Skematik atau struktur segmen 4 :
a. Video pendapat masyarakat mengenai sosok pemimpin idaman Jakarta
b. Wawancara dengan Muhammad Sanusi terkait sosok yang akan diusung Gerindra
c. Wawancara dengan Prasetyo Edi terkait sosok Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur Jakarta
d. Wawancara dengan Marco Kusumawijaya terkait sosok Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur Jakarta
e. Video tanggapan Basuki Tjahaja Purnama terhadap nama-nama penantangnya
Struktur Mikro
Video pendapat masyarakat
Gambar 16 Masyarakat
Pada elemen grafis (retoris) berupa video ini enam orang masyarakat diminta untuk memberikan pendapatnya mengenai sosok pemimpin yang mereka inginkan di Jakarta. Bentuk elemen seperti ini dapat menimbulkan secara tidak langsung makna ideologi dari komunikator. Dari segi media, pendapat masyarakat ini merupakan bagian untuk memeriksa apa yang ingin ditekankan atau ditonjolkan
karena dianggap penting. Secara eksplisit, terdapat maksud (semantik) di dalamnya yaitu bahwa masyarakat mengidamkan sosok pemimpin yang berkharisma, tegas, jujur, mengerti kebutuhan rakyat, mementingkan rakyat, mau turun ke jalan, bahkan kalau bisa seiman.
Wawancara dengan Muhammad Sanusi
Terkait nama-nama yang sudah muncul untuk diusung Gerindra, Najwa Shihab menanyai Muhammad Sanusi terkait hal tersebut. Pada pernyataannya, terdapat maksud (semantik) implisit dan tersembunyi darinya yang menunjukkan kritik untuk Basuki Tjahaja Purnama, meskipun pada pernyataan selanjutnya ia tidak mengakuinya. Potongan pernyataannya tersebut berbunyi “...pemimpin tu jangan
cuma jadi tontonan tapi kasihlah tuntunan. Jakarta tuh butuh tuntunan yang lebih baik, bukan sekedar tontonan. Tegas boleh, tapi kata-katanya itu lho harus dijaga. Pemimpin tuh wajib tegas,...”. Pada
pernyataan tersebut maka yang menjadi perhatian adalah soal kata-kata Basuki Tjahaja Purnama yang seringkali dimunculkan di media saat ia menyatakan pernyataan bahkan kebijakan yang cenderung berani dan sensasional sehingga sebagian pihak merasa terganggu atas hal tersebut.
Meskipun secara implisit, ia mengakui Basuki Tjahaja Purnama adalah sosok yang tegas, namun kekurangannya adalah pada segi komunikasi atau etikanya seorang pemimpin.
Wawancara dengan Prasetyo Edi
Saat Prasetyo Edi sebagai ketua DPRD DKI Jakarta diminta Najwa
Shihab menyampaikan kritiknya terhadap Basuki Tjahaja Purnama yang seorang Gubernur DKI Jakarta ia menjelaskan secara detil mengenai hal tersebut. Elemen detil (semantik) memang dihubungkan dengan kontrol informasi yang ditampilkan seseorang. Detil yang lengkap dan panjang lebar merupakan penonjolan yang dilakukan untuk menciptakan citra tertentu kepada khalayak.
Secara lengkap, pernyataan Prasetyo Edi Ketua DPRD DKI Jakarta sebagai berikut “Jadi gini persoalannya ya, tekanan saya sebagai
ketua, ini banyak sekali dengan permasalahan-permasalahan komunikasi. Sebetulnya kan sebagai pemimpin di Jakarta, apalagi sebagai barometernya Indonesia, Jakarta ini harus yang arif dan bijaksana. Kalo marah, boleh lah marah ama anak buah. Sekarang contoh soal bagaimana penyerapan di DKI ini akan terserap? Kalo semua orang tiga bulan dipecat, ditakutin, dipecat, ditakutin, ngga akan selesai Jakarta. Tanggung jawabnya kan bukan dia saja, saya kan termasuk bertanggung jawab juga sebagai ketua DPRD. Nah inilah yang kadang-kadang saya suka mengkritisi sahabat saya, saudara Ahok, kadang-kadang suka bandel juga. Saya juga suka ngomong kepada beliau juga ya apa adanya. Bandel ini orang, bandel jadi gubernur”.
Pernyataan Prasetyo Edi terkait kritiknya kepada Ahok pada kalimat “...banyak sekali dengan permasalahan-permasalahan
komunikasi. Sebetulnya kan sebagai pemimpin di Jakarta, apalagi sebagai barometernya Indonesia, Jakarta ini harus yang arif dan bijaksana. Kalo marah, boleh lah marah ama anak buah,...”
menimbulkan citra pada khalayak bahwa Basuki Tjahaja Purnama adalah sosok yang bermasalah dengan etika dan cara berkomunikasi termasuk kepada anak buahnya.
Kemudian ia juga mengatakan “..,Kalo semua orang tiga bulan
dipecat, ditakutin, dipecat, ditakutin, ngga akan selesai Jakarta. Tanggung jawabnya kan bukan dia saja, saya kan termasuk bertanggung jawab juga sebagai ketua DPRD,...”. Pernyataan
tersebut menimbulkan citra positif baginya bahwa DKI Jakarta bukan hanya tanggung jawab Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur, tapi sebagai ketua DPRD DKI Jakarta ia juga memiliki andil dalam kemaslahatan hidup masyarakat Jakarta.
Pernyataan Prasetyo Edi yang mengatakan “...saudara Ahok,
kadang-kadang suka bandel juga. Saya juga suka ngomong kepada beliau juga ya apa adanya. Bandel ini orang, bandel jadi gubernur“.
Jika merujuk pada pernyataan sebelumnya maka leksikon/pilhan kata (stilitik) disini merujuk kepada bandel karena permasalahan komunikasi seorang Basuki Tjahaja Purnama.
“Ahok bandel jadi gubernur” ditanggapi Najwa Shihab dengan
“kalo ga bandel ntar keikut penjahat-penjahat” mengandung unsur
leksikon / pilihan kata (stilitik) yang terdapat pada kata “penjahat” yang merujuk pada orang-orang yang merugikan warga Jakarta. Sehingga untuk menangani orang-orang tersebut, gubernurnya harus lah orang yang “bandel” dalam hal ini berani dan tidak pandang bulu. Kalau tidak, ia termasuk bagian orang yang merugikan warga Jakarta juga. Pilihan kata “penjahat” dan “bandel” yang diucapkan oleh Najwa Shihab mencerminkan sikap atau ideologi tertentu. Bahwasanya sikap yang ditunukkan Ahok lah yang pas untuk Jakarta. Sehingga, kata “bandel” yang diucapkan oleh Najwa Shihab memiliki konteks yang berbeda dengan yang diucapkan oleh Prasetyo Edi. Prasetyo Edi selanjutnya menyatakan “Di era saya Mba Najwa, di
kepemimpinan saya, saya ingin terbuka dan transparan. Apa yang dikatakan oleh Pak Presiden dan Ahok, ayo transparan! Saya buat transparan, jadi jangan orang curiga akhirnya semua dipecat, distaffkan. Akhirnya ga bisa kerja. Disinilah saya menghimbau kepada saudara Ahok ya, kalau untuk kader-kader siapa yang kita punya kader banyak kok. Ada Pak Djarot, Bung Sadikin, Ganjar Pranowo, ada Risma, banyaak kita. Tapi siapa yang dipilih nanti. Pada saatnya akan keluar nama-nama tersebut”. Pernyataan ini
memiliki maksud (semantik) untuk mengkritisi Basuki Tjahaja Purnama yang seringkali mengucapkan “ayo transparan” namun
sikapnya malah curigaan menurut Prasetyo Edi. Sehingga secara implisit Prasetyo Edi ingin mengatakan bahwa Ahok harus hati-hati dengan sikapnya. Karena yang bagus bukan hanya dia. PDI-P masih memiliki banyak kader yang dapat diunggulkan untuk menjadi pemimpin Jakarta. Pernyataan tersebut juga mengindikasikan kritik kepada agar Ahok jangan merasa paling baik di antara kader-kader lainnya.
Wawancara dengan Marco Kusumawijaya
Wawancara dengan Marco Kusumawijaya yang memiliki pandangan tentang sosok pemimpin terkandung unsur maksud (semantik) implisit di dalamnya untuk mengkritik Basuki Tjahaja Purnama dengan kalimat “...saya pikir misal kita bicara retorika anti
korupsi, itu sudah dengan sendirinya. Tetapi persoalan yang nyata sekarang adalah menurut saya sistem pengadaan yang baik. Nah membangun sistem pengadaan yang baik itu yang merupakan pekerjaan yang lebih berat. Karena orang harus sabar, harus tekun, orang harus ngayomi, orang harus investasi di manusianya, bukan sekedar di alat elektronik itu, elektronik ini. Nah saya pikir itu tantangan-tantangan yang berikutnya. Juga membangun masyarakat tidak hanya cukup dengan hanya memindah-mindahkan masyarakat, tetapi juga dengan memberinya kesempatan masyarakat untuk menyumbangkan gagasan dan menyumbangkan kontribusinya”.
terhadap Basuki Tjahaja Purnama mengenai sistem pengadaan yang seharusnya diperdayakan adalah manusianya, bukan sekedar alat elektroniknya. Selain itu juga Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur DKI Jakarta harusnya lebih memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyumbangkan gagasan dan kontribusi mereka sehingga secara bersama-sama menjaga dan memajukan Jakarta agar tidak terkesan sebagai one man show.
Pada kalimat “...Kalau partai politik mau membeli platform kami,
kami senang sekali begitu. Membeli itu bukan membeli dalam pengertian uang ya,...” yang diucapkan oleh Marco Kusumawijaya,
terkandung elemen praanggapan (semantik) karena kenyataannya belum terjadi.
Video Basuki Tjahaja Purnama terhadap para penantangnya
Pada Bagian ini, Basuki Tjahaja Purnama diminta memberikan
tanggapan terhadap sejumlah nama yang digadang-gadang akan bersaing dengannya di pilkada DKI Jakarta 2017. Setiap sebelum Basuki Tjahaja Purnama memberikan tanggapan mengenai seorang nama calon, maka dimunculkan grafis (retoris) calon tersebut.
Gambar 17 Poster Adhyaksa Dault
Poster bergambarkan Adhyaksa Dault ini mengandung muatan politis bahwa “JAKARTA untuk SEMUA” dengan warna merah dan huruf kapital pada “JAKARTA” dan “SEMUA” memuat indikasi Adhyaksa Dault mensugesti atau mempengaruhi khalayak dengan wacana atau ideologis bahwa Jakarta terbuka untuk semua golongan, bukan golongan tertentu saja.
Selanjutnya, Basuki Tjahaja Purnama menanggapi dengan kalimat “...Pernah jadi Menpora, orang tinggal nilai aja, seperti apa,...” yang memiliki maksud (semantik) implisit bahwa untuk menilai seorang Adhyaksa Dault, lihatlah kinerjanya saat masih menjabat Menpora. Maka hal tersebut merujuk pada prestasi, rekam jejak, kebijakan, maupun hasil yang Adhyaksa Dault torehkan selama menjabat sebagai Menpora.
Gambar 18 Poster Sandi - Sani
Pada grafis (retoris) di atas tertulis pesan “Untuk Jakarta Setara” dan “SandiSani Untuk DKI Jakarta” dari Sandiaga Uno dan Triwisaksana (Sani) yang memiliki kritik implisit bagi gubernur yang ada. Hal ini mempengaruhi khalayak dengan wacana atau ideologis bersama SandiSani, Jakarta akan menjadi kota yang setara bagi semua. Pesan serupa seperti yang disampaikan oleh Adhyaksa Dault. Sandiaga Uno kemudian dikomentari Basuki Tjahaja Purnama secara singkat dengan kalimat “...Pak Sandiaga Uno pengalaman
bisnis, tokoh muda,...” mengandung maksud (semantik) yang dapat
diartikan bahwa sebagai tokoh muda, Sandiaga Uno memiliki pengalaman di bidang bisnis. Tidak dijelaskan lebih lanjut tentang kelebihan lainnya. Sehingga hal ini mengandung maksud implisit bahwa bagi Basuki Tjahaja Purnama, Sandiaga Uno hanyalah berpengalaman di bidang bisnis.
Sani juga tak luput dari komentar Basuki Tjahaja Purnama yang mengatakan “Ada Sani juga tokoh muda, udah lama di DPRD DKI,
dari partai yang pernah besar juga, PKS di DKI”. Pilihan kata /
leksikon “pernah besar” menunjukan sikap atau pandangan tertentu komunikator terhadap orang yang dikomentarinya. Bahwa Sani sebagai tokoh muda yang sudah lama di DPRD DKI Jakarta berasal dari PKS yang “pernah besar” di Jakarta. Pilhan kata “pernah besar” mengindikasi PKS sekarang tidak sebesar dulu.
Tanggapan Basuki Tjahaja Purnama mengenai Sani dilanjutkan dengan kalimat “...sebagian umat Islam yang tidak bisa menerima
orang yang tidak seaqidah, tidak bisa menerima non muslim memimpin, ada pilihan, ada calon PKS kan. Kan bagus, jadi semua ga ada yang golput” memiliki maksud (semantik) yang berarti
bahwa ketimbang golput, sebagian umat muslim yang tidak bisa menerima non muslim sebagai pemimpin, bisa memilih Sani.
Gambar 19 Berita Nachrowi Ramli
Gambar 20
Berita Marco Kusumawijaya
Selanjutnya secara berurutan, Basuki Tjahaja Purnama diminta mengomentari Nachrowi Ramli dan Marco Kusumawijaya yang juga digadang-gadang maju sebagai penantangnya. Pada gambar keduanya mengandung elemen grafis (retoris) dengan menonjolkan headline pemberitaan yang dicetak tebal disertai foto Nachrowi Ramli atau Marco Kusumawijaya menonjolkan bagian yang harus diperhatikan pemirsa.
Kemudian, Basuki Tjahaja Purnama mengomentari Nachrowi Ramli dengan kalimat “...Dia mewakili purnawirawan TNI, mewakili
orang betawi, mungkin ada orang betawi yang ga bisa nerima orang non betawi yang mimpin, nah Pak Nahrowi memberikan alternatif lagi” memiliki maksud (semantik) yang secara implisit mengatakan
bahwa Nachrowi Ramli dapat menjadi alternatif bagi purnawirawan TNI yang merasa terwakili olehnya dan bagi orang-orang betawi yang
tidak bisa menerima orang non betawi yang memimpin Jakarta, bukan karena hal lainnya.
Basuki Tjahaja Purnama kemudian mengomentari Marco Kusumawijaya dengan praanggapan (semantik) yang mengatakan bahwa Marco “...mungkin dia bisa lebih bagus dari Bapak Ridwan Kamil yang bisa tata kota kan. Saya kira Kota Jakarta perlu ahli tata kota yang menata. Dan bisa saja sekelompok orang yang di pinggir-pinggir sungai merasa digusur. Dengan ahli tata kota yang memegang, Jakarta akan lebih baik”. Meskipun kenyataannya belum
tentu begitu. Praanggapan ini ditandai dengan kata “mungkin”, “bisa saja”, dan “akan”.
Pada penutup komentarnya untuk Marco Kusumawijaya, ia juga menyelipkan tanggapannya mengenai sosok Walikota Surabaya Tri Rismaharini dengan kalimat “Bu Risma juga terbukti, Surabaya
bagus. Bu Risma maju juga orang Jakarta jadi punya lebih banyak pilihan lagi”. Tanggapan mengenai Risma yang juga memiliki rekam
jejak yang bagus sebagai walikota Surabaya diuraikan Basuki Tjahaja Purnama dengan detil yang singkat. Karena jika kelebihan Risma diuraikan secara jelas dan detil akan mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap dirinya yang mencalonkan kembali sebagai DKI 1 dan Risma diisukan juga sebagai salah satu sosok yang diperhitungkan untuk maju menyaingi dirinya. Elemen detil (sematik)
merupakan strategi komunikator atau pembuat teks untuk mengekspresikan sikapnya dengan cara yang implisit.
Tabel 10
Kerangka Analisis Data Segmen 4 Struktur
Wacana Elemen Temuan
Super struktur (skematik)
Skema / Alur a. Video pendapat masyarakat mengenai sosok pemimpin idaman Jakarta
b. Wawancara dengan Muhammad Sanusi terkait sosok yang akan diusung Gerindra
c. Wawancara dengan Prasetyo Edi terkait sosok Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur Jakarta d. Wawancara dengan Marco
Kusumawijaya terkait sosok Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur Jakarta
e. Video tanggapan Basuki Tjahaja Purnama terhadap para penantangnya
Struktur mikro (semantik)
Maksud Pada video pendapat masyarakat mengenai sosok pemimpin idaman Jakarta, secara jelas dan eksplisit mereka menyampaikan sejumlah kriteria pemimpin idaman mereka. Secara implisit, pada video
pendapat masyarakat mengenai sosok pemimpin idaman Jakarta, media menayangkan statement masyarakat yang seringkali dilekatkan pada sosok Basuki Tjahaja Purnama termasuk soal isu SARA
Pernyataan “...Jakarta tuh butuh
tuntunan yang lebih baik, bukan sekedar tontonan. Tegas boleh, tapi kata-katanya itu lho harus dijaga. Pemimpin tuh wajib
tegas,...” oleh Muhammad Sanusi
secara implisit dan tersembunyi ditujukan kepada Basuki Tjahaja Purnama
Pernyataan Prasetyo Edi “...jadi
jangan orang curiga akhirnya semua dipecat, distaffkan. Akhirnya ga bisa kerja. Disinilah saya menghimbau kepada saudara Ahok ya, kalau untuk kader-kader siapa yang kita punya kader banyak kok. Ada Pak Djarot, Bung Sadikin, Ganjar Pranowo, ada Risma, banyaak kita,...”
mengindikasikan kritiknya kepada Basuki Tjahaja Purnama jangan merasa paling baik di antara kader-kader lainnya
Secara implisit, Marco Kusumawijaya mengkritisi Basuki Tjahaja Purnama mengenai sistem pengadaan dan soal memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk turut berkontribusi memajukan Jakarta
Basuki Tjahaja Purnama mengomentari seorang Adhyaksa Dault dengan kalimat “...Pernah
jadi Menpora, orang tinggal nilai aja, seperti apa,...”
Basuki Tjahaja Purnama mengomentari Nachrowi Ramli dengan kalimat “...Dia mewakili
purnawirawan TNI, mewakili orang betawi, mungkin ada orang betawi yang ga bisa nerima orang non betawi yang mimpin, nah Pak Nahrowi memberikan alternatif lagi”
Praanggapan Pada kalimat “...Kalau partai
politik mau membeli platform kami, kami senang sekali begitu. Membeli itu bukan membeli dalam pengertian uang ya,...” yang
diucapkan oleh Marco Kusumawijaya
Basuki Tjahaja Purnama
mengomentari Marco
Kusumawijaya dengan kata “mungkin”, “bisa saja”, dan “akan” pada kalimat “...mungkin
dia bisa lebih bagus dari Bapak Ridwan Kamil yang bisa tata kota kan. Saya kira Kota Jakarta perlu ahli tata kota yang menata. Dan bisa saja sekelompok orang yang di pinggir-pinggir sungai merasa digusur. Dengan ahli tata kota yang memegang, Jakarta akan lebih baik” yang menandai adanya
praanggapan pada kalimat tersebut Detil Pernyataan Prasetyo Edi
“...banyak sekali dengan permasalahan-permasalahan komunikasi,.. (pemimpin) Jakarta ini harus yang arif dan bijaksana. Kalo marah, boleh lah marah ama anak buah,...” menimbulkan citra
Basuki Tjahaja Purnama sebagai sosok yang bermasalah dengan etika dan cara berkomunikasi Ahok mengomentari Walikota
Surabaya Tri Rismaharini hanya dengan kalimat “Bu Risma juga
terbukti, Surabaya bagus. Bu Risma maju juga orang Jakarta jadi punya lebih banyak pilihan lagi”
Struktur mikro (stilistik)
Leksikon /
Pemilihan kata Kata bandel pada “...saudara Ahok, kadang-kadang suka bandel
juga. Saya juga suka ngomong kepada beliau juga ya apa adanya. Bandel ini orang, bandel jadi gubernur“ yang diucapkan Prasetyo Edi
Kata bandel dan penjahat pada kalimat “kalo ga bandel ntar
keikut penjahat-penjahat” yang
diucapkan Najwa Shihab memiliki konteks yang berbeda dengan kata
bandel yang dimaksud Prasetyo Edi
Struktur mikro (retoris)
Grafis Video enam orang masyarakat mengenai sosok pemimpin idaman Jakarta
Video Basuki Tjahaja Purnama menanggapi sejumlah calon yang digadang-gadang menyainginya pada Pilgub DKI Jakarta 2017 disertai grafis calon bersangkutan
5. Analisis Teks Segmen 5