4.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian 4.1.1 Tentang Metro TV
VISION
To become a distinct Indonesian television station by ranking number one for its news, offering quality entertainment and lifestyle programming. Providing unique advertising opportunities and achieving loyalty with its viewers and advertisers.
MISSION
To stimulate and promote the nation's and country's advancement towards a democratic atmosphere, in order to excel in global competition, with high appreciation of moral and ethic.
To add a valuable presence to the television industry by providing a new perspective, by improving the way information is presented and by offering quality entertainment alternatives.
To achieve a significant level of growth by developing and leveraging its assets, to increase the quality of life and the welfare of its employees, and to produce significant profit for its share holders.
HISTORY OF METRO TV
PT. Media Televisi Indonesia was granted a broadcasting licence for Metro TV on October 25, 1999. It is a subsidiary of the Media Group, headed by Surya Paloh, the company's CEO/President, who was a wealth of experience in the local media industry and is the publisher of Indonesia's third largest national newspaper. Media Indonesia. From a start up work force of 280 employees the company now employs more than 1200 people, mostly in the newsroom and production areas.
On November 25. 2000. Metro TV went on air for the first time in a trial series of broadcasts to seven cities. At first it was aired for only twelve hours a day until April 1, 2001, when 24 hour broadcasting began.
Perhaps the greatest challenge for the company in the early stages was the need to build its infrastructure, facilities and team, all within the short time scale of nine months. Though this was hard work the experience gained was invaluable in forging a solid team of experienced professionals who had already been tested under challenging conditions.
The company has ushered in a new wave of lifestyle and quality alternative entertainment programming to compliment its dominance in the news sector of the industry. It has pioneered new perspectives and unique one-of-a-kind programs while improving the way information is presented. Sophisticated and stylish productions from Metro TV have
breathed new life into the industry. Even the most discerning viewers have a viewing choice second to none.
The desire to be the best drives the company's enthusiasm and its multi-dimensional approach to programming needs. Looking ahead to 2006 the vision of the company is to have by then achieved number one ranking for its news quality and delivery as well as extraordinarily high levels of loyalty from both viewers and advertisers.
The company also takes its corporate responsibility towards shareholders and employees seriously. Though consistent in driving forward to achieve a significant level of growth and profit and to leverage its assets, the welfare and quality of life of Metro TV employees remains of paramount importance.
4.1.2 Tentang Program Mata Najwa
Mata Najwa adalah program talkshow unggulan Metro TV yang dipandu oleh jurnalis senior, Najwa Shihab. Talkshow ini ditayangkan setiap hari Rabu pukul 20.05 hingga 21.30 WIB.
Disiarkan perdana sejak 25 November 2009, Mata Najwa konsisten menghadirkan topik-topik menarik dengan narasumber kelas satu. Sejumlah tamu istimewa telah hadir dan berbicara di Mata Najwa, diantaranya mantan Presiden RI, BJ Habibie (episode: Separuh Jiwaku Pergi), mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (episode: Pemimpin Bernyali),
Menteri BUMN Dahlan Iskan (episode: Komandan Koboi), dan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (episode: Laga Ibukota).
Mata Najwa juga pernah menghadirkan gambar eksklusif di dalam sel tahanan Lapas Sukamiskin dan Rutan Cipinang dalam episode ”Penjara Istimewa”. Di tayangan tersebut, Najwa ikut melakukan inspeksi mendadak dan berbincang langsung dengan terpidana kasus korupsi, Gayus Halomoan Tambunan, Adrian Waworuntu, Agusrin Najamuddin dan Anggodo Widjojo.
4.1.3 Sinopsis Program Mata Najwa Episode Para Penantang Ahok
Kini masa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama sudah di penghujung waktu. Banjir, macet, hingga pola birokrasi merupakan beberapa permasalahan yang akan dinilai dalam rapor kerja sang pemilik tahta DKI Jakarta. Sudah berhasilkah Ahok menjwab itu semua? Apakah ia mampu merangkul Jakarta kembali? Atau harus direngkuh oleh sosok pengganti?
Sejumlah nama pun muncul ke permukaan. Mereka yang dijagokan untuk menjadi penantang sang petahana. Siapkah mereka dengan segala kompleksitasnya?
4.2 Hasil Penelitian
Pada bab ini, peneliti akan memaparkan temuan data dan analisis mengenai wacana yang dibangun atau ditampilkan dalam tayangan Mata Najwa
penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terhadap program Mata Najwa episode “Para Penantang Ahok” edisi 7 Oktober 2015 di Metro TV.
4.2.1 Analisis Teks Struktur Makro (Tematik)
Dalam struktur makro (makna global) hal yang diamati adalah gambaran umum dari suatu teks. Maka, tema pada program Mata Najwa episode “Para Penantang Ahok” edisi 7 Oktober 2015 di Metro TV adalah mengenai para bakal calon gubernur DKI yang siap melawan incumbent Basuki Tjahaja Purnama untuk maju ke bursa pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017.
4.2.2 Analisis Teks Super Struktur (Skematik)
Pada super struktur, hal yang diamati adalah skematik, yaitu rangkaian teks atau dalam hal ini tayangan. Tayangan ini dibagi ke dalam tujuh segmen. Namun secara keseluruhan, struktur program Mata Najwa episode “Para Penantang Ahok” adalah sebagai berikut:
Opening
Pada bagian pembuka, Najwa Shihab membukanya dengan opening
statement khas program Mata Najwa. Pada bagian ini Najwa Shihab pada
dasarnya menjelaskan latar belakang episode “Para Penantang Ahok” sembari memperkenalkan para narasumber pada episode tersebut.
Isi
Pada bagian isi, tayangan Mata Najwa Episode “Para Penantang Ahok” ini berkisar tentang kesiapan para penantang Basuki Tjahaja Purnama “Ahok” untuk menghadapinya di Pilkada DKI Jakarta 2017 dengan memberikan
sejumlah argumen yang menjadi nilai jual mereka menghadapi petahana. Namun hal tersebut tidak dikritisi secara mendalam. Pada bagian isi ini pada dasarnya membahas sosok Basuki Tjahaja Purnama yang bermasalah di etika dan komunikasi sebagai pemimpin termasuk soal isu SARA, baik dari para penantangnya maupun perwakilan partai politik serta pendukungnya. Diskusi soal Basuki Tjahaja Purnama selalu diarahkan ke masalah tersebut. Bukanlah adu pendapat soal kebijakan. Hal ini diperkuat dengan berbagai elemen grafis dan video yang diatur sedemikian rupa.
Closing
Pada bagian penutup, dibuka dengan video tanggapan Basuki Tjahaja Purnama terhadap kritik cara komunikasi dan isu SARA yang menerpanya. Penayangan video ini seolah menjawab segala tudingan mengenai dirinya terkait isu tersebut. Di akhir tayangan seperti biasa Najwa Shihab menyampaikan Catatan Najwa sebagai kesimpulan episode “Para Penantang Ahok”.
Setelah elemen tematik dan skematik diidentifikasi oleh peneliti secara keseluruhan, selanjutnya peneliti membagi hasil penelitian ini menjadi segmen per segmen dari segmen 1 hingga segmen 7. Analisis ini dimulai dari super struktur (skematik; struktur, alur) dilanjutkan struktur mikro (semantik, sintaksis, stilistik, dan retoris).
4.2.3 Analisis Teks Per Segmen 1. Analisis Teks Segmen 1
Skematik atau struktur segmen 1:
a. Opening statement oleh Najwa Shihab
b. Video footage Bakal Calon Gubernur DKI Jakarta
c. Video Pernyataan Basuki Tjahaja Purnama menghimbau warga Jakarta untuk jangan memilihnya kalau ada yang lebih baik darinya
d. Grafis Basuki Tjahaja Purnama dan Para Penantang Ahok e. Opening show oleh Najwa Shihab
f. Wawancara dengan Marco Kusumawijaya (Ahli Tata Kota, Bakal Calon Gubernur DKI Jakarta) terkait pengumuman di Facebooknya maju sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta
g. Cuplikan Adhyaksa Dault yang didukung oleh para tokoh yang mendaulatnya maju sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta
h. Wawancara dengan Adhyaksa Dault via telepon terkait dukungan sejumlah tokoh yang mendaulatnya untuk maju
Struktur Mikro
Opening statement oleh Najwa Shihab
Setiap memasukki program Mata Najwa, biasanya Najwa Shihab sebagai pembawa acara akan membuka acara dengan memberikan
opening statement terkait episode yang sedang ia bawakan. Pada opening statement oleh Najwa Shihab ditemukan elemen latar
DKI Jakarta yang persaingannya sudah mulai terasa. Terdapat pada kalimat “Pilgub Jakarta masih 17 bulan lagi, semarak persaingan
sudah mendahului.”
Pada bagian ini juga terdapat elemen leksikon atau pemilihan kata (stilitik) “Penantang Ahok” sebagai sebutan sejumlah sosok yang siap melawan Basuki Tjahaja Purnama di Pilkada DKI 2017. Selain sebagai judul, juga terdapat pada kalimat “Penantang Ahok
telah mendeklarasikan diri.” Pada kalimat tersebut juga terdapat
elemen bentuk kalimat (sintaksis) berupa kalimat aktif terdapat pada kalimat mendeklarasikan diri sehingga menonjolkan subjek
penantang Ahok di awal kalimat.
Elemen metafora (retoris) yang berupa kiasan atau ungkapan terdapat pada kalimat “Butuh kemampuan dan rekam jejak yang
beringas” dan “Pemilihnya warga kota yang berisik”. “Rekam jejak
yang beringas” diartikan sebagai rekam jejak yang berani. Sedangkan “warga yang berisik” diartikan sebagai warga yang kritis terhadap pemimpinnya.
Pada kalimat “Siapapun yang jadi gubernur nanti, dia akan
disoroti dari seluruh penjuru negeri” terdapat dua elemen yaitu pra
anggapan (semantik) dan bentuk kalimat (sintaksis). Praanggapan (semantik) berupa kalimat atau argumen yang diberikan oleh media atau komunikator yang beranggapan siapapun yang terpilih menjadi
gubernur DKI nanti, bakal menjadi pusat perhatian meskipun argumen ini kemungkinan besar benar, namun kenyataannya belum terjadi. Sedangkan untuk elemen bentuk kalimat (sintaksis) menentukan makna yang dibentuk oleh susunan kalimat apakah A (gubernur nanti) yang menjelaskan B (akan disoroti seluruh penjuru negeri), ataukah B
(seluruh penjuru negeri akan menyoroti) yang menjelaskan A (gubernur nanti).
Gambar 6
Opening Mata Najwa “Para Penantang Ahok”
Opening statement ini ditutup dengan Najwa Shihab yang mengucapkan tema pada episode tersebut “Para Penantang Ahok” yang terdapat elemen grafis (retoris) di dalamnya karena pada saat ia mengucapkannya, grafis tersebut ditayangkan di mejanya. Elemen ekspresi (retoris) terdapat saat Najwa mengucapkan “Para
Penantang Ahok” dalam bentuk ekspresi dan intonasi yang mampu
mempengaruhi pengertian dan mensugesti khalayak pada bagian mana yang harus diperhatikan.
Video footage Bakal Calon Gubernur DKI Jakarta
Elemen grafis (retoris) terdapat pada video footage bakal calon
Gubernur DKI Jakarta yang ditampilkan secara bergantian berupa poster atau foto screenshot berita Basuki Tjahaja Purnama, Adhyaksa Dault, Ridwan Kamil, Sandiaga Uno-Sani, Marco Kusumawijaya, Nachrowi Ramli, Tantowi Yahya, hingga Bursah Zarnubi.
Gambar 7
Video Footage Bakal Cagub DKI Jakarta
Video Pernyataan Basuki Tjahaja Purnama
Video pernyataan Basuki Tjahaja Purnama merupakan suatu
elemen grafis (retoris) yang menimbulkan secara tidak langsung makna ideologis dari komunikator atau media yang menayangkan video pernyataan ini.
Pada pernyataan video ini terdapat elemen praanggapan (semantik) pada kalimat “Kalau ada yang lebih baik dari saya, warga
Jakarta jangan pilih saya. Kalau ada yang lebih terbukti, rekam jejaknya gitu ya, bukan Cuma janji omong kosong “akan...akan...”
gitu ya. Lebih jujur, lebih mau berkorban, mau kerja keras dari saya, ya saya menghimbau jangan pilih saya.” Praanggapan disini berupa
argumen komunikator yang meskipun belum terjadi, namun dijadikan dasar untuk mendukung gagasan tertentu.
Video yang ditayangkan tersebut tentunya merupakan pilihan redaksi sehingga memilih pernyataan ini yang ditayangkan. Sehingga pada kalimat di atas juga terdapat elemen maksud (semantik) di dalamnya berupa penonjolan yang dilakukan secara sengaja untuk menciptakan citra tertentu kepada khalayak, yaitu bahwa Basuki Tjahaja Purnama yang terbaik karena lebih baik, terbukti rekam jejaknya, omongannya dapat dibuktikan (bukan janji omong kosong), jujur, mau berkorban dan bekerja keras. Kalimat tersebut memiliki maksud implisit bahwa jangan pilih yang lain kalau tidak sebaik dirinya. Pada penutup video, ditayangkan grafis berikut ini;
Gambar 8
Elemen grafis (retoris) terdapat pada gambar Basuki Tjahaja Purnama “Ahok” di antara para penantangnya yang memperlihatkan sosok Basuki Tjahaja Purnama tampak paling besar dibandingkan para penantangnya yang menimbulkan citra Basuki Tjahaja Purnama sebagai sosok yang hebat dibandingkan para penantangnya. Hal ini diperkuat dengan warna merah pada nama “Ahok” yang memberikan kesan bahwa Basuki Tjahaja Purnama adalah sosok yang pemberani.
Opening show oleh Najwa Shihab
Pada bagian ini, Najwa Shihab mulai memperkenalkan narasumber yang hadir saat itu. Namun sebelumnya ia memberikan suatu pernyataan yang mengandung elemen metafora (retoris) yang terdapat pada kalimat “Pemirsa, Jakarta selalu punya cerita. Dari
problematika tata kota, hingga pertarungan berebut kuasa. Meski masih 2015, kursi DKI 1 sudah semakin panas”. Elemen metafora ini
muncul untuk memperkuat pesan utama bahwa perebutan kursi DKI 1 semakin seru untuk diperbincangkan karena suasananya mulai memanas.
Wawancara dengan Marco Kusumawijaya (Ahli Tata Kota, Bakal Calon Gubernur DKI Jakarta)
Saat Najwa Shihab mewawancarai Marco Kusumawijaya terkait keikutsertaannya menjadi salah satu bakal calon Gubernur DKI Jakarta mendatang, muncul grafis biodata singkat Marco
Kusumawijaya. Elemen grafis (retoris) tersebut berfungsi sebagai bagian yang ingin ditekankan atau ditonjolkan karena dianggap penting untuk diketahui khalayak dari seorang bakal Cagub DKI yaitu Marco Kusumawijaya.
Gambar 9
Grafis Marco Kusumawijaya
Saat Marco Kusumawijaya memberikan pernyataannya, seringkali ia menyebutkan kata “kami” yang mempunyai implikasi menumbuhkan solidaritas, aliansi, perhatian publik, serta mengurangi kritik oposisi kepada diri sendiri. Sehingga pada bagian ini terdapat elemen kata ganti (sintaksis) seperti pada kalimat “Tidak, sama
sekali tidak main-main karena kami sekarang sudah punya tim”, “Sebagian tentu kami rahasiakan”, “Tentu saja kami akan melakukan banyak sekali pertemuan-pertemuan. Karena kami merasa paling penting adalah bertemu dengan warga.”, serta pada kalimat “Tapi mulai dengan warga dulu. Sesudah itu kami bertemu (politisi).”
Najwa Shihab pun menanggapi pernyataan dari Marco
Kusumawijaya dengan “Tidak penting bertemu politisi? Lebih penting
warga” yang di dalamnya terkandung elemen praangpan (semantik)
yang berfungsi sebagai upaya untuk mendukung pendapat dengan memberikan premis yang dipercayai kebenarannya. Praanggapan hadir dengan pernyataan yang dipandang terpercaya sehingga tidak perlu dipertanyakan lagi yaitu pada kalimat “Lebih penting warga”. Elemen praanggapan (semantik) pun terdapat pada argumen Najwa Shihab
“Ini kalo warga lebih penting, jangan terlalu bilang seperti itu, siapa tahu nanti malah akan didukung partai politik” yang kenyataannya
belum terjadi bahwa Marco telah didukung partai politik.
Cuplikan Adhyaksa Dault didukung oleh para tokoh
Gambar 10
Adhyaksa Dault Didukung Para Tokoh
Sebelum mewawancarai Adhyaksa Dault, Najwa Shihab meminta pemirsa melihat cuplikan Adhyaksa Dault yang didukung oleh sejumlah tokoh. Cuplikan video ini mengandung elemen grafis
(retoris) yang berfungsi untuk mendukung arti penting dari suatu pesan bahwa Adhyaksa Dault siap maju sebagai bakal calon Gubernur DKI Jakarta karena telah didukung oleh sejumlah tokoh.
Tabel 7
Kerangka Analisis Data Segmen 1 Struktur
Wacana Elemen Temuan
Super struktur (skematik)
Skema / Alur a. Opening statement oleh Najwa Shihab
b. Video footage Bakal Calon Gubernur DKI Jakarta
c. Video Pernyataan Basuki Tjahaja Purnama
d. Grafis Basuki Tjahaja Purnama dan Para Penantang Ahok
e. Opening show oleh Najwa Shihab f. Wawancara dengan Marco
Kusumawijaya terkait
pengumuman di Facebooknya untuk maju sebagai bakal Cagub DKI Jakarta
g. Cuplikan Adhyaksa Dault yang didukung oleh para tokoh
h. Wawancara dengan Adhyaksa Dault via telepon terkait dukungan sejumlah tokoh yang mendaulatnya untuk maju
Struktur mikro (semantik)
Latar Latar suasana panasnya perebutan kursi DKI 1, 17 bulan menjelang pemilihan gubernur
Maksud Pada kalimat Basuki Tjahaja Purnama “Kalau ada yang lebih
baik dari saya, warga Jakarta jangan pilih saya. Kalau ada yang lebih terbukti, rekam jejaknya gitu ya, bukan Cuma janji omong kosong “akan...akan...” gitu ya. Lebih jujur, lebih mau berkorban, mau kerja keras dari saya, ya saya menghimbau jangan pilih saya”
memiliki maksud implisit bahwa
jangan pilih yang lain kalau tidak sebaik dirinya
Praanggapan Opening statement Najwa Shihab
yang berbunyi “Siapapun yang
jadi gubernur nanti, dia akan disoroti dari seluruh penjuru negeri” saat itu kenyataannya
belum terjadi
Pernyataan Basuki Tjahaja Purnama “Kalau ada yang lebih
baik dari saya, warga Jakarta jangan pilih saya. Kalau ada yang lebih terbukti, rekam jejaknya gitu ya, bukan Cuma janji omong kosong “akan...akan...” gitu ya. Lebih jujur, lebih mau berkorban, mau kerja keras dari saya, ya saya menghimbau jangan pilih saya”
meskipun belum terjadi, namun dijadikan dasar untuk mendukung gagasan tertentu
Pada kalimat “Tidak penting
bertemu politisi? Lebih penting warga” Kata “lebih penting
warga” dipandang sebagai pernyataan yang dipandang terpercaya dan tidak perlu dipertanyakan
Argumen Najwa Shihab “Ini kalo
warga lebih penting, jangan terlalu bilang seperti itu, siapa tahu nanti malah akan didukung partai politik” yang kenyataannya
belum terjadi bahwa Marco telah didukung partai politik
Struktur mikro (sintaksis)
Bentuk kalimat Kalimat aktif terdapat pada kalimat
“Penantang Ahok telah
mendeklarasikan diri” sehingga
menonjolkan subjek penantang
Ahok di awal kalimat
Kalimat “Siapapun yang jadi
gubernur nanti, dia akan disoroti dari seluruh penjuru negeri”
B (akan disoroti seluruh penjuru
negeri), ataukah B (seluruh penjuru negeri akan menyoroti)
yang menjelaskan A (gubernur
nanti)
Kata ganti Kata ganti “kami” pada kalimat
“Tidak, sama sekali tidak main-main karena kami sekarang sudah punya tim”, “Sebagian tentu kami rahasiakan”, “Tentu saja kami akan melakukan banyak sekali pertemuan-pertemuan. Karena kami merasa paling penting adalah bertemu dengan warga.”,
serta pada kalimat “Tapi mulai
dengan warga dulu. Sesudah itu kami bertemu (politisi).”
Struktur mikro (stilistik)
Leksikon /
Pemilihan kata Kata “penantang Ahok” pada kalimat “Penantang Ahok telah
mendeklarasikan diri.”
Struktur mikro (retoris)
Metafora Kiasan pada opening statement “Butuh kemampuan dan rekam
jejak yang beringas” dan
“Pemilihnya warga kota yang berisik”
Kiasan pada pernyataan Najwa
“Pemirsa, Jakarta selalu punya cerita. Dari problematika tata kota, hingga pertarungan berebut kuasa. Meski masih 2015, kursi DKI 1 sudah semakin panas.”
Ekspresi Najwa mengucapkan “Para Penantang Ahok” dengan ekspresi
dan intonasi tertentu
Grafis Penutup opening statement grafis Para Penantang Ahok ditayangkan di mejanya.
Video footage bakal calon
Gubernur DKI Jakarta yang ditampilkan secara bergantian
Video pernyataan Basuki Tjahaja Purnama mengenai himbauan untuk tidak memilihnya jika ada yang lebih baik darinya
Gambar Basuki Tjahaja Purnama paling besar di antara para penantangnya menimbulkan citra Basuki Tjahaja Purnama sebagai sosok yang hebat dibandingkan para penantangnya, diperkuat dengan warna merah pada nama “Ahok” yang menimbulkan kesan bahwa Basuki Tjahaja Purnama adalah sosok yang pemberani
Grafis biodata singkat Marco Kusumawijaya saat diwawancarai Najwa Shihab
Cuplikan Adhyaksa Dault yang didukung oleh sejumlah tokoh
Super Struktur (Skematik) Skematik atau struktur segmen 2:
a. Wawancara dengan Prasetyo Edi Marsudi (Ketua DPRD DKI Jakarta) terkait keputusan PDI-P menentukan Bakal Calon Gubernur DKI Jakarta
b. Wawancara dengan Muhammad Sanusi (Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi Gerindra) terkait sikap Gerindra dalam menentukan Bakal Calon Gubernur DKI Jakarta dan kesiapannya apabila ditunjuk Gerindra maju sebagai Bakal Calon Gubernur DKI Jakarta
c. Wawancara dengan Adhyaksa Dault via telepon terkait kesiapan dan keyakinannya untuk melawan Basuki Tjahaja Purnama di Pilkada DKI 2017
Struktur Mikro
Wawancara dengan Prasetyo Edi Marsudi
Saat menjawab pertanyaan Najwa Shihab mengenai apakah PDI-P
akan mendukung Basuki Tjahaja Purnama atau tidak, ia menjawab bahwa “PDI-Perjuangan ini semuanya ada di tangan ketua umum” yang mengandung elemen leksikon/pemilihan kata (stilitik) pada kata “tangan ketua umum” yang menunjukkan sikap dan ideologi tertentu, bahwa mekanisme PDI-P semua keputusan diambil
berdasarkan keinginan ketua umum PDI-P yaitu Megawati Soekarnoputri.
Tanggapan Najwa Shihab atas pernyataan Prasetyo Edi mengandung unsur praanggapan (semantik) ditandai dengan kata “kalo” yang terdapat pada kalimat “Semua tergantung ibu ketua
umum? Ini kalo partai modern, seharusnya bukan tergantung satu orang lho”. Disini Najwa Shihab memberikan pernyataan yang
digunakan untuk mendukung suatu pendapat bahwa suatu partai yang modern harusnya tidak bergantung pada keputusan satu orang saja, namun semua pihak di dalamnya.
Terdapat elemen ekspresi (retoris) saat Najwa Shihab menanyakan “Tapi yang soal mendukung atau menantang yang
mana? Kalau soal itu saja, itu juga terserah bu ketua?” dengan
intonasi yang mengindikasikan keheranan bahwa partai seperti PDI-P segala keputusan diambil berdasarkan ibu ketua. Selain itu juga terdapat elemen maksud (semantik) bahwa Najwa Shihab berpandangan secara implisit bahwa baginya PDI-P adalah partai yang tidak menunjukkan sikap demokrasi. Hal serupa pun tercermin pada pertanyaannya yang berbunyi “Jadi akan menunggu? Menunggu ibu
ketua umum?”.
Pada pernyataan Najwa Shihab “Politisi harusnya mau ketua DPRD naik pangkat harusnya jadi gubernur dong” mengandung
elemen praanggapan (semantik) yang berupaya untuk mendukung makna suatu teks. Pada kalimat ini menganduk makna bahwa memungkinkan saja seorang ketua DPRD untuk naik jabatan menjadi seorang gubernur.
Wawancara dengan Muhammad Sanusi
Saat mewawancarai Muhammad Sanusi, Najwa Shihab beberapa kali menyerangnya dengan beberapa pertanyaan. Namun, saat Muhammad Sanusi menyatakan “Itulah kelebihan Gerindra.
Walaupun...” Najwa Shihab memotongnya dengan pertanyaan “Apa? Plin-plan kelebihannya?” dengan nada yang cenderung melecehkan
dan menyerang sehingga pada kalimat Najwa Shihab tersebut terkandung elemen ekspresi (retoris) yang menimbulkan makna ideologis komunikatornya yang menunjukkan sikap tidak menyetujui pernyataan Muhammad Sanusi sebelumnya mengenai kelebihan Gerindra.
Selanjutnya terdapat elemen pengingkaran (retoris) pada pernyataan Muhammad Sanusi yang berbunyi “komunikasinya tetap
baik, tapi bukan berarti kita harus dukung”. Pada kalimat ini
merupakan bentuk praktik wacana komunikator yang tidak secara tegas menyampaikan pendapatnya kepada khalayak. Pada kalimat tersebut mengandung makna bahwa meski komunikasi antara pihak Gerindra dan Basuki Tjahaja Purnama masih terjalin, bukan berarti
mereka mendukung Basuki Tjahaja Purnama maju di Pilkada DKI Jakarta.
Pada pernyataan Muhammad Sanusi selanjutnya terdapat elemen leksikon (stilistik) yang berbunyi “Yaa kalo kemudian kita harus
dukung, saya yakin konstituen Gerindra akan teriak juga”. Pemilihan
kata “teriak” pada kalimat tersebut menunjukkan ketidaksetujuan dari konstituen Gerindra apabila Gerindra mendukung Basuki Tjahaja Purnama. Kata “akan” pada kalimat tersebut juga mengindikasikan elemen praanggapan (semantik) karena kenyataannya belum terjadi, hanya didasarkan pada anggapan tertentu.
Selanjutnya Najwa Shihab menanyakan apakah Muhammad Sanusi siap maju dan berani maju sebagai bakal calon Gubernur DKI Jakarta disandingkan dengan Basuki Tjahaja Purnama. Muhammad Sanusi menyatakan pasti menang melawan Basuki Tjahaja Purnama. Kemudian Najwa Shihab menanggapi dengan cepat dan dengan nada yang agak menantang dan merendahkan “Pasti menang? Hahahah
pasti menang ya?” ditambah pengulangan kata “pasti menang” yang
menunjukkan sikap tidak yakin bahwa Muhammad Sanusi jika terpilih sebagai bakal calon Gubernur DKI akan menang melawan Basuki Tjahaja Purnama. Sehingga teridentifikasi elemen ekspresi (retoris) pada bagian ini. Hal serupa juga teridentifikasi pada pernyataan Najwa Shihab selanjutnya “Kok Anda bisa PD banget menang lawan Ahok?”
seolah mempertanyakan keyakinan Muhammad Sanusi yang ia ragukan.
Pada kalimat Najwa Shihab yang berbunyi “Jadi itu faktor
mengapa kemudian Anda merasa bisa lebih mampu memimpin Jakarta dibanding Ahok?” terkandung elemen koherensi kondisional
(sintaksis) karena terdapat konjungsi (kata penghubung) “mengapa” dilanjutkan kalimat kedua “kemudian Anda merasa bisa lebih mampu
memimpin Jakarta dibanding Ahok?” sebagai penjelas yang menjadi
cermin kepentingan komunikator karena ia dapat memberi keterangan yang baik atau buruk terhadap suatu pernyataan. Pada hal ini peneliti menemukan Najwa Shihab menyangsikan atau underestimate terhadap Muhammad Sanusi yang dianggapnya tidak akan mampu memimpin Jakarta seperti Basuki Tjahaja Purnama.
Wawancara dengan Adhyaksa Dault
Saat Najwa Shihab mempertanyakan pernyataan Adhyaksa Dault
yang mengapresiasi kerja Basuki Tjahaja Purnama beberapa waktu di kantor Ibukota, lantas ia menjawab “Ngga... Saya tidak memuji, tidak
juga basa-basi. Yang kita liat aja, kalo yang baik kita bilang baik. Saya lagi darah rendah, jadi semangat ni kalo Mba Nana ngomong ya. Kalau baik kita bilang baik ya. Yang baiknya, e-budgeting, saya telah katakan. Yang baiknya, ada LRT, ada ini. Yang baiknya. Yang kurang baiknya kan, ada juga. Jadi yang baik-baik kita katakan baik,
kalau tidak, tidak. Begini lho, untuk mendapatkan kekuasaan tidak harus menjelek-jelekkan orang. Kalau saya, saya sebenarnya juga sama sekali pada awalnya saya. Tapi karena awalnya ini saya look before you leap, liat sebelum melompat. Saya ukur diri saya, saya tanya keluarga, saya tanya semua, dan dukungan dari para tokoh-tokoh ini luar biasa. Mereka patungan mba, patungan mereka terus terang. Tanyain nih, ada Kyai Wahyudin 10 juta, 20 juta kalo ga salah. Tiap bulan, tiapa bulan.. mereka sudah mengumpulkan KTP kalau sudah begini ..”. Pada pernyataannya yang panjang lebar
tersebut teridentfikasi elemen detil (semantik). Menunjukkan detil yang lengkap dan panjang lebar merupakan penonjolan yang dilakukan secara sengaja untuk menciptakan citra tertentu kepada khalayak.
Hal terserbut merupakan strategi Adhyaksa Dault untuk mengekspresikan sikapnya yang meskipun detil namun termuat maksud implisit, yaitu seolah mengatakan bahwa Basuki Tjahaja Purnama itu baik, tapi yang tidak baiknya ada juga. Sehingga bisa saja Anda pilih saya yang sudah mengukur diri saya sedemikian rupa, apalagi didukung keluarga dan massa yang bela-belain mendukung saya dengan mengeluarkan uang, artinya saya patut bersanding dengan Basuki Tjahaja Purnama di Pilkada DKI Jakarta. Ia ingin menimbulkan citra positif atas dirinya terutama pada kalimat ”Jadi
mendapatkan kekuasaan tidak harus menjelek-jelekkan orang ....Tapi karena awalnya ini saya look before you leap, liat sebelum melompat. Saya ukur diri saya, saya tanya keluarga, saya tanya semua, dan dukungan dari para tokoh-tokoh ini luar biasa.”
Selanjutnya, Najwa Shihab memberikan tanggapan “Bang
Adhyaksa, tadi Anda bilang harus mengukur, mematut-matutkan diri, jadi dari ukuran-ukuran Anda memang lebih bisa melaksanakan tugas lebih baik dari Ahok?” atas pernyataan Adhyaksa Dault yang merasa
siap maju melawan Basuki Tjahaja Purnama. Terdapat elemen maksud (semantik) implisit pada kalimat tersebut yang diartikan peneliti bahwa Anda bisa melaksanakan tugas lebih baik dari Basuki Tjahaja Purnama itu menurut ukuran-ukuran Anda saja.
Gambar 11 Grafis Adhyaksa Dault
Saat Najwa Shihab mewawancarai Adhyaksa Dault via telepon terkait keikutsertaannya menjadi salah satu bakal calon gubernur DKI
mendatang, muncul grafis biodata singkat Adhyaksa Dault. Elemen grafis (retoris) tersebut berfungsi sebagai bagian yang ingin ditekankan atau ditonjolkan karena dianggap penting untuk diketahui khalayak dari seorang bakal calon gubernur DKI yaitu Adhyaksa Dault.
Saat wawancara, bagaimana pilihan kata yang dipakai seseorang menunjukan sikap dan ideologi tertentu. Misalnya kalimat “Jadi
jawabannya ya, Adhyaksa Dault merasa lebih baik dari Ahok?” yang
diutarakan kembali oleh Najwa Shihab untuk menanyai Adhyaksa Dault apakah benar-benar lebih baik dari Basuki Tjahaja Purnama. Pilihan kata / leksikon (stilitik) “merasa lebih baik” yang digunakan pada kalimat tersebut menunjukkan sikap ketidakyakinan Najwa Shihab atas Adhyaksa Dault yang merasa lebih baik dari Basuki Tjahaja Purnama karena sampai dua kali menanyakannya.
Pada kalimat Najwa Shihab “jangan-jangan, jangan-jangan
maksutnya berarti call tinggi dulu nih jadi gubernur, tapi sebenernya maksutnya mau aja deh jadi wagubnya Ahok. Call tinggi dulu tapi sebetulnya mau jadi wakil?” terdapat elemen praanggapan
(semantik) yang ditandai dengan pernyataan “jangan-jangan maksutnya”. Serta elemen pengingkaran (retoris) yang ditandai dengan kata “tapi” yang menandai strategi wacana komunikator atau media yang secara tidak tegas dan eksplisit menyampaikan pendapatnya kepada khalayak bahwa ia berpendapat Adhyaksa Dault
mengumumkan mau menjadi gubernur tapi seandainya ditawari jadi wakil gubernur Basuki Tjahaja Purnama pun ia mau-mau saja.
Kemudian, Najwa Shihab mempertanyakan pernyataan Adhyaksa Dault yang dilontarkan oleh Basuki Tjahaja Purnama pada 29 September 2015 setelah pertemuan dengannya. Pada rekaman pernyataan tersebut Basuki Tjahaja Purnama mengatakan “Beliau
(Adhyaksa Dault) sih nyeletuk, ini ngomong berdua. Kalo bapak Islam mah, bapak udah jadi presiden, kita dukung katanya. Tapi sayangnya apa? Sayang Bapak bukan islam, makanya temen-temen nyuruh saya nyalon, dia bilang gitu lho. Jadi persoalan teman-temannya itu apa? Bapak bagus, Ahok ini bagus, cuma bukan Islam. Kalo gitu kan artinya apa? Dia mau nyalon, ga bisa nerima bukan Islam yang nyalon DKI Jakarta. Itu sesuatu yang.. oke aja bagi saya sih.”.
Gambar 12
Pada elemen grafis (retoris) ini bagian yang ingin ditonjolkan oleh media atau komunikator adalah bahwa Basuki Tjahaja Purnama merupakan sosok yang bagus untuk menjadi seorang pemimpin di Jakarta bahkan bisa jadi presiden di luar faktor ia seorang non muslim. Pada kata “cuma bukan Islam” terdapat elemen pengingkaran (retoris) yang merupakan strategi wacana komunikator atau media yang secara tidak tegas dan implisit menyatakan pendapatnya bahwa Basuki Tjahaja Purnama merupakan sosok yang tepat memimpin Jakarta di luar persoalan ia seorang non muslim.
Tabel 8
Kerangka Analisis Data Segmen 2 Struktur
Wacana Elemen Temuan
Super struktur (skematik)
Skema / Alur a. Wawancara dengan Prasetyo Edi Marsudi (Ketua DPRD DKI Jakarta) terkait keputusan PDI-P menentukan Bakal Calon Gubernur DKI Jakarta
b. Wawancara dengan Muhammad Sanusi (Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi Gerindra) terkait sikap Gerindra dalam menentukan Bakal Calon Gubernur DKI Jakarta dan kesiapannya apabila ditunjuk Gerindra maju sebagai Bakal Calon Gubernur DKI Jakarta c. Wawancara dengan Adhyaksa
Dault via telepon terkait kesiapan dan keyakinannya untuk melawan Basuki Tjahaja Purnama di Pilkada DKI 2017
Struktur mikro (semantik)
Detil Pernyataan Adhyaksa Dault yang lengkap dan panjang lebar merupakan penonjolan yang dilakukan secara sengaja untuk menciptakan citra tertentu kepada khalayak “Ngga... Saya tidak
memuji, tidak juga basa-basi, ... Jadi yang baik-baik kita katakan baik, kalau tidak, tidak. Begini lho, untuk mendapatkan kekuasaan tidak harus menjelek-jelekkan orang,... Tapi karena awalnya ini saya look before you leap, liat sebelum melompat. Saya ukur diri saya, saya tanya keluarga, saya tanya semua, dan dukungan dari para tokoh-tokoh ini luar biasa,...”
Maksud Najwa Shihab bertanya “Tapi yang
soal mendukung atau menantang yang mana? Kalau soal itu saja, itu juga terserah bu ketua?”
menunjukkan maksud implisit bahwa baginya PDI-P adalah partai yang tidak menunjukkan sikap demokrasi yang juga terdapat pada kalimat “Jadi akan menunggu?
Menunggu ibu ketua umum?” Tanggapan Najwa Shihab “Bang
Adhyaksa, tadi Anda bilang harus mengukur, mematut-matutkan diri, jadi dari ukuran-ukuran Anda memang lebih bisa melaksanakan tugas lebih baik dari Ahok?” atas
pernyataan Adhyaksa Dault yang merasa siap melawan Basuki Tjahaja Purnama.
Praanggapan Pernyataan Najwa Shihab “Semua
tergantung ibu ketua umum? Ini kalo partai modern, seharusnya bukan tergantung satu orang lho”
untuk mendukung suatu pendapat bahwa PDI-P bukanlah partai yang modern
Kata “akan” pada kalimat “Yaa
saya yakin konstituen Gerindra akan teriak juga” padahal
kenyataannya belum terjadi
Kata “jangan-jangan maksutnya” menandakan anggapan Najwa Shihab terhadap sesuatu “haha
jangan-jangan, jangan-jangan maksutnya berarti call tinggi dulu nih jadi gubernur, tapi sebenernya maksutnya mau aja deh jadi wagubnya Ahok. Call tinggi dulu tapi sebetulnya mau jadi wakil?”
Struktur mikro (stilistik)
Leksikon /
Pemilihan kata Kata “tangan ketua umum” pada kalimat “PDI-Perjuangan ini
semuanya ada di tangan ketua umum” yang diucapkan Prasetyo
Edi
Kata “teriak” pada kalimat “Yaa
kalo kemudian kita harus dukung, saya yakin konstituen Gerindra akan teriak juga”
Kata “merasa lebih baik” Pada
kalimat “Jadi jawabannya ya,
Adhyaksa Dault merasa lebih baik dari Ahok?”
Struktur mikro (retoris)
Pengingkaran Pernyataan Muhammad Sanusi yang berbunyi “komunikasinya
tetap baik, tapi bukan berarti kita harus dukung”.
Kata “tapi” pada tanggapan Najwa Shihab “jangan,
jangan-jangan maksutnya berarti call tinggi dulu nih jadi gubernur, tapi sebenernya maksutnya mau aja deh jadi wagubnya Ahok. Call tinggi dulu tapi sebetulnya mau jadi wakil?”
Grafis Grafis biodata singkat Adhyaksa Dault saat diwawancarai Najwa Shihab via telepon
Purnama pada 29 September 2015 terkait pertemuannya dengan Adhyaksa Dault mencitrakan pendapat tertentu atas dirinya
Ekspresi Najwa Shihab bertanya “Tapi yang
soal mendukung atau menantang yang mana? Kalau soal itu saja, itu juga terserah bu ketua?”
dengan intonasi keheranan yang menunjukkan ketidakpercayaan dan keheranan yang juga terdapat pada kalimat “Jadi akan menunggu? Menunggu ibu ketua umum?”.
Najwa Shihab memotong ucapan Muhammad Sanusi dengan pertanyaan “Apa? Plin-plan kelebihannya?” dengan nada yang
cenderung melecehkan dan menyerang
Najwa Shihab bertanya pada Muhammad Sanusi dengan nada yang agak menantang dan merendahkan “Pasti menang?
Hahahah pasti menang ya?”
serupa dengan kalimat “Kok Anda
bisa PD banget menang lawan Ahok?” seolah mempertanyakan
keyakinan Muhammad Sanusi yang ia ragukan
3. Analisis Teks Segmen 3 Super Struktur (Skematik) Skematik atau struktur segmen 3 :
b. Wawancara dengan Adhyaksa Dault seputar niatnya maju karena Basuki Tjahaja Purnama non-muslim
c. Wawancara dengan Marko Kusumawijaya mengenai keunggulannya
d. Prediksi Yunarto Wijaya (Pengamat politik / Direktur Charta Politica) terkait Pilkada DKI Jakarta 2017
e. Wawancara dengan Prasetyo Edi terkait sosok yang pantas diusung oleh PDI-P pada Pilkada DKI Jakarta 2017
Struktur Mikro
Video Pernyataan Para Penantang Ahok
Gambar 13 Sandiaga Uno
Antusiasme dari temen-temen yang udah menyatakan, saya selalu bilang sabar, ini prematur.
Gambar 14 Ridwan Kamil
Seperti yang saya bilang, saya fokus di Bandung dulu, belum punya pikiran mau pindah kemana-mana. Eee termasuk ke Jakarta, belum saya pikirkan. Tapi kalo ada yang mengapresiasi ya Alhamdulillah.
Gambar 15 Tantowi Yahya
Yang bisa saya katakan sekarang, saya merasa dihargai, saya merasa tersanjung, dan juga merasa tertantang.
Pada elemen grafis (retoris) pernyataan dari Sandiaga Uno,
Ridwan Kamil, dan Tantowi Yahya ditayangkan dan ditonjolkan di awal segmen karena pernyataan mereka dianggap penting terkait isu mereka digadang-gadang akan maju pada Pilkada DKI Jakarta 2017.
Wawancara dengan Adhyaksa Dault
Melanjutkan pertanyaan Najwa Shihab terkait cuplikan pernyataan Basuki Tjahaja Purnama di segmen sebelumnya bahwa Adhyaksa Dault akan mendukungnya seandainya ia muslim, Najwa Shihab pada segmen ketiga ini menanyakan pertanyaan serupa hingga tiga kali secara berurutan di waktu berdekatan yang terdapat pada kalimat (1)
“Apakah niat Anda maju didasarkan pada argumentasi yang sama, gubernur DKI harus muslim?”, (2) “Bang Adhyaksa, pertanyaannya kan simple, apakah berarti itu juga Anda sependapat yang menjadi gubernur di DKI adalah yang Islam?”, dan (3) “Makanya kemudian Anda didukung oleh Partai Pribumi, itu juga sebagai salah satu bentuk Anda maunya yang pribumi dan Islam? Karena Anda didukung partai pribumi nih”. Ketiga pertanyaan tersebut
mencerminkan maksud (sintaksis) bagaimana secara implisit dan tersembunyi praktik bahasa tertentu digunakan komunikator untuk menekankan maksud tertentu, yaitu Adhyaksa Dault maju karena Basuki Tjahaja Purnama non Muslim dan bukan berasal dari etnis asli pribumi.
Pernyataan Adhyaksa Dault terkait pertemuannya dengan Basuki Tjahaja Purnama yang menyatakan “Kalo Anda masuk Islam, udah
Anda jadi gubernur lagi udah lancar”. Kata “kalo” pada argumen
Adhyaksa Dault menunjukkan elemen praanggapan (semantik) yang meskipun kenyataannya tidak terjadi, hal tersebut disampaikan untuk mendukung gagasan bahwa seandainya Basuki Tjahaja Purnama seorang Muslim maka jalannya untuk terpilih sebagai Gubernur akan lebih mudah.
Wawancara dengan Marko Kusumawijaya
Pernyataan Marco Kusumawijaya yang panjang lebar menyatakan
“Keunggulan saya, ada pada platform-platform yang saya usulkan. Saya pikir, dibandingkan semua calon saya yang paling berpengalaman dalam bidang lingkungan, paling banyak bekerja dengan komunitas, dan bekerja dengan seni budaya. Saya adalah,... Jadi issuenya bukan pengalaman, tapi pengalaman dalam hal apa.,...”. Detil yang lengkap dan panjang lebar merupakan penonjolan
yang dilakukan secara sengaja untuk menciptakan citra tertentu kepada khalayak, yaitu bahwa Marco Kusumawijaya adalah orang yang berpengalaman di bidangnya.
Prediksi Yunarto Wijaya terkait Pilkada DKI Jakarta 2017
Berikut potongan prediksi Yunarto Wijaya (Pengamat
“Ya, ada beberapa variabel yang menentukan peluang orang secara elektoral terutama dalam pilkada selevel DKI. Yang pertama itu popularitas itu modal waji,... Kedua kompetensi, kita bicara ada dua faktor di kompetensi. Ada janji yang indah, atau track record yang indah,... Yang ketiga, kita bicara soal faktor primordial. Suka atau tidak suka secara sosiologis ada faktor tersebut negara kita. Yang keempat itu kita berbicara ada marketing gimmick, atau packaging,... Kalo Bung Marco itu saya rasa mempunyai masalah di popularitas. Walaupun di kompetensi mungkin ada beberapa hal yang bisa ditonjolkan begitu ya. Seperti Sanusi juga ya, mungkin popularitas,...” “Adhyaksa Dault,...apakah menpora yang adalah seorang spesialis itu bisa kemudian langsung melompat menjadi seorang generalis, sebgaai eksekutor atau eksekutif?,...”
“Jadi kalau kita lihat dari berbagai sudut pandang tadi, beberapa variabel tadi, saya harus mengatakan dari beberapa nama yang ada disini dengan segala hormat, detik ini apabila survey dilakukan dan apabila pilkada dilakukan hari ini, saya pikir Ahok masi menjadi pemenang. Sebetulnya ada dua nama, yang sudah memenuhi beberapa variabel tadi yaitu, Mba Risma dengan Ridwan Kamil.,...”
Pada potongan prediksi di atas mengandung elemen maksud (semantik) yang melihat informasi yang menguntungkan komunikator atau pihak tertentu akan diuraikan secara lengkap, eksplisit, dan jelas.
Pernyataan di atas sebenarnya menguntungkan Basuki Tjahaja Purnama karena jika dibandingkan dengan sejumlah kandidat selain Risma (Walikota Surabaya) dan Ridwan Kamil (walikota Bandung), ia dianggap yang paling memiliki keempat variabel elektabilitas Pilkada DKI yaitu popularitas, kompetensi, faktor primordial, serta
marketing gimmick atau packaging yang mumpuni.
“...sebagai pengamat politik, saya katakan melihat konstilasi politik di Jawa Timur 2018 dan juga di Jawa Barat, kedua-duanya sepertinya tidak akan maju”.
Berdasarkan prediksi tersebut saat itu, secara disadari atau tidak,
menguntungkan Basuki Tjahaja Purnama karena membuat orang berpikir bahwa Risma dan Ridwan kamil tidak akan maju dalam Pilgub DKI 2017, sehingga menimbulkan pandangan pada saat itu Basuki Tjahaja Purnama satu-satunya sosok yang diperhitungkan untuk maju pada Pilgub DKI 2017.
Wawancara dengan Prasetyo Edi
Pada pernyataan Prasetyo Edi terkait sosok yang akan diusung PDI-P pada Pilgub DKI 2017 “Pemimpin di Jakarta ini perlu
keberanian. Tapi juga perlu etika. Ada ya mungkin ya bahasa-bahasa saya kita perlu orang seperti Ahok, tapi kita tidak butuh mulut seperti Ahok” mengandung elemen pengingkaran (retoris) yang merupakan
menyampaikan pendapat dan gagasannya kepada khalayak karena penggunaan kata “tapi” pada kalimat tersebut. Padahal pesan yang ia ingin sampaikan adalah sebenarnya Basuki Tjahaja Purnama merupakan sosok yang dibutuhkan Jakarta, namun bermasalah pada etika dan gaya komunikasinya.
Saat Najwa Shihab menanyakan siapa sosok yang akan diusung PDI-P, Prasetyo Edi menjelaskan bahwa di PDI-P ada sebuah hierarki yang harus dilalui untuk memilih sosok yang pas untuk dipilih partai, kemudian dipotong oleh Najwa Shihab dengan kalimat “Terserah ibu
ketua umum?”. Terdapat elemen maksud (semantik) di dalam
kalimat tersebut yang artinya secara implisit Najwa Shihab lagi-lagi menganggap bahwa PDI-P partai yang tidak mengusung demokrasi karena semua keputusan selalu berdasarkan Ibu Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri.
Tabel 9
Kerangka Analisis Data Segmen 3 Struktur
Wacana Elemen Temuan
Super struktur (skematik)
Skema / Alur a. Video pernyataan Para Penantang Ahok
b. Wawancara dengan Adhyaksa Dault seputar niatnya maju karena Basuki Tjahaja Purnama non-muslim
c. Wawancara dengan Marko
Kusumawijaya terkait
keunggulannya
(Pengamat politik/Direktur Charta Politica) terkait Pilkada DKI Jakarta 2017
e. Wawancara dengan Prasetyo Edi terkait sosok yang diusung oleh PDI-P pada Pilkada DKI Jakarta 2017
Struktur mikro (semantik)
Detil Marco Kusumawijaya menjelaskan secara panjang lebar “Keunggulan
saya, ada pada platform-platform yang saya usulkan. Saya pikir, dibandingkan semua calon saya yang paling berpengalaman dalam bidang lingkungan, paling banyak bekerja dengan komunitas, dan bekerja dengan seni budaya. Saya adalah,...” untuk menciptakan
citra tertentu kepada khalayak Praanggapan Kata “kalo” pada argumen
Adhyaksa Dault “Kalo Anda
masuk Islam, udah Anda jadi gubernur lagi udah lancar”
menunjukkan adanya pengandaian Maksud Najwa Shihab menanyakan tiga
pertanyaan serupa secara berurutan dan dalam waktu berdekatan karena memiliki maksud tertentu. (1) “Apakah niat Anda maju
didasarkan pada argumentasi yang sama, gubernur DKI harus muslim?”, (2) “Bang Adhyaksa, pertanyaannya kan simple, apakah berarti itu juga Anda sependapat yang menjadi gubernur di DKI adalah yang Islam?”, dan (3)
“Makanya kemudian Anda
didukung oleh Partai Pribumi, itu juga sebagai salah satu bentuk Anda maunya yang pribumi dan Islam? Karena Anda didukung partai pribumi nih”.
Prediksi Yunarto Wijaya yang panjang lebar terkait Pilkada DKI 2017, disadari atau tidak menguntungkan Ahok karena
menimbulkan pandangan pada saat itu Ahok satu-satunya sosok yang diperhitungkan untuk maju pada Pilgub DKI 2017.
Pada kalimat “Terserah ibu ketua
umum?” lagi-lagi Najwa Shihab
mempertanyakan sikap PDI-P sebagai partai yang seolah-olah tidak mengusung demokrasi karena berdasarkan keputusan satu orang
Struktur mikro (retoris)
Grafis Video pernyataan Sandiaga Uno, Ridwan Kamil, dan Tantowi Yahya terkait Pilkada DKI Jakarta 2017
4. Analisis Teks Segmen 4 Super Struktur (Skematik) Skematik atau struktur segmen 4 :
a. Video pendapat masyarakat mengenai sosok pemimpin idaman Jakarta
b. Wawancara dengan Muhammad Sanusi terkait sosok yang akan diusung Gerindra
c. Wawancara dengan Prasetyo Edi terkait sosok Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur Jakarta
d. Wawancara dengan Marco Kusumawijaya terkait sosok Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur Jakarta
e. Video tanggapan Basuki Tjahaja Purnama terhadap nama-nama penantangnya
Struktur Mikro
Video pendapat masyarakat
Gambar 16 Masyarakat
Pada elemen grafis (retoris) berupa video ini enam orang masyarakat diminta untuk memberikan pendapatnya mengenai sosok pemimpin yang mereka inginkan di Jakarta. Bentuk elemen seperti ini dapat menimbulkan secara tidak langsung makna ideologi dari komunikator. Dari segi media, pendapat masyarakat ini merupakan bagian untuk memeriksa apa yang ingin ditekankan atau ditonjolkan
karena dianggap penting. Secara eksplisit, terdapat maksud (semantik) di dalamnya yaitu bahwa masyarakat mengidamkan sosok pemimpin yang berkharisma, tegas, jujur, mengerti kebutuhan rakyat, mementingkan rakyat, mau turun ke jalan, bahkan kalau bisa seiman.
Wawancara dengan Muhammad Sanusi
Terkait nama-nama yang sudah muncul untuk diusung Gerindra, Najwa Shihab menanyai Muhammad Sanusi terkait hal tersebut. Pada pernyataannya, terdapat maksud (semantik) implisit dan tersembunyi darinya yang menunjukkan kritik untuk Basuki Tjahaja Purnama, meskipun pada pernyataan selanjutnya ia tidak mengakuinya. Potongan pernyataannya tersebut berbunyi “...pemimpin tu jangan
cuma jadi tontonan tapi kasihlah tuntunan. Jakarta tuh butuh tuntunan yang lebih baik, bukan sekedar tontonan. Tegas boleh, tapi kata-katanya itu lho harus dijaga. Pemimpin tuh wajib tegas,...”. Pada
pernyataan tersebut maka yang menjadi perhatian adalah soal kata-kata Basuki Tjahaja Purnama yang seringkali dimunculkan di media saat ia menyatakan pernyataan bahkan kebijakan yang cenderung berani dan sensasional sehingga sebagian pihak merasa terganggu atas hal tersebut.
Meskipun secara implisit, ia mengakui Basuki Tjahaja Purnama adalah sosok yang tegas, namun kekurangannya adalah pada segi komunikasi atau etikanya seorang pemimpin.
Wawancara dengan Prasetyo Edi
Saat Prasetyo Edi sebagai ketua DPRD DKI Jakarta diminta Najwa
Shihab menyampaikan kritiknya terhadap Basuki Tjahaja Purnama yang seorang Gubernur DKI Jakarta ia menjelaskan secara detil mengenai hal tersebut. Elemen detil (semantik) memang dihubungkan dengan kontrol informasi yang ditampilkan seseorang. Detil yang lengkap dan panjang lebar merupakan penonjolan yang dilakukan untuk menciptakan citra tertentu kepada khalayak.
Secara lengkap, pernyataan Prasetyo Edi Ketua DPRD DKI Jakarta sebagai berikut “Jadi gini persoalannya ya, tekanan saya sebagai
ketua, ini banyak sekali dengan permasalahan-permasalahan komunikasi. Sebetulnya kan sebagai pemimpin di Jakarta, apalagi sebagai barometernya Indonesia, Jakarta ini harus yang arif dan bijaksana. Kalo marah, boleh lah marah ama anak buah. Sekarang contoh soal bagaimana penyerapan di DKI ini akan terserap? Kalo semua orang tiga bulan dipecat, ditakutin, dipecat, ditakutin, ngga akan selesai Jakarta. Tanggung jawabnya kan bukan dia saja, saya kan termasuk bertanggung jawab juga sebagai ketua DPRD. Nah inilah yang kadang-kadang saya suka mengkritisi sahabat saya, saudara Ahok, kadang-kadang suka bandel juga. Saya juga suka ngomong kepada beliau juga ya apa adanya. Bandel ini orang, bandel jadi gubernur”.
Pernyataan Prasetyo Edi terkait kritiknya kepada Ahok pada kalimat “...banyak sekali dengan permasalahan-permasalahan
komunikasi. Sebetulnya kan sebagai pemimpin di Jakarta, apalagi sebagai barometernya Indonesia, Jakarta ini harus yang arif dan bijaksana. Kalo marah, boleh lah marah ama anak buah,...”
menimbulkan citra pada khalayak bahwa Basuki Tjahaja Purnama adalah sosok yang bermasalah dengan etika dan cara berkomunikasi termasuk kepada anak buahnya.
Kemudian ia juga mengatakan “..,Kalo semua orang tiga bulan
dipecat, ditakutin, dipecat, ditakutin, ngga akan selesai Jakarta. Tanggung jawabnya kan bukan dia saja, saya kan termasuk bertanggung jawab juga sebagai ketua DPRD,...”. Pernyataan
tersebut menimbulkan citra positif baginya bahwa DKI Jakarta bukan hanya tanggung jawab Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur, tapi sebagai ketua DPRD DKI Jakarta ia juga memiliki andil dalam kemaslahatan hidup masyarakat Jakarta.
Pernyataan Prasetyo Edi yang mengatakan “...saudara Ahok,
kadang-kadang suka bandel juga. Saya juga suka ngomong kepada beliau juga ya apa adanya. Bandel ini orang, bandel jadi gubernur“.
Jika merujuk pada pernyataan sebelumnya maka leksikon/pilhan kata (stilitik) disini merujuk kepada bandel karena permasalahan komunikasi seorang Basuki Tjahaja Purnama.
“Ahok bandel jadi gubernur” ditanggapi Najwa Shihab dengan
“kalo ga bandel ntar keikut penjahat-penjahat” mengandung unsur
leksikon / pilihan kata (stilitik) yang terdapat pada kata “penjahat” yang merujuk pada orang-orang yang merugikan warga Jakarta. Sehingga untuk menangani orang-orang tersebut, gubernurnya harus lah orang yang “bandel” dalam hal ini berani dan tidak pandang bulu. Kalau tidak, ia termasuk bagian orang yang merugikan warga Jakarta juga. Pilihan kata “penjahat” dan “bandel” yang diucapkan oleh Najwa Shihab mencerminkan sikap atau ideologi tertentu. Bahwasanya sikap yang ditunukkan Ahok lah yang pas untuk Jakarta. Sehingga, kata “bandel” yang diucapkan oleh Najwa Shihab memiliki konteks yang berbeda dengan yang diucapkan oleh Prasetyo Edi. Prasetyo Edi selanjutnya menyatakan “Di era saya Mba Najwa, di
kepemimpinan saya, saya ingin terbuka dan transparan. Apa yang dikatakan oleh Pak Presiden dan Ahok, ayo transparan! Saya buat transparan, jadi jangan orang curiga akhirnya semua dipecat, distaffkan. Akhirnya ga bisa kerja. Disinilah saya menghimbau kepada saudara Ahok ya, kalau untuk kader-kader siapa yang kita punya kader banyak kok. Ada Pak Djarot, Bung Sadikin, Ganjar Pranowo, ada Risma, banyaak kita. Tapi siapa yang dipilih nanti. Pada saatnya akan keluar nama-nama tersebut”. Pernyataan ini
memiliki maksud (semantik) untuk mengkritisi Basuki Tjahaja Purnama yang seringkali mengucapkan “ayo transparan” namun
sikapnya malah curigaan menurut Prasetyo Edi. Sehingga secara implisit Prasetyo Edi ingin mengatakan bahwa Ahok harus hati-hati dengan sikapnya. Karena yang bagus bukan hanya dia. PDI-P masih memiliki banyak kader yang dapat diunggulkan untuk menjadi pemimpin Jakarta. Pernyataan tersebut juga mengindikasikan kritik kepada agar Ahok jangan merasa paling baik di antara kader-kader lainnya.
Wawancara dengan Marco Kusumawijaya
Wawancara dengan Marco Kusumawijaya yang memiliki pandangan tentang sosok pemimpin terkandung unsur maksud (semantik) implisit di dalamnya untuk mengkritik Basuki Tjahaja Purnama dengan kalimat “...saya pikir misal kita bicara retorika anti
korupsi, itu sudah dengan sendirinya. Tetapi persoalan yang nyata sekarang adalah menurut saya sistem pengadaan yang baik. Nah membangun sistem pengadaan yang baik itu yang merupakan pekerjaan yang lebih berat. Karena orang harus sabar, harus tekun, orang harus ngayomi, orang harus investasi di manusianya, bukan sekedar di alat elektronik itu, elektronik ini. Nah saya pikir itu tantangan-tantangan yang berikutnya. Juga membangun masyarakat tidak hanya cukup dengan hanya memindah-mindahkan masyarakat, tetapi juga dengan memberinya kesempatan masyarakat untuk menyumbangkan gagasan dan menyumbangkan kontribusinya”.
terhadap Basuki Tjahaja Purnama mengenai sistem pengadaan yang seharusnya diperdayakan adalah manusianya, bukan sekedar alat elektroniknya. Selain itu juga Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur DKI Jakarta harusnya lebih memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyumbangkan gagasan dan kontribusi mereka sehingga secara bersama-sama menjaga dan memajukan Jakarta agar tidak terkesan sebagai one man show.
Pada kalimat “...Kalau partai politik mau membeli platform kami,
kami senang sekali begitu. Membeli itu bukan membeli dalam pengertian uang ya,...” yang diucapkan oleh Marco Kusumawijaya,
terkandung elemen praanggapan (semantik) karena kenyataannya belum terjadi.
Video Basuki Tjahaja Purnama terhadap para penantangnya
Pada Bagian ini, Basuki Tjahaja Purnama diminta memberikan
tanggapan terhadap sejumlah nama yang digadang-gadang akan bersaing dengannya di pilkada DKI Jakarta 2017. Setiap sebelum Basuki Tjahaja Purnama memberikan tanggapan mengenai seorang nama calon, maka dimunculkan grafis (retoris) calon tersebut.
Gambar 17 Poster Adhyaksa Dault
Poster bergambarkan Adhyaksa Dault ini mengandung muatan politis bahwa “JAKARTA untuk SEMUA” dengan warna merah dan huruf kapital pada “JAKARTA” dan “SEMUA” memuat indikasi Adhyaksa Dault mensugesti atau mempengaruhi khalayak dengan wacana atau ideologis bahwa Jakarta terbuka untuk semua golongan, bukan golongan tertentu saja.
Selanjutnya, Basuki Tjahaja Purnama menanggapi dengan kalimat “...Pernah jadi Menpora, orang tinggal nilai aja, seperti apa,...” yang memiliki maksud (semantik) implisit bahwa untuk menilai seorang Adhyaksa Dault, lihatlah kinerjanya saat masih menjabat Menpora. Maka hal tersebut merujuk pada prestasi, rekam jejak, kebijakan, maupun hasil yang Adhyaksa Dault torehkan selama menjabat sebagai Menpora.
Gambar 18 Poster Sandi - Sani
Pada grafis (retoris) di atas tertulis pesan “Untuk Jakarta Setara” dan “SandiSani Untuk DKI Jakarta” dari Sandiaga Uno dan Triwisaksana (Sani) yang memiliki kritik implisit bagi gubernur yang ada. Hal ini mempengaruhi khalayak dengan wacana atau ideologis bersama SandiSani, Jakarta akan menjadi kota yang setara bagi semua. Pesan serupa seperti yang disampaikan oleh Adhyaksa Dault. Sandiaga Uno kemudian dikomentari Basuki Tjahaja Purnama secara singkat dengan kalimat “...Pak Sandiaga Uno pengalaman
bisnis, tokoh muda,...” mengandung maksud (semantik) yang dapat
diartikan bahwa sebagai tokoh muda, Sandiaga Uno memiliki pengalaman di bidang bisnis. Tidak dijelaskan lebih lanjut tentang kelebihan lainnya. Sehingga hal ini mengandung maksud implisit bahwa bagi Basuki Tjahaja Purnama, Sandiaga Uno hanyalah berpengalaman di bidang bisnis.
Sani juga tak luput dari komentar Basuki Tjahaja Purnama yang mengatakan “Ada Sani juga tokoh muda, udah lama di DPRD DKI,
dari partai yang pernah besar juga, PKS di DKI”. Pilihan kata /
leksikon “pernah besar” menunjukan sikap atau pandangan tertentu komunikator terhadap orang yang dikomentarinya. Bahwa Sani sebagai tokoh muda yang sudah lama di DPRD DKI Jakarta berasal dari PKS yang “pernah besar” di Jakarta. Pilhan kata “pernah besar” mengindikasi PKS sekarang tidak sebesar dulu.
Tanggapan Basuki Tjahaja Purnama mengenai Sani dilanjutkan dengan kalimat “...sebagian umat Islam yang tidak bisa menerima
orang yang tidak seaqidah, tidak bisa menerima non muslim memimpin, ada pilihan, ada calon PKS kan. Kan bagus, jadi semua ga ada yang golput” memiliki maksud (semantik) yang berarti
bahwa ketimbang golput, sebagian umat muslim yang tidak bisa menerima non muslim sebagai pemimpin, bisa memilih Sani.
Gambar 19 Berita Nachrowi Ramli
Gambar 20
Berita Marco Kusumawijaya
Selanjutnya secara berurutan, Basuki Tjahaja Purnama diminta mengomentari Nachrowi Ramli dan Marco Kusumawijaya yang juga digadang-gadang maju sebagai penantangnya. Pada gambar keduanya mengandung elemen grafis (retoris) dengan menonjolkan headline pemberitaan yang dicetak tebal disertai foto Nachrowi Ramli atau Marco Kusumawijaya menonjolkan bagian yang harus diperhatikan pemirsa.
Kemudian, Basuki Tjahaja Purnama mengomentari Nachrowi Ramli dengan kalimat “...Dia mewakili purnawirawan TNI, mewakili
orang betawi, mungkin ada orang betawi yang ga bisa nerima orang non betawi yang mimpin, nah Pak Nahrowi memberikan alternatif lagi” memiliki maksud (semantik) yang secara implisit mengatakan
bahwa Nachrowi Ramli dapat menjadi alternatif bagi purnawirawan TNI yang merasa terwakili olehnya dan bagi orang-orang betawi yang
tidak bisa menerima orang non betawi yang memimpin Jakarta, bukan karena hal lainnya.
Basuki Tjahaja Purnama kemudian mengomentari Marco Kusumawijaya dengan praanggapan (semantik) yang mengatakan bahwa Marco “...mungkin dia bisa lebih bagus dari Bapak Ridwan Kamil yang bisa tata kota kan. Saya kira Kota Jakarta perlu ahli tata kota yang menata. Dan bisa saja sekelompok orang yang di pinggir-pinggir sungai merasa digusur. Dengan ahli tata kota yang memegang, Jakarta akan lebih baik”. Meskipun kenyataannya belum
tentu begitu. Praanggapan ini ditandai dengan kata “mungkin”, “bisa saja”, dan “akan”.
Pada penutup komentarnya untuk Marco Kusumawijaya, ia juga menyelipkan tanggapannya mengenai sosok Walikota Surabaya Tri Rismaharini dengan kalimat “Bu Risma juga terbukti, Surabaya
bagus. Bu Risma maju juga orang Jakarta jadi punya lebih banyak pilihan lagi”. Tanggapan mengenai Risma yang juga memiliki rekam
jejak yang bagus sebagai walikota Surabaya diuraikan Basuki Tjahaja Purnama dengan detil yang singkat. Karena jika kelebihan Risma diuraikan secara jelas dan detil akan mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap dirinya yang mencalonkan kembali sebagai DKI 1 dan Risma diisukan juga sebagai salah satu sosok yang diperhitungkan untuk maju menyaingi dirinya. Elemen detil (sematik)
merupakan strategi komunikator atau pembuat teks untuk mengekspresikan sikapnya dengan cara yang implisit.
Tabel 10
Kerangka Analisis Data Segmen 4 Struktur
Wacana Elemen Temuan
Super struktur (skematik)
Skema / Alur a. Video pendapat masyarakat mengenai sosok pemimpin idaman Jakarta
b. Wawancara dengan Muhammad Sanusi terkait sosok yang akan diusung Gerindra
c. Wawancara dengan Prasetyo Edi terkait sosok Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur Jakarta d. Wawancara dengan Marco
Kusumawijaya terkait sosok Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur Jakarta
e. Video tanggapan Basuki Tjahaja Purnama terhadap para penantangnya
Struktur mikro (semantik)
Maksud Pada video pendapat masyarakat mengenai sosok pemimpin idaman Jakarta, secara jelas dan eksplisit mereka menyampaikan sejumlah kriteria pemimpin idaman mereka. Secara implisit, pada video
pendapat masyarakat mengenai sosok pemimpin idaman Jakarta, media menayangkan statement masyarakat yang seringkali dilekatkan pada sosok Basuki Tjahaja Purnama termasuk soal isu SARA
Pernyataan “...Jakarta tuh butuh
tuntunan yang lebih baik, bukan sekedar tontonan. Tegas boleh, tapi kata-katanya itu lho harus dijaga. Pemimpin tuh wajib
tegas,...” oleh Muhammad Sanusi
secara implisit dan tersembunyi ditujukan kepada Basuki Tjahaja Purnama
Pernyataan Prasetyo Edi “...jadi
jangan orang curiga akhirnya semua dipecat, distaffkan. Akhirnya ga bisa kerja. Disinilah saya menghimbau kepada saudara Ahok ya, kalau untuk kader-kader siapa yang kita punya kader banyak kok. Ada Pak Djarot, Bung Sadikin, Ganjar Pranowo, ada Risma, banyaak kita,...”
mengindikasikan kritiknya kepada Basuki Tjahaja Purnama jangan merasa paling baik di antara kader-kader lainnya
Secara implisit, Marco Kusumawijaya mengkritisi Basuki Tjahaja Purnama mengenai sistem pengadaan dan soal memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk turut berkontribusi memajukan Jakarta
Basuki Tjahaja Purnama mengomentari seorang Adhyaksa Dault dengan kalimat “...Pernah
jadi Menpora, orang tinggal nilai aja, seperti apa,...”
Basuki Tjahaja Purnama mengomentari Nachrowi Ramli dengan kalimat “...Dia mewakili
purnawirawan TNI, mewakili orang betawi, mungkin ada orang betawi yang ga bisa nerima orang non betawi yang mimpin, nah Pak Nahrowi memberikan alternatif lagi”
Praanggapan Pada kalimat “...Kalau partai
politik mau membeli platform kami, kami senang sekali begitu. Membeli itu bukan membeli dalam pengertian uang ya,...” yang
diucapkan oleh Marco Kusumawijaya