Bequest Value (nilai pewarisan) EV = Existence Value (nilai keberadaan)
QOV = Quasi Option Value (nilai pilihan untuk menghindari kerusakan yang irreversible)
Pada dasarnya nilai keberadaan adalah penilaian yang didasarkan kepada penilaian yang diberikan dengan terpeliharanya sumberdaya alam dan lingkungan, nilai pewarisan diartikan sebagai nilai yang diberikan oleh generasi kini dengan menyediakan atau mewariskan sumberdaya alam dan lingkungan kepada generasi mendatang, nilai pilihan untuk menghindari kerusakan yang irreversible (quasi option value) mengandung makna ketidak-pastian dimana nilai ini merujuk pada nilai barang dan jasa dari sumberdaya alam yang mungkin timbul sehubungan dengan ketidak-pastian permintaan dimasa mendatang.
Dari persamaan (9) dan (10) tersebut, maka nilai ekonomi total (total economic value) menurut Barton (1994) in Adrianto (2006b) dapat dirumuskan sebagai berikut: