PERTANIAN-BIOINDUSTRI BERKELANJUTAN
D. TRANSFORMASI PERTANIAN SEBAGAI POROS TRANSFORMASI PEMBANGUNAN NASIONAL
Transformasi pertanian adalah perubahan orientasi, skala, bentuk, cakupan bidang dan manajemen rantai pasok dan teknologi usaha pertanian menurut komoditas, sub-sektor, sektor dan lokasi spasial. Usaha pertanian terdiri dari usahatani rakyat dan perusahaan besar pertanian, dan kemitraan antara usahatani rakyat dan perusahaan besar pertanian. Transformasi pertanian haruslah dikelola sedemikian rupa sehingga ketiga jenis usaha pertanian tersebut dapat berkembang dengan saling mengisi dan saling menunjang. Namun demikian, mengingat peranannya dalam menentukan hajat hidup rakyat yang jauh lebih besar, maka perhatian pemerintah mestilah lebih difokuskan untuk pengembangan usahatani rakyat dan kemitraan antara usahatani rakyat dan perusahaan besar pertanian.
Orientasi usaha berkenaan dengan tujuan usaha serta peranan transaksi pasar dalam perolehan input dan penggunaan output usahatani. Seiring dengan modernisasi, usahatani rakyat mengalami
komersialisasi yang dicirikan oleh orientasi usaha pertanian yang berubah dari tujuan untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan tanpa menggunakan mediasi pasar (subsisten) ke usaha komersial yang berorientasi pada perolehan laba dan menggunakan media pasar untuk memperoleh input dan menjual output usahatani. Diantara usaha tani subsisten dan usahatani komersial ada pula jenis usahatani semi-komersial yang berorientasi pada campuran pemenuhan kebutuhan sendiri dan perolehan uang tunai dengan menjual sebagian output. Komersialisasi bermanfaat dalam peningkatan efisiensi, daya saing dan peningkatan skala usahatani. Dengan demikian, transformasi pertanian diarahkan untuk mempercepat komersialisasi usahatani rakyat.
Transformasi skala usaha berkenaan dengan perubahan besaran skala usaha (diukur berdasarkan luas lahan, jumlah ternak, luas perairan akuakultur, ukuran kapal dan alat penangkapan ikan, kapasitas penggunaan input, kapasitas produksi, dsb). Skala usaha merupakan salah satu determinan efisiensi dan daya saing usahatani maupun pendapatan keluarga operator usahatani tersebut. Dengan demikian, transformasi pertanian yang sehat, dalam arti mendorong peningkatan efisiensi, daya saing dan kesejahteraan petani, dicirikan oleh peningkatan skala usaha. Peningkatan skala usahatani ditentukan oleh tekanan angkatan kerja di sektor pertanian. Inilah salah satu media keterkaitan transformasi intersektoral dan transformasi internal sektor pertanian.
Bentuk usahatani berkaitan dengan status hukum dan bentuk organisasi usaha. Fakta terpola pengalaman bangsa-bangsa menunjukkan bahwa pada awal pembangunan pertanian, usahatani didominasi oleh usaha pertanian rumahtangga skala kecil, mandiri dan tidak berbadan hukum (informal). Seiring dengan modernisasi, usahatani semakin beorientasi komersial, skala usaha kian meningkat dan bentuk usaha pun semakin banyak yang berbadan hukum (formal). Selain berbadan hukum, bentuk organisasi usaha
pun mengalami perubahan dari mandiri menjadi usaha koperasi, firma atau perusahaan perseroan. Transformasi status dan organisasi perusahaan merupakan bagian dari proses untuk mengurangi biaya transaksi sehingga perusahaan makin efisien, berdaya saing dan berkelanjutan.
Cakupan jenis usaha berkaitan dengan jenis dan bauran bisnis inti perusahaan. Jenis dan cakupan usaha sangat ditentukan oleh basis produksi (antara lain, lahan, perairan, ternak, pabrik), penguasaan teknologi, modal, dan peluang pasar. Fakta terpolakan dari pengalaman historis bangsa-bangsa menunjukkan bahwa transformasi pertanian yang sehat dicirikan oleh kemampuannya dalam mengubah produk yang dihasilkan ke arah yang bernilai tinggi (high value products), baik pangan maupun non pangan. Selain itu, bauran produk juga mengalami perubahan ke menjadi semakin terspesialisasi.
Transformasi teknologi berkenaan dengan metode, teknik dan proses produksi usaha pertanian (on-farm), penanganan pasca panen, pengolahan dan pengelolaan usaha. Kiranya dimaklumi bahwa seiring dengan kemajuan teknologi dan semakin langkanya lahan dan air untuk pertanian maka ke depan basis produksi pertanian akan semakin intensif dalam penggunaan lahan dan air yang diikuti dengan semakin intensifnya penggunaan teknologi dan modal (termasuk peralatan). Bahkan dapat dikatakan bahwa kemampuan untuk menerapkan teknologi yang paling sedikit menggunakan lahan, air dan energi menjadi kunci kemampuan bersaing usahatani di masa mendatang.
Transformasi teknologi adalah juga penentu utama dalam menentukan kemampuan melaksanakan inovasi produk dalam rangka meningkatkan nilai tambah melalui pendalaman dan perluasan produk turunan hasil pertanian primer. Penguasaan teknologi juga penentu dari kapasitas manajemen rantai nilai produk pertanian yang kini, dan lebih-lebih ke depan, juga telah
menjadi sumber peningkatan efisiensi dan kemampuan bersaing usaha pertanian.
Tanpa mengurangi peranan faktor-faktor lainnya, transformasi teknologi merupakan penentu utama sosok pertanian dunia, termasuk Indonesia, di masa mendatang. Kalau pada akhir abad ke- 20 kita telah mengalami Revolusi Hijau yang berbasis pada benih unggul yang ditemukan melalui pemuliaan konvensional maka pada awal abad ke-21 revolusi pertanian akan berbasis pada bioteknologi dan nanoteknologi. Walaupun masih terus menimbulkan perdebatan, penerapan bioteknologi (biosains dan bioenjinering) telah berkembang pesat sejak awal tahun 2000-an. Revolusi nanoteknologi diperkirakan akan menggeser revolusi bioteknologi dan akan menjadi basis dari Revolusi bio (Biorevolution) pada tahun 2020-an.
Mesti diakui bahwa Indonesia tertinggal jauh dalam hal kemajuan teknologi pertanian. Hingga kini bioteknologi pertanian belum diterapkan secara luas di Indonesia. Kemajuan teknologi yang demikian pesat pada tataran global, apalagi dengan mulai berkembangnya nanoteknologi, merupakan tantangan serius dan sekaligus menjadi kesempatan besar bagi eksistensi dan kemajuan pertanian Indonesia. Tidak ada pilihan lain, Indonesia harus menjadikan penguasaan teknologi pertanian mutakhir sebagai prioritas pembangunan jangka panjangnya.
Akhirnya, transformasi pertanian secara spasial merupakan kunci untuk mewujudkan sektor pertanian yang efisien, progresif, berdaya saing, merata dan berkelanjutan. Salah satu agenda mendesak ialah menyusun peta jalan transformasi spasial sentra produksi pangan pokok, seperti beras, jagung, kedelai, gula, daging sapi/kerbau, sayuran dan buah-buahan yang selama ini sangat terkonsentrasi di Pulau Jawa. Pulau Jawa diperkirakan akan terus berkembang sebagai wilayah konsentrasi terbesar penduduk Indonesia. Pulau Jawa juga
telah dan akan terus menjadi kawasan sentra utama industri maupun jasa sehingga luas baku lahan pertaniannya akan terus mengalami penurunan. Tidak ada pilihan lain, Indonesia harus membuka lahan pertanian baru di luar Pulau Jawa.
Lambannya pengembangan usaha pertanian, utamanya produksi pangan pokok, di luar Jawa yang berakibat pada konsentrasi produksi pangan di Jawa, tidak saja telah mengakibatkan hilangnya kesempatan dalam meningkatkan laju pertumbuhan pertanian tetapi juga telah menimbulkan inefisiensi dalam sistem distribusi dan tingginya disparitas harga pangan secara regional. Hal itu juga merupakan salah satu faktor resiko kerentanan pangan secara regional. Kiranya dimaklumi pula bahwa disparitas harga pangan spasial yang sangat tinggi, lebih-lebih bila tercipta sebagai akibat dari kebijakan pemerintah, merupakan suatu bentuk ketidakadilan perlakuan negara terhadap sebagian warga negaranya yang tidak sesuai dengan amanat konstitusi dan yang dapat memunculkan sentimen kedaerahan yang dapat berkembang menjadi ancaman bagi kesatuan dan persatuan NKRI.
Dengan demikian, transformasi spasial juga termasuk sebagai agenda besar dan prioritas dalam program strategis transformasi pertanian. Agenda transformasi pertanian secara spasial ini tentulah mesti dimasukkan sebagai bagian integral dari pelaksanaan MP3EI tahun 2011-2025. Namun kiranya dimaklumi bahwa fokus pengembangan dalam MP3EI ialah perusahaan besar swasta (dan BUMN). Berbeda dengan MP3EI, transformasi pertanian secara spasial dalam SIPP ini akan lebih mengutamakan pengembangan usaha pertanian rakyat.
Sesuai dengan paradigma Pembangunan untuk Pertanian, transformasi pertanian merupakan poros penggerak transformasi pembangunan nasional secara keseluruhan. Dengan paradigma ini, proses transformasi pembangunan nasional dikelola sedemikian rupa sehingga dapat berlangsung dengan terpadu, sinergis, selaras
dan berimbang dengan proses transformasi pertanian. Hanya dengan demikianlah, peta jalan pembangunan perekonomian nasional dapat berjalan progresif menuju Indonesia bermartabat, mandiri, maju, adil dan makmur. Konsep ini dapat dirumuskan seperti Gambar 3.3.
Gambar 3.3. Transformasi Pertanian Sebagai Poros Transformasi Pembangunan Nasional