• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN LAHAN DI DAERAH PENYANGGA

PENGENTASAN KEMISKINAN DAN PELESTARIAN SUMBERDAYA HUTAN

DAERAH PENYANGGA

IV. PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN LAHAN DI DAERAH PENYANGGA

Bapak, ibu, dan para hadirin yang saya muliakan

Pemanfaatan dan penggunaan lahan di daerah penyangga Taman Nasional dijumpai tipe pengelolaan lahan yang dapat dibedakan menurut jarak lokasi dengan taman nasional, sosial ekonomi dan budaya masyarakat, dan kondisi fisik areal seperti iklim, jenis tanah, ketinggian dari permukaan laut, topografi, curah hujan, sistem penanaman hutan rakyat, kesesuaian lahan terhadap jenis tanaman seperti, gangguan satwaliar serta sumber air. Kondisi ini memberikan model hutan rakyat secara monokultur maupun campuran jenis tanaman perkayuan, buah-buahan, palawija, tanaman obat-obatan, dan sayur-sayuran.

Berdasarkan pengelolaan dan pemanfaatan lahan di daerah penyangga taman nasional maka disusun pola pengelolaan lahan yang dibagi ke dalam zonasi atau jalur yang berupa jalur

162

hijau, jalur interaksi, dan jalur budidaya (Setyawati dan Bismark, 2002). Di setiap taman nasional memiliki lebar jalur dan pemanfaatan jalur yang berbeda.

Di daerah penyangga TN. Gn. Halimun, jalur hijau yang berbatasan langsung dengan kawasan adalah hutan rakyat (0-0,5 km) (Bismark et al,, 2007). Jalur ini merupakan areal yang pemanfaatan lahannya cenderung ke arah tanaman keras berupa tanaman penghasil kayu sebanyak 232 pohon/ha dengan nilai ekonomi sekitar Rp 750.000,- - Rp 1.000.000,-. Hal ini disesuaikan dengan kondisi lahan di areal ini yang umumnya bertopografi sedang sampai berat dan langsung berbatasan dengan kawasan hutan, berfungsi sebagai kawasan lindung.

Jalur interaksi merupakan areal transisi (0,5 km – 1 km) yang ditanami dengan pola agroforestri atau kebun campuran dari tanaman pangan, tanaman kayu, tanaman palawija, tanaman buah-buahan, tanaman obat-obatan, dan industri rumah tangga. Populasi tanaman kayu dan buah-buahan 132 pohon/ha dan bernilai ekonomi sekitar Rp 1.000.000,- - Rp 1.650.000,-.

Jalur budidaya (1 km – 2 km) merupakan kawasan yang ditanami dengan tanaman sayur-sayuran, tanaman palawija, tanaman pangan, tanaman buah-buahan dan tanaman obat- obatan, populasi pohon buah-buahan sebanyak 32 pohon /ha dan bernilai ekonomi sekitar Rp 1.570.000 – Rp 2.060.000

Di Taman Nasional Gn Ceremai, Kabupaten Kuningan lebar jalur hijau (0,5-2 km) ditetapkan berdasarkan potensi satwa jenis primata dan mamalia seperti monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan babi hutan (Sus scrofa) (Bismark dan Sawitri, 2006 dan Bismark et al., 2007). Hal ini didasarkan pada pergerakan satwa primata seperti Macaca fascicularis 1.869 m per hari. Jalur ini dimaksudkan sebagai penyangga fisik kawasan dari gangguan dan pengaruh jenis eksotik tumbuhan dan sebagai perluasan home range satwa liar. Kawasan yang dapat dikelola sesuai dengan fungsi di atas adalah hutan produksi, kawasan lindung, dan kawasan hutan lainnya seperti hutan rakyat yang berbatasan dengan kawasan konservasi serta sungai, bumi perkemahan, dan kebun raya. Pendapatan total masyarakat rata-rata per kepala

163

keluarga (KK) per tahun minimal Rp 7 juta dari luasan areal rata- rata 2.400 m2 .

Jalur interaksi (3-5 km) di TNGC berfungsi sebagai penyangga kawasan konservasi dan jalur hijau dari perubahan ekosistem yang drastis, gangguan satwa liar ke kawasan budidaya dan mendukung peningkatan sosial ekonomi masyarakat. Pengelolaan jalur ini dengan mengembangkan wanatani, taman wisata alam (TWA), dan tanaman pekarangan di pedesaan mendukung konservasi tumbuhan benilai ekonomis dan ekologis mampu berfungsi sebagai habitat burung (sumber pakan, bersarang, dan berkembang biak) seperti elang jawa (Spizaetus bartelsi Stresemann). Sumber pakan burung di jalur interaksi berupa serangga, biji-bijian, buah-buahan, dan mamalia serta reptilia kecil. Di samping itu, areal ini merupakan perluasan homerange burung penyebar biji-bijian seperti burung cabe (Dicaeum trochilium) yang menyebarkan biji benalu (Sawitri et al., 2007).

Jalur budidaya daerah penyangga berfungsi mendukung pengembangan tanaman budidaya untuk peningkatan sosial ekonomi masyarakat, pengembangan wilayah, dan wisata melalui pengelolaan dan pengembangan pertanian terpadu tanpa pembakaran lahan, pemakaian herbisida yang ramah lingkungan, serta menetapkan pemukiman masyarakat desa di lokasi yang tidak akan menimbulkan dampak negatif terhadap kawasan dan masyarakat akibat satwa liar (Setyawati dan Bismark, 2002).

Areal di sekitar TNGC selebar 0,5-10 km dari batas kawasan, merupakan pengelolaan daerah penyangga yang optimal karena tedapat komponen pemanfaatan lahan berupa hutan kemasyarakatan, hutan rakyat, wanatani, perkebunan, pertanian dan tanaman pekarangan atau buah-buahan. Proporsi pemanfaatan lahan sebagai hutan berbanding lurus dengan jarak areal terhadap kawasan taman nasional, hal ini menyatakan bahwa pengembangan dan pengelolaan lahan sebagai penyangga taman nasional oleh masyarakat sekitar telah cukup memadai perbandingannya, di mana persentasi hutan kemasyarakatan, Hutan rakyat, dan wanatani di jalur hijau 22,6%, di jalur interaksi 22,1%, dan di jalur budidaya 3,6%.

164

Pengelolaan daerah penyangga Taman Nasional Gunung Ceremai (TNGC), Kabupaten Majalengka terbagi ke dalam tiga zona (jalur) yaitu jalur hijau (1-3 km), jalur interaksi (3-5 km), dan jalur budidaya (>7 km) yang dibedakan menurut jaraknya dari kawasan taman nasional, ketinggian dari permukaan laut, topografi, pola tanaman, dan keragaman jenis tanaman (Bismark dan Sawitri, 2008). Jalur hijau dan jalur interaksi sangat berpotensi sebagai kawasan koridor TNGC karena merupakan habitat satwa burung, serta mendukung perekonomian masyarakat dengan jenis tanaman yang dikembangkan berupa tanaman perkayuan, buah-buahan, dan obat-obatan. Areal dengan ketinggian < 1000 m dpl ini merupakan daerah perladangan, pertanian maupun pemukiman sehingga diharapkan oleh masyarakat adalah kemudahan mengambil hasil dan keamanan tanamannya. Tanaman obat-obatan yang dikembangkan masyarakat di antaranya adalah kapol (Amomum cordomonum Willd.) dan sereh (Andropogonis sp.) karena mudah dibudidayakan di bawah tegakan pohon dan permintaan pasar.

Pengelolaan lahan dengan pola hutan rakyat telah mengembangkan 31 jenis budidaya tanaman kayu dan buah-buahan di antaranya adalah jati (Tectona grandis L.f, INP = 34,2), mahoni (Swietinia mahagoni Jacq, INP = 27,3), dan tisuk (Hibiscus macrophyllus Roxb., INP = 24,2). Kesuburan tanah di kawasan maupun hutan rakyat tidak berbeda karena cara pengolahan tanah dan pemupukan yang serupa. Pola hutan rakyat yang dikembangkan pada ketinggian > 1.000 m dpl, seperti di Desa Cikaracak dilakukan secara monokultur yaitu tanaman bambu seperti bambu betung (Dendrocalamus aspers Backer), bambu tarung (Bambusa spp.), bambu tali (Gigantochloa apus Kurz), bambu haur (Bambusa vulgaris Schrad), bambu surat (Gigantochloa verticiliatas Munro), bambu temen (Sehizostachyum blumei Nees), dan bambu buluh (Schizostachyum brachycladum Kurz). Di samping itu masyarakat mengembangkan hutan rakyat dengan tanaman bambu secara monokultur dengan luasan berkisar antara 0,5-1 ha pada zona 1-3 km. Hasil bambu berupa batang bambu dan serasah, serasah berharga Rp 70.000,- per truk kecil sementara harga bambu betung Rp 10.000,- per batang dan bambu kecil Rp 1.000,- – Rp 1.500,- per batang.

Jenis tanaman buah durian (Durio zibethinus Lamk), mangga (Mangifera indica), dan alpukat (Persea americana Mill.)

165

paling banyak ditanam oleh masyarakat karena kecocokan lahan dan nilai ekonomi yang tinggi dan relatif stabil. Tanaman buah mangga dan durian ditanam di areal hutan rakyat pada ketinggian < 1.000 m dpl seperti pada Kecamatan Sindangwangi, Raja Galuh dan Suka Haji. Tanaman buah alpukat lebih banyak dikembangkan di hutan rakyat atau ladang pertanian pada ketinggian > 1.000 m dpl seperti Kecamatan Argopura dan Banjaran. Jumlah pendapatan tersebut di atas diperoleh dari kepemilikan hutan rakyat seluas antara 1-2 ha per KK, sedangkan luasan sawah hanya berkisar antara 100-250 m2 per KK dengan hasil Rp 1,5 juta per tahun yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Manfaat ekologis dari hutan rakyat yang memiliki stratifikasi tajuk seperti hutan alam adalah terbentuknya habitat satwaliar di daerah penyangga taman nasional (Bismark, 2002). Jenis satwaliar yang umumnya memanfaatkan hutan rakyat sebagai tempat mencari pakan yaitu burung pemakan serangga, ulat, mamalia kecil, buah-buahan, biji-bijian, dan madu. Dengan demikian areal ini merupakan lokasi pelestarian burung di luar kawasan konservasi. Selain itu burung ini dapat pula sebagai sumber mata pencaharian tambahan masyarakat. Jenis-jenis burung di daerah penyangga yang dimanfaatkan untuk dikonsumsi maupun diperjual-belikan oleh masyarakat adalah burung-burung untuk dikonsumsi maupun burung berkicau seperti Turnix suscicator Gmelin, Aethopyga exemia Horsfield, Streptopilia chinensis Scapoli, Pycnonotus aurigaster Vieillot, burung kacamata gunung (Zosterops montanus Bonaparte), sikinangka (Ortothomus sutorius Pennant), dan Prinia familiaris Horsfield (Sawitri et al., 2007). Keragaman jenis burung di hutan agroforestry yang sudah tua akan mendekati keragaman jenis burung di hutan alam (Thiollay, 1995).

Populasi mamalia yang dapat dilestarikan di kawasan wanatani dan hutan rakyat di antaranya adalah Sus scrofa Linn, Macaca fascicularis Raffles, Tupaia javanica Horsfield, Hystrix brachiura, Manis javanica, Paradoxurus hermaphrodites, Mutiacus muntjak Dyer., dan Tragulus javaniva. Jenis mamalia yang ditemui di daerah penyangga ini mencari pakan berupa daun-daunan, buah-buahan dan biji-bijian seperti pisang (Musa sp.), kopi (Coffea caenophora L.), dan pohon. Di luar kawasan TNGC jenis satwa ini

166

dianggap sebagai hama tanaman sehingga sering dijadikan sasaran perburuan.

Dari segi konservasi tanah dan air, sistem stratifikasi tajuk yang menyerupai hutan pada hutan rakyat akan lebih berdampak pada peresapan air, karena hujan tidak langsung ke tanah sehingga mencegah erosi permukaan. Hal ini dipengaruhi oleh komposisi jenis pohon dan pola tanamnya. Menurut Pudjiharta (1990), peran jenis pohon dalam peresapan air seperti Calliandra callothyrsus Benth (56%), Parkia javanica (63,9%), dan Dalbergia latifolia (73,30%). Di samping itu wanatani daerah penyangga bertopografi landai sampai sangat curam menyebabkan sistem pengelolaan lahan dapat mendukung konservasi, karena wanatani pada tanah latosol dengan kemiringan 30%, aliran permukaannya adalah 14,276 m3/ha/tahun dengan erosi 0,06 ton/ha/tahun (Pratiwi, 2002).

Bapak, ibu, dan para hadirin yang saya muliakan

Kawasan Gunung Ciremai adalah Daerah Aliran Sungai (DAS) dari 43 sungai dan anak sungai untuk sumber air irigasi, perikanan, sumber air baku bagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Sumber air dari dalam kawasan dan ke luar di batas kawasan atau jalur hijau terdapat 147 mata air yang mengalirkan air sepanjang tahun antara 50-2.500 liter/detik, serta air terjun yang menjadi obyek wisata. Penelitian sebelumnya mencatat bahwa nilai hidrologis dari Gunung Ciremai untuk sektor rumah tangga mencapai 33,5 triyun rupiah per tahun. Suplai air untuk PDAM, Kota Cirebon dari kawasan Gunung Ciremai adalah 800 liter/detik, dan suplai air terbesar adalah 2.500 liter/detik untuk pertanian dan perkebunan (Universitas Kuningan, 2004).

Sumber air dan mata air di jalur interaksi dan budidaya daerah penyangga TNGC dikembangkan dalam bentuk obyek wisata dan waduk. Dengan berkembangnya tempat wisata ini masyarakat mendapat tambahan pendapatan minimal Rp 100.000,- per bulan bagi keluarga dengan tambahan usaha di bidang wisata alam. Danau air tawar merupakan daya tarik wisata untuk kegiatan berperahu dan memancing, seperti yang dilakukan di TWA Punti Kayu (Sawitri, 2004). Pengelolaan TWA ini memberikan kontribusi sebesar Rp 1.600.000,-/bulan.

167

V. KESIMPULAN DAN SARAN

Bapak, ibu, dan para hadirin yang saya muliakan

Dari uraian tersebut di atas dapat saya simpulkan sebagai berikut:

1. Keanekaragaman hayati di daerah penyangga dapat dimanfaatkan untuk pelestarian sumberdaya genetik tanaman hutan, sumber buah-buahan, sumber sayuran dan obat-obatan, tanaman perkebunan, sumber kayu, habitat satwa liar, konservasi tanah dan air dan lingkungan.

2. Ketergantungan masyarakat di daerah penyangga terhadap hutan ditunjukkan oleh pengelolaan dan pemanfaatan keragaman hayati secara langsung seperti burung, nekton, mamalia kecil, mamalia besar.

3. Daerah penyangga setiap taman nasional memiliki lebar jalur hijau, jalur interaksi, dan jalur budidaya yang berbeda menurut karakteristik lokasi dan pengelolaan lahan. 4. Pengelolaan lahan di daerah penyangga dalam bentuk

hutan rakyat secara ekonomis dan ekologis memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat maupun pelestarian satwaliar.

5. Sumber air berupa danau, mata air, dan sungai dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai tempat wisata alam untuk menambah pendapatan daerah maupun masyarakat sekitar.

Beberapa hal penting yang dapat disarankan, sebagai berikut:

1. Pengelolaan dan pemanfaatan lahan di daerah penyangga perlu diatur dan terprogram agar pola kegiatan satu dengan kegiatan lain saling sinergi dan mendapat hasil yang optimal bagi peningkatan sosial ekonomi masyarakat, lingkungan, pengamanan taman nasional serta jasa lingkungan. Dengan meningkatnya pendapatan masyarakat melalui peningkatan produktivitas lahan daerah penyangga diharapkan dapat mengurangi intervensi masyarakat memanfaatkan kawasan taman nasional.

168

2. Pengelolaan hutan rakyat di daerah penyangga perlu dikembangkan secara intensif untuk memperoleh Sertifikasi Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Lestari (PHBML)agar memberikan kontribusi perekonomian yang lebih tinggi dan dampak ekologis yang lebih baik bagi relung hidup satwaliar.

3. Untuk menampung kegiatan masyarakat di dalam kawasan terutama bagi masyarakat yang tidak memiliki lahan diperlukan cadangan lokasi di pinggir kawasan 100 - 200 m, sebagai jalur hijau dalam bentuk hutan rakyat.

VI. PENUTUP

Demikianlah ulasan tentang pemanfaatan keragaman hayati dan pengelolaan lahan di daerah penyangga taman nasional yang merupakan gambaran tentang kegiatan masyarakat di sekitar kawasan konservasi. Ulasan ini diharapkan mampu memberikan bahan pertimbangan dalam mengelola lahan di daerah penyangga dan keragaman hayati yang menarik minat masyarakat untuk memperoleh hasil yang optimal dan efisien dalam meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat.

UCAPAN TERIMA KASIH

Bapak dan ibu yang terhormat,

Kajian ini merupakan hasil perjalanan dalam pemikiran dan tindakan yang telah dilakukan dalam penelitian mulai dari alih tugas sebagai peneliti pelestarian sumberdaya alam dan dilandasi oleh pengalaman di lingkungan rumah, sekolah, dan pekerjaan. Sejalan dengan tersusunnya karya ilmiah ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Allah SWT, yang selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-nya dalam mengarungi hidup ini.

2. Kedua orang tua yang selalu memberi dorongan dan dukungan moril maupun materil.

3. Para guru dan dosen yang memberikan dasar pengetahuan, keterampilan, tuntunan dan kesempatan dalam meningkatkan kinerja.

169

4. Pimpinan institusi tempat saya pernah dan sedang bertugas yang memberikan kesempatan dan dorongan.

5. Para teman sekerja, atas segala bantuannya, baik tenaga, pemikiran, moral maupun saran dan pendapat.

6. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu, atas semua kebaikan yang telah diberikan.

Akhir kata, saya panjatkan puji syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa atas perkenan-Nya, presentasi ini dapat dilaksanakan. Kepada seluruh hadirin saya mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam penyampaian ulasan ini terdapat kekurangan dan kekhilafan dalam bertutur dan bersikap.

Terima kasih,

Wassalamua’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

DAFTAR PUSTAKA

Bismark, M. 2002. Integrasi Kepentingan Konservasi dan Kebutuhan Sumber Penghasilan Masyarakat dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi. Prosiding. Hasil-hasil Litbang Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Hutan. P3HKA Bogor.

Bismark, M dan R. Sawitri. 2006a. Pengembangan Daerah Penyangga Taman Nasional Gn. Ceremai, Jawa Barat. Pertemuan Multi Stakeholder: ”Persiapan Multistakeholders dalam Masa Transisi Pengelolaan dari Hutan Produksi Menjadi Hutan Konservasi Taman Nasional Gunung Ceremai di Kuningan dan Majalengka, 15-16 November 2006.

Bismark, M., R. Sawitri, dan NM Heriyanto. 2007. Zonasi dan Karakteristik Hutan Rakyat di Daerah Penyangga Taman Nasional Gunung Halimun. Info hutan Volume IV Nomor 2 Tahun 2007, ISSN: 1410-0657, 187-199, Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, Bogor

Bismark, M., R. Sawitri, dan Eman, 2007. Pengelolaan dan Zonasi Daerah Penyangga Taman Nasional Gunung Ceremai,

170

Kabupaten Kuningan. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. Vol. IV. No. 5 tahun 2007,.

Bismark, M. dan R. Sawitri , 2008. Pengelolaan Lahan dan Hutan Rakyat Daerah Penyangga Taman Nasional Gunung Ceremai, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Info Hutan . Vol. V. No. 4 Tahun 2008: 317-327.

Heriyanto, NM dan R. Sawitri, 2006. Kajian Ekologi dan Potensi Pasak Bumi (Eurycoma longifolia Jack) di Kelompok Hutan Sungai Manna-Sungai Nasak, Bengkulu. Buletin Plasma Nutfah, Vol. 12 No. 2.

Heriyanto, NM, dan R. Sawitri, dan D. Subandidinata. 2007. Kajian Ekologi Permudaan Saninten (Castanopsis argentea (BI.) A.D.C.) di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat. Buletin Plasma Nutfah, Vol. 13 No. 1 Tahun 2007; 34- 42. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

Michon, CT dan de Foresta H. 1995. The Indonesia Agroforest Model. The Management and Biodiversity Conservation. Forest Resource The Role of Traditional Agro Ecosystems. IUCN: P90-100 (Dalam Agroforest Khas Indonesia de Foresta et aled. 2000).

Pratiwi. 2002. Penerapan Teknik Konservasi Tanah dan Air di Hutan Tanaman. Prosiding Diskusi Hasil-hasil Litbang Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Hutan. P3HKA, Bogor.

Sawitri, R. M. Bismark, AS Mukhtar, Ismayadi, S. Iskandar. NM Hariyanto, R. Garsetiasih dan U. Hidayat. 2000. Paradigma Baru Pengelolaan Hutan Pengelolaan Kayu vs Pengelolaan Sumbedaya Alam. Prosiding “Peran Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dalam Menyongsong Paradigma Baru Pengelolaan Hutan”. Bogor, 7 Maret 2000.Hal 25-41. Sawitri, R. dan Garsetiasih. 2000a. Studi Populasi Habitat serta

Produktivitas Burung Walet Putih (Collocalia fuciphaga) di Gombong Selatan, Jawa Tengah.. Buletin Penelitian Hutan No.620/2000, 37-49 Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, Bogor.

171

Sawitri, R. 2000. Berbudidaya Konyal (Passiflora edulis). Surili. 16.26-28. Kanwil Dephut, Jabar.

Sawitri, R. dan Garsetiasih. 2000b. Pengelolaan dan Pengusahaan Burung Wallet Sarang Putih (Collocalia fuciphaga). Presentasi Hasil-hasil Penelitian dan Pengembangan. Cianjur.

Sawitri, R. dan Garsetiasih. 2001. Pendekatan Model Pengelolaan Ekosistem Estuaria Melalui Keanekaragaman Jenis Ikan dan Udang, di S. Way Kambas, Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Buletin Penelitian Hutan 627. 26-43

Sawitri, R. 2004. Potensi Biologis dan Pengunjung dalam Menunjang Pengelolaan Taman Wisata Alam Punti Kayu Palembang, Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol I No.2, 2004; 192-202.

Sawitri, R. dan E. Karlina. 2006. Kualitas Perairan Lahan Basah di Sungai Comal, Pemalang dan Sungai Kedung Coet, Indramayu. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol III No.2, 2006; 185-193.

Sawitri, R. dan S. Iskandar. 2006. Pengaruh pengelolaan Hutan Produksi terhadap Keragaman Jenis Plasma Nutfah Perairan. Buletin Plasma Nutfah, Vol. 12 No. 2 Tahun 2006. Sawitri, R., A.S. Mukhtar dan E. Karlina. 2007 Habitat dan Populasi

Burung di Taman Nasional Gunung Ceremai, Kabupaten Kuningan Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol IV No.3, 2007; 315-328. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam.

Sawitri, R. dan S. Iskandar. 2007. Upaya dan Tantangan Konservasi di Taman Nasional Gunung Merbabu. Prosiding Gelar Teknologi, Pemanfaatan IPTEK untuk Kesejahteraan Masyarakat: 79-86. Purworejo, 30-31 Oktober 2007.

Sawitri, R., A.S. Mukhtar dan S. Iskandar. 2010. Status Konservasi Mamalia dan Burung di Taman Nasional Merbabu. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. Vol VII No. 3, 257-270.

Sawitri, R., S. Suharti, dan E. Karlina. 2011. Interaksi Masyarakat dengan Hutan dan Lingkungan Sekitarnya di Kawasan dan

172

Daerah Penyangga Taman Nasional Kutai. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. Vol. 8 No 2 Tahun 2011. 129-142.

Setyawati T. dan M. Bismark. 2002. Prioritas Konservasi keanekaragaman Tumbuhan di Indonesia. Buletin penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Vol.3 No.2. Th. 2002. Hal 131-144.

Thoillay, J.M. 1995. The Role of Traditional Agroforest, in the Convervation of Rain Forest Bird Divercity in Sumatera. Conservation Biology. 9 (2): 335-353.

Universitas Kuningan. 2004. Ekosistem Kawasan Hutan Gunung Ciremai Kuningan, Jawa Barat. Fakultas Kehutanan. Kuningan.

173