• Tidak ada hasil yang ditemukan

Belahan Jiwa yang Sejati

Dalam dokumen Kisah Penelusuran "Masa Lalu" (Halaman 74-80)

yang sekarang."

bab 11 Belahan Jiwa yang Sejati

Bertahun-tahun saya menjalin hubungan dengan Gunawan, kekasih saya. Kemana-mana kami selalu bersama, di mana ada saya di situ pasti ada dia, begitu juga sebaliknya. Hubungan kami sangat kompak layaknya partner dalam dunia kerja maupun sepasang sahabat baik. Orang-orang yang mengenal kami pun langsung bisa melihat bahwa kami sangat saling mencintai. Saking lengketnya kami berdua, sampai-sampai saya berpikiran bahwa tidak akan ada laki-laki lain yang bisa saya cintai, seperti saya mencintai dia. Dan rasanya, kekasih saya pun berpikiran sama, bahwa tidak ada perempuan lain yang bisa dia cintai selain saya. Tak salah bila saya menganggap, dia adalah belahan jiwa saya.

Keharmonisan itu terus terjaga, sampai suatu saat terusik oleh suatu perasaan yang menggoda. Ada cinta lain yang hadir di antara kami berdua, dan saat itu kami tergoda untuk selingkuh, saling tidak setia. Saya ingat betul kejadian sore itu. Saya dan Gunawan sedang makan di sebuah restoran. Saya berterus terang padanya, bahwa saya sedang jatuh cinta pada laki-laki lain.

"Sungguh, aku tidak mengundang perasaan itu. Tapi, rasa cinta itu tiba-tiba saja tumbuh pada saat pertama kali aku berbicara akrab dengan laki-laki itu," begitu cara saya memperjuangkan "perasaan cinta" saya.

Antara saya dengan laki-laki tersebut memang sering bertemu karena kami mempunyai hubungan kerja. Dari pertemuan-pertemuan dan hubungan kerja itulah, lalu tumbuh perasaan saling menyukai di antara kami. Dia sering menelepon saya dan kami suka ngobrol bersama. Entahlah, rasa suka itu tumbuh tanpa bisa dibendung dan ditahan-tahan. Saya sengaja berterus-terang pada kekasih saya, dengan harapan rasa suka itu akan sirna dengan segera. Karena, dari hati kecil dan hati yang paling dalam, saya sungguh-sungguh tidak menginginkan perasaan ini ada. Saya berkata jujur kepada Gunawan supaya saya bisa segera kembali mencintai dia dengan sepenuh-penuhnya. Tidak mau ada orang ketiga!

Tanpa saya duga, Gunawan sudah menyadari hal itu. Dan, yang paling membuat saya seperti kehabisan napas, dia mengatakan bahwa saat itu dia pun sedang menyukai perempuan lain. "Tiba-tiba saja perasaan ini muncul tanpa aku bisa memilih. Perasaan sayang ini muncul begitu aku melihat perempuan itu," kata Gunawan dengan jujur.

Dia menyatakan bahwa kesetiaan dan komitmen kami berdua memang sedang diuji. Kami memutuskan, bila kami tidak melakukan apa-apa, pasti perasaan-perasaan itu akan musnah. Sebab, kami menyadari bahwa segala sesuatu yang muncul pasti akan musnah juga.

Kemunculan perasaan cinta itu terjadi secara tiba-tiba dan tidak diundang, seperti kemunculan kanker yang tiba-tiba hadir dalam organ tubuh yang sehat. Kami berdua tidak mempunyai kuasa untuk menolak perasaan itu.

Berhari-hari saya menangis. Kepercayaan saya pada cinta sejati hancur berkeping-keping. Bagaimana mungkin kami bisa mencintai orang lain, padahal kami tahu kalau kami berdua adalah belahan jiwa? Bukankah kami mempunyai misi yang harus diselesaikan bersama-sama?

Menghadapi situasi semacam ini, untungnya kami berdua tetap mampu berpikir jernih. Kami memutuskan untuk saling berpegangan lebih erat supaya kami tidak terbawa arus dan menjadi saling tidak setia. Selanjutnya, untuk mencari secercah cahaya dalam kekalutan hati saya dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas itu, saya meregresi diri saya. Inilah pelajaran yang saya dap at.

T : Apa jang kamu lihat?

J : Danau yang sangat indah di dalam sebuah gua. T : Apakah kamu bisa melihat diri kamu ?

J : Ya. Aku adalah seorang remaja putri. Aku sedang berenang di danau dalam gua itu. T : Apakah ada orang lain di sana?

J : Ya. Aku berenang bersama seorang laki-laki. Dia kekasihku. Kami sangat bahagia dan kami sangat saling mencintai.

T: Apakah kekasihmu jang ini ada dalam kehidupanmu yang sekarang?

J: Ada. Dia adalah laki-laki lain yang hadir dalam hubunganku dengan kekasihku.

T : Sekarang kita akan maju ke momen penting di antara kamu dan laki-laki ini. Apa jang kamu lihat?

J : Keramaian orang. Banyak orang di jalan. Banyak penunggang kuda dan kereta kuda yang berlalu-lalang.

T: Apakah kamu masih dalam kehidupan jang sama dengan yang di danau di dalam gua itu?

J : Bukan. Ini dalam kehidupan yang berbeda.

T : Apa kamu bisa melihat dirimu dan laki-laki itu di kehidupan ini?

J : Ya. Kami sedang berpelukan. Dia kekasihku. Dalam kehidupan ini kami saling mencintai dan kami adalah belahan jiwa.

T: Apa hubunganmu dengan laki-laki tadi dalam dua kehidupan lalumu itu?

J : Kami berdua adalah belahan jiwa yang saling mencintai dalam dua kehidupan itu. Kami saling mencintai dan hidup dengan sangat bahagia.

T : Sekarang, kita akan masuk ke dalam kehidupan lalumu jang lain untuk melihat hubunganmu dengan laki-laki ini. Apa yang kamu lihat?

J : Aku sedang duduk di atas bukit dan memandang pantai yang sangat indah. Ada seseorang yang memanggil namaku, Nouna.

T : Siapa jang memanggilmu?

J : Abram, kekasihku. Dia adalah kekasihku dalam kehidupan yang sekarang. Kami berdua turun dari bukit dan bermain di pantai. Aku sangat bahagia. Aku dan Abram saling mencintai.

T : Apa jang kalian lakukan selanjutnja?

J : Kami mendatangi Paul yang sedang duduk-duduk di pantai. Dia sedang murung. Paul adalah laki-laki lain yang aku sukai dalam kehidupan yang sekarang.

T: Apa hubungan Paul denganmu dalam kehidupan ini?

T: Kita maju ke momen penting jang teijadi di antara kalian bertiga. Kamu ada di mana sekarang?

J : Aku dan Abram baru saja keluar dari sebuah restoran. Kami sudah menikah dan sangat bahagia. Tiba-tiba, Paul mendatangi kami. Dia memukul wajah Abram.

T : Mengapa Paul memukul wajah Abram?

J : Paul berkata, itu untuk membalas Abram karena dia mendapatkan aku. Abram telah membuat hidup Paul menderita. Setelah itu, Paul pergi dan aku tidak pernah melihatnya lagi.

T : Apa hubunganmu dengan Abram dan Paul dalam kehidupan ini?

J : Dalam kehidupan ini Abram adalah belahan jiwaku. Paul mencintaiku karena dia masih membawa getaran cinta yang pernah kami miliki dalam kehidupan lalu kami. Dalam kehidupan lalu itu, aku dan Paul pernah menjadi belahan jiwa.

T: Sekarang kita masuk ke dalam kehidupan lalumu jang lain untuk melihat hubungan jang teijadi antara kamu, kekasihmu, dan perempuan jang disukai kekasihmu. Apa jang kamu lihat? 

J : Banyak orang yang sakit. Mereka muntah-muntah dan tubuh mereka tergeletak lemas. Sepanjang mata memandang, banyak orang sakit tergeletak di jalan dan di dalam rumah-rumah.

T : Bisakah kamu melihat dirimu?

J : Ya. Aku seorang perempuan perawat. Aku memakai baju adat Korea. T : .Abajang sedang terjadi saat ini?

J : Ada wabah penyakit menular yang aneh menyerang desa kami. Hampir seluruh penduduk desa muntah-muntah dan lemas sampai akhirnya mereka meninggaL

T: Kita akan maju ke momen dalam kehidupan di mana kamu bertemu dengan kekasihmu dan perempuan itu. Kamu sedang di mana?

J : Aku sedang di sebuah kamar. Aku sedang menyuapi perempuan tua yang juga terserang penyakit aneh itu.

T : Siapa perempuan tua ini?

J : Dia seorang bangsawan. Saat ini, aku bekerja sebagai perawat di rumahnya. Perempuan tua ini adalah ibu dari bangsawan muda.

T : Apakah mereka kamu kenal dabm kehidupan jang sekarang?

J : Hanya bangsawan muda yang aku kenal Dia adalah kekasihku dalam kehidupan yang sekarang.

T : Apa jang terjadi selanjutnja?

J : Ibu bangsawan muda itu meninggaL Aku pun sekarang merasakan gejala penyakit yang sama. Aku merasa mual dan muntah-muntah.

T : Kita maju untuk melihat apa jang terjadi pada dirimu selanjutnja. Kamu sedang apa sekarang?

J : Aku terbaring lemas di kamarku. Sekarang aku tinggal dan dirawat di rumah bangsawan muda. Itu balas jasanya karena aku telah mengurus ibunya.

T : Apa jang sedang terjadi saat ini?

J : Istri bangsawan muda itu juga terserang penyakit aneh ini. Kondisinya sangat lemah. Bangsawan muda sangat mencintai istrinya. Dia merawat dan menemani istrinya setiap hari. Aku melihat mereka dari pintu kamarku. Mereka terlihat saling mencintai. Aku sungguh mengagumi cinta bangsawan muda itu kepada istrinya.

T: Bisakah kamu mengenali istri bangsawan muda ini dalam kehidupan sekarang?

J : Ya. Dia adalah perempuan yang disukai oleh kekasihku dalam kehidupan yang sekarang.

T : Apa jang terjadi selanjutnja pada dirimu?

J : Istri bangs awan muda ini akhirnya meninggaL Bangsawan muda sangat terpukul karena dia kehilangan istri yang sangat dicintainya. Aku pun pergi meninggalkan rumah ini karena tidak tahan melihat kepedihan bangsawan muda. Diam-diam, aku juga mencintai bangsawan muda ini.

T: Kamu pergi kemana dan apa jang terjadi dengan hidupmu selanjutnya? J : Aku tinggal di sebuah hutan sampai akhir hidupku.

T: -Apa hubungan bangsawan muda dan istrinya dalam kehidupan ini? J : Bangsawan muda dan istrinya adalah belahan jiwa dalam kehidupan ini.

T: .Apakah ini jang menyebabkan munculnya rasa suka dari kekasihmu jang sekarang pada perempuan itu?

J : Ya. Getaran itu masih membekas karena perempuan itu pernah menjadi belahan jiwa kekasihku di mas a lalu.

kekalutanmu?

J : Bahwa semua itu telah berlalu. Aku dan kekasihku merasakan perasaan suka kepada orang lain karena adanya akibat yang terbawa dari kehidupan lalu. Semua itu telah lewat. Kami sudah lahir dalam tubuh dan batin yang berbeda, serta dengan misi yang berbeda pula. Semua itu sudah berlalu. Sekarang kami harus hidup di masa kini.

Dari regresi ini saya bisa mengerti lebih jelas lagi bahwa saya dan kekasih saya tak bisa mengendalikan perasaan-perasaan yang muncul dalam diri kami masing-masing.

Perasaan-perasaan cinta ini muncul dengan sendirinya tanpa adanya mat dari kami untuk memunculkannya. Dan, karena mereka muncul dengan sendirinya, maka perasaan-perasaan itu pun akan musnah dengan sendirinya.

Setelah mengetahui hal ini, saya dan kekasih saya memutuskan untuk tidak melakukan aksi apa pun terhadap perasaan-perasaan cinta tersebut. Karena perasaan cinta semacam ini muncul sebagai efek dari perasaan yang lalu.

Dan, seperti sebuah gelombang yang muncul, mereka pasti akan hilang bila tidak ada daya yang ditambahkan untuk memperpanjang gelombang itu. Dengan diam dan bersikap no actions , berarti kami menunggu efek gelombang itu habis dengan sendirinya. Tanpa perlu menambah daya apa pun yang dapat memperpanjang gelombang itu.

Dalam konteks kehidupan lalu dan kehidupan sekarang, kita telah hidup dan mati tak terhitung jumlahnya. Tak terhitung pula jumlah orang-orang yang pernah menjadi belahan jiwa kita, yang mungkin bisa kita temui dalam kehidupan sekarang.

Setiap pertemuan kita dengan mereka, hampir pasti akan menghasilkan getaran-getaran atau sisa-sisa cinta kita pada mereka di kehidupan lalu.

Jika demikian adanya, apakah kita akan menjalin hubungan kembali dengan mereka semua? Atau kita akan mengoleksi mereka semua sebagai kekasih kita dalam kehidupan sekarang? Apakah kita akan menjadikan mereka semua sebagai kekasih atau pasangan hidup kita?

Persoalannya, bagaimana kita bisa mengetahui bahwa belahan jiwa yang telah kita pilih dalam kehidupan yang sekarang ini, merupakan belahan jiwa yang paling tepat buat kita? Bukankah ada begitu banyak belahan jiwa kita yang lainnya?

Setiap belahan jiwa yang hadir dalam kehidupan sekarang, rata-rata hanya memberikan 25 persen kemungkinan untuk menjadi belahan jiwa yang tepat bagi kita. Tetap saja, 75 persennya adalah komitmen yang harus ditanamkan dalam kehidupan kita yang sekarang. Komitmen untuk terus belajar bersama supaya memiliki keyakinan yang sama; komitmen untuk bersama-sama mengemb angkan kemurahan hati; serta komitmen untuk senantiasa bersama-sama mengembangkan kebijaksanaan. Karena, apabila komitmen sudah ditanamkan, maka tidak akan ada alasan untuk terbakar dalam bara api perselingkuhan dan menjadi saling tidak setia.

mujarab

untuk menghadapi godaan selingkuh."

bab 12 Aisley Murid Lesku yang Kaya

Saat masih kuliah, saya suka mengajar les privat sekadar untuk menambah uang saku. Waktu itulah saya bertemu dengan Aisley, murid les saya. Dia adalah remaja yang sangat menyenangkan, cantik, pintar, dan penuh semangat belajar. Sekalipun masih muda, dia sudah menampakkan suatu kepribadian yang benar-benar bisa membuat orang lain betah berada di dekatnya.

Selain itu, ada satu hal yang sungguh membuat saya kagum dengan murid les saya ini: yaitu kehidupannya yang tampak bahagia dan terpenuhi segala sesuatunya. Sejak pertama kali saya datang ke rumah Aisley, saya langsung terpukau pada rumahnya yang besar dan indah sekali. Sebagai guru les Aisley, saya sering diminta membimbing dia di kamarnya. Kamar tidurnya---mungkin lebih tepat lagi kamar pribadinya---sangat besar dan mewah. Di dalamnya ada kamar mandi yang luas, ruangan khusus untuk menyimpan pakaian-pakaiannya, dan ada ruangan tersendiri untuk belajar.

Di sela-sela kegiatan belajar bersama saya, Aisley sering pula menceritakan liburan-liburannya ke mancanegara bersama keluarga. Pada ulang tahunnya yang ke-12, orangtuanya mengadakan pesta yang sangat meriah dan menghadiahi Aisley sebuah mobil mewah. Aisley memang sangat dekat dengan orangtuanya, juga dengan kakak dan adiknya. Pokoknya, hubungan mereka sangat akrab dan tampak bahagia sekali. Di mata saya, kehidupan Aisley dan keluarganya sungguh-sungguh merupakan sebuah kehidupan yang layak untuk diimpikan.

Sejak kecil hingga dewasa sekarang ini, saya selalu menyimpan sebuah pertanyaan dalam diri saya, "Mengapa ada orang-orang yang sangat beruntung, dilahirkan dalam keluarga yang kaya raya, serta memiliki orangtua yang sangat pengertian dan hubungan keluarga yang harmonis?" Rasanya, kehidupan semacam itu telah memberi mereka segala keberlimpahan sejak mereka dilahirkan. Bagi mereka yang beruntung itu, sungguh, betapa indahnya kehidupan di dunia ini.

Ketika saya menyaksikan dari dekat kehidupan Aisley yang benar-benar sangat berkelimpahan---baik dari segi materi maupun nonmateri seperti kebahagiaan keluarga yang utuh---saya begitu penasaran dan ingin sekali mencari jawabannya.

Lalu, saya mencoba meregresi diri saya untuk melihat kehidupan lalu saya bersama Aisley, sekaligus mencari sebab-musabab yang membuat Aisley memiliki kehidupan yang begitu berkelimpahan.

T : Bisakah kamu melihat dirimu?

J : Ya. Aku memakai sepatu merah dengan kaos kaki putih selutut. Ya, ampun... Rambutku berwarna merah dan ikaL Wajahku buruk dengan gigi tonggos keluar. Tingkah lakuku kikuk dan aneh.

T : Kamu terempuan atau laki-laki? J : Aku seorang gadis keciL

Dalam dokumen Kisah Penelusuran "Masa Lalu" (Halaman 74-80)