PERTANIAN-BIOINDUSTRI BERKELANJUTAN
A. ARAH: PERTANIAN INDONESIA YANG BERMARTABAT, MANDIRI, MAJU, ADIL DAN
MAKMUR
Pembangunan pertanian adalah bagian integral dari pembangunan nasional Indonesia untuk melaksanakan amanat konstitusi menjadi negara yang merdeka, berdaulat dan turut aktif dalam menjaga ketertiban dunia, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta menjamin pekerjaan, penghidupan yang layak dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pesan konstitusi ini pada intinya ialah bahwa pembangunan pertanian pertama-tama harus ditujukan untuk mewujudkan pertanian (termasuk petani dan usahatani) yang bermartabat.
Pertanian yang bermartabat berkenaan dengan tingkat harkat kemanusiaan petani Indonesia. Petani Indonesia memiliki kepribadian luhur, harga diri, kebanggaan serta merasa terhormat dan dihormati sebagai petani. Oleh karena itu, negara berkewajiban untuk menjamin kedaulatan petani dalam mengelola usahanya serta memberikan perlindungan dan pemberdayaan sehingga berusahatani merupakan pekerjaan yang layak untuk kemanusiaan dan dapat menjamin penghidupan yang sejahtera bagi seluruh keluarga petani.
Amanat konstitusi untuk menjamin pekerjaan, penghidupan yang layak, dan keadilan sosial bagi rakyat Indonesia yang sebagian besar masih hidup dari pertanian dapat dicapai dengan mewujudkan pertanian Indonesia yang mandiri. Kemandirian pertanian tercermin pada kedaulatan negara dalam pembuatan kebijakan, kedaulatan petani dalam mengelola usahatani, dan kemampuan sektor pertanian dalam mewujudkan kedaulatan pangan, kedaulatan energi serta kedaulatan dalam mendukung industri berbasis pertanian. Pertanian mandiri merupakan kunci untuk mewujudkan pertanian yang bermartabat, mandiri, maju, adil dan makmur.
Pada tataran kebijakan, pertanian mandiri berarti bahwa Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memiliki kebebasan dan kedaulatan penuh dalam menetapkan dan melaksanakan kebijakan pembangunan pertanian di dalam negeri maupun dalam melakukan kerjasama dengan negara-negara lain secara bilateral, regional dan multilateral. Oleh karena itu, pembangunan pertanian haruslah diarahkan untuk mewujudkan dan mempertahankan kedaulatan pangan (food sovereignity) dan kedaulatan pertanian (agriculture sovereignity).
Dalam hal petani dan usahataninya, pertanian mandiri berarti
bahwa petani Indonesia memiliki kemerdekaan dan kedaulatan dalam mengelola usahataninya. NKRI wajib menghargai, melindungi dan mewujudkan hak dasar petani tersebut. Petani Indonesia memiliki hak untuk berkumpul dan berserikat sebagai bagian dari pelaksanaan dan dalam rangka memperjuangkan hak azasi mereka atas kemerdekaan dan kedaulatan dalam mengelola usahatani. Petani yang mandiri juga dicirikan oleh kemampuan untuk bertumbuh kembang dengan berlandaskan pada kemampuan petani sendiri. Negara wajib memberikan perlindungan dan pemberdayaan agar seluruh petani Indonesia memiliki akses terhadap usahatani dengan ukuran skala usaha cukup besar dan dengan jenis usaha yang sesuai sehingga memadai untuk menjadi usaha yang efisien, berdaya saing dan berkelanjutan serta memberikan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi seluruh petani Indonesia.
Dalam hal kinerja sektoral, pertanian mandiri berarti bahwa bahan
pangan pokok, bahan baku industri maupun bahan baku energi hayati (bio-energy) dapat dipenuhi dengan sebesar-besarnya mengandalkan pada hasil produksi pertanian dalam negeri. Pertanian mandiri adalah yang mampu mewujudkan kemandirian pangan, kemandirian industri berbasis pertanian dan Sumberdaya domestik, serta kemandirian energi berbasis hayati. Ketiga hal ini termasuk dalam pilar kemandirian penghidupan bangsa sehingga mesti pula dijadikan sebagai arah pembangunan pertanian.
Kemandirian pertanian pertama-tama ditentukan dan dicerminkan oleh pola pikir, sikap dan perilaku warga negara atau bangsa mengenai dirinya, masyarakatnya, serta semangatnya dalam menghadapi tantangan. Karena menyangkut pola pikir, sikap, dan perilaku, kemandirian pertanian pada dasarnya merupakan modal institusi dalam arti seluas-luasnya. Selain berpengaruh langsung terhadap pengelolaan usahatani secara mikro dan pengelolaan pembangunan pertanian secara makro, modal institusi juga merupakan determinan dari pengembangan modal sumberdaya manusia dan modal politik pertanian. Dengan demikian pengembangan modal institusi menjadi kunci untuk mewujudkan kemandirian pertanian.
Pertanian yang maju terkait langsung dengan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi, kualitas sumberdaya manusia, tatakelola usahatani dan rantai nilainya, institusi, tatakelola pembangunan (development governance), kualitas pertumbuhan sektor pertanian, dan kualitas kehidupan petani. Pertanian maju merupakan kunci untuk mewujudkan pertanian yang bermartabat, mandiri, adil dan makmur.
Pertanian maju harus menerapkan inovasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat meningkatkan kapasitas produksi, kualitas dan ragam produk sesuai kebutuhan pasar serta meningkatkan nilai
tambah, menurunkan biaya produksi dan menerapkan tatakelola
usaha pertanian yang baik sebagai kunci terwujudnya kemandirian pertanian.
Kiranya dimaklumi bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi telah berubah sifat dari barang publik-inklusif, yang dimiliki bersama seluruh warga, dapat diakses dan digunakan oleh siapa saja tanpa syarat, menjadi barang privat-eksklusif, yang diformulasikan dalam Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dan dilindungi undang-undang yang berlaku secara global. Inovasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan barang dagangan yang dapat menjadi media ketergantungan sektor pertanian suatu negara kepada negara lain.
Dengan demikian, kemandirian ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi salah satu prasyarat untuk terwujudnya kemandirian pertanian.
Pertanian maju dicirikan oleh tatakelola usahatani yang berorientasi komersial, terintegrasi dalam suatu rantai nilai yang dinamis dan senantiasa mampu menyesuaikan diri dengan kondisi pasar yang terus mengalami perubahan. Kemampuan menyesuaikan diri tersebut mencakup aspek skala usaha, cakupan usaha, manajemen produksi, cakupan pasar dan manajemen logistik. Usahatani yang dikelola secara modern (maju) dicirikan oleh penggunaan sumberdaya manusia berkualitas tinggi dan ditunjang oleh penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi maju.
Pertanian maju juga dicirikan oleh derajat modernisasi tatakelola pertanian yang dibangun oleh pemerintah dengan membuat regulasi dan standar, membangun infrastruktur publik, menyediakan insentif usaha dan menjamin persaingan usaha yang sehat. Tatakelola pertanian yang maju dicirikan oleh kemampuannya dalam menciptakan lingkungan pemberdaya agribisnis(agribusiness enabling environment), lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhkembangan usaha agribisnis yang terwujud melalui adanya kemitraan antara pemerintah, pengusaha dan masyarakat
pemangku kepentingan agribisnis dalam pembuatan, pelaksanaan dan penegakan regulasi, standar dan pembangunan infrastruktur. Administrasi pemerintahan seharusnya bersifat partisipatif, transparan, dan akuntabel. Peranan pemerintah bukanlah membuat aturan yang membatasi dan menciptakan ongkos biaya tinggi melainkan merangsangpertumbuhan usaha, memperluas kesempatan usaha dan mengurangi ongkos operasional agribisnis.
Pertanian maju tercermin dari peningkatan kualitas pertumbuhan sektor pertanian berlandaskan kemampuannya dalam mewujudkan kemandirian pangan, industri berbasis pertanian, dan energi berbasis hayati, terkendalinya inflasi pertanian, terciptanya lapangan kerja, berkurangnya prevalensi kemiskinan dan terpeliharanya kualitas lingkungan sehingga pada tahapan kemudian sektor pertanian dapat berperan sebagai pilar dan katalisator pembangunan nasional. Dengan demikian, kemajuan pembangunan nasional ditentukan oleh kemajuan pembangunan sektor pertanian.
Petani adalah subjek dan sekaligus objek pembangunan sektor pertanian. Oleh karena itu, peningkatan nyata kesejahteraan petani yang terbebas dari ancaman kerawanan pangan dan kemiskinan merupakan ciri mutlak dari suatu pertanian yang maju. Pembangunan pertanian hanya dapat dilaksanakan dengan baik bilamana petani sejahtera, sementara pembangunan pertanian hanya dapat dikatakan berhasil bila kesejahteraan petani terus meningkat nyata. Pada tahapan yang lebih tinggi, pertanian maju dicirikan oleh tingkat kesejahteraan petani yang setara dengan tingkat penghidupan warga negara yang bekerja di sektor-sektor lainnya.
Pertanian yang adil berkaitan dengan pemerataan kesempatan berusahatani, berpolitik, dan akses terhadap jaminan penghidupan (livelihood) yang merupakan amanat konstitusi dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh petani serta seluruh rakyat Indonesia. Selain secara horizontal antar individu petani, dua dimensi
pemerataaan yang tak kalah pentingnya ialah secara spasial antar wilayah (desa- kota, antar pulau, antar kawasan) dan secara sektoral antar bidang pekerjaan. Mengingat potensi pertanian yang sangat beragam pada rentang wilayah yang demikian luas maka pemerataan pembangunan pertanian secara spasial sangat penting dalam memelihara dan meningkatkan kesatuan wilayah NKRI.
Pemerataan kesempatan berusahatani mencakup pemerataan akses terhadap komponen-komponen utama usahatani yang mencakup lahan, sarana dan prasarana, teknologi, modal, dan pasar. Reformasi agraria merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan untuk mewujudkan pemerataan kesempatan berusahatani. Pemerataan politik mencakup pemerataan kesempatan dalam penyampaian aspirasi dan perolehan dukungan politik, dalam hal ini dukungan perlindungan dan pemberdayaan dari negara bagi petani. Penumbuhkembangan organisasi atau asosiasi petani dan pembentukan forum musyawarah Pemerintah-Petani-Pengusaha- Masyarakat Sipil merupakan strategi yang dapat digunakan untuk mewujudkan pemerataan kesempatan politik bagi petani.
Pemerataan kesempatan berusahatani, berpartisipasi politik dan memperoleh penghidupan saling menguatkan satu sama
124 125
lain. Pemerataan kesempatan berusahatani merupakan kunci untuk mewujudkan pemerataan memperoleh pekerjaan dan pendapatan (penghidupan), sementara pemerataan kesempatan berpartisipasi politik merupakan kunci untuk mewujudkan pemerataan kesempatan berusaha bagi petani. Selain itu, pemerataan kesempatan berusahatani juga bermanfaat untuk mewujudkan pemerataan memperoleh kesempatan berpartisipasi politik.
Pertanian yang makmur dicirikan oleh kehidupan seluruh petani yang serba berkecukupan terbebas dari ancaman rawan pangan dan kemiskinan. Pertanian yang makmur merupakan resultante dari pertanian yang bermartabat, mandiri, maju, dan adil. Sehingga secara keseluruhan, pertanian yang bermartabat, mandiri, maju, adil dan makmur merupakan cita-cita luhur pembangunan pertanian sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi. Karakteristik pertanian yang bermartabat, mandiri, maju, adil dan makmur saling menguatkan satu sama lain (Gambar 3.1).
Gambar 3.1. Interrelasi Sistem Pertanian-bioindustri Berkelanjutan dalam Mewujudkan Indonesia yang Bermartabat, Mandiri, Maju, Adil dan Makmur
Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP) 2013-2045
Dengan demikian, Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP) yang disusun dalam dokumen ini merupakan bagian dari upaya, dan oleh karenanya disusun dalam rangka mewujudkan cita-cita luhur bangsa tersebut.