• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Lokasi Penelitian

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional Biologi USU 2013 (Halaman 148-155)

DI HUTAN AEK NAULI SIMALUNGUN DAN TAHURA BUKIT BARISAN TONGKOH KARO

HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Lokasi Penelitian

Hutan Aek Nauli terletak di Desa Sibaganding Kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun, sedang Kawasan Taman Hutan Raya (TAHURA), Tongkoh, Kabupaten Karo. Letak Kawasan Hutan secara geografis mempunyai topografi datar, bergelombang, berbukit dan berada pada kemiringan lereng datar sampai curam.

Jenis-jenis Lichenes yang Ditemukan

Jenis lichenes diperoleh pada dua sebanyak 18 jenis dari 9 genus Cladonia, Graphis, Lecanora, Lepraria, Parmelia, Phyrospora, Rimelia, Usnea dan Verrucaria. Jenis lichenes terlihat adanya variasi jumlah lichens dengan karakteristik yang begitu beragam antara satu spesies dengan spesies yang lainnya. Hal ini dilihat dari tipe thallus, bentuk, warna, permukaan, kerimbunan dan ciri lainnya. Bentuk lichenes pada tegakan pinus yang bertipe crustose cenderung memanjang dan bulat lonjong mengikuti lekahan atau pecahan-pecahan kulit batang pinus. Bentuk yang seperti ini dapat kita jumpai pada genus Lecanora dan Phyrospora. Thallus lichenes tidak rimbun disebabkan kulit pohon pinus cenderung kering, lebih keras, dan tekstur kulit berlekah tidak rata posisinya yang langsung terkena sinar matahari di tempat-tempat yang terbuka. Warna thallus lichenes pada tegakan pohon pinus yang berkanopi padat dan tempat tertutup umumnya mempunyai warna lebih terang dan mencolok, sedangkan lichenes yang terbuka terhadap cahaya matahari cenderung warnanya lebih pudar dan thallusnya tipis. Keadaan ini menjadi indikator bahwa kondisi substrat mempengaruhi kelangsungan hidup lichenes secara langsung terlihat dari ciri morfologinya.

Analisis Vegetasi Lichenes di Hutan Aek Nauli

Untuk menganalisis keanekaragaman jenis lichenes dilakukan dengan analisis vegetasi terlihat dalam bentuk Tabel 1 berikut ini.

Dari Tabel 1 diperoleh kerapatan tertinggi terdapat pada jenis Pyrhospora quernea yaitu 0,001265 dengan nilai kerapatan relatif 23,98%. Hal ini membuktikan bahwa jenis ini memiliki jumlah yang paling banyak pada tegakan pohon Pinus merkusii. Sedangkan untuk jenis yang memiliki kerapatan paling rendah yaitu jenis Parmelia sp1 dengan kerapatan 0,000022 dan kerapatan relatifnya 0,42 %.

Frekuensi suatu jenis ini berkaitan dengan jumlah beberapa kali suatu spesies terdapat dalam sejumlah plot atau pada sejumlah sampling yang mewakili suatu komunitas. Sedangkan untuk frekuensi relatif suatu jenis adalah suatu jenis dibagi dengan total frekuensi seluruh jenis dikali dengan 100%. Berdasarkan Tabel 1 di atas diperoleh bahwa jenis yang memiliki frekuensi dan frekuensi relatif tertinggi hanya ada satu jenis yaitu, Pyrhospora quernea dengan frekuensi 0,967 dan

frekuensi relatif 15,59%. Hal ini menunjukkan bahwa lichenes jenis ini lebih sering dijumpai pada semua plot dibandingkan dengan lichenes jenis lainnya, dan membuktikan bahwa Pyrhospora quernea memiliki persebaran yang paling luas dapat menyesuaikan diri dalam berbagai macam tingkatan degradasi lingkungan yang sedikit banyaknya berbeda. Sedangkan untuk frekuensi dan frekuensi relatif terendah adalah jenis Cladonia sp dan Parmelia sp1 dengan frekuensi 0,067 dan frekuensi relatif 1,08%. Dari data ini dapat disimpulkan bahwa jenis ini jarang dijumpai pada semua plot dan menandakan bahwa persebaran jenis ini lebih sempit dibandingkan dengan jenis yang lain.

Tabel 1. Data Analisis Vegetasi Lichenes di Hutan Aek Nauli Kabupaten Simalungun

No Nama Spesies Ki KR Fi FR Di DR INP

1 Cladonia coniocraea 0,00011 2,09 0,133 2,15 0,000000026 2,09 6,33 2 Cladonia sp 0,000037 0,71 0,067 1,08 0,000000009 0,71 2,5 3 Csp1 0,000506 9,59 0,633 10,22 0,000000119 9,59 29,4 4 Csp2 0,000086 1,62 0,167 2,69 0,000000020 1,62 5,93 5 Lecanora thysanophora 0,000491 9,31 0,867 13,98 0,000000116 9,31 32,6 6 Lepraria incana 0,000188 3,57 0,3 4,84 0,000000044 3,57 11,98 7 Lepraria sp1 0,000197 3,74 0,5 8,06 0,000000046 3,74 15,54 8 Lepraria sp2 0,000125 2,37 0,167 2,69 0,000000029 2,37 7,43 9 Parmelia sp1 0,000022 0,42 0,067 1,08 0,000000005 0,42 1,92 10 Parmelia sp2 0,00019 3,6 0,367 5,91 0,000000045 3,6 13,11 11 Parmotrema sp 0,000621 11,78 0,567 9,14 0,000000146 11,78 32,7 12 Pyrhospora quernea 0,001265 23,98 0,967 15,59 0,000000297 23,98 63,55 13 Rimelia reticulate 0,000081 1,53 0,367 5,91 0,000000019 1,53 8,97 14 Usnea dasypoga 0,001204 22,83 0,567 9,14 0,000000283 22,83 54,8 15 Usnea fillipendula 0,000093 1,76 0,267 4,3 0,000000022 1,76 7,82 16 Verrucaria Maura 0,000057 1,08 0,2 3,23 0,000000013 1,08 5,39 TOTAL 0,005274 100 6,200 100 0,000001240 100 300

Dominansi mempunyai arti ekologi yang penting, sehingga dominansi merupakan parameter yang mendapat perhatian peneliti. Dominansi memberi ukuran yang lebih tentang biomas (biomassa) dari pada jumlah individu . Untuk mendapatkan dominansi suatu jenis (Di) dapat dihitung dengan membagi jumlah luas bidang dasar suatu jenis dengan luas penarikan plot. Sedangkan untuk nilai dominansi relatif (DR) dihitung dengan membagi jumlah dominansi suatu jenis dengan total dominansi seluruh jenis dikali dengan 100%. Data pada Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa jenis yang memiliki dominansi tertinggi adalah jenis Pyrhospora quernea dengan dominansi 0,0000002974 dan dominansi relatif 23,98%, kemudian lichenes jenis Usnea dasypoga dengan nilai dominansi 0,0000002831 (22,83%). Hal ini membuktikan bahwa jenis Pyrhospora quernea dan Usnea dasypoga merupakan jenis yang memiliki biomassa tertinggi pada kawasan tersebut. Untuk jenis lichenes yang memiliki dominansi dan dominansi relatif terendah adalah jenis Parmelia sp1 dengan dominansi 0,0000000052 dan dominansi relatif 0,42 %, dari data ini menunjukkan bahwa jenis ini memiliki biomas yang kurang atau terendah pada kawasan tersebut.

Untuk mendapatkan Indeks Nilai Penting (INP) diperoleh dengan menjumlahkan Kerapatan Relatif (KR) dengan Frekuensi Relatif (FR) dan Dominansi Relatif (DR) sehingga total nilai penting dari seluruh jenis adalah 300. Nilai penting memberi gambaran urutan kuantitatif jenis-jenis yang berbeda-beda dari sebuah komunitas. Jika sumberdaya lingkungan berada dalam keadaan tak terhingga, sedangkan relung ekologi (nice) cenderung berbeda, maka populasi suatu organisme dapat meningkat tanpa adanya pengaruh kepadatan atau kompetisi (persaingan) terhadap pertumbuhan. Spesies tersebut dapat dikatakan memiliki penyesuaian yang tinggi dari keadaan ekosistem yang ada

disekitarnya, hal ini berkaitan dengan keadaan relung ekologi yang tinggi dibandingkan dengan spesies yang lain. Spesies yang memiliki nilai dominansi relatif besar di atas dapat memaksimalkan kandungan nutrient dan faktor-faktor lingkungan lain yang ada di lingkungan sekitarnya.

Dari Tabel 1 dapat diketahui bahwa indeks nilai penting tertinggi terdapat pada Pyrhospora quernea dengan nilai 63,6%, ini berarti spesies Pyrhospora quernea merupakan jenis lichenes yang paling mendominasi di sepanjang areal penelitian, disusul jenis Usnea dasypoga (54,8%),

Parmotrema sp (32,7%), dan seterusnya. Hal ini dapat dilihat dalam tabel hasil sampling lichenes di Hutan Aek Nauli. Sedangkan nilai penting yang terendah yaitu pada Cladonia sp dengan nilai 2,49%, ini menunjukkan bahwa spesies ini memiliki sebaran yang lebih sedikit.

Indeks Keanekaragaman Lichenes di Kawasan Hutan Aek Nauli

Keanekaragaman yang diperoleh dari data hasil penelitian di lokasi Hutan Aek Nauli dapat diambil dari keanekaragaman pada seluruh penarikan plot (sebanyak 30 plot) untuk mewakili seluruh tegakan pohon Pinus merkusii di Hutan Aek Nauli dengan luas daerah penelitian yaitu KHDTK seluas 200 Ha dan wilayah Arboretum seluas 10 Ha. Nilai indeks keanekaragaman dapat dilihat dalam Tabel 2.

Nilai Indeks keanekaragaman yang diperoleh pada kawasan Hutan Aek Nauli yaitu H’ = 2,217816 yang menurut Shannon Wiener berada dalam keadaan baik (tinggi) karena nilainya lebih besar dari 2. Keadaan ini dapat diterima mengingat lokasi penelitian tersebut adalah relatif subur dan memiliki faktor-faktor fisik-kimia yang sangat mendukung untuk pertumbuhan dan perkembangan lichenes. Tingginya keanekaragaman yang terlihat menggambarkan adanya kestabilan komunitas di dalamnya. Tinggi rendahnya tingkat keanekaragaman ini dapat memberi gambaran tentang kedewasaan organisasi komunitas tumbuhan disekitarnya (Soeriaatmaja, 1997;Lubis, 2009).

Tabel 2. Nilai Indeks Keanekaragaman Lichenes di Kawasan Hutan Aek Nauli

No Nama Spesies Jumlah Pi ln pi H'

1 Cladonia coniocraea 89 0,02 -3,87 0,08 2 Cladonia sp 30 0,007 -4,95 0,034 3 Csp1 408 0,095 -2,34 0,224 4 Csp2 69 0,016 -4,12 0,066 5 Lecanora thysanophora 396 0,093 -2,37 0,221 6 Lepraria incana 152 0,035 -3,33 0,119 7 Lepraria sp 159 0,037 -3,29 0,122 8 Lepraria sp2 101 0,023 -3,74 0,088 9 Parmelia sp1 18 0,004 -5,47 0,023 10 Parmelia sp2 153 0,035 -3,32 0,119 11 Parmotrema sp, 501 0,117 -2,14 0,251 12 Pyrhospora quernea 1020 0,239 -1,43 0,342 13 Rimelia reticulata 65 0,015 -4,18 0,063 14 Usnea dasypoga 971 0,228 -1,48 0,337 15 Usnea fillipendula 75 0,017 -4,04 0,071 16 Verrucaria maura 46 0,01 -4,53 0,048 TOTAL 4253 1,000 -54,6 2,217

Analisis Vegetasi Lichenes di Taman Hutan Raya

Untuk menganalisis keanekaragaman jenis lichenes di kawasan Tahura Tongkoh data yang diperoleh dihitung nilai Kerapatan Relatif (KR), Frekuensi Relatif (FR), Dominansi Relatif (DR), Indeks Nilai Penting (INP) disajikan dalam bentuk Tabel 3.

Tabel 3. Data Analisis Vegetasi Lichenes di Tahura Tongkoh, Karo

No Nama spesies Ki KR Fi FR Di DR INP

1 Cladonia coniocraea 0,000759 8,85 0,8 11,71 0,000000089 8,85 29,41 2 Csp1 0,00095 11,07 0,56 8,3 0,000000111 11,07 30,44 3 Graphis scripta 0,000213 2,48 0,06 0,98 0,000000025 2,48 5,94 4 Lecanora thysanophora 0,001201 14 0,93 13,67 0,00000014 14 41,67 5 Lepraria incana 0,000371 4,32 0,36 5,37 0,000000043 4,32 14,01 6 Lepraria sp1 0,000416 4,85 0,5 7,32 0,000000049 4,85 17,02 7 Parmelia sp1 0,000075 0,87 0,33 4,88 0,000000009 0,87 6,62 8 Parmelia sp2 0,000035 0,41 0,03 0,49 0,000000004 0,41 1,30 9 Parmotrema sp 0,00028 3,26 0,4 5,86 0,000000033 3,26 12,38 10 Pyrhospora quernea 0,002089 24,35 0,93 13,67 0,000000244 24,35 62,37 11 Rimelia reticulate 0,000009 0,1 0,1 1,46 0,000000001 0,1 1,66 12 Usnea dasypoga 0,000278 3,24 0,4 5,86 0,000000032 3,24 12,34 13 Usnea fillipendula 0,000148 1,73 0,46 6,83 0,000000017 1,73 10,29 14 Verrucaria Maura 0,000819 9,55 0,56 8,3 0,000000096 9,55 27,4 15 Verrucaria sp 0,000936 10,91 0,36 5,37 0,000000109 10,91 27,19 TOTAL 0,00858 100 6,83 100 0,000001 100 300

Untuk memperoleh nilai kerapatan suatu jenis (Ki) dapat dilakukan dengan menghitung jumlah individu suatu jenis dibagi dengan luas penarikan plot dalam hal ini 15 spesies lichenes dalam 999.890 cm2 yang mewakili seluruh komunitas lichenes pada tegakan pohon Pinus merkusii di TAHURA dan Arboretum.

Dari Tabel 3 diperoleh kerapatan tertinggi terdapat pada jenis Pyrhospora quernea yaitu 0,002089 dengan nilai kerapatan relatif 24,35 %. Hal ini membuktikan bahwa jenis ini memiliki jumlah yang paling banyak pada plot yang diteliti pada tegakan pohon Pinus merkusii. Sedangkan untuk jenis yang memiliki kerapatan paling rendah adalah jenis Rimelia reticulata dengan kerapatan 0,000009 dan kerapatan relatifnya 0,10 %.

Frekuensi dan frekuensi relatif tertinggi hanya ada 2 jenis yaitu Pyrhospora quernea dan

Lecanora thysanophora dengan frekuensi 0,933333 dan frekuensi relatif 13,67 %. Hal ini menunjukkan bahwa kedua jenis lichenes ini lebih sering dijumpai pada semua plot dibandingkan dengan lichenes jenis lainnya, dan membuktikan bahwa Pyrhospora quernea dan Lecanora thysanophora memiliki persebaran yang paling luas.

Sedangkan untuk frekuensi dan frekuensi relatif terendah adalah lichenes jenis Parmelia sp2

dengan frekuensi 0,033333 dan frekuensi relatif 0,49 %. Dari data ini dapat disimpulkan bahwa jenis ini jarang dijumpai pada semua plot dan menandakan bahwa persebaran jenis ini lebih sempit dibandingkan dengan jenis yang lain.

Data pada Tabel 3 diperoleh bahwa jenis yang memiliki dominansi tertinggi adalah jenis

Pyrhospora quernea dengan dominansi 0,0000002435 dan dominansi relatif 24,35 %, disusul oleh lichenes jenis Lecanora thysanophora dengan nilai dominansi 0,0000001400 (14,00 %). Hal ini membuktikan bahwa jenis Pyrhospora quernea dan Lecanora thysanophora merupakan jenis yang memiliki biomassa tertinggi pada kawasan tersebut. Sedangkan jenis yang memiliki dominansi dan dominansi relatif terendah adalah jenis Rimelia reticulata dengan dominansi 0,0000000010 dan dominansi relatif 0,10 % .

Dari Tabel 3 indeks nilai penting tertinggi terdapat pada Pyrhospora quernea dengan nilai 62,37 %, ini berarti spesies Pyrhospora quernea merupakan jenis lichenes yang paling mendominasi di sepanjang areal penelitian. Disusul oleh lichenes jenis Lecanora thysanophora (41,67 %), Csp1

(30,44 %), Cladonia coniocraea (29,41 %) dan seterusnya. Hal ini dapat dilihat dalam tabel hasil sampling lichenes di Tahura Tongkoh, Kabupaten Karo. Sedangkan nilai penting yang terendah yaitu pada Parmelia sp2 dengan nilai 1,30 %. Nilai ini menunjukkan bahwa spesies ini memiliki sebaran yang lebih sedikit.

Indeks Keanekaragaman Lichenes di Kawasan Tahura Tongkoh, Karo

Indeks keanekaragaman di kawasan TAHURA tidak jauh berbeda dengan lokasi Hutan Aek Nauli memiliki faktor-faktor fisik-kimia yang optimal mendukung untuk pertumbuhan dan perkembangan vegetasi lichenes. Indeks keanekaragaman disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Nilai Indeks Keanekaragaman Lichenes Pada Seluruh Plot di Tahura

No Nama spesies Jumlah Pi ln pi H'

1 Cladonia coniocraea 759 0,088 -2,42 0,214 2 Csp1 950 0,11 -2,2 0,243 3 Graphis scripta 213 0,024 -3,69 0,091 4 Lecanora thysanophora 1201 0,139 -1,96 0,275 5 Lepraria incana 371 0,043 -3,14 0,135 6 Lepraria sp 416 0,048 -3,02 0,146 7 Parmelia sp1 75 0,008 -4,73 0,041 8 Parmelia sp2 35 0,004 -5,5 0,022 9 Parmotrema sp 280 0,032 -3,42 0,111 10 Pyrhospora quernea 2089 0,243 -1,41 0,343 11 Rimelia reticulata 9 0,001 -6,85 0,007 12 Usnea dasypoga 278 0,032 -3,42 0,111 13 Usnea fillipendula 148 0,017 -4,05 0,07 14 Verrucaria maura 819 0,095 -2,34 0,224 15 Verrucaria sp 936 0,109 -2,21 0,241 TOTAL 8579 1,000 -5,044,471 2,281

Karakteristik Habitat Lichenes

Pengamatan karakteristik habitat atau fisik-kimia lingkungan yang dilakukan pada penelitian ini adalah suhu, kelembaban, intensitas cahaya. Pengukuran ini dilakukan hanya sekali untuk setiap plot sebagai data primer dan data sekunder diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Sampali Medan.

Tabel 5. Kondisi Fisik-Kimia Lingkungan di Hutan Aek Nauli dan Tahura

Faktor Lingkungan Suhu (°C) Intensitas Cahaya (Joule) Kelembaban (%)

Hutan Aek Nauli 23,13 913,86 65,83

Tahura 21,67 823,64 70,30

Kondisisi iklim mikro pada lokasi tegakan pohon Pinus merkusii Hutan Aek Nauli mempunyai suhu rata-rata 23,13oC dengan kelembaban udara rata-rata 65,83 % dan intensitas cahaya rata-rata 913,86 Joule. Sedangkan pada tegakan pohon Pinus merkusii di kawasan Tahura Tongkoh, Kabupaten Karo memiliki suhu rata-rata 21,6 oC, kelembaban udara rata-rata 70,30%, intensitas udara rata-rata 823,64 Joule. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan data sekunder yang diperoleh pada bulan Mei di lokasi Hutan Aek Nauli dengan suhu 22,2oC, Kelembaban 83%, dan intensitas cahaya 921 joule, sedangkan untuk kawasan Tahura Tongkoh mempunyai suhu 19,2oC, Kelembaban 87%, dan intensitas cahaya 846 joule (bulan Juni). Data pendukung diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi Dan Geofisika Medan. Kondisi iklim mikro pada lokasi penelitian disajikan dalam bentuk grafik (Gambar 1).

Gambar 1. Kondisi Karakteristik Habitat Lichenes

Analisis Korelasi

Berdasarkan pengukuran faktor fisik-kimia lingkungan yang telah dilakukan pada setiap lokasi penelitian dan dikorelasikan dengan Indeks Keanekaragaman (H’), maka diperoleh nilai Korelasi pada Tabel 6 berikut ini.

Tabel 6. Nilai Analisis Korelasi Pearson antara H’ dengan Karakteristik Habitat dengan Metode Komputerisasi SPSS Ver.18.00

Korelasi Pearson Kelembaban Suhu udara Intensitas cahaya

H' ( Aek Nauli) -0,225 0,414 0,037

H' ( Tahura) -0,348 0,446 0,216

Keterangan :

Nilai (+) = Arah Korelasi searah (-) = Arah Korelasi berlawanan (*) = berpengaruh sangat nyata

Dari Tabel 6 terlihat bahwa hasil uji analisa Korelasi Pearson antara beberapa faktor fisik-kimia lingkungan berbeda tingkat korelasi dan arah korelasinya dengan Indeks Keanekaragaman (H’). Nilai positif (+) menunjukkan semakin besar nilai salah satu faktor fisik-kimia/karakteristik habitat maka nilai Indeks Keanekaragaman akan semakin besar pula, demikian sebaliknya. Sedangkan nilai negatif (-) menunjukkan hubungan yang berbanding terbalik antara nilai faktor fisik-kimia lingkungan dengan nilai H’. Artinya semakin besar nilai faktor fisik kimia lingkungan maka nilai H’ akan semakin kecil, begitu juga sebaliknya, jika semakin kecil nilai faktor fisik-kimia lingkungan maka nilai H’ akan semakin besar.

Nilai korelasi di atas menunjukkan bahwa hasil analisis Korelasi Pearson dengan beberapa faktor fisik-kimia korelasinya searah terhadap indeks Keanekaragaman (H’), hanya pada kelembaban relatif (RH) mempunyai nilai korelasi yang negatif atau tidak searah, artinya semakin tinggi kelembaban maka nilai H’ akan semakin kecil dan semakin rendah nilai kelembaban maka nilai H’ akan semakin besar. Dari nilai korelasi yang diperoleh dapat dijelaskan bahwa faktor fisik kimia lingkungan yaitu intensitas cahaya berpengaruh sangat rendah ( Hutan Aek nauli 0,037 dan Tahura 0,β16) dan kelembaban berpengaruh rendah terhadap indeks keanekaragaman (H’). Sedangkan suhu lingkungan berpengaruh sedang terhadap keanekaragaman jenis lichenes pada tegakan pohon Pinus merkusii di kedua kawasan hutan dengan nilai korelasi untuk Hutan Aek Nauli (0,414) dan nilai korelasi untuk Tahura (0,446).

Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan pada dua kawasan hutan yaitu hutan Aek Nauli dan kawasan Tahura Tongkoh Kabupaten Karo, terdapat 18 jenis lichenes pada tegakan pohon Pinus merkusii, dengan proporsi keanekaragaman di kedua lokasi yang tergolong tinggi. Tinggi rendahnya tingkat keanekaragaman ini dapat memberi gambaran tentang kedewasaan organisasi komunitas tumbuhan disekitarnya (Soeriaatmaja, 1997; Lubis, 2009). Semakin tinggi keanekaragaman lichenes

di kedua lokasi menunjukkan makin tingginya organisasi di dalam komunitas tersebut. Kondisi seperti ini muncul sebagai akibat faktor ekologis di kedua lokasi relatif baik.

Jenis lichenes yang sama-sama hadir di kedua lokasi adalah lichenes jenis Pyrhospora quernea. Kehadiran jenis lichenes ini pada dua lokasi yang berbeda menunjukkan bahwa lichenes ini memiliki penyebaran yang cukup luas, mampu untuk tumbuh optimal pada tegakan pohon Pinus merkusii. Lichenes yang memiliki persentase paling kecil di dua lokasi adalah jenis Parmelia sp1 (0,42) dan

Rimelia reticulata (0,10). Perbedaan ini disebabkan adanya karakteristik habitat yang sedikit berbeda di kedua tempat, meskipun pun belum diteliti adanya faktor lain yang juga berpengaruh terhadap keberadaan lichenes. Munculnya spesies Verrucaria maura dan Verrucaria sp dari genus

Verrucariace di lokasi penelitian didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Jannuardania,(1995) pada tegakan pohon yang sama. Spesies ini termasuk jenis lichenes yang sering dijumpai pada tegakan pohon pinus dan merupakan spesies lichenes yang mempunyai penyebaran yang luas.

Pada kedua kawasan hutan, lichenes cenderung lebih banyak ditemukan di daerah dengan tutupan/kanopi pohon yang tidak rapat ataupun terbuka. Sedangkan pada daerah kanopi pohon yang lebih padat atau rapat ditemukan lebih banyak lumut daun dibanding lichenes. Kondisi ini menunjukkan bahwa lichenes tidak terlalu menyukai tempat-tempat yang terlalu lembab, walaupun ada beberapa spesiesnya yang dapat tumbuh optimal di tempat lembab. Jenis lichenes yang tumbuh di tempat yang cukup lembab (60%-70%) pada kulit pohon Pinus merkusii yang ditemukan di dalam plot pengamatan umumnya bertipe thallus crustose. Contoh spesies yang sering dijumpai yaitu Csp1 (Crustose tipe 1), Lepraria incana, dan Pyrhospora quernea. Berdasarkan hasil pengukuran kelembaban udara rata-rata dilokasi diperoleh nilai sebesar 65,83 % dan 70% kondisi ini merupakan suatu kodisi yang optimal untuk pertumbuhan jenis lichenes. Hal ini didukung oleh pendapat dari Noer (2004) dalam Pratiwi (2006) yang menyatakan bahwa lumut kerak menyukai tempat yang kering dengan kelembaban 40% sampai 69%. Pendapat ini semakin kuat karena kedua kawasan hutan yang diteliti miliki proporsi kelimpahan yang juga cukup baik. Meskipun demikian pertumbuhan dan perkembangan lichenes pada suatu wilayah tidak hanya ditentukan oleh faktor kelembapan udara tetapi oleh suhu udara dan intensitas cahaya. Karena ketiga faktor ini saling berpengaruh dalam mendukung terbentuknya iklim mikro yang baik bagi lichenes. Pertumbuhan dan perkembangan lichen pada tegakan pohon Pinus merkusii di lokasi penelitian juga dipengaruhi oleh kandungan polutan di udara.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadjian V. 1962. Investigation on Lichen Synthesis, Amer.J. Bot, 49: 277-283. Brown, DH. 1985 Lichen Physiology and Cell Biology, New York, Plenium Press.

Januardani D, Darma TIGK, Soetrisno H. 1998. Jenis-jenis lumut kerak yang berkembang pada tegakan pinus dan karet. Jurnal Managemen HutanTropika IV (1-2): 7-10.

Fink B. 1961. The Lichen Flora of The United States, Michigan, The University of Michigan Press. Hawksworth DL. 1984. The Lichen-Forming Fungi, New York Chapman & Hall Publishers, Kurniawan A. 2009. Belajar SPSS Untuk Pemula, Yogyakarta. Media Kom.

McCune B. 2010. Key to the Lichen Genera of the Pacific Northwest, Oregon Dept. Botany & Plant Pathology, Oregon State University, Corvallis, Oregon

Misra, A., R., P., Agrawal. 1978. Lichens (A Preliminary Text), New York-Bombay-Calcuta. Oxford and IBH Publishing Co.

Polunin N. 1990. Pengantar Geografi Tumbuhan dan Beberapa IImu Serumpun, , Yogyakarta, Gajah Mada University Press.

Saipunkaew W. 2009. Lichen Identification, , Bogor Indonesia, BIOTROP Fifth Regional Training Course on Biodiversity and Conservation of Bryophytes and Lichenes.

Sudirman LI. 2009. The Lichens, Bogor. Bogor Agricultural University.

Suwarso W. 1995. Koleksi Lichenes di Herbarium Bogoriense, Prosiding Seminar Sehari, Bogor. LIPI Pusat Konservasi Tumbuhan – Kebun Raya Bogor.

VARIASI POLA PERCABANGAN PADA MARGA

SELAGINELA

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional Biologi USU 2013 (Halaman 148-155)