JALAN KESELAMATAN (II)
KEHENDAK (WILL) MANUSIA Setelah dosa masuk kedalam
dunia, maka kehendak manusia SEMATA-MATA adalah kejahatan
KRISTUS SEBAGAI TUHAN dan RAJA
Sebagai Tuhan dan Raja, Kristus telah melepaskan kita dari tuan yang lama (dosa- Yoh. 8:34; Rom. 6:17, 20) dan menjadikan kita sebagai hamba-hamba- Nya, yang disebut juga sebagai “hamba kebenaran” yang akan membawa kita
122
Kerusakan total ini diistilahkan sebagai “Total Depravity” yang dianut oleh kedua kubu protestan yang berbeda doktrin keselamatannya (Calvinism dan Arminianism).
123 “Takhta kasih karunia” menunjuk kepada “the mercy seat” atau “tutup pendamaian” dalam tabernakel
Musa, dimana darah korban yang dipercikkan Imam Besar sekali setahun diatas “tutup pendamaian” itu telah menutup semua tuntutan integritas Allah yang dilambangkan oleh dua loh batu (Hukum Taurat) dan tongkat Harun (Imamat Harun). Artinya jelas: oleh keimamatan Kristus yang kekal, kita dapat dengan yakin dan berani datang kehadirat Allah untuk memohon pertolongan. Dengan demikian tidak ada lagi rasa takut akan hukuman Allah dan maut.
5. JALAN KESELAMATAN (II)
121 (Kej. 6:5). Manusia selalu ingin
melakukan keinginan-keinginan Iblis (Yoh. 8:44), selalu mengingini kecemaran (Rom. 1:24), hawa nafsu (1Tes. 4:5; Tit. 3:3), keinginan-keinginan duniawi (Tit. 2:12), keinginan daging & keinginan mata (1Pet. 2:11;1Yoh. 2:16), rupa-rupa keinginan dosa (Rom. 7:8) yang berujung kepada maut (Rom. 8:6) dan permusuhan dengan Allah (Rom. 8:7). Keinginan manusia selalu BERLAWANAN dengan keinginan Allah (Gal. 5:17).
kepada pengudusan (Rom. 6:18, 19).
Sebelum kita dimerdekakan oleh Kristus, kita menjadi BUDAK dosa.124 Maksudnya, semua keinginan kita mau tidak mau hanyalah keinginan dosa, dan tidak bisa yang lain. Tetapi setelah seseorang diselamatkan, maka ia juga telah dimerdekakan benar-benar dari perbudakan dosa (Yoh. 8:36) agar dapat menjadi “hamba kebenaran” (Rom. 6:18).
Artinya, kita telah dilepaskan dari kuasa dosa seperti yang ternyata dari keinginan-keinginan dosa kita (daftar dikolom sebelah), bukan supaya kita bebas tanpa batas, namun agar kita dapat menjadi hamba Kristus untuk dipakai sebagai alat kebenaran-Nya.
Semua itu dapat terjadi karena Kristus telah mengalahkan dosa dan maut dan menebus kita menjadi milik-Nya dan menjadikan kita alat-alat kebenaran-Nya agar dapat memerintah alam semesta bersama-Nya (Why. 3:21; 22:5)
Jadi kita lihat bahwa seluruh pekerjaan penebusan Kristus itu menyelesaikan secara tegas, tuntas, sekali untuk selamanya semua permasalahan keselamatan manusia. Dengan demikian Kristus dapat menyelamatkan mereka yang percaya kepada-Nya untuk selamanya. Terpujilah Tuhan kita Yesus Kristus untuk karya-Nya yang Agung!
5.F. Bagaimanakah Caranya Anda Memiliki Keselamatan itu?
Pertanyaan ini menjadi sangat penting karena Keselamatan bukanlah suatu dogma agama, tetapi merupakan suatu PENGALAMAN PRIBADI. Tanpa suatu pengalaman pribadi, Keselamatan kemudian hanya menjadi suatu teori yang memenuhi kepala saja, yang justru akan berakibat pada larinya iman seseorang dari Kristus. Karena itulah maka banyak akhli teologia yang akhirnya masuk kedalam perangkap liberalisme yang hasil akhirnya justru menolak Kristus dan Keselamatan-Nya. Penyebabnya karena mereka selalu berusaha menempatkan pengetahuannya yang subjektif diatas Injil Keselamatan, sehingga kepala dipenuhi dengan konsep-konsep (termasuk dogma-dogma) tentang Keselamatan, namun hatinya tetap kosong karena mereka telah dengan sengaja menolak tawaran Keselamatan Kristus. Bukan hanya itu, mereka bahkan dengan giat mengajarkan ketidak percayaan mereka kepada orang lain dan menghambat orang lain untuk percaya dan diselamatkan. Mereka persis sama dengan para akhli Taurat yang telah menduduki “kursi Musa” (legalitas mengajar), tetapi oleh ketidak percayaan mereka, mereka justru berusaha menghambat orang lain untuk percaya dan menerima Keselamatan itu (Mat. 23:2, 13). Keselamatan harus dialami secara pribadi. Jika tidak, maka seseorang yang memiliki banyak pengetahuan akan Alkitab akan menjadi seperti Nikodemus sebelum dilahirkan kembali (Yoh. 3:1-12). Pada zaman ini, banyak yang seperti Nikodemus sebelum diselamatkan: sangat brillian dengan pengetahuan akan isi Alkitab, namun BUTA tentang kebenaran yang ada didalamnya karena mereka tidak pernah memiliki pengalaman keselamatan pribadi, yaitu pengalaman perjumpaan pribadi dengan Kristus. Akhirnya mereka justru menolak Kristus dan Keselamatan yang ditawarkan-Nya.125
124
Arti untuk kata “hamba” didalam ayat-ayat diatas adalah ekivalen dengan kata “budak,” (Yun.: “doulos”) yaitu mereka yang telah dibeli oleh tuannya dan tidak memiliki hak sama sekali atas dirinya sendiri (Strong G1402)
125 Mereka adalah para “teolog” liberal dan pluralis. Dengan metode-metode kritik yang dibangunnya (disebut
sebagai “higher criticism”) para liberal kemudian berkesimpulan bahwa Yesus bukan Yesus sejarah (tidak benar-benar pernah ada), tetapi sosok karangan pengikutnya sebagai teladan moral. Para pluralis menghilangkan keabsolutan dan finalitas keselamatan hanya melalui Kristus, dan menyatakan bahwa keselamatan dapat diperoleh dari banyak jalan lain selain Kristus.
122
Jadi, bagaimakah Keselamatan yang disediakan Allah itu dapat menjadi pengalaman anda secara pribadi? HANYA DENGAN PERCAYA SAJA! Namun karena persyaratan yang sederhana ini kemudian dibuat rumit oleh banyaknya pendapat sehingga sulit dimengerti, perlu kiranya kita membahas artinya “hanya percaya saja” bersama dengan arti-arti yang menyimpang agar kita dapat mengerti dan mengalami Keselamatan itu.
5.F.1. Arti Percaya
Perhatikan penjelasan Tuhan kita kepada Nikodemus bagaimana caranya untuk memperoleh keselamatan/hidup kekal itu:
14
Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,
15
supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. (Yoh. 3:14-15)
Pada saat Tuhan mengajarkan kepada Nikodemus bagaimana caranya memperoleh Keselamatan itu, Tuhan memakai peristiwa wabah ular beracun dipadang gurun sebagai tipologi (1) disediakannya Jalan Keselamatan itu, dan (2) bagaimana menerima Keselamatan itu. Peristiwa wabah ular itu dicatat didalam Kitab Bilangan 21: 4-9. Mari perhatikan ayat 8 & 9 secara khusus:
8 Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang;
maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup."
9 Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut
ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup. (Bil. 21:8-9)
Perhatikan kedua paragraf dari PB (Yoh. 3:14-15) dan dari PL (Bil. 21:8-9). Frasa pertama menyatakan Jalan Keselamatan yang disediakan Allah (Ular tembaga ditinggikan = Kristus ditinggikan/disalib), dan frasa kedua menyatakan CARAnya menerima Keselamatan itu (jika seseorang melihat/memandang ular tembaga itu = jika seorang percaya kepada Kristus). Jadi bangsa Israel diselamatkan dari maut karena pagutan ular berbisa itu dengan jalan “melihat/memandang” Jalan Keselamatan yang ditentukan Allah yaitu ular tembaga.
Bagi orang-orang yang melihat ular tembaga yang ditinggikan Musa itu, ia diselamatkan dari maut sekalipun mereka telah terpagut ular berbisa. Bagi orang-orang lainnya yang tidak melihat, maka mereka akan mati oleh bisa ular-ular itu. Apa yang membedakan kedua jenis orang ini? Yang membedakannya karena TINDAKAN mereka untuk melihat patung ular tembaga itu. Tindakan melihat/memandang itu adalah BUKTI ADANYA IMAN didalam mereka yang MEMPERCAYAI JALAN KESELAMATAN YANG DITETAPKAN ALLAH. Jadi IMAN didalam mereka dibuktikan dengan TINDAKAN melihat. Inilah iman yang benar. Inilah iman yang menyelamatkan. Sementara orang-orang Israel lainnya tidak demikian. Mungkin mereka berkoar- koar bahwa mereka percaya kepada Jalan Keselamatan Allah yang disampaikan Musa, namun tindakan mereka membuktikan bahwa mereka sebenarnya tidak percaya.
Sama persis dengan peristiwa itu, demikian pula dengan Keselamatan yang disediakan oleh Allah didalam Kristus. Penyaliban Kristus merupakan Jalan Keselamatan yang disediakan Allah seperti patung ular tembaga Musa. Bagaimana caranya supaya anda memperoleh Keselamatan/hidup kekal itu? Dengan cara mempercayai Jalan Keselamatan itu yang dibuktikan dengan TINDAKAN PERTOBATAN. Didalam penjelasan Tuhan kepada Nikodemus dalam Injil Yohanes pasal 3 itu, diterimanya Keselamatan melalui peristiwa
5. JALAN KESELAMATAN (II)
123
kelahiran kembali ini merupakan karya Roh Kudus yang membuat seseorang dapat percaya melalui tindakan pertobatan/perpalingan.126
Secara etimology (pengertian bahasa/kata yang dipakai), percaya dalam bahasa Yunani mengandung arti bukan hanya percaya dari segi intelek dan perasaan saja, tetapi juga mengandung arti kehendak dan tindakan, yaitu mau mempercayakan diri terhadap yang dipercayainya.127 Jadi TINDAKAN mempercayakan diri (Ing.: “to put trust in” , “to entrust”) terhadap orang/benda yang dipercayai merupakan arti yang inheren didalam kata “percaya.” Jadi percaya dalam pengertian yang sebenarnya mencakup arti :
• Secara intelek: mengerti apa yang dipercayainya,
• Secara perasaan: merasakan apa yang dipercayainya,
• Secara kehendak: mau untuk melakukan apa yang dipercayainya, dan
• Tindakan: bertindak melakukan apa yang dipercayainya.
Cakupan percaya yang membawa keselamatan ini dinyatakan dengan sangat jelas dan indah oleh Tuhan sendiri didalam perumpamaan tentang anak yang hilang itu. Berikut disampaikan tentang urut- urutan/langkah-langkah keselamatan itu yang menggambarkan dengan sangat jelas apa arti percaya yang akan membawa kepada keselamatan (Bag. 5.F.3.). Sebelum itu kita akan mempertegas lagi beda antara Iman sejati yang membawa Keselamatan dengan iman-iman palsu yang tidak membawa Keselamatan sbb.:
5.F.2. Iman sejati (Iman yang menyelamatkan) vs Iman-iman palsu (iman-iman yang tidak menyelamatkan)
Agar dapat lebih tegas dan jernih tentang iman yang sejati (iman yang mendatangkan keselamatan) seperti yang dijelaskan didalam bagian diatas, berikut kita jabarkan apa itu iman yang menyelamatkan (iman sejati), kemudian dibandingkan dengan iman palsu (“iman-iman” yang tidak mendatangkan keselamatan):
1. Iman sejati tidak dapat dihasilkan dari diri manusia sendiri atau dari “kehendak bebas” manusia. Alkitab menyatakan alasannya tegas dan jelas: sejak kejatuhan manusia pertama kedalam dosa, manusia telah mengalami keterpisahan kekal dengan Allah sehingga manusia telah menjadi hamba dosa dan terlepas sama sekali dari kebenaran (Rom. 3:9; 6:16-18, 20; Yoh. 8:34). Karena itu, tanpa anugerah Tuhan, tidak seorang manusiapun yang benar-benar mencari Allah, merespons atau mempercayai-Nya (Rom. 3:10- 11). Manusia yang belum diselamatkan diistilahkan Alkitab sebagai orang-orang yang “mati” (Ef. 2:1; Kol. 2:13). Bagaimana orang mati dapat percaya? Atau dalam bahasa Perjanjian lama, tidak mungkin merubah belang macan tutul atau kulit orang Ethiopia (Yer. 13:23).
Sebaliknya, kepercayaan/iman-iman palsu selalu lahir dari usaha-usaha manusia (seperti dari emosi/perasaan sesaat yang dipicu oleh suasana) yang tidak akan pernah menghasilkan kehidupan atau Keselamatan (Luk. 8:13).
2. Iman sejati hanya dihasilkan oleh anugerah Allah yang “menarik” seseorang sehingga ia dapat mempercayai Kristus (Yoh. 6:44, 65). Berapa banyakpun seseorang mendengar Injil, ia tidak akan pernah memperoleh iman yang menyelamatkan jika Allah tidak mengaruniakan kepadanya. Karena itu Keselamatan sejati SEPENUHNYA adalah anugerah saja (Sola Gratia).
126
Yoh. 3:1-21 menyatakan pengajaran Tuhan bagaimana menerima Keselamatan itu, yaitu dengan mempercayai Jalan Keselamatan yang ditetapkan Allah (ay. 14-15). Pengalaman Keselamatan pribadi ini hanya dimungkinkan melalui karya Roh Kudus sendiri, yang sulit dijelaskan bagaimana terjadinya tetapi yang dapat diketahui secara pasti dari hasilnya (ay. 8). Roh Kudus inilah yang membuat seseorang memiliki iman kepada Kristus dan memperoleh Keselamatan itu.
127 Kamus Strong
G4100:πιστεύω-pisteuo-pist-yoo'-o. From G4102; to have faith (in, upon, or with respect to, a person or thing), that is, credit; by implication to entrust (especially one’s spiritual well being to Christ): - believe (- r), commit (to trust), put in trust with.
124
3. Iman sejati menyandarkan kepercayaannya kepada Kristus dan pekerjaan-Nya sehingga hasilnya adalah Keselamatan (Yoh. 3:14-15), tetapi iman-iman palsu menyandarkan kepercayaannya kepada hal-hal yang sementara (seperti mujizat, berkat, perasaan, kesuksesan, kesehatan, dll.) sehingga tidak menghasilkan Keselamatan. Menghadapi ajaran Kristus yang murni, penderitaan, penyesatan, atau kehilangan berkat atau kesehatannya, mereka akan segera murtad (Yoh. 6:60, 66; Mat. 13:21). Iman palsu juga ditandai dengan prioritas hidupnya yang berfokus kepada kehidupan materinya (kekayaan dan kekuatiran – Mat. 13:22).
4. Iman sejati selalu menghasil kan ketaatan kepada Firman Allah sehingga dapat mengalahkan semua pencobaan dan ajaran dunia (1Yoh. 5:3-4). Bukan berarti orang percaya tidak akan pernah berdosa lagi (band. 1Yoh. 1:8), tetapi jika ia jatuh maka ia akan bangkit lagi seperti Daud & Petrus. Atau dengan perkataan lain, iman sejati tidak akan membuat seseorang betah dalam kejatuhan (1Yoh. 3:9. Band. Rom. 6:1). Sebaliknya, iman-iman palsu akan menghasilkan kenyamanan hidup didalam dosa (yang ingin didengarnya adalah berkat, kesuksesan, kesehatan, dst. tetapi tidak suka mendengar tentang pertobatan dan hidup dalam kebenaran dan kekudusan). Iman seperti ini akan menghasilkan murtad jika diperhadapkan kepada penindasan, penyesatan atau kenyamanan hidup (lihat butir 3 diatas).
5. Iman sejati selalu menghasilkan perbuatan-perbuatan iman (Yak. 2:14-26; band. Ibr. 11). Artinya, iman sejati kelihatan dari tindakannya. Bukan tindakan-tindakan yang “wah” (membuat mujizat, bernubuat, mengusir setan, dsb.), tetapi tindakan ketaatan yang sederhana sekalipun (Ibr. 11). Inilah “kertas lakmus” untuk menguji apakah iman itu sejati (yang membawa Keselamatan) atau hanya iman-iman palsu: apakah ada tindakan-tindakan ketaatan dalam hidup seseorang (bertobat dari dosa, menyaksikan Injil Tuhan, menyangkal salib sekalipun menderita, memilih hidup benar dan kudus daripada hidup bahagia, dst.). Iman palsu selalu berorientasi kepada hal-hal yang wah (mujizat, bernubuat dan mengusir setan) dan bukan kepada pertobatan dan ketaatan (Mat. 7:21-24).
Demikian perbedaan-perbedaan antara iman sejati yang menghasilkan Keselamatan dengan iman- iman palsu yang tidak akan menghasilkan Keselamatan agar pembaca lebih memakluminya bagi evaluasi diri. Setelah mengerti benar arti percaya dan iman sejati, sekarang waktunya kita akan mengupas tentang langkah-langkah Keselamatan agar pembaca dapat mengerti proses yang ada didalam Keselamatan sejati itu.
5.F.3. Langkah-langkah Keselamatan
Yang dimaksud dengan langkah-langkah Keselamatan TIDAK berarti Keselamatan itu merupakan proses yang panjang yang sering disalah mengerti sebagian orang sebagai suatu tahapan dimana seseorang “dilatih” untuk semakin percaya, dan suatu saat “benar-benar percaya” dan diselamatkan. Itupun harus tetap mempertahankan Keselamatannya, sehingga konsep Keselamatan menjadi abu-abu, kabur, dan tidak jelas.128 Langkah-langkah atau proses Keselamatan terjadi secara cepat, yaitu saat seseorang bertindak untuk “berpaling” (= bertobat dan percaya), yang mengakibatkan Keselamatan itu. Tentu saja langkah pertama (menyadari keadaannya) dapat merupakan proses yang gradual (walau pada umumnya merupakan proses yang cepat yang terjadi saat seseorang mendengar tentang Injil). Namun langkah keputusan untuk berpaling kepada Kristus selalu merupakan suatu keputusan yang cepat dan pasti, saat Roh Kudus melalui
128
Konsep soteriology abu-abu ini terjadi karena banyak gereja masih mengajarkan bahwa Keselamatan itu diperoleh dan dipertahankan dengan “hidup suci, menyangkal diri, bayar harga” yang kelihatannya baik dan alkitabiah, namun lahir dari konsep yang salah. Konsep itu masih memasukkan unsur “kebenaran diri sendiri” kedalam rumus Keselamatan, sehingga terjadinya Keselamatan yang sederhana menjadi rumit dan tidak pasti karena tidak semata tergantung kepada Sifat-sifat Allah (Anugerah, Kesetiaan & Kemahakuaasaan-Nya), tetapi tergantung juga kepada manusia (kesetiaan, kesucian hidup, kemampuan tetap percaya, kepada pengetahuannya sehingga tidak tersesat, dsb.)
5. JALAN KESELAMATAN (II)
125
Firman-Nya memperhadapkan seseorang untuk berpaling kepada Kristus (Rom. 10:17; Yoh. 16:8; Ef. 1:13- 14).
Proses ini ditunjukkan Tuhan dalam perumpamaan anak yang hilang yang diajarkan-Nya kepada para pendengar-Nya yang dicatat dalam Lukas 15:11-32. Secara khusus mari kita perhatikan proses Keselamatan yang digambarkan oleh kembalinya anak yang hilang itu dalam ayat 17-24.
17
Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah- limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.
18
Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,
19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. 20
Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.
21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak
layak lagi disebutkan anak bapa.
22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik,
pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.
23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. 24
Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. (Luk. 15:17-24)
Perhatikan kalimat/kata-kata yang dimiringkan. Lihatlah langkah-langkah/tahapan-tahapan Keselamatan anak itu:
Tahap pertama adalah perubahan dalam pikiran/intelek dan perasaan (“lalu ia menyadari keadaannya”). Pikiran anak itu terbuka sekarang bahwa kehidupannya sekarang jauh lebih susah dibandingkan jika ia berada dirumah Bapanya. Bahkan para pelayan disana jauh lebih nikmat dan terhormat hidupnya. Lalu ia mulai memikirkan untuk kembali kerumah Bapanya. Sejalan dengan pikirannya, maka hatinya juga merasa sedih, bukan terutama karena keadaannya yang susah, tetapi karena ia sadar ia telah berdosa terhadap Bapanya dan Rumah-Nya (sorga). Inilah tahapan awal, yaitu adanya kesadaran/pengertian akan dirinya yang berdosa dan kedukaan bahwa ia telah berkhianat terhadap Allah dan Kerajaan-Nya. Pengetahuan akan keadaan dirinya yang berdosa dan adanya Perasaan penyesalan yang mendalam adalah langkah awal dan penting dari Keselamatan. Tanpa itu Keselamatan hanya bersifat semu, karena tanpa Pengetahuan dan Perasaan yang mendalam tentang keadaannya yang berdosa, tidak ada pertobatan sejati, tidak ada Keselamatan.
Pengetahuan (kesadaran) akan dirinya yang berdosa serta akibatnya, serta Perasaan duka yang mendalam akan dosanya merupakan syarat mutlak yang pertama dalam
Keselamatan. Tanpa kedua hal itu, tidak ada pertobatan yang sejati, dan tanpa pertobatan yang sejati, tidak ada Keselamatan!
126
Tahapan yang kedua adalah adanya perubahan Kehendak (will). Lihat ayat 18. Si anak tidak hanya menyadari keadaannya dan berduka karenanya, namun dilanjutkan dengan keinginan hati (kehendak) untuk pulang kepada Bapanya dan memohon pengampunan-Nya (“aku akan bangkit dan pergi kepada Bapaku...”). Adanya kesadaran dan perasaan yang dalam tentang dosanya tanpa disertai KEMAUAN untuk bertobat dan percaya tidak akan menghasilkan tindakan pertobatan. Karena itu keduanya menjadi tidak berguna. Kesadaran dan Perasaan harus diikuti dengan Kemauan agar menghasilkan Tindakan pertobatan yang membawa kepada Keselamatan.
Banyak kita temukan didalam gereja maupun didalam pertemuan-pertemuan penginjilan, dimana seseorang menangis meraung-raung menyesali dosa-dosanya, namun setelah acara usai, mereka kembali kepada kehidupan yang lama, kepada dosa lama. Tidak ada pertobatan sejati karena tidak disertai KEMAUAN untuk meninggalkan dosanya dan kembali kepada Allah. Sekali lagi, supaya kita mengerti bahwa Keselamatan adalah semata-mata anugerah, Kemauan yang dapat menghasilkan tindakan adalah juga karena kasih karunia Allah saja. Melalui Roh Kudus-Nya, Allah menguatkan kehendak seseorang dan memampukannya bertindak untuk meninggalkan dosa dan berpaling kepada Kristus (band. Fil. 2:13 “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan [Yun.: “thelo”, Ing.: “will”] maupun pekerjaan [Yun.: “energo”, Ing.: “to work, to be active”, Ind.: “tindakan”] menurut kerelaan-Nya.”) Untuk dipikirkan: no. 6
“PENGINJILAN MEKANIS & KRISTEN MEKANIS”
Pada masa kini, banyak “penginjilan” yang sama sekali tidak membawa Keselamatan kepada seseorang. Banyak orang menjadi Kristen karena alasan yang beragam: alasan ekonomi, beban hidup, penyakit, karena diajak teman/saudara, dsb. Orang-orang ini kemudian bisa menjadi seorang Kristen yang fanatik, yang giat juga untuk “menobatkan” orang untuk menjadi Kristen, namun karena ianya tidak pernah mengalami Keselamatan secara pribadi, maka ia tidak akan pernah mengerti arti Keselamatan itu. Orang-orang seperti ini bahkan dapat menjadi pemimpin-pemimpin Kristen dan melakukan mujizat, mengusir setan dan bernubuat, tetapi tidak dikenal Tuhan karena tidak pernah memiliki hubungan secara pribadi dengan Tuhan (Mat. 7:22-23).
Penulis juga sering mereview ulang bagaimana dahulu kami banyak “menuntun” orang kepada Keselamatan, namun ternyata banyak diantaranya yang ternyata belum diselamatkan (dibuktikan dengan kembalinya mereka kedalam kehidupan dosa dan selama puluhan tahun tidak ada pertumbuhan yang seyogianya menyertai Keselamatan sejati). Apakah yang salah? Ternyata banyak pelayan Tuhan (termasuk saya) yang salah dalam membawa orang kepada Keselamatan. Kita cenderung menuntun mereka kedalam tahapan-tahapan keselamatan (misalnya dengan menuntun doa pertobatan & penerimaan Kristus secara pribadi) TANPA memperhatikan pekerjaan Roh Kudus dalam hati orang itu. Artinya, tanpa pengertian, tanpa penyesalan dan perasaan duka yang mendalam karena dosa-dosanya, mereka telah kita tuntun dalam “doa Keselamatan/doa menerima Kristus secara pribadi.” Akibatnya, mereka menjadi “Orang-orang Kristen Mekanis” yang akan mengikuti semua kegiatan keagamaan Kristen secara giat, namun tidak pernah memiliki Keselamatan melalui pengalaman kelahiran kembali. Tidak ada Keselamatan tanpa pertobatan sejati yang dikerjakan oleh Roh Kudus.
Pengertian akan perlunya Keselamatan dan Perasaan duka yang mendalam akan dosa-dosa seseorang yang menghantar seseorang kedalam pertobatan sejati hanya dapat dikerjakan oleh Roh Kudus (Yoh. 16:8, band. Kis. 2:37). Karena itu Keselamatan yang sejati tergantung sepenuhnya kepada pekerjaan Roh Kudus (Yoh. 3:7-8). Itulah sebabnya kita harus melihat dahulu tanda-tanda pekerjaan Roh Kudus ini didalam diri seseorang sebelum kita menuntunnya kepada Kristus. Agar kita tidak terjebak dalam “penginjilan Mekanis” yang akan menghasilkan “Orang-orang Kristen Mekanis” (band. 1Kor. 2:4-5).
5. JALAN KESELAMATAN (II)
127
Inilah perubahan Kehendak: yang tadinya keinginannya hanya berfoya-foya dan hidup dalam dosa, sekarang ia menginginkan kembali kepada kasih Bapanya. Inilah pertobatan Kehendak.
Tahapan selanjutnya adalah TINDAKAN pertobatan: “maka bangkitlah ia dan pergi kepada Bapanya” (ay. 20). Didalam tahapan yang secara teologis sering disebut sebagai “perpalingan” (conversion) ini, terjadi dua hal sekaligus, yaitu tindakan untuk (1) meninggalkan dosa-dosanya (“maka bangkitlah ia”) dan untuk (2) berpaling kepada Allah (“pergi kepada Bapanya”).
Sejalan dengan tindakan ini, dengan kesadaran penuh akan dosanya, si anak kemudian dengan harap- harap cemas dan dengan kerendahan hati memohon pengampunan Bapanya (ay. 21: “Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan