PENGENTASAN KEMISKINAN DAN PELESTARIAN SUMBERDAYA HUTAN
VI. ARAH DAN STRATEGI PEMANFAATAN SUMBERDAYA HUTAN KE DEPAN
Ibu-Bapak sekalian yang saya muliakan,
Sebagaimana telah diamanatkan UU No 41. Tahun 1999, bahwa penyelenggaraan kehutanan bertujuan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan. Arahan tersebut dipertegas lagi dalam pasal 51 Peraturan Pemerintah No 34 Tahun 2002 dan pencanangan social forestry sebagai program nasional oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 2 Juli 2003. Selanjutnya rambu-rambu dalam penyelenggaraan social
39
forestry dan strategi pokok pengembangan social forestry dituangkan dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.01/Menhut-II/2004. Selanjutnya dalam Renja Kemenhut Tahun 2012 disebutkan bahwa sasaran pembangunan untuk tahun 2012 antara lain terbangunnya Hutan Kemasyarakatan (HKm) seluas 400.000 ha, terbangunnya Hutan Desa Seluas 100.000 ha serta terbentuknya 12 kerjasama kemitraan melalui peningkatan peran serta pelaku utama dan pelaku usaha dalam pemberdayaan masyarakat.
Berbagai pihak menaruh harapan yang begitu besar terhadap perhutanan social, ini karena secara konseptual perhutanan sosial merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat yang hidup di sekitar dan di dalam kawasan hutan, sehingga masyarakat berdaya dan mampu menjaga kelestarian sumberdaya hutan. Harapan tersebut akan terwujud jika program dan kegiatan benar-benar terfokus pada pemberdayaan masyarakat dengan pengertian bahwa kegiatan perhutanan sosial tidak terbatas hanya di dalam hutan, melainkan pada seluruh upaya untuk membuat masyarakat sekitar hutan berdaya. Pemberdayaan dapat dilakukan dengan memfasilitasi terbangunnya unit-unit usaha kecil dan menengah (UKM) sebagai alternatif mata pencaharian dan mengurangi ketergantungan hidup hanya dari sumberdaya hutan (Purwanto, 2008).
Lebih lanjut, dalam pengembangan social forestry setidaknya ada lima prinsip yang perlu ditekankan yaitu: membangun kapasitas masyarakat untuk berproduksi; memperkuat kapasitas dan kelembagaan masyarakat; membangun jaringan pemasaran; meningkatkan nilai tambah produksi melalui pembangunan home-industry dan peningkatan akses kredit perbankan.
VII. KESIMPULAN
Ibu-Bapak sekalian yang saya hormati,
Model pengelolaan hutan di Indonesia selama ini harus diakui belum sepenuhnya berjalan sesuai dengan tujuan dasar pembangunan nasional yaitu menyelenggarakan pembangunan
40
sumberdaya hutan yang lestari/berkelanjutan agar memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Beberapa tahun terakhir kegiatan rehabilitasi dan pemanfaatan sumberdaya hutan mulai dilakukan dengan pendekatan yang lebih menekankan pada aspek sosial ekonomi, budaya dan kelembagan melalui pola perhutanan sosial (social forestry). Program perhutanan sosial ini masih menghadapi kendala dalam hal penentuan sasaran atau target kegiatan karena keterbatasan data dan informasi terutama jumlah dan sebaran masyarakat miskin di sekitar dan di dalam kawasan hutan. Oleh karena itu perlu segera dilakukan identifikasi dan inventarisasi untuk memperoleh gambaran tentang kondisi masyarakat di sekitar dan di dalam kawasan hutan secara komprehensif.
Selanjutnya terkait dengan strategi pemanfaatan sumberdaya hutan ke depan agar sasaran pemberdayaan masyarakat sekitar dan dalam kawasan hutan serta pelestarian sumberdaya hutan yang tersisa dapat terwujud maka ada beberapa langkah awal yang perlu dilakukan. Yang pertama adalah terus mengupayakan penurunan laju kerusakan hutan yang diiringi dengan upaya rehabilitasi dan konservasi kawasan yang masih tersisa. Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi dan menginventarisasi data dan informasi kemiskinan secara komprehensif yang dapat menggambarkan antara lain: (a) Jumlah dan persebaran penduduk miskin di sekitar dan kawasan hutan, baik Hutan Lindung, Hutan Konservasi maupun Hutan Produksi; (b) Profil atau tipologi masyarakat dalam dan sekitar hutan; (c) Identifikasi akar kemiskinan dan tingkat ketergantungan masyarakat pada usaha-usaha kehutanan. Langkah kedua ini diharapkan dapat dilakukan melalui kerjasama Kementerian Kehutanan dengan Badan Pusat Statistik dan pelaksanaannya dapat dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan survei nasional yang rutin dilakukan oleh BPS (antara lain: Sensus Penduduk, Survei Sosial Ekonomi Nasional/SUSENAS, Potensi Desa/PODES). Kelengkapan dukungan data dan informasi tersebut sekaligus dapat dipergunakan untuk memperjelas ukuran pencapaian kinerja yang dilaksanakan oleh Kementerian Kehutanan.
41
VIII. PENUTUP
Agar kegiatan rehabilitasi sumberdaya hutan dan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan secara simultan, perlu dilakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan secara menyeluruh dan komprehensif untuk mengetahui dan mencari keberhasilan dan kekurangan dari masing-masing kegiatan.
Berdasarkan data dan informasi yang berhasil dihimpun serta hasil evaluasi berbagai kegiatan rehabilitasi sumberdaya hutan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar dan di dalam kawasan hutan tersebut disusun skala prioritas kegiatan dan target yang akan dicapai dalam jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Data dan informasi serta perkembangan kegiatan rehabilitasi hutan dan pemberdayaan masyarakat dimonitor serta dievaluasi secara terus menerus untuk menyempurnakan program dan kegiatan yang dijalankan.
Mengingat aspek sosial, ekonomi, budaya dan
kelembagaan masyarakat bersifat dinamis dan beragam pada
berbagai wilayah, maka diperlukan dukungan kajian kalayakan yang konprehensif untuk keberhasilan pelaksanaan program di setiap wilayah. Rehabilitasi hutan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar dan di dalam kawasan hutan, tidak cukup hanya layak dari aspek teknis dan ekologi, tetapi juga harus layak dari aspek sosial, ekonomi, budaya dan kelembagaan. Dengan demikian dukungan penelitian, baik dari aspek teknis dan ekologis maupun dari aspek sosial, ekonomi, budaya dan kelembagaan masih sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan program. Penelitian diarahkan untuk membantu pada tahap persiapan/
perencanaan dan pengawalan, monitoring dan evaluasi
pelaksanaan, sehingga berbagai kendala dan permasalahan yang dihadapi maupun yang potensial akan muncul dapat diantisipasi sedini mungkin dan sumberdaya hutan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan serta kesejahteraan masyarakat dapat terwujud.
42
UCAPAN TERIMA KASIH
Hadirin yang saya hormati
Pertama-tama, penulis memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas taufik dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk menjadi kandidat peneliti utama.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bapak Kepala Badan, Bapak Sekretaris Badan, Bapak Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi, Bapak dan Ibu Kepala-kepala Bidang beserta seluruh jajarannya yang senantiasa memfasilitasi, membantu dan mendorong saya untuk terus bekerja dan berkarya sebagai peneliti hingga saya mampu berdiri di sini saat ini.
Terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya juga penulis sampaikan kepada semua teman sesama peneliti dan teknisi di lingkup Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi khususnya di Kelompok Peneliti Sosio Ekologi Hutan, yang senantiasa memberikan dukungan, bantuan serta masukan dalam pelaksanaan kegiatan penelitian saya selama ini.
Terimakasih tak terkira juga penulis sampaikan kepada almarhum ayah dan almarhumah ibu saya serta suami dan anak- anak tersayang yang senantiasa dengan penuh pengertian mendukung dan mendorong penulis untuk terus bekerja dan berkarya.
Semoga Allah SWT memberikan balasan amal baik kepada mereka semua dengan balasan yang tak terhingga, Amin YRA.
Tak ada gading yang tak retak, karena itu mohon maaf atas segala kesalahan dalam penyusunan karya ilmiah ini.
Semoga tulisan ini bermanfaat.
43
DAFTAR PUSTAKA
Agus, F., Herman, Wahyunto, E. Runtunuwu, E. Susanti, dan W. Wahdini, 2010. Neraca Karbon pada Lahan Perkebunan di Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor. Pp 73.
Amafnini, P. 2010. Hutan Desa di tanah Papua; Kebijakan yang Memudahkan atau Menyulitkan?
Anonim, 2010. Kearifan Tradisional Indonesia dan Pembagian Manfaat Pengelolaan Sumberdaya Gnetis (Summary : Serial Diskusi Kampung KEHATI) http://search.sweetim.com/search.asp?q=Kearifan+Lokal+m asyarakat+dalam+konservasi+sumberdaya+hutan&ln=en&sr c=10 Diakses 13 maret 2011
Arkanudin. 2009. Sistem Perladangan dan Kearifan Tradisional Orang Dayak dalam Mengelola Sumber Daya Hutan. Universitas Kapuas Sintang Universitas Kapuas Sintang. http://www.unka.ac.id/index.php?page=baca1&id=48 diakses 6 Mei 2009.
Badan Planologi Kehutanan, 2010. Penentuan Tingkat Referensi Emisi. Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan Kementerian Kehutanan, Jakarta.
http://www.dnpi.go.id/mrv2/Sesi%20I/Penentuan%20Tingkat %20Referensi%20Emisi%20
(Defining%20Reference%20Emission%20Level)_Ruandha% 20A%20Sugardiman.pdf. Diakses 20 November 2011. Badan Pusat Statistik Republik Indonesia, 2010. Statistik Indonesia
2009. Badan Pusat Statistik Republik Indonesia, Jakarta. Barchia, M. F., 2009. Daya Lenting Rapuh karena Slash and Burn.
http://faizbarchia.blogspot.com/2009_06_12_archive.html. diakses 18 Agustus 2011. P 5.
Benyamine, 2009. Perladangan Berpindah: Bentuk Pertanian Konservasi pada Wilayah Tropis Basah. http://borneojarjua2008.wordpress.com/2009/05/28/
44
perladangan-berpindah-bentuk-pertanian-konservasi-pada- wilayah-tropis-basah/ diakses 16 Agustus 2010. P 6.
Brown, T. 2004 Analysis of population and poverty in Indonesia’s forests. Draft. Natural Resources Management Program Report, Jakarta.
Departemen Kehutanan, 2008. Siaran Pers Departemen Kehutanan No. S.173/II/PIK-1/2008 tanggal 6 Mei 2008. Direktorat Bina Usaha Perhutanan Rkyat, 2002. Pengembangan
Aneka Usaha Kehutanan Untuk Pemberdayaan Ekonomi Rakyat. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, Jakarta.
Djauhari, A. 2002. Budaya Melestarikan Hutan di Kalimantan.
Sinar Harapan 26 Februari 2002.
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0202/26/opi03.html Dove, M. R., 1988. Sistem Perladangan di Indonesia, Suatu studi
kasus dari Kalimantan Barat. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Pp 510.
Forest Watch Indonesia dan Global Forest Watch, 2001. Keadaan Hutan Indonesia. Bogor, Indonesia: Forest Watch Indonesia dan Washington D.C.: Global Forest Watch.
Gintings, A.N and Suharti, S. 1998. Social Factors, Local Impacts and Community Interactions in Timber Estate Establishment. In: Nambiar, EKS., Gintings, A. N., Ruhiyat, D., Natadiwirya, M., Harwood, C.E and Booth, T.H (eds). Workshop Proceedings ”Sustained Productivity of Short and Medium Rotation Plantation Forests for Commercial and Community Benefit in Indonesia. CSIRO Forestry and Forest Products, Australia.
Gintings, A.N., Suharti, S and Sumarhani, 2001. Indonesia’s Social Forestry Program Uses Agroforestry Techniques. APANews. Asia-Pacific Agroforestry Newsletter. No. 21 Haba, M., 1996. HPH Bina Desa, Kinerja dan Kendala. Suara
Pembaharuan, 10 Oktober 1996.
Herman and Suharti, S. 2011. Reformation of Shifting Cultivation Farming System towards Permanent and Sustainable Cultivation. Paper presented at International Conference on
45
Sustainable Agriculture and Food Security: Challenges and Opportunities. Bandung – Indonesia 27-28 September 2011. Iskandar, J. 2009. Pelestarian Daerah Mandala dan
Keanekaragaman Hayati oleh Orang Baduy. Dalam Soedjito dkk (eds). Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman hayati. Yayasan Obor, Komite Nasional Program MAB Indonesia, LIPI dan CII. Jakarta. P 86 – 111.
Kementerian kehutanan, 2010. Statistik Kehutanan Indonesia 2009. Kementerian kehutanan, Jakarta.
Lewoleba, G., 1997. Pola Kemitraan Masyarakat Desa Hutan dengan Pemegang HPH/HPHTI. Makalah disampaikan dalam Diskusi Panel Pengembangan Aspek Sosial Masyarakat (PMDH) Dalam Pengelolaan Hutan Alam Secara Lestari. Direktorat jenderal Pengusahaan hutan, Departemen Kehutanan, Jakarta.
Nawir,A. A., Murniati dan L Rumboko, 2008. Rehabilitasi hutan di Indonesia, Akan kemanakah arahnya setelah lebih dari tiga dasawarsa? Center for International Forestry Research (CIFOR).
Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor P. 57/Menhut-II/2011 tanggal 14 Juli 2011 Tentang Rencana Kerja (Renja) Kementerian Kehutanan Tahun 2012.
Purwanto, E., 2008. Social Forestry dan Pemberdayaan Masyarakat.
http://epurwanto.wordpress.com/2008/04/21/social-forestry- dan-pemberdayaan-masyarakat/ diakses tanggal 31 Oktober 2011.
Purwanto, Y., E.B. Waluyo, F.M. Setyowati and S. Susiarti., 1999. “Cinnamon extractivism at upper Bahau river,ast Kalimantan. Foressasia”. General Extractivism and Silviculture Meeting. ICRAF-CIFOR, Bogor 5 – 7 May 1999. 20 p.
Purwanto, Y., Y. Laumonier dan M. Malaka, 2004. Anthropology and Ethnobotany of Yamdena Societies in Tanimbar Islands. TLUP Tech Serie No.4. The EuropeanUnion Commission, CIRAD and BirdLife Indonesia. 173 p.
46
Purwanto, Y dan E. Munawaroh, 2008. Situs Keramat Alami dan Perannya Bagi Konservasi Keanekaragaman Hayati di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Biodiversitas II: Biodiversitas Untuk Pembangunan Berkelanjutan. Universitas Airlangga. Surabaya, 19 Juli 2008. Buku !. 239 – 248 p.
Reni, J. 2008. Hutan Desa Untuk Kesejahteraan Masyarakat. http://www.warsi.or.id/NEWS/2008/News_200811_HutanDesa. htm Diakses 9April 2010.
Suharti, S, 1991a. Socio Economic Aspects of Shifting Cultivation in South Kalimantan, Indonesia. A case Study in Two Forest Concessions; HPH. PT. Yayang and HPH. PT. Hutan Kintap. Thesis For MSc Degree in Tropical Forestry. Department of Forestry, Wageningen Agricultural University. The Netherlands.
Suharti, S., 1991b. Agroforestry suatu Alternatif untuk Pengendalian Peladangan di Propinsi Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Vol VII No 1: 23-27.
Suharti, S, dan Alrasyid, H. 1992. Perladangan Berpindah Di Jawa Barat. Buletin Penelitian Hutan, No. 546. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, Bogor.
Suharti, S and Murniati. 1994. The application of Social Forestry in several “HPH Bina Desa” Program in Indonesia. Proceeding Seminar on Social Forestry Indonesia-Malaysia.
Suharti, S, 1997. Praktek Perladangan Berpindah Ditinjau dari Aspek Sosial, Budaya dan Ekonomi: Studi Kasus di HPH PT Yayang, Kab. Tabalong, Prov Kal-Sel. Buletin Penelitian Hutan No. 608/1997. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Bogor.
Suharti, S, 1998. Program PMDH Suatu Alternatif Untuk Meningkatkan Manfaat Hutan Bagi Masyarakat di Sekitarnya. Prosiding Ekspose Pengembangan Hasil Penelitian “ Peran Hutan dalam memenuhi Kebutuhan Manusia dan Antisipasi Isu Global”. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Bogor.
47
Suharti, S., Widiarti, A dan Andadari, L. 1999. Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Kegiatan Pengelolaan Hutan Melalui Pelaksanaan Program PMDH (Suatu Kajian Pelaksanaan PMDH Pada Beberapa Wilayah Konsesi HPH). Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian ”Penerapan Teknik Konservasi Tanah dan Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Kegiatan Pengusahaan Hutan”. Bogor, 11 Februari, 1999. PUSAT Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Bogor.
Suharti, S, 2001. The Increase of Community Participation in Forest Management through Development of Social Forestry Program in Indonesia. Workshop Proceeding “ The Balance Between Biodiversity Conservation and Sustainable Use of Tropical Rain Forests”. The Tropenbos Foundation, Wageningen, the Netherlands.
Suharti, S, 2002. Adopsi Kearifan Lokal Masyarakat Sebagai Suatu Alternatif Upaya Menunjang Konservasi Sumberdaya Hutan. Prosiding “Diskusi Hasil-Hasil Litbang Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Hutan”. Bogor, 23 Desember, 2002. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Bogor.
Suharti, S, 2004. Implementasi Social Forestry Dalam Rangka Rehabilitasi Lahan di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB)- Jawa Timur. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Volume I (3): 345-355.
Suharti, S. 2005. Integrasi Program GERHAN dan Social Forestry (SF) Melalui Pengembangan Komoditi (AUK) Aneka Usaha Kehutanan. Prosiding Ekspose Penerapan Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam, Palembang, 15 Desember, 2004. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Bogor.
Suharti, S dan Murniati. 2005. Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM): Peluang usaha, peningkatan kesejahteraan dan permasalahan peningkatan produktivitas. Prosiding Ekspose Penerapan Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam, hal 65-75.
Suharti, S. dan Widiarti, A.2005. Nilai Ekonomi Penurunan Daur Tebang Acacia mangium Willd. Di Hutan Tanaman Industri
48
PT Arara Abadi, Riau. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol II No. 6: 619-629.
Suharti, S. 2006. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Melalui Budidaya Vanili (Vanilla planifolia Andrews) pada Kawasan Hutan di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Prosidin Gelar dan Dialog Teknologi ”teknologi untuk Kelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat. Mataram, 29-30 Juni 2005. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, Bogor.
Suharti, S. 2007. Pola Pemanfaatan lahan dengan Aneka Usaha Kehutanan (AUK) di Jawa Barat: Studi Kasus di KPH Sumedang, Cianjur dan Sukabumi. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Volume IV (3): 301-313.
Suharti, S. 2008. Rehabilitasi Lahan di Daerah Interface Secara Partisipatif Dengan Pendekatan PHBM (Studi kasus si Parung Panjang, Bogor). Prosiding Seminar Nasional “Silvikultur Rehabilitasi Lahan: Pengembangan Strategi untuk Mengendalikan Tingginya Laju Degradasi Hutan. Wanagama I, 24 – 25 November, 2008. Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada.
Suharti, S. 2009. Prospek Pengusahaan Gaharu Melalui Pola Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM). Makalah disampaikan dalam Workshop “ Pengembangan Teknologi Produksi Gaharu Berbasis pada Pemberdayaan Masyarakat di Sekitar Hutan’, Bogor 29 April 2009.
Suharti, S., 2010 a. Integrasi Tanaman Penghasil Gaharu Diantara Tegakan Pohon Dengan Model Kemitraan Untuk Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Sekitar Hutan. Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (MAPEKI) XIII Bali, 11-13 November 2010. Suharti, S. 2010 b. Promoting Agarwood Cultivation Through
Partnership Model in KHDTK (Forest Area for Special Purpose) Carita, Banten Province, Indonesia. Poster presented at The 2010 International Meeting of The Association for Tropical Biology and Conservation. Tropical Biodiversity: Surviving the Food, Energy and Climate Crisis. 10 – 23 July 2010, Bali, Indonesia.
49
Suharti, S., Sumarhani., Utis, S. dan Ambar, W, 2010. Laporan Hasil Penelitian “Kajian Ketersediaan Lahan Untuk Mendukung Ketahanan Pangan di Daerah Rawan Pangan di Papua (Unpublish).
Suharti, 2011 a. Pola Pemanfaatan lahan Dengan Aneka Usaha Kehutanan (AUK) Untuk Mengurangi Ketergantungan masyarakat terhadap hutan (Studi Kasus di KHDTK Carita, banten). Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (MAPEKI) XIV Yogyakarta 2 November 2011.
Sunderlin, W.D., Resosudarmo, I.A.P., Rianto, E. dan Angelsen, A. 2000. The effect of Indonesia’s economic crisis on small farmers and natural forest cover in the outer islands. Occasional Paper 29(E). Bogor, CIFOR.
Verchot, L.V., Petkova, E., Obidzinski, K., Atmadja, S., Yuliani, E.L., Dermawan, A., Murdiyarso, D. dan Amira, S. 2010 Reducing forestry emissions in Indonesia. Center for International Forestry Research (CIFOR), Bogor – Indonesia.
51
N. M. Heriyanto, S.Hut1
I. PENDAHULUAN
Hadirin yang saya muliakan,
Keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia mencapai 10% untuk spesies tumbuhan berbunga, 12% spesies reptilia dan amphibia, 17% spesies burung, dan 37% spesies ikan dari total keanekaragaman hayati yang ada di dunia, sedangkan luas Indonesia hanya 1,3% dari luas bumi (BAPPENAS, 1993., Adisoemarto dan Rifai, 1994). Indonesia juga memiliki paling tidak 47 tipe ekosistem alam yang khas (Sastrapradja et al., 1989).
Hutan tropis di Indonesia menempati urutan ketiga di dunia setelah Brazil dan Zaire. Pada tahun 2001 luas hutan mencapai 103,043 juta hektar atau 51,62% dari luas daratan dengan laju deforestasi sebesar 0,5% per tahun (Departemen Kehutanan dan FAO, 2002).
Hutan merupakan salah satu ekosistem dari ekosistem sumberdaya alam hayati yang memiliki peran penting dalam ekosistem sumberdaya tersebut, salah satunya yaitu sebagai penyerap (rosot) karbondioksida (CO2) dari udara. Menurut
International Panel on Climate Change/IPCC (2003) sampai akhir tahun 1980 emisi karbon di dunia adalah sebesar 117±35 G ton C, berasal dari pembakaran fosil berupa bahan bakar minyak dan batubara, penebangan hutan dan kebakaran hutan. Untuk mengatasi masalah yang lebih serius tersebut, peran hutan sebagai penyerap CO2 harus dikelola dengan baik. Secara global,
deforestasi memberikan emisi sekitar 20% dari total emisi karbon (Houghton, 2005). Deforestasi dan degradasi hutan di Indonesia diperkirakan mengakibatkan emisi karbon dioksida sebesar lebih dari 2,5 milyar ton per tahun.
1
52
Terkait dengan isu perubahan iklim dan pemanasan global, maka salah satu cara untuk menjaga fungsi ekologis hutan adalah dengan melaksanakan mitigasi melalui mekanisme REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation) dalam perdagangan karbon internasional. Isu REDD ini semakin menguat sebagaimana amanat hasil dari COP-13 (Conference on Parties-13) di Bali (Masripatin, 2007). Hutan alam memiliki potensi yang besar untuk diikutsertakan dalam mekanisme REDD. Hal ini disebabkan oleh hutan tropis Indonesia merupakan urutan ketiga terbesar di dunia setelah Brazil dan Zaire (Masripatin, 2007). Di lain pihak, banyak juga kondisi hutan alam yang telah mengalami penebangan memiliki potensi tegakan yang mendekati potensi tegakan pada hutan alam primer.
Pada prinsipnya mitigasi adalah mengatasi perubahan iklim melalui penurunan jumlah emisi yang dihasilkan oleh sumbernya atau meningkatkan cadangan karbon melalui upaya rehabilitasi kawasan hutan yang rusak dengan kegiatan aforestasi maupun reforestasi.
Hutan yang mampu berperan dalam mitigasi perubahan iklim adalah hutan yang kondisinya masih baik, dan memiliki jaminan dalam jangka waktu yang lama tidak mengalami perubahan lingkungan dan perubahan peruntukan yang berdampak besar.
II. BIOMASA DAN KANDUNGAN KARBON
Hadirin yang saya muliakan,
Biomasa hutan dinyatakan dalam satuan berat kering oven per satuan luas, yang terdiri dari berat daun, bunga, buah, cabang, ranting, batang, akar serta pohon mati (Brown et al., 1989). Besarnya biomasa hutan ditentukan oleh diameter, tinggi, kerapatan tegakan, dan kesuburan tanah. Penghitungan biomasa hutan tropis sangat diperlukan untuk mengetahui potensi dan pengaruhnya pada siklus karbon (Morikawa, 2002). Dari biomasa hutan, kurang lebih sebanyak antara 45 dan 50 persen mengandung karbon (Brown, 1997; International Panel on Climate Change, 2003). Selanjutnya dinyatakan oleh Nelson et al. (1999), bahwa data biomasa suatu ekosistem sangat berguna untuk mengevaluasi pola produktivitas berbagai macam ekosistem yang
53
ada. Tegakan hutan mempunyai potensi besar dalam menyerap dan mengurangi kadar karbondioksida di udara melalui kegiatan konservasi dan perbaikan manajemen tegakan hutan.
Biomasa tegakan dapat dibedakan ke dalam dua kategori, yaitu biomasa di atas tanah (batang, cabang, ranting, daun, bunga dan buah) dan biomasa di dalam tanah (akar). Kusmana et al. (1992) menyatakan bahwa, besarnya biomasa ditentukan oleh diameter, tinggi pohon, berat jenis kayu dan kesuburan tanah. Selanjutnya dinyatakan untuk menduga biomasa pada hutan, dapat digunakan parameter diameter dan tinggi pohon, akan tetapi diameter merupakan parameter yang paling akurat untuk menduga biomasa tegakan dibandingkan dengan tinggi pohon. Diameter setinggi dada (DBH) pohon berkaitan erat dengan biomasa, di mana semakin besar diameter maka semakin besar biomasanya.
Kandungan karbon pada tanaman menggambarkan berapa besar tanaman tersebut mengikat CO2 dari udara.
Sebagian karbon akan menjadi energi untuk proses hidup tanaman dan sebagian masuk dalam struktur tumbuhan dan menjadi bagian dari tumbuhan, misalnya selulosa.
Penelitian pendugaan biomasa dan kandungan karbon di hutan tropis masih sangat sedikit dilakukan. Pendugaan biomasa pada hutan di negara tropis pada dasarnya sangat dibutuhkan karena potensi biomasa hutan yang besar dalam menyerap karbon. Lebih lanjut hutan tersebut mempunyai potensi yang besar dalam pengurangan kadar CO2 melalui konservasi dan
manajemen kehutanan (Brown et al., 1996).
Dalam mekanisme pembangunan bersih, negara maju diharuskan mengurangi emisi karbondioksida (CO2), untuk negara
berkembang yang umumnya terletak di daerah tropik diwajibkan mencegah kerusakan hutan yang bertujuan untuk mengurangi pemanasan global. Seperti sudah diketahui bahwa pertumbuhan pohon di daerah tropik umumnya lebih pesat bila dibandingkan