• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Teks Segmen 7 Super Struktur (Skematik)

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 74-85)

Skematik atau struktur segmen 7 :

a. Video tanggapan Basuki Tjahaja Purnama terkait kritik cara komunikasi dan isu SARA yang menerpanya

b. Pendapat Yunarto Wijaya mengenai gerakan Teman Ahok dan Lawan Ahok

c. Closing statement “Catatan Najwa” Struktur Mikro

Video tanggapan Basuki Tjahaja Purnama terkait kritik cara komunikasi dan isu SARA yang menerpanya

Gambar 27

Video Tanggapan Basuki Tjahaja Purnama

Membuka segmen 7, ditayangkan video tanggapan Basuki Tjahaja Purnama terkait kritik cara komunikasi dan isu SARA yang menerpanya. Hal ini menjadi suatu pertanyaan bagi peneliti, kenapa video ini harus ditayangkan di segmen ini. Mengingat, pada segmen-segmen sebelumnya, cara komunikasi dan isu SARA selalu dibahas. Sehingga penggunaan elemen grafis (retoris) berupa video atau elemen grafis lainnya pada segmen ini dapat menimbulkan secara tidak langsung makna ideologis dari komunikator yaitu program Mata Najwa di Metro TV. Karena penayangan video ini hakikatnya berdasarkan keinginan programmer atau orang di balik program ini. Peneliti memaknainya sebagai bentuk tim Mata Najwa ingin menutup segala kritik soal etika atau cara komunikasi dan isu SARA yang menimpa Basuki Tjahaja Purnama dengan menayangkan pernyataan Basuki Tjahaja Purnama sendiri tidak bermasalah dengan hal tersebut.

Karena baginya yang terepenting adalah kerja apa adanya. Seperti yang tertuang pada pernyataannya sebagai berikut:

“...Saya kerja aja apa adanya. Hanya yang perlu saya tau ketika orang-orang Jakarta ga bisa terima bahasa toilet, di kampung saya biasa, ya sudah saya ga usah ngomongin bahasa itu. Makanya jangan mainin SARA, jangan fitnah,... Apalagi kalau Anda jual isu SARA, itu sebenarnya Anda tidak nasionalis sama sekali. Anda udah menghina para pahlawan nasional yang udah gugur waktu menegakkan menciptakan Pancasila dan UUD 1945. Nah saya kira itu aja. Tapi Anda pakai itu juga ga laku kok”.

Peneliti melihat pernyataan ini juga memiliki maksud (semantik) implisit bahwa Basuki Tjahaja Purnama berupaya menjawab segala tudingan pada dirinya terkait etika dan cara komunikasi serta isu SARA yang mendatanginya. Karenanya, peneliti secara kritis merasa penayangan video di awal segmen 7 ini sebagai bentuk keberpihakan Tim Mata Najwa pada Basuki Tjahaja Purnama.

Pendapat Yunarto Wijaya mengenai Teman Ahok dan Lawan Ahok Yunarto Wijaya diminta mengkritisi gerakan Teman Ahok dan

Lawan Ahok oleh Najwa Shihab. Yunarto Wijaya teridentifikasi menggunakan pilihan kata / leksikon (stilistik) “lelucon politik” saat mengkritisi gerakan Lawan Ahok pada pernyataannya “Gerakan

dianggap sebagai lelucon politik yang dianggap dipolitisasi oleh sebagian pihak. Jadi, itu saran saya ke Bang Bursa”. Pilihan kata

menunjukkan sikap dan ideologi pemakainya. Maka peneliti melihat Yunarto Wijaya beranggapan gerakan Lawan Ahok hanyalah “lelucon politik” atau penyemarak dalam demokrasi. Bukan gerakan yang harus ditakuti karena ini hanya sebuah gerakan “lelucon” atau tidak terlalu penting. Analisis peneliti tersebut diperkuat dengan ekspresi (retoris) tertawa geli yang ditujukan oleh Yunarto Wijaya saat Bursah Zarnubi menanggapi kritiknya tersebut.

Gambar 28

Ekspresi Yunarto Wijaya

Argumen Yunarto Wijaya terhadap Teman Ahok “Jadi, malah

yang harus Anda lakukan adalah ikut menjaga Ahok, berkoordinasi dengan Ahok,... Kalau itu Anda lakukan Anda tidak hanya akan memenangkan Ahok 2017, tapi Anda juga menjaga bagaimana Ahok amanah sampai 2017 itu” ini disebut sebagai praanggapan

pada anggapan yang bisa dijadikan dasar untuk mendukung suatu gagasan tertentu.

Elemen nominalisasi (semantik) teridentifikasi pada pernyataan Tubagus Ramadhan yang digarisbawahi “...Menurut kami, perolehan 275 ribu suara adalah kita tidak benar-benar berekspektasi sebesar itu ya. Tapi, ternyata dukungan masyarakat sangat besar, ...suatu saat nanti, mungkin 400 atau 500 ribu kita akan langsung bawa KTP, bawa bukti bahwa KTP tersebut sudah terkumpul sebanyak ini,...”.

Elemen nominalisasi menunjukkan angka atau jumlah dari sesuatu. Pada kalimat tersebut, kata “suatu saat nanti” menandai adanya praanggapan (semantik) dari Tubagus Ramadhan. Karena kenyataannya saat itu belum terjadi.

Closing statement “Catatan Najwa”

Di setiap akhir episode Mata Najwa, Najwa Shihab sebagai pembawa acara selalu memberikan suatu kesimpulan yang pada program ini disebut sebagai “Catatan Najwa”. Pada Catatan Najwa episode Para Penantang Ahok ini, peneliti melihat adanya maksud (semantik) implisit yang terkesan menguntungkan Basuki Tjahaja Purnama. Tujuan akhir elemen maksud adalah publik hanya disajikan informasi yang menguntungkan komunikator atau pihak-pihak tertentu.

Gambar 29 Catatan Najwa

Catatan Najwa pada episode Para Penantang Ahok adalah sebagai berikut:

Pada Pemilu nanti Gubernur Ahok akan diuji apakah dia hanya sekelas Gubernur pengganti Jokowi.

Penantang Ahok akan mengobjektifikasi sepenting apa nilai Ahok bagi warga pemilih nanti.

Banyak orang menganggap Ahok tegas dan bersih tak sedikit yang menilainya penuh kontroversi.

Ahok disebut pemimpin berani dan transparan tutur katanya blak-blakan terkadang mudah naik pitam.

Sebagian rakyat mendamba sikapnya sebagian lain menilainya terlampau kasar bertutur kata.

Siapa pun gubernurnya Jakarta perlu bertobat membatasi selera privat yang mendefinisikan Jakarta begitu hebat.

Kota ini perlu pemimpin yang bernyali tak ragu menumpas korupsi dan mengeksekusi kebijakan publik yang mangkrak terhenti.

Jadi, Ahok atau penantangnya yang kini mulai bermunculan?

Hanya rekam jejak yang bisa jadi ukuran kita siapa yang paling pantas memimpin ibu kota.

Peneliti akan mengkritisi kalimat yang digarisbawahi satu-persatu. Pada kalimat “Penantang Ahok akan mengobjektifikasi sepenting apa

nilai Ahok bagi warga pemilih nanti” secara implisit berarti para

penantang Ahok harus mengukur dirinya dengan jujur. Seberapa besar nilai atau peluang mereka dibanding Basuki Tjahaja Purnama bagi warga pemilih mendatang. Kalimat ini terindikasi menjadikan Basuki Tjahaja Purnama sebagai pembanding, artinya Najwa Shihab sebagai pembawa acara ingin mengatakan bahwa patokan gubernur yang baik itu adalah seorang Basuki Tjahaja Purnama.

Pada kalimat “Banyak orang menganggap Ahok tegas dan

bersih,...”, kata “Ahok tegas dan bersih” memiliki korelasi dengan

kalimat “Ahok disebut pemimpin berani dan transparan,..”. Kata “tegas” berarti “berani” dan kata “bersih” berarti “transparan”.

Kalimat “Kota ini perlu pemimpin yang bernyali, tak ragu

menumpas korupsi” seolah sebagai kesimpulan dari kalimat yang

berkorelasi tersebut. Karena “Kota ini perlu pemimpin yang bernyali”, maka ada Ahok si pemimpin yang “tegas dan berani”. Karena “Kota ini perlu pemimpin yang tak ragu menumpas korupsi”, ada Ahok si pemimpin yang “bersih dan transparan”.

Pada kalimat di atas, peneliti melihat wacana yang dibangun adalah Basuki Tjahaja Purnama pemimpin yang tegas, berani, bersih, dan transparan, maka pada kalimat “Jadi, Ahok atau penantangnya yang

kini mulai bermunculan?” Najwa Shihab seolah berkata pada pemirsa,

mau pemimpin yang tegas, berani, bersih, dan transparan (Ahok) atau penantangnya? Karena kemudian, pada kalimat terakhir dikatakan “Hanya rekam jejak yang bisa jadi ukuran kita siapa yang paling pantas memimpin ibu kota”.

Kata “rekam jejak” di Catatan Najwa ini sebelumnya juga diucapkan pada opening statement oleh Najwa Shihab. Sehingga peneliti mengartikannya jika dihubungkan dengan kalimat-kalimat sebelumnya bahwa untuk menjawab pertanyaan “Jadi, Ahok atau

penantangnya yang kini mulai bermunculan?” adalah dengan

membandingkan Basuki Tjahaja Purnama dengan para penantangnya melalui rekam jejaknya.

Merujuk pada wacana yang dibangun sebelumnya, rekam jejak Basuki Tjahaja Purnama sebagai pemimpin Jakarta adalah pemimpin yang tegas, berani, bersih, dan transparan. Jadi, pada pertanyaan tersebut seolah mengarahkan warga Jakarta pilihlah Basuki Tjahaja Purnama yang telah terbukti rekam jejaknya.

Kekurangan Basuki Tjahaja Purnama sebagai pemimpin pada Catatan Najwa ini diarahkan pada permasalahan etika komunikasinya seperti pada pernyataan “Sebagian rakyat mendamba sikapnya

sebagian lain menilainya terlampau kasar bertutur kata.”. Sehingga

Najwa episode Para Penantang Ahok ini mendukung wacana yang coba dibangun pada segmen-segemen sebelumnya bahwa tidak ada yang salah dengan Basuki Tjahaja Purnama, kecuali etika dan cara berkomunikasinya.

Secara keseluruhan, pada akhirnya peneliti melihat Catatan Najwa ini secara implisit dan tersembunyi menunjukkan bagaimana praktik bahasa tertentu digunakan untuk menonjolkan kebenarannya dan secara implisit menonjolkan versi kebenaran lain untuk menguntungkan komunikator atau pihak-pihak tertentu.

Tabel 13

Kerangka Analisis Data Segmen 7 Struktur

Wacana Elemen Temuan

Super struktur (skematik)

Skema / Alur a. Video tanggapan Basuki Tjahaja Purnama terkait kritik cara komunikasi dan isu SARA yang menerpanya

b. Pendapat Yunarto Wijaya mengenai gerakan Teman Ahok dan Lawan Ahok

c. Closing statement “Catatan Najwa”

Struktur mikro (semantik)

Maksud  Basuki Tjahaja Purnama pada video di awal segmen 7 memiliki maksud implisit bahwa pernyataannya ditujukan kepada orang-orang yang menudingnya dengan kritik etika dan cara komunikasi serta isu SARA

Closing statement “Catatan Najwa” peneliti melihat adanya maksud implisit yang terkesan menguntungkan Basuki Tjahaja

Purnama

Praanggapan  Kritik Yunarto Wijaya terhadap Teman Ahok “Kalau itu Anda

lakukan Anda tidak hanya akan memenangkan Ahok 2017, tapi Anda juga menjaga bagaimana Ahok amanah sampai 2017 itu”  Pernyataan Tubagus Ramadhan

“...suatu saat nanti, mungkin 400 atau 500 ribu kita akan langsung bawa KTP,...”

Nominalisasi  Pada pernyataan Tubagus Ramadhan “...Menurut kami,

perolehan 275 ribu suara,... suatu saat nanti, mungkin 400 atau 500 ribu kita akan langsung bawa KTP, bawa bukti bahwa KTP tersebut sudah terkumpul sebanyak ini,...”.

Struktur mikro (retoris)

Grafis  Video tanggapan Basuki Tjahaja Purnama terkait kritik cara komunikasi dan isu SARA yang menerpanya

Ekspresi  Ekspresi tertawa geli Yunarto Wijaya mendengar tanggapan Bursah Zarnubi terhadap kritikannya

4.3 Pembahasan

Sebelum membahas lebih jauh hasil penelitian yang peneliti dapatkan, peneliti akan menggambarkan terlebih dahulu dasar pemikiran peneliti terkait program Mata Najwa episode “Para Penantang Ahok” edisi 7 Oktober 2015.

Seperti yang telah disebutkan peneliti di latar belakang penelitian ini bahwa jika ditelusuri ke belakang, bisa jadi kemunculan episode ini ada kaitannya dengan pernyataan Sekjen DPP Nasdem Rio Capella kepada Liputan6.com, di Jakarta, 20 September 2015, sekitar dua pekan sebelum episode “Para Penantang Ahok” di Metro TV tayang, ia mengatakan "Nasdem partai yang terbuka untuk anak

bangsa yang punya potensi untuk maju, termasuk Ahok".

Peneliti beranggapan bahwa pernyataan tersebut merupakan sinyal ‘dukungan’ meskipun saat itu belum resmi kepada calon petahana Basuki Tjahaja Purnama. Jika dihubungkan dengan situasi politik saat itu, Ketua Umum Partai Nasdem adalah Surya Paloh merupakan pimpinan Metro TV di bawah naungan Media Group. Sehingga, keberadaan Metro TV yang menyajikan program Mata Najwa episode “Para Penantang Ahok” edisi 7 Oktober 2015 dengan pengemasan acara yang sedemikan rupa membuat peneliti tidak bisa melepaskan bayang-bayang pengaruh Partai NasDem yang telah memberikan sinyal dukungan kepada Basuki Tjahaja Purnama beberapa saat sebelum episode ini tayang.

Anggapan peneliti adanya keberpihakan Metro TV melalui program Mata Najwa bukannya tidak berdasar. Karena jauh sebelumnya pada Juni 2015 pun sudah ada sinyal NasDem melirik Basuki Tjahaja Purnama sebagai kandidat calon Gubernur DKI Jakarta yang diusung Partai NasDem. Seperti pernyataan Bestari Barus Ketua Fraksi Partai NasDem DPRD DKI Jakarta dilansir dari situs

metrotvnews.com yang mengatakan “Kalau Ahok niat maju lagi dan minta dukungan ke NasDem, kami terbuka. Ahok salah satu tokoh yang harus diperhitungkan. Kalau dia mampu memperlihatkan progres yang baik dalam

menangani masalah di Jakarta dan mau maju lagi, ya sudah kenapa tidak (lewat NasDem)".

Dasar pemikiran peneliti tersebut diperkuat dengan temuan data dan hasil penelitian yang menunjukkan adanya upaya program Mata Najwa episode “Para Penantang Ahok” edisi 7 Oktober 2015 di Metro TV untuk membangun suatu wacana pada tayangannya tersebut. Dalam hal ini pihak yang diuntungkan adalah Basuki Tjahaja Purnama, yang secara tidak langsung juga menjadi suatu keuntungan bagi Partai NasDem yang pada akhirnya memang mendukung Basuki Tjahaja Purnama berdasarkan pernyataan “Kami dari DPP Partai Nasdem

memutuskan untuk mencalonkan saudara Ahok menjadi calon gubernur DKI Jakarta masa bakti 2017-2022," ujar Korwil Partai Nasdem DKI Jakarta Viktor

Leiskodat pada 12 Februari 2016 di Kantor Partai Nasdem, dilansir dari laman

Kompas.com

4.3.1 Wacana

Berdasarkan temuan data dan hasil penelitian, peneliti mengidentifikasi ada beberapa wacana yang coba dibangun dalam program Mata Najwa episode “Para Penantang Ahok”, yaitu:

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 74-85)

Dokumen terkait