• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBANGUNAN SEBAGAI TRANSFORMASI STRUKTURAL BERIMBANG DAN MENYELURUH

Dalam dokumen DOKUMEN PENDUKUNG KONSEP STRATEGI INDUK (Halaman 75-79)

PERTANIAN-BIOINDUSTRI BERKELANJUTAN

C. PEMBANGUNAN SEBAGAI TRANSFORMASI STRUKTURAL BERIMBANG DAN MENYELURUH

Pembangunan pada dasarnya adalah proses transformasi struktural dan perilaku, yakni proses dinamis modernisasi perekonomian, kependudukan, institusi dan tatakelola pembangunan yang memungkinkan Indonesia meningkat menuju ke tahapan yang lebih tinggi secara berkelanjutan yaitu Indonesia bermartabat, mandiri, maju adil dan makmur. Transformasi pembangunan pada hakekatnya ialah output dari upaya-upaya yang dirancang secara sistematis dan komprehensif dalam suatu rencana jangka panjang yang menjadi peta jalan dalam membawa seluruh rakyat keluar dari cengkeraman kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan umum, mewujudkan keadilan sosial dan melestarikan lingkungan hidup.

Dalam logika pembangunan berencana, transformasi struktural berimbang dan menyeluruh adalah sasaran antara yang menjembatani kebijakan dan program dengan tujuan akhir pembangunan. Dan, dengan paradigma Pertanian untuk Pembangunan tahapan pencapaian dan peta jalan ke depan, transformasi struktural merupakan landasan untuk menetapkan posisi sektor pertanian dalam pembangunan nasional, yang berarti pula landasan untuk menetapkan strategi, kebijakan dan program pembangunan pertanian. Transformasi yang esensial dalam merancang rencana jangka panjang pembangunan pertanian mencakup:

1. Transformasi demografi;

2. Transformasi ekonomi (intersektoral); 3. Transformasi spasial;

4. Transformasi institusional (sosial-budaya); 5. Transformasi tatakelola pembangunan.

Transformasi demografi berkaitan dengan pengendalian jumlah dan laju pertumbuhan penduduk menurut jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan wilayah tempat tinggal. Dalam

hal pemanfaat hasil pembangunan, jumlah dan pertumbuhan penduduk perlu dikendalikan untuk mengurangi tekanan dalam pemenuhan kebutuhan penyediaan pangan dan kebutuhan dasar lainnya, lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi. Sebagai subjek dan objek pembangunan, jumlah, tingkat pendidikan, ketrampilan dan angkatan kerja yang sesuai merupakan kunci keberhasilan transformasi sektoral, transformasi spasial, transformasi institusi, transformasi tatakelola pembangunan dan transformasi pertanian. Secara umum, population dividend dan demographic window merupakan kesempatan yang perlu dioptimalkan dalam perencanaan pembangunan jangka panjang.

Transformasi ekonomi (intersektoral) berkaitan dengan perubahan struktur dan relasi antar sektor dalam perekonomian nasional. Fakta terpola berdasarkan pengalaman bangsa-bangsa menunjukkan bahwa peta jalan kemajuan setiap perekonomian diawali dengan dominasi sektor pertanian (perekonomian berbasis pertanian), dan bahwa kemajuan perekonomian berjalan seiring dengan penurunan peran sektor pertanian dalam penciptaan PDB dan lapangan kerja, yang secara bertahap posisi dominan diambil alih oleh sektor industri (perekonomian berbasis industri), lalu oleh sektor jasa (perekonomian berbasis jasa), dan selanjutnya oleh sektor industri dan jasa berbasis inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi maju.

Penurunan peranan sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja sesungguhnya diperlukan untuk kebaikan kinerja usaha pertanian dan kesejahteraan petani. Dalam kondisi lahan dan modal investasi yang terbatas, penurunan jumlah petani merupakan kunci untuk meningkatkan skala usaha, yang selanjutnya menjadi kunci dalam peningkatan daya saing usahatani dan kesejahteraan petani. Transformasi intersektoral menciptakan jalan bagi petani dan penduduk perdesaan untuk keluar dari perangkap kemiskinan kronis. Oleh karena itulah, penurunan secara absolut jumlah tenaga kerja di sektor pertanian (Titik Belok Lewis) merupakan penanda dari keberhasilan transformasi intersektoral.

Fakta berpola dari pengalaman bangsa-bangsa, termasuk Indonesia, juga menunjukkan bahwa penurunan peranan sektor pertanian dalam penciptaan PDB lebih cepat dari penciptaan lapangan kerja. Hingga tahun 2013, Indonesia belum berhasil mencapai Titik Belok Lewis. Kegagalan dalam mewujudkan transformasi intersektoral berimbang menyebabkan semakin meningkatnya jumlah petani gurem, munculnya fenomena kemiskinan endemik petani dan perdesaan serta semakin besarnya jenjang ketertinggalan kesejahteraan petani dibanding dengan kelompok penduduk lainnya. Dengan demikian, mewujudkan transformasi intersektoral berimbang, khususnya Titik Belok Lewis pada tahun 2019, merupakan salah satu agenda utama pembangunan nasional.

Kegagalan dalam mewujudkan transformasi intersektoral berimbang dapat membawa suatu bangsa terperangkap dalam rawan pangan dan kemiskinan kronis. Sejumlah negara di Afrika yang hingga kini terpuruk dalam kemiskinan dan ancaman rawan pangan merupakan akibat dari kegagalan mereka dalam melaksanakan transformasi intersektoral perekonomiannya. Lambatnya penurunan prevalensi kemiskinan di Indonesia sejak tahun 1990-an adalah juga karena kurang seimbangnya transformasi intersektoral, pangsa PDB sektor pertanian menurun jauh lebih cepat dibanding pangsa penyerapan tenaga kerja. Akar penyebabnya ialah kesalahan dalam strategi industrialisasi, khususnya penempatan sektor pertanian dalam proses industrialisasi.

Transformasi spasial berkaitan dengan perubahan lokasi, aglomerasi dan relasi geografis kegiatan ekonomi dan pemukinan penduduk. Aspek spasial sangatlah penting dalam pembangunan sehubungan dengan peranannya dalam menentukan kinerja perekonomian, keadilan dalam pelaksanaan dan pemanfaatan hasil pembangunan dan kohesi kesatuan nasionalitas. Dalam hal kinerja perekonomian, skala ekonomi yang tercipta dengan adanya aglomerasi atau agropolitan, koridor ekonomi dan koridor transportasi telah terbukti menjadi sumber peningkatan efisiensi biaya transaksi, fasilitasi

inovasi dan penciptaan pasar bagi berbagai kegiatan ekonomi. Dalam hal keadilan, distribusi spasial dari kegiatan ekonomi dan penduduk merupakan faktor penentu pemerataan kesempatan usaha, perolehan lapangan kerja dan pendapatan bagi seluruh rakyat di seluruh wilayah Indonesia. Dalam hal kesatuan dan persatuan nasional, keterkaitan spasial kegiatan ekonomi serta konektivitas spasial merupakan faktor penguat kohesi relasi sosial-ekonomi yang merupakan kunci utama dalam mempertahankan rasa kesatuan dan persatuan satu bangsa yakni NKRI.

Tiga dimensi struktur spasial yang perlu diperhatikan dalam pembangunan pertanian Indonesia yaitu: desa-kota, pulau-pulau, wilayah bagian barat Indonesia (WBBI) dan wilayah bagian timur Indonesia (WBTI).

Perekonomian wilayah perdesaan pada umumnya didominasi oleh sektor pertanian dan sektor primer berbasis Sumberdaya alam lainnya, sedangkan perekonomian wilayah perkotaan didominasi oleh sektor industri dan atau jasa. Fakta berpola dari pengalaman bangsa-bangsa, termasuk Indonesia, menunjukkan bahwa setiap perekonomian diawali dengan dominasi wilayah perdesaan yang ditopang oleh sektor pertanian, dan bahwa kemajuan perekonomian berjalan seiring dengan penurunan peranan wilayah perdesaan dalam penciptaan PDB dan lapangan kerja yang secara bertahap posisi dominan diambil alih oleh wilayah perkotaan yang ditopang oleh sektor industri dan atau jasa. Sebagai akibatnya, prevalensi kemiskinan dan tingkat pendapatan penduduk di perdesaan lebih tinggi dari perkotaan. Kesenjangan tingkat penghidupan desa- kota juga terjadi karena kebijakan pembangunan cenderung lebih berpihak kepada penduduk perkotaan karena lebih kuat secara politis daripada penduduk perdesaan.

Proses transformasi spasial desa-kota terjadi beriringan dengan transformasi sektoral. Di satu sisi, perpindahan pekerja (penduduk) dari desa ke kota atau urbanisasi merupakan kunci dari pertumbuhan

perekonomian perkotaan, utamanya melalui pertumbuhan sektor industri dan jasa. Di sisi lain, urbanisasi merupakan jalan keluar dari cengkeraman kemiskinan bagi penduduk perdesaan, termasuk petani. Urbanisasi juga merupakan proses untuk mencapai Titik Belok Lewis yang juga merupakan prasyarat terjadinya titik belok kecenderungan peningkatan petani gurem. Namun demikian, semakin tingginya senjang kesejahteraan penduduk perdesaan dengan penduduk perkotaan merupakan penanda dari kegagalan transformasi spasial. Mewujudkan transformasi spasial desa-kota yang berimbang dan serasi dengan transformasi perekonomian secara sektoral merupakan agenda pembangunan nasional jangka panjang. Mengintegrasikan perekonomian perdesaan-sektor pertanian-perekonomian perkotaan merupakan strategi yang tepat untuk itu.

Wilayah Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau merupakan tantangan yang tidak ringan dalam mewujudkan pembangunan yang merata bagi seluruh rakyat di seluruh wilayah NKRI. Tidak dapat dipungkiri, sebagian pulau-pulau kecil dan terpencil masih kurang terjangkau oleh fasilitas pembangunan pertanian. Pulau- pulau kecil pada umumnya mengandalkan perikanan dan pariwisata sebagai basis ekonominya. Oleh karena lokasinya yang terpencil, kapasitas produksi pangan yang rendah, dan ancaman hambatan distribusi pangan yang tinggi maka sejumlah pulau-pulau kecil tersebut mengalami ancaman rawan pangan. Dengan demikian, pembangunan pertanian di pulau-pulau kecil dan terpencil sebaiknya difokuskan pada upaya mewujudkan kemandirian pangan.

Secara umum, pembangunan WBTI, khususnya Papua, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan, masih nyata tertinggal jauh dari WBBI. Pendekatan pembangunan koridor ekonomi sebagaimana disusun dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025 yang telah dicanangkan Pemerintah pada tahun 2011 merupakan bagian dari upaya transformasi spasial yang mesti diacu dalam SIPP. Pendekatan koridor ekonomi memadukan potensi sumberdaya

alam (khususnya lahan pertanian dan tambang) dengan konektivitas dan inovasi sebagai pilar pembangunan wilayah. Investor swasta, nasional maupun asing, diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan perusahaan besar (korporasi) pertanian, termasuk dalam bidang pangan (food estate).

Insitusi adalah norma, dalam pengertian peraturan dan organisasi yang menentukan relasi dan pertukaran, sebagai mekanisme untuk mengatasi masalah aksi kolektif (antar sektor, antar pekerjaan antar perusahaan, antara perusahaan dan pekerja, antara perusahaan dan pemerintahan) yang merupakan isu utama pembangunan ekonomi. Dengan pengertian demikian, institusi merupakan modal pembangunan yang menentukan pertumbuhan ekonomi dan distribusi hasil-hasilnya. Institusi pembangunan mencakup aturan perundangan resmi (modal regulasi), karakter dan organisasi sosial- budaya (modal sosial), dan organisasi advokasi bisnis (modal politik). Transformasi sosial-budaya merupakan bagian dari transformasi institusi. Institusi dapat menjadi pendorong (institusi pemberdaya) atau penghambat kegiatan (penyakit institusional) pembangunan ekonomi. Transformasi insitusi termasuk mengisi kekosongan melalui penumbuhan baru, memperluas dan memperkuat institusi yang ada, memperbaiki institusi yang mengalami perusakan (renovasi institusi) dan mengembangkan institusi baru yang lebih baik (inovasi institusi).

Transformasi aturan perundangan untuk pembangunan diarahkan untuk menciptakan lingkungan yang memberdayakan dunia bisnis, termasuk menjamin keamanan dan ketertiban umum, perlindungan hak kepemilikan, menjamin kepastian berusaha, mencegah praktek usaha tidak sehat, yang kesemuanya merupakan prasyarat tumbuh- kembangnya usaha ekonomi swasta, mengurangi ongkos transaksi dan instrumen serta mencegah dan memperbaiki kegagalan pasar.

Transformasi modal sosial dilakukan dengan menumbuhkembangkan karakter bangsa, yang terkenal terpercaya, pekerja keras, disiplin, bersemangat kerjasama dan peduli sesama, sebagai habitus

seluruh rakyat, yang kesemuanya merupakan modal dasar untuk meningkatkan produktivitas, memacu inovasi dan menurunkan biaya transaksi serta penguatan modal politik.

Transformasi politik diarahkan untuk menciptakan sistem pembentukan kebijakan dan tatakelola pemerintahan yang baik. Faktor kunci untuk itu antara lain ialah pembentukan dan pemberdayaan organisasi petani dan organisasi pengusaha skala kecil untuk melindungi dan memperjuangkan kepentingan dan dukungan politik para anggotanya. Belum berkembangnya organisasi untuk advokasi aspirasi politik petani dan pengusaha kecil dapat menjadi penyebab dari kegagalan kebijakan.

Tatakelola pembangunan (development governance) adalah proses kolektif dalam pengambilan keputusan, pelaksanaan dan perbaikan kebijakan dan program pembangunan. Sebagai suatu proses kolektif, tatakelola pembangunan merupakan penerapan otoritas ekonomi politik dan administrasi dalam mengelola pembangunan. Tatakelola pembangunan meliputi mekanisme, proses dan institusi melalui mana setiap warga negara, kelompok dan perserikatan memperjuangkan kepentingan, melaksanakan hak-hak hukum dan melakukan kewajiban masing-masing serta mencari resolusi perbedaan diantara mereka.

Oleh karena kebijakan dan program pembangunan adalah keputusan politik, maka tatakelola pembangunan pada dasarnya ialah isu ekonomi politik. Tatakelola pembangunan sangat ditentukan oleh keberadaan modal politik yang merupakan bagian dari modal institusi sebagaimana diuraikan sebelumnya. Dengan pengertian demikian maka tatakelola pembangunan merupakan instrumen untuk mencegah dan mengoreksi kegagalan kebijakan (policy failure) dan kegagalan negara (state failure) dalam pelaksanaan pembangunan. Tatakelola pembangunan merupakan faktor penentu utama keberhasilan pembangunan.

Dengan demikian, transformasi tatakelola pembangunan ialah proses dalam mewujudkan tatakelola pembangunan yang baik (good development governance). Transformasi tatakelola pembangunan mencakup transformasi birokrasi pemerintahan sebagai penanggung jawab administrasi pembangunan dan transformasi proses perumusan kebijakan pembangunan. Dalam hal birokrasi pemerintahan, desentralisasi sebagaimana diamanatkan oleh peraturan perundangan merupakan salah satu perwujudan dari transformasi tatakelola pembangunan yang secara teoritis lebih baik dari sentralisasi. Namun fakta menunjukkan bahwa harapan itu belum terwujud, desentralisasi malah menimbulkan masalah dalam pengelolaan pembangunan, termasuk pertanian. Penerapan tatakelola pembangunan yang baik dalam desentralisasi pemerintahan merupakan kunci keberhasilan pembangunan pertanian di masa datang.

D. TRANSFORMASI PERTANIAN SEBAGAI POROS

Dalam dokumen DOKUMEN PENDUKUNG KONSEP STRATEGI INDUK (Halaman 75-79)