BAB IV KEPEMIMPINAN HJ. SARIANI
B. Kehidupan Sosial Hj. Sariani
3. Mendirikan Kursus Dakwah
Aktivitas dakwah Hj. Sariani sudah dimulai semenjak ia masih di Bukit Tinggi. ‚Saya ingat, kalau mau berangkat dakwah, saya berangkat dengan Bendi yang ditarik kuda. Saya sering mengisi dakwah di Kamang dan Tarok. Kegiatan berdakwah ini merupakan perwujudan dari cita-cita ibu saya.‛33 Betapa menentukannya posisi ibu dalam membesarkan anak.
Meskipun kekuasaan dan pengasuhan dianggap sebagai dua unsur yang bertolah belakang, namun bisa dikatakan ibu adalah figure yang sangat berkuasa di dalam rumah tangga. Kekuasaan ibu memiliki dimensi yang terlihat dan tersembunyi. Ibu menggunakan kekuasaan yang nyata dalam peranannya sebagai pengatur keluarga, seperti: berbelanja, menyusun menu makanan, liburan, mengatur waktu mengerjakan tugas kerumahtanggaan, bahkan mengatur waktu tidur.
Adapun kekuasaan ibu dalam dimensi tersembunyi memungkinkannya mendukung pertumbuhan anaknya.
Ia mampu mejalankan tugas ini melalui perannya sebagai carteker, penentu perkembangan anak. Ibu adalah figur berkuasa. Masyarakat mentolerir kekuasaan
32 Dorothy dkk, Kiprah Wanita dalam Dunia Politik, Diterjemahkan Abraham RAP, (Jakarta: Gramedia, 1998), h. 257.
33 Rais Hidayat, Ma’ruf dan Pendirinya, (Jakarta: Yayasan Al-Ma’ruf, 2004), h. 45.
ibu, dan wanita merasa tenteram dengan sikap masyarakat itu. Namun, masyarakat ataupun para ibu sama-sama tidak yakin dengan kekuasaannya itu, dikarenakan cakupan pengaruhnya tidak begitu nampak.34
Tahun 1970-an, dunia dakwah mulai digemari masyarakat. Pasca kejadian G 30 S PKI kesadaran masyarakat akan bahaya komunis yang ingin mengikis keyakinan masyarakat terhadap Tuhan semakin meningkat. Masyarakat mulai senang mendengar ceramah-ceramah keagamaan. ‚Saya mulai banyak berceramah kemana-mana. Saya menjadi pendakwah wanita yang laris, sebab pada zaman tersebut sangat jarang wanita yang terjun berdakwah/berceramah‛.35 Keandalan wanita dalam proporsinya sebagai penyampai informasi, tidak dipertanyakan lagi. Ilmu wanita merupakan mata rantai yang penting dalam silsilah panjang penyampaian informasi secara lisan, sekalipun didominasi pria.ketika banyak sekali hadis terhimpun dalam kitab-kitab yang dapat diterima, wanita juga ikut mempelajari dan menyampaikan koleksi-koleksi hadis.36 Teladan dasar penyampai informasi (perawi) wanita adalah Aisyah, istri Nabi, tetapi banyak pula banyak pula wanita dari generasi pertama yang menjadi sumber hadits. Selain itu, tidak semua perawi ini berasal dari keluarga Nabi, seperti
34 Dorothy dkk, Kiprah Wanita dalam Dunia Politik, Diterjemahkan Abraham RAP, (Jakarta: Gramedia, 1998), h. 71-75.
35 Rais Hidayat, Ma’ruf dan Pendirinya, (Jakarta: Yayasan Al-Ma’ruf, 2004), h. 55.
36 Ruth Roded, Kembang Peradaban, Citra Wanita di Mata Para Penulis Biografi Muslim, Diterjemahkan Ilyas Hasan, (Bandung: Mizan, 1995), h. 155 & 144-145.
Biografi Hj. Sariani Thaha Ma’ruf
Umm Waroqoh yang menghimpun dan membaca Alqur’an dan membantu Umar dalam merakit nashnya.Dalam menyampaikan ceramahnya, materi yang pertama kali Hj. Sariani berikan adalah materi-materi yang berhubungan dengan amaliyah sehari-hari. Seperti bagaimana tata cara sholat, berwudhu, puasa dan lain sebagainya. Sedangkan materi pemahaman akan tafsir Al-Qur’an dan yang lainnya dianggapnya masih belum waktunya untuk disampaikan. Setiap kali berdakwah, ia selalu berusaha untuk menumbuhkan kesegaran dan kesadaran masyarakat dalam memahami agama. Ia selalu menekankan perlunya berkeyakinan kepada Tuhan dan nabinya. Baginya, mereka bukanlah masyarakat yang sudah maju baik pikirannya maupun pemahamannya. ‚Pokoknya, kalau mereka sudah mengenal Tuhan, mengenal Nabinya dan mengenal kitabnya, Al-Qur’an, mereka dekat dengan semua itu, sudah cukup bagi saya. Karena memang waktu itu demikian.‛ Ujarnya.37
Selain materi tentang amaliyah sehari-hari dan penekanan akan keyakinan terhadap Tuhan dan nabinya, materi dakwah lainnya yang harus segera dipahami masyarakat adalah pentingnya amar ma’ruf nahyi munkar. Dalam menyampaikan materi ini, ia lengkapi dengan hadis-hadis Nabi Saw. yang pendek-pendek dan ringan serta mudah dipahami. Pentingnya hidup bertetangga pun menjadi materi utama yang ia sampaikan karena kalau ada apa-apa yang pertama kali dimintai pertolongan adalah tetangga yang paling dekat.
Tidak punya garam, minta ke tetangga. Tengah malam
37 Rais Hidayat, Ma’ruf dan Pendirinya, (Jakarta: Yayasan Al-Ma’ruf, 2004), h. 73.
sakit, perlu bantuan, yang didatangi tetangga terdekat.
Bukan kepada saudara yang berpangkat tinggi tapi rumahnya nun jauh di sana.
Masyarakat saat itu ibarat lahan subur, belum tersentuh bibit dan belum ditanami. Disitulah dibutuhkan penanaman yang dimana disiram air maka tanaman akan langsung tumbuh. Dan Hj. Sariani adalah satu-satunya pendakwah perempuan saat itu.
Pendakwah perempuan saat itu masih sangat jarang.38 Jumlah wanita alim dan ulama mengalami penurunan yang tajam pada abad ke X dan XVI. Wanita-wanita alim dan ahli-ahli hadits secara sistematis disingkirkan dari koleksi-koleksi biografi. Sebagian berpendapat bahwa hal ini disebabkan adanya kemandegan yang terjadi dalam kesarjanaan Islam mengurangi keharusan wanita untuk belajar atau bahwa meningkatnya birokratisasi kemapanan kesarjanaan lebih menekankan kedudukan ketimbang ilmu pengetahuan. Berbagai cara penyampaian ilmu kiranya telah menghalangi pencatatan nama guru-guru wanita.39
Dalam berdakwah, Hj. Sariani berprinsip berdakwah dengan sesederhana mungkin, tidak muluk-muluk tapi bisa mengena. Apa yang disampaikan bisa dibawa pulang dan langsung diamalkannya. Terkadang ia pun menyampaikan materi dakwahnya dengan cara bercerita atau menceritakan kisah-kisah yang terjadi pada masa nabi.
38 Rais Hidayat, Ma’ruf dan Pendirinya, (Jakarta: Yayasan Al-Ma’ruf, 2004), h. 73.
39 Ruth Roded, Kembang Peradaban, Citra Wanita di Mata Para Penulis Biografi Muslim, diterjemahkan Ilyas Hasan,(Bandung: Mizan, 1995) h. 134.
Biografi Hj. Sariani Thaha Ma’ruf
‚Pernah pula saya ceramah di sebuah keluarga di Pondok Gede. Saya memberi penjelasan tentang anak durhaka sebab keluarga itu punya problem.yaitu salah satu anaknya bandel tidak ketulungan. Saat itu ibu dan ayahnya mau pergi haji. Akhirnya saya cerita tentang sayangnya istri Nabi Ibrahim as. yang bernama Siti Hajar kepada anaknya Ismail. Saya ceritakan tentang pengorbanan Siti Hajar yang sangat besar sekali ketika membesarkan anaknya. Ia membela anaknya agar jangan sampai mati kehausan. Ia berlari-lari keliling Shafa dan Marwah, namun ia tidak menemukan air. Saya katakana juga bahwa haji itu sebenarnya untuk mengenang pengorbanan ibu pada anaknya. Jadi jangan sampai menjadi anak yang durhaka kepada orang tua , terlebih kepada ibu yang telah melahirkan dan mendidik kita sejak kecil. Kalau saja kita menyakiti orang tua, maka amat besar dosanya. Jangankan masuk surga, mencium baunya saja tidak bisa; Nah, setelah mendengar ceramah saya, anak muda yang bandel itu keluar dari kamarnya lalu menangis meronta-ronta minta ikut pergi haji bersama orang tuanya, padahal bapak dan ibunya sudah mau dilepas berangkat. Itulah yang membuat saya senang, karena anak muda itu sadar akan kesalahannya kepada orang tuanya.‛40
Sebagai seorang guru yang bertugas menyampaikan ilmu kepada muridnya, Hj. Sariani sangat memiliki jiwa guru yang selalu ingin menurunkan ilmunya kepada anak didiknya. Setelah sepuluh tahun lebih ia berdakwah dan mengurus TK dan PGA Muslimat di Kayumanis, timbul keinginannya untuk
40 Rais Hidayat, Ma’ruf dan Pendirinya, (Jakarta: Yayasan Al-Ma’ruf, 2004), h. 75.
menurunkan ilmu dakwah yang ia miliki kepada orang lain. Ia ingin kelebihan yang Allah Swt berikan kepadanya diturunkan kepada orang lain. Ia menginginkan pendakwah-pendakwah perempuan lainnya selain dirinya, yang bisa berpidato di muka umum untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam.
Dengan banyaknya perempuan-perempuan yang mampu mengajarkan ajaran Islam kepada perempuan lainnya, dominasi laki-laki atas perempuan akan berkurang. Menurut Free Heart, Konstruksi budaya patriarki terbangun karena laki-laki yang menciptakan
‘Grand Narrative’ yang secara hegemoni membentuk pikiran-pikiran manusia tentang ideologi yang didominasi laki-laki. Karena laki-laki yang mempunyai kuasa, maka merekalah yang membentuk pengetahuan.
Karena mereka yang mempunyai pengetahuan, maka merekalah yang berkuasa.41 Begitu pun sebaliknya, apabila perempuan yang mempunya pengetahuan, maka perempuanlah yang nantinya akan berkuasa. Perempuan tidak lagi didominasi oleh laki-laki. Perjuangan perempuan yang hanya mengandalkan keberanian, tanpa pengetahuan yang bisa membangun kekuasaan, tidak menawarkan wacana baru atau membangun relasi pengetahuan-kekuasaan bagi perempuan. Yang tertinggal hanya rasa simpati dan empati kepada perempuan lain yang menjadi korban, atau bahkan kemarahan dan kebencian pada laki-laki, tanpa
41 Free Hearty, Keadilan Jende: Perspektif Feminis Muslim dalam Sastra Timur Tengah, h. 124.
Biografi Hj. Sariani Thaha Ma’ruf
memunculkan gagasan bagaimana cara menghadapi permasalahan yang selama ini ada.42Setelah mengutarakan maksudnya kepada suaminya dan disetujuinya, maka dengan bermodal dari uang hasil penjualan rumah yang di Matraman, suaminya membeli rumah yang lebih besar dari sebelumnya di Jl. Kebon Nanas. Bagian paviliun dari rumah itulah yang kemudian dijadikan tempat untuk kursus dakwah. ‚Itulah kelebihan suami saya yang seorang Kiyai. Setiap ada gagasan yang baik, beliau selalu menyokong dan ikut serta memberikan perhatian terhadap rencana saya.‛43
Hampir dipastikan, di setiap keputusan yang diambil Hj. Sariani selalu diawali dengan meminta persetujuan dari Sang Suami. Tetapi hal ini bukan berarti bahwa dia sangat tergantung kepada suami atau terikat kebebasannya oleh suami, melainkan lebih kepada bentuk saling menghormati dan saling menghargai antar suami dan istri yang sudah membudaya. Budaya juga mengharuskan istri lebih menghormati dan taat atas segala keputusan suaminya.
Konstruksi budaya menempatkan laki-laki sebagai orang yang bertanggung jawab atas perempuan.
Tanggung jawab ini kemudian ditafsirkan sebagai hak mengatur dan menentukan kehidupan perempuan sesuai kehendak laki-laki. Laki-laki dianggap mempunyai wewenang untuk melakukan apa saja kepada perempuan, termasuk memukuli bila tidak patuh. Hal ini
42 Free Hearty, Keadilan Jende: Perspektif Feminis Muslim dalam Sastra Timur Tengah, h. 125.
43 Rais Hidayat, Ma’ruf dan Pendirinya, (Jakarta: Yayasan Al-Ma’ruf, 2004), h. 86.
pun dipercayai telah disahkan ajaran agama yang melarang perempuan mengeluhkan suaminya.44
Sesuai dengan ruangan yang tersedia, peserta kursus untuk pertama kalinya berjumlah 40 orang yang berasal dari berbagai pelosok kota di Jakarta (Tanjung Priuk, Kebayoran Lama, Pal Merah, Pondok Gede, Manggarai, dan lain-lain). Seandainya ruangannya lebih luas lagi, diperkirakan peserttanya lebih dari 40. Begitu besar minat masyarakat terhadap kursus dakwah yang didirikan Hj. Sariani.
Kursus dakwah berlangsung selama 3 bulan.
Pembelajaran diselenggarakan satu kali dalam seminggu atau dua kali dalam seminggu. Setiap 3 bulan peserta dakwah ganti angkatan, peserta lama selesai dan digantikan oleh peserta baru. Begitu seterusnya sampai ia terakhir mengadakan kursus dakwah di Al-Ma’ruf, Cibubur.
Semakin hari lembaga kursus dakwahnya semakin diminati. Bahkan sampai dibuka kelas jauh, yang dekat dengan tinggal pesertanya.
‚Karena banyak yang berminat dengan metode dakwah saya, maka saya paksakan menyusunnya dalam sebuah buku dengan judul: ‘Tuntunan Berdakwah‛. Isinya sangat sederhana saja dan ditulis dalam tulisan huruf arab melayu. Itulah buku pertama yang dapat saya susun.‛45
44 Free Hearty, Keadilan Jende: Perspektif Feminis Muslim dalam Sastra Timur Tengah, h. 84.
45 Rais Hidayat, Ma’ruf dan Pendirinya, (Jakarta: Yayasan Al-Ma’ruf, 2004), h. 88.