Saya rasa tidak sarna Pimpinan.
Fraksi PAN itu Ayat (2) itu kan minta dihapus. Tentunya a dan b itu juga kordan dihapus, makanya PAN mengusulkan substansi baru Ayat (2) karena kami melihat pertama, kalau Ayat (2) itu pengulangan daripada Ayat (1) dan a dan bini sudah termasuk pada Bab 5 Pasal 6 tentang pelayanan dan perlakuan yang sarna terhadap penanam modal. Untuk itu, kami menindaklanjutinya untuk di Panja.
Terima kasih.
ARSIP
DAN
DOKUMENTASI
KETUA RAPAT :
Oke, jadi ada usulan dari PAN tetapi itu untuk Dim belakang sarna seperti PDIP pelayanan, prinsip equality itu tidak membuka sarna-sarna tetapi perlakuan yang sarna.
Berikutnya adalah setelah Fraksi PAN, Fraksi Kebangkitan Bangsa.
ANGGOTA F-KB (DRS. BISRI ROMLI, MM):
Kami cukup berbeda Pak. Antara modal asing dan lokal itu sama kecuali sektor tertentu, penanaman modal asing tertentu menurut Undang-undang, ini barangkali Ibu Menteri menjadi catatan menarik, nanti bisa-bisa juga kalau sarna Shell bisa jual BBM yang bersubsidi. Petromax tidak bersubsidi. Mungkin itu Pak, jadi harus ditambahkan kecuali sektor tertentu sesuai dengan Undang-undang.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Baik, ada catatan yang harus, silakan.
ANGGOTA F-KB (PROF. DRS. H. CECEP SYARIFUDDIN) :
Fraksi KB memaknai Pasal ini penting karena seperti dinyatakan oJeh Ketua Rapat berkali-kali ini kan equal treatment, sangat-sangat mendasar. Jadi, kalau kita mengangkat equal treatment didalam Undang-undang kita menimbulkan miss interprestasi dari luar, itu bahaya. Oleh karena itu, maka equal treatment itu adalah kata kunci dimana nanti investor akan masuk ke kita itu dengan penuh ada jaminan. KaJau tambah kata-kata adil kemudian tanpa yang lainnya itu nanti makin jauh itu. Oleh karena itu, PKB dalam hal ini tetap menekankan tentang equal treatment dengan catatan bahwa pada sektor tertentu kecil sekali, pada sektor tertentu dan pada daerah tertentu itu diberikan kepada kepentingan nasionaJ.
Terima kasih.
KETUA RAPAT : Terima kasih ya.
Fraksi PKS.
ANGGOTA F-PKS (DR. ZULKIEFLIMANSYAH, SE, MSc) : Terima kasih.
Kami hampir senada dengan yang Jain, hanya agak lebih aman dan agak lebih fleksibel di translasikan itu kan daripada sama mungkin lebih enak pakai kata adil. Karena terus terang kalau pakai kesempatan yang sarna ini memang, kalau taksonomi industri itu sama semua, saya kira ada justifikasinya tetapi seperti Pak Irmadi bilang beda kelas kemudian diadu pada ring yang sarna itu tidak adil juga itu. Saya kira mungkin penggunaan kata adil itu tergantung kepiawaian Pemerintah kemudian melakukan negosiasi dalam menarik investor.
Saya kira itu.
KETUA RAPAT :
Baik, saya nambah sejahtera tidak?
Fraksi BPD silakan.
ANGGOTA F-BPD (MUHAMMAD TONAS, SE):
Terima kasih Pimpinan.
Baik, kami memaknai kalimat ini ada penambahan, tidak menginginkan kalimat sama itu karena diartikan bahwasannya ada satu perbedaan perlakuan selama ini makanya kami memaknakan bahwasannya kalimat sarna itu ditiadakan dan kami memaknai kaJimat itu dengan kalimat membuka kesempatan bagi penanaman modal dengan pengertian bahwasannya perlakuannya sarna tetapi tidak di masukkan kalimat sarna supaya tidak ada distorsi di kalimat
ARSIP
DAN
DOKUMENTASI
tersebut. Kemudian kami menambahkan kalimat ini dengan penutupnya. Saya ulangi, membuka kesempatan bagi penanam modal asing dan penanam modal dalam negeri : berdasarkan peraturan perundang-undang.
Jadi, supaya tidak bias kalimat terakhir.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Fraksi PBR tetap tetapi tidak hadir.
Fraksi PDS silakan.
ANGGOTA F-PDS (CONSTANT M. PONGGAWA, SH, LLM):
Terima kasih Pimpinan.
Fraksi PDS menganggap bahwa pada saatnya nanti sewaktu-waktu antara PMA dan PMDN akan merupakan satu hal yang sangat sulit untuk dibedakan.
Karena asing bisa masuk lewat belakang kepada PMDN, begitu juga PMDN swasta nasional ingin masuk supaya bebas pajak masuk lewat PMA, untuk mendapatkan perlindungan-perlindungan. Jadi, kami mengusulkan supaya ini dapat di elaborasi didalam Panja untuk kita dapat pikirkan dan menyelesaikan secara baik.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Baik, Pemerintah terutama equal treatment bergeser menjadi equal opportunity. Ini bagaimana kita memahami ini agak fix, kita memahami rancangan Pemerintah itu equal treatment menjadi equal opportunity ya.
Kesempatan ya, ini yang jebakannya disitu.
Silakan.
PEMERINTAH :
Kembali lagi asas atau prinsip equal treatment itu merupakan bagian yang penting dan asas yang penting dalam Undang-undang kebijakan penanaman modal dimana pun dan digunakan di Negara lain dan bagaimana kita mengerti atau mengartikan asas equal treatment ini. Sebenarnya kembali lagi kepada hal yang penting yaitu equal treatment itu tentunya setelah mempertimbangkan kepentingan nasional. Ada sektor yang tertutup sama sekali untuk penanaman modal swasta, bisa dalam negeri, bisa luar negeri ataupun khusus untuk luar negeri, ada sektor yang terbuka dengan syarat dan itu sudah mempertimbangkan sektor-sektor yang kita anggap strategis atau kita tutup atau bersyarat untuk kepentingan nasional termasuk untuk mengimbangi yang kita anggap tidak berimbang antara kemampuan penanaman modal dalam negeri dan penanaman modal asing misalnya antara lain syarat yang ditentukan adalah untuk joint venture atau untuk kemitraan dengan UKM dan lain sebagainya sehingga kesempatan yang sama itu adalah setelah kita saring sektor-sektor yang mana kita tetap tutup atau buka dengan bersyarat demi kepentingan nasional. Jadi, yang equal treatment adalah yang kita anggap terbuka. Ini sebenarnya sudah tercermin di Bab VII Pasal 11, semua bidang usaha atau jenis usaha terbuka bagi kegiatan penanaman modal kecuali bidang usaha atau jenis usaha yang dinyatakan tertutup atau terbuka dengan persyaratan. Ini akan keluar dalam suatu Peraturan Presiden yang menentukan sektor mana yang tertutup dan terbuka dengan bersyarat, dengan mengacu kepada Undang-undang ini sebagai kriteria dan sebagainya tetapi ini mungkin kejelasannya bisa dibahas lagi didalam kesempatan Panja.
KETUA RAPAT :
Panja ya, tetapi sedikit lagi ini penting sekali. Misalnya sebagai contoh adalah laut kita untuk asing ditutup, untuk dalam negeri dibuka. Kan tidak equal opportunity, sebab dari seluruh Fraksi ini mempertanyakan equal opportunity,
ARSIP
DAN
DOKUMENTASI
sementara yang kita bahas adalah equal treatment itu adalah prinsip dalam pandangan Fraksi POIP, prinsip tidak membedakan asal Negara, pelayanannya sama, tamunya sama, penghormatannya sama tetapi didalam rumusan Pemerintah ada equal opportunity, kalau misalnya kita menentukkan laut tidak boleh untuk asing, swasta, nasional boleh berarti tidak equal opportunity, itu bagaimana? Supaya nanti di Panja tidak terlalu kisruh sehingga kita boleh membuang kesempatan ini. Supaya tidak otot-ototan.
ANGGOTA F-PDIP (H. IRMADI LUBIS) :
Pak Pimpinan, saya kira 'kan semangat kita sama, OPR RI dan Pemerintah mau menjadikan Undang-undang ini adalah lex spesialis, artinya kalau diri kita mau menjadi lex spesialis bahwa disini kita cantumkan bahwa kesempatan yang sama otomatis Undang-undang yang lain itu sudah dua yang dinas, pertama kita lex spesialis, kedua, Undang-Undang yang lahir lebih belakangan mengalahkan Undang-undang yang terdahulu, padahal banyak Undang-undang lain yang menyatakan, umpamanya untuk sector ke Pelabuhan dan ke Bandara Udara, Undang-undang inl, jadi saya mohon kata-kata kesempatan ini jangan kita buka disini sehingga menimbulkan distorsi terhadap Undang-undang lain.
Terima kasih Pimpinan.
KETUA RAPAT :
Kita ingin mencari, menanyakan dibalik reason kesempatan yang sama itu.
Kan ini merupakan suatu proses dari kegiatan ilmiah, supaya kita paham.
Chemistry nya menyambung.
Silakan.
ANGGOTA F-PG (RAMBE KAMARULZAMAN, MSc):
Saya kira agar jangan diskusi kita lempar Panja, lempar Panja akhirnya mentah lagi. Oi Panja juga kita akan keluarkan ini, setidak-tidaknya kalau pun masuk ke dalam Panja, kita memiliki gambaran sekarang bagaimana mencari jalan keluarnya. Oleh karena itu, Saudara Ketua dan Ibu Menteri, soalnya disini adalah penjabaran kesempatan yang sama dari Fraksi kami pertama, ingin mempertegas dan atau adiJ. Sebenarya yang kami maksudkan itu termasuk juga dengan apa yang diusulkan oleh PDIP dan apa yang diusulkan oleh rekan dari PKB, tetapi mungkin menuliskan merupakan norma Batang Tubuh Undang-Undang ini jika dimasukkan secara langsung merupakan norma disana. Itu mungkin kita sulit memasukkannya. Oleh karenanya, mungkin ada tanggapan dari Pemerintah bahwa ini tinggal merumuskan kalau bisa yang kita maksudkan misalnya kesempatan yang sama dan atau adil sebagaimana yang diusulkan oleh PDIP dan PKB, kita tambahkan didalam penjelasan daripada Undang-undang ini, tinggal merumuskannya saja bahwa kesempatan yang sama dan atau adil adalah kita masukkan pikiran dari usulan dari PDIP dan usulan dari PKB apa yang kita maksudkan itu sebagaimana yang disampaikan oleh Saudara Ketua kalau kesepahaman itu ada. Saya kira masuk dalam Panja itu menjadi catatan. Jadi, teknisnya kita buat seperti itu. Kalau tidak, maka tidak akan selesai ini Bu. Kalau lempar sedikit Panja, lempar sedikit Panja, di Panja juga nanti ini terangkat lagi tetapi jika sudah ada jalan keluarnya baru kita lempar ke Panja.
Kalau buntu boleh juga ke Panja tetapi nanti akan kita perbicangkan kembali atau yang buntu itu tetap kita lakukan dalam Rapat Kerja.
Begitu Saudara Ketua.
KETUA RAP AT : Silakan.
ANGGOTA F-PAN (NASRIL BAHAR, SE):
Pimpinan, sebaliknya Fraksi PAN bertanya kepada Pemerintah terhadap butir a pada draft Undang-Undang ini. Saya bacakan, membuka kesempatan
ARSIP
DAN
DOKUMENTASI
yang sama bagi penanaman modal asing dan penanaman modal dalam negeri.
Apa bedanya? Apakah ini tidak akan mengulangi dari butir ke Ayat. Saya bacakan Bab V Pasal 6 "Pemerintah memberikan perlakuan yang sama kepada semua penanaman modal yang berasal dari Negara manapun yang melakukan kegiatan penanaman modal di Indonesia sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan". Justru karena itulah Fraksi PAN ini minta di drop dan dihapuskan.
Jadi, sebelum dimasukkan ke Panja, kami minta dari Pemerintah penjelasan terhadap pengulangan kata-kata ini.
Terima kasih Pimpinan.
KETUA RAPAT:
Baik, kita memang seperti anjuran Pak Rambe bahwa sebelum masuk Panja harus kira-kira mulus dulu, yang perbedaan mendasar disini adalah, yang sangat mendasar dalam Pemerintah dengan kita adalah equal treatment itu sekarang menjadi equal opportunity. Di Indonesia ini opportunityapa saja? Laut, Gunung, segala macam, sementara equal treatment itu ya kalau masuk kita layani. Ini mendasar dan hampir seluruh Fraksi mempertanyakan ini, yang kira-kira kita ingin tahu reasoning kenapa kesempatan yang sama ini keluar, kemana?
Pemerintah dulu. Nanti Pak Hasto.
PEMERINTAH :
Sebenarnya tidak ada perbedaan antara yang dimaksud. Kita memberi equal treatment kepada opportunityyang terbuka untuk asing dan dalam negeri tetapi ada laut, gunung itu yang hajat hidup orang banyak memang dalam peraturan dan perundangan tertentu maupun didafam daftar negatif itu tertutup opportunitynya, jadi kita membuka equal treatment untuk opportunity yang terbuka, yang sudah kita pilah. Jadi, yang tertutup itu memang tidak equal treatment, jadi kalau didalam bahasa hukum internasionalnya itu adalah equal treatment house establishment bukanfree establishment. Memang banyak akan yang menuntut bahwa equal treatment harus dari awal untuk semua hal, hampir semua. Tidak ada Negara yang membuka lebar-lebar, dia pasti akan ada daftar negatif demi kepentingan nasional dan sebagainya sehingga yang kita maksud dengan equal treatment itu adalah untuk opportunity yang terbuka. Jadi, kita sudah pilah yang mana yang terbuka, yang terbuka inilah yang diberikanequal treatment, itu sebenarnya dasar pemikarannya dan ini adalah acuan yang memang digunakan oleh Undang-Undang Penanaman Modal lain di Negara lain.
KETUA RAPAT :
Baik, saya kira ini sudah memberi arah kepada Panja ya. Bahwa yang dimaksudkan kesempatan yang sama itu adalah equal treatment before. Kalau ada dua untuk maksud yang sama, kita harus. Kalau ada dua kata yang sama untuk satu maksud saya kira kata yang paling dekat yang harus dipilih. Sekarang yang bermunculan disini kesempatan yang sama, satu. Kedua, pelayanan yang sama, prinsip tidak membedakan asal Negara. ltu kata yang paling dekat yang harus dipilih didalam Panja.
Silakan Pak Hasto dulu atau Pak Afridel dulu.