Melissa Justine Renjaan 1), Hartuti Purnaweni 2), Didi Dwi Anggoro 3)
1)
Magister Ilmu Lingkungan, Universitas Diponegoro, Semarang, Email : [email protected] 2)
Magister Ilmu Lingkungan, Universitas Diponegoro, Semarang 3)
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Semarang
ABSTRAK
Sasi dalam masyarakat adat Kei di Kabupaten Maluku Tenggara yaitu suatu bentuk larangan pengambilan sumber daya alam baik darat maupun laut dalam kurun waktu tertentu sehingga memungkinkan sumber daya alam dapat tumbuh dan berkembang serta dilestarikan sehingga dapat mencapai hasil yang maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa dampak sasi kelapa bagi lingkungan dan menganalisa dampak sasi kelapa bagi keanekaragaman hayati. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskiptif kualitatif dengan wawancara mendalam, observasi lapangan dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa secara langsung dampak pelaksaan sasi kelapa terhadap lingkungan ekologis adalah memperkecil abrasi pantai, memperkecil volume masuknya air laut ke darat, meredam pukulan ombak laut serta menghadang angin pantai yang kuat pada musim barat. Dampak bagi keanekaragaman hayati adalah terpeliharanya biota-biota langka seperti kepiting kenari, biawak Maluku serta biota lain seperti ular, kadal, dan burung-burung yang berhabitat di kawasan dusun kelapa.
Kata Kunci : Kearifan lokal, Sasi Kelapa, Dampak, Keanekaragaman Hayati
PENDAHULUAN
Dampak bisa muncul pada berbagai bidang, termasuk di antaranya adalah pada lingkungan, ketika lingkungan mengalami perubahan akibat kegiatan manusia. Munculnya dampak adalah karena adanya interaksi antara alam dan manusia dalam tata lingkungan (Purnaweni, 2010). Dampak kegiatan manusia ada yang berdampak negatif maupun yang berdampak positif. Dampak negatif berdampak merusak lingkungan ekologis, penyusutan sumber daya alam, timbulnya kesenjangan sosial dan hilangnya beberapa nilai budaya masyarakat. Sedangkan kegiatan yang berdampak positif salah satunya melalui kearifan lokal masyarakat dalam mengelola sumber daya alam dan lingkungan. Kearifan lokal menurut Undang-Undang No 32 Tahun 2009 pasal 1 ayat 30 adalah nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat untuk antara lain melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara lestari. Menurut Wahyu (2007) bahwa kearifan lokal, dalam terminologi budaya, dapat diinterpretasikan sebagai pengetahuan lokal yang berasal dari budaya masyarakat, yang unik, mempunyai hubungan dengan alam dalam sejarah yang panjang, beradaptasi dengan sistem ekologi setempat, bersifat dinamis dan selalu terbuka dengan tambahan pengetahuan baru. Praktek- praktek kearifan lokal masyarakat berfungsi sebagai konservasi sumber daya alam dan lingkungan.
Di Indonesia, sumber daya dan keanekaragaman hayati sangat penting dan strategis artinya bagi keberlangsungan kehidupannya sebagai bangsa. Hal ini bukan semata-mata karena posisinya sebagai salah satu negara terkaya di dunia dalam keanekaragaman hayati (mega-biodiversity), tetapi justru karena keterkaitannya yang erat dengan kekayaan keanekaragaman budaya lokal yang dimiliki
bangsa ini (mega-cultural diversity). Kesadaran akan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati
sangat diperlukan tidak saja untuk kepentingan bangsa Indonesia melainkan juga untuk kepentingan masyarakat dunia secara keseluruhan dan diarahkan untuk kepentingan jangka panjang. Pengelolaan sumber daya alam yang baik akan meningkatkan kesejahteraan umat manusia, dan sebaliknya pengelolaan sumber daya alam yang tidak baik akan berdampak buruk bagi umat manusia (Fauzi, 2004). Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan sumber daya alam yang baik agar menghasilkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi manusia dengan tidak mengorbankan kelestarian sumber daya alam itu sendiri.
Dalam perspektif budaya, konsep bioderversity tidak dapat lepas dari faktor manusia yang memiliki tanggung jawab terhadap keberlangsungan keanekaragaman yang ada di muka bumi.
UNESCO dan UNEP pada KTT Dunia mengenai Pembangunan Berkelanjutan yang diadakan di Johanesburg tahun 2002 menyatakan bahwa pembangunan yang lestari memerlukan keanekaragaman budaya dan keanekaragaman hayati dan sekaligus menghargai dan mengakui hak dan peran masyarakat lokal sebagai agen utama yang menjaga dan membentuk keanekaragaman hayati.
UNESCO menyatakan bahwa kita tidak akan bisa memahami dan mengkonservasi lingkungan alam kita jika tidak memahami kebudayaan dari manusia yang ikut membentuk alam tersebut. UNEP (2003), bahkan menyebutkan bahwa keanekaragaman budaya merupakan cerminan dari keanekaragaman hayati. Kedua pernyataan tersebut merupakan pengakuan bahwa masing-masing budaya memiliki pengetahuan, praktek-praktek, maupun representatif budaya lain dalam memanfaatkan dan menjaga kelestarian lingkungan dan sumber daya alam. Hal-hal tersebut terefleksikan dalm keseharian hidup dan tradisonal setempat yang disebut kearifan lokal.
Berbagai contoh praktek-praktek masyarakat lokal dalam menerapkan aktivitas konservasi
bioderversity dijumpai di seluruh dunia. Masing-masing budaya lokal memperlihatkan ketergantungannya pada alam untuk hidup. Ketergantungan ini secara otomatis menghasilkan perilaku penghargaan terhadap alam beserta segala isinya yang terwujud dalam berbagai bentuk tradisi, ritual, ataupun aturan-aturan adat sebagai produk budaya dari manusia yang tinggal di lingkungan tersebut (Utama dan Kohdrata, 2011).
Pawarti (2012) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa melalui kearifan lokal Lubuk Larangan Ngalau Agung, secara tidak langsung masyarakat melakukan konservasi ikan secara alamiah atau dengan sistem in-situ. Dimana keberadaan Lubuk Larangan Ngalau Agung didukung oleh keberadaan hutan lindung dan adanya mitos dan kearifan lokal yang terkandung dalam Lubuk Larangan Ngalau Agung, menyebabkan daerah yang dibatasi memberikan kesempatan ikan untuk hidup dan berkembang biak.
Kearifan tradisi pada masing-masing budaya memang bersifat lokal, namun makna dan inti dari produk budaya tersebut memiliki benang merah yang sama, yaitu konservasi keanekaragaman hayati sebagai suatu nilai bersifat universal (Utama & Kohdrata, 2011). Penelitian telah menunjukkan bahwa masyarakat adat di Indonesia secara tradisional berhasil menjaga dan memperkaya keanekaragaman hayati alami. Hal itu merupakan suatu realitas bahwa sebagian besar masyarakat adat masih memiliki kearifan adat dalam pengelolaan sumber daya alam. Sistem-sistem lokal ini berbeda satu sama lain sesuai kondisi sosial budaya dan tipe ekosistem setempat (Nababan, 2003).
Upaya pelestarian lingkungan hidup bagi masyarakat sudah mulai dilaksanakan sejak dahulu. Di berbagai komunitas adat di kepulauan Maluku dijumpai sistem– sistem pengaturan alokasi (tata guna) dan pengelolaan terpadu ekosistem daratan maupun laut yang khas setempat, lengkap dengan pranata (kelembagaan) adat yang menjamin sistem – sistem lokal ini bekerja secara efektif (Nababan 2003).
Hal ini dibuktikan dengan salah satu budaya masyarakat Maluku yang melarang pengambilan hasil–hasil potensi tertentu dengan atau tanpa merusak lingkungan, budaya itu disebut sasi (Judge, 2008). Bila sasi dilaksanakan maka masyarakat dilarang memetik buah-buah tertentu di darat dan mengambil hasil-hasil tertentu dari laut selama jangka waktu yang ditetapkan oleh pemerintah desa (Cooley dalam Judge, 2008). Sasi yang berlaku di Maluku antara lain : (1) Sasi utama yang dilaksanakan seluruh warga desa seperti sasi laut, sasi darat. (2) sasi pribadi dan (3) sasi agama. Salah satu suku di Maluku yang masih memegang tradisi sasi adalah suku Kei di Kabupaten Maluku Tenggara. Salah satu sasi darat yang masih dipraktekan hingga saat ini adalah sasi kelapa. Dalam persepsi masyarakat sasi kelapa memberikan keuntungan secara ekonomi dan sosial. Sehubungan dengan permasalahan di atas, suatu penelitian yang mengkaji bagaimana dampak langsung kearifan lokal sasi kelapa terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati telah dilakukan. Adapun tujuan penelitian ini adalah mengkaji dampak langsung kearifan lokal sasi kelapa terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati.
CARA KERJA
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif untuk menganalisa dampak kearifan lokal sasi kelapa bagi lingkungan dan keanekaragaman hayati di Desa Ngilngof Kecamatan Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara. Indikator dalam penelitian ini dapat dilihat dalam fokus penelitian yaitu dampak sasi kelapa bagi lingkungan dan dampak sasi kelapa bagi keanekaragaman hayati. Penelitian
ini memperoleh data primer melalui wawancara mendalam terhadap informan kunci, observasi lapangan dan dokumentasi kondisi objek penelitian. Wawancara mendalam dilakukan dengan teknik
purposive sampling menggunakan informan-informan kunci sebanyak sepuluh orang yang terdiri dari Kepala Desa, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat dan Kaum Muda Kampung. Pengambilan sampel dilanjutkan menggunakan snowball sampling, untuk dapat memberikan pengembangan informasi berikutnya sampai kepada taraf rebundancy (jenuh). Observasi lapangan melalui pengamatan terhadap kondisi lingkungan di sekitar dusun kelapa dan di Desa Ngilngof serta bentuk-bentuk aktivitas masyarakat. Dokumentasi melalui pengambilan foto lokasi dusun kelapa, aktivitas masyarakat sekitarnya dan arsip-arsip yang diperlukan terkait dengan sasi kelapa.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Dampak Langsung Sasi Kelapa Bagi Lingkungan
Dari jaman dahulu nenek moyang suku Kei sudah mengenal pola dasar tata guna lahan dan membaginya dalam kawasan-kawasan tertentu. Bahwa pembagian kawasan didasarkan pada kandungan sumber daya alam serta tujuan pemanfaatannya. Pada tata guna lahan masyarakat adat Kei, kebun kelapa di Desa Ngilngof masuk dalam kawasan ohoi dan juga kawasan ohoi murin. Kawasan
ohoi adalah pusat desa yang digunakan untuk kebun pekarangan terutama tanaman pangan jangka pendek. Sedangkan kawasan ohoi murin adalah kebun batas tepi pemukiman yang sekaligus kawasan penyanggah dengan kawasan kebun luar kampung. Kawasan ini merupakan kebun yang diolah secara tetap (terus-menerus) untuk tanaman obat-obatan dan tanaman pangan sepanjang musim (sayur- sayuran, rempah-rempah, kelapa). Karena letak pohon kelapa berada dekat dengan laut melalui fungsi ekologisnya lebih bersinggungan dengan aktivitas di pantai seperti terlihat pada gambar 1. Dibawah ini.
Gambaran umum krisis di wilayah pesisir laut adalah kemerosotan dan penyusutan ekosistem akibat konversi habitat alami. Kondisi tersebut kemudian akan menyebabkan krisis keanekaragaman hayati pesisir laut, dan krisis lanjutan berupa pengikisan wilayah pantai dan intrusi air laut yang menyebabkan menurunnya kemampuan wilayah pesisir sebagai tempat bermukim masyarakat.
Aktivitas penduduk yang menebang tanaman vegetasi pantai untuk kayu bakar, bahan bangunan dan lain-lain menyebabkan hilangnya tumbuhan pelindung di daerah pesisir. Vegetasi pantai memiliki peran yang sangat penting sebagai pencegah abrasi. Tumbuhan pantai umumnya memiliki akar yang panjang dan kuat sehingga mampu menahan substrat dari hempasan gelombang (Desai, 2000). Salah satu hal yang menyebabkan belum diliriknya vegetasi pantai sebagai pelindung pantai adalah karena vegetasi pantai dianggap tidak memiliki nilai ekonomi sehingga masyarakat dan pemerintah enggan melakukan penanaman. Penelitian lebih lanjut dan sosialisasi terhadap potensi ekonomi dari vegetasi pantai perlu dilakukan untuk meyakinkan masyarakat dan pemerintah daerah setempat tentang manfaat ekonomi yang dapat diperoleh dari vegetasi pantai.