• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARTI KORBAN PENGGANTI (KORBAN SUBSTITUSI)

Dalam dokumen JALAN PASTI ED AGUST 2014 (Halaman 126-128)

JALAN KESELAMATAN (II)

ARTI KORBAN PENGGANTI (KORBAN SUBSTITUSI)

Dikisahkan bahwa pada masa pemerintahan seorang Kaisar di Russia, salah seorang jenderalnya yang bernama Shamila memberontak karena melihat rakyatnya menderita dibawah tirani sang Kaisar. Shamila lari kepadang savana bersama pasukannya dan rakyatnya. Kala itu musim dingin, dan persediaan makanan semakin lama menjadi terbatas.

Karena kelaparan, rakyat yang mengikutinya sering mencuri makanan dari lumbung persediaan. Untuk menjaga persediaan, Sang Jenderal kemudian membuat peraturan terbuka untuk menghukum dengan berat (dicambuk 50 kali dimuka umum) barangsiapa yang kedapatan mencuri persediaan makanan. Singkat cerita, beberapa orang kedapatan mencuri dan kebenaran ditegakkan dengan menghukum cambuk mereka didepan rakyat agar semua maklum akan aturan itu dan agar terjadi ketertiban.

Suatu hari, ajudan Sang Jenderal datang tergopoh-gopoh kehadapannya dan dengan gugup melaporkan ada satu lagi pencuri yang tertangkap tangan. Tanpa ragu Sang Jenderal memerintahkan eksekusi agar dilaksanakan segera. Namun Sang Jenderal terkejut setelah mengetahui bahwa pencurinya kali ini adalah ibunya sendiri! Terjadi dilemma didalam dirinya: “jika aku tidak melaksanakan hukuman cambuk, maka rakyat akan

memberontak karena keadilan tidak ditegakkan. Tetapi jika aku melaksanakannya maka ibuku pasti akan mati karena sudah tua dan tidak kuat menahan hukuman itu.” Inilah dilemma antara Kebenaran/keadilan yang harus ditegakkan dengan Kasihnya kepada ibunya. Malam itu Sang Jenderal tidak bisa tidur.

Fajar menyingsing, dan tiba saatnya eksekusi hukuman akan dilaksanakan. Tiang telah disiapkan dengan ibu Sang Jenderal terikat padanya, algojo & pasukan juga telah disiapkan dan rakyat telah gelisah menunggu bagaimana jadinya peristiwa pagi itu. Semua mata memandang kepada kemah Sang Jenderal menanti kemunculannya. Bermacam-macam antisipasi timbul dalam hati rakyatnya. Ada yang mengharapkan Sang Jenderal mengampuni ibunya, dengan mengabaikan peraturan Sang Jenderal sendiri. Ada yang mengharapkan hukuman tetap dilaksanakan, tapi ragu apakah Sang Jenderal tega?

Saat yang dinantikan tiba. Sang Jenderal muncul dari tendanya, dan dengan tetap tegak berjalan menuju tempat eksekusi hukuman. Dengan tegak, tegas, meskipun terlihat jelas keletihan & kesedihan wajahnya, Sang Jenderal kemudian berkata: “Rakyatku. Demi tegaknya keadilan dan berlanjutnya perjuangan kita, maka hukuman cambuk harus tetap dilaksanakan!” kemudian Sang Jenderal terdiam sejenak. Semua rakyat juga terdiam, tidak menyangka akan putusan Sang Jenderal itu.

Setelah menghela nafas, Sang Jenderal meneruskan perkataannya: “tetapi karena ibuku sudah tua dan tidak sanggup menerima hukuman itu, maka akulah yang akan menanggung hukuman itu ganti dia!” katanya sambil membuka jubahnya dan memerintahkan algojo yang bertugas untuk melepas ibunya dan mengikat dia sebagai ganti ibunya. Karena perintah yang tegas dari Sang jenderal, para algojo yang tadinya enggan dan takut

melaksanakan perintah itu akhirnya melaksanakan hukuman itu untuk ibunya. Dengan demikian kedua tuntutan moral Sang Jenderal dipenuhi: kebenaran/keadilan tetap ditegakkan, sementara kasih kepada ibunya juga dapat terlaksana melalui pengorbanan dirinya menggantikan ibunya.

5. JALAN KESELAMATAN (II)

115

Gbr. 18. Korban Substitusi merekonsiliasikan tuntutan Kasih dengan Kebenaran Allah

Korban Substitusi itu juga harus dapat memenuhi tuntutan Kekudusan Allah, dan harus menanggung maut sebagai ganti manusia.

Namun ada persyaratan bagi korban substitusi ini. Karena dosa dan maut adalah penyebab dan akibat dari dilanggarnya integritas Allah, maka untuk menyelesaikan dosa dan maut, korban substitusi itu harus dapat memenuhi seluruh tuntutan integritas Allah secara sempurna dan harus membayarnya dengan/melalui maut.

Dialam semesta ini, tidak ada satu makhluk ciptaanpun yang dapat memenuhi tuntutan kekudusan Allah, kecuali Allah sendiri. Karena itulah maka ALLAH SENDIRI harus menjadi korban substitusi dan mengalami maut agar manusia dapat mengalami hidup kekal (persekutuan dengan Allah) kembali. Itulah sebabnya Ia sendiri harus datang sebagai manusia dan menjadi Seorang Juruselamat dan mati sebagai Korban Subsitusi bagi manusia. Nama-Nya ialah Yesus Sang Mesias atau Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat dunia. Saat melakukan pekerjaan penebusan-Nya didunia, ia disebut sebagai “Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29 &36). Artinya, tugas utamanya saat kedatangan- Nya yang pertama kali sekitar 2000 tahun yang lalu adalah untuk menjadi Korban Substitusi yang ditetapkan Allah, yang memenuhi tuntutan keKudusan Allah. 114 Itu juga gambaran dari semua sakramen korban yang telah dinubuatkan sepanjang Perjanjian Lama.

114

Perhatikan inti dari khotbah Yohanes Pembaptis adalah bahwa Yesus yang diproklamirkannya itulah “Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29, 36). Perhatikan bahwa Yohanes Pembaptis adalah “Elia” yang mempersiapkan dan meratakan jalan bagi Sang Mesias agar Ia dapat dikenal oleh bangsa Israel. Tujuan hidupnya hanya satu yaitu untuk “menyatakan” (Yun.:”phaneroo”, mendeklarasikan secara jelas, membuat jelas/nyata) bahwa Yesus itulah Mesias yang tugas utamanya adalah untuk menjadi korban substitusi Allah (Yoh. 1:31). Jadi jelas bahwa tugas utama Mesias dalam kedatanganNya yang pertama adalah untuk mati sebagai korban substitusi. Sekali lagi, korban ini harus dapat memenuhi tuntutan kekudusan Allah yang sempurna. Karena itu gambaran PL tentang korban penebus dosa adalah korban yang “tidak bercela” (band. Im. 1:3,10; 3:1,6; 4:3, 23, 28, 32; 5:15,18; 6:6; 9:2, 3; 14:10; 22:19, 21; 23:12, 18). Semua itu merupakan gambaran tuntutan Allah akan korban yang dapat memenuhi tuntutan

kekudusanNya, yang hanya dapat dipenuhi oleh DiriNya sendiri. Karena itulah Allah sendiri yang datang sebagai manusia untuk menjadi korban penebus dosa ini.

116

Jadi Yesus Kristuslah satu-satunya korban substitusi yang dapat memenuhi tuntutan integritas Allah dan yang dapat memberi hidup kekal itu karena Ia bukanlah salah satu dari makhluk ciptaan yang tidak memiliki integritas Allah, melainkan adalah Allah sendiri yang berinkarnasi. Karena itulah kita mengerti sekarang mengapa Allah sendiri harus berinkarnasi menjadi manusia bahkan mati bagi manusia agar manusia dapat memperoleh persekutuan lagi dengan Allah (= hidup kekal). Lihat chart dibawah untuk mengerti lebih jelas bagaimana Yesus Kristus itu dapat menjadi Jalan Keselamatan bagi manusia.

Gbr. 19. Korban substitusi Kristus memenuhi tuntutan Integritas Allah

Jadi jika ditanyakan “mengapa Allah sendiri harus menyelamatkan manusia dan harus menjadi manusia dan mati bagi manusia?” maka kita mengerti sekarang bahwa Allah harus menyelamatkan manusia karena tuntutan Kasih-Nya. Dan Ia sendiri yang harus datang dan bukan utusan lain karena hanya Allah sendiri yang dapat memenuhi tuntutan Kekudusan Allah. Bukan hanya itu, Ia juga harus mengalami maut karena tuntutan Kebenaran & Keadilan-Nya yang menuntut maut bagi dosa, karena upah dosa adalah maut. Semua tuntutan integritas Allah ini hanya dapat dipenuhi didalam Diri Allah sendiri dengan jalan berinkarnasi menjadi manusia dan mati bagi manusia. Inilah yang membedakan iman Kristen dengan yang lainnya.

Allah harus menyelamatkan manusia karena tuntutan hakikat Kasih-Nya,

Allah harus meyelamatkan melalui kematian seorang korban pengganti karena tuntutan Kebenaran/Keadilan-Nya yang harus mengganjar dosa dengan maut,

dan

Allah sendiri yang harus datang sebagai manusia (Yesus) sebagai korban pengganti karena hanya Allah sendiri yang dapat memenuhi tuntutan kesempurnaan keKudusan-Nya.

Dalam dokumen JALAN PASTI ED AGUST 2014 (Halaman 126-128)