Saya ini belum diberi kesempatan Ketua.
Terima kasih Pak Ketua yang saya hormati.
Ibu Menteri yang saya hormati dan Rekan-rekan sekalian.
Apa yang diusulkan oleh Fraksi PDIP, saya menyambut baik bahwasannya persoalan-persoalan yang mendasar itu perlu memang kita elaborasi, kita buatlah satuseason persoalan-persoalan ini karena persoalan ini perdebatannya mengemuka persoalan-persoalan itu bukan hanya di Pusat tetapi juga di daerah.
Saya mengusulkan dibuka satu season untuk itu kemudian baru kita masukkan ke Panja. Jadi, tidak mungkin persoalan-persoalan yang mendasar di tengah masyarakat kita lewatkan begitu saja dengan alasan bahwasannya Undang-undang ini harus segera diselesaikan.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Kemudian Fraksi PDS sudah, Fraksi PBR? Absen ya.
Baik, Pemerintah mohon ada substansi baru yang disampaikan, tadi kalau didalam klausul ini ada ancaman pidana itu bagaimana dampaknya kepada penanaman modal, ini hal penting patut kita bicarakan.
Silakan Pemerintah.
PEMERINTAH :
Saya rasa kembali lagi bagaimana suatu Undang-undang ini sprit dari suatu Undang-Undang Penanaman Modal itu tentu berimbang antara kita ingin menciptakan kepastian hukum dan insentif atau menciptakan iklim investasi yang kondusif untuk investment dan tentunya bilamana ada investor yang tidak bertanggung jawab ada sanksinya tetapi apakah sanksi atau pidana itu harusnya berada di Undang-undang ini atau karena tadi disebut oleh Pak Constant ada Undang-Undang Pidana, ada Undang-Undang Perdata, ada Undang-Undang PTUN dan ada Undang-Undang Sektor seperti pengelolaan lingkungan hidup dan lain sebagainya. Ini saya rasa yang harus kita cermati apakah sudah cukup pertanggungjawaban dari investor yang tidak bertanggung jawab itu, di jawab oleh Undang-undang ini atau tidak, pertanyaan mendasarnya karena saya rasa kita semua sepakat kita tidak mau ada investor yang tidak memenuhi tanggung jawabnya. Jadi, ini yang mungkin dari sisi kami kita memahami concern dari Teman-teman F-PDIP, apakah jawabannya ada di Undang-undang ini atau sudah cukup karena sudah ada Undang-undang lain ataupun seperti fungsi pokok tadi pertanyaan Pak Zul kesepakatan kita mengenai tujuan ataupun fungsi dari penanaman modal. Sebenarnya menurut hemat kami, saya rasa secara garis besar kita setujui tetapi mungkin kita bisa merincikan bersama-sama dengan baik yang kita harapkan dari penanaman modal ini. Apakah ini dalam Bab khusus mengenai fungsi atau bisa ditampung di bagian tujuan dari penanaman modal.
Jadi, ini mungkin pendapat dari kami.
KETUA RAPAT :
Saya kira Pak Sekjen, Pak Dirjen diperkenankan melalui Menteri untuk menyampaikan juga supaya hidup.
Baik, silahkan Pak Dudhie. Ini sebagai Pimpinan atau sebagai Fraksi PDIP?
ARSIP
DAN
DOKUMENTASI
WAKIL KETUA (H. DUDHIE MAKMUN MUROD, MBA) : Saya sebagai dari Fraksi PDIP.
Jadi, sebenarnya dasar pemikiran kami Fraksi PDIP dalam hal ini, pertama kita ingin Pemerintah itu menjadi tuan rumah di negeri sendiri jangan seperti rekan Freeport, pengusaha itu juga menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan hanya nebeng terus kita kalah sarna kekuasaan modal asing dan rakyat itu juga menjadi tuan rumah di negeri sendiri ini, kita ingin memprotect ini. Jangan sampai ada satu usaha rakyat yang tergusur, rakyat yang terbuang. Contoh sudah ada satu, ini hal-hal yang sifatnya mendasar. Kalau ada khawatiran mengenai kata-kata denda, pidana segala macam sebenarnya itu suatu perwujudan bahwa harus ada satu sanksi dan ini kan bisa di wujudkan dalam satu kita bisa berefer pada Undang-undang, bisa juga memakai Undang-undang KPK, disini disebutkan Undang-undang KPK. Kalau pun ada yang mengatur Undang-undang Lingkungan Hidup kita akan refer, ini kan nanti isinya baru DIM.
Mana ada kewajiban mengenai mengusahakan sumber daya alam yang tidak dapat, istilahnya memperbarui. Kita akan meminta refer kepada Undang-undang Lingkungan Hidup dan pidananya juga sudah ada, jadi tidak perlu khawatir bahwa Pasal ini tidak akan membuat pidana dalam arti angka per angka, tahun per tahun hukuman itu tidak. Ini kan kekhawatiran kita seperti itu tetapi pasti ada dan harus ada sanksi. Prinsip kami satu pelanggaran harus ada sanksi tinggal sanksi itu kita refer kan kemana, kita kan punya KUHP, punya kitab Undang-undang, punya Peraturan Pemerintah, itu akan kita refer kesana. Jadi, kalau ada angka-angka yang, ini saya rasa tidak perlu kita besar-besarkan sanksi administrasi berupa denda sebesar, ini kan salah satu pemikiran.
Di Panja nanti kalau ini kita rubah, kita apakan saja tidak ada masalah.
Saya rasa tidak perlu diperdebatkan isinya, karena kalau sudah di Panja, saya juga pengalaman ikut Panja ini bisa berubah tidak perlu ada kekhawatiran, bisa berubah dan bisa bertambah dan bisa berkurang tetapi itu tidak ada masalah.
ANGGOTA F-PKB (CHOIRUL SHOLEH RASYID, SE) : Setuju di drop Pak?
WAKIL KETUA (H. DUDHIE MAKMUN MUROD, MBA) :
Sukan, saya tidak menjawab tetapi sesuai dengan tata tertib saja. Saya tidak menjanjikan ini bisa di drop tetapi ada tata tertibnya yang mengatur Panja Pansus kewenangannya. Itu saja, tidak perlu kita terlampau perdebatkan begitu.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Saik, sebenarnya di Panja juga bisa di gabung, disesuaikan, dikurangi, ditambah, karena di Pasal 18 juga ada kalau ini mengacu kepada acuan dari Pemerintah ada juga Pasal tentang sanksi-sanksi artinya tidak langsung di Ayat itu, tetapi tidak apa-apa. Ini satu hal yang sebenarnya masukan dari Fraksi PDS juga sangat baik untuk dipikirkan.
Silakan.
ANGGOTA F-PG (DR. H.M. AZWIR DAINYTARA, MBA) :
Saya kira tidak perlu kita perpanjang, sebagian besar Ternan-ternan setuju ke Panja. Itu yang penting, nanti di Panja kita perdalam, apalagi Paksi Pimpinan PDIP mengatakan bisa ditambah, bisa dikurangi, disitulah terjadi perdebatan dan lobi-lobi. Yang kedua, saya mahan juga Tatib ini dipatuhi, mekanisme prosedur Departemen.
Terima kasih Pimpinan.
ARSIP
DAN
DOKUMENTASI
KETUA RAPAT :
Baik, saya ingin mulai sedikit agak ke Tatib bahwa memang didalam Tatib kita itu ada dua putaran. Apakah setuju kalau kita ini masing-masing Fraksi ada juru bicaranya tanpa mengurangi bahwa Anggotanya juga bisa menambah apabila diperlukan. Setuju ya? Jadi mohon, Fraksi masing-masing menunjuk juru bicaranya, boleh berganti-gantian. Kesepakatan internal saja tetapi tetap kita buka ya tidak ditutup karena ini hak setiap Anggota untuk bicara. Supaya tertib, lewat saluran yang bagus.
Terima kasih Ketua Umum sarannya. Baik, saya usul ya bahwa kita sudah membahas masukan yang cukup baik ini dengan catatan-catatan tentang sanksi itu juga kita bahas yaitu Dim 76 sampai 98 kita masukkan ke dalam Panja.
Setuju ya?
(RAPAT: SETUJU) Baik, terima kasih.
Baik, Bapak, Ibu sekalian ini skors atau kita teruskan? Terus ya, Dim 99, naskah RUU Bab III ya. Kebijakan dasar penanaman modal. Fraksi PDIP tetap, berganti Bab IV, kebijakan dasar penanaman modal. Partai Demokrat, tetap.
Berubah menjadi Bab IV, kebijakan dasar penanaman modal. PAN menambahkan unsur rencana umum yaitu kebijakan dasar dan rencana umum penanaman modal. Kebangkitan Bangsa tetap ya? Tetapi berubah menjadi Bab IV.
Bapak, Ibu sekalian untuk Dim 99 ini bukan hanya redaksional tetapi ada unsur substansi masuknya tentang Rencana Umum. Saya usul, ini dimasukkan ke dalam Panja.
Silakan Golkar.
ANGGOTA F-PG (NUSRON WAHID, SS) :
Golkar tetap, dengan kalimat kebijakan dasar penanaman modal karena kami memandang usulan-usulan yang ada meskipun memang bagus tetapi saya pikir rencana urnurn itu adalah bagian dari kebijakan dasar. Kalimatnya memang berbeda tetapi semangat dan prinsipilnya hampir sarna dan saya pikir masalah ini hanya kita kembalikan kepada Tim Kecil atau Tim Perumus karena hanya masalah redaksional pemahaman bahasa antar kebijakan dasar dengan rencana umum.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Silakan Fraksi PDIP.
ANGGOTA F-PDIP (IR. HASTO KRISTIVANTO, MM) : Terima kasih.
Pasal 99 ini sebagai salah satu contoh bahwa kami sangat mendukung ide Pemerintah sehingga kami tetap.
KETUA RAP AT :
Coba diulangi lagi kata-katanya? Fraksi PPP?
ANGGOTA F-PPP (DRS. H. ZAINUT TAUHID SA'ADI) :
Fraksi PPP juga menghormati usulan Fraksi PDIP yang tetap sehingga kami juga tetap.
Terima kasih.
ARSIP
DAN
DOKUMENTASI
KETUA RAPAT :
Fraksi lain yang juga mau berbicara? Kalau tidak ada, kita masukkan ke Panja. Setuju ya?
(RAPAT: 5ETUJU) Baik, terima kasih.
Oim 100 naskah RUU Pasal 4, Pemerintah menetapkan kebijakan dasar penanaman modal untuk mendorong terciptanya iklim usaha yang kondusif bagi penanaman modal. Partai Golkar tetap mendukung Pemerintah, Fraksi POJP setelah perubahan menjadi Pasal 9. saya bacakan setelah perubahan, Pemerintah menetapkan kebijakan dasar penanaman modal untuk mempercepat peningkatan investasi Indonesia melalui usaha yang menarik bagi investor dan mendorong penguatan daya saing sistem perekonomian nasional. Fraksi PPP, Pasal 4 ditambahkan kata adil. Setelah perubahan, Pemerintah menetapkan kebijakan dasar penanaman modal untuk mendorong terciptanya iklim usaha yang kondusif dan adil bagi penanaman modal. Partai Demokrat, menjadi PasaJ 6. Pemerintah menetapkan kebijakan dasar penanaman modal untuk mendorong terciptanya iklim usaha yang kondusif bagi penanaman modal tanpa perkecualian. PAN tetap. Kebangkitan Bangsa, perubahan redaksional, setelah perubahan Pasal 4, Pemerintah menetapkan rencana umum penanaman modal sebagai dasar penyelenggaraan penanaman modal. Fraksi BPO menambahkan kata nasional dan usaha, Pasal 4 Ayat (1), Pemerintah menetapkan kebijakan dasar penanaman modal untuk mendorong terciptanya ikJim usaha nasionaJ yang kondusif bagi penanaman modal.
Kami persilahkan Fraksi POIP? Fraksi Golkar?
Silakan Golkar dulu.
ANGGOTA F-PG (NU5RON WAHID, 55) : Terima kasih Ketua.
GoJkar tetap dengan asumsi dan berargumentasi bahwa kalimat yang kondusif itu sudah mengandung aspek dan makna menarik, kemudian atraktif dan tentunya itu yang namanya kondusif sudah masuk dalam konteks mampu berdaya saing sehingga kalimat kondusif adalah sangat luas segala-galanya apa yang diusulkan oleh Fraksi-fraksi yang lain tanpa kami harus tidak menghormati dan kami sangat menjunjung tinggi pada dasarnya sangat substansi dan filosofisnya sama kalimatnya adalah unsur-unsur daripada kondusif antara lain adalah:
1. Berdaya menarik.
2. Tercipta suasana yang aman.
3. Adil
4. Berdaya saing.
Semua itu adalah unsur-unsur daripada kondusif.
Terima kasih Pak Ketua.
KETUA RAP AT : F-POIP?
ANGGOTA F-PDIP (H. IRMADI LUBI5) : Terima kasih Pak Pimpinan.
Saya kira lagi-Jagi Fraksi POI Perjuangan ini mengacu kepada pengalaman kita selama 40 tahun Undang-undang NO.1/1967 yaitu kemaslahatannya hanya bagi penanaman modal tidak ada untuk kemaslahatan bagi perekonomian didalam negeri dan tujuan kita bernegara yaitu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. OJeh karena itu, kami kurang sependapat dengan RUU dari Pemerintah yang hanya untuk menciptakan iklim kondusif bagi penanam
ARSIP
DAN
DOKUMENTASI
modal tetapi yang lebih penting adalah juga menqenai mmya untuk perekonomian nasional. Oleh karena itu, kami mengajukan rumusan baru yaitu Pemerintah menetapkan kebijakan dasar penanaman modal untuk mempercepat peningkatan investasi Indonesia melalui iklim usaha yang menarik bagi investor dan mendorong penguatan daya saing sistem perekonomian nasional. Kata-kata kondusif sengaja kami tidak pakai karena kata-kata kondusif itu lebih banyak digunakan untuk pendekatan keamanan. Kami kurang setuju pemakaian kata kondusif. Jadi, inilah rumusan kami dari PDI Perjuangan.
Terima kasih Pimpinan.
KETUA RAPAT : Silakan Fraksi PPP.
ANGGOTA F-PPP (DRS. H. ZAINUT TAUHID SA'ADI) :
Fraksi PPP mengusulkan kata adil setelah kata kondusif dengan asumsi bahwa iklim usaha itu tidak harus hanya kondusif saja tetapi juga harus adil untuk memungkinkan segala macam dan jenis serta kapasitas usaha bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Kata adil ini supaya tidak hanya dimiliki oleh Partai Keadilan.
KETUA RAPAT : Fraksi Demokrat?
ANGGOTA F-PD (IR. H.M. YUSUF PARDAMEAN):
Sesuai dengan Pasal ini kami tarik usulan kami, kami ikut dengan draft Pemerintah.
KETUA RAPAT :
Fraksi PAN tetap ya? Fraksi Kebangkitan Bangsa?
ANGGOTA F-KB (CHOIRUL SHOLEH RASYID, SE) : Terima kasih Pak Ketua.
Sejak Pasal ini kami mengusulkan rencana umum penanaman modal, pada Pasal 4 berikutnya kami juga melakukan perubahan di Pasal 4 ini, Pemerintah menetapkan rencana umum penanaman modal sebagai dasar penyelenggaraan penanaman modal. Jadi, rencananya dulu ditetapkan sebagai dasar melakukan aplikasi terhadap penanaman modal. Bukan soal kata kondusif atau tidak kondusif atau tidak adil tetapi yang terpenting adalah plannya dibuat sebagai dasar penyelenggaraan penanaman modal itu sendiri. Jadi, usulan kami begitu tetapi sebaiknya ini karena ini banyak perubahan-perubahan dari berbagai Fraksi, PDIP, PKB termasuk PPP tadi kiranya ini bisa dibawa ke Panja, solusi yang paling cepat agar dibawa ke Panja.
Terima kasih Ketua.
KETUA RAPAT :
Fraksi PKS tetap? Fraksi BPD silakan.
ANGGOTA F-BPD (MUHAMMAD TONAS, SE) :
Dari kami menambahkan kata nasional. Karena prinsipnya bahwasannya akan kita kembangkan dengan adanya investasi adalah bagaimana membangun iklim nasional yang kuat untuk diberdayakan atau ditambah dengan investasi yang datang dari luar. Untuk itu, investasi didalam negeri artinya iklim usaha nasional itu memang harus diprioritaskan.
Terima kasih.
ARSIP
DAN
DOKUMENTASI
KETUA RAPAT :
Fraksi PSR tetap. Fraksi PDS? Tetap. Saik, kita masukkan ke Panja ya karena ada unsur substansi disini terutama kata adil yang diambil alih oleh Fraksi PPP tadi kita masukkan Panja ya.
Silahkan Pemerintah.
PEMERINTAH :
Setuju dibahas di Panja.
KETUA RAPAT :