Skematik atau struktur segmen 5 :
a. Video footage Teman Ahok vs Lawan Ahok
c. Wawancara Bursah Zarnubi dari gerakan Lawan Ahok d. Adu pendapat antara Lawan Ahok dan Teman Ahok Struktur Mikro
Video footage Teman Ahok vs Lawan Ahok
Gambar 21
Teman Ahok vs Lawan Ahok
Di awal segmen 5 ditayangkan video footage Teman Ahok dan
Lawan Ahok. Dalam video berdurasi 22 detik ini, ditayangkan gambar Teman Ahok yang merupakan gerakan pendukung Basuki Tjahaja Purnama yang sedang melakukan pengumpulan KTP dan menjual
marchandise untuk membantu pencalonan Basuki Tjahaja Purnama
melalui jalur independen. Kemudian ditampilkan pula gerakan Lawan Ahok yang tampak sedang berdemonstrasi membawa tulisan dan spanduk bertuliskan Lawan Ahok. Musik yang dijadikan backsound video ini menambahkan kesan ketegangan di antara kedua kubu ini.
Gambar 22
Grafis Teman Ahok vs Lawan Ahok
Di akhir video dimunculkan grafis bertuliskan Teman Ahok vs Lawan Ahok yang menambah kesan ideologis yang berseberang di antara keduanya. Temuan-temuan di atas termasuk dalam elemen grafis (retoris).
Wawancara Tubagus Ramadhan dari gerakan Teman Ahok
Sesaat setelah Najwa Shihab menyapa Tubagus Ramadhan dari
Teman Ahok dan Bursah Zarnubi dari Lawan Ahok, ia mengatakan
“Ada Teman Ahok, ada Lawan Ahok. Saya mau ke Teman Ahok dulu deh”. Pernyataan Najwa Shihab tersebut ditanggapi langsung oleh
Bursah Zarnubi dari Lawan Ahok dengan pernyataan “Terserah aja” serta “Lawan Ahok juga boleh (duluan)” dengan nada kekecewaan bahwa Teman Ahok lah yang dimintai keterangan terlebih dahulu. Hal ini menunjukkan adanya elemen ekspresi (retoris). Dalam wacana
ini, suara, intonasi, atau ekspresi dapat menimbulkan secara tidak langsung makna ideologis dari komunikatornya.
Penggunaan kata ganti (sintaksis) “kita” oleh Tubagus Ramadhan pada kalimat “Teman Ahok ini sebenarnya kita adalah sebuah gerakan yang berdasarkan volunteer atau kerelewanan sistemnya. Kita disini berfokus untuk mengumpulkan KTP supaya Ahok bisa maju di Pilkada 2017 melalui jalur independen. Disitu fokus kita, kita adalah relawan pengumpul KTP. Fokus kita adalah mengumpulkan KTP untuk Ahok supaya ia bisa maju di Pilkada 2017 melalui jalur independen”. Kata “kita” pada kalimat tersebut menggambarkan
representasi sikap bersama dalam gerakan Teman Ahok. Penggunaan kata “kita” juga mempunyai implikasi menumbuhkan solidaritas, aliansi, perhatian publik, serta mengurangi kritik oposisi (hanya) pada diri sendiri. Hal serupa juga terjadi pada kalimat “...Bagi kami Teman
Ahok, semua yang telah mengumpulkan KTP untuk Ahok adalah relawan Teman Ahok”. Kata “kami” disini memiliki fungsi yang sama
seperti penggunaan kata “kita” sebelumnya.
Pada kalimat “...Bagi kami Teman Ahok, semua yang telah
mengumpulkan KTP untuk Ahok adalah relawan Teman Ahok”
terdapat elemen koherensi kondisional (sintaksis) yang ditandai dengan penggunaan kata “yang” pada kalimat tersebut sebagai kata hubung (konjungsi) kalimat setelahnya yang menjadi penjelas. Adanya kalimat penjelas ini dapat memberi keterangan yang baik atau
buruk terhadap suatu pernyataan. Dalam konteks pernyataan tersebut maka memberikan keterangan yang baik bahwa yang disebut sebagai Teman Ahok adalah siapapun yang mengumpulkan KTPnya untuk Basuki Tjahaja Purnama maju di Pilkada DKI 2017 lewat jalur independen.
Elemen nominalisasi (semantik) teridentifikasi pada pernyataan Tubagus Ramadhan “Saat ini teman Ahok sudah mengumpulkan
sekitar 275 ribu KTP dari seluruh DKI Jakarta melalui posko-posko dan mall pada tanggal 6 kemarin, itu kita sudah mencapai 275 ribu KTP atau 27,5% dari target kita satu juta KTP” pada kata yang
digarisbwahi tersebut untuk menunjukkan nominal, jumlah, atau angka dari suatu capaian.
Wawancara Bursah Zarnubi dari gerakan Lawan Ahok
Kata ganti (sintaksis) “kami” dan “kita” juga digunakan Bursah
Zarnubi untuk menunjukkan sikap bersama pada kalimat “Jadi yang
saya lihat ini, dalam merespon DKI, ga ada gerakan civil society. Nah kami civil society ya. Pertama, yang kami kritikki itu adalah kepemimpinan. Kedua, cara bertindaknya Gubernur Ahok ini. Boleh keras, boleh tegas tapi jangan keras ya. Jaga mulut, karena kita sudah lama membangun, mentarnsformasikan bangsa ini menjadi bangsa yang beradab. Kita ingin pemimpin itu memberikan tauladan,...”.
Pernyataan Najwa Shihab “...Ini Lawan Ahok ini siapa persisnya?
Selain Bursha Zarnubi” terindikasi maksud (semantik) implisit di
dalamnya. Dalam konteks wacana media, elemen maksud menunjukkan secara implisit bagaimana praktik bahasa tertentu digunakan untuk menonjolkan suatu basis kebenaran. Dalam hal ini secara implisit Najwa mempertanyakan bahwa yang disebut dengan Lawan Ahok adalah Bursah Zarnubi sendiri. Karena Bursah Zarnubi sejak lama menunjukkan sikap ketidaksukaannya terhadap Ahok. Salah satu aksinya adalah demo di depan rumah dinas Basuki Tjahaja Purnama untuk menuntut perubahan sikap Basuki Tjahaja Purnama dalam hal komunikasi.1
Ekspresi (retoris) Najwa Shihab yang menanggapi pernyataan Bursah Zarnubi yang mengatakan Lawan Ahok terdiri atas kumpulan beberapa organisasi resmi dengan bertanya “mereka sebagai
organisasi resmi?” kemudian ia menanyakan lagi untuk memastikan
dengan nada terkejut dan agak tidak percaya “Organisasi resmi
menjadi Lawan Ahok?”. Dalam wacana pembicaraan, ekspresi seperti
ini mampu mempengaruhi pengertian dan mensugesti khalayak pada bagian mana yang harus diperhatikan.
1
https://metro.sindonews.com/read/1038060/170/bursah-zarnubi-rumah-ahok-banyak-setan-1440742447 diakses pada 9 Februari 2017
Adu pendapat antara Lawan Ahok dan Teman Ahok
Elemen maksud (semantik) terindikasi saat adu pendapat antara
Lawan Ahok dan Teman Ahok terjadi. Najwa Shihab acap kali melakukan pembelaan secara implisit dan tersembunyi terhadap Teman Ahok. Hal ini terlihat saat adu pendapat ini terjadi, tanggapan Najwa Shihab seringkali lebih mendukung pihak Teman Ahok dengan cara tertentu, seperti pada kalimat yang digarisbawahi berikut.
BZ: Karena Lawan Ahok merupakan gerakan moral. Kalo mereka kan mencalonkan Ahok. Ahok ini ga ada etika, belum berhenti gubernur udah kumpulkan relawan. Sementara serapan APBD aja belum 20%.. NS: (memotong) saya harus konfirmasi. Ini benar disuruh Pak Ahok atau bukan nih?
TR: Oh ini justru ini menurut saya lucu ini.
BZ: (memotong) pertanyaannya salah. Ga mungkin dia ga ngaku disuruh Ahok lah..
NS: Tadi kan Anda menuding ini disuruh Basuki Tjahaja Purnama. BZ: Disuruh siapa lagi?
TR: ...beberapa adalah relawan yang pernah bergabung dengan relawan Jakarta Baru gitu. Otomatis mereka pernah bertemu Ahok, pernah bertemu dengan Ahok, tapi tidak pernah melakukan conference langsung dengan Ahok. Kita kenal aja kaga gitu. Kita tau dia, karna dia ingin memajukan. Kita ingin memajukan dia karna menurut kita memiliki prestasi. Saya sendiri pun belum pernah bertemu dengan Pak Ahoknya sendiri. Jadi bagaimana kita bilang bahwa kita disuruh oleh Pak Ahoknya sendiri gitu?
NS: Pak Ahok sama sekali tidak terlibat?
NS: (memotong) Pak Ahok sama sekali tidak terlibat dalam gerakan Teman Ahok ini?
TR: Iya, tidak pernah. Kita belum pernah ketemu Pak Ahok sampai sekarang.
NS: Sampai sekarang belum ketemu Pak Ahok. Jadi tudingan Anda itu ada dasarnya atau tidak? Jangan asal fitnah aja nih bang.
BZ: Bukan fitnah.. NS: Ada dasarnya ga?
BZ: Jadi begini ya.. ga mungkin ada orang kerja mau relawan 275 ribu mau itu ga mungkin lah.
NS: Anda tidak percaya ada orang yang rela mau.. BZ: Tidak percaya saya. Tidak percaya.
NS: Tidak percaya? BZ: Tidak percaya.
TR: Yaa kalo misalkan bapak agak distrust, Bapak Burza Zarnubi tidak percaya, ada orang bisa mengumpulkan 275 ribu, silakan kunjungi booth kita. Itu aja sih kita.
NS: Kunjungi booth.
Pada percakapan di atas, terlihat pernyataan Bursah Zarnubi yang merugikan Basuki Tjahaja Purnama akan ditanggapi Najwa Shihab secara sengit. Sedangkan pernyataan Teman Ahok yang menguntungkan posisi Basuki Tjahaja Purnama akan diulanginya sebagai bentuk penegasan atas pendapat Teman Ahok. Secara implisit, Najwa Shihab mencoba menguatkan informasi yang menguntungkan pihak tertentu yaitu Basuki Tjahaja Purnama “Ahok” dan Teman Ahok.
Kata ganti (sintaksis) “kita” kembali diucapkan oleh Tubagus Ramadhan untuk menyatakan sikap bersama yang mempunyai implikasi menumbuhkan solidaritas, aliansi, perhatian publik, serta mengurangi kritik oposisi (hanya) kepada diri sendiri pada kalimat
“...pernah bertemu dengan Ahok, tapi tidak pernah melakukan conference langsung dengan Ahok. Kita kenal aja kaga gitu. Kita tau dia, karna dia ingin memajukan. Kita ingin memajukan dia karna menurut kita memiliki prestasi,... Jadi bagaimana kita bilang bahwa kita disuruh oleh Pak Ahoknya sendiri gitu?”.
Tabel 11
Kerangka Analisis Data Segmen 5 Struktur
Wacana Elemen Temuan
Super struktur (skematik)
Skema / Alur a. Video footage Teman Ahok vs Lawan Ahok
b. Wawancara Tubagus Ramadhan dari gerakan Teman Ahok
c. Wawancara Bursah Zarnubi dari gerakan Lawan Ahok
d. Adu pendapat antara Lawan Ahok dan Teman Ahok
Struktur mikro (semantik)
Nominalisasi “Saat ini teman Ahok sudah mengumpulkan sekitar 275 ribu KTP dari seluruh DKI Jakarta,... itu kita sudah mencapai 275 ribu KTP atau 27,5% dari target kita satu juta KTP”
Maksud Maksud implisit pada pernyataan Najwa Shihab kepada Bursah Zarnubi terkait sikap Lawan Ahok
“...Ini Lawan Ahok ini siapa persisnya? Selain Bursah Zarnubi”
Struktur mikro (sintaksis)
Kata ganti Penggunaan kata “kita” dan “kami” oleh Tubagus Ramadhan untuk menjelaskan Teman Ahok mencerminkan sikap bersama Penggunaan kata “kita” dan
“kami” oleh Bursah Zarnubi
mengenai Lawan Ahok
mencerminkan sikap bersama Penggunaan kata “kita” oleh
Tubagus Ramadhan saat dituding Bursah Zarnubi
Koherensi
kondisional Kata “yang” sebagai penghubung dalam kalimat ““...Bagi kami
Teman Ahok, semua yang telah mengumpulkan KTP untuk Ahok adalah relawan Teman Ahok”
menjelaskan kalimat setelahnya Struktur
mikro (retoris)
Ekspresi Nada kecewa Bursah Zarnubi saat Najwa Shihab memilih
mewawancarai Tubagus
Ramadhan (Teman Ahok) terlebih dahulu “Terserah aja” serta
“Lawan Ahok juga boleh (duluan)”
Ekspresi terkejut dan agak tidak percaya Najwa Shihab saat menanggapi pernyataan Bursah Zarnubi bahwa Lawan Ahok terdiri atas organisasi resmi
6. Analisis Teks Segmen 6