• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univarita (Anova)

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional Biologi USU 2013 (Halaman 195-200)

MORFOMETRIK IKAN BELANAK ( Mugil cephalus ) DI PERAIRAN ESTUARIA BANDA ACEH DAN ACEH BESAR, PROVINSI ACEH

HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univarita (Anova)

Jumlah ikan yang digunakan dalam kajian ini sebanyak 120 ekor, terdiri dari 30 ekor dari setiap stasiun. Kisaran panjang ikan sampel antara 19,54 mm sampai 160,87 mm dengan panjang rata-rata 115,34 mm. Hasil uji anova menunjukkan bahwa lokasi penangkapan memberikan pengaruh yang nyata terhadap perbedaan karakter morfometrik ikan belanak yaitu pada karakter C (Jarak antara ujung sirip dorsal pertama dengan awal sirip dorsal kedua), F (Tinggi batang ekor), K (Jarak antara awal sirip dorsal dengan sirip ventral,) M (Awal sirip dorsal dengan pangkal ekor bagian bawah), N (Jarak antara awal sirip dorsal kedua dengan sirip ventral), dan O (Jarak antara awal sirip dorsal dengan awal sirip anal) (P<0,05) dan tidak memberikan pengaruh kepada karakter lainnya (P>0,05) (Tabel 2).

Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa populasi Alue Naga memiliki nilai tertinggi untuk karakter C (Jarak antara ujung sirip dorsal pertama dengan awal sirip dorsal kedua) dan F (Tinggi batang ekor), namun secara umum karakter-karakter tersebut tidak berbeda nyata dengan populasi Ujoeng Pancu dan Leupung (P>0,05). Dimana populasi Leupung memiliki nilai tertinggi untuk karakter K (Jarak antara awal sirip dorsal dengan sirip ventral), namun nilai ini tidak berbeda nyata dengan populasi Alue Naga dan Krueng Raya (P>0,05). Sedangkan populasi Ujoeng Pancu memiliki nilai tertinggi untuk karakter O (Jarak antara awal sirip dorsal dengan awal sirip anal), namun nilai ini tidak berbeda nyata dengan populsi Alue Naga (P>0,05). Sehingga dengan demikian terlihat bahwa populasi Alue Naga secara umum memiliki nilai karakter-karakter lebih tinggi berbanding populasi lainnya. Sedangkan populasi Krueng Raya memiliki nilai karakter morfometrik yang lebih kecil berbanding populasi lainnya yang diteliti.

Secara umum keenam karakter yang berbeda tersebut tersebut membagi populasi ikan menjadi dua kelompok, dimana populasi Alue Naga memiliki kemiripan karakter yang lebih tinggi dengan populasi Ujoeng Pancu (kelompok pertama), sedangkan populasi Leupung dan Krueng Raya menempati kelompok kedua. Kemiripan karakter antara populasi Alue Naga dan Ujoeng Pancu mungkin disebabkan oleh pola arus, dimana massa air dari daerah Alue Naga (muara pengendali banjir Krueng Aceh) terbagi dua arah; sebagian besar mengalir ke daerah Ujoeng Pancu (ke selatan) dan sebagian kecil mengalir ke arah utara, massa air yang mengalir ke utara ini sesampai di daerah Ujong Bate tertarik ke arah barat (menjauhi pantai) dan dibelokkan kembali ke arah selatan bersama massa air dari arah Krueng Raya (Personal komunikasi dengan Ichsan Setiawan, ahli pemodelan arus laut KKP Unsyiah). Pernyataan narasumber tersebut diperkuat oleh hasil penelitian Rizal et al. (2012) yang menyatakan bahwa pola penyebaran arus yang terdapat di daerah Krueng Raya, Alue Naga, dan Ujoeng Pancu memiliki arah yang sama dimana massa air dari arah Krueng Raya mengalir menuju Alue Naga hingga Ujoeng Pancu. Kondisi ini menyebabkan populasi ikan dari Alue Naga cenderung berdistribusi/bermigrasi mengikuti arus menuju ke Ujoeng Pancu. Arus juga dapat membawa telur- telur dan larva-larva ikan belanak dari kawasan Alue Naga menuju Ujoeng Pancu, menyebabkan populasi ikan dikedua daerah memiliki kemiripan yang lebih tinggi berbading dengan dua kawasan lainnya.

Tabel 2. Hasil Pengukuran rata-rata morfometri ikan belanak. Nilai rerata pada baris yang sama diikuti oleh superscript yang sama adalah tidak berbeda nyata (P>0,05)

Kode karakter Lokasi penagkapan/polulasi

Leupung Alue Naga Krueng Raya Ujoeng Pancu

n=30 N=30 N=30 N=30 TL 2.04±0.07a 2.08±0.07a 2.04±0.07a 2.05±0.07a A 1.66±0.04a 1.70±0.04a 1.66±0.03a 1.66±0.04a B 0.97±0.04a 1.00±0.03a 0.96±0.05a 0.97±0.04a C 1.04±0.06a 1.08±0.05c 1.04±0.06ab 1.05±0.06bc D 0.94±0.07a 0.90±0.07a 0.87±0.07a 0.98±0.07a E F 1.00±0.09a 0.99±0.05ab 1.03±0.07a 1.01±0.06b 0.99±0.10a 0.97±0.06a 1.03±0.07a 1.00±0.08b

G 1.07±0.05a 1.17±0.07a 1.06±0.05a 1.09±0.06a H 1.09±0.09a 1.01±0.01a 0.98±0.07a 1.00±0.09a I 1.34±0.07a 1.34±0.06a 1.33±0.07a 1.33±0.06a J 1.54±0.03a 1.56±0.06a 1.55±0.03a 1.56±0.03a K 1.46±0.05a 1.41±0.05ab 1.39±0.04ab 1.42±0.06b L 1.46±0.04a 1.45±0.05a 1.43±0.05a 1.46±0.04a M 1.62±0.04ab 1.60±0.05bc 1.60±0.04a 1.62±0.05c N 1.54±0.07a 1.57±0.06b 1.51±0.07a 1.57±0.06b O 1.26±0.06a 1.29±0.07ab 1.26±0.07a 1.30±0.06b P 1.33±0.06a 1.35±0.07a 1.33±0.07a 1.35±0.06a Q 1.23±0.16a 1.21±0.08a 1.21±0.08a 1.24±0.06a Tingginya nilai karakter morfometrik ikan belanak (terutama karakter yang berkaitan dengan ekor sebagai alat gerak utama pada ikan) di populasi Alue Naga dan Ujoeng Pancu, adalah sebagai adaptasi ikan terhadap lingkungan terutama arus, hasil pengukuran kecepatan arus disetiap lokasi penelitian menunjukkan kecepatan arus di Alue Naga dan Ujoeng Pancu lebih tinggi berbanding dua lokasi lainnya (Tabel 3). Hasil penelitian senada juga telah dilaporkan oleh Rahmatin (2011) yang menemukan bahwa adanya variasi panjang pada beberapa karakter pada bagian ekor ikan belanak (Mugil cephalus) yang tertangkap Muara Aloo Sidoarjo dan Muara Wonorejo.

Tabel 3. Hasil pengukuran salinitas, suhu dan arus selama penelitian

No. Stasiun Salinitas (ppt) Suhu (oC) Arus (m/s)

1. Krueng Raya 20 29 0,49

2. Alue Naga 20 29 0,58

3. Ujoeng Pancu 21 25 0,70

4. Leupung 24 26 0,40

Lingkungan tempat hidup ikan dapat mempengaruhi bentuk tubuh ikan, ikan-ikan akan menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan tempat dimana mereka hidup. Dewantoro (2001) menyatakan bahwa perbedaan ciri-ciri yang berkaitan dengan jumlah bagian tertentu pada tubuh ikan dapat disebabkan oleh faktor lingkungan seperti suhu perairan, arus dan salinitas, atau karena faktor genetik. Faktor lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan ikan, dengan demikian walaupun umur ikan dari suatu spesies sama, ukuran mutlaknya dapat berbeda.

Selain itu pula tinggi badan (karakter O) populasi ikan belanak di Alue Naga dan Ujoeng Pancu lebih besar (ikan terlihat lebih gemuk) mengindikasikan kedua perairan ini memiliki tingkat kesuburan lebih tinggi berbanding dua lokasi lainnya, terutama kelimpahan plankton, perifiton dan bentos sebagai makanan utama ikan belanak. Menurut Effendi (1984) makanan utama ikan belanak adalah dari golongan Bacillariophyceae, makanan pelengkapnya adalah detritus, lumpur bercampur partikel pasir, desminiciaea, dan nematoda. Hal tersebut diperkuat oleh hasil penelitian Nurjanah (1982) di muara Sungai Cimanuk memperlihatkan bahwa makanan utama ikan belanak di sungai tersebut adalah Bacillariophyceae, makanan pelengkapnya adalah detritus, chlorophyceae, lumpur bercampur partikel pasir, sedangkan makanan tambahannya adalah Cyanophitaceae dan organisme tidak teridenifikasi. Asumsi tingginya tingkat kesuburan di wilayah Alue Naga dan Ujoeng Pancu ini didasarkan hasil pengamatan terhadap kondisi muara disetiap lokasi penangkapan, dimana muara sungai di daerah Alue Naga dan Ujoeng Pancu lebih besar dan sungainya relatif lebih panjang berbanding muara sungai di Krueng Raya dan Leupung, sehingga aliran sungai ini membawa cukup bahan organik (nutrien) yang dapat menyuburkan daerah muara sungai di Alue Naga dan Ujoeng Pancu. Namun demikian diperlukan penelitian lanjutan, yaitu penilaian tingkat kesuburan perairan disemua lokasi tersebut untuk membuktikan dugaan ini.

Selain arus dan ketersediaan makanan, salinitas dan suhu adalah dua faktor penting lainnya yang mempengaruhi distribusi dan migrasi ikan di laut. Menurut Andrianto (2005) salinitas merupakan parameter lingkungan yang mempengaruhi proses biologi dan secara langsung akan mempengaruhi kehidupan organisme antara lain yaitu mempengaruhi laju pertumbuhan, dan jumlah makanan yang dikonsumsi.

Hasil pengukuran menunjukkan salinitas air pada ke empat stasiun berkisar antara 20 - 22 ppt, hal ini merupakan keadaan normal untuk wilayah estuaria karena estuaria merupakan daerah peralihan antara darat dan laut yang sangat di pengaruhi oleh pasang surut. Suhu salah satu faktor penting lainnya yang mempengaruhi distribusi ikan, adapun suhu air pada ke empat stasiun penelitian adalah Krung Raya 29oC, Alue Naga 29oC, Ujoeng Pancu 25oC, dan Leupung 26oC. Hal ini merupakan keadaan yang normal untuk ikan-ikan pelagis seperti ikan belanak. Ikan pelagis mampu hidup pada suhu optimum 20-30°C, sebagian besar biota laut bersifat poikilotermik, oleh karenanya pola penyebaran organisme laut sangat mengikuti perbedaan suhu laut (Nybakken,1988). Pada umumnya ikan-ikan menyukai suhu yang agak hangat karena perairan yang hangat umumnya lebih subur, namun demikian di daerah tropis seperti Indonesia perbedaan suhu tidak terlalu kentara antara satu lokasi dengan lokasi yang lain, sebagaimana yang tercatat dalam penelitian ini, sehingga dapat dikatakan suhu dan salinitas bukan faktor utama penyebaran ikan dikawasan penelitian ini.

Analisis Multivariat Analisis (Discriminant F unction Analysis)

Hasil uji Dickriminant Function Analysis (DFA) menghasilkan dua fungsi. Fungsi 1 memiliki nilai eigen 0. 238 menjelaskan 97,8% dari total varian, sementara fungsi 2 memiliki nilai eigen 0.005 menjelaskan 2,2% dari total varian sehingga persentase kumulatif 100%. Karakter yang memberikan kontribusi tertinggi untuk fungsi 1 adalah M, N, F, TL, A, dan B, karakter tersebut mewakili karakter pada bagian kepala, badan, dan ekor. Sedangkan untuk Fungsi 2 karakter yang memberikan kontribusi tertinggi karakter I, P, O, E, L, K, H, D, G, C, Q, dan J, mewakili pada bagian tengah badan (Tabel 4). Table 4. Nilai eigen, persentase variasi karakter DFA. Karakter yang memiliki pengaruh yang besar ditunjukkan dalam angka yang ditebalkan.

Fungsi 1 2

Nilai eigen 0. 238 0. 005

% of Variance 97,8 2,2

Canonical Correlation 0. 438 0. 074

Awal sirip dorsal dengan pangkal ekor bagian bawah (M) 0,725(*) 0,689 Jarak antara awal sirip dorsal kedua dengan sirip ventral (N) 0,507(*) 0,428

Tinggi batang ekor (F) 0,479(*) 0,429

Panjang total (Tl) 0,433(*) 0,375

Jarak antara ujung moncong dengan sirip dorsal pertama (A) 0,431(*) 0,351 Jarak antara sirip dorsal pertama dan ujung sirip dorsal kedua (B) ,0251(*) 0,026 Jarak antara awal sirip anal dengan sirip ventral (I) -0,010 1,00(*)

Jarak antara awal sirip dorsal kedua dengan pangkal ekor bawah (P) 0,226 0,756(*)

Jarak antara awal sirip dorsal dengan awal sirip anal (O) 0,447 0,735(*)

Jarak antara ujung sirip dorsal kedua dengan pagkal ekor bagian atas (E) 0,129 0,719(*)

Jarak antara awal sirip anal dengan sirip ventral (L) 0,376 0,678(*)

Jarak antara awal sirip dorsal dengan sirip ventral (K) 0,484 0,639(*)

Jarak antara awal sirip anal dengan ujung sirip anal (H) 0,178 0,597(*)

Jarak antara awal siripdorsal kedua dengan ujung sirip dorsal kedua (D) 0,225 0,592(*)

Jarak antara pangkal ekor bawah dengan ujung sirip anal (G) 0,282 0,560(*)

Jarak antara ujung sirip dorsal pertama dengan awal sirip dorsal kedua (C) 0,173 0,522(*)

Jarak antara pangkal ekor atas dengan ujung sirip anal (Q) 0,133 0,449(*)

jarak antara ujung moncong dengan titik di bagian sirip ventral (J) 0,155 0,282(*)

Hasil uji DFA diperoleh dua fungsi yaitu Fungsi 1 dan Fungsi 2. Fungsi 1 memiliki pengaruh lebih besar dari pada Fungsi 2 dalam mendiskriminan 18 karakter morfometrik hingga 97,8% dari total varian, sedangkan fungsi 2 hanya 2,2% dari total varian.

Nilai eigenvalue merupakan suatu nilai yang menunjukkan seberapa besar pengaruh suatu variabel terhadap pembentukan karakteristik sebuah matriks. Pada Fungsi 1 nilai eigen 0. 238 dan Fungsi 2 memiliki nilai eigen 0.005 menjelaskan bahwa tingkat kemiripan karakter yang tinggi untuk semua populasi, karena semakin tinggi nilai eigen maka semakin besar pengaruh karakter-karakter tersebut dalam pengelompokan (mendiskriminan). Adapun karakter yang memberikan kontribusi kepada Fungsi 1 adalah karakter M, N, F, TL, A, dan B. karakter tersebut mewakili karakter pada bagian kepala, badan, dan ekor. Namun demikian dalam penelitian ini scater plot memperlihatkan bahwa Fungsi 1 dan Fungsi 2 tidak dapat mendiskriminan populasi ikan berdasarkan karakter yang diukur, semua populasi berada dalam satu kelompok (Gambar 3).

Scater plot Fungsi 1 pada sumbu X dan Fungsi 2 pada sumbu Y. Kedua fungsi mengelompokkan ikan belanak yang tertangkap dari keempat stasiun penelitian ke dalam satu kelompok. Hal ini mengindikasikan bahwa secara umum semua sampel ikan belanak dari keempat stasiun memiliki bentuk morfologi yang hampir seragam. Hasil sebaliknya dilaporkan oleh Wibowo, (2009) yang melakukan kajian keragaman morfometrik ikan putak di beberapa kawasan Sumatra Selatan, dimana disimpulkan adanya variasi morfometrik dari ikan putak dari lokasi yang berbeda.

Function 1 4 3 2 1 0 -1 -2 -3 3 2 1 0 -1 -2 STASIUN Group Centroids Ujoeng pancu Krueng raya Alue naga lepung 119 118 117 116 115 114 113 112 111 110 109 108 107 106 105 104 103 102 101 100 99 98 97 96 95 94 93 92 91 90 89 88 87 86 85 84 83 82 8180 79 78 77 76 75 74 73 72 71 70 69 68 67 66 65 64 63 62 61 60 59 58 57 56 55 54 53 52 51 50 49 48 47 46 45 44 43 42 41 40 39 38 37 36 35 34 33 32 31 30 29 28 27 26 2524 23 22 21 2019 18 17 16 15 14 13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1

Gambar 3. Sebaran fungsi 1 terhadap fungsi 2 karakter truss network morfometrik

DAFTAR PUSTAKA

Adrianto, L. 2005. Strategi Makro Revitalisasi Perikanan. PKSPL-IPB.

Cadrin, S. X. 2000. Advance in Morphometricy Identification of Fishery Stock. Review in Fish Biology and Fisheries 10: 91-112

Dewantoro, E. 2001. Rasio RNA/DNA, Karakter Morfometrik, dan Komposisi Daging Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) Strain Sinyonya, Karper Kaca, dan Hibridanya. Thesis. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Effendie, H. M.I. 1984. Penilaian Perkembangan Gonad Ikan Belanak, Liza Subviridis Valensienes, di Perairan Sungai Cimanuk, Indramayu, Bagi Usaha Pengadaan Benih. Fakultas paska sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Effendie, M.I. 1979. Metode Biologi perikanan. Yayasan dewi sri. Bogor. 112 hal.

Loy, A., S. Busilacchi, C. Costa, L. Ferlin and S. Cataudella. 2000. Comparing Geometric Morphometric and Outline Fitting Methods to Monitor Fish Shape Variability of Diplodus Punctazzo (Teleostea: Sparidae). Aquacultural Engineering, 21: 271-283.

Muchlisin Z.A. 2010. Biodeversity of freswater fishes in Aceh Province, Indonesia with emphasis on several biological aspects of the Depik (Rasbora tawarensis) an endemic Species in Lake Laut Tawar, Disertasi, Universiti Sains Malaysia

Nurjanah, N.S. 1982. Study pendahuluan makan ikan belanak, Mugil dussumieri C.V. dan ikan kada,

Mugil bachanani BLkr. Di perairan muara sungai cimanuk, Jawa Barat. Karya ilmiah. IPB. Nybakken, j. W. 1988. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta: Gramedia.

Palma J, Andrade JP. 2002. Morphological study of Diplodus sargus, Diplodus puntazzo and

Lithognathus mormyrus (Sparidae) in the Eastern Atlantic and Mediterranean Sea. Fisheries Research 57: 1-8.

Pinheiro, A., C.M. Teixeira, A.L. Rego, J.F. Marques and H.N. Cabral. 2005. Genetic and Morphological Variation of Solea Lascaris (Risso, 1810) along the Portuguese Coast.

Fisheries Research, 73: 67-78.

Rahmatin, A. 2011. Studi Variasi Morfometri Ikan Belanak (Mugil cephalus) di Perairan Muara Aloo Sidoarjo dan Muara Wonorejo Surabaya. Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Surabaya.

Rizal, S., 2000. General Circulation in the Malacca Strait and Andaman Sea: a Numerical Model Study. American Journal of Environmental Science, 2012, 8 (5), 479-488.

Turan, C. 1999. A Note on The Examination of Morphometric Differentiation Among Fish Population: The Truss System. Transaction Journal of Zoology, 23: 259-263.

Wibowo, A. 2009. Karakterisasi Populasi Ikan Putak (Notopterus Notopterus) Menggunakan Analisis Keragaman Fenotipik dan Daerah 16 SRNA dan Mitokondria. Penelitian Balai Riset

KEANEKARAGAMAN JENIS MAMALIA KECIL PADA TIGA HABITAT YANG

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional Biologi USU 2013 (Halaman 195-200)