• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosiding Seminar Nasional Biologi USU 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Prosiding Seminar Nasional Biologi USU 2013"

Copied!
465
0
0

Teks penuh

(1)

Prosiding

SEMINAR NASIONAL

BIOLOGI

Medan, 13 April 2013

Tema :

Optimalisasi Penerapan Riset Biologi

dalam Membangun Kemandirian Bangsa

Editor :

Prof. Dr. Manihar Situmorang, M.Sc. (UNIMED Medan)

Prof. Dr. Syamsuardi, M.Sc. (UNAND Padang)

Dr. Hesti Wahyuningsih, SSi, MSi.

Dr. Erni Jumilawaty, S.Si, MSi.

Dr. Saleha Hannum, S.Si, MSi

Dra. Nunuk Priyani, MSc

Dr. T. Alief Aththorick, S.Si, MSi

Departemen Biologi

(2)

Art Design, Publishing & Printing

Gedung F

Jl. Universitas No. 9 Kampus USU

Medan, Indonesia

Telp.061-8213737, Fax 061-8213737

Kunjungi kami di :

http://usupress.usu.ac.id

Terbitan pertama 2013

USU Press Publishing & Printing 2013

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang; dilarang memperbanyak, menyalin, merekam

seluruh bagian buku ini dalam bahasa atau bentuk apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.

ISBN 979 458 674 9

Perpustakaan Nasional Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Prosiding Seminar Nasional Biologi; Optimalisasi Penerapan Riset Biologi dalam

Membangun Kemandirian Bangsa / Editor: Manihar Situmorang...[et.al.]

Medan: Usu

Press, 2013.

xiii, 451 p.: ilus.; 29 cm

ISBN: 979-458-674-9

(3)

KATA PENGANTAR

Departemen Biologi FMIPA Universitas Sumatera Utara telah mengadakan Seminar Nasional Biologi pada tanggal 13 April 2013 dengan tema "Optimalisasi Penerapan Riset Biologi dalam Membangun Kemandirian Bangsa".

Seminar Ilmiah ini diadakan sebagai forum untuk saling bertukar pikiran, gagasan, dan informasi antar para peneliti, pemerhati, peminat ilmu biologi dan masyarakat lainnya dalam rangka mengevaluasi perkembangan ilmu pengetahuan biologi di Indonesia serta mencari strategi pengembangan dan aplikasinya bagi peningkatan kesejahteraan bangsa.

Ruang lingkup seminar ini mencakup beberapa bidang kajian seperti Biologi Lingkungan dan Keanekaragaman Hayati, Biologi Struktur dan Fungsi, Mikrobiologi dan Genetika, Biofarmaka dan Biomedis. Pesertanya meliputi para pakar dan peminat bidang ilmu biologi dan biofarmaka dari berbagai kalangan lnstansi Pemerintah, Swasta, LSM, Lembaga Penelitian, Perguruan Tinggi, dan semua pibak yang berminat dalam penelitian Biologi di Indonesia. Pada seminar ini telah dipresentasikan 2 makalah utama dan 85 makalah penunjang. Makalah utama membahas tentang: 1. Penelitian Keanekaragaman Hayati Bagi Kemandirian Bangsa disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Hadi S. Alikodra, MSc. Guru Besar Fahutan IPB dan 2. Procaryote: The thiny smartest creatures? disampaikan oleh Prof. Dr. Dwi Suryanto, MSc. Guru Besar Departemen Biologi FMIPA USU. Sedangkan makalah penunjang mencakup berbagai hasil penelitian tentang ekologi, keanekaragaman hayati, fisiologi, kultur jaringan, biologi struktur dan fungsi, mikrobiologi, bioteknologi, biologi medis, biofarmaka, tumbuhan obat-obatan dan kearifan lokal. Seluruh makalah yang dipresentasikan tersebut di atas dimuat dalam " Prosiding Seminar Nasional Biologi Tahun 2013”.

Penghargaan dan ucapan terima kasih kami sampaikan kepada para panitia dan editor yang telah bekerja keras sehingga prosiding ini berhasil diterbitkan. Semoga prosiding ini bermanfaat untuk para peneliti, pemerhati, peminat ilmu biologi, masyarakat dan pengambil keputusan dalam rangka merencanakan penelitian dan pengembangan ilmu biologi di Indonesia. Disamping itu prosiding ini juga merupakan bukti atau dokumen ilmiah tentang pengetahuan biologi di Indonesia.

Medan, 27 April 2013

(4)

SAMBUTAN KETUA PANITIA

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Yang saya hormati :

1. Bapak Rektor Universitas Sumatera Utara

2.

Bapak/Ibu para Pembantu Rektor Universitas Sumatera Utara

3.

Bapak Dekan FMIPA, Para Dekan Undangan, Ketua Lembaga dan Unit Kerja, Para

Pembatu Dekan, Ketua dan Sekretaris Departemen, Pembicara Kunci

4.

Bapak dan Ibu para peserta seminar, undangan, teman sejawat, mahasiswa, dan

hadirin sekalian yang saya muliakan

Pertama-tama marilah kita mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya pagi ini kita dapat mengikuti acara Seminar Nasional Biologi tahun 2013. Kami seluruh panitia mengucapkan "SELAMAT DATANG" dan terima kasih atas kehadiran dan partisipasi Bapak, Ibu dan adik-adik mahasiswa sekalian.

Pada kesempatan ini kami ingin melaporkan pelaksanaan Seminar Nasional Biologi 2013 yang bertema "Optimalisasi Penerapan Riset Biologi dalam Membangun Kemandirian Bangsa". Tema ini dipilih untuk menggambarkan pentingnya pengembangan dan penerapan Ilmu Biologi dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan demi terbangunnya kemandirian bangsa.

Seminar akan berlangsung selama satu hari dengan jumlah peserta sebanyak 215 orang, yang terdiri dari 85 peserta pemakalah, 55 peserta umum dan mahasiswa pascasarjana dan 75 peserta mahasiswa S1. Para peserta seminar datang dari berbagai wilayah tanah air seperti Makasar, Semarang, Jakarta, Palembang, Pekanbaru, Banda Aceh, dari berbagai daerah sekitar Medan dan Sumatera Utara, dari lingkungan USU serta satu orang berasal dari negeri jiran Malaysia.

Tujuan dari Seminar ini adalah sebagai ajang komunikasi ilmiah antara peneliti, pemerhati, peminat Biologi; sekaligus untuk membangun jejaring dan kerjasama penelitian antar perguruan tinggi, peneliti, dan parapihak.

Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia dan semua pihak yang telah bekerja keras demi terselenggaranya acara seminar ini. Kami mohon maaf jika ada kekurangan di sana sini, tutur kata dan penyambutan yang kurang pada tempatnya, yang semua itu bukanlah suatu kesengajaan tetapi karena kelemahan dan keterbatasan kami. Demikianlah yang dapat kami sampaikan dan kami akhiri dengan Assalamu’alaikum Wr Wb.

Ketua Panitia

(5)

SAMBUTAN REKTOR USU

PADA ACARA PEMBUKAAN SEMINAR NASIONAL BIOLOGI 2012

di Fakultas MIPA USU - Sabtu, 13 April 2013

Assalamu'alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera bagi kita semua.

Yang saya hormati:

- Dekan Fakultas MIPA USU beserta seluruh Sivitas Akademik.

- Para Narasumber dan Panitia Seminar.

- Bapak/Ibu peserta seminar.

- Para Undangan dan Hadirin yang saya muliakan.

Tak bosan-bosannya kita memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan hidayah-Nya kita dapat hadir bersama mengikuti acara pembukaan “Seminar

Nasional Biologi Tahun 2013” yang sebentar lagi akan kita ikuti bersama.

Hadirin yang saya hormati.

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan YME, karena atas Berkah dan Karunia-Nya, kita dapat hadir pada Seminar Nasional Biologi tahun 2013.

Rektor Universitas Sumatera Utara mengucapkan selamat kepada Dekan FMIPA-USU, Ketua Departemen Biologi FMIPA-USU dan Panitia Seminar Nasional Biologi, atas terselenggaranya seminar yang merupakan hasil kerjasama yang solid.

Universitas Sumatera Utara memperoleh kehormatan menjadi tuan rumah seminar ini, kususnya Biologi FMIPA. Seminar dengan tema “Optimalisasi Penerapan Riset Biologi dalam Membangun Kemandirian Bangsa” menjadi satu momen penting bagi para Peneliti, Akademisi, Praktisi, Mahasiswa S1 dan Pasca Sarjana, juga pemerhati ilmu pengetahuan dari bidang Biologi Lingkungan dan Keanekaragaman Hayati, Biologi Struktur dan Fungsi, Mikrobiologi dan Genetika, Biofarmaka dan Biomedis. Peserta seminar berasal dari berbagai wilayah di Indonesia seperti Makasar, Semarang, Jakarta, Palembang, Pekan Baru, Banda Aceh, Medan dan berbagai daerah di Sumatera Utara. Makalah utama disampaikan oleh Guru Besar IPB Prof. Dr. Ir. Hadi S Alikodra MS. dan Giru Besar USU Prof. Dr. Dwi Suryanto, M.Sc. Kita bertemu untuk menyampaikan dan berbagi informasi tentang Hasil-Hasil Penelitian Biologi, Perkembangan Ilmu Biologi dan Biofarmasi. Seminar ini pasti banyak memberikan kontribusi hasil-hasil Riset Biologi, Optimalisasi Terapannya untuk membangun Bangsa ini menjadi Mandiri. Riset Biologi selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan keilmuan di bidang Biologi sesuai dengan perkembangannya secara nasional maupun internasional.

(6)

Bangsa. Semoga seminar seperti ini dapat berkesinambungan baik di Biologi FMIPA-USU maupun di Perguruan Tinggi daerah-daerah lain di Indonesia.

Kami mengucapkan “ Selamat Datang di Universitas Sumatra Utara Medan” kepada Tamu Undangan, Pembicara Kunci, Penyampai Makalah dan Peserta Seminar yang hadir, baik yang berasal dari Medan maupun yang berasal dari luar Medan semoga mendapatkan Ilmu dan Pengalaman yang berguna selama berada di sini dan Saya ucapkan selamat mengikuti Seminar Nasional Biologi .

Dengan rahmat Allah Yang Maha Esa Saya membuka Seminar Nasional Biologi Tahun 2013 pada tanggal 13 April 2013.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Medan, 13 April 2013

Rektor Universitas Sumatera Utara,

(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... iii

SAMBUTAN KETUA PANITIA ... iv

SAMBUTAN REKTOR USU ... v

DAFTAR ISI ... vii

PEMBICARA UTAMA PENELITIAN KEANEKARAGAMAN HAYATI BAGI KEMANDIRIAN BANGSA Prof. Dr. Ir. Hadi S Alikodra, M.S. ... 3

BIOLOGI LINGKUNGAN SURVIVAL RATE LARVA IKAN RAINBOW KURUMOI (Melanotaenia parva) DI BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN HIAS, DEPOK, JAWA BARAT Frenzysca Yuliani, Tutik Kadarini, Dewi Elfidasari (Universitas Al Azhar Indonesia) ... 13

KUALITAS AIR MINUM PADA DEPOT AIR MINUM ISI ULANG YANG BERADA DI KAWASAN UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU Irda Sayuti, Zulfarina, Bambang Suryadi (Universitas Riau) ... 18

POTENSI BIOMASSA TEGAKAN SETELAH PEMANENAN KAYU DI HUTAN ALAM TROPIKA KALIMANTAN TIMUR Muhdi (Universitas Sumatera Utara) ... 23

PEATLAND RESTORATION IN RIAU BIOSPHERE RESERVE, INDONESIA Haris Gunawan (Universitas Riau) ... 29

DAMPAK KEARIFAN LOKAL SASI KELAPA BAGI LINGKUNGAN DAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DI DESA NGILNGOF KECAMATAN KEI KECIL KABUPATEN MALUKU TENGGARA Melissa Justine Renjaan, Hartuti Purnaweni, Didi Dwi Anggoro (Universitas Diponegoro) ... 38

POTENSI VEGETASI PAKAN GAJAH SUMATERA (Elephas maximus sumatranus) BERDASARKAN PENGETAHUAN LOKAL DI TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER RESORT SEI LEPAN Ma’rifatin Zahrah, Pindi Patana, William Sitorus (Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan Pante Kulu Banda Aceh). ... 45

STUDI PENDUGAAN BEBERAPA JENIS NYAMUK Anopheles spp. SEBAGAI VEKTOR MALARIA DI DAERAH ENDEMIS MALARIA KOTA SABANG Yekki Yasmin, Fauziah (Universitas Syiah Kuala) ... 51

(8)

ANALISIS ASSOSIASI DAUN SANG (Johannesteijsmannia altifrons (Rchb.f. & Zoll) H.E. Moore) DENGAN VEGETASI LAIN DI RESORT SEI BETUNG

TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER

Kansih S Hartini, Hadi S Alikodra, Herman Mawengkang, Retno Widhiastuti

(Universitas Sumatera Utara) ... 63

KONFLIK MANUSIA DENGAN GAJAH SUMATERA (Elephas maximus Sumatranus) DI SEKITAR TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER

Pindi Patana, Ma’rifatin Zahra, Achmad Siddik Thoha, Revina Febrani, William Sitorus

(Universitas Sumatera Utara) ... 69

PENGELOLAAN LAHAN BERBASIS LINGKUNGAN MELALUI PERTANIAN ORGANIK

Siti Latifah, Maryani Cyccu Tobing, Tri Martial (Universitas Sumatera Utara) ... 79

KEANEKARAGAMAN HAYATI

PEMBUATAN KOLEKSI DAN IDENTIFIKASI ORDO LEPIDOPTERA DI PUSAT PENELITIAN BIOLOGI WIDYASATWALOKA LIPI CIBINONG, BOGOR

Geo Septianella, Dewi Elfidasari (Universitas Al Azhar Indonesia) ... 87

JENIS-JENIS LUMUT DAUN (MUSCI) DI KAWASAN HUTAN TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER DESA TELAGAH KABUPATEN LANGKAT SUMATERA UTARA

Ria Windi Lestari, Nursahara Pasaribu (Universitas Sumatera Utara) ... 92

KEANEKARAGAMAN DAN DISTRIBUSI KUPU-KUPU (Subordo Rhopalocera) DI AREA KAMPUS BINAWIDYA UNIVERSITAS RIAU

Yustina (FKIP Universitas Riau)... 102

TUMBUHAN OBAT DI SUAKA MARGASATWA SIRANGGAS KABUPATEN PAKPAK BHARAT SUMATERA UTARA

Ayu Nita Purnama Sari, Retno Widhiastuti (FMIPA Universitas Sumatera Utara) ... 109

KUALITAS PLANKTON PADA BADAN AIR SUNGAI DARI AKTIVITAS PENAMBANGAN BATUBARA PT. BATUBARA LAHAT,

KECAMATAN MERAPI BARAT, KABUPATEN LAHAT

Effendi Parlindungan Sagala (Universitas Sriwijaya) ... 118

MARGA BOUEA (ANACARDIACEAE) DI MALESIA

Tri Harsono (Universitas Negeri Medan) ... 125

VEGETASI LICHENS PADA TEGAKAN POHON PINUS (Pinus merkusii) DI HUTAN AEK NAULI SIMALUNGUN DAN TAHURA BUKIT BARISAN TONGKOH KARO

Ashar Hasairin (Universitas Negeri Medan) ... 133

VARIASI POLA PERCABANGAN PADA MARGA SELAGINELA DI SUMATERA UTARA

Wina Dyah Puspita Sari (Universitas Negeri Medan) ... 141

VARIASI MORFOLOGI IKAN LALAWAK (Barbodes balleroides)

DAN LALAWAK JENGKOL (Barbodes sp) DARI SUNGAI CIKANDUNG DAN KOLAM BUDIDAYA IKAN SUMEDANG, JAWA BARAT

(9)

SUKSESI VEGETASI POHON DI KAWASAN ANTROPIK PERLADANGAN MASYARAKAT KARO KABUPATEN LANGKAT

T. Alief Aththorick (Universitas Sumatera Utara) ... 154

KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU (ORDO LEPIDOPTERA : PAPILIONOIDEA) DI HUTAN KOTA KAMPUS UNIVERSITAS INDONESIA (UI), DAN DI HUTAN KOTA JAKARTA INDUSTRIAL ESTATE PULOGADUNG (JIEP)

Hasni Ruslan, Dwi Andayaningsih (Universitas Nasional) ... 160

STUDI KEANEKARAGAMAN LABA-LABA PEJARING PADA TEGAKAN POHON JAMBU BIJI (Psidium guajava L)

Puji Prastowo, Dewi A.W Manik (Universitas Negeri Medan) ... 165

PERBEDAAN KOMUNITAS ARTHROPODA-TANAH ANTAR TIPE HABITAT DI PULAU KOTOK BESARTAMAN NASIONAL LAUT KEPULAUAN SERIBU

Imran Sl Tobing, Hasni Ruslan, Sugeng Rahayu (Universitas Nasional) ... 170

MORFOMETRIK IKAN BELANAK (Mugil cephalus) DI PERAIRAN ESTUARIA BANDA ACEH DAN ACEH BESAR, PROVINSI ACEH

Z. A. Muchlisin, Munzir Abdul Aziz dan Cut Nanda Defira (Universitas Syiah Kuala) ... 179

KEANEKARAGAMAN JENIS MAMALIA KECIL PADA TIGA HABITAT YANG BERBEDA DI LHOKSEUMAWE PROVINSI ACEH

Muhammad Nasir, Yulia Amira dan Abdul Hadi Mahmud (Universitas Syiah Kuala) ... 186

PENYEBARAN DAN KERAGAMAN JENIS MANGROVE PASCA TSUNAMI DI KAWASAN PESISIR PANTAI TIMUR KABUPATEN PIDIE

Zuriana Siregar dan Feri Suryawan (Universitas Syiah Kuala) ... 192

KAJIAN KERAGAMAN GENETIK PADA 12 AKSESI KELAPA SAWIT ASAL KAMERUN DENGAN MARKA MOLEKULER RAPD

Lollie Agustina P. Putri, Eva Sartini Bayu, Isman Nuriadi dan Indra Eko Setyo

(Universitas Sumatera Utara) ... 198

KEANEKARAGAMAN PLANKTON DI SUNGAI ASAHAN DESA MARJANJI ACEH DAN DESA LUBU ROPA KABUPATEN ASAHAN

Mayang Sari Yeanny (Universitas Sumatera Utara) ... 200

KEANEKARAGAMAN BURUNG PANTAI MIGRAN DI BAGAN PERCUT: STUDI KASUS Numenius spp.

Erni Jumilawaty (Universitas Sumatera Utara) ... 206

KELIMPAHAN DAN POLA PERTUMBUHAN KEPITING BAKAU Scylla Serrata FORSKAL DI EKOSISTEM MANGROVE BELAWAN SUMATERA UTARA

Miswar Budi Mulya dan Erni Jumilawaty (Universitas Sumatera Utara) ... 211

BIOFARMAKA DAN BIOMEDIS

PENGGUNAAN EKSTRAK DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia (Tenore) Steen) BENTUK SEDIAAN SPRAY SEBAGAI OBAT LUKA BAKAR PADA TIKUS

(10)

ANALISIS KADAR AIR TEPUNG CANNALINA Canna edulis Kerr. DAN Spirulina sp Nita Noriko, Niken Parwati, Risa Swandari Wijihastuti, Dwi Atmi Narwati,

Enbun Ma’rufah,Nurwinda Ekawati (Universitas Al Azhar Indonesia) ... 227

PEMANFAATAN SELULOSA MIKROKRISTAL DARI LIMBAH KULIT BUAH KAPUK (Ceiba petandra (L.) Gaertner)

SEBAGAI BAHAN TAMBAHAN PADA PEMBUATAN TABLET

Juanita Tanuwijaya, Karsono (Universitas Sumatera Utara) ... 232

KAJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK AIR DAUN

BANGUN-BANGUN (Coleus amboinicus Lour) DAN SEBAGAI PENGATUR KADAR GLUKOSA DARAH PADA TIKUSPUTIH (Rattus norvegicus) YANG DIBERIAKTIVITAS FISIK MAKSIMAL (AFM)

Melva Silitonga, Herdi Gultom (Universitas Negeri Medan) ... 241

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK n-HEKSANA, ETILASETAT DAN ETANOL DAUN EKOR NAGA (Rhaphidophora pinnata (L.f) Schott) TERHADAP BEBERAPA BAKTERI

Masfria, Harahap U, Nasution MP, Ilyas S (Universitas Sumatera Utara) ... 249

UJI KOEFISIEN FENOL DARI DAUN TANAMAN YANG MENGANDUNG MINYAK ATSIRI

Siti Nurbaya, Erly Sitompul, Suryanto (Universitas Sumatera Utara) ... 257

EFEK EKSTRAK RIMPANG KUNYIT (Curcuma domestica Val.) TERHADAP KEHAMILAN MENCIT

Edy Suwarso, Suryadi Achmad, Lely Sari Lubis (Universitas Sumatera Utara) ... 261

ISOLASI DAN KARAKTERISASI SERTA UJI ANTIDIABETES SENYAWA STEROID EKSTRAK N-HEKSANA DAUN POGUNTANO (Picria fel-terrae Lour)

Panal Sitorus, Urip Harahap, M Pandapotan, Tonel Barus (Universitas Sumatera Utara) ... 265

EFEK ANTIPROLIFERATIF EKSTRAK N-HEKSAN DAUN BANGUN-BANGUN (Plectranthus amboinicus, (Lour.) Spreng.) TERHADAP SEL MCF7

Poppy Anjelisa Z. Hsb., Rosidah, Syafruddin Ilyas, M.Pandapotan Nasution

(Universitas Sumatera Utara) ... 273

PENGARUH LARUTAN CUKA DAN GARAM DAPUR TERHADAP PENURUNAN RESIDU PROFENOFOS PADA CABAI MERAH

Sri Yuliasmi, Effendy De Lux Putra,Muchlisyam, Syahrial Yoenoes, Yuandani

(Universitas Sumatera Utara) ... 278

KARAKTERISASI SIMPLISIA DAN UJI AKTIVITAS EKSTRAK

ETILASETAT TALUS RUMPUT LAUT Sargassum cinerium J.G.AGARDH TERHADAP Staphylococcus aureus

Aswita Hafni Lubis, Sumadio Hadisahputra, Dwi Suryanto, M.Pandapotan Nasution

(Universitas Sumatera Utara) ... 284

PENGARUH EKSTRAK ETANOL DAN FRAKSI ETER AKAR TUBA (Derris elliptica Bth) TERHADAP LAJU KONSUMSI OKSIGEN LARVA INSTAR V Heliothis armigera Hubner

(11)

PENGARUH FRAKSI n-HEKSAN DAN ETILASETAT DAUN KEMBANG BULAN (Tithonia diversifolia (Hemsley) A. GrayPADA TIKUS YANG DIINDUKSI STZ TERHADAP AKTIVITAS ANTIDIABETES

Marline Nainggolan, Kasmirul Ramlan Sinaga, Sumadio Hadisahputra

(Universitas Sumatera Utara) ... 297

GAMBARAN SEL GERMINAL MENCIT (Mus musculus L.)

SEBELUM DAN SETELAH PEMBERIAN KOMBINASI TESTOSTERON UNDEKANOAT (TU) DAN EKSTRAK BIJI PEPAYA (Carica papaya L.)

Syafruddin Ilyas (Universitas Sumatera Utara) ... 303

MIKROBIOLOGI DAN GENETIKA

ANALISIS POPULASI BAKTERI PADASEDIMEN YANG DIPERLAKUKAN DENGAN AIR ASAM TAMBANG

Fahruddin, Elis Tambaru, Helmy Widyastuti (Universitas Hasanuddin) ... 311

PEMANFAATAN PLASMA NUTFAH IRRDB 1981 SEBAGAI MATERIAL GENETIK DALAM PERAKITAN TANAMAN KARET UNGGUL BARU

Syarifah Aini Pasaribu, Sekar Woelan, Sayurandi (Balai Penelitian Sungei Putih,

Pusat Penelitian Karet) ... 315

INTERAKSI GENOTIPE X LINGKUNGAN PADA TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis) SELAMA MASA TANAMAN BELUM MENGHASILKAN Sayurandi, Sekar Woelan, Syarifah Aini Pasaribu (Balai Penelitian Sungei Putih,

Pusat Penelitian Karet) ... 324

SELEKSI PADA GENOTIPE PUTATIF MUTAN KEDELAI UNTUK KARAKTER ADAPTASI KEKERINGAN DAN DAYA HASIL TINGGI

Diana Sofia Hanafiah (Universitas Sumatera Utara) ... 331

LAJU DEKOMPOSISI SERASAH DAUN Rhizophora mucronata SETELAH APLIKASI FUNGI Aspergillus sp.1, Aspergillus sp.4 DAN KOMBINASI

Aspergillus sp.1 + Aspergillus sp.4 PADA BERBAGAI TINGKAT SALINITAS

Yunasfi, Dwi Suryanto (Universitas Sumatra Utara) ... 336

PEMANFAATAN PUPUK KANDANG DAN BAKTERI PEREDUKSI SULFAT PADA SLUDGE INDUSTRI KERTAS UNTUK MENURUNKAN KONSENTRASI LOGAM BERAT DALAM TAILING TAMBANG EMAS

Yan Riska Venata Sembiring, Enny Widyati, Fahrizal Hazra (Balai Penelitian Sungei Putih) ... 345

ALTERNATIF PENGENDALIAN JAMUR UPAS (Corticium salmonicolor) SECARA BIOLOGI PADA TANAMAN KARET

Cici Indriani Dalimunthe, Zaida Fairuzah (Balai Penelitian Sungei Putih) ... 350

UJI POTENSI BAKTERI YANG BERASOSIASI DENGAN SPONS ASAL PULAU NGGE (SIBOLGA) SEBAGAI SUMBER ANTIBAKTERI

Martina Restuati, Endang Sulistyarini Gultom (Universitas Negeri Medan) ... 355

FREKUENSIL ALEL KERBAU LOKAL SOLOK SELATAN BERDASARKAN LOKUS HEL 09 DAN INRA 23 MIKROSATELIT

(12)

ISOLASI BAKTERI KITINOLITIK ASAL SUMBER AIR PANAS IE SEUUM KECAMATAN MESJID RAYA KABUPATEN ACEH BESAR, ACEH

Lenni Fitri, Yekki Yasmin (Universitas Syiah Kuala) ... 366

POTENSI BEBERAPA BAKTERI PENGHAMBAT PERTUMBUHAN Xanthomonas oryzae pv. oryzae PENYEBAB PENYAKITHAWAR DAUN BAKTERI PADA TANAMAN PADI

Zuraidah, Nisa Rachmania Mubarik, Yadi Suryadi (IAIN Ar-Raniry Banda Aceh) ... 371

JENIS JAMUR PELARUT FOSFAT YANG DIISOLASI DARI TANAH GAMBUT (PHOSPHATE SOLUBILIZING FUNGI ISOLATED FROM PEAT SOIL)

Deni Elfiati, Hamidah Hanum (Universitas Sumatera Utara) ... 380

TELAAH Bacillus sp. UHTB SEBAGAI KANDIDAT PROBIOTIK PADA BUDI DAYA UDANG

It Jamilah, Ternala A. Barus, Nunuk Priyani, Yanti Lamtaruli (Universitas Sumatera Utara) ... 386

KONSTRUKSI PLASMID BINER PEMBAWA GEN COPPER ZINC SUPEROXIDE DISMUTASE Melastoma malabathricum (MmCuZn-SOD)

Saleha Hannum, Utut Widyastuti, Suharsono (Universitas Sumatera Utara) ... 392

BIOLOGI STRUKTUR DAN FUNGSI

PREVALENSI SEROLOGI PAPARAN VIRUS Avian Influenza SUBTIPE H5N1 PADA BURUNG AIR LIAR DI CAGAR ALAM PULAU DUA

Dewi Elfidasari, Dedy D. Solihin, Retno D. Soejoedono, Sri Murtini, Yus R. Noor

(Universitas Al Azhar Indonesia) ... 397

GAMBARAN HISTOLOGIS PARU, HATI DAN GINJAL MENCIT JANTAN (Mus musculus) YANG TERPAPAR BIOINSEKTISIDA MINYAK KULITJERUK NIPIS DAN PAPAIN

Rina Priastini, Budiman Hartono (UKRIDA, Jakarta) ... 402

KONDISI FISIOLOGIS IKAN MAS (Cyprinus carpio L) YANG DIBERI VAKSIN Ichthyophthirius multifiliis DAN DIPELIHARA PADA BERBAGAI SUHU MEDIA Henni Syawal, Nastiti Kusumorini, Wasmen Manalu, Ridwan Affandi, dan Yusni Ichwan S

(Universitas Riau) ... 411

HISTOPATOLOGI HATI IKAN PATIN (Pangasius hypopthalmus) YANG TERINFEKSI Aeromonas hydrophila DAN DIOBATI

DENGAN EKSTRAK TEMULAWAK(Curcuma xanthorrhiza ROXB.)

Morina Riauwaty S (Universitas Riau) ... 415

PERUBAHAN SIFAT ULTISOL UNTUK MENDUKUNG PERTUMBUHAN TANAMAN MINT (Mentha arvensis L.) OLEH PERLAKUAN

BERBAGAI PEMBENAH TANAH

Bintang, Mariani Sembiring, Charles PM (Universitas Sumatera Utara) ... 420

PEMANFAATAN ANDALIMAN (Zanthoxylum acanthopodium DC.) SEBAGAI ANTIFERTILITAS DAN PENGARUHNYA

TERHADAP PERKEMBANGAN MENCIT (Mus musculus) STRAIN DDW

(13)

KANDUNGAN KARBOHIDRAT DAN PROTEIN JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotusostreatus) PADA MEDIA TANAM SERBUK KAYU KEMIRI (Aleurites moluccana) DAN SERBUK KAYU CAMPURAN

Jamilah Nasution (Universitas Medan Area) ... 433

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KEDELAI DI BAWAH PERTANAMAN KELAPA SAWIT UMUR 4 DAN 16 TAHUN

Lisa Mawarni, T.Chairun Nisa, J.A.Napitupulu, Karyudi (Universitas Sumatera Utara) ... 436

EFISIENSI PUPUK CAIR MAJEMUK MAGNESIUM SEBAGAI SUPLEMEN TAMBAHAN PADA DAUN MURBEI (Morus cathayana L.) TERHADAP LAJU KONSUMSI, KONVERSI PAKAN, PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS ULAT SUTERA (Bombyx mori L.)

Masitta Tanjung, Nursal, Cut Rossy Meutia (Universitas Sumatera Utara) ... 441

PENGARUH LAMA PENYIMPANAN TELUR TERHADAP KADAR IgY DARI AYAM YANG DIIMUNISASI DENGAN PEPTIDA SINTETIK EPITOP PROTEIN c-MYC Salomo Hutahaean, Agnes Dame Sintauli, Rosima Simanjuntak, T. Gilang Pradana,

(14)
(15)
(16)
(17)

PENELITIAN KEANEKARAGAMAN HAYATI BAGI KEMANDIRIAN BANGSA

2)

Prof. Dr. Ir. Hadi S. Alikodra, MS1

RINGKASAN

Permasalahan pokok yang dihadapi bangsa Indonesia semakin kompleks dan satu sama lain berkaitan erat, yaitu antara lain ketahanan pangan, kecukupan energi, dan kesehatan. Sumber kekayaan hayati yang beranekaragam, menjadi peluang, tantangan dan sekaligus harapan bagi pengembangan penelitian dan iptek masa kini dan mendatang. Jasa keanekaragaman hayati (kehati) sangat luas, meliputi berbagai aspek pemenuhan kebutuhan manusia dan pembangunan, seperti sandang, pangan, papan, dan kesehatan. Indonesia termasuk mega biodiversity country, maka sangat tepat jika penelitian dan iptek berbasis sumber kekayaan alam ini terus dikembangkan secara optimal bagi pemecahkan permasalahan pokok bangsa. Makalah ini membahas jasa kehati yang berpeluang besar bagi pengembangan penelitian dan iptek dalam rangka membangun kemandirian bangsa.

A. TANTANGAN PENELITIAN KEHATI

Kekayaan hayati Indonesia yang tersebar di seluruh pelosok tanah air baik sebarannya menurut latitude dari Sabang hingga Merauke, maupun sebarannya menurut altitude dari puncak gunung hingga dasar laut dalam (Alikodra, 2012) belum mampu digali dan dimanfaatkan secara optimal bagi pengembangan penelitian dan kemajuan iptek. Padahal iptek merupakan modal dasar suatu bangsa untuk mencapai standard hidup yang layak (Ross dkk, 1996). Harapannya melalui iptek bangsa Indonesia mampu memecahkan permasalahan pokoknya yaitu ketahanan pangan, kecukupan energi, dan kesehatan.

Namun potensi kekayaan kehati yang luar biasa ini belum mampu digali dan dimanfaatkan secara optimal bagi pengembangan penelitian, sehingga iptek bangsa ini relatif belum berkembang sesuai dengan harapan dan relatif tertinggal oleh Negara lain. Akibatnya mengalami kesulitan untuk menggapai tujuan kesejahteraan masyarakatnya secara adil dan merata, karena masih adanya kerawanan pangan, kerawanan energi, dan kerawanan kesehatan. Dilain pihak kerusakan kekayaan hayati semakin meningkat, dan biopiracy semakin mengancam kelestariannya, terutama karena sulitnya menjaga dan mengontrol kekayaan hayati yang tersebar di seluruh kepulauan nusantara.

Lagi pula kegiatan penelitian masih menghadapi lemahnya infrastuktur, misalnya saat ini LIPI sebagai scientific authority baru memiliki lebih dari tiga juta koleksi spesimen hayati. Dilain pihak laju kepunahan dan ancamannya semakin meningkat, sehingga untuk mengimbanginya , LIPI mendorong pembentukan kebun raya di daerah-daerah (Kompas, 8 Februari 2013). Disamping itu bagi perlindungan plasma nutfah, Kementerian Kehutanan juga telah menetapkan kawasan konservasi insitu hingga mencapai 24,3 juta hektar dengan status taman nasional, taman wisata alam, suaka margasatwa, dan cagar alam, serta sekitar 32,1 juta hektar taman buru dan hutan lindung. Salah satu fungsi kawasan konservasi adalah untuk mendukung kegiatan penelitian, disamping kegiatan pendidikan dan wisata alam.

Saya yakin bahwa kegiatan dan hasil penelitian banyak tersebar di berbagai lembaga penelitian di seluruh Indonesia, baik di tingkat nasional, propinsi hingga kabupaten/kota. Namun, karena terbatasnya infrastruktur dan belum adanya koordinasi yang cukup, dan belum dikomunikasikan secara luas, menyebabkan masyarakat masih mengalami kesulitan utuk mengakses hasil-hasil penelitian. Perlu kerja keras untuk memetakannya karena tersebar diberbagai instansi dari pusat hingga daerah. Sebaiknya kita terus mendukung agar pusat data dan informasi tentang penelitian dan iptek kehati berkembang secara optimal di LIPI, dan informasi tentang konservasi insitu dan eksitu terpusat di Kementerian Kehutanan c/q Direktorat Jenderal PHKA. Kerjasama kedua instansi ini menjadi penting karena sangat menentukan kemajuan program penelitian, seperti bioprospeksi, wisata alam, ataupun penelitian di bidang kesehatan lainnya.

1

Guru Besar Konservasi Alam IPB

(18)

Kekayaan kehati meliputi genetika, jenis, dan ekosistem secara potensial dapat memasok kebutuhan dasar dan informasi bagi pengembangan penelitian dan iptek. Sebagai megadiversity country, selayaknya Indonesia memiliki keunggulan penelitian biologi kekayaaan hayatinya. Secara kualitatif sumberdaya manusianya pun cukup mumpuni dari hitungan jumlah dan latar belakang pendidikan. Walaupun profesi taksonomi ternyata masih sangat terbatas, sehingga diperlukan dukungan pemerintah untuk mendorong minat para peneliti menjadi ahli taksonomi tumbuhan ataupun hewan.

Instansi yang terlibat dalam penelitian kekayaaan kehati pun sudah jelas keberadaan dan fungsinya seperti Bappenas, LIPI, MENRISTEK, Pusat-pusat penelitian dan pengembangan di berbagai kementerian, perguruan tinggi, dunia usaha, dan LSM. Namun rupanya koordinasi dan kolaborasi diantara instansi penelitian dan pengembangan iptek ini masih perlu ditingkatkan, mereka cenderung mengutamakan untuk bekerja mandiri di instansinya masing-masing. Mungkin kondisi ini dapat diatasi melalui kegiatan penelitian terintegrasi ataupun kegiatan penelitian terpadu diantara instansi terkait.

Bagi pengembangannya seringkali dikemukakan adanya hambatan klasik, yaitu kekurangan biaya. Saya kira alasan ini juga dapat dimengerti karena kegiatan penelitian seringkali membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun, biaya tidak satu-satunya menjadi faktor penentu bagi kegiatan penelitian dan pengembangan iptek. Suatu anggapan yang keliru jika segala-galanya dialamatkan pada keterbatasan biaya, padahal ada modal lain yang seringkali dilupakan, yaitu kemampuan SDM, kekayaan kehati, instansi yang mapan, dan peraturan perundangan yang ada. Berarti diperlukan perencanaan yang mampu memasukan seluruh potensi modal selain dana, kemudian mampu melakukan negosiasi secara tepat dengan berbagai pihak yang berminat untuk bekerjasama di bidang penelitian kehati, ataupun memanfaatkan jasanya bagi biofarmasi, dan ekowisata.

Kita memiliki kecukupan SDM, termasuk pengetahuan masyarakat lokal tentang kehati yang tersebar di seluruh tanah air. Walaupun secara umum masih perlu ditingkatkan kapasitasnya, namun semangat, keterampilan, keuletan, latar belakang pengetahuan mereka merupakan modal penting bagi pengembangan penelitian. Pemerintah juga telah memiliki berbagai peraturan perundangan yang terkait dengan kehati dan mekanismenya yang telah dituangkan dalam peraturan teknis kegiatan penelitian, termasuk pedoman etika dan moral bagi para peneliti.

Instansi pemerintah yang bertanggung jawab bagi pengembangan penelitian dan iptek adalah LIPI sebagai scientific authority, MENRISTEK sebagai koordinator pengembangan kebijakan penelitian dan iptek, dan Bappenas bertanggung jawab dalam perencananaan pembiayaannya secara nasional. Disamping itu ada kementrian operasional yang terkait dengan pengembangan penelitian kehati yaitu Kementerian Kesehatan, Kementerian Kehutanan dan Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai managementauthority.

Dalam acara peluncuran buku Bioresources untuk Pembangunan Ekonomi Hijau oleh LIPI di Jakarta Kamis 7 Februari lalu, juga dinyatakan bahwa kelimpahan manfaat kekayaaan hayati yang terindentifikasi belum juga digunakan untuk menunjang pembangunan ekonomi hijau. Pembangunan masih mengandalkan model eksploitasi yang merusak (Harian Kompas, 8 Februari 2012). Saya sangat sependapat bahwa secara umum kebijakan masih berorientasi jangka pendek bagi keuntungan ekonomi sebesar-besarnya. Manfaaatnya terhadap lingkungan belum menjadi perhatian untuk diperhitungkan, sehingga rawan bagi keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungan hidupnya.

Berbagai jenis fauna dan flora memilliki potensi bagi penelitian bioprospeksi bahan farmasi atau obat-obatan, seperti yang telah berkembang di Costarica (Sittenfeld dan Gamez, 1993), perlu segera dipersiapkan juga pengembangannya di Indonesia. Misalnya menurut catatan LIPI yang disampaikan pada acara peluncuran buku Bioresources untuk Pembangunan Ekonomi Hijau menunjukan bahwa berbagai jenis hewan seperti rase, musang, trenggiling, rusa, landak, kalong, dan binatang amfibi, ular, laba-laba, undur-undur, lebah, cacing, dan spons (invertebrata laut) memiliki manfaat bagi bahan farmasi atau obat-obatan. Ekstraksi ular weling (Bungarus candidus) mengandung enzim penjernih darah. Kantong telur dan jaring laba-laba yang bisa menghentikan pendarahan. Hewan undur-undur (Neuroptera sp) diketahui sebagai obat malaria, dan diperjual belikan untuk obat diabetes.

(19)

endemik). Termasuk memiliki 30.000 spesies tanaman darat (Darmatin, 2007), sangat potensial bagi pengembangan penelitian dan iptek Indonesia. Sumber kekayaan hayati yang potensinya luar biasa ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, perlu segera mendapat prioritas untuk percepatan kegiatan penelitian dan pengembangan iptek.

Sesuai dengan dokumen Global Biodiversity Strategy tahun 1992 yang dipersiapkan oleh WRI, IUCN, dan UNEP, disebutkan bahwa mempelajari kehati mengandung arti: (1) mendokumentasikan komposisi, sebaran, struktur, dan fungsinya; (2) memahami peran dan fungsi gen, spesies, dan ekosistem; (3) mendokumentasikan keterkaitan yang kompleks diantara sistem alam dan sistem yang telah diubah; dan (4) menggunakan semua pemahaman ini untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Dokumen strategi biodiversity global ini telah banyak dibahas secara nasional dan salah satunya tertuang dalam dokumen IBSAP. Dalam program selanjutnya dokumen IBSAP ini sebaiknya diteruskan menjadi dokumen strategi dan rencana aksi daerah.

LIPI juga mencatat manfaat beberapa jenis flora, misalnya rebung bambu kuning (Bambusa vulgaris) bisa untuk mengobati hepatitis A. Daun bambu muda yang masih tergulung ternyata bisa menurunkan kolesterol dengan cara diseduh seperti teh, dan masih banyak lagi. Mengingat masih sangat terbatasnya pengetahuan tentang manfaat ini, maka untuk menggali dan mengembangkannya menjadi tantangan bagi para ilmuwan biologi, ekologi, dan konservasi alam. Misalnya juga perlu untuk mengumpulkan dan mendokumentasikan seluruh informasi manfaat unsur hayati yang dimiliki oleh masyarakat adat.

Disisi lain, seringkali banyak pihak ketakutan akan dampak negatif pengembangan ilmu pengetahuan terhadap kelestarian lingkungannya. Seperti dampaknya terhadap percepatan laju kepunahan spesies, ataupun pencemaran lingkungannya. Potensi kekayaaan hayati ini terus menghadapi resiko menuju kepunahaan, terutama karena pembangunan belum sepenuhnya berpihak untuk mengembangkan kekayaan kehati/bioresources. Oleh karenanya iptek harus pula dapat menciptakan teknologi yang tidak boros bahan baku, dan tidak mencemari lingkungannya, yaitu iptek yang dapat menjamin kelestarian sumber kekayaan kehati yang kita miliki.

Pemanasan global yang semakin nyata perlu diantisipasi oleh para peneliti biologi, karena berakibat buruk terhadap keberadaan spesies di bumi, menjadi rawan kepunahan. Seperti kodok Amerika Latin yang kebiasaan kawinnya di air, harimau Asia yang biasa tinggal di hutan mangrove, gajah Afrika yang semakin tertekan karena periode kering yang semakin panjang, terumbu karang Great Barrier Reef di Australia akan kehilangan 90% koral hidup pada tahun 2050. Termasuk terancamnya kehidupan beruang kutub di Wilayah Arctic karena habitatnya terus menyusut, populasi ganggang di Amerika yang terus menyusut, suhu yang semakin panas di Wilayah Pacific telah menyebabkan semakin menurunnya populasi penyu laut, dimana temperatur yang panas menyebabkan meningkatnya jumlah penyu betina (CBD, 2007)

Perubahan iklim secara langsung dapat memicu terjadinya kemunduran ekosistem, berkurangnya potensi air, meningkatnya hama dan penyakit tanam ataupun penyakit pada hewan, dan penurunan produksi pertanian. Komponen kehati diduga akan mengalami perubahan, seperti distribusi, laju kepunahan, perubahan waktu reproduksi, dan perubahan musim pertumbuhan tanaman. Kondisi ini berpotensi memicu terjadinya kerawanan pangan, ketersediaan pangan, dan keamanan pangan. Berarti ketahanan pangan pendudukpun semakin terancam jika kita tidak mampu menyesuaikannya dengan pemanasan global (Alikodra, 2011).

(20)

B. RANCANGAN PENELITIAN NASIONAL

Kegiataan penelitian mestinya terkoordinasi secara nasional, dan pelaksanaan kegiatannya dapat diarahkan ke berbagai organisasi yang memilki kriteria sesuai dengan tugas fungsi pokoknya sebagai lembaga penelitian. Di tingkat nasional dikenal tiga instansi yang berperan bagi pengembangan penelitian dan iptek, yaitu Bappenas, LIPI, dan MENRISTEK. Sebagai management authority bagi konservasi kehati di tingkat nasional ada Kementerian Kesehatan, Kementerian Kehutanan, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Ketiga kementerian ini juga melakukan kegiatan penelitian terapan bagi tercapainya proses implementasi hasil-hasil penelitian.

Mengingat banyaknya sumberdaya manusia yang juga terlibat dalam kegiatan penelitian, maka Kementerian Pendidikan Nasional juga perlu terlibat dalam perecanaan nasional disamping kementerian terkait sebagai management authority seperti Kementerian Kehutanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan Kementerian Kesehatan. Termasuk LSM dan dunia usaha supaya dilibatkan dalam proses perencanaan penelitian nasional, karena mereka banyak terlibat dalam kegiatan penelitian. Pengalaman masyarakat adat juga supaya mendapat tempat yang cukup memadai dalam proses penyusunan rencanan penelitian nasional.

Kapasitas nasional bagi pengembangan penelitian dan iptek perlu untuk ditingkatkan secara berkelanjutan, meliputi: (1) pembakuan mekanisme/aturan proses perencanaan dan implementasi kegiatannya baik bagi perencaaan maupun pelaksanaannya secara nasional; (2) koordinasi dan mekanisme kerja diantara institusi terkait di tingkat nasional baik dalam proses perencanaan maupun implementasinys; (3) Koordinasi dan mekanisme kerja antara instansi di tingkat pusat dengan instansi daerah; (4) koordinasi atara instansi terkait di tingkat daerah; dan (5) pengembangan sistem monitoring dan evaluasi kegiatan penelitian secara nasional.

Pengembangan penelitian sangat terkait dengan kapasitas peneliti yang terus menerus menggali dan mengembangkan pertanyaan, serta mencari jawabannya secara tepat sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah. Walaupun ahli biologi mengetahui berbagai hal tentang tumbuhan ataupun hewan, ternyata masih banyak misteri yang tersisa. Misalnya apa tepatnya hingga munculnya tumbuhan berbunga, atau kenapa bekantan yang hidupnya di rawa-rawa namun tahan terhadap penyakit malaria, dan seterusnya banyak pertanyaan yang diajukan tentang dunia kehidupan. Mencari jawabannya harus dilakukan berdasarkan sains (ilmu pengetahuan alam), dan penelitian ilmiah (penelitian saintifik), sebagai aktivitas sentral pada biologi (Campbell dkk, 2008). Kegiatan penelitian ini dapat dibedakan sebagai penelitian dasar dan penelitian terapan.

Untuk menjawab persoalan pokok yang dihadapi bangsa ini, dapat dikembangkan kegiatan penelitian terapan. Hasil penelitian dasar dapat terus dikembangkan untuk mendukung kegiatan penelitian terapan. LIPI memberikan definisi bahwa penelitian dasar adalah setiap penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ilmiah atau untuk menemukan bidang penelitian baru tanpa suatu tujuan praktis tertentu. Artinya kegunaan hasil penelitian dapat saja tidak segera dipakai namun dalam waktu jangka panjang juga akan terpakai. Penelitian dasar dilakukan untuk memperluas batas-batas ilmu pengetahuan, dan tidak ditujukan secara langsung untuk mendapatkan pemecahan bagi suatu permasalahan khusus, namun dilakukan untuk memverifikasi teori yang sudah ada atau mengetahui lebih jauh tentang sebuah konsep.

Sebaliknya kegiatan penelitian terapan adalah pemanfaatan atau penerapan ilmu pengetahuan pada isu-isu parktis tertentu, untuk menjawab persoalan kebijakan atau pemecahan masalah sosial seperti ketahanan pangan, kecukupan energi dan obat-obatan. Mungkin ada beberapa pertanyaan berkaitan dengan kesehatan ataupun isu-isu sosial lingkungan. Biologi terjalin kedalam kebudayaan bangsa dan dapat membantu menjawab banyak pertanyaan yang mempengaruhi kehidupan manusia. Terobosan penelitian di bidang genetika dan biologi sel telah berperan mengubah kedokteran dan pertanian yang lebih produktif (Campbell dkk, 2008).

(21)

Diperlukan rancangan penelitian secara nasional, yang menjadi payung bagi kegiatan penelitian di Indonesia. Rancangan penelitian nasional hendaknya berbasis kekayaan kehati dan kekayaan budaya masyarakatnya. Menurut hemat saya dapat didisain atas dasar tiga faktor, yaitu permasalahan pokok (ketahanan pangan, enersi, kesehatan), tingkatan keanekaragaman hayati (genetika, jenis, dan ekosistem), dan tujuan riset (riset dasar atau riset terapan). Campbell, dkk (2008) menyatakan bahwa meneliti dunia kehidupan sangat kompleks dan rumit, karena biologi adalah bidang yang memilki cakupan luar biasa dan pengetahuan biologi berkembang dengan kecepatan yang terus meningkat.

Walaupun belum secara lengkap mempertimbangkan seluruh faktor seperti tersebut diatas, maka secara umum kegiatan penelitian telah tertampung dalam dokumen IBSAP (Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan) 2003-2020. Beberapa kegiatan penelitian tersebut (IBSAP, 2003) dapat dikatagorikan sebagai penelitian terapan, seperti: (1) penelitian bagi spesies yang mempunyai nilai ekonomi, (2) penelitian spesies untuk keperluan penentuan kuota bagi satwa yang diperdagangkan; (3) penelitian spesies perairan (air tawar dan air laut); (4) penelitian sosial-budaya, terutama kearifan masyarakat dalam pemanfaatan keanekaragaman hayati; (5) penjajakan penelitian “bioprospecting”; (6) penilaian ekonomi SDA dan strategi pasar (potensi, pasar, jalur perdagangan, dan sebagainya); dan (7) pengembangan basis data tentang spesies bernilai ekonomi dan perdagangan. Pokok-pokok kegiatan penelitian yang tertuang di dalam IBSAP tersebut dapat dipakai sebagai acuan dasar bagi pengembangan penelitian, namun perlu didetilkan lebih mendalam, baik cakupan maupun kedalamannya. Sebagai acuan, tema dapat diikuti konsensus diantara para ahli biologi bahwa tema inti biologi adalah evolusi yang merupakan penyebab kesatuan dan keanekaragaman kehidupan. Mengutif salah seorang penegak teori evolusi modern, Theodosius Dobzhansky,”karena tidak sesuatupun dalam bidang biologi yang bermakna kecuali diterangi cahaya evolusi” (Campbell dkk, 2008). Selanjutnya Campbell dkk, mengingatkan bahwa selain meliputi jenjang skala-skala ukuran dari molekul sampai biosfer, biologi membentang melintasi keanekaragaman spesies yang luar biasa yang pernah hidup di bumi, sehingga kita harus membahas bagaimana pemikiran para ahli biologi tentang keanekaragaman yang sangat tinggi ini.

C. ETIKA PENELITIAN

Kegiatan penelitian biologi yang berkembang pesat dewasa ini banyak menggunakan bagian-bagian tubuh manusia ataupun hewan/tumbuhan hingga program penelitian sel punca. Banyak kalangan mempertanyakan soal etika, karena penggunaannya dapat menimbulkan penganiayan terhadap makluk bersangkutan, ataupun pores dan hasilnya dapat menimbulkan pelomik etika apakah dipandang etis atau tidak etis bagi kehidupan manusia, sehingga departemen kesehatan menerbitkan beberapa suplemen seperti etik penggunaan hewan percobaan, etik penelitian genetik, ataupun etik penelitian epidemologi (PNEPK, 2008).

Istilah ilmiah merupakan kualifikasi positif yang jawabannya mempunyai dasar yang kokoh dan dapat dipercaya, hasil cara-cara kerja bersifat sistematik, kritis, dan berdasarkan keahlian (Semiawan dkk. 2005). Seorang peneliti diminta jujur, mandiri dan bertanggung jawab terhadap hasilnya sebagai suatu kebaruan, serta terbuka terhadap berbagai saran dan kritik yang bersifat membangun, sehingga aspek etika dan moral menjadi landasan penting bagi para peneliti. Nasib pengembangan penelitian dapat dikatakan ada ditangan para peneliti yang hasilnya sangat dilandasi oleh etika akademis, sangat menentukan kualitas hasil penelitiannya bertanggung jawab bagi perbaikan lingkungan hidup.

Peneliti wajib mengusung wibawa keilmuwan dalam mengutarakan pikiran dan pendapatnya serta penemuannya adalah pengakuan terhadap kebebasan mimbar akademik. Dilandasi oleh otonomi keilmuan dan kebebasan ilmiah yang dimilki mereka yang memenuhi segala persyaratan untuk itu. Kebebasan mimbar akademik adalah prinsip yang melekat dalam budaya kepakaran di lingkungan universitas yang didasarkan atas integritasnya, yang pada gilirannya terikat pada etika dalam menghayati ilmu pengetahuan sebagai upaya menuju kebenaran ilmu (Hassan, 1989 dalam Semiawan dkk, 2005).

(22)

benar, baik dan tepat (Borrong, 1999). Borrong juga menyatakan bahwa etika adalah uraian tentang bagaimana seseorang seharusnya hidup atau berkelakuan dan memperlakukan yang lain atau berperilaku terhadap yang lain agar pada satu pihak tindakannya itu mencerminkan kebenaran dan kebaikan pada dirinya. Dilain pihak sekaligus mencerminkan norma keadilan, kebenaran dan kasih terhadap sesamanya.

Etika sangat terkait dengan kapasitas jatidiri, sebagai pencerminan individu peneliti atau suatu entitas yang bersifat pribadi dalam diri individu atau entitas yang selalu nampak secara konsisten dalam sikap dan perilaku individu atau entitas yang berbasis ke Indonesiaan dalam menghadapi setiap permasalahan (Suhartono, 20050. Suhartono selanjutnya menyatakan bahwa perilaku merupakan moral yang sebenarnya ada dalam pribadi setiap manusia, dimana moralitas yang positif selalu mengaitkan hubungan yang harmonis dan dinamis antara manusia dengan sesamanya, manusia dengan alamnya, dan manusia dengan Sang Maha Pencipta. Moral para peneliti sangat menentukan produk yang dihasilkan ataupun yang diciptakan, sehingga diperlukan dorongan, dukungan, dan peningkatan etika penelitian yang dapat melandasi moral yang sesuai dalam mengemban dan melaksanakan tugasnya sebagai peneliti.

Moral yang terbentuk pada diri manusia sangat terkait dengan jati diri. Dalam kamus bahasa Indonesia, dijelaskan bahwa jatidiri adalah (Poerwadarminta, 2007), adalah meliputi: (1) ciri-ciri, gambaran, atau keadaan khusus seseorang atau sesuatu benda atau identitas; (2) inti, jiwa, semangat, dan daya gerak dari dalam; dan (3) spiritualitas mencari diri. Jatidiri yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai identity adalah suatu kualitas yang menentukan suatu individu atau entitas sedemikian rupa sehingga diakui sebagai suatu pribadi yang membedakan dengan individu atau entitas yang lain.

Jatidiri sangat ditentukan oleh latar belakang, antara lain: kondisi keluarga dan lingkungannya baik sosial, budaya termasuk pendidikan spiritual dan kondisi ekonomi mereka, serta pengalaman pendidikan dan penelitian. Jatidiri sangat terkait dengan moral yang dapat mencerminkan perilakunya sebagai peneliti, mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Jatidiri sangat terkait pula dengan potensi diri, Wiyono (2006) menyatakan bahwa potensi diri adalah kemampuan dasar yang dimiliki manusia yang masih terpendam di dalam dirinya, yang menunggu untuk diwujudkan menjadi suatu manfaat yang nyata dalam kehidupan diri manusia. Jatidiri sangat terkait pula dengan value/nilai yang berguna bagi identifikasi positif atau negatif kualitas suatu kejadian, objek atau situasi.

Manusia memiliki potensi diri yang sangat dahsyat seperti motivasi, kemauan, atau willingness yang seringkali tercermin sebagai kekuatan spiritual tanpa batas, berkat kekuatan Allah SWT. Kekuatan motivasi (daya karsa) dan kemauan juga didukung oleh kekuatan daya rasa dan daya cipta yang bersumber dalam hati dan akal pikiran manusia (Wiyono, 2006). Pada dasarnya, semua manusia dikaruniai kekuatan motivasi dan kemauan sesuai yang kapasitasnya, namun penggunaanya sangat tergantung dengan akal pikirannya yang sehat, sehingga berpotensi untuk bertindak baik ataupun tidak baik menurut ukuran moral.

Potensi diri ini menjadi sangat penting untuk digali dan dikembangkan menjadi suatu kekuatan moral yang positif, sehingga mampu menangkal berbagai isu ataupun kondisi yang negatif, misalnya ketika muncul fenomena negatif yang dikenal dengan fenomena “angsa hitam” yang mengungkap rahasia terjadinya peristiwa-peristiwa langka yang tak terduga, seperti yang tertuang dalam buku “ The Black Swan” karya Taleb (β009). Implikasinya adalah bahwa peneliti harus siap dengan berbagai tantangan sosial yang berkembang di masyarakat , yang seringkali berlawanan dengan konsep dan kaidah-kaidah suatu kegiatan penelitian.

(23)

D. KEMANDIRIAN BANGSA

Bangsa yang besar dan kuat dalam menghadapi berbagai tantangan dan gangguan adalah bangsa yang mandiri. Kemandirian ini dapat menjadi ukuran identitas kemajuan suatu bangsa dan sekaligus menjadi kekuatan nasional. Sebagai bangsa yang berdaulat maka salah satu ukuran kemandirian adalah semakin mengurangi ketergantungan pada dunia luar. Terutama dalam kaitannya dengan globalisasi, yang akan menimbulkan kepincangan dunia, pasar bebas justru akan semakin kuat mencengkeram Negara berkembang dan semakin memperkuat Negara maju, sehingga bangsa ini harus mampu meningkatkan kapasitasnya menjadi bangsa yang mandiri (Hindarto, 2013).

Hindarto menyebutkan ciri bangsa yang mandiri, adalah:

(1) Mampu berdiri diatas kekuatan sendiri dengan segala sumberdaya yang dimiliki; (2) Mampu memecahkan persoalan yang dihadapi;

(3) Mampu mengembangkan inovasi dan penelitian di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi; dan

(4) Memiliki keunggulan dan daya saing.

Ditegaskan oleh Menristek dalam pidato pengantarnya pada hari kebangkitan teknologi nasional tahun 2012, menyatakan bahwa dalam memanfaatkan, menguasai, dan mengembangkan iptek, hendaknya mengembangkan budaya iptek yang ada di masyarakat (Hatta, 2011). Tujuannya adalah agar penelitian dan pengembangan iptek lebih bertumpu pada kebutuhan riil masyarakat (demand driven), untuk mencari solusi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan mendorong pemenuhan kebutuhan penelitian yang lebih aplikatif.

Penelitian diharapkan dapat memenuhi kebutuhan industri dalam pengertian luas untuk menghasilkan produk barang dan/atau jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan publik serta sebesar-besarnya memberikan manfaat bagi masyarakat ataupun lembaga pemerintah, sehingga lebih meningkatkan pelayanan publik. Melalui cara ini diharapkan iptek yang dihasilkan berbasis pengetahuan masyarakat yang tersebar di penjuru tanah air yang biasa dikenal sebagai the local knowledge dan sekaligus dapat mengangkat kemampuan iptek bagsa ini secara nasional dan global. Dengan demikian maka teknologi yang dikembangkan akan sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dengan dukungan potensi sumberdaya yang ada.

Indonesia sebagai megadivercity country, termasuk kekayaan budayanya merupakan modal dasar yang selayaknya dimanfaatkan bagi pengembangan iptek. Momentum meningkatkan kontribusi iptek bagi kesejahteraan rakyat, peningkatan produktivitas dan daya saing produk industri. Penguasaan dan pemanfaatan iptek akan memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan nasional, apabila berbagai hasil penelitan, pengembangan maupun perekayasaan, dan penerapan iptek dapat diimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat termasuk sektor usaha dalam memberikan alternatif solusi bagi permasalahan yang dihadapi.

Peningkatan dan penguasaan iptek juga akan membuka lapangan pekerjaan baru, meningkatkan profesi individu, dan meningkatkan pendapatan individu dan masyarakat, yang pada akhirnya dapat memajukan perekonomian bangsa. Jusuf Kala di Kompas.com 7 Februari 2013 menyatakan bahwa generasi muda harus mandiri, karena generasi muda adalah tumpuan untuk menggapai Indonesia bermartabat, dimana bangsa yang bermartabat tidak boleh tergantung dengan bangsa lain. Tumpuannya ada pada generasi muda, pemuda harus mandiri bagi meningkatkan derajat bangsa. Kemandirian generasi muda dimulai dari membanguan kemampuan entrepreneurship, yang pandai melihat peluang dan rajin berinovasi, serta dapat memanfaatkan teknologi yang terus berkembang.

E. KESIMPULAN

1. Indonesia memiliki kekayaan kehati yang sangat tinggi sebagai modal dasar bagi pengembangan penelitian dan iptek, namun potensi ini belum sepenuhnya dimanfaatkan sehingga status penelitian dan iptek Indonesia termasuk tertinggal;

2. Dalam memanfaatkan, menguasai, dan mengembangkan iptek, hendaknya mengembangkan budaya iptek yang ada di masyarakat, agar penelitian dan pengembangan iptek lebih bertumpu pada kebutuhan riil masyarakat;

(24)

yang menjamin tidak akan menimbulkan kerugian terhadap sosial-budaya, ekonomi, dan ekologi Indonesia;

4. Hasil penelitian sangat menentukan kemandirian bangsa, untuk menjadi bangsa yang tangguh secara professional dalam menghadapi segala tantangan dan tekanan Negara lain, dan juga mempunyai kemampuan untuk mempertahankan keberadan kehati sebagai modal dasar bagi berkelanjutan bangsa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Alikodra HS. 2012. Konservasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan: Pendekatan Ecosophy bagi penyelamatan Bumi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Alikodra HS. 2011. Global Warming dan Ketahanan Pangan. Makalah Disampaikan Pada Seminar Nasional Perubahan Iklim, Air, dan Ketahanan Pangan, Politeknik Pertanian Payakumbuh, 14 Desember 2011.

Borrong RP. 1999. Etika Bumi Baru. PT BPK Gunung Mulia, Jakarta.

CBD. 2007. Biodiversity and Climate Change. International Day for Biological Diversity. Secretariat of the CBD.

Campbell NA, JB Reece, LA Urry, ML Cain, SA Wasserman, PV Minorsky, RJ Jackson. 2008. Biologi. Penerbit Erlangga, Jakarta.

Darmatin U. 2007. Potensi Tanaman Hias Hutan Tropis Indonesia. Pusat Informasi Departemen Kehutanan.

Goulet D. 1993. Biological Diversity and Ethical Development. The White Horse Press, Cambridge. Hatta GM. 2012. Pengantar Menteri Negara Riset dan Teknologi pada hakteknas ke 17, 10 Agustus

2012.

Hindarto DN. 2013. Membangun Kemandirian Bangsa. Dunia Esai.

IBSAP. 2003. Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaaman Hayati Indonesia 2003-2020. BAPPENAS, Jakarta.

KLEPK. 2008. Pedoman Nasional Etik Penelitian Kesehatan. Departemen Kesehatan, Jakarta. Poerwadarminta WJS. 2007. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Balai Pustaka, Jakarta.

Ross F, E Enger, R Otto, R Kormelink. 1996. Diversity of Life. WmC. Brown Pubhlisers, London. Sastrapradja SD, EA Widjaja. 2010. Keanekaragaman Hayati Pertanian menjamin Kedaulatan

Pangan. LIPI Press, Jakarta.

Semiawan C, ThI Setiawan, Yufiarti. 2005. Panorama Filsafat Ilmu: Landasan Perkembangan Ilmu Sepanjang Zaman. Teraju, Jakarta.

Sittenfeld, A., Gamez. 1993. Biodiversity Prospecting by INBio (In: Biodiversity Prospecting. Reid WV, SA Laird, CA Mayer, R Gamez, A Sittenfeld, DH Janzen, MA Gollin, C Juma eds: 69-98). World Resources Institute, USA.

Suhartono S. 2005. Sejarah Pemikiran Filsafat Modern. Ar-Ruzz, Jogjakarta. Taleb NN. 2009. The Black Swan. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Wiyono S. 2006. Manajemen Potensi Diri. PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.

(25)
(26)
(27)

SURVIVAL RATE LARVA IKAN RAINBOW KURUMOI (Melanotaenia parva) DI

BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN HIAS, DEPOK,

JAWA BARAT

Frenzysca Yuliani1, Tutik Kadarini2, Dewi Elfidasari1 1

Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Al Azhar Indonesia 2

Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias (BP2BIH) Email : [email protected]

ABSTRAK

Ikan rainbowkurumoi memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, sehingga memiliki permintaan pasar yang tinggi. Ikan rainbow diminati oleh para pecinta ikan hias karena memiliki warna yang menyerupai warna pelangi. Banyaknya larva yang mati pada saat proses pemeliharan menjadi masalah dalam proses produksi larva ikan rainbow kurumoi. Untuk itu perlu diketahui faktor yang mempengaruhi kelangsungan hidup larva ikan rainbow. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui proses pemeliharaan ikan rainbow kurumoi dan presentase Survival Rate (SR) larva ikan rainbow yang dilakukan di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias (BP2BIH). Metode yang digunakan adalah pemilihan dan pemeliharaan larva, mengukur panjang larva, dan presentase SR serta mengukur kualitas air. Hasil dari penelitian ini diperoleh presentase SR sebesar 94,03 % dengan panjang larva selama seminggu sebesar 6,04 mm. Faktor yang mempegaruhi kelangsungan hidup larva ikan adalah kualitas air tempat hidup ikan dan ketersediaan pakan. Kualitas air yang baik membuat larva terbebas dari penyakit dan ketersediaan pakan yang cukup membuat larva dapat tumbuh dan berkembang lebih baik, hal ini membuat Survival Rate (SR) menjadi tinggi.

Kata Kunci : ikan rainbow kurumoi, pemeliharaan larva, Survival Rate (SR), kualitas air

PENDAHULUAN

Indonesia memiliki potensi yang cukup baik dari sektor perikanan, meliputi perikanan konsumsi dan non konsumsi. Dari sektor perikanan non konsumsi seperti budidaya ikan hias, masyarakat mampu memperbaiki perekonomiannya melalui ekspor ikan hias. Salah satu jenis ikan hias yang memiliki nilai ekonomi tinggi adalah ikan rainbow kurumoi. Ikan rainbow dapat hidup pada dataran tinggi hingga dataran rendah, ini menyebabkan ikan rainbow banyak ditemui di perairan rawa, sungai hingga danau dengan kondisi perairan yang tenang (Kohelat 1993 dalam Subandiyah 2010).

Tingginya permintaan ikan rainbow sebagai ikan hias merupakan peluang yang baik bagi para peternak ikan hias karenan mampu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan perternak ikan rainbow kurumoi. Akan tetapi masih terdapat masalah yang berkaitan dengan pemeliharaan larva ikan rainbow, salah satunya adalah banyaknya larva ikan yang mengalami kematian pada saat pemeiliharaan. Kondisi ini menyebabkan jumlah larva yang menetas tidak sebanding dengan jumlah larva yang mampu bertahan hidup.

(28)

CARA KERJA

Objek Penelitian

Penelitian ini menggunakan objek ikan rainbow kurumoi Melanotaenia parva yang dipelihara di BP2BIH Depok Jawa Barat.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias (BP2BIH), Depok, Jawa Barat. Penelitian berlangsung dari selama 1 bulan dari tanggal 16 Juli 2012 hingga 16 Agustus 2012.

Pemilihan dan Pemeliharaan Larva

Larva yang digunakan dalam penelitian ini adalah larva yang baru menetas sehingga dapat dilakukan pengamatan. Kemudian larva dimasukan ke dalam wadah pemeliharaan berupa traso dengan ukuran 80 x70 x 70 cm3 dengan jumlah 5 buah dan diberikan nomor 1-5. Larva mulai diberikan pakan setelah berusia 1 hari dan sudah dapat berenang dengan baik. Pakan yang diberikan berupa rotiferra sebanyak 3 kali sehari secara ad-libitum, pada saat pemeliharaan larva tidak terjadi perubahan jenis pakan. Perubahan jenis pakan terjadi setelah larva berubah menjadi benih (anak ikan) dan diberikan pakan bloodworm yang dicacah halus. Larva akan berubah menjadi benih ikan setelah berusia ±30 hari.

Kualitas Air

Penghitungan parameter kualitas air dilakukan pada wadah pemeliharaan larva sebanyak 1 kali selama dilakukan penelitian. Data yang dikumpulkan meliputi suhu, pH, dan kandungan oksigen pada air yang digunakan untuk memelihara larva dengan menggunakan alat termometer, pH meter dan DO meter.

Panjang Larva

Panjang larva diukur mulai dari larva berusia 0 hari hingga 7 hari setiap 2 hari sekali. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan mikroskop yang memiliki ruler pada lensanya dengan satuan panjang milimeter. Larva yang diukur panjangnya hanya berjumlah 3 ekor dari setiap wadah pemeliharaan larva. Jumlah larva yang digunakan hanya berjumlah 3 ekor untuk mengurangi kemungkinan larva yang mati pada saat melakukan pengukuran panjang larva.

Survival Rate (SR)

Survival Rate (SR) adalah rata-rata keberhasilan hidup larva yang dihitung pada hari tertentu. Pada penelitian ini nilai SR ditentukan berdasarkan larva yang dipelihara selama seminggu dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Jumlah Larva Usia Ke-n

Survival Rate (SR) = X 100%

Jumlah Larva Usia Ke-0

HASIL DAN PEMBAHASAN

(29)

menggangu pertumbuhan ikan. Penelitian yang dilakukan oleh Agustin (2001) menunjukkan bahwa ikan Barbus tetrazona memiliki tingkat kelangsungan hidup rendah yang disebabkan oleh konsentrasi nitrit dan karbondioksida yang cukup tinggi pada perairan tempat hidupnya..

Gambar 1. Larva Ikan Rainbow Kurumoi

Hasil data kualitas air dari penelitian ini (Tabel 1) menunjukan pada setiap wadah pemeliharaan induk, wadah penetasan telur, maupun wadah pemeliharaan larva memiliki DO, Suhu dan pH yang masih dalam batas toleransi dari ikan rainbow sehingga masih bisa untuk digunakan dan tidak menggangu kelangsungan hidup dari ikan rainbow. Menurut Lesmana (2009) dalam Utami (2012), suhu optimal untuk ikan hias pada daerah tropis berkisar antara 220C-280C sedangkan untuk ikan rainbow dapat hidup normal pada kisaran suhu 240C-270C dengan pH pada kisaran 6-8 dan ternyata ikan rainbow lebih menyukai air dengan pH sedikit lebih basa.

Dari hasil penelitian yang dilakukan pada spesies ikan rainbow yang berbeda yaitu ikan rainbowM. lacustris ternyata diketahui bahwa pH dapat mempengaruhi warna dari ikan rainbow, pH yang lebih rendah (<7) dapat membuat warna ikan rainbow menjadi lebih cerah (Mayasari, 2010). pH juga mempengaruhi perkembangan gonad pada ikan rainbow, hal ini terlihat pada ikan rainbow sawiat yang dipelihara pada pH air sebesar 7,5 menunjukan proses pemijahan yang lebih awal dan didukung dari hasil preparasi histologi gonad (Kusrini, 2010). Menurut Subandiyah (2010), pH yang asam membuat ikan rainbow menjadi kehilangan nafsu makan dan dapat menganggu pertumbuhan dalam perkembang biakan karena dapat menurunkan produksi larva.

Hasil presentase SR dari larva ikan rainbow cukup tinggi sebesar 94,03 % (Tabel 2) disebabkan oleh ketersediaan pakan yang cukup dan kualitas air yang baik sehingga larva dapat bertahan hidup. Efisiensi pakan larva dan jumlah pakan yang dikonsumsi dipengaruhi oleh frekuensi pemberian pakan, pemberian pakan larva dengan frekuensi 7 kali sehari menunjukan pertumbuhan berat ikan yang terbesar (Tabel 3) (Subandiyah, 2010). Menurut Kadarini (2011), kematian tertinggi larva ikan rainbow yaitu pada umur 3 hari setelah terjadi peralihan pakan dari cadangan kuning telur di dalam tubuh ke pakan luar. Presentase SR yang dihasilkan oleh ikan rainbow bosemani sebesar 77,4 %, ikan rainbow merah sebesar 75,4 % (Kadarini 2011), sedangkan untuk ikan rainbow kurumoi yang dilakukan oleh Subandiyah (2010) dibawah 60 %.

Tabel 1. Kualitas Air Wadah Pemeliharaan Larva

Kualitas Air pada wadah

Pemeliharaan Induk Penetasan Telur Pemeliharaan Larva Wadah DO (Ppm) Suhu

(0C)

pH DO (Ppm) Suhu (0C) pH DO (Ppm) Suhu (0C) pH

1 7,44 26,7 7,39 6,92 24,7 7,90 6,89 24,8 7,91

2 7,40 26,1 7,60 6,95 24,7 7,87 6,88 24,8 7,88

3 7,30 26,0 7,68 6,93 25,0 7,90 6,89 24,9 7,89

4 7,10 26,2 7,77 6,96 24,7 7,83 6,75 24,9 7,89

(30)

Tabel 2. Hasil Survival Rate (SR) Ikan Rainbow Pada Usia Seminggu

Wadah ∑ Larva Hari Ke-0 ∑ Larva Hari Ke -7 SR Hari Ke -7 (%)

1 147 ekor 127 ekor 87,10

2 119 ekor 119 ekor 100

3 113 ekor 112 ekor 99,12

4 115 ekor 115 ekor 100

5 81 ekor 68 ekor 83,95

Rata-rata 94,03%

Tabel 3. Pertumbuhan bobot mutlak (g), laju pertumbuhan harian (%) dan sintasan (%)

Parameter Frekuensi Pemberian Pakan Per hari

A (3 Kali) B (5 Kali) C (7 Kali) D (8 Kali) Pertumbuhan bobot mutlak (g) 0.0474a 0.0403a 0.1203a 0.0422a

Laju pertumbuhan harian (%) 7.96a 7.65a 9.81b 7.74a

Sintasan (%) 83.33a 88.33a 91.67b 85.00a

Keterangan : Nilai dalam baris diikuti dengan hruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata (P>0) (Sumber Subandiyah Tahun 2010)

Dalam melihat perkembangan larva dapat dilihat dari panjang larva saat baru menetas hingga usia seminggu dengan pengukuran setiap 2 hari dan hasil menunjukan peningkatan dari setiap pengukurannya hingga diperoleh rata-rata panjang larva pada usia seminggu berkisar 5,85 – 6,25 mm (Tabel 4). Dari hasil pada tabel 4 diketahui bahwa larva pada wadah 2 memiliki pertambahan panjang yang lebih banyak daripada wadah yang lainnya yaitu sebesar 1,8 mm karena pada wadah 2 pakan berupa rotifera dikonsumsi oleh larva dengan baik.

Penelitian yang dilakukan oleh Subandiyah (2010) terhadap larva ikan rainbow kurumoi yang berusia 7 hari dengan panjang 4 mm serta menghasilkan laju pertumbuhan yang baik dengan frekuensi pemberian pakan banyak 7 kali setiap hari. Frekuensi pemberian pakan larva lebih sering daripada ikan dewasa karena larva membutuhkan pakan untuk kebutuhan energi, perkembangan serta penyempurnaan organ-organ larva ikan rainbow (Subandiyah 2010). Pakan yang diberikan sesuai dengan daya tampung lambung ikan dapat membuat ikan rainbow mengonsumsi serta mencerna pakan dengan baik (Subandiyah 2010). Penelitian yang pernah dilakukan pada spesies ikan rainbow Bosemani, mencatat jenis pakan yang diberikan bagi larva yang berusia 3-10 hari berupa infusoria dan larva yang berusia 11-30 hari berupa moina (Kadarini 2011)

Tabel 4. Rata-rata Panjang Larva Selama Seminggu

UCAPAN TERIMAKASIH

Penelitian ini mendapat fasilitas dan bantuan dana dari Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias (BP2BIH) Depok, untuk itu kami sampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pimpinan, staf peneliti dan segenap tenaga laboratorium yang telah membimbing dan membantu hingga penelitian ini dapat berjalan dengan baik.

Wadah Pengukuran Ke-

1 2 3 4

1 4,53 4,58 5,60 5,85

2 4,45 4,72 5,33 6,25

3 4,75 5,32 5,87 6,17

4 4,53 5,33 5,80 6,03

5 4,57 4,73 5,07 5,88

(31)

DAFTAR PUSTAKA

Agustin Y. 2001. Pengaruh Salinitas dan Kesadahan Terhadap Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Ikan Hias Sumatera (Barbus tetrazoma Bleeker). [Skripsi]. Fakultas Perikanan Ilmu Kelautan. IPB. Bogor.

Kadarini T, AMertayasa , E Kusrini. 2011. Dukungan Pembenihan Ikan Rainbow Boesemani (Melanotaenia boesemani) Terhadap Sumber Daya Ikan di Depok. Prosiding Forum Nasional Pemacu Sumber Daya Ikan III. Bandung

Kohelat M, T Whitten. 1996. Freshwater Biodiversity In Asia With Special Referencesto Fish. World Bank Tech. Pap. Singapura.

Kusrini E, A Priyadi, GS Wibawa, I Insan. 2010. Pengaruh pH Terhadap Perkembangan Gonad Ikan Rainbow Sawiat (Melanotaenia Sp.). Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur.

Lesmana DS. 2009. Panduan Lengkap Ikan Hias Air Tawar Populer. Penebar Swadaya . Jakarta. Mayasari N, DS Said. 2010. Penampilan Ikan Pelangi Biru (Melanotaenia lacustris) Pada Kisaran pH

yang Berbeda. J.LIMNOTEK 17(1): 94-101.

Nasution SH. 2000. Ikan Hias Air Tawar Rainbow. Penebar Swadaya . Jakarta.

Subandiyah S, R Hirnawati, S Rohmy, Atmaja. 2010. Pemeliharaan Larva Ikan Hias Pelangi Asal Danau Kurumoi Umur 7 Hari Dengan Pakan Alami. Seminar Nasional Biologi. Yogyakarta. Subandiyah S, R Hirnawati, S.Rohmy 2010. Pemijahan Ikan Rainbow Asal Papua Dengan

Menggunakan Shelter Yang Berbeda. Seminar Nasional Biologi. Yogyakarta.

Gambar

Tabel 4. Rata-rata Panjang Larva Selama Seminggu
Gambar 1. Peta Cagar Biosfer GSK-BB.
Gambar 2. Lokasi eksperimen restorasi.
Gambar 4. Survival Jenis Pohon
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sejalan dengan penelitian Pisesha (2008) yang menyebutkan bahwa penggunaan air kelapa dengan dosis yang tinggi ke dalam media kultur jaringan dapat menyebabkan

Tabel 4 menunjukkan bahwa setelah dilakukan uji Beda Nyata Jujur, pada perlakuan varietas bonggol pisang mas memiliki kadar pati yang paling optimum yang berbeda

Hasil pengkoleksian terhadap kupu-kupu yang telah dilakukan pada tiga macam habitat di Leupung Aceh Besar tertangkap sebanyak 35 jenis yang tergolong ke dalam empat

Dari hasil penelitian Hibah Fundamental yang dilakukan oleh Widhiastuti dan Aththorick pada tahun 2007 dan 2008, menyatakan bahwa jenis-jenis pohon dari famili Fagaceae,

Kondisi ini terjadi karena suhu di dalam RK lebih tinggi dari pada suhu di lingkungan, selama proses pengeringan RH akan mengalami fluktuasi seiring dengan fluktuasi yang trejadi pada

Hasil penelitian yang telah dilakukan penunjukkan bahwa kualitas air selama penelitian tergolong dalam kisaran yang layak untuk penetasan telur, pemeliharaan larva ikan lele

Kandungan alkaloid berupa halfordiol, ethylcinnamide dan marmelline; flavonoid dan tannin yang dimiliki oleh daun maja merupakan zat toksik bagi larva sehingga dapat menyebabkan

Interaksi perlakuan suhu dan lama perendaman dan wadah pra-kecambah berpengaruh tidak nyata, namun pada Tabel 1.1 dapat dilihat laju kecambah tercepat terlihat pada perlakuan dengan