telah disediakan Allah saat anda hidup sekarang.
KESIMPULAN BAB-2:
3. USAHA-USAHA MANUSIA UNTUK MENCARI KESELAMATAN
43 BAB-3
USAHA-USAHA MANUSIA UNTUK MENCARI KESELAMATAN
Setelah panjang lebar kita membicarakan tentang tujuan penciptaan manusia dan akibat kejatuhan manusia pertama kedalam dosa terhadap tujuan itu, maka sekarang kita akan membahas lebih jauh lagi tentang aspek penting dari akibat kejatuhan tersebut yaitu mengapa manusia berlomba-lomba mencari keselamatan jiwanya dan mendirikan bermacam-macam kepercayaan. Dengan pembahasan ini diharapkan pembaca dapat mengerti dan memahami dengan seksama mengapa ada banyak agama dan kepercayaan didunia ini, dan bagaimana iman Kristen berbeda dengan yang lainnya. Dengan mengerti ini maka diharapkan pembaca dapat dengan mantab diyakinkan bahwa benarlah Yesus adalah jalan keselamatan satu-satunya, tanpa harus menjelekkan atau memojokkan iman/kepercayaan lainnya.
Untuk memulai pembahasan, kita akan menjawab pertanyaan penting mengapa ada timbul banyak kepercayaan didunia ini? Apakah sebenarnya tujuan atau apa yang dicari dari semua kepercayaan dan agama itu? Mari kita membahasnya.
3.A. Apakah Tujuan Semua Agama & Kepercayaan?
Untuk menjawab pertanyaan ini tidaklah sulit. Jika kita menanyakan pertanyaan ini kepada banyak orang dari latar belakang agama dan kepercayaan yang berbeda, maka kita pasti mendapatkan jawaban yang hampir seragam. Apakah itu? Jawabannya umumnya akan mengarah kepada jawaban agar dapat memperoleh rezeki dan hidup baik pada masa kini dan terutama agar pada saat mati nanti dapat masuk sorga (atau nirwana, menjadi moksa, dan lain-lain sejenisnya). Untuk mencapai itu bagaimana caranya? Semua kepercayaan pada umumnya memiliki jawaban yang serupa juga, yaitu dengan mematuhi aturan- aturan & tata cara agamanya dan berbuat baik kepada sesama & lingkungannya.
Jadi, apakah tujuan utama dari semua agama dan kepercayaan? Dapat disingkat jawabannya: adalah untuk memperoleh keselamatan jiwanya. Artinya, ada suatu kesadaran yang dalam didalam setiap manusia bahwa hidup ini tidak sekedar yang kelihatan, tetapi ada kehidupan lain dibalik yang materi ini, dan ada penguasa yang mencipta, memelihara bahkan yang merusak/memperbaharui alam materi ini. Masing-masing kepercayaan menyebut penguasa tersebut dengan istilahnya sendiri (Allah, Tuhan, Dewa/I, Kakek Sumber Segala, Yang Besar, The Supreme Being, dsb.). Disamping itu ada kesadaran bahwa ada pertentangan antara Yang Baik dan Yang Jahat, dan pada akhirnya Yang Baik akan menang. Kesadaran ini juga yang menuntut setiap orang untuk menyenangkan Allah/Tuhan/Dewa/Yang Baik/Yang Kuasa/dan sebagainya itu agar Ia nya tidak murka dan menghukum mereka, sehingga mereka dapat menikmati sorga/paradise/nirwana/menjadi moksa/dan sebagainya. Itulah maksudnya keselamatan jiwa.
Alkitab juga memberi kesaksian bahwa tujuan iman dari manusia sejak zaman Adam sampai sekarang adalah keselamatan jiwa mereka:
8b
Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan,
9 karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.
10 Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih
44
Didalam iman Kristen, Keselamatan itu juga disebutkan sebagai “diselamatkan dari murka Allah” (Rom. 5:8-9)44
8 Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita,
ketika kita masih berdosa.
9
Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. (Rom. 5:8-9)
Jadi, mengapa manusia mencari keselamatan jiwa?
3.B. Mengapa Manusia Mencari Keselamatan Jiwa/Mencari Sorga?
Mengapa manusia mencari keselamatan jiwanya? Jika kita semua jujur, maka kita akan menjawab pertanyaan ini dengan jawaban singkat: karena takut kepada kematian dan apa yang menanti dibalik kematian itu! Kematian selalu menjadi misteri yang menggentarkan semua orang. Didalam semua kebudayaan dan kepercayaan, manusia selalu tertegun dengan adanya kematian dan berusaha mencari penjelasan tentang arti kematian dan apa yang menanti dibalik kematian itu sesuai dengan keterbatasan pemikiran dan budaya mereka. Didaerah ayah penulis di Danau Toba Samosir misalnya. Kepercayaan kuno kami percaya bahwa Gunung Pusuk Buhit adalah asal muasal orang kami, dan setelah seseorang meninggal dunia, maka rohnya akan kembali kesana.
Karena fenomena kematian ini, manusia sepanjang abad kemudian mencari jawaban mengapa terjadi kematian dan mencoba mencari tahu apa yang ada dibalik kematian itu. Manusia kuno menjelaskan fenomena kematian dan kekekalan dengan mitos-mitos. Karena itu manusia kuno pada umumnya percaya adanya roh/spirit yang non materi dan berusaha melakukan kontak dengan roh-roh itu. Misalnya nenek moyang atau orang tua yang telah meninggal dipercayai tetap hidup sebagai roh dan dapat melakukan komunikasi bahkan dapat mempengaruhi nasib mereka yang masih hidup. Itulah sebabnya hampir disetiap peradapan kuno selalu ada pemimpin spiritual atau shaman/dukun yang mencoba menghubungkan dunia materi dengan dunia roh. Manusia modern, meskipun banyak yang skeptis terhadap kehidupan sesudah kematian, namun pada akhirnya tetap ingin mencari tahu dengan ilmu pengetahuan (science) untuk membuktikan ada tidaknya kehidupan dibalik kematian. Contohnya adalah penelitian-penelitian tentang NDE seperti dijelaskan dalam Bab-1 diatas. Penelitian-penelitian science seperti itu adalah baik untuk lebih memberi kepastian tentang adanya kehidupan dibalik kematian, namun jangan berharap lebih dari itu karena hal-hal spiritual tidak dapat sepenuhnya dijelaskan secara science. Akibatnya dapat menyesatkan dan berakibat fatal seperti kasus Eddie diatas.
Golongan manusia beragama juga mencoba mengerti fenomena ini melalui ajaran-ajaran pendirinya. Hasilnya begitu banyak ajaran yang membuat orang menjadi bingung. Kepercayaan yang satu mengatakan bahwa untuk masuk ke sorga/nirwana/firdaus harus dengan menyiksa diri sehingga Sang Penguasa merasa kasihan dan mengampuni dosanya. Yang satu mengatakan harus berbuat baik agar perbuatan baiknya dapat menghapuskan atau mengimbangi perbuatan jahatnya. Yang lainnya dengan meditasi dan hidup bertarak agar mendapatkan pencerahan, yang lainnya lagi harus terus mempersembahkan korban dan persembahan lain untuk memuaskan tuhannya. Semua itu adalah usaha- usaha manusia untuk menjelaskan fenomena kematian dan apa yang ada dibalik kematian itu. Itulah sebabnya timbul sangat banyak agama & kepercayaan didunia ini.
44
Namun Keselamatan tidak hanya menyangkut faktor yang negatif, yaitu diselamatkan dari murka Allah, tetapi terutama menyangkut hal-hal yang positif seperti ditebus, diampuni, dibenarkan, dijadikan anak Allah, disucikan, dimuliakan, dsb.
3. USAHA-USAHA MANUSIA UNTUK MENCARI KESELAMATAN
45
3.C. Mengapa Timbul Banyak Agama & Kepercayaan?
Dari pandangan Alkitab, kita dapat dengan jelas mengerti mengapa manusia kemudian mendirikan berbagai agama dan kepercayaan. Mari kita melihat lagi sejarah eksistensi manusia dibumi yang telah dicatat Alkitab dengan baik, dan bagaimana kejatuhan telah menyebabkan manusia terpisah selamanya dengan Penciptanya. Pada gilirannya keterpisahan itu menyebabkan kekosongan dalam jiwa manusia serta adanya kesadaran akan hukuman dalam kematian, sehingga manusia mencari hubungan kembali kepada Sang Pencipta melalui agama dan kepercayaan masing-masing.
Seperti telah didiskusikan dalam bagian terdahulu, manusia diciptakan agar dapat menjadi wakil- wakil Allah didalam mengelola ciptaan-Nya (Kej. 1:28. Band. Why. 22:5). Agar dapat mengenal, mengasihi dan mentaati-Nya, manusia diciptakan dengan kemampuan untuk memilih yaitu dengan memiliki kehendak bebas (namun dengan ketergantungan penuh kepada Allah) yang dipandu oleh atribut-atribut moral (kebenaran, kekudusan dan kasih). Kehendak bebas dengan atribut-atribut moral ini adalah hakikat manusia yang terpenting agar mereka dapat memilih Allah dan bersekutu dengan-Nya dengan keinginan sendiri dan bukan karena diprogram oleh Pembuatnya seperti robot.
Namun Kehendak Bebas memiliki konsekuensinya: manusia DAPAT MEMILIH untuk tidak mentaati Allah. Itulah yang terjadi di Taman Eden, sehingga manusia TERPISAH dari Allah selamanya (=Mati, Maut, yang dimaksud dalam Kej.2:17). Keterpisahan dengan Allah inilah yang menimbulkan kekosongan dalam hati manusia dan adanya ketakutan akan kematian sehingga manusia berusaha mencari hubungan lagi dengan Penciptanya. Itulah sebabnya timbul banyak agama dan kepercayaan didunia ini.
Agama-agama primitif mencari hubungan dengan Sang Pencipta karena melihat ciptaan-Nya (benda-benda langit, gunung, hutan, batu besar, dsb.). Allah memang menyatakan diri-Nya melalui ciptaan- Nya agar tidak seorangpun manusia menyangkal bahwa ada Allah Yang Maha Kuasa sebagai Pencipta dan Pemelihara alam semesta. Ini yang disebut “General Revelation” atau “Pewahyuan Umum” (Rom 1:19-20).
19 Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah
menyatakannya kepada mereka.
20
Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. (Rom. 1:19-20)
Tetapi Pewahyuan Umum melalui alam semesta ini tidak membawa manusia untuk mengenal Allah Yang Benar, karena manusia justru malah memilih untuk menolak Allah yang benar dan menganggap alam itu sebagai Allahnya (misalnya menyembah benda-benda ciptaan sebagai Allah-Rom. 1:21-23),
21 Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau
mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.
22
Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh.
23
Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. (Rom. 1:21-23)
46
Peradaban paling kuno dari Babilonia (Sumeria, Mesopotamia & Akkadia – kr. 3200an BC)45 menyembah banyak Bel/Baal (Dewa), terutama Bel-Marodach/Bel-Marduk (Dewa Matahari) sebagai dewa tertinggi yang menciptakan dan memelihara kehidupan.
Gbr. 6: Ukiran Baal Marduk Zaman Batu dari Mesopotamia
Pada zaman Perjanjian Lama, kita juga belajar bahwa bangsa-bangsa di Kanaan menyembah Baal dan benda-benda langit lainnya (dewa matahari, bulan, rasi bintang dan benda-benda langit lainnya – 2Raj. 23:4-5):
4 “Raja memberi perintah kepada imam besar Hilkia dan kepada para imam tingkat dua dan kepada
para penjaga pintu untuk mengeluarkan dari bait TUHAN segala perkakas yang telah dibuat untuk Baal dan Asyera dan untuk segala tentara langit, lalu dibakarnyalah semuanya itu di luar kota Yerusalem di padang-padang Kidron, dan diangkutnyalah abunya ke Betel.
5 Ia memberhentikan para imam dewa asing yang telah diangkat oleh raja-raja Yehuda untuk
membakar korban di bukit pengorbanan di kota-kota Yehuda dan di sekitar Yerusalem, juga orang- orang yang membakar korban untuk Baal, untuk dewa matahari, untuk dewa bulan, untuk rasi-rasi bintang dan untuk segenap tentara langit.” (2Raj. 23:4-5)
Peradaban kuno berikutnya, yaitu Mesir (sekitar 3150 BC), menyembah Dewa “Ra” (Dewa Matahari) dan dewa-dewa binatang lainnya (buaya, ular, anjing, burung elang, dsb.) karena melihat kepada ciptaan. Alih-alih mencari dan menyembah Penciptanya, mereka malah menciptakan allah-allahnya sendiri dari objek-objek ciptaan.
Gbr. 7: Dewa Ra dan Dewa-dewa Lainnya
45 Lihat Kej. 10-11. Penanggalan Yahudi sendiri dimulai tahun 3760 AM (Anno Mundi=”tahun bumi”), atau
3. USAHA-USAHA MANUSIA UNTUK MENCARI KESELAMATAN
47
Dalam Vedic Hinduism (atau Brahmanism - “Rig Veda,” sekitar 1700-1100 BC) yang kemudian mempengaruhi modern Hinduism (500 BC), ada Brahman sebagai “The Universal Soul” dan 3 Dewa Tunggal (“Trimurti”), yang terdiri dari Dewa Pencipta (Brahman), Pemelihara (Vishnu) dan Perusak (Shiva). Ketiganya menyatakan fenomena ciptaan (Eksistensi benda, Kehidupan & kelahiran Benda, dan Kematian/Kerusakan benda). Didalam Buddhisme (sekitar abad 6 sd 4 BC), tidak mengenal adanya Tuhan sebagai suatu pribadi. Tidak ada pencipta. Penyebab eksistensi manusia tidak diketahui. Manusia telah ada sejak dulu dan terus berputar dalam “samsara” (siklus kelahiran dan kematian).46 Karena percampurannya dengan tradisi oriental (Chinese), mengenal banyak dewa-dewi yang ada dibalik fenomena alam (mis. Dewa perang, dewi belas kasih, dst.)
Hampir semua kepercayaan primitif menyembah ciptaan sebagai allah atau dewa yang mempengaruhi hidup mereka. Di Tanah Batak, ada “Ompung Mulajadi Na Bolon” (Kakek Pencipta yang Agung”) yang bersemayam dipuncak Gunung Pusuk Buhit. Dari sanalah diciptakan manusia, dan kesanalah agama kuno orang Batak menyembah. Didalam peradaban Yunani kuno, kuil-kuil dan altar-altar kuno didirikan untuk menyembah dewa-dewi yang selalu ada hubungannya dengan alam ciptaan (misalnya Artemis/Diana sebagai Dewi Kesuburan – Kis. 19:24 dst.)
Manusia yang “lebih beradab” mendefinisikan sendiri tentang fenomena keberadaan seseorang dan kematiannya sebagai sesuatu yang random (tidak ada rencana dan tidak perlu tahu dari mana datangnya, atau mau kemana sesudah mati). Yang penting adalah hidup saat ini. Saat masih hidup manusia harus berbuat baik kepada sesamanya dan kepada alam sekitarnya. Inilah yang disebut “agama” Humanisme. Sebenarnya mereka sama dengan agama-agama primitif yang mempercayai ciptaan sebagai Allah yang benar. Namun yang mereka percayai BUKAN ciptaan-ciptaan lainnya, tetapi DIRINYA sendiri (manusia; dia adalah Allah). Ini adalah suatu bentuk PENOLAKAN lain akan adanya Allah yang Benar.
Jadi agama-agama dan kepercayaan muncul sangat banyak didunia ini sebagai usaha-usaha manusia untuk mencapai Allah Yang Benar untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar semua manusia, modern atau primitif yaitu:
• Dari manakah aku datang, dan kemanakah aku pergi?
• Apakah tujuan eksistensiku didunia ini?
Namun semua agama & kepercayaan itu tidak menghasilkan pengenalan akan Allah yang benar karena manusia telah kehilangan kemuliaan Allah, terpisah dari Allah dan kehilangan pengetahuan akan Allah yang benar. Terlebih lagi karena manusia telah dijauhkan dari hadirat Allah, maka tidak mungkin mereka dapat mengenal Allah. Jadi apapun usaha yang bersumber dari manusia (perbuatan baik, agama, ketaatan beragama/beribadah, moralitas, dsb.) tidak akan dapat menghasilkan pengenalan akan Allah yang benar, malah akan menyesatkan manusia lebih jauh karena mengira ia telah mengenal Allah yang benar. Akhirnya semua usaha itu justru akan menghasilkan usaha-usaha untuk “mendirikan kebenaran sendiri” dan berujung kepada “menolak kebenaran Allah” (Rom. 10:2-3. Akan dijelaskan lebih lanjut dalam bagian- bagian berikutnya).
Jadi bagaimanakah caranya agar manusia dalam keadaannya yang terpisah dengan Allah dapat mengenal dan bergaul dengan Allah Yang Benar? Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita renungkan illustrasi ini:
46
48
Jika membaca illustrasi diatas, apakah dengan menjadi seorang yang baik, saleh, suka membantu dan menjadi seorang yang budiman, maka permasalahan dengan pak Agung selesai? Tidak. Mengapa tidak, bukankah ia telah menjadi seorang yang saleh, taat beribadah, dan suka membantu orang lain? Ya benar, namun semua hidup dan perbuatan baiknya itu tidak relevan dengan penyelesaian masalah hubungannya dengan pak Agung. Hubungan pak Budi dan pak Agung HANYA dapat dipulihkan melalui pengampunan pak Agung karena pak Budi telah bersalah kepada pak Agung.
Illustrasi:
no. 3
PAK AGUNG dan PAK BUDI
Disuatu negeri, tinggallah seorang yang sangat kaya yang dermawan bernama pak Agung. Seperti namanya, sifatnya memang Agung. Dia selalu membantu mereka yang berkekurangan tanpa pandang bulu. Para pembantunyapun hidup mewah karena kedermawanannya. Diantaranya seorang bernama pak Budi. Karena kepercayaan pak Agung, maka pak Budi diberi hak penuh untuk mengelola milik pak Agung agar pak Agung dapat mengkonsentrasikan dirinya untuk mencari dan membantu banyak orang-orang miskin lainnya dinegerinya.
Karena peluang yang ada, pak Budi akhirnya menjadi tamak dan dengan kelicikannya ia dapat memindahkan hak kekayaan tuannya (pak Agung) menjadi miliknya. Singkat cerita, kemudian pak Agung menyadari bahwa kepercayaan yang diberikannya telah disalah gunakan. Alih-alih berusaha merebut kembali hartanya, pak Agung yang sifatnya memang agung itu justru pergi jauh kenegeri lain yang tidak seorangpun mengetahuinya untuk berusaha lagi dan membantu orang-orang miskin dinegeri lain itu.
Singkat cerita, karena ketamakan, sifat mewah dan kesalahan pengelolaan, akhirnya semua kekayaan yang dikuasai oleh pak Budi kemudian habis dan ia jatuh miskin, bahkan jauh lebih miskin dari saat ia masih menjadi pembantu pak Agung. Kemudian ia teringat kepada pak Agung: jangan-jangan ia jatuh miskin karena kesalahannya kepada pak Agung. Lalu mulailah timbul penyesalan akan apa yang telah ia perbuat kepada pak Agung dan bermaksud meminta maaf agar hidupnya dapat tenang lagi. Namun masalahnya adalah bagaimana ia dapat berdamai dan mendapat pengampunan dari pak Agung jika tidak seorangpun dinegerinya yang tahu kemana mencari pak Agung? Jadi karena tidak dapat menemukan pak Agung, maka ia berpikir ya sudahlah yang penting sekarang saya hidup baik, jujur, saleh dan mulai memikirkan orang lain. Memang benar. Hidup pak Budi kemudian sangat berubah dengan saat ia kaya. Kalau dulu ia sombong, kikir dan jahat dalam merampas milik orang, sekarang ia dikenal sebagai seorang yang jujur, saleh, dan suka memperhatikan orang miskin. Karena itu sedikit demi sedikit ekonominya mulai dipulihkan walau tidak dapat sekaya dulu lagi. Untuk melupakan rasa bersalahnya kepada pak Agung, ia akhirnya menjadi seorang yang dermawan dan baik budi. Ia mendirikan banyak rumah ibadah, ia membantu yang miskin, rajin melakukan kegiatan agamanya, dan kebaikan-kebaikan lainnya. Ia telah menjadi tokoh masyarakat dan dihormati karena kebaikan serta sifat budimannya. Tidak salah ia disebut sebagai Pak Budi.
Singkat cerita, seiring dengan berjalannya waktu, ia tenggelam dalam kegiatan amalnya dan telah melupakan masalahnya dengan pak Agung. Ia sangat menikmati hidupnya yang berbudi dan dihormati itu, namun jauh didalam hatinya masih ada rasa bersalah, namun akhirnya hilang karena selalu ditutupi dengan perasaan nyaman yang semu dari amal salehnya.
Apakah dengan berbuat segala kebaikan dan amal saleh itu masalahnya dengan pak Agung dapat selesai?
3. USAHA-USAHA MANUSIA UNTUK MENCARI KESELAMATAN
49
Demikian juga masalah terpisahnya hubungan manusia dengan Allah. Segala usaha yang baik bagaimanapun yang dilakukan manusia tidak dapat menyelesaikan permasalahan perpisahannya dengan Allah. Semua itu usaha manusia dan berpusat pada manusia saja (anthroposentris) untuk mencoba menenangkan batinnya. Semua usaha itu tidak relevan dengan pemulihan hubungannya dengan Allah. Keterpisahan hubungan manusia dengan Allah diakibatkan oleh DOSA, yaitu pemberontakan kepada Allah. Jadi pemulihan hubungan hanya dapat dilakukan melalui tindakan Allah saja, yaitu pengampunanNya.
Jadi bagaimana caranya agar pak Budi dapat memulihkan hubungannya lagi dengan pak Agung? Tidak ada yang dapat diperbuat oleh pak Budi karena ia telah kehilangan kontak sama sekali dengan pak Agung dan tidak tahu kemana ia harus mencarinya. Jadi bagaimana? Hanya ada satu jalan saja, yaitu menantikan inisiatif pak Agung untuk menemuinya kembali dan membawa pengampunan kepadanya! Karena itu pak Budi hanya dapat berharap mudah-mudahan pak Agung datang lagi dan memberinya pengampunan.
Demikian juga dengan hubungan manusia dengan Allah. Segala usaha manusia untuk “menjangkau Allah” melalui agama, moralitas dan spiritualitas tidak mungkin berhasil karena dosa manusia yang memisahkannya dari Allah (=maut). Semua usaha itu justru akan mengentalkan pemberontakan manusia karena usaha-usaha itu sebenarnya adalah usaha untuk “mendirikan kebenaran sendiri” untuk menenangkan batinnya. Celakanya, segala usaha itu justru berujung atau menghasilkan penolakan terhadap “kebenaran Allah” seperti bangsa Israel (Rom. 9:31-10:3):
31
Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu.
32
Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan,
33
seperti ada tertulis: "Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan." (Rom. 9:31-33)
1
Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan.
2
Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar.
3 Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha
untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah. (Rom. 10:1-3)
Perhatikan kalimat-kalimat yang dimiringkan. Bangsa Israel adalah contoh dari orang-orang yang menafsirkan keselamatan dalam Perjanjian Lama secara keliru. Mereka berpikir bahwa keselamatan didapat dengan mentaati hukum Taurat secara ketat. Artinya, sama seperti konsep dalam agama-agama lain, bangsa Israel mengira bahwa mereka dapat diselamatkan dengan berusaha berbuat baik dengan
Segala usaha baik yang dilakukan manusia (kesalehan, amal, ketaatan kepada agama, moralitas, dsb.) tidak dapat memulihkan hubungan dengan Allah yang benar karena semua usaha itu TIDAK RELEVAN dengan pemulihan hubungan itu. Semua itu adalah usaha-usaha yang berpusat pada diri manusia (anthroposentris) dalam usahanya untuk
menenangkan batinnya.
Keterpisahan hubungan manusia dengan Allah diakibatkan oleh DOSA, yaitu pemberontakan kepada Allah. Jadi pemulihan hubungan hanya dapat dilakukan melalui
50
mengikuti dengan ketat aturan-aturan dalam hukum Taurat. Karena itu mereka berusaha bersungguh- sungguh dengan giat untuk Allah, namun dengan pengertian yang salah (yaitu mengira bahwa usaha manusia dapat menyelamatkannya, padahal Jalan Keselamatan yang dinyatakan Allah adalah hanya perlu percaya saja karena tidak ada lain yang dapat dilakukan oleh manusia kecuali percaya). Akibat pengertian yang salah ini, mereka pada akhirnya sebenarnya sedang “mendirikan kebenarannya sendiri.” Dan usaha itu justru menghasilkan kepada pemberontakan kepada “kebenaran Allah” dengan cara menolak kebenaran