Pujian untuk Buku Ini
"Buku ini cenderung kontroversial Tidak semua pihak---bahkan mungkin tidak banvak---orang banvak---orang bisa memahami, apalagi menerima jalan pikiran Nathalia. Namun, buku ini mampu menggoda pikiran kita untuk mencari jawaban atas pertanvaan: Siapakah aku ini?"
Andy F. Noya
Pemimpin Redaksi Metro TV dan Host Kick Andy
"Petualangan ke dunia masa lampau memang bukan sesuatu yang gampang dimengerti atau dijalani oleh setiap manusia. Tetapi, hal itu bukan berarti sesuatu yang tidak ada atau tidak bisa dilakukan. Mengetahui masa lalu untuk kebaikan adalah baik adanva. Tetapi, jauh lebih penting bila pengetahuan masa lalu itu bisa menjadi landasan untuk berjuang meraih keberhasilan di masa depan. Dibutuhkan kejernihan hati dalam menvimak buku Journey to My Past Lives ini agar dapat memperoleh pengetahuan dan manfaat yang positif dan petualangan masa lampau Nathalia yang luar biasa ini."
Andrie Wongso
Motivator dan Penults Buku-buku Bestseller
"Jendela-jendela yang sesekali dapat membuka, baik dari kehidupan lampau maupun masa datang, patut dimaknai sebagai elemen yang memperkava kehidupan spiritualitas kita hari ini. Tidak terpaku dan terikat padanva, melainkan belajar melaluinva. Eksplorasi Nathalia merupakan bukti bahwa waktu sesungguhnva sirkular. Dan, linearitas merupakan ilusi yang memungkinkan permainan bernama Hidup ini berlaku."
Dewi Lestari
Penulis Serial "Supernova"
"Aku menemukan sesuatu yang membuat aku takjub. Memasuki masa lalu dapat menjadi sebuah perjalanan spiritual yang mengagumkan dan penuh makna. Sebuah perjalanan yang menguatkan mental dan merevolusi pikiran ke arah yang lebih baik."
Ade Tri Marganingsih
Redaktur Pelaksana MATABACA
"Buku istimewa dan berharga yang dapat meningkatkan level kesadaran kita menuju pencerahan spiritual
Adi W. Gunawan
The Re-Educator & Mind Navigator dan Penults Bestseller "Hypnosis: The Art of Subconscious Communication"
"Self discovery! Sering kali pandangan kita mengenai diri sendiri sangat berbeda dengan pandangan orang lain mengenai diri kita. Dari buku ini, kita diajak belajar mengetahui
siapa diri kita sesungguhnva. The minute you surrender, you might just get exactly what you looking for. Highly recommended for Your journey to find the purpose of your life."
Alexandra Dewi
Managing Director Sun Hope Indonesia Co-Author "I Beg Your Prada"
"Sangat menarik...! Membuka jalan untuk mengenali potensi diri."
Andrea Hirata
Penulis Novel Tetralogi "Laskar Pelangi"
"Setiap jiwa sejujurnva sedang bertumbuh. Dan masa lalu lengkap dengan dinamikanya, sejauh bisa mengolahnva, adalah bahan-bahan pertumbuhan yang mengagumkan."
Gede Prama
Penulis 22 Buku Inspirasi
"Journey to My Past Lives menawarkan pengalaman membaca yang tidak biasa. Nathalia akan mengajak Anda berpetualang ke lorong-lorong hidup Anda yang paling rapat dan tersembunyi sekalipun. Bersiaplah!"
Jessica Huwae
Penults "Soulmate.com" dan Managing Director SPICE!
"Perjalanan ke kehidupan lampau memberikan sebuah refleksi konstruktif dan korektif untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia itu sendiri. Banyak hal yang dapat diperbaiki dan disempurnakan setelah menyaksikan Video kehidupan masa lalu itu. Nathalia telah menuliskan transkiip video kehidupan lampaunya yang menaiik itu untuk menjadi bahan renungan buat kita dengan satu pesan tunggal, bahwa kehidupan lampau itu ada dan nyata adanya. Galilah video Anda dengan panduan buku ini!"
Ponijan Liaw
Penulis Bu.ku Bestseller "The Art of Communication that Works" dan Penulis Pendamping "Simplify Your Life with Zen"
Journey to My Past Lives
12 Kisah Penelusuran Misteri Reinkarnasi dengan Metode Hipnoterapi
Nathalia Sunaidi C.Ht
Nathalialnstitute.com
format dnl to epub by :
DAFTAR ISI
UCAPAN TERIMA KASIH PENGANTAR ROMY RAFAEL PENDAHULUAN
BAB 1: Kehidupan Guru Jing Un Tahun 475 BAB 2: Cinta Terlarang Marichzka
BAB 3: Belajar dan Kehidupan Thunderbolt
BAB 4: Annette dan Asal Tanda Lahir di Punggung BAB 5: Bersahabat untuk Saling Menguatkan
BAB 6: Pembunuh Itu Sahabatku Sendiri!
BAB 7: Pelajaran dari Miriam, si Budak Kulit Hitam BAB 8: Belahan Jiwa dan Ks atria Mimpi
BAB 9: Virus HIV/AIDS dan Karma Kehidupan Lalu BAB 10: Penyebab Kanker Otak Tanteku
BAB 11: Belahan Jiwa yang Sejati BAB 12: Aisley Murid Lesku yang Kaya
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN I : Skrip dan Teknik Meregresx Diri LAMPIRAN II : Tanva Jawab RKL
TESTIMONI PROFIL PENULIS
Ucapan Terima Kasih
Buku ini bisa terbit atas bantuan dan dorongan dari berbagai pihak yang telah mendukung saya untuk menuliskan kisah-kisah kehidupan lalu saya dalam sebuah buku. Terima kasih saya ucapkan kepada Romy Rafael yang telah bersedia memberikan kata pengantar khusus untuk buku ini.
Terima kasih juga saya ucapkan kepada sejumlah tokoh dan penulis yang telah
memberikan endorsement yang sangat bagus kepada buku saya ini. Mereka adalah Andy F. Xova, Andrie Wongso, Ade Tri Marganingsih; Adi W. Gunawan, Alexandra Dewi, Andrea Hirata, Dewii Lestari, Gede Prama, Jessica Huwae, Ponijan Liaw, dan Sumarsono Wuryadi.
Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang pernah saya regresi serta memberikan testimoni, sehingga semakin melengkapi isi buku ini. Mereka adalah Paulina, Lvdia Anggariani. Alex Triadi, Joni, Cisca, dan beberapa nama lagi yang tidak bisa disebutkan satu per satu di sini.
Terima kasih terutama kepada Gunawan kekasih saya, yang telah membuat saya berani bermimpi menuliskan kisah-kisah ini hingga menjadi buku. Dia pula yang selalu mendorong dan mendukung saya menjadi seorang hipnoterapis. Terima kasih pula karena telah menjadi sahabat saya dalam perjalanan spiritual ini.
Berikutnva, terima kasih kepada kedua orangtua saya yang telah mengasihi saya dengan tulus dan indah. Terima kasih kepada orangtua Gunawan yang telah memberi dukungan moril dan memberi kepercavaan kepada saya. Terima kasih kepada semua sahabat yang telah menjadi sahabat-sahabat terbaik saya selama ini. Terima kasih atas kepercavaan maupun dukungannva kepada saya hingga detik ini.
Terima kasih juga kepada Edv Zaqeus---editor Pembelajar.com dan Bornrich Publishing---yang telah menjadi editor saya, sehingga buku ini menjadi lebih indah untuk dibaca. Terima kasih untuk bimbingan, saran, dan sharing pengalamannva sehingga buku ini bisa sampai ke tangan para pembaca sekalian.
Terima kasih kepada Anda sekalian yang telah mempercavakan saya untuk mengantarkan Anda ke sebuah perjalanan regresi kehidupan lalu. Dan, terima kasih yang dalam kepada berbagai pihak yang telah membantu proses penerbitan buku ini.
PENGANTAR ROMY RAFAEL
Apakah itu Past Life Regression?
Apakah Anda percaya dengan reinkamasi?
Apakah Anda percaya jika An da adalah orang lain? Apakah Anda dulunya memiliki kehidupan sebelum kehidupan ini?
Dari beberapa pertanyaan di atas, pertanyaan yang paling penting sesungguhnya adalah. bagaimana Past Life Regression (PLR) dapat membantu Anda?
Reinkarnasi adalah kepercayaan yang banyak dipercayai dan dialami oleh banyak orang di seluruh dunia. Dan. semua kepercayaan tersebut memiliki dampak yang positif, yang dapat dimanfaatkan untuk proses penyembuhan di dalam suatu terapi.
Banyak sekali orang mencari jalan dan cara untuk mengetahui siapa, apa, dan bagaimana kehidupan mereka sebelum kehidupan yang sekarang. Nah, sedikit banyak buku ini akan mencoba menjawab tentang pertanyaan kompleks di atas.
Past Life Regression atau dikenal juga dengan istilah Regresi Kehidupan Lalu (RKL)---jika diartikan secara harfiah---adalah sebuah perjalanan ke dalam kehidupan di masa lalu. Itulah masa sebelum kehidupan yang sekarang, yang bisa ditelusuri pada saat Anda berada dalam keadaan terhipnotis.
Dan, sebagian besar dari Anda mungkin tidak akan percaya dengan Past Life Regression. Tapi, sebagian orang juga percaya bahwa jikalau kita meninggaL maka jiwa kita akan berlanjut menempati tubuh yang berbeda.
Dalam budaya berbagai bangsa di belahan dunia ini, banyak sekali diceritakan tentang kehidupan lalu dalam mitologi-mitologi mereka. Makanya tercipta suatu ide dan konsep, bahwa setelah kematian ada sesuatu yang indah, yaitu jiwa kita akan terus hidup di alam kehidupan lainnya sebagai orang yang berbeda.
Itu artinya. setelah kita meninggal, jiwa kita tetap berlanjut menempati tubuh yang berbeda-beda. Sampai akhirnya nanti, tubuh atau wadah biologis yang ditempati tersebut menjadi tua dan sudah tidak layak lagi untuk ditempati.
Jika hal ini terjadi, maka jiwa yang ada di dalamnya akan meninggalkan tubuh tersebut untuk kembali lagi menempati tubuh baru yang berbeda. Dan. siklus ini terus terjadi sampai akhir zaman. Menurut mitologi yang ada, hal ini terjadi agar jiwa yang ada di dalamnya dapat terus belajar dan berkembang dalam setiap kehidupan baru yang dialaminya. Hal ini terjadi untuk satu tujuan, yaitu memperoleh jiwa yang lebih baik dari sebelumnya.
Mungkin, Anda membaca buku ini karena Anda atau orang yang Anda kenal percaya terhadap kehidupan sebelum kehidupan yang sekarang. Saat ini, ada cara yang unik untuk mengetahui kehidupan lalu Anda. Percaya atau tidaknya Anda terhadap kehidupan lalu ini, saya sarankan supaya Anda membuka pikiran terlebih dahulu, dan kemudian mengeksplorasi buku Nathalia Sunaidi ini dengan pikiran terbuka.
Romy Rafael Hypnotherapist
Pendahuluan
Saya mengenal metode Past Life Regression (PLR) atau Regresi Kehidupan Lalu (RKL) pertama kali dari sebuah buku. Sejak saat itu, saya jadi sangat tertarik dan mulai mendalami hipnoterapi secara serius. Pada awal saya mencoba, saya gagal meregresi diri saya ke kehidupan lalu. Setelah sekian kali gagal, saya terus memaksakan diri saya untuk latihan secara teratur.
Akhimya, saya pun bisa masuk ke berbagai kehidupan lalu saya secara lengkap dan detaiL Saya bahkan bisa memajukan dan memundurkan waktu di kehidupan lalu tersebut supaya bisa menggali lebih banyak detail peristiwa dan pelajarannya.
Saat pertama kali bisa masuk ke salah satu kehidupan lalu saya secara jelas dan detail, saya merasa sangat tidak yakin apakah itu benar-benar merupakan kehidupan lalu saya. Jangan-jangan, itu hanyalah imajinasi saya belaka. Seribu tanda tanya langsung berkecamuk dalam benak dan pikiran saya
Bila kehidupan lalu itu sekadar imajinasi saya, mengapa gambar-gambar yang saya lihat sangat detail? Mengapa pula perasaan-perasaan yang muncul dan melingkupi gambaran kehidupan lalu saat itu juga sangat kuat?
Kalau itu fantasi semata, mengapa saya "memilih" skenario menjadi seorang nelayan yang mati dibunuh---ini merupakan salah satu kehidupan lalu saya di Thailand---yang hidupnya biasa-biasa saja, yang setiap hari kerjanya hanya memintal jala dan pergi menangkap ikan? Mengapa saya tidak "memilih" skenario sebagai seorang putri raja yang disunting pangeran yang gagah dan tampan?
Lagi-lagi. kalau itu semua hanya imajinasi saya, mengapa saya bisa tahu secara jelas berbagai profesi dan keahlian yang tidak pernah saya pelajari sebelumnya? Tapi, kalau itu benar-benar kehidupan lalu saya, bagaimana mungkin orang biasa seperti saya mampu melihat kehidupan lalu? Bukankah hanya orang-orang dengan tingkat kesucian dan pemahaman religi tertentu yang mampu melihat kehidupan lalu? Bagaimana mungkin melihat kehidupan lalu bisa semudah itu?
Sungguh, saat itu saya benar-benar bingung. Saya ada di persimpangan antara meneruskan latihan saya dan belajar lebih dalam lagi; atau ]ustru menghentikan semuanya karena bisa saja ini merupakan "kegilaan" yang berbahaya.
Pada sebuah kesempatan, saya mulai berani mendemonstrasikan regresi kehidupan lalu
saya di hadapan sahabat-sahabat saya. Saya masuk ke kondisi trans (trance) dan masuk ke dalam
tiga kehidupan lalu saya: sebagai nelayan di Thailand, sebagai perempuan di Belanda, dan menjadi seorang biku.
Dalam kehidupan lalu saya di Thailand saya menjadi seorang nelayan yang mati dibunuh oleh nelayan lainnya. Ternyata, si pembunuh saya di kehidupan lalu itu tak lain adalah sahabat saya sendiri di kehidupan sekarang, yang saat itu ada di ruangan bersama saya!
Dalam kehidupan lalu saya sebagai bocah perempuan kecil di Belanda. kepribadian saya langsung berubah. Dalam kondisi trans dan masuk di kehidupan lalu, saya bisa bertingkah dan bersuara seperti anak keciL
Itu terjadi ketika saya menangis dan merengek-rengek meminta dibeHkan kue kayu mams. Dan, menjelang saat-saat kematian saya di usia tua, suara saya langsung berubah menjadi lemah dan lirih seperti kehabisan tenaga. Persis seperti suara orang tua yang sedang menghadapi sakratul maut!
Lalu saat masuk ke kehidupan lalu yang lain, saya adalah seorang biku yang tengah melewati sebuah perkampungan yang baru saja didera pembunuhan massal Sahabat-sahabat saya di ruangan itu larut dalam suasana yang sangat mencekam. Sebab, saya mampu menggambarkan dengan detail kengerian pada saat pembantaian massal terhadap perempuan dan anak-anak itu terjadi.
Pada saat itulah, saya menyadari bahwa saya bukanlah seorang aktris atau ahli peran. Saya tidak mungkin bisa membuat kisah-kisah tersebut secara line dan real time, serta memerankannya dalam ekspresi-ekspresi wajah maupun emosi yang sangat kuat. Berikutnya? saya mulai percaya dan yakin bahwa kehidupan lalu itu benar-benar bisa dilihat asalkan kita mengetahui metode yang tepat untuk masuk ke kehidupan lalu.
Untuk memperkuat keyakinan saya itu, saya mulai mengadakan riset dan pembuktian. Saya adalah tipe orang yang sangat logis dan rasional dalam menghadapi hal-hal semacam ini. Maka dari itu, saya mencoba mencari pembuktian atas kisah kehidupan lalu saya.
Pada salah satu kehidupan lalu saya yang lain, saya lahir sebagai anak perempuan di daerah Sunda yang sehari-harinya berbicara dengan bahasa Sunda. Dalam kisah kehidupan lalu saya tersebut, saya meninggal pada usia dua belas tahun karena keracunan
ketela. Saya sempat mengingat beberapa kalimat yang saya dengar dan saya ucapkan di kehidupan lalu itu.
Lalu, saya bertanya kepada beberapa teman yang mengerti bahasa Sunda. Tapi sayang, mereka tidak ada satu pun yang mengerti arti kata yang saya ucapkan itu. Entah kata-kata yang saya ucapkan itu kata-kata-kata-kata bahasa Sunda kuno atau apa, yang pasti teman-teman saya tidak tahu artinya.
Berikutnya. sungguh tidak mudah untuk mencari keabsahan angka-angka tahun yang tergambar dalam kehidupan lalu serta relevansinya dengan masa-masa kehidupan lalu saya. Masalahnya, kadang angka-angka tahun itu begitu kabur gambarannya sehingga ada peluang cukup besar untuk tidak yalid.
Saat itu, keyakinan saya pada regresi kehidupan lalu mulai goyah lagi. Walau begitu, karena rasa ingin tahu yang sangat besar, saya terus mendalami regresi kehidupan lalu. Suatu ketika, dalam sebuah buku saya temukan cara pemaknaan kisah-kisah kehidupan lalu. Buku itu jelas menyatakan, bahwa untuk membuktikan eksistensi kehidupan lalu bukanlah dengan cara mencari data-data konkritnya. Tapi, bukti itu bisa diperoleh dengan cara bertanya kepada diri sendiri, "Apakah kehidupan lalu yang dilihat itu memberikan pengaruh penyadaran dan pembelajaran bagi kehidupan sekarang ini?"
Jadi intinya, apabila kehidupan lalu memberikan pelajaran dan pencerahan baru, maka kehidupan lalu itu benar adanya. Itulah bukti eksistensi kehidupan lalu yang absah.
Luar biasa! Inilah dasar kesadaran yang saya butuhkan selama ini dalam upaya saya memahami kehidupan lalu saya. Buku itu menyadarkan saya bahwa selama ini saya telah mencari keabsahan arti kehidupan lalu pada tempat yang salah. Saya menghabiskan waktu dan energi untuk mencari data pembuktian yang sangat sulit ditemukan. Akibatnya, saya malah melupakan tujuan utama dari melihat kehidupan lalu, yaitu untuk mengalami proses pembelajaran spiritual, demi menambah pemahaman dan kesadaran yang memberikan dampak positif serta kesembuhan pada kehidupan sekarang ini.
Sekarang, saya percaya bahwa yang saya lihat itu adalah kehidupan lalu saya. Karena. pengalaman kehidupan lalu itu telah memberi kesembuhan bagi saya, dan juga membawa saya kepada pemahaman-pemahaman baru melalui pelajaran-pelajaran yang diperlihatkannya.
Buku ini berisi 12 kisah kehidupan lalu pilihan saya, yang saya tuliskan dalam bentuk tanya jawab dengan diri saya sendiri (T & J). Mengapa dituliskan dalam bentuk tanya jawab, karena memang begitulah yang terjadi pada saat saya menggali informasi---dengan metode self hypnosis----dalam regresi kehidupan lalu saya.
Saya menulis buku ini dengan tujuan untuk berbagi pengalaman memasuki kehidupan lalu melalui alam pikiran kita sendiri. Bukan hanya berbagi pengalaman tentang kehidupan lalu, tetapi juga berbagi pemahaman dan kesadaran yang saya dapatkan sebagai hasil dialog dengan superconscious mind . Menurut saya, dari proses regresi tersebut, banyak nilai-nilai kehidupan yang baik serta uniyersal yang bisa kita pelajari.
spiritual yang sangat mengagumkan dan penuh makna. Sebuah journej yang menyembuhkan, merevolusi pikiran kita ke arah yang lebih baik, dan akan kita ingat seumur hidup kita. Sebuah journej yang menyembuhkan bagi kita dan orang lain. Dan, semuanya itu ada di dalam pikiran kita. Semoga buku ini sungguh-sungguh bermanfaat bagi kita semua. Salam.
"Sebuah tekad yang telah ditetapkan, diputuskan, dan menjadi komitmen diri,
akan menjadi komando bagi semua elemen pikiran untuk mewujudkan tekad itu sendiri."
bab 1 Kehidupan Guru Jing Un Tahun 475
Suatu hari saya sedang berjalan-jalan di sebuah toko buku. Tanpa sengaja, saya menemukan sebuah buku tentang reinkarnasi. Isinya kumpulan kisah-kisah kehidupan lalu ( past liyes ) orang-orang Amerika yang datang kepada seorang hipnoterapis. Saat itu, saya sepertinya langsung lompat-lompat kegirangan. Saking bahagianya saya! Entah mengapa saya merasa seperti menemukan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup saya.
Buku itu langsung habis terbaca hanya dalam waktu beberapa hari. Setiap halaman yang saya baca membuat saya semakin tertarik dengan hipnoterapi. Saya pun memutuskan mencari tahu lebih banyak tentang metode ini, khususnya yang membahas past liyes , reinkarnasi, dan metode untuk masuk dalam kehidupan lalu tersebut. Orang mengenal metode ini dengan nama Past Life Regression (PLR) atau Regresi Kehidupan Lalu (RKL).
Semua buku tentang hipnoterapi yang saya temukan langsung saya beli dan saya lahap habis. Metode atau cara-cara untuk masuk ke kehidupan lalu yang diajarkan oleh buku-buku itu langsung saya pelajari dan praktikkan. Tak berapa lama kemudian, akhirnya saya sudah bisa masuk ke kehidupan lalu saya, dan saya bisa terkoneksi kepada superconscious mind saya---sumber kebijaksanaan yang sudah ada di dalam diri kita sendiri---dan melihat future liyes (kehidupan masa depan) saya. Rasanya, makin hari makin besar minat saya terhadap bidang ini.
Kemudian, saya mulai mencoba mempraktikkan regresi ke kehidupan lalu ini ke orang lain. Saya bawa sahabat saya kepada kehidupan lalunya dan membimbing dia untuk terkoneksi ke dalam superconcious wind Hasilnya? Luar biasa! Banyak perubahan yang terjadi pada dirinya. Sahabat saya ini juga sangat berterima kasih pada saya karena telah membawanya ke sebuah perjalanan spiritual yang ada di dalam pikirannya sendiri. Perjalanan spiritual itulah yang akhirnya mengubahnya menjadi seseorang yang benar-benar baru sama sekali.
Seumur hidup saya, baru sekali itulah saya merasakan ada seseorang yang begitu berterima kasih kepada saya dengan cara yang luar biasa tulus.
Dia berterima kasih dengan hatinya. Dia berterima kasih dengan berubah menjadi seseorang yang lebih baik. Dia berubah menjadi lebih baik.
Tak berapa lama kemudian. saya dengan sahabat saya ini mengatur suatu pertemuan untuk memberi tahu sahabat-sahabat kami yang lainnya mengenai penemuan yang luar biasa ini. Lalu, satu demi satu sahabat-sahabat terdekat saya bawa ke kehidupan lalu mereka dengan metode hipnoterapi. Banyak hal menank saya temukan dalam aktiyitas tersebut. Saya menyaksikan sendiri betapa sahabat-sahabat saya akhirnya menemukan pelajaran berharga dari perjalanan spiritual mereka.
Ketika saya melihat sahabat-sahabat saya---yang dengan sangat bahagia dan luar biasa penuh semangat menceritakan perjalanan kehidupan lalu dan hasil dialog dengan
superconscious mind mereka kepada teman-teman lainnya---saat itu saya baru menyadari tentang kekuatan memberi.
Andaikan setiap orang bisa melihat kehidupan lalunya dan melihat bahwa mereka telah berulang-ulang kali terjebak dalam masalah yang sama---tanpa pernah tahu cara melewatinya... Andaikan mereka bisa terkoneksi dengan superconscious wind sebagai tempat mencari jawaban bagi segala pertanyaan dan kegalauan hatinya...
Dan, kalau saja mereka bisa masuk ke future lines untuk melihat pilihan-pilihan terbaik mana yang harus diambil untuk pertumbuhan diri yang maksimal.. Pastilah, mereka semua akan menjadi orang-orang yang lebih bahagia.
Sungguh, melakukan perjalanan ke kehidupan lalu merupakan sebuah pengalaman yang sangat menarik. Karena perjalanan ini merupakan perjalanan spiritual di dalam pikiran kita sendiri. Inilah perjalanan spiritual yang menyembuhkan, mereyolusi pikiran kita ke arah yang lebih baik, dan pastinya akan kita ingat sampai akhir hayat kita.
Di sini saya ingin berbagi cerita tentang perjalanan ke kehidupan lalu yang pernah saya lakukan. Kisah perjalanan ke kehidupan lalu ini saya awali dengan rumusan pertanyaan: "Bagaimana kehidupan laluku sehingga di kehidupan yang sekarang aku jadi sangat tertarik dengan hipnoterapi?"
Untuk memudahkan Anda mengikuti perjalanan saya itu, saya menggunakan cara penulisan tanya (T) dan jawab (J) dengan gaya bahasa orang pertama. Inilah hasil regresi kehidupan lalu saya dengan diri saya sendiri melalui metode hipnosis.
T : Bisakah kamu melihat dirimu?
J : Ya. Aku memakai jubah dan kepalaku botak. Aku seorang biku. T : Sekarang kamu jedang berada di mana?
J : Di wihara.
T : Bisakah kamu ceritakan tentang wihara ini?
J : Wihara ini terletak di atas gunung yang jauh dari pemukiman penduduk sekitarnya. Udara di sini sekarang sangat dingin.
T: Siapa namamu?
J : Kedengarannya seperti Jing Un.
Murid-muridku memanggilku Guru Jing Un.
T: Kamu ada di negara mana dan pada tahun berapa? J : Cina. Saat ini tahun 4~5-an. Tapi, aku tidak yakin... T : Sejak kapan kamu tinggal di wtbara ini?
J : Aku sudah tinggal di wihara ini sejak keciL Aku sangat menyukai kehidupan di sini. T: Bisa kamu ceritakan kigiatanmu sehari-hari di sini?
J : Tugas kami adalah menjalankan rutinitas sehari-hari seperti menyapu, memasak, dan latihan meditasi. Tapi sekarang, aku lebih banyak bermeditasi.
T: Kita maju beberapa waktu ke depart untuk mencari tahu mengapa dalam kehidupan yang sekarang kamu sangat tertarik dengan hipnoterapi Apa yang sedang kamu lakukan saat ini?
J : Aku sedang menyapu di pelataran wihara. Tiba-tiba angin bertiup kencang dan menerbangkan debu yang sangat banyak. Aku langsung berpikir, begitu banyak makhluk yang sedang tidak tahu arah, berputar-putar, mengulangi kehidupan yang berulang-ulang, dan kembali kehilangan arah. Seperti debu-debu yang tertiup angin ini. Andaikan mereka bisa mengetahui bahwa mereka telah berputar-putar dalam kesalahan yang sama... Andaikan mereka bisa melihatnya dari kehidupan-kehidupan lalu sehingga mereka tidak perlu melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang kali. Andaikan ada cara bagi mereka untuk bisa menemukan kebijaksanaan dalam diri mereka, yang bisa menuntun arah hidup serta menjadi pegangan pada saat mereka kehilangan arah...
T : Lalu, apa jang kamu lakukan?
J : Sejak saat itu aku terus menerus bermeditasi. Aku mencari cara untuk bisa melihat kehidupan kehidupan lalu dan terkoneksi dengan kebijaksanaan tertinggi dalam diriku. T: Apa akkirnya kamu berhasil menemukan caranya?
J : Setelah cukup lama mencari dan berlatih, akhirnya aku berhasil menemukan caranya. Aku membawa murid-muridku ke kehidupan lalu mereka. Dari situ mereka bisa mengetahui kesalahan-kesalahan apa yang telah mereka lakukan terus-menerus sehingga mereka bisa melewatinya.
T: Lalu, apakah hal ini jang terbawa dalam kehidupanmu jang sekarang sehingga kamu sangat berhasrat dengan hipnoterapi?
J : Ya. Setelah sekian lama aku mengajari murid-muridku untuk melihat kehidupan lalu mereka, kemudian aku berpikir, kalau aku hanya bisa memberi tahu dan mengajari murid-muridku di wihara ini, sangatlah terbatas. Andaikan aku bisa memberi tahu umat awam lainnya yang jumlahnya jauh lebih banyak. Pasti akan lebih banyak yang terbantu. Karena itulah, aku bertekad untuk bisa terlahir sebagai umat biasa yang mempunyai kemampuan melihat kehidupan lalu dan terkoneksi ke kebijaksanaan tertinggi. Aku ingin bisa memberi tahu dan membimbing umat lainnya melakukan hal ini.
Dari regresi tersebut saya jadi mafhum kenapa saya memiliki hasrat yang sangat kuat untuk menjadi seorang hipnoterapis. Kemudian, saya bertanya kembali apakah ada kehidupan lalu saya lainnya yang memperkuat hasrat saya tersebut. Inilah hasilnya.
T : Bisakah kamu melihat dirimu?
J : Ya. Pakaianku hanya berupa lilitan kain berwarna kuning yang menutupi kemaluanku dan lipatan kain di kepalaku.
J : Laki-laki. Umurku lima belas tahun. T : Kamu sekarang berada di negara mana? J : Kota Namaskar. Sepertinya di India. T : Pada tahun bsrapa?
J : Tahun 300-an.
T : Apa kegiatan kamu sehari-hari?
J : Sehari-hari aku bekerja sebagai petani. T : Ceritakan tentang kehidupanmu?
J : Aku tinggal bersama orangtuaku di rumah kayu yang kecil di tengah ladang. Aku sangat gemar bermeditasi. Biasanya, aku bermeditasi di rumah. Tapi, bila aku ingin lebih tenang aku akan pergi ke gua di atas bukit.
T: Sekarang kita maju beberapa tahun ke depan untuk mengetahui apa yang kamu lakukan dabm hidupmu. Apa yang sedang kamu lakukan?
J : Aku sedang bermeditasi di gua. Aku sudah menetap di gua ini tapi latihan meditasiku belum fokus. Aku masih sering merasa bosan dan pergi keluar untuk bersantai.
T: Kita maju beberapa tahun untuk melihat pencapaian terbesar dalam hidubmu sebagai pertapa. Apa yang kamu lihat
J : Aku sedang duduk bermeditasi di gua.
T: Apakah ada jang berbeda pada dirimu sejak terakhir kali aku bertanya padamu ?
J : Ya. Aku kurus, berjenggot panjang, berkumis, dan rambut ikalku yang berwarna hitam terurai panjang.
T : "Lalu, apa jang kamu lakukan J : Aku melompat-lompat bahagia. T : Mengapa kamu melompat-lompat?
J : Aku sangat bahagia karena aku sudah menemukan pengertian tentang perjalanan jiwa yang lahir kembali terus-menerus untuk penyempurnaan. Kemudian, aku menyebarkan pemahaman ini kepada orang-orang.
T : Apakah orang-orang menerima pemahaman ini? J : Ya. Mereka mau menerimanya.
T: Dari mana kamu tahu orang-orang menerima pemahaman kamu?
J : Aku sedang duduk di bawah pohon dan mengajar banyak orang. Aku membuat mereka trans dan membimbing mereka masuk ke kehidupan lalu mereka. Setelah itu, ada yang melompat-lompat bahagia karena mereka mendapatkan pencerahan. Dari sini aku tahu mereka menerima ajaranku. Banyak orang sakit datang kepadaku. Aku menyuruh mereka
fokus pada penyakit mereka, dengan menunjuk tempat yang sakit, lalu aku membawa mereka masuk ke kehidupan lalu yang menjadi akar penyebab sakit mereka.
T: Apakah dengan demikian sakit mereka tersembuhkan?
J : Ya. Mereka kemudian menjadi tercerahkan dan tersembuhkan secara spiritual. Tidak penting apakah penyakit mereka tersembuhkan atau tidak. Yang terpenting, mereka mengetahui akar penyebab sakit yang mereka derita. Dan, mengerti maksud pelajaran dari sakit mereka tersebut. Sayangnya, aku hanya bisa mengajarkan dan menyembuhkan kaum laki-laki. Banyak perempuan datang kepadaku untuk belajar atau minta disembuhkan. Tapi, karena aku seorang yogi maka aku tidak boleh berada bersama perempuan.
T: Lalu, apa kaitan antara hal tersebut dengan kehidupanmu yang sekarang!
J : Karena hal itulah, dalam kehidupanku sebagai yogi aku bertekad supaya pada kehidupan sekarang aku terlahir sebagai perempuan. Ini supaya aku bisa membantu para perempuan lainnya untuk belajar dan disembuhkan.
T: Sekarang, kita maju ke saat-saat terakhir kehidupanmu sebagai seorang yogi Bagaimana proses kematianmupada akhir kehidupanmu?
J : Aku lihat, aku meninggal karena usia tua. Aku meninggalkan tubuhku pada saat aku tidur di sebuah dipan kayu.
Dari regresi ini saya belajar tentang kekuatan tekad. Betapa kekuatan tekad itu tidak mengenal batas waktu. Sebuah tekad yang telah ditetapkan, diputuskan, dan menjadi komitmen din. akan menjadi komando bagi semua elemen pikiran untuk mewujudkan tekad itu sendiri.
Cara kerja kekuatan tekad seperti seorang mandor yang memerintahkan semua elemen pikiran supaya selalu wasp ada dan menangkap setiap peluang untuk mewujudkan mimpi yang telah ditekadkan. Kekuatan tekad itulah yang menuntun kita menemukan "kebetulan-kebetulan" ( possibilities ) keberuntungan-keberuntungan, dan pertemuan-pertemuan tidak terduga. yang semua hal-hal itu semakin mendekatkan kita pada mimpi-mimpi yang telah kita tekadkan.
Kekuatan tekad itu pulalah yang menuntun setiap langkah saya untuk menemukan regresi kehidupan lalu melalui metode hipnoterapi.
Entah mengapa saya seperti dipertemukan terus-menerus dengan hal-hal yang berhubungan dengan regresi kehidupan lalu dan metode hipnoterapi. Saya seperti dituntun selangkah demi selangkah untuk menjadi seorang hipnoterapis yang spesialisasinya adalah untuk menelusuri kehidupan lalu.
Tanpa saya sadari, kekuatan tekad yang telah saya tanamkan di kehidupan lalu saya telah menuntun saya untuk meraih impian yang telah saya tekadkan sebelumnya. Tekad itu adalah mengantarkan orang orang kepada kehidupan lalu dan menghubungkan mereka dengan kebijaksanaan tertinggi dalam diri mereka.
memerintahkan semua elemen pikiran untuk mewujudkan mimpi itu. Betapa besar kekuatan sebuah tekad! Sudahkah Anda menanamkan sebuah tekad di dalam mimpi Anda?"
bab 2 Cinta Terlarang Marichzka
Entah mengapa saya seperti tidak pernah sepaham dengan ibu saya. Saya sulit bertukar pikiran dengannya karena pemikiran kami benar-benar berbeda. Kadang saya merasa ibu terlalu memaksakan pemikiran-pemikirannya pada saya. Bila sikap saya tidak sesuai dengan pemikirannya, maka ibu akan menilai saya tidak menyayanginya. Saya dan ibu sering bertengkar. Tak jarang pertengkaran itu berakhir dengan ucapan-ucapan bernada tinggi.
Kesalahpahaman kecil saja bisa menjadi pertengkaran hebat di antara kami. Saya merasa ibu selalu meributkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan. Akibatnya, ucapan-ucapan ibu sering membuat emosi saya meninggi. Setiap kali itu terjadi, saya selalu merasa menyesal Saya merasa tidak mampu menahan emosi.
Sesungguhnya, saya sangat mengasihi ibu saya. Itu jelas, karena beliau adalah seorang ibu yang baik bagi saya. Dan, saya tahu persis ibu pun pasti sangat menyayangi saya. Saya juga tahu, ibu menyayangi saya bahkan melebihi hidupnya sendiri. Hanya saja cara berpikir kami sangatlah berbeda.
Semenjak saya masih remaja, ibu tidak pernah menyetujui hubungan saya dengan kekasih saya. "Dia bukan laki-laki yang sesuai untuk kamu," begitu ibu selalu berkata. Bagi saya, kekasih saya itu adalah laki-laki yang baik, pengertian, dan bisa membimbing saya. Bagi saya, kekasih saya ini baik kalau dilihat dari cara dia berpikir serta kemurahan hatinya yang mengagumkan. Tetapi, ibu saya menilai seorang laki-laki itu baik (untuk putrinya) dari kemapanan hidupnya. Walaupun saya mengerti semua itu dilakukannya untuk kebahagiaan saya. Tapi rasanya, penilaian saya dan penilaian ibu sungguh-sungguh berbeda.
Ibu selalu menuntut anak perempuan semata wayang ini berpenampilan semenarik mungkin. Ibu ingin saya menata rambut dan merawat wajah sebaik mungkin. Ibu selalu meminta saya supaya bisa memaksimalkan penampilan. Tetapi, saya sendiri lebih suka belajar memaksimalkan nilai-nilai dalam diri saya. Saya ingin bisa memberi kesembuhan dan membuat orang lain bahagia.
Perbedaan-perbedaan pandangan itulah yang membuat saya sering merasa tertekan. Di sisi lain, saya juga merasa tidak pernah mampu membuat ibu saya bahagia. Akibatnya, saya selalu menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa menjadi anak yang baik di mata ibu saya, betapa pun kerasnya saya berusaha.
Saya sangat menyayangi ibu saya. Saya juga ingin menjadi yang terbaik di matanya, memberikan yang terbaik untuknya, karena saya tahu ibu sangat mencintai saya dan ingin yang terbaik dalam hidup saya. Tapi tetap saja, kami tidak bisa sepaham dalam banyak haL Kami saling mencintai, tapi kami juga sering saling menyakiti.
Saya selalu percaya bahwa setiap situasi yang terjadi pasti ada alasannya. Pasti bukan kebetulan saja kalau saya "memilih" dilahirkan menjadi anak ibu saya. Untuk mengetahui alasan-alasan di balik konflik-konflik saya dengan ibu, saya coba meregresi diri saya ke
kehidupan lalu, dalam kaitannya dengan keberadaan ibu saya. Beginilah kisahnya dan jawaban apa yang saya dapat.
T : Apa jang kamu lihat?
J : Aku berada di sebuah bukit hijau yang sangat indah. T : Bisakah kamu melihat dirimu?
J : Ya. Aku seorang gadis remaja. Aku memakai baju terusan model Eropa. T: Siapa namamu?
J : Marichzka. Ehm, ada seseorang yang datang menghampiriku. T : Siapa jang datang menghampirimu?
J : Seorang laki-laki. Rambutnya pirang dan berjambul Dia adalah Daniello. Dia kekasihku.
T : .Apa maksud kedatangannya?
J : Dia hanya ingin bertemu denganku. Kami bersenda gurau di hamparan rerumputan nan hijau. Dia memberiku bunga-bunga. Aku sangat bahagia.
T : Setelah itu, apa jang kamu lakukan?
J : Aku pulang ke rumah. Sampai di rumah, ibu memarahiku. Ibuku dalam kehidupan ini adalah ibuku dalam kehidupan yang sekarang.
T : Mengapa ibumu memarahimu?
J : Dia tidak menyetujui hubunganku dengan Daniello. Katanya, dia bukan laki-laki yang tepat untukku. Daniello tidak memiliki apa-apa. Aku menangis dan berlari ke kamarku. T : Lalu, apa jang kamu lakukan?
J : Daniello tahu ibuku tidak menyetujui hubungan kami berdua. Makanya, Daniello berencana mengajakku pergi dari rumah dan tinggal bersamanya.
T : Apa kamu menyetujui ajakannya?
J : Ya. Daniello memintaku menunggu di gudang. Dia datang dan membawaku pergi. Kami berjalan melewati hutan. Udara malam ini sangat dingin dan aku sangat takut. Rencananya, kami akan menikah dan tinggal di sebuah rumah, jauh dari temp at tinggal ibuku.
T : Apa kalian berhasil?
J : Kami telah berjalan cukup jauh. Daniello tertidur karena lelah. Aku tidak bisa tidur karena sangat gelisah. Lalu, tiba-tiba datang sekelompok laki-laki menangkap kami.
T: Siapa mereka?
J : Mereka adalah orang-orang suruhan ibuku. T : Lalu, abajang mereka lakukan pada kalian?
J : Mereka membawa kami kembali ke rumah ibuku. Ibu memarahiku dan Daniello dengan kasar sekali.
T : Apa reaksi Daniello?
J : Daniello berkata bahwa dia hanya ingin aku bahagia. Tapi, ibuku malah terus memarahinya. Lalu, Daniello pergi. Dia sakit hati pada ibuku.
T: Sekarang, kita maju beberapa saat untuk melihat bagaimana kehidupanmu setelah kejadian malam itu. Apa jang terjadi?
J : Setelah kejadian malam itu, aku kembali ke kehidupanku bersama ibu.
T: Sekarang kita maju ke saat penting di kehidupan Marichka. Apa yang kamu lihat? J : Sekarang sudah larut malam. Daniello yang sedang mabuk memaksa masuk ke rumah kami. Dia membawa pisau. Dia mengancam ibuku... Aku dan ibuku sangat ketakutan! T : Apa yang Daniello lakukan selanjutnya?
J : Dia pergi dan aku tidak pernah melihatnya lagi.
T: Kita maju beberapa tahun ke depan untuk melihat bagaimana kehidupanmu setelah kepergian Daniello. Apa jang kamu lakukan saat ini?
J : Aku memutuskan untuk bekerja di kota. Aku bekerja di sebuah toko roti. Setiap minggu aku pulang ke rumah ibuku. Aku merasa ini adalah caraku bebas dari ibuku.
T : Adakah kejadian menarik jang terjadi saat ini?
J : Ibuku marah-marah dan mendatangi toko roti tempat aku bekerja. Ibu memaksaku pulang. Alasannya, ibu mendengar perkataanku kepada seorang tetangga bahwa aku merasa senang bisa bebas dari ibuku. Ibuku sakit hati dan marah besar.
T: Ada kejadian beating lainnya jang sedang terjadi?
J : Ya. Aku berkenalan dengan seorang laki-laki langganan toko roti tempat aku bekerja. Dia seorang pedagang yang sukses. Kami saling menyukai.
T: Apakah kamu menceritakan tentang ibumu kepadanya?
J : Ya. Ketika hubunganku dengan pedagang itu mulai serius, aku cerita padanya tentang sifat-sifat ibuku.
T: Bagaimana reaksinya?
J : Betapa membahagiakan, dia tetap memintaku menjadi istrinya, walaupun dia tahu sifat ibuku. Dia datang ke rumah ibuku untuk memohon restu pernikahan kami.
T : Tanggaban ibumu terhadap laki-laki ini?
J : Ibuku menyukainya dan langsung menyetujui rencana pernikahan kami. T : Apa kemudian kalian menikah?
T: Sekarang, kita akan maju ke saat terjadinya peristhya penting antara kamu dan ibumu. Apa jang kamu lihat?
J : Ibuku sedang sakit. Ibu merasa ajalnya sudah dekat. Ibu meminta maaf padaku karena selalu menyalahkan dan memaksakan kehendaknya padaku. Ibu berbuat seperti itu kepadaku karena ketidakpuasannya terhadap hidupnya sendiri. Ayahku memnggalkannya. dan karena itulah ibu selalu menumpahkan kekesalannya padaku. Ibu memaksakan pada diriku hal-hal yang tidak pernah bisa ibu raih dalam hidupnya. Itu dilakukannya karena ibu ingin kami hidup lebih bahagia. Setelah kami saling memaafkan, ibu meninggaL
T: Coba kita ulas kehidupan lalumu sebagai Marichszka dan keterkaitannya dengan kehidupanmu yang sekarang. Apa ada hubungannya?
J : Pola yang sama terulang kembali. Hubunganku yang kurang baik dengan ibuku di kehidupanku sebagai Marichzka terulang kembali di kehidupan sekarang.
T: Mengapa pola ini terulang kembali dahm kehidupan yang sekarang! J : Karena aku belum melewati pelajarannya.
T: Apa pelajaran jang belum kamu lewati di kehidupan lalumu sebagai Marichszka? J : Pelajaran untuk diam dan tidak bereaksi pada saat munculnya kemarahan.
T: Bagaimana semestinya sikapmu terhadap ibumu dalam kehidupan lalumu sebagai Marichszka?
J : Semestinya, aku lebih mencintainya lagi. Aku seharusnya membuang semua prasangka burukku kepada ibu. Dan, harusnya aku lebih sering menghabiskan waktuku bersamanya. T: Lalu, bagaimana semestinya sikapmu pada ibumu dalam kehidupan jang sekarang! J : Aku seharusnya diam dan tidak bereaksi pada saat ibuku marah. Karena, sebenarnya ibu sedang menumpahkan kekalutan pikirannya sendiri. Semestinya aku menjadi lebih mencintainya karena di balik kemarahannya, ibu hanya ingin lebih bahagia dan hanya cara itulah yang ibu ketahui.
T: Dalam kehidupan sekarang apa jang harus kamu ingat dan lakukan ketika ibumu marah?
J : Ibu hanya ingin bahagia. Aku bisa memilih untuk lebih mencintai ibuku dan membuatnya bahagia dengan cara diam dan tidak bereaksi. Dengan demikian kemarahannya akan mereda.
Regresi ini telah membuat saya mengetahui akar konflik saya dengan ibu. Saya bisa memetik sebuah pelajaran tentang aksi dan reaksi (ingat hukum sebab akibat) yang terjadi dalam setiap kemarahan. Saat ibu marah, saya menyadari itu adalah aksi dari sebuah kemarahan. Dan setiap aksi yang timbul pasti akan tenggelam.
Aksi kemarahan ibu pun cepat atau lambat pasti akan tenggelam. Tapi, bila saya bereaksi maka saya akan menimbulkan sebuah aksi baru yang akan memancing sebuah reaksi yang baru pula dari ibu. Bila hal ini diteruskan, siklus kemarahan akan menjadi
sangat panjang.
Sekarang, saya menjadi jauh lebih sabar menghadapi sikap-sikap ibu. Setiap kali ibu marah pada saya, saya tidak lagi serta-merta bereaksi seperti dulu sebelum regresi. Saya hanya mengamati kemarahan ibu saya dan bertanya pada diri sendiri, "Apakah kemarahan itu memang karena kesalahanku atau itu hanyalah luapan emosi ibu yang sedang ingin menumpahkan kekalutan pikirannya sendiri?" Saya jadi mampu menahan diri. Dan, semua ini sangat tidak mungkin saya lakukan sebelum saya melihat kehidupan lalu saya bersama ibu.
Sebagian besar kemarahan seseorang merupakan luapan kekalutan pikirannya sendiri. Mereka hanya perlu didengarkan dan luapan emosi itu hanya perlu dikeluarkan. Dengan menjadi pendengar yang baik bagi kemarahan seseorang, kita sudah menjadi seorang "terapis" yang menyembuhkan kemarahan orang lain. Dengan menyadari bahwa setiap aksi kemarahan yang muncul pasti akan musnah dengan sendirinya, maka diam dan tidak bereaksi pada saat munculnya kemarahan adalah sebuah sikap yang sangat bijaksana.
"Segala sesuatu pasti akan berlalu.
Kemarahan pun akan berlalu. Diam dan
jangan bereaksi."
"Saya menemukan bahwa
melakukan yang terbaik bagi diri
kita---melakukan sesuatu untuk
sebuah tujuan yang
baik---sudah bisa menjadikan
kita sebagai seorang anak yang
bab 3 Belajar dari Kehidupan Thunderbolt
Dimasa kanak-kanak, saya sangat dekat dengan ayah. Bagi saya, ayah adalah orang yang hebat dan serba bisa. Bila saya mempunyai pertanyaan-pertanyaan dia pasti mempunyai jawaban-jawaban yang bagus. Ayah selalu siap membantu saya setiap saat. Ayah pula yang memasangkan komputer pertama saya, dan dia selalu siap menjemput saya di mana saja bila saya memintanya.
Bagi saya, dia memang seorang ayah yang sangat bertanggung jawab. Dia biayai apa pun kursus yang saya mau. Dia juga selalu memperhatikan kebutuhan sehari-hari saya. Bahkan, ayah jugalah yang biasanya memasakkan bubur untuk saya saat saya sedang sakit. Waktu itu, saya melihatnya sebagai ayah yang super hebat.
Beranjak dewasa dan mulai memasuki bangku kuliah, saya mengikuti berbagai seminar serta memulai usaha pertama saya.
Awalnya, saya sering mendiskusikan hal-hal yang saya dapatkan dari berbagai seminar itu dengan ayah. Tapi, semakin saya membahasnya, semakin saya sadari bahwa respon ayah cenderung menolak hal-hal baru. Ayah berpendapat bahwa gagasan-gagasan yang saya dapat dari seminar itu sulit diterapkan.
Sementara soal usaha yang saya rintis, ayah suka berkomentar bahwa usaha tersebut tidak akan menguntungkan. Menurut ayah, saya tidak mungkin bisa berhasil melalui bisnis itu. Saya merasa, semakin banyak pertanyaan saya yang tidak bisa lagi dijawab oleh ayah. Tidak ada lagi jawaban-jawaban yang bagus seperti waktu saya bertanya pada ayah di masa kanak-kanak saya. Akhirnya, saya pun tidak bisa lagi berdiskusi dengannya karena pemikiran kami sudah banyak perbedaannya.
Perubahan dan ketidakcocokkan itu sungguh mengganggu pikiran saya. Sekarang, saya tidak lagi menganggap ayah sebagai ayah yang super hebat yang dulu selalu saya kagumi. Sebaliknya, ayah pun merasa bahwa saya sudah tidak mau dekat lagi dengannya. Walaupun ada perasaan-perasaan semacam itu, dia masihlah seorang ayah yang sangat baik bagi saya. Ayah selalu siap menopang hidup saya bila saya membutuhkannya. Saya tetap merasa memiliki ayah yang sangat perhatian kepada saya.
Buktinya, setiap saat ayah masih selalu ingat dan menanyakan apakah saya sudah makan. Akhirnya, saya meregresi diri saya untuk mencari tahu pelajaran dari kecenderungan di atas serta apa solusinya. Saya ingin tahu, apa saja yang harus saya lakukan supaya saya bisa menjadi anak yang baik bagi ayah saya, sekaligus dapat merasakan kedekatan sebagaimana yang saya rasakan di masa kanak-kanak saya. Dan, regresi itu mengantar saya masuk ke salah satu kehidupan lalu di mana saya hidup bersama dengan ayah saya.
T : Apa yang kamu lihat?
J : Aku sedang berdiri di sebuah puncak bukit bersama kakekku. Pemandangannya begitu indah. Dataran hijau dan bukit-bukit batu terlihat sepanjang mata memandang.
T : Kamu seorang laki-laki atau perempuan? J : Aku seorang anak laki-laki Indian.
T: Siapa namamu? J : Thunderbolt.
T: Saya ingin kamu melihat sekelikngmu untuk mengetahui apa yang sedang terjadi saat ini. Apa yang kamu lihat?
J : Aku melihat sekelompok laki-laki Indian yang berkuda sedang mendatangi aku dan kakekku.
Mereka adalah para Prajurit Angin. Tugas mereka menjaga desa kami dari serangan desa lain. Kakek mendidikku agar aku siap menjadi Prajurit Angin
T: Saya ingin kamu maju ke beberapa tahun ke depart untuk melihat kejadian tenting dabm kehidupan Thunderbolt Berapa usiamu sekarang!
J : Aku berusia lima belas tahun.
T: Adakah perbedaan jang terjadi pada dirimu sekarang dibandingkan beberapa tahun jang lalu?
J : Ya. Aku telah tumbuh menjadi seorang laki-laki tampan berbadan tegap dan atletis. Aku bisa merasakan banyak perempuan di desaku yang mengagumi aku.
T: Adakah hal tenting jang terjadi pada hidupmu saat ini?
J : Saat ini desa kami sedang diteror oleh sekelompok pasukan berkuda. Wajah mereka dicat putih dengan lukisan hitam. Mereka menantang pasukan kami untuk bertemu dengan mereka.
T: Kita akan maju ke beberapa saat ke depan untuk melihat apa jang terjadi selanjutnya. Apa jang kamu lihat?
J : Kakekku meninggal Sebelum meninggal, dia berpesan padaku untuk menjaga desa kami.
Akhirnya, aku memutuskan memimpin para Prajurit Angin untuk bertemu dengan Pasukan Wajah Putih.
T : Apakah kalian berperang?
J : Tidak. Mereka menyatakan tidak ingin berperang. Mereka hanya minta diberi setengah dari wilayah makanan kami karena penduduk mereka kekurangan makanan. Aku menyetujuinya.
T: Sekarang, kita maju ke kehidupanmu saat kamu. Thunderbolt, bertemu dengan ayah kamu di kehidupan sekarang. Kamu sedang berada di mana?
J : Di sebuah gua. Aku sedang membawa kudaku untuk minum. T : Apa kamu bisa menemukan ayahmu?
J : Ya. Aku bertemu dengan laki-laki Indian yang gemuk. Dia adalah anggota pengumpul makanan desa kami. Dia bercerita bahwa dia ingin menjadi Pasukan Angin seperti diriku. Tapi, tubuhnya terlalu gemuk dan dia tidak tahan sakit. Dia adalah ayahku di kehidupan sekarang. (Catatan: ayah saya di kehidupan sekarangjuga bertubuh gemuk). T: Kita akan maju ke saat penting jang sedang teijadi antara kamu dan ayahmu pada kehidupan Thunderbolt Apa jang teijadi?
J : Desa kami diserang oleh Pasukan Wajah Putih. Mereka ingin menguasai kami. Aku dan Indian gemuk diutus untuk mengirimkan peringatan ke desa tetangga.
T: Peringatan apa?
J : Memperingatkan desa tetangga tentang kejadian di desa kami. Desa kami yang telah tertipu oleh rencana licik Pasukan Wajah Putih.
T: Mengapa Indian gemuk jang diutus untuk menemanimu?
J : Karena dia adalah grup pengumpul makanan. Indian gemuk diutus ikut bersama aku untuk menjamin persediaan makananku dalam perjalanan ke desa tetangga.
T: Apakah kalian berhasil menyelesaikan perjalanan ini?
J : Ya. Setelah melakukan perjalanan panjang melewati gua bawah tanah, akhirnya aku dan Indian gemuk sampai ke desa tujuan. Aku diberi penghargaan dan kehormatan untuk tinggal di desa ini. Aku juga menikahi putri kepala desa.
T: Sekarang kita maju ke saat pencapaian terbesar dalam hidupmu sebagai Thunderbolt Apa jang kamu lihat?
J : Aku diangkat menjadi kepala desa dan memimpin dengan memegang prinsip ksatria dan keadilan.
T : Apa jang teijadi dengan Indian gemuk ini?
J : Indian gemuk temanku meninggal karena demam dan luka di perutnya. Dia berkata, bila ada kesempatan lagi dia ingin ikut perjalananku lagi. Dia akan menjadi penyedia makananku seperti dulu, dan bersama-sama melakukan perjalanan untuk belajar menjadi Ksatria Angin.
T: Kita maju ke saat-saat terakhir hidupmu sebagai Thunderbolt Bagaimana kematianmu?
J : Aku meninggal di usia tua didampingi tiga istriku dan anak-anakku.
T: Sekarang kita akan membahas keterkaitan kehidupan Thunderbolt serta hubunganmu dengan ayahmu di kehidupan sekarang. Sebagai Thunderbolt, pelajaran apa jang kamu dapat saat menjalani hidup bersama Indian gemuk?
J : Aku harus menghargai setiap peran yang dijalankan orang lain dalam kehidupanku. Sekecil apa pun peran orang lain dalam hidupku, mereka telah melakukan yang terbaik yang mereka bisa, untuk menopang dan membantuku supaya aku bisa mencapai tujuanku. Seperti dalam kehidupan Thunderbolt, Indian gemuk berperan sebagai penyedia makanan
dalam perjalananku menuju desa tetangga. Tanpa perannya, aku tidak mungkin berhasil menyelesaikan perjalanan itu.
T: Apakah kamu berhasil mendapatkan pelajaran dari kehidupanmu sebagai Thunderbolt?
J : Ya. Aku telah menghargai peran Indian gemuk itu dengan melakukan yang terbaik dan menyelesaikan perjalanan itu dengan berhasiL
T: Dari pelajaran itu, bagaimana seharusnya kamu menghargai peran yang dijahnkan orang lain untukmu?
J : Dengan melakukan yang terbaik dan mencapai tujuan dengan bahagia. Tiada cara yang lebih baik untuk menghargai dan berterima kasih atas peran dan bantuan orang lain dalam hidup kita, selain dengan melakukan yang terbaik dan mencapai tujuan kita dengan bahagia.
T: Selanjutnya, apa relevansi kehidupan lalumu sebagai Thunderbolt dengan hubunganmu dengan ayahmu dalam kehidupan sekarang?
J : Aku memilih lahir menjadi anak ayahku karena aku tahu dia akan menjadi seorang ayah yang terbaik bagiku. Seorang ayah yang akan melakukan yang terbaik semampu dia untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Semua dia lakukan supaya aku dapat fokus pada tujuan hidupku---seperti perannya sebagai Indian gemuk yang memenuhi kebutuhan makananku---sehingga aku bisa fokus dalam mencari jalan yang tepat serta menyelesaikan perjalanan itu.
T: Lalu, pelajaran apa jang bisa kamu ambil dari kehidupan lalumu sebagai Thunderbolt jang bisa membantu hubunganmu dengan ayahmu?
J : Aku harus bisa menghargai peran ayahku. Walaupun aku menginginkan dia jadi sempurna sehingga bisa menjadi teman diskusiku, sesungguhnya, dia sudah sangat sempurna. Karena, dia telah memberikan yang terbaik yang dia bisa berikan kepadaku. T: Apa jang seharusnya kamu lakukan untuk menghargai dan berterima kasih atas peran ayahmu di kehidupan sekarang?
J : Dengan melakukan yang terbaik dan mencapai tujuanku dengan bahagia.
T: Apakah dengan melakukan jang terbaik dan mencapai tujuanmu dengan bahagia akan menjadikanmu seorang anak jang baik bagi ayahmu?
J : Setiap orang sedang menunggu kita untuk mencapai keberhasilan yang gemilang. Mereka akan memberikan yang terbaik bila kita melakukan yang terbaik. Ayahku terus memberi padaku sambil menunggu dan berharap aku akan melakukan yang terbaik dalam hidupku. Saat aku telah melakukan yang terbaik dan mencapai tujuanku dengan bahagia, aku adalah anak yang terbaik bagi ayahku. Karena, ayah tahu bahwa dia telah memberikan yang terbaik kepada anaknya, yang telah berhasil melakukan hal terbaik dalam hidupnya.
Perbedaan-perbedaan pendapat dan ketidakcocokkan kami menjadi terlihat sangat kecil dibandingkan dengan perannya yang luar biasa bagi hidup saya. Regresi ini seolah menghadapkan saya kepada sisi lain dari sebuah pemahaman. Regresi ini bisa membuat saya berdiri dan melihat lebih luas, bukan lagi melihat dan menilai ayah saya dari sisi egoisme seorang anak.
Dan entah mengapa, saya menjadi lebih berterima kasih atas perhatian dan bantuan ayah kepada saya, walaupun mungkin itu cuma berupa nasihat untuk minum air putih lebih banyak supaya tidak panas dalam. Sungguh, saya menjadi penuh dengan kesadaran baru, dan mampu melihat betapa luar biasanya ketulusan ayah saya dalam menyayangi saya. Dan, itu merupakan suatu hal yang tidak pernah terlihat oleh saya sebelum regresi ini. Regresi ini membuat saya menemukan sebuah pemahaman tentang definisi bakti seorang anak kepada orangtua. Saya selalu menganggap bahwa pencapaian terbesar saya sebagai seorang anak akan terwujud manakala saya telah berbakti dan membuat bahagia orangtua saya. Hal itulah yang membuat saya terus bertanya; "Bagaimana menjadi seorang anak yang berbakti kepada orangtua?"; "Bagaimana cara saya membalas kebaikan mereka?" Dari regresi ini saya menemukan bahwa melakukan yang terbaik bagi diri kita---melakukan sesuatu untuk sebuah tujuan yang baik---sudah bisa menjadikan kita sebagai seorang anak yang berbakti. Bukan hanya berbakti kepada orangtua5 tetapi juga berbakti kepada bangsa, negara, dan bahkan seisi dunia.
"Lakukan yang terbaik. untuk sebuah tujuan
yang baik. Maka orang lain akan memberikan
yang terbaik untuk tujuanjang baik itu. karena getaran kebaikan menjebar
dari hati ke hati."
"Setiap pikiran, ucapan,
dan perbuatan kita berkemampuan untuk
menyakiti atau
bab 4 Annette dan Asal Tanda Lahir di Punggung
Saya mempunyai tanda lahir di punggung sebelah kanan saya. Tanda lahir itu menyerupai sebuah pulau besar yang berwarna coklat. Ibu saya bercerita, konon tanda lahir itu muncul akibat ibu---sewaktu sedang mengandung saya---menginjak karung goni berwarna coklat. Kata orang-orang tua di daerah ibu berasal, menginjak karung goni pada saat hamil itu pantang sekali. Konon katanya, anak yang dilahirkan nanti pasti akan mendapat cacat berwarna coklat.
Sekalipun ada tanda cacat di punggung, ibu saya malah meminta saya supaya tetap bersyukur. Lho, kok? "Masih untung tanda lahir itu ada di punggung kamu, bukannya di muka kamu," kata ibu.
Beberapa kali saya ke dokter kulit dan meminta agar tanda lahir itu bisa dihilangkan. Tapi menurut para dokter, tanda lahir itu tidak bisa dihapus. Lagi pula, buat apa dihapus kalau tanda itu tidak mengganggu dan bukan merupakan suatu penyakit. Walau begitu, saya tetap penasaran dengan tanda lahir ini. Mengapa mesti ada tanda lahir? Dari mana asalnya?
Setelah saya mempelajari hipnoterapi, terutama metode regresi kehidupan lalu, saya sadar bahwa tidak ada sesuatu pun dalam kehidupan kita yang terjadi secara kebetulan. Pasti terdapat suatu alasan yang menyebabkannya. Saya ingat akan hukum sebab akibat. Berangkat dari rasa penasaran maupun keingintahuan yang mendalam, lalu saya meregresi diri sendiri untuk mencari jawabannya.
Hasil perjalanan ke kehidupan lalu saya ternyata sungguh luar biasa! Saya temukan kisah-kisah yang semakin menegaskan keyakinan saya, bahwa tidak ada akibat tanpa sebab. Dan rupanya, inilah penyebab adanya tanda coklat di punggung sebelah kanan saya:
T : -Apa jang kamu lihat?
J : Aku melihat beberapa perempuan muda sedang diseret oleh beberapa laki-laki. Para perempuan itu menangis dan berteriak-teriak! Tapi, para laki-laki itu tidak menghiraukannya dan terus menyeret mereka.
T : Apa jang sedang kamu lakukan?
J : Aku berdiri di dekat dinding sedang menyaksikan perempuan-perempuan malang itu diseret-seret
T : Mengapa tubuhmu menjadi tegang?
J : Aku tahu nasibku juga akan sama seperti para perempuan muda itu! Tubuhku langsung membeku karena ketakutan.
T: Baiklah, lupakan kjadian ini. Kejadian ini sudah berlalu dan kamu akan baik-baik saja. Aku ingin kamu twang dan kita akan melanjutkan regresi ini.
J : Baiklah.
T : Apakah kamu tahu siapa nama kamu ? J : Namaku Annette.
T : Kamu lahir di mana?
J : Di Eropa. Sepertinya di Belanda, tapi aku tidak yakin. T : Bisakah kamu beri tahu tahun berapa?
J : Samar-samar... Sepertinya, tahun 1100-an. T: Bagaimana pakaianmu?
J : Aku memakai baju terusan dengan rok mengembang selutut. Sepertinya ini bukan pakaian orang kaya. Ini seperti pakaian seorang pelayan.
T : Apa jang kamu lakukan sehari-hari?
J : Aku bekerja sebagai pelayan di sebuah kedai minum. T : Coba gambarkan bangunan kedainya?
J : Kedai ini terbuat dari kayu. Lantainya juga kayu. Semua meja dan kursi terbuat dari kayu. Di tengah-tengah kedai ada beberapa kayu bulat utuh penopang bangunan.
T : Berapa usia kamu? J : Kurang lebih 18 tahun.
T: Coba gambarkan bagaimana diri kamu?
J : Tubuhku kurus. Kulitku sangat putih dan halus. Gerakanku sangat lembut dan aku sangat pemalu. Pelayan-pelayan lainnya dan juga bosku selalu mengejekku. Kata mereka, aku lebih pantas menjadi putri bangsawan daripada seorang pelayan. Karena, tingkah lakuku yang sangat halus dan tidak seperti pelayan-pelayan lainnya yang bergerak cepat. T : Siapa pengunjung kedai ini?
J : Kebanyakan pengunjungnya laki-laki. Mereka datang ke kedai untuk minum-minum dan terkadang bermalam bila mereka datang dari jauh.
T : Sekarang kita maju beberapa tahun setelahnya untuk melihat kejadian penting dalam hidup kamu sebagai pelayan kedai. Berapa usia kamu sekarang?
J : Sekarang usiaku 20 tahun.
T : Apakah kamu masih bekerja sebagai pelayan di kedai minum? J : Ya. Aku masih bekerja sebagai pelayan di kedai minum yang sama. T : Apajang sedang kamu lakukan?
J : Aku sedang membersihkan meja. Aku melihat seorang laki-laki tinggi besar masuk ke dalam kedai. Wajahnya garang sekali dan sangat tidak menyenangkan. Rambutnya yang
panjang sebahu dibiarkan terurai berantakan. Di belakangnya ada beberapa laki-laki pengikutnya.
T : Apa jang dia lakukan?
J : Dia masuk ke kedai dan langsung bicara dengan bosku. T : Apa hubungan kejadian ini dengan dirimu?
J : Di sela-sela pembicaraan, mereka menunjuk-nunjuk diriku. T : Mengapa tubuhmu menjadi tegang?
J : Saatku telah tiba... Aku sangat takut! Terbayang kembali wajah teman-temanku yang menangis dan berteriak-teriak dua tahun lalu.
T: Tenangkan dirimu. Kejadian ini sudah lewat, kamu akan baik-baik saja. Apa maksudnya saatmu tehh tiba?
J : Apabila saatnya tiba, para pelayan di kedai ini akan dijual menjadi pelacur di rumah bordil milik laki-laki tinggi besar itu. Kami semua tahu bila kami dijual menjadi pelacur maka kami akan diperlakukan melebihi seorang budak. Para perempuan pelacur dikurung di rumah bordil dan harus melayani laki-laki haus perempuan, tanpa mengenai istirahat. Untuk memuaskan laki-laki hidung belang itu, tak jarang perempuan-perempuan pelacur diikat dan disiksa. Mereka tidak boleh keluar dari rumah bordil Jika ada yang melarikan diri, mereka pasti akan disiksa melebihi para tahanan.
T : Sekarang apa jang sedang terjadi padamu?
J : Aku dibawa ke rumah bordil milik laki-laki tinggi besar itu. Aku sudah tiba di kamar. Aku melawan sejumlah laki-laki yang menyeretku. Aku menendang, menggigit, berteriak, dan melakukan apa saja supaya aku dilepaskan. Laki-laki tinggi besar itu datang dan marah-marah melihat sikapku. Kemudian dia menyuruh anak buahnya menjatuhkan aku ke lantai dengan posisi telungkup. Tangan dan kakiku dipegangi erat-erat. Bagian belakang bajuku dirobek dengan sangat kasar! Aku mendengar dia bilang, betapa putih dan halusnya punggungku. Tapi dia juga berkata, bahwa seorang pelacur yang membangkang harus diberi pelajaran yang sangat mengerikan! Sampai-sampai, dia sendiri terlalu ngeri membayangkan hal itu. (Menangis... ) Aku sangat ketakutan...! Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya padaku.
T: Lalu, apa jang terjadi? Saat melihat kejadian selanjutnya, saya ingin kamu hanya sebagai pengamat Kamu tidak akan merasakan rasa sakitnya karena kejadian ini telah kwat
J : Laki-laki itu memerintahkan anak buahnya untuk memanaskan setrika arang di perapian.
Aku melihat laki-laki itu menggosokkan setrika panas berkali-kali di sebelah kanan punggungku. Panasnya setrika itu merobek kulitku! Sepertinya, perihnya luar biasa! Aku berteriak-teriak dan meronta-ronta kesakitan... Tapi, beberapa laki-laki memegangi tangan dan kakiku dengan sangat kuat. Akhirnya, aku jatuh pingsan...
T: Kita maju beberapa saat untuk melihat apa jang terjadi selanjutnya. Apa jang sedang terjadi sekarang?
J : Begitu bangun aku sudah tertelungkup di ranjang. Punggungku terasa sangat nyeri. Aku demam, panas tubuhku sangat tinggi. Aku rasa ini karena luka bakar di punggungku. Aku bisa merasakan cairan yang menetes dari punggungku, jatuh ke ranjang. Aku sangat kehausan... Di meja sebelah kananku ada segelas air, tapi aku tidak bisa meraihnya. Tubuhku terlalu lemah dan sangat sakit untuk bergerak. Pada waktunya makan, seseorang akan melempar baki makanan ke balik pintu kamarku. Tapi, aku tidak bisa bergerak, apa lagi berjalan mengambilnya.
T : Apakah kamu bisa sembuh dari luka bakarmu?
J : Suatu hari, setelah berhari-hari aku tidak minum dan makan, aku merasakan sakit luar biasa di punggungku. Rasanya seperti ada yang mencabik-cabik seluruh tubuhku. Aku mengepalkan tanganku untuk menahan rasa sakitnya. Pada saat sakitnya tak tertahankan lagi, tiba-tiba aku tidak merasakan sakit itu lagi.
T : Apa jang terjadi padamu?
J : Aku sudah berada di atas tubuhku. Aku melihat tubuhku di bawah sana dengan luka yang membusuk di punggung sebelah kanan. Aku sudah meninggaL
Demi melihat penderitaan maha hebat yang dirasakan Annette dalam kehidupannya sebagai pelayan kedai itu, saya berpikir, pasti semua itu ada sebab-musababnya. Kemudian, saya meregresi diri saya kembali untuk menelusuri mengapa Annette menerima siksaan luar biasa sehingga dia harus mati secara mengenaskan. Inilah hasil regresi di kehidupan lalu Annette sebelumnya.
T: Sekarang kita akan masuk ke kehidupan lalu jang menjadi penyebab kamu disiksa dan meninggal akibat luka membusuk di punggungmu. Luka itulah jang sekarang menjadi tanda lahir di punggung sebelah kananmu. Apa jang kamu lihat?
J : Aku adalah seorang laki-laki Indian berkulit sawo matang. Aku memakai pakaian Indian dan bertelanjang dada.
T: Bisa kamu ceritakan bagaimana kehidupanmu sehari-hari?
J : Aku tinggal berkelompok bersama anggota suku yang lain. Jumlah suku kami tidak terlalu banyak. Kami hidup berpindah-pindah dari suatu bukit ke bukit lain. Bila saatnya pindah, kepala suku kami akan mengumumkannya. Dia mengetahui saat kepindahan kami berdasarkan gerakan bintang-bintang di langit.
T: Adakah kejadian tenting jang sedang teijadi saat ini?
J : Belakangan ini suku kami menjadi resah karena ternak kami sering dicuri oleh seseorang dari suku lain. Suatu siang, ketika aku sedang mengawasi hutan, tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki mencoba mencuri ternak kami. Aku mengejarnya masuk ke hutan. Tapi, dia berlari sangat kencang dan aku kehilangan jejaknya.
meninggal pada kehidupan Annette, dan bekasnya menjadi tanda lahir di kehidupanmu jang sekarang. Ceritakan apa jang kamu lihat?
J : Malam ini aku mendapatkan firasat, bahwa akan ada orang yang mencoba mencuri ternak kami lagi. Aku duduk di samping api unggun untuk berjaga-jaga. Sekarang malam telah larut dan anggota suku kami yang lainnya sudah terlelap. Tiba-tiba aku mendengar suara dari semak-semak di belakangku. Aku segera menghampiri dan aku menangkap seorang laki-laki. Aku mengikat tangannya dan membaringkannya di tan ah. Aku bertanya padanya, tapi ternyata dia bisu! Dia hanya mengeluarkan suara-suara yang tidak dapat aku mengerti. Kemudian, datang sekelompok pasukan pengawas yang sedang bertugas jaga malam. Aku mengatakan pada mereka bahwa aku menangkap laki-laki bisu ini ketika dia sedang mengendap-endap di semak belakang tenda.
T : Apa yang teijadi selanjutnya?
J : Mereka membawa laki-laki bisu itu dan mengikatnya di tiang kayu pemujaan suku kami. Mereka berkata, dia bisu karena kutukan para leluhur. Para leluhur menaruh kutukan di tenggorokannya. Untuk bisa membuatnya bicara, maka dia harus merasakan sakit yang amat dahsyat, supaya dia bisa berteriak keras dan mengeluarkan kutukan itu dari tenggorokannya. Karena aku yang menangkapnya, maka jiwanya adalah milikku. Dan. aku yang berhak melaksanakan ritual siksaan itu.
T : .Apa kamu menjalankan ritual siksaannya?
J : Aku sangat takut... Karena, aku belum pernah menyiksa siapa pun sebelumnya. Lalu mereka memberiku kayu dari api unggun yang masih ada baranya dan menyuruhku menusukkan kayu itu di tubuh laki-laki bisu di depanku. Aku ragu-ragu... Tapi, akhirnya aku menyundutkan bara kayu di punggungnya, di sebelah kanan. Aku melakukannya berkali-kali supaya laki-laki bisu itu dap at berteriak keras-keras dan bicara.
T : Apakah laki-laki bisu itu bisa bicara?
J : Tidak! Tapi, dia malah jatuh pingsan karena merasa sangat kesakitan. T: Selanjutnya, apa jang kamu lakukan pada laki-laki bisu ini?
J : Aku ditugaskan untuk menjaganya. Aku tertidur. Laki-laki bisu ltu masih pings an dan terikat di tiang pemujaan. Aku terbangun, sekarang sudah pagi. Aku melihat penjaga suku membawa laki-laki bisu itu. Dia berkata padaku, ada seseorang yang pernah memergoki laki-laki bisu itu mencuri ternak kami. Makanya, dia harus dihukum sesuai perbuatannya. T : Hukuman apa jang didapatkan laki-laki bisu ini?
J : Dia digantung di tiang kayu yang tinggi dan dihadapkan ke arah matahari dengan tujuan supaya Dewa Matahari yang akan menghukum dan membakarnya.
T : Berapa lama hukuman gantungnya?
J : Hanya beberapa hari. Kepala suku kami lalu memerintahkan untuk menurunkan laki-laki bisu itu karena masa hukumannya sudah selesai.
Apakah kamu melihatnya?
J : Aku melihatnya diturunkan dari tiang gantungan Aku juga bisa melihat luka bakar di punggung sebelah kanannya yang merah membengkak. Dia menatapku dengan tatapan penuh dendam. Sampai-sampai, aku bisa merasakan kebenciannya yang amat sangat kepadaku. Lalu, dia lari ke dalam hutan dan aku tidak pernah melihatnya lagi.
T: Sekarang, kita akan mtngulas kidua kihidupan lalumu. Pelajaran apa jang kamu dapatkan dari kihidupanmu ssbagai laki-laki Indian?
J : Setiap pikiran, ucapan, dan tindakan yang aku pilih akan melahirkan sebuah kehidupan baru. Tindakan yang aku pilih---yaitu menyiksa Indian bisu itu dengan menyundutkan bar a kayu di punggung sebelah kanannya---telah melahirkan kehidupanku di Belanda sebagai Annette. Dalam kehidupanku sebagai Annette, aku meninggal dengan luka bakar yang membusuk di punggung sebelah kananku.
T: Adakah pilihan tindakan yang lebih baik jang bisa kamu lakukan di kehidupan Indian itu?
J : Ya. Aku yang menangkap Indian bisu itu, maka jiwanya adalah milikku. Karena jiwa Indian bisu itu adalah milikku, maka aku bisa memilih untuk melepaskannya.
T: Mengapa kamu seharusnya mdipaskan Indian bisu itu ?
J : Karena, aku tidak melihatnya melakukan pencurian itu. Saat itu, aku hanya menduga dia melakukan tindakan pencurian.
T: "Pelajaran apa jang kamu dapatkan bila kamu melepaskan Indian bisu itu?
J : Dalam setiap situasi selalu tersedia kehendak bebas untuk berpikir, berkata-kata, dan bertindak. Maka, pilihlah pikiran, ucapan, dan perbuatan yang bisa membuat diri kita dan orang lain berbahagia.
Pilihlah pikiran, kata-kata, dan perbuatan yang setelah kita lakukan akan membuat kita dan orang lain menjadi tersenyum bahagia. Karena, itu merupakan pilihan untuk bahagia. T: Bukankah tindakanmu kepada Indian bisu itu telah berbuah dalam kehidupan Annette yang sangat mengenaskan? Mengapa di kehidupan sekarang kamu masih memiliki tanda lahir di punggung sebelah kanan?
J : Luka di hati seseorang sangat sulit dihapuskan. Kebencian luar biasa Indian bisu itu---yang disebabkan oleh sakit hati itu---yang begitu dahsyat akibat perbuatanku padanya---telah menorehkan luka yang sangat sulit dihapuskan. Akibatnya, luka itu masih terus kubawa sampai di kehidupan yang sekarang dan menjadi tanda lahir di punggungku sebelah kanan.
T: Pelajaran apa yang bisa kamu ambil dari kehidupanmu sebagai laki-laki Indian untuk kehidupan sekarang?
J : Aku bisa memilih untuk menggunakan pikiran, ucapan, atau perbuatanku untuk menyakiti orang lain, yang pada akhirnya akan menyakiti diriku sendiri. Atau, aku bisa memilih untuk menjadi seorang penyembuh bagi luka orang lain melalui pikiran, ucapan,
dan perbuatan yang kulakukan.
Hasil regresi ke kehidupan lalu saya sebagai Annette maupun laki-laki Indian itu telah menjawab teka-teki asal tanda lahir di punggung saya.
Kisah di kehidupan lalu tersebut juga mendatangkan kesadaran luar biasa dalam diri saya.
Luar biasa dampak dari pikiran, ucapan, dan perbuatan yang kita lakukan. Setiap pikiran, ucapan, dan perbuatan kita berkemampuan untuk menyakiti atau menyembuhkan orang lain. Pikiran, ucapan, dan tindakan yang kita lakukan juga akan melahirkan sebuah kehidupan baru yang akan terjadi di masa kini atau dalam kehidupan mendatang.
Yang luar biasa, dari semua pikiran, ucapan, dan perbuatan kita setiap detiknya, akan melahirkan akibat baru yang sesuai dengan sebabnya. Pernahkah kita memeriksa, mana yang lebih banyak kita munculkan dalam setiap menit, setiap jam, setiap hari, bahkan sepanjang hidup kita? Dan, pernahkah kita menyadari akibat apa yang akan kita terima dari semua yang telah kita lakukan itu?
Tapi, berita baiknya adalah bahwa dalam setiap situasi yang kita hadapi selalu tersedia kehendak bebas bagi kita untuk berpikir, berucap, dan bertindak. Kita selalu bisa memilih pikiran, ucapan, dan perbuatan yang bisa membuat diri kita dan orang lain bahagia.
Walaupun saya tahu betul betapa sulitnya melakukan semua itu---karena sungguh sulit mengendalikan pikiran, ucapan, dan tindakan kita---tapi hidup selalu memberikan kesempatan pada kita setiap saatnya untuk bisa memilih. Mau membuat diri kita dan orang lain bahagia atau bahkan sebaliknya.
Dan, bila kita tidak memulainya sekarang, kapan lagi waktu yang lebih tepat untuk memulainya? Apa pun pikiran, ucapan, dan perbuatan yang kita lakukan, baik atau buruk, seperti itu pulalah kehidupan baru yang kita ciptakan.