• Tidak ada hasil yang ditemukan

Annette dan Asal Tanda Lahir di Punggung

Dalam dokumen Kisah Penelusuran "Masa Lalu" (Halaman 33-41)

menyembuhkan orang lain."

bab 4 Annette dan Asal Tanda Lahir di Punggung

Saya mempunyai tanda lahir di punggung sebelah kanan saya. Tanda lahir itu menyerupai sebuah pulau besar yang berwarna coklat. Ibu saya bercerita, konon tanda lahir itu muncul akibat ibu---sewaktu sedang mengandung saya---menginjak karung goni berwarna coklat. Kata orang-orang tua di daerah ibu berasal, menginjak karung goni pada saat hamil itu pantang sekali. Konon katanya, anak yang dilahirkan nanti pasti akan mendapat cacat berwarna coklat.

Sekalipun ada tanda cacat di punggung, ibu saya malah meminta saya supaya tetap bersyukur. Lho, kok? "Masih untung tanda lahir itu ada di punggung kamu, bukannya di muka kamu," kata ibu.

Beberapa kali saya ke dokter kulit dan meminta agar tanda lahir itu bisa dihilangkan. Tapi menurut para dokter, tanda lahir itu tidak bisa dihapus. Lagi pula, buat apa dihapus kalau tanda itu tidak mengganggu dan bukan merupakan suatu penyakit. Walau begitu, saya tetap penasaran dengan tanda lahir ini. Mengapa mesti ada tanda lahir? Dari mana asalnya?

Setelah saya mempelajari hipnoterapi, terutama metode regresi kehidupan lalu, saya sadar bahwa tidak ada sesuatu pun dalam kehidupan kita yang terjadi secara kebetulan. Pasti terdapat suatu alasan yang menyebabkannya. Saya ingat akan hukum sebab akibat. Berangkat dari rasa penasaran maupun keingintahuan yang mendalam, lalu saya meregresi diri sendiri untuk mencari jawabannya.

Hasil perjalanan ke kehidupan lalu saya ternyata sungguh luar biasa! Saya temukan kisah-kisah yang semakin menegaskan keyakinan saya, bahwa tidak ada akibat tanpa sebab. Dan rupanya, inilah penyebab adanya tanda coklat di punggung sebelah kanan saya:

T : -Apa jang kamu lihat?

J : Aku melihat beberapa perempuan muda sedang diseret oleh beberapa laki-laki. Para perempuan itu menangis dan berteriak-teriak! Tapi, para laki-laki itu tidak menghiraukannya dan terus menyeret mereka.

T : Apa jang sedang kamu lakukan?

J : Aku berdiri di dekat dinding sedang menyaksikan perempuan-perempuan malang itu diseret-seret

T : Mengapa tubuhmu menjadi tegang?

J : Aku tahu nasibku juga akan sama seperti para perempuan muda itu! Tubuhku langsung membeku karena ketakutan.

T: Baiklah, lupakan kjadian ini. Kejadian ini sudah berlalu dan kamu akan baik-baik saja. Aku ingin kamu twang dan kita akan melanjutkan regresi ini.

J : Baiklah.

T : Apakah kamu tahu siapa nama kamu ? J : Namaku Annette.

T : Kamu lahir di mana?

J : Di Eropa. Sepertinya di Belanda, tapi aku tidak yakin. T : Bisakah kamu beri tahu tahun berapa?

J : Samar-samar... Sepertinya, tahun 1100-an. T: Bagaimana pakaianmu?

J : Aku memakai baju terusan dengan rok mengembang selutut. Sepertinya ini bukan pakaian orang kaya. Ini seperti pakaian seorang pelayan.

T : Apa jang kamu lakukan sehari-hari?

J : Aku bekerja sebagai pelayan di sebuah kedai minum. T : Coba gambarkan bangunan kedainya?

J : Kedai ini terbuat dari kayu. Lantainya juga kayu. Semua meja dan kursi terbuat dari kayu. Di tengah-tengah kedai ada beberapa kayu bulat utuh penopang bangunan.

T : Berapa usia kamu? J : Kurang lebih 18 tahun.

T: Coba gambarkan bagaimana diri kamu?

J : Tubuhku kurus. Kulitku sangat putih dan halus. Gerakanku sangat lembut dan aku sangat pemalu. Pelayan-pelayan lainnya dan juga bosku selalu mengejekku. Kata mereka, aku lebih pantas menjadi putri bangsawan daripada seorang pelayan. Karena, tingkah lakuku yang sangat halus dan tidak seperti pelayan-pelayan lainnya yang bergerak cepat. T : Siapa pengunjung kedai ini?

J : Kebanyakan pengunjungnya laki-laki. Mereka datang ke kedai untuk minum-minum dan terkadang bermalam bila mereka datang dari jauh.

T : Sekarang kita maju beberapa tahun setelahnya untuk melihat kejadian penting dalam hidup kamu sebagai pelayan kedai. Berapa usia kamu sekarang?

J : Sekarang usiaku 20 tahun.

T : Apakah kamu masih bekerja sebagai pelayan di kedai minum? J : Ya. Aku masih bekerja sebagai pelayan di kedai minum yang sama. T : Apajang sedang kamu lakukan?

J : Aku sedang membersihkan meja. Aku melihat seorang laki-laki tinggi besar masuk ke dalam kedai. Wajahnya garang sekali dan sangat tidak menyenangkan. Rambutnya yang

panjang sebahu dibiarkan terurai berantakan. Di belakangnya ada beberapa laki-laki pengikutnya.

T : Apa jang dia lakukan?

J : Dia masuk ke kedai dan langsung bicara dengan bosku. T : Apa hubungan kejadian ini dengan dirimu?

J : Di sela-sela pembicaraan, mereka menunjuk-nunjuk diriku. T : Mengapa tubuhmu menjadi tegang?

J : Saatku telah tiba... Aku sangat takut! Terbayang kembali wajah teman-temanku yang menangis dan berteriak-teriak dua tahun lalu.

T: Tenangkan dirimu. Kejadian ini sudah lewat, kamu akan baik-baik saja. Apa maksudnya saatmu tehh tiba?

J : Apabila saatnya tiba, para pelayan di kedai ini akan dijual menjadi pelacur di rumah bordil milik laki-laki tinggi besar itu. Kami semua tahu bila kami dijual menjadi pelacur maka kami akan diperlakukan melebihi seorang budak. Para perempuan pelacur dikurung di rumah bordil dan harus melayani laki-laki haus perempuan, tanpa mengenai istirahat. Untuk memuaskan laki-laki hidung belang itu, tak jarang perempuan-perempuan pelacur diikat dan disiksa. Mereka tidak boleh keluar dari rumah bordil Jika ada yang melarikan diri, mereka pasti akan disiksa melebihi para tahanan.

T : Sekarang apa jang sedang terjadi padamu?

J : Aku dibawa ke rumah bordil milik laki-laki tinggi besar itu. Aku sudah tiba di kamar. Aku melawan sejumlah laki-laki yang menyeretku. Aku menendang, menggigit, berteriak, dan melakukan apa saja supaya aku dilepaskan. Laki-laki tinggi besar itu datang dan marah-marah melihat sikapku. Kemudian dia menyuruh anak buahnya menjatuhkan aku ke lantai dengan posisi telungkup. Tangan dan kakiku dipegangi erat-erat. Bagian belakang bajuku dirobek dengan sangat kasar! Aku mendengar dia bilang, betapa putih dan halusnya punggungku. Tapi dia juga berkata, bahwa seorang pelacur yang membangkang harus diberi pelajaran yang sangat mengerikan! Sampai-sampai, dia sendiri terlalu ngeri membayangkan hal itu. (Menangis... ) Aku sangat ketakutan...! Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya padaku.

T: Lalu, apa jang terjadi? Saat melihat kejadian selanjutnya, saya ingin kamu hanya sebagai pengamat Kamu tidak akan merasakan rasa sakitnya karena kejadian ini telah kwat

J : Laki-laki itu memerintahkan anak buahnya untuk memanaskan setrika arang di perapian.

Aku melihat laki-laki itu menggosokkan setrika panas berkali-kali di sebelah kanan punggungku. Panasnya setrika itu merobek kulitku! Sepertinya, perihnya luar biasa! Aku berteriak-teriak dan meronta-ronta kesakitan... Tapi, beberapa laki-laki memegangi tangan dan kakiku dengan sangat kuat. Akhirnya, aku jatuh pingsan...

T: Kita maju beberapa saat untuk melihat apa jang terjadi selanjutnya. Apa jang sedang terjadi sekarang?

J : Begitu bangun aku sudah tertelungkup di ranjang. Punggungku terasa sangat nyeri. Aku demam, panas tubuhku sangat tinggi. Aku rasa ini karena luka bakar di punggungku. Aku bisa merasakan cairan yang menetes dari punggungku, jatuh ke ranjang. Aku sangat kehausan... Di meja sebelah kananku ada segelas air, tapi aku tidak bisa meraihnya. Tubuhku terlalu lemah dan sangat sakit untuk bergerak. Pada waktunya makan, seseorang akan melempar baki makanan ke balik pintu kamarku. Tapi, aku tidak bisa bergerak, apa lagi berjalan mengambilnya.

T : Apakah kamu bisa sembuh dari luka bakarmu?

J : Suatu hari, setelah berhari-hari aku tidak minum dan makan, aku merasakan sakit luar biasa di punggungku. Rasanya seperti ada yang mencabik-cabik seluruh tubuhku. Aku mengepalkan tanganku untuk menahan rasa sakitnya. Pada saat sakitnya tak tertahankan lagi, tiba-tiba aku tidak merasakan sakit itu lagi.

T : Apa jang terjadi padamu?

J : Aku sudah berada di atas tubuhku. Aku melihat tubuhku di bawah sana dengan luka yang membusuk di punggung sebelah kanan. Aku sudah meninggaL

Demi melihat penderitaan maha hebat yang dirasakan Annette dalam kehidupannya sebagai pelayan kedai itu, saya berpikir, pasti semua itu ada sebab-musababnya. Kemudian, saya meregresi diri saya kembali untuk menelusuri mengapa Annette menerima siksaan luar biasa sehingga dia harus mati secara mengenaskan. Inilah hasil regresi di kehidupan lalu Annette sebelumnya.

T: Sekarang kita akan masuk ke kehidupan lalu jang menjadi penyebab kamu disiksa dan meninggal akibat luka membusuk di punggungmu. Luka itulah jang sekarang menjadi tanda lahir di punggung sebelah kananmu. Apa jang kamu lihat?

J : Aku adalah seorang laki-laki Indian berkulit sawo matang. Aku memakai pakaian Indian dan bertelanjang dada.

T: Bisa kamu ceritakan bagaimana kehidupanmu sehari-hari?

J : Aku tinggal berkelompok bersama anggota suku yang lain. Jumlah suku kami tidak terlalu banyak. Kami hidup berpindah-pindah dari suatu bukit ke bukit lain. Bila saatnya pindah, kepala suku kami akan mengumumkannya. Dia mengetahui saat kepindahan kami berdasarkan gerakan bintang-bintang di langit.

T: Adakah kejadian tenting jang sedang teijadi saat ini?

J : Belakangan ini suku kami menjadi resah karena ternak kami sering dicuri oleh seseorang dari suku lain. Suatu siang, ketika aku sedang mengawasi hutan, tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki mencoba mencuri ternak kami. Aku mengejarnya masuk ke hutan. Tapi, dia berlari sangat kencang dan aku kehilangan jejaknya.

meninggal pada kehidupan Annette, dan bekasnya menjadi tanda lahir di kehidupanmu jang sekarang. Ceritakan apa jang kamu lihat?

J : Malam ini aku mendapatkan firasat, bahwa akan ada orang yang mencoba mencuri ternak kami lagi. Aku duduk di samping api unggun untuk berjaga-jaga. Sekarang malam telah larut dan anggota suku kami yang lainnya sudah terlelap. Tiba-tiba aku mendengar suara dari semak-semak di belakangku. Aku segera menghampiri dan aku menangkap seorang laki-laki. Aku mengikat tangannya dan membaringkannya di tan ah. Aku bertanya padanya, tapi ternyata dia bisu! Dia hanya mengeluarkan suara-suara yang tidak dapat aku mengerti. Kemudian, datang sekelompok pasukan pengawas yang sedang bertugas jaga malam. Aku mengatakan pada mereka bahwa aku menangkap laki-laki bisu ini ketika dia sedang mengendap-endap di semak belakang tenda.

T : Apa yang teijadi selanjutnya?

J : Mereka membawa laki-laki bisu itu dan mengikatnya di tiang kayu pemujaan suku kami. Mereka berkata, dia bisu karena kutukan para leluhur. Para leluhur menaruh kutukan di tenggorokannya. Untuk bisa membuatnya bicara, maka dia harus merasakan sakit yang amat dahsyat, supaya dia bisa berteriak keras dan mengeluarkan kutukan itu dari tenggorokannya. Karena aku yang menangkapnya, maka jiwanya adalah milikku. Dan. aku yang berhak melaksanakan ritual siksaan itu.

T : .Apa kamu menjalankan ritual siksaannya?

J : Aku sangat takut... Karena, aku belum pernah menyiksa siapa pun sebelumnya. Lalu mereka memberiku kayu dari api unggun yang masih ada baranya dan menyuruhku menusukkan kayu itu di tubuh laki-laki bisu di depanku. Aku ragu-ragu... Tapi, akhirnya aku menyundutkan bara kayu di punggungnya, di sebelah kanan. Aku melakukannya berkali-kali supaya laki-laki bisu itu dap at berteriak keras-keras dan bicara.

T : Apakah laki-laki bisu itu bisa bicara?

J : Tidak! Tapi, dia malah jatuh pingsan karena merasa sangat kesakitan. T: Selanjutnya, apa jang kamu lakukan pada laki-laki bisu ini?

J : Aku ditugaskan untuk menjaganya. Aku tertidur. Laki-laki bisu ltu masih pings an dan terikat di tiang pemujaan. Aku terbangun, sekarang sudah pagi. Aku melihat penjaga suku membawa laki-laki bisu itu. Dia berkata padaku, ada seseorang yang pernah memergoki laki-laki bisu itu mencuri ternak kami. Makanya, dia harus dihukum sesuai perbuatannya. T : Hukuman apa jang didapatkan laki-laki bisu ini?

J : Dia digantung di tiang kayu yang tinggi dan dihadapkan ke arah matahari dengan tujuan supaya Dewa Matahari yang akan menghukum dan membakarnya.

T : Berapa lama hukuman gantungnya?

J : Hanya beberapa hari. Kepala suku kami lalu memerintahkan untuk menurunkan laki-laki bisu itu karena masa hukumannya sudah selesai.

Apakah kamu melihatnya?

J : Aku melihatnya diturunkan dari tiang gantungan Aku juga bisa melihat luka bakar di punggung sebelah kanannya yang merah membengkak. Dia menatapku dengan tatapan penuh dendam. Sampai-sampai, aku bisa merasakan kebenciannya yang amat sangat kepadaku. Lalu, dia lari ke dalam hutan dan aku tidak pernah melihatnya lagi.

T: Sekarang, kita akan mtngulas kidua kihidupan lalumu. Pelajaran apa jang kamu dapatkan dari kihidupanmu ssbagai laki-laki Indian?

J : Setiap pikiran, ucapan, dan tindakan yang aku pilih akan melahirkan sebuah kehidupan baru. Tindakan yang aku pilih---yaitu menyiksa Indian bisu itu dengan menyundutkan bar a kayu di punggung sebelah kanannya---telah melahirkan kehidupanku di Belanda sebagai Annette. Dalam kehidupanku sebagai Annette, aku meninggal dengan luka bakar yang membusuk di punggung sebelah kananku.

T: Adakah pilihan tindakan yang lebih baik jang bisa kamu lakukan di kehidupan Indian itu?

J : Ya. Aku yang menangkap Indian bisu itu, maka jiwanya adalah milikku. Karena jiwa Indian bisu itu adalah milikku, maka aku bisa memilih untuk melepaskannya.

T: Mengapa kamu seharusnya mdipaskan Indian bisu itu ?

J : Karena, aku tidak melihatnya melakukan pencurian itu. Saat itu, aku hanya menduga dia melakukan tindakan pencurian.

T: "Pelajaran apa jang kamu dapatkan bila kamu melepaskan Indian bisu itu?

J : Dalam setiap situasi selalu tersedia kehendak bebas untuk berpikir, berkata-kata, dan bertindak. Maka, pilihlah pikiran, ucapan, dan perbuatan yang bisa membuat diri kita dan orang lain berbahagia.

Pilihlah pikiran, kata-kata, dan perbuatan yang setelah kita lakukan akan membuat kita dan orang lain menjadi tersenyum bahagia. Karena, itu merupakan pilihan untuk bahagia. T: Bukankah tindakanmu kepada Indian bisu itu telah berbuah dalam kehidupan Annette yang sangat mengenaskan? Mengapa di kehidupan sekarang kamu masih memiliki tanda lahir di punggung sebelah kanan?

J : Luka di hati seseorang sangat sulit dihapuskan. Kebencian luar biasa Indian bisu itu---yang disebabkan oleh sakit hati itu---yang begitu dahsyat akibat perbuatanku padanya---telah menorehkan luka yang sangat sulit dihapuskan. Akibatnya, luka itu masih terus kubawa sampai di kehidupan yang sekarang dan menjadi tanda lahir di punggungku sebelah kanan.

T: Pelajaran apa yang bisa kamu ambil dari kehidupanmu sebagai laki-laki Indian untuk kehidupan sekarang?

J : Aku bisa memilih untuk menggunakan pikiran, ucapan, atau perbuatanku untuk menyakiti orang lain, yang pada akhirnya akan menyakiti diriku sendiri. Atau, aku bisa memilih untuk menjadi seorang penyembuh bagi luka orang lain melalui pikiran, ucapan,

dan perbuatan yang kulakukan.

Hasil regresi ke kehidupan lalu saya sebagai Annette maupun laki-laki Indian itu telah menjawab teka-teki asal tanda lahir di punggung saya.

Kisah di kehidupan lalu tersebut juga mendatangkan kesadaran luar biasa dalam diri saya.

Luar biasa dampak dari pikiran, ucapan, dan perbuatan yang kita lakukan. Setiap pikiran, ucapan, dan perbuatan kita berkemampuan untuk menyakiti atau menyembuhkan orang lain. Pikiran, ucapan, dan tindakan yang kita lakukan juga akan melahirkan sebuah kehidupan baru yang akan terjadi di masa kini atau dalam kehidupan mendatang.

Yang luar biasa, dari semua pikiran, ucapan, dan perbuatan kita setiap detiknya, akan melahirkan akibat baru yang sesuai dengan sebabnya. Pernahkah kita memeriksa, mana yang lebih banyak kita munculkan dalam setiap menit, setiap jam, setiap hari, bahkan sepanjang hidup kita? Dan, pernahkah kita menyadari akibat apa yang akan kita terima dari semua yang telah kita lakukan itu?

Tapi, berita baiknya adalah bahwa dalam setiap situasi yang kita hadapi selalu tersedia kehendak bebas bagi kita untuk berpikir, berucap, dan bertindak. Kita selalu bisa memilih pikiran, ucapan, dan perbuatan yang bisa membuat diri kita dan orang lain bahagia.

Walaupun saya tahu betul betapa sulitnya melakukan semua itu---karena sungguh sulit mengendalikan pikiran, ucapan, dan tindakan kita---tapi hidup selalu memberikan kesempatan pada kita setiap saatnya untuk bisa memilih. Mau membuat diri kita dan orang lain bahagia atau bahkan sebaliknya.

Dan, bila kita tidak memulainya sekarang, kapan lagi waktu yang lebih tepat untuk memulainya? Apa pun pikiran, ucapan, dan perbuatan yang kita lakukan, baik atau buruk, seperti itu pulalah kehidupan baru yang kita ciptakan.

"Ucapan. perbuatan. dan pikiran kita

bisa memberi kesembuhan bagi orang lain

dan bagi diri .kita sendiri. Maukah Anda melakukannja?"

Dalam dokumen Kisah Penelusuran "Masa Lalu" (Halaman 33-41)