• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DATA

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional Biologi USU 2013 (Halaman 168-174)

SUKSESI VEGETASI POHON DI KAWASAN ANTROPIK PERLADANGAN MASYARAKAT KARO KABUPATEN LANGKAT

ANALISIS DATA

Untuk memperoleh nilai penting jenis tumbuhan digunakan persamaan dari Cox (1972) dan Mueller- Dumbois & Ellenberg (1974) sebagai berikut:

Kerapatan suatu jenis

Kerapatan Relatif (KR) = x 100% Kerapatan seluruh jenis

Dominansi suatu jenis

Dominansi Relatif (DR) = x 100% Dominansi seluruh jenis

Frekuensi suatu jenis

Frekuensi Relatif (FR) = x 100% Frekuensi seluruh jenis

Indek Nilai Penting (INP) = KR + DR + FR

HASIL DAN PEMBAHASAN

Suksesi vegetasi pohon pada sistem perladangan masyarakat Karo dimulai pada bekas ladang

rambah nguda yang telah diberakan 3 – 5 tahun. Pada tahap ini sudah mulai muncul jenis-jenis yang mencirikan hutan sekunder muda yaitu dari suku Moraceae, Euphorbiaceae, Urticaceae dan Ulmaceae. Jenis-jenis yang dominan adalah Mallotus muticus, dikuti oleh Paraserianthes falcataria

dan Trema orientalis dengan nilai INP berturut-turut 98.83%, 67.02% dan 42.63% (Tabel 1). Jenis- jenis lainnya yang cukup dominan yaitu Villebrunea rubescens, Gmelina arborea, Toona sureni dan

Cinnamomum burmanni.

Tabel 1. Nilai INP tegakan pohon pada rambah nguda di lokasi penelitian

No Nama Ilmiah Nama lokal KR (%) FR (%) DR (%) INP (%)

1.

Mallotus muticus Dulpak 38.46 36.00 24.37 98.83

2.

Paraserianthes falcataria Sengon 17.95 12.00 37.07 67.02

3.

Trema orientalis Nderung 12.82 16.00 13.81 42.63

4.

Villebrunea rubescens Nderasih 12.82 12.00 6.50 31.32

5.

Gmelina arborea Jati putih 10.26 12.00 7.63 29.88

6.

Toona sureni Ingul 2.56 4.00 3.99 10.56

7.

Cinnamomum burmanni Kayu manis 2.56 4.00 3.76 10.32

Pada bekas ladang rambah tua yang telah diberakan 5-10 tahun, struktur hutan sudah berupa belukar yang bercampur dengan pohon-pohon kecil hutan sekunder muda. Vegetasi pohon didominasi oleh jenis pionir Trema orientalis (Euphorbiaceae) INP 52.92% dan jenis-jenis lateng dari suku Urticaceae seperti lateng belkih (Urtica grandidentata) INP 52.13%, lateng kerbo (Laportea stimulans) INP 27.31% dan lateng nderasi (Laportea sinuata) INP 21.06% (Tabel 2). Jenis-jenis lateng bagi masyarakat Karo merupakan tumbuhan indikator kesuburan tanah. Kehadiran jenis-jenis ini secara dominan menunjukkan bahwa lahan pada rambah tua merupakan lahan yang subur. Hal ini bersesuaian dengan kehadiran jenis-jenis pionir yang menunjukkan bahwa rambah tua sedang dalam tahap perkembangan yang sangat intensif menuju fase hutan dewasa. Ketika perkembangan hutan semakin dewasa maka jenis-jenis ini nantinya akan hilang dan digantikan oleh jenis-jenis pohon yang berumur panjang (long life). Jenis-jenis lainnya yang cukup dominan yaitu Eugenia syzygoides,

Villebrunea rubescens, dan Ficus variegata.

Tabel 2. Nilai INP tertinggi tegakan pohon rambah tua di lokasi penelitian No. Nama Ilmiah Nama lokal KR (%) FR

(%)

DR (%) INP (%)

1.

Trema orientalis Nderung 16.88 13.33 22.70 52.92

2.

Urtica grandidentata Lateng belkih 18.83 16.67 16.64 52.13

3.

Eugenia syzygoides Buah haji 9.74 8.33 26.05 44.12

5.

Villebrunea rubescens Nderasi 11.04 10.00 5.61 26.65

6.

Laportea sinuata Lateng nderasi 7.14 8.33 5.59 21.06

7.

Ficus variegata Rube sambah 6.49 10.00 2.69 19.18

Tahap perkembangan hutan selanjutnya adalah kerangen muda yaitu lahan yang diberakan 10- 30 tahun, pada tahap ini bekas ladang ditumbuhi oleh jenis-jenis pohon hutan sekunder muda dengan diameter batang rata-rata sebesar paha orang dewasa. Vegetasi pohon merupakan jenis pionir tahap akhir dengan hadirnya jenis jenis-jenis mahang yaitu Macaranga gigantea (23.92%) dan Macaranga triloba (21.21%) dari suku Euphorbiaceae (Tabel 3).

Tabel 3. Nilai INP tertinggi tegakan pohon pada kerangen nguda di lokasi penelitian No. Nama Ilmiah Nama lokal KR

(%) FR (%) DR (%) INP (%)

1. Macaranga gigantea Tapak gajah 8.96 4.30 10.66 23.92

2. Knema laurina Tulasan 6.72 7.53 7.92 22.17

3. Ormosia sumatrana Cina-cina 7.46 7.53 6.98 21.97

4. Macaranga triloba Capet 7.46 5.38 8.37 21.21

5. Excoecaria sp Betung 8.96 4.30 6.58 19.84

6. Xylocarpus sp Mayang batu 4.48 4.30 9.54 18.32

7. Ficus variegata Rube sambah 4.48 6.45 1.18 12.11

Jenis-jenis tumbuhan berumur panjang juga sudah mulai muncul yaitu Knema laurina ( 22.17%) dan Xylocarpus sp (18.32%). Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya kerangen nguda telah menuju fase hutan pendewasaan namun terjadi gangguan hutan sehingga pada beberapa bagian hutan suksesi dimulai lagi ke tahap awal. Jika gangguan terus berlanjut dan berulang-ulang maka vegetasi akan mundur ke belakang dimana hutan akan berubah menjadi padang semak. Jika hal ini terjadi maka fase hutan dewasa mungkin tidak akan pernah terjadi. Jenis-jenis mahang merupakan jenis pionir yang paling belakangan hilang ketika hutan telah benar-benar baerada pada fase dewasa. Jenis- jenis ini biasanya merupakan pionir pada hutan sekunder tua. Ketika jenis-jenis ini telah lenyap dan hutan seluruhnya dihuni oleh jenis-jenis berumur panjang maka hal ini berarti telah tercapai hutan fase dewasa.

Tahap terakhir suksesi vegetasi pohon pada bekas ladang sistem perladangan masyarakat Karo adalah kerangen tua merupakan lahan yang diberakan lebih dari 30 tahun. Kerangen tua ditumbuhi oleh jenis-jenis pohon dewasa hutan sekunder tua dengan diameter batang diatas paha orang dewasa. Pada tingkat pohon kerangen tua sudah didominasi oleh jenis berumur panjang yaitu Quercus argentata (24.19). dari suku Fagaceae, Litsea discocalyx (22.23%) dari suku Lauraceae dan Gordonia

sp (13.71%) dari suku Fagaceae (Tabel 4). Namun demikian masih terdapat jenis-jenis mahang

Macaranga gigantea dan Macaranga triloba yang menunjukkan bahwa hutan berada pada tahap akhir menuju fase hutan dewasa.

Tabel 4. Nilai INP tertinggi tegakan pohon pada kerangen tua di lokasi penelitian

No. Nama Ilmiah Nama lokal KR (%) FR (%) DR (%) INP (%)

1. Quercus argentata Cecepan ngindet 7.04 5.44 11.71 24.19

2. Litsea discocalyx Rahu 6.03 6.12 10.08 22.23

3. Macaranga gigantea Tapak gajah 4.52 2.72 11.77 19.02

4. Castanopsis benetti Bakir 3.02 3.40 10.94 17.36

5. Gordonia sp En-en 4.02 3.40 6.29 13.71

6. Laportea stimulans Lateng kerbo 7.04 4.76 1.34 13.14

Suku-suku tegakan hutan yang umum dijumpai pada hutan primer adalah Anacardiaceae (Camnosperma sp.), Elaeocarpaceae (Elaeocarpus petiolatus) Fagaceae (Castanopsis costata.), Lauraceae (Beilschmiedia sp.), Myristicaceae (Knema scortechinii, Myristica cinnamomea.), Myrtaceae (Eugenia pendens, Eugenia sp. Tegakan pohon pada hutan primer didominasi oleh

Eugenia pendens (Myrtaceae) INP 28.37%, Castanopsis costata (Fagaceae) INP 24.94% dan

Castanopsis sp. INP 22.06% (Tabel 5). Jenis-jenis ini merupakan tumbuhan berumur panjang yang mencirikan hutan primer atau hutan yang telah berumur tua. Oleh karena itu meskipun terjadi beberapa gangguan pada hutan namun secara umum kondisi hutan primer di lokasi penelitian masih sangat baik.

Tabel 5 Nilai INP tertinggi tegakan pohon pada hutan primer lokasi penelitian

No. Nama Ilmiah Nama Lokal KR (%) FR (%) DR (%) INP (%)

1. Eugenia pendens Ijuk-ijuk 11.78 8.90 7.69 28.37

2. Castanopsis costata Kecing 5.82 8.13 10.99 24.94

3. Cinnamomum sp. Sumpaling 7.68 6.36 8.02 22.06

4. Shorea leprosula Tangkih 7.39 7.30 4.67 19.36

5. Quercus sp1 Ngalkal 5.94 5.41 5.42 16.77

6. Nephelium eriopetalum Rambutan menci 5.70 5.07 4.23 15.00

7. Palaquium sp. Mayang sawo 4.98 5.37 3.30 13.65

Pada tahap suksesi tingkat pohon jumlah individu meningkat tajam pada rambah tua kemudian menurun pada kerangen nguda dan naik lagi sampai hutan primer (Tabel 6). DBH rata-rata terlihat meningkat sampai hutan primer, dimana hal yang sama terjadi pada basal area total. Hal yang sama juga terjadi pada biomassa total karena biomasa merupakan fungsi dari basal area. Hasil diatas menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan pohon mulai berperan penting mulai dari kerangen nguda

sampai hutan primer. Vegetasi pohon mulai mengendalikan hutan dengan mengembangkan struktur tajuknya yang rapat sehingga jenis-jenis lain yang tumbuh dibawahnya terlindung dari cahaya mataharinya sehingga pertumbuhannya menjadi terbatas. Struktur tajuk yang rapat ini juga menghambat masuknya jenis-jenis baru ke dalam hutan.

Tabel 6. Parameter ekologi tegakan pohon di lokasi penelitian Parameter Pohon Rambah

Nguda Rambah Tua Kerangen Nguda Kerangen Tua Hutan Primer Jumlah individu/ha 111 451 332 477 528 Jumlah Jenis/0.64 ha 8 16 40 65 73 Jumlah Suku/0.64 ha 8 10 18 29 28 DBH Rata -Rata (cm) 15.80 20.79 21.17 26.78 25.40 Basal Area Total (m2/ha) 1.45 10.49 9.34 25.43 47.42 Biomassa Total (t/ha) 10.73 113.27 86.62 289.33 659.22 Indeks Dominansi 0.20 0.11 0.04 0.03 0.04 Indeks Shannon - Wiener (H') 1.79 2.36 3.37 3.74 3.54

Jumlah jenis dan suku tegakan pohon hampir memiliki pola yang sama yaitu semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur masa bera (Gambar 1). Namun demikian jumlah suku pada hutan primer lebih sedikit dibandingkan dengan kerangen tua. Hal ini mungkin disebabkan hutan primer telah berada pada tahap yang stabil sedangkan kerangen tua masih dalam tahap perkembangan dengan masih terdapatnya jenis-jenis pionir tahap akhir seperti Macaranga spp.

Jika dibandingkan jumlah individu pohon dan sapling pada tiap fase masa bera maka terlihat masing-masing memiliki karakter tersendiri. Jumlah sapling pada awalnya meningkat sampai rambah tua namun menurun dengan tajam pada kerangen nguda (Gambar 2). Hal ini menunjukkan bahwa sejak tahap kerangen tua peran sapling sudah tidak berarti, pertumbuhan hutan sekarang dikendalikan oleh tegakan pohon. Sebaliknya jumlah pohon naik secara perlahan mulai dari rambah nguda menuju

hutan primer. Proses suksesi pada tegakan pohon sangat jelas terlihat pada hutan yang telah mengalami masa bera yang lama (kerangen nguda-kerangen tua).

Gambar 1. Grafik jumlah jenis dan suku pada tegakan pohon

Gambar 2. Grafik jumlah individu pada tegakan sapling dan pohon

Hal yang menarik terlihat pada pertumbuhan jenis-jenis pionir dan jenis-jenis berumur panjang (long life). Jenis pionir merupakan indikator tahap awal suksesi suksesi hutan sedangkan jenis long life mencirikan hutan yang telah dewasa. Jika jenis pionir lebih banyak maka berarti hutan berada pa tahap awal suksesi dan jika jenis berumur panjang lebih banyak maka berarti hutan berada pada fase pendewasaan. Jika jenis pionir sama jumlahnya dengan jenis berumur panjang berarti hutan berada dalam keadaan titik keseimbangan yang sangat dinamis dimana produktifitas hutan berada dalam keadaan maksimal. Pada lokasi penelitian titik keseimbangan ini berada di sekitar fase kerangen nguda yaitu ketika bekas ladang berumur antara 10 sampai 30 tahun (Gambar 3). Pada tahap ini kondisi hutan sebagian besar sudah pulih termasuk ketersediaan bahan organik tanah sehingga pada tahap ini peladang berpindah sudah dapat membuka kembali hutan tersebut untuk perladangan.

Gambar 3. Grafik jumlah jenis pionir dan berumur panjang (long life)

DAFTAR PUSTAKA

Cox G W. 1972. Laboratory Manual of General Ecology. Second Ed. Wim. G. C. Brown Co. Publ. Dubuoue, Iowa.

Daubenmire R. 1968. Plant Community : A Text book of Plant Synecology. 2nd Edition. Harper and Row. Ney York.

Groombridge B. 1λλβ. Global Biodiversity μ Status of the Earth’s Living Resources. Compiled by the World Conservation Monitoring Centre, Cambridge, U.K.Chapman & Hall, London. Krebs CJ. 1985. Ecology. Third Edition. Harper & Row, Publisher. New York.

Lawrence D. (2004) Erosion of tree diversity during 200 years of shifting cultivation in Bornean Rain Forest. Ecological Applications 14: 1855–1869.

Lebrija-Trejos E, Bongers F, Garcia EAP, Meave JA. (2008) Successional change and resilience of a very dry tropical deciduous forest following shifting agriculture. Biotropica 40: 422–431. Mabberley DJ. 1992. Tropical Rain Forest Ecology. Blackie Academic & Professional. Glasgow –

UK.

Mertz O. (2002) The relationship between length of fallow and crop yields in shifting cultivation: a rethinking. Agroforestry Systems 55(2): 149–159.

Meyer WB & B. L. Turner II. 1994. Changes in Land Use and Land Cover : A Global Perspective. Cambridge University Press, New York.

Mueller, D. Dumbois & H. Ellenberg. 1974. Aims and Methods of Vegetation Ecology. Wiley International Edition. New York. p. 277.

Myers N. 1991. Tropical deforestation : The latest situation. BioScience 41 : 282.

Osboronova J, Kovarova M, Leps J, Prach K. (1990) Succession in Abandoned Fields, Studies in Central Bohemia, Czechoslovakia Geobotany vol. 15. Kluwer Academic Publishers, Dordrecht. Prinst D. 2004. Adat Karo. Bina Media Perintis. Medan.

Richards PW. 1952. The Tropical Rain Forest. CambridgeUniversity Press. Cambridge.

Sembiring SA. 2002. Guru (Tabib) Dalam Masyarakat Karo: Kajian Antropologi mengenai Konsep Orang Karo tentang Guru dan Kosmos (Alam Semesta). USU digital library.

KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU (ORDO LEPIDOPTERA : PAPILIONOIDEA)

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional Biologi USU 2013 (Halaman 168-174)