PENGENTASAN KEMISKINAN DAN PELESTARIAN SUMBERDAYA HUTAN
V. INTEGRASI PROGRAM REHABILITASI LAHAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Belajar dari pengalaman di masa lalu, maka pola pendekatan dan implementasi kegiatan dilaksanakan dengan mengakomodasikan berbagai kepentingan parapihak termasuk masyarakat lokal yang sebelumnya terabaikan dan terpinggirkan. Pendekatan yang semula bersifat sentralistik, timber oriented, top down berangsur beralih kepada pendekatan yang partisipatif, mengutamakan kelestarian sumberdaya hutan dalam jangka panjang serta kesejahteraan masyarakat yang selama ini berinteraksi sangat erat dengan hutan.
Sejak tahun 2004, pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan di sekitar hutan merupakan salah satu kebijakan prioritas bidang kehutanan dalam Program Pembangunan Nasional Kabinet Indonesia Bersatu (Keputusan Menteri Kehutanan: SK.456/Menhut-II/2004). Dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 6/2007 jo PP Nomor 3/2008 pasal 84 juga dinyatakan, bahwa untuk mendapatkan manfaat sumberdaya hutan yang optimal dan adil dilakukan pemberdayaan masyarakat setempat melalui pengembangan kapasitas dan pemberian akses dalam rangka peningkatan kesejahteraannya. Pemberdayaan masyarakat
33
sebagaimana dimaksud pada PP nomor 6/2007 pasal 83 ayat (1) merupakan kewajiban pemerintah provinsi, kabupaten/kota yang pelaksanaannya menjadi tanggungjawab Kepala KPH. Pemberdayaan masyarakat desa hutan dapat dilakukan melalui berbagai program pemerintah seperti Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan dan Kemitraan.
Pemberdayaan masyarakat melalui Hutan Kemasyarakatan dapat dilakukan, baik di Hutan Produksi, Hutan Lindung dan Hutan Konservasi, kecuali Cagar Alam dan Zona Inti Taman Nasional. Sedangkan ketentuan mengenai Hutan Kemasyarakatan pada hutan konservasi diatur dalam peraturan pemerintah tersendiri (PP 6/2007 pasal 92).
Di lain pihak, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (Ditjen PHKA) mengembangkan inisiatif model desa konservasi (MDK) sebagai salah satu upaya pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi. Menteri Kehutanan juga telah mencanangkan program percontohan pengelolaan DAS terpadu melalui pengembangan desa konservasi. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, sejak tahun 2007 DitJen PHKA bekerjasama dengan Environmental Services Program (ESP) yang didanai USAID mengembangkan desa konservasi di 16 kawasan konservasi yang terletak di lima provinsi prioritas yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah/DI Yogyakarta, Jawa Timur, Aceh, dan Sumatera Utara. Sampai akhir tahun 2008, tercatat telah terbentuk kelembagaan di 127 MDK sebagai wadah perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring evaluasi kegiatan pemberdayaan masyarakat (Departemen Kehutanan, 2008). Beberapa usaha pengembangan ekonomi masyarakat, baik yang dibina oleh Balai TN dan KSDA antara lain adalah usaha TOGA (tanaman obat keluarga), kerajinan tangan, budidaya jamur, peternakan, home industry serta budidaya anggrek (Departemen Kehutanan, 2008). Selain itu berbagai kegiatan pemanfaatan sumberdaya hutan juga sudah dilakukan dengan melibatkan masyarakat di kawasan hutan produksi dan hutan lindung antara lain: Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM), Pembangunan Hutan Kemasyarakatan (Suharti dan Murniati. 2005; Suharti, 2010b), pengembangan komoditi Aneka Usaha Kehutanan (AUK) oleh masyarakat (Suharti, 2007; Suharti, 2011a) serta
34
Pembangunan Hutan Rakyat dan Pembinaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH) (Suharti and Murniati, 1994; Suharti, 1998; Suharti et al., 1999). Rancangan kegiatan tersebut langsung terkait dengan masyarakat dan dilandasi oleh semangat menanggulangi kemiskinan. Namun disadari bahwa rancangan kegiatan tersebut masih belum secara komprehensif mempertimbangkan aspek kemiskinan yang ada pada masyarakat di dalam dan sekitar hutan, karena masih minimnya dukungan data dan informasi terutama terkait dengan jumlah dan penyebaran masyarakat miskin di sekitar dan dalam kawasan hutan, indikator atau kriteria masyarakat miskin, informasi yang menjadi akar kemiskinan, serta profil atau tipologi masyarakat sekitar dan dalam kawasan hutan. Hal ini terjadi karena selama ini Kementerian Kehutanan belum pernah melakukan upaya untuk memetakan potret kemiskinan masyarakat di sekitar dan dalam hutan serta memprediksi seberapa besar penduduk yang terlibat dalam usaha-usaha bidang kehutanan.
Beberapa hasil penelitian yang telah kami laksanakan untuk mengamati implementasi berbagai program rehabilitasi lahan dengan pemberdayaan masyarakat adalah sebagai berikut: 1. Pengembangan Hutan Tanaman Industri (HTI)
Pemerintah mengembangkan program HTI Tumpangsari (TS) dan HTI Transmigrasi (HTI-Trans) untuk memberikan kesempatan pada masyarakat untuk terlibat dalam pengelolaan hutan. Melalui HTI-TS pemegang HTI menyediakan kesempatan berusaha melalui usahatani tumpangsari (agroforestry) di sela-sela tanaman pokok seperti Acacia mangium. Sebagai contoh adalah HTI-TS di kawasan HTI PT Arara Abadi dengan luas sekitar 65 ha dengan luasan rata-rata 0,89 ha per petani. Kegiatan tersebut mampu menghasilkan kontribusi pendapatan rata-rata sekitar Rp 2 juta selama satu sampai dua tahun kegiatan tumpangsari (Suharti dan Widiarti, 2005).
Meskipun demikian, pengembangan HTI, baik HTI-TS maupun HTI-Trans ternyata belum menempatkan masyarakat sebagai mitra usaha yang sesungguhnya. Posisi masyarakat hanya sebagai buruh perusahaan, sehingga partisipasi mereka secara langsung dalam pengelolaan hutan masih sangat terbatas, apalagi untuk HTI-TS yang berlangsung hanya selama 1 – 2 tahun
35
saja. Selain itu, program tumpangsari yang dikembangkan perusahaan skalanya juga masih sangat kecil dibandingkan jumlah masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan HTI Gintings and Suharti, 1998).
2. Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM)
Pengelolaan hutan bersama masyarakat umumnya dilakukan Perum Perhutani pada berbagai Kesatuan Pemangku Hutan (KPH). Kegiatan PHBM ada yang sebatas berbagi ruang dan waktu untuk masyarakat melakukan kegiatan tumpangsari. Namun ada pula yang sudah secara komprehensif memberi kesempatan pada masyarakat untuk terlibat dalam pengelolaan hutan sejak perencanaan sampai panen (cost and benefit sharing). Pada kegiatan tumpangsari, jenis tanaman yang diusahakan masyarakat sangat beragam yang meliputi tanaman pangan, sayuran, tanaman obat-obatan dan tanaman perkebunan seperti kopi dan vanili.
Hasil penelitian di daerah Sumedang, Cianjur dan Sukabumi menunjukkan bahwa pemanfaatan lahan hutan dengan pola tumpangsari dengan berbagai jenis tanaman pertanian dengan luas garapan 0,75-2,16 ha, mampu menghasilkan pendapatan bersih berkisar antara Rp 1,9 juta - Rp 6,67 juta per kepala keluarga per tahun (Suharti, 2007). Sementara itu hasil penelitian pengembangan PHBM di daerah Interface di Parung Panjang, Bogor menunjukkan bahwa pendapatan masyarakat meningkat sebesar 27% dari kegiatan usahatani tanaman pangan di antara tanaman Acacia mangium dan budidaya tanaman rambutan dan mangga di sela-sela tanaman pokok (Suharti, 2008). Sementara itu hasil analisis finansial budidaya vanili di bawah tegakan hutan di Desa Padasari wilayah KPH Sumedang dengan tanaman inang gamal (Glyricidia maculata), dadap cangkring (Erythrina fulusca Lour) dan lamtoro (Leucaena leucocephala) menunjukkan vanili sangat layak dibudidayakan dengan nilai B/C ratio tahunan lebih dari satu (Suharti, 2006).
Walaupun sudah memberikan tambahan pendapatan pada masyarakat yang terlibat, namun kontribusi pendapatan yang diperoleh masyarakat, baik dari kegiatan tumpangsari maupun bagi hasil kayu belum optimal. Pada banyak kasus posisi tawar
36
masyarakat masih rendah dan Perhutani masih mendominasi pelaksanaan kegiatan dan berperan sebagai price taker.
3. Pengembangan Aneka Usaha Kehutanan (AUK) oleh Masyarakat
Pola pemanfaatan lahan dengan aneka usaha kehutanan (AUK) diarahkan pada pengembangan komoditi hasil hutan bukan kayu seperti wanatani, wanafarma, tanaman penghasil buah dan getah, tanaman penghasil minyak atsiri serta hutan cadangan pangan (Direktorat Bina Usaha Perhutanan Rakyat, 2002). Pengembangan komoditi AUK dapat dilakukan pada berbagai kawasan hutan, baik hutan produksi, hutan lindung maupun kawasan konservasi. Pengembangan dilakukan dengan cara tidak merombak hutan melainkan mengupayakan optimalisasi ruang tumbuh melalui perbaikan struktur dan komposisi hutan. Pengelolaannya berorientasi pada peningkatan produktivitas dengan memperhatikan tiga azas yaitu ekonomi, sosial dan ekologi. Teknik penanaman dilakukan dengan pola agroforestry dengan komoditi HHBK yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif sehingga peluang pengembangannya sangat besar bagi peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) dan devisa negara.
Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 20 tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengaturan atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah, sebagian urusan kehutanan antara lain pengembangan usaha perhutanan rakyat termasuk pengembangan AUK diserahkan pengelolaannya kepada Pemerintah Kabupaten/Kota.
Beberapa hasil penelitian mengenai pengembangan komoditi AUK untuk pemberdayaan masyarakat, baik di dalam maupun di luar kawasan hutan menunjukkan hasil yang positif. Hasil analisis finansial pengembangan gaharu di bawah tegakan menunjukkan pengusahaan gaharu layak untuk dilaksanakan karena dapat menghasilkan keuntungan bersih nilai kini (NPV) sebesar Rp 147,74 juta/ha, IRR sebesar 48,53%, dan B/C = 3,32 di bawah tegakan hutan. Sedangkan budidaya gaharu di bawah tegakan karet memberikan nilai kini bersih (NPV) sebesar Rp 41, 24 juta/ha, IRR sebesar 26,41% dan B/C = 1,689. Sementara itu, model pengembangan komoditi AUK berbasis masyarakat dengan
37
komoditi lada dan kapolaga yang telah diujicobakan di areal KHDTK Carita dengan rata-rata luas garapan 0,1 - 1 ha memberikan kontribusi sebesar 23 % terhadap pendapatan total masyarakat (Suharti, 2010b; Suharti, 2011a).
4. Program Pembinaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH)
Program PMDH atau dulu dikenal dengan program HPH Bina Desa merupakan rekayasa sosial kemasyarakatan yang diwajibkan bagi seluruh pemegang HPH dan HPHTI sebagai realisasi dari Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 691/Kpts- II/1991 yang kemudian direvisi menjadi SK No. 69/Kpts-II/1995 tentang peranan pemegang HPH dalam pembinaan masyarakat di dalam dan di sekitar hutan. Kewajiban tersebut sifatnya mengikat dan sangat menentukan kelangsungan kegiatan usaha para pemegang HPH dan HPHTI. Setiap pemegang HPH/HPHTI mempunyai kewajiban untuk mengembangkan paling tidak dua desa binaan setiap tahunnya dengan ketentuan bahwa setelah 20 tahun atau setelah jangka waktu hak pengusahaan hutan berakhir seluruh desa di dalam areal kerjanya dapat terbina seluruhnya.
Dalam pelaksanaannya, pengembangan program PMDH menghadapi berbagai kendala, baik pada tahap persiapan/ perencanaan maupun pada tahap pelaksanaan. Hal ini antara lain disebabkan secara umum pelaksanaan program bersifat sentralistik dengan pendekatan yang bersifat “top down”. Dengan pendekatan yang seperti ini maka tujuan utama kegiatan PMDH yaitu menciptakan masyarakat yang sejahtera, mandiri dan sadar lingkungan agak sulit dicapai. Permasalahan tersebut sebenarnya telah diantisipasi pemerintah antara lain dengan persyaratan penyusunan studi diagnostik sebelum kegiatan bina desa dimulai. Namun sangat disayangkan validitas studi ini masih harus dipertanyakan mengingat metodologi dan substansi di dalamnya tidak mendeskripsikan realita masyarakat binaan dan problematika mereka (Haba, 1996; Lewoleba, 1997).
Ibu dan Bapak sekalian yang saya hormati,
Dari uraian di atas nampak bahwa program-program kegiatan yang digulirkan tersebut sebenarnya mempunyai tujuan yang sama yaitu terwujudnya kelestarian sumberdaya hutan dan sekaligus kesejahteraan masyarakat yang terlibat dalam kegiatan
38
pengelolaan hutan. Namun pada kenyataannya hambatan dan kendala yang dihadapi pada tatanan pelaksanaan/implementasi sering begitu kompleks. Kendala, baik teknis maupun nonteknis tersebut pada banyak kasus mengakibatkan upaya konservasi sumberdaya hutan sebagai basis kegiatan berakhir dengan kekecewaan semua pihak.
Selain itu, program kegiatan yang digulirkan pemerintah tersebut umumnya berbentuk proyek dengan iming-iming insentif berupa materi yang tentu saja sangat menarik masyarakat untuk terlibat di dalamnya. Namun seperti pada umumnya proyek, rentang waktu pelaksanaannya biasanya bersifat sementara/short term dan hanya mencoba mengejar target kuantitas dan bukan kualitas serta kurang memperhitungkan dampak setelah proyek berakhir. Sebagai akibatnya partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan tersebut juga berada pada level yang paling rendah (partisipasi partial/pasif). Masyarakat tidak terdorong dan terlatih untuk memiliki inisiatif serta kreatif menghadapi berbagai perubahan yang terjadi. Pada saat program/proyek kegiatan terhenti, masyarakat yang terlibat menjadi kehilangan pegangan, karena selama ini yang diberikan pemerintah adalah “umpan” dan bukan “kail”. Pada saat sudah tidak ada lagi “umpan” yang diberikan, masyarakat pun berbondong-bondong meninggalkan kegiatan tersebut. Akibat selanjutya program yang semula begitu populer dipromosikan pemerintah tinggal menjadi suatu “episode” singkat dari perjalanan upaya pemerintah memecahkan masalah degradasi hutan (Suharti, 2002).
VI. ARAH DAN STRATEGI PEMANFAATAN SUMBERDAYA