BAB III BIOGRAFI HJ. SARIANI THAHA MA’RUF
A. Asal-Usul Keluarga
Hj. Sariani berasal dari keluarga cukup terpandang di kampungnya. Warga setempat cukup segan dan menghormati keluarganya. Ayahnya bernama H.
Muhammad Yasin, anak seorang lurah yang berasal dari Pariaman. Ia sangat dihormati, baik oleh penduduk Mandiangin, Sasak maupun Tiku. Begitu pun orang-orang Belanda, mereka sangat menghormatinya.
Selain dihormati sebagai cucu seorang lurah, ayahnya sterkenal sebagai seorang parewa, jagoan kampung atau seorang yang ditakuti. Ia seorang pemberani yang sangat dikagumi. Walaupun demikian ia tidak pernah menganiaya orang lain, tidak takut kepada siapa pun, kecuali kepada seorang ulama. ‚Dan itulah satu-satunya prestasi yang dimilik ayah‛.1
Ibunya bernama Hj. Fatimah, seorang perempuan dari keluarga biasa dan sederhana yang berasal dari Mandiangin, tempat dimana Hj. Sariani lahir dan dibesarkan. Desa yang terletak di pinggir laut dan terisolasi. Dia hanya bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua atau yang biasa disebut ojek (beca bermotor).2
Tidak ada keistimewaan lain yang dimiliki keluarga orang tua Hj. Sariani, selain mereka sangat menghormati
1 Rais Hidayat, Al-Ma’ruf dan Pendirinya, (Jakarta: Yayasan Al- Ma’ruf, 2004), h. 14.
2 Rais Hidayat, Al-Ma’ruf dan Pendirinya, h. 12.
orang-orang yang ahli dalam agama. Mereka sangat kagum dan segan terhadap ‘alim ‘ulama, sehingga apabila kampungnya kedatangan seorang ulama, mereka akan selalu mengikutinya, mendengarkan ceramahnya dan menjamunya.
Bahkan berebut sisa makanan dan minuman dari seorang ulama, sudah menjadi tradisi, dengan alasan ‚ngalap berkah‛.3
Kekagumannya kepada ulama, membuat orang tuanya berniat menjadikannya sebagai seorang penceramah perempuan. Terlebih ketika mereka mengenal seorang ulama perempuan yang bernama Rohana, yang datang tidak sengaja akibat kapal yang ditumpanginya terdampar di pantai, di pinggiran desa Mandiangin.
‚Pada suatu hari terdapat sebuah kapal yang terdampar di tepi desa Mandiangin, karena rusak dan tidak dapat melanjutkan perjalananya lagi. Oleh karenanya, maka terpaksa para penumpang kapal tersebut harus bermalam di Mandiangin. Diantara para penumpang tersebut, terdapat seorang ulama perempuan yang sangat pandai berceramah.
Kami memanggilnya Ibu Rohana.
Mendengar tentang kedatangan seorang ‘alim, para pemuka desa memukul canang (gong), memberitahukan kepada penduduk bahwa malam itu akan diadakan Tabligh agama Islam, dengan penceramahnya seorang perempuan. Saya pun malam itu diajak kedua orang tua saya menghadiri acara tersebut. Dalam keadaan bergelayutan di pangkuan Ibu saya, dan tidak paham apa yang disanpaikan. Saya mengikuti tabligh tersebut. Melihat kepandaian penceramah perempuan itu, kedua orang tua saya sangat terkagum-kagum padanya, dan menginginkan saya menjadi seperti penceramah tersebut.
Semenjak itu, kuatlah keinginan orang tua Saya untuk
3 Rais Hidayat, Al-Ma’ruf dan Pendirinya, h. 12.
Biografi Hj. Sariani Thaha Ma’ruf
mempunyai anak dan menantu seorang yang ‘alim ilmu agama.‛4Rohana yang dimaksud, siapakah beliau? Rohana Kuduskah? Rohana yang seorang Pionir Jurnalis Perempuankah yang dimaksud Hj. Sariani? Rohana yang pernah berkata:
‚Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah seorang perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Hal yang penting adalah bahwa perempuan harus mendapat pendidikan untuk dapat memperoleh perlakuan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, serta taat beribadah, dimana kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan.‛5
Menurut penulis, ada kemungkinan Rohana yang dimaksud Hj. Sariani adalah Rohana Kudus. Hal ini disebabkan keterpautan usia Hj. Sariani dengan Rohana Kudus adalah 40 tahun. Rohana Kudus, lahir pada tanggal 20 Desember 1884 di Kota Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat dan wafat pada tanggal 17 Agustus 1972. Sedangkan Hj. Sariani lahir pada tanggal 5 Juni 1924. Rohana Kudus wafat pada usia 88 tahun. Sehingga jika mungkin Hj. Sariani sempat bertemu dengan Rohana (Rohana Kudus) pada usia, misal 3 tahun. Berarti Rohana Kudus saat itu berusia 43 tahun. Usia dimana seseorang mulai matang dan dewasa serta energik. Selain itu, Rohana Kudus adalah seorang perantau. Ia merantau dari satu kota ke kota lainnya. Ia
4 Rais Hidayat, Al-Ma’ruf dan Pendirinya, h. 13.
5 Widi Astuti, Perempuan Pejuang, Jejak Perjuangan Perempuan Islam Nusantara dari Masa ke Masa, (Bandung: Konstanta Publishing House, 2013), h. 113.
pernah tinggal di Maninjau, Padang Panjang juga Bukit Tinggi. Ia juga seorang penulis. Ia banyak menuangkan ide-ide cemerlangnya melalui tulisan, dan dikirimnya melalui surat kabar ‚Sunting Melayu‛. Dari tulisan-tulisannya inilah, ia banyak dikenal orang.6 Jika memang Rohana yang dimaksud adalah Rohana Kudus, tidak aneh jika kemudian Hj. Sariani pun memiliki tekad dan semangat yang sama.
Dalam teori sosialisasi Politik dinyatakan, keluarga dan orang tua adalah penentu utama anak untuk terlibat dalam kehidupan pilitik. Seiring perkembangan hidup seseorang, peranan kelompok sepergaulan semakin menentukan sikapnya di masa mendatang. Persoalannya, tergantung mana yang dominan mempengaruhi orang tersebut.7
Hj. Sariani berasal dari Sumatera, dimana pada saat itu masyarakat Muslim Sumatera sedang mengalami proses modernisasi, namun kedua orang tua Hj. Sariani adalah Muslim pemeluk aliran Ahlussunnah Wal Jama’ah. Mereka adalah keluarga yang sangat menghormati dan mengagungkan ulama. Mereka pun percaya adanya keberkahan dari para ulama. Sehingga apabila ada seorang ulama berkunjung ke Mandiangin, mereka menemuinya untuk meminta do’a dan keberkahannya.8 Bahkan, pada awalnya, perdagangan ayahnya tidaklah seberapa. Namun setelah kedatangan seorang syeikh, perdagangannya semakin hari semakin meningkat dan terus meningkat. Dan pada akhirnya menjadi kaya raya.
6 Widi Astuti, Perempuan Pejuang, Jejak Perjuangan Perempuan Islam Nusantara dari Masa ke Masa, h. 110.
7 Neng Dara Afiah, Islam, Kepemimpinan Perempuan dan Seksualitas, (Jakarta: Pustaka Obor Indonesia, 2017), h. 11.
8 Rais Hidayat, Al-Ma’ruf dan Pendirinya, h. 15.
Biografi Hj. Sariani Thaha Ma’ruf
‚Pada suatu waktu, desa Mandiangin kedatangan seorang syeikh dari desa Sasak, bernama Syeikh Dun Gunjo. Syeikh ini selalu datang ke Mandiangin untuk menyampaikan ceramah. Syeikh ini juga dikenal sebagai orang yang memiliki keramat. Setiap kali ia datang, penduduk berebut meminta do’a dan keberkahannya. Begitu pun dengan sisa makanan dan minumannya, maka para penduduk berebut untuk mendapatkan sisa makanan dan minumannya tersebut. Tidak ketinggalan pula bapak saya, yang selalu mendekat dan mengiringinya sejak syeikh itu datang sampai pulang. Pada suatu kesempatan, bapak saya menghadapnya dan mengutarakan niatnya untuk meminta tambahan modal berdagang. Mendengar permintaan bapak saya itu, Syeikh Dun Gunjo mengeluarkan uang setalen (dua setengah rupiah) dan melemparkannya kepada bapak saya. Bapak saya menyambut uang itu dengan gembira, namun bapak saya terheran-heran, dia bertanya-tanya dalam hatinya, dengan uang setalen, modal dagang apa yang bisa dilakukan? Karena nilainya sedikit. Namun Bapak Saya mempunyai keyakinan yang kuat terhadap modal yang diberikan itu. Maka uang itu mulai digunakannya untuk berjualan. Mulanya uang itu digunakan untuk berjualan beberapa pucuk daun nipah. Atas ijin Allah, jualannya laku pesat sehingga usahanya terus berkembang dan maju. Setelah mendapat tambahan modal yang banyak, bapak saya mengembangkan usahanya dan beralih berjualan kain. Macam-macam kain yang dijual, termasuk kain palekat dan batik pekalongan yang sangat termasyhur pada jaman itu. Kain-kain itu dibawa dari kota Padang. Dengan takdir Allah jualah, berkat usaha dagang kain, orang tua Saya akhirnya kaya raya. Mereka bisa membeli tanah lapang yang luas dan sebagian dari kepemilikan tanah-tanahnya tersebut diwakafkan untuk
kepentingan masjid. Berkat hasil usahanya itu pula, kami bertiga bisa pergi haji bersama.‛9
Hj. Sariani pergi haji untuk pertama kalinya pada usia 5 tahun, sehingga, oleh karenanya, sejak usia 6 tahun, ia mendapat panggilan Si Haji. Apa arti dan makna dari panggilan tersebut, ia tidak memahaminya. Akan tetapi, ia senang dengan panggilan tersebut. Adapun, nama ‚Sariani‛
menurut pengakuannya, diambil dari bahasa Arab yakni dari kata kata ‚sariun, sariaani‛, yang artinya dua kemudahan.
‚Kemudahan di sini dimaksudkan sebagai do’a agar mendapat dua kemudahan jalan , yakni kemudahan jalan duniawi dan ukhrowi. Nyatanya, untuk kemudahan kehidupan saya di dunia, Subhanallah… kiranya memang saya patut mengucap syukur Alhamdulillah‛,10