BAB II KONSTRUKSI GENDER DALAM ISLAM
E. Pandangan Islam terhadap Gender
3. Gender dalam Al-Qur’an
Kondisi sosial tidaklah paten tanpa sebuah perubahan. Setiap masa memiliki logikanya sendiri.
Sungguh benar jika Al-Qur’an mengatakan bahwa tak ada jurang perbedaan antara manusia, khususnya laki-laki dan perempuan. Akan tetapi realita berbicara lain.
Dengan digawangi oleh gerakan feminisme, tuntutan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan semakin gencar dilakukan. Hal itu terjadi karena praktek keagamaan yang dirasakan perempuan selama ini seolah menempatkan perempuan sebagai second sex, konco ing wingking (teman di belakang) dan dalam posisi inferior dari pada kaum laki-laki.69
Perubahan ke arah yang lebih maju telah terjadi.
Namun walau demikian, peran perempuan dalam wilayah publik/politik masih dibatasi. Masih banyak pikiran-pikiran di masyarakat yang memandang perempuan tidak patut memposisikan diri sebagai penentu kebijakan atau pengambil keputusan di sektor publik yang di dalamnya terdapat laki-laki. Pandangan yang dianggap lebih toleran adalah bahwa selama masih ada laki-laki, maka laki-laki adalah yang paling tepat.
Fenomena tersebut memperlihatkan dengan jelas adanya relasi laki-laki dan perempuan yang asimetris dan
68 Husein Muhammad, Islam Agama Ramah Perempuan, Pembelaan Kiai Pesantren, h. 261.
69 M. Faisol, Hermeneutika Gender, Perempuan dalam Tafsir Bahr al-Muhith, h. 18.
ُُۡىٌِبَجِّس ِِٓ ٌَِٓۡذٍَِٙش اُٚذِٙ ۡشَت ۡعٱَٚ …
…
diskriminatif.70 Oleh karenanya, isu gender merupakan salah satu wacana yang selalu aktual untuk diperbincangkan. Tak lekang oleh waktu dan selalu dikaitkan dengan Islam. Isu gender yang selalu membicarakan hal-hal yang sensitif, memancing banyak tanggapan yang pro dan kontra terhadapnya.71
a. Identitas Gender dalam Al-Qur’an
Identitas gender dalam Al-Qur’an diantaranya dapat dipahami melalui simbol dan bentuk gender yang digunakan di dalamnya. Istilah-istilah gender yang sering digunakan dalam Al-Qur’an diantaranya:
1) Istilah-istilah yang merujuk kepada laki-laki dan perempuan:
a) Al-Rijal )ي بجشٌا( dan Al-Nisa )ءبغٌٕا ( Kata al-Rizal (يبجشٌا) bentuk jama’ dari kata al-rajul (ًجشٌا), diartikan laki-laki. Kata rojul pada umumnya digunakan untuk laki-laki dewasa, sesudah anak-anak (gulaam/َلاغ). Contoh penggunaan kata rojul dalam Qur’an terdapat dalam Q.S. al-Baqoroh/2:282.
Artinya: ‚… dan persaksikanlah dengan 2 orang saksi dari laki-laki, …‛.
70 Husein Muhammad, Islam Agama Ramah Perempuan, Pembelaan Kiai Pesantren, h.6.
71 M. Faisol, Hermeneutika Gender, Perempuan dalam Tafsir Bahr al-Muhith, h. 17.
Konstruksi Gender dalam Islam
…
ْۚۚبَِِّّّ ٞتٍِصَٔ ِيبَجِّشٌٍِّ
اُٛجَغَت ۡو ٱ بَِِّّّ ٞتٍِصَٔ ِءَٰٓبَغٌٍَِِّٕٚ
َْۚٓۡجَغَت ۡو ٱ
…
ُُۡوُؤَٰٓبَغِٔ
ُُۡتۡئِش ىََّٔأ ُُۡىَث ۡشَح اُٛتۡأَف ُُۡىٌَّ ٞث ۡشَح
… ٤٤٥
Kata ‚ُىٌبجس‛ dalam ayat di atas, dalam tafsir al-Jalalayn ditafsirkan sebagai laki-laki muslim yang akil baligh dan merdeka.‛
Sedangkan al-Nisa )ءبغٌٕا(, adalah bentuk jama’ dari kata al-mar’ah )حءشٌّا(, yang berarti perempuan yang sudah matang atau dewasa., berbeda dengan al-untsa )ىثٔلا(, yang berarti jenis kelamin perempuan secara umum, dari yang masih bayi sampai yang sudah lanjut usia. Contoh penggunaan kata al-Nisa dalam al-Qur’an terdapat dalam Q.S.
al-Nisa/4:32.
Artinya: ‚…bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan ada bagian dari apa yang mereka usahakan, …‛
Kata ‚nisa‛ pada ayat di atas menunjukkan gender perempuan, dimana porsi pembagian hak dalam ayat ini tidak semata-mata ditentukan oleh realitas biologis, melainkan berkaitan erat dengan realitas gender yang ditentukan oleh faktor budaya yang bersangkutan. Sedangkan kata nisa pada Q.S. al-Baqoroh/2:223, diartikan sebagai istri-istri.
بٍَََّّف
Artinya: ‚Istri-istrimu adalah tanah tempat kamu bercocok tanam. Maka datangilah tempat bercocoktanammu itu sebagaimana kamu kehendaki, …)
Penggunaan kata nisa lebih terbatas dari pada penggunaan kata rijal. Kata rijal bisa berarti gender laki-laki, orang, menunjuk pada pengertian nabi atau rosul, tokoh masyarakat dan budak. Sementara kata nisa hanya digunakan dalam arti gender perempuan dan istri-istri.
b) Al-Dzakar (شوزٌا) dan al-Untsa (ىىثٔلا)
Kata شوزٌا dalam lisan Arab berarti mengisi/menuangkan. Sedangan dalam arti konotasi berarti seks. Kata (شوزٌا )dalam berbagai bentuk dalam Al-Qur’an, yang terulang sebanyak 18 kali. Kata ini lebih banyak digunakan untuk menyatakan laki-laki dilihat dari faktor biologis (seks). Kata dzakar dalam Al-Qur’an diantaranya terdapat dalam Q.S. Ali Imran/ 3:36.
Artinya: ‚Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan, dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu, dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.‛
Konstruksi Gender dalam Islam
c) Al-Mar’u )ءشٌّا( dan al-Mar’ah )حءشٌّا(Kata al-Mar’u berasal dari kata maroa, yang berarti baik atau bermanfaat. Dari kata ini lahir kata ءشٌّا yang berarti laki-laki dan al-Mar’ah berarti perempuan. Kata al-mar’a dalam Al-Qur’an terulang sebanyak 11 kali.
Kata ءشٌّا agak mirip dengan kata ًجشٌا, yaitu seorang atau manusia yang sudah dewasa.
Contoh kata ءشٌّا dalam Al-Qur’an diantaranya terdapat dalam Q.S. ‘Abasa/80:
34-35.
Artinya: ‚Pada hari ketika manusia lari dari saudara, ibu dan ayahnya‛.
2) Gelar status yang berhubungan dengan jenis kelamin:
a) Suami (جٚضٌا) dan istri (خجٚضٌا).
b) Ayah (ةلا) dan ibu (َلا).
c) Anak laki-laki (ٓثلا) dan anak perempuan (تٕجٌا).
3) Kata ganti yang berhubungan dengan jenis kelamin
a) Kata ganti orang pertama
Kata ganti ini meliputi: saya (بٔا) dan kami (ٓحٔ). Kedua kata ganti ini tidak membedakan, apakah yang digantikannya, laki-laki atau perempuan. Contoh penggunaan kata ganti ini terdapat dalam Al-Qur’an surat al-Isra/17:31, yakni:
ََ ٌَۡٛ
ُّشِفٌَ
ُء ۡشٌَّۡ ٱ ٍِِٗخَأ ِِۡٓ
٥٦ ُِِِّٗأَٚ
ٍِِٗثَأَٚ ۦ
٥٧
َلَٚ
َِّْئ ُُْۚۡوبٌَِّئَٚ ُُُۡٙلُص ۡشَٔ ُٓ ۡحَّٔ ٖك ٍَ ِِۡئ َخٍَ ۡشَخ ُُۡوَذ ٌَ َۡٚأ آٍَُُٰٛتۡمَت ۡطِخ َْبَو ٍَُُۡٙۡتَل ا ٗشٍِجَو ب ٗ
٥٣
ُٗۡتَدَٚ َسَٚ
ًِتٌَّ ٱ ِِٗغۡفَّٔ َٓع بَِٙتٍَۡث ًِف َُٛ٘
ِتَمٍََّغَٚ ۦ
َة َٛۡثَ ۡلۡ ٱ
… ٤٥
Artinya: ‚Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan.
Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa besar‛.
b) Kata ganti orang kedua
Kata ganti orang kedua teridiri atas 2 bagian, yakni:
(1) Kata ganti orang kedua tunggal laki-laki ( تٔان\ )
(2) Kata ganti orang kedua untukk 2 orang (بّو\بّتٔا), baik keduanya laki-laki atau perempuan, atau seorang laki-laki dan seorang perempuan.
c) Kata ganti orang ke tiga
Kata ganti orang ketiga terdiri dari tiga bagian, yaitu:
(1) Untuk kata ganti orang ketiga tunggal laki-laki, menggunakan ٛ٘. Misalnya terdapat dalam Q.S. Yusuf/12: 23.
Artinya: ‚Dan perempuan (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya, dan dia menutup pintu-pintu, ...
Konstruksi Gender dalam Islam
Untuk kata ganti orang ke tiga perempuan menggunakan ً٘.(2) Kata ganti orang ke tiga yang menunjuk kepada dua orang laki-laki, perempuan, atau seorang laki-laki, atau seorang perempuan, dengan menggunakan بّ٘
(3) Kata ganti orang ke tiga Jama’ laki-laki, dengan menggunakan ُ٘ sedangkan untuk perempuan menggunakan ٓ٘.
4) Kata sifat yang disandarkan pada mudzakar dan muannats
Yang dimaksud kata sifat di sini adalah sifat-sifat tertentu yang disandarkan kepada seseorang, seperti kata muslimin (orang Islam laki-laki) dan muslimat (orang Islam perempuan), mu’minin (orang-orang laki-laki yang beriman dan mu’minat (orang-orang perempuan yang beriman). Kata-kata seperti ini sering digunakan dalam Al-Qur’an untuk menyampaikan perintah dan larangan. Kata rijal (laki-laki) bergandengan atau berpasangan dengan kata nisa (perempuan), misalnya dalam masalah kepemimpinan. Sedangkan kata dzakar (laki-laki) bergandengan atau berpasangan dengan kata untsa (perempuan) misalnya dalam masalah waris.72
Dari uraian tersebut dapat dipahami baik kalangan jumhur ulama, ulama Mu’tazilah dan ulama adzhahiri sama-sama mengakui kaedah
72 Zaitunah Subhan, Tafsir Kebencian: Studi Bias Gender dalam Qur’a, h. 94.
bahasa Arab dalam memahami ayat-ayat tertentu.73
b. Konsep Gender dalam Al-Qur’an
Spirit pembebasan Islam untuk menempatkan status sosial yang sama bagi kaum perempuan di sisi kaum laki-laki di hadapan umum seringkali dibaca secara terbalik. Ayat-ayat Al-Qur’an yang terkait dengan perempuan seringkali dibaca dan dipahami dalam sudut pandang kepentingan laki-laki, jauh dari spirit pembebasan awal. Akibatnya, diskurus mengenai kaum perempuan dalam tafsir-tafsir keagamaan tidak menampakkan cakrawala yang progresif dan jalan yang mulus bagi hakekat dan eksistensi diri seorang perempuan di tengah kehidupan modern seperti sekarang ini.74
Menurut Nasarudddin Umar, untuk dapat memahami konsep gender dalam Al-Qur’an secara mendalam terlebih dahulu harus dipahami asal-usul dan substansi kejadian manusia menurut Al-Qur’an.
Bagaimana Al-Qur’an memposisikan laki-laki dan perempuan, baik dari segi substansi maupun dari segi fungsi dan status?
Dalam kaitannya dengan asal-usul dan substansi kejadian manusia, Nasaruddin mengkategorikannya menjadi 4, yakni:75
73 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Alquran, h. 143-201.
74 M. Faisol, Hermeneutika Gender, Perempuan dalam Tafsir Bahr al-Muhith, h. 5.
75 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Alquran, h. 209-246.
Konstruksi Gender dalam Islam
1) Asal-usul Manusia sebagai Makhluk Biologis.Sebagaimana makhluk biologis lainnya, manusia diciptakan berasal-usul dari air. Hal ini terdapat dalam beberapa surat dalam Al-Qur’an, diantaranya terdapat dalam surat al-Nur/ 24: 45.
Namun walau demikian, sebagian ulama berpendapat bahwa asal-usul penciptaan manusia sebagai makhluk biologis, tetntu berbeda dengan makhluk biologis lainnya.
Artinya: ‚Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air‛.
2) Asal-usul Manusia sebagai Spesies Manusia Pertama, yakni Adam dan Hawa.
Dalam memahami asal-usul manusia sebagai spesies pertama yang didukung dengan adanya firman Allah Swt dalam beberapa surat dalam Al-Qur’an, diantaranya dalam al-Nisa/
4:1,76 al-A’raf/ 7: 189,77 dan az-Zumar/39: 6,78 Zaitunah Subhan berpendapat bahwa terdapat perbedaan pendapat antara ulama terdahulu dan
76 ‚ Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya, dan dari pada keduanya memperkembang-biakan laki-laki dan perempuan yang banyak, ….‛
77 ‚Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya, ….‛
78 ‚Dia menciptakan kamu dari seorang diri, kemudian Dia jadikan dari padanya istrinya, …‛
َٚ
َُّللّ ٱ ٖءَٰٓبَِّ ِِّٓ ٖخَّثَٰٓاَد ًَُّو َكٍََخ
…
٦٧
ulama kontemporer. Pendapat pertama, penciptaan Hawa berasal dari bagian tubuh Adam, yaitu tulang rusuk yang bengkok sebelah kiri atas. Pendapat kedua, pencipaan Hawa sama seperti penciptaan Adam, yaitu dari diri dan jenis yang satu, atau jenis yang sama, tidak ada perbedaannya.79
Sementara itu, Tafsir Departemen Agama menerjemahkan kata nafs wahidah dalam surat an-Nisa 4:1 dengan ‚diri yang satu‛ (bukan seorang diri seperti pada terbitan lama). Dalam penafsirannya hanya disinggung bahwa menurut jumhur mufassirin, Allah menciptakan manusia dari seorang diri yaitu Adam. Dengan demikian maka Adam adalah manusia pertama yang dijadikan Allah. Kemudian dari diri yang satu, Allah menciptakan pasangannya, yaitu Hawa. Dan dari keduanya, manusia berkembang biak. Sedikit pun tidak disinggung pendapat yang mrngatakan penciptaan manusia dari tulang rusuk seperti pada tafsiran terbitan lama.
Demikian pula penafsiran terbitan baru di dalam menfsirkan kata nafs wahidah dalam surat al-A’raf 7: 189. Dengan demikian dapat dipahami bahwa menurut penafsiran ini, tentang penciptaan wanita, dalam hal ini Hawa, sama seperti Adam, yaitu dari satu jens. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pandangan para ulama tafsir Indonesia tentang asal penciptaan wanita, dalam hal ini Hawa, sama dengan
79 Zaitunah Subhan, Tafsir Kebencian: Studi Bias Gender dalam Qur’an, h. 45.
Konstruksi Gender dalam Islam
َخَغ ۡعٌُّۡٱ بَٕۡمٍََخَف ٗخَغ ۡعُِ َخَمٍََعٌۡٱ بَٕۡمٍََخَف ٗخَمٍََع َخَفۡطٌُّٕٱ بَٕۡمٍََخ َُث ُۚ
ب ّٗ َظِع ُ َّللّٱ َنَسبَجَتَف َْۚشَخاَء بًمٍَۡخ ُٗ َٔۡأَشَٔأ َُُّث ب ّٗ ۡحٌَ َُ َظِعٌۡٱ بَٔ َۡٛغَىَف
ٍَِٓمٍِ َخٌۡٱ َُٓغ ۡحَأ ٣٦
penciptaan Adam, yaitu dari satu nafs. Dari awal penciptaan manusia baik pria maupun wanita sudah menunjukkan adanya kemitrasejajaran.
Hal ini bisa dilihat dalam beberapa ayat di dalam Al-Qur’an yang membahas tentang proses penciptaan manusia.80
3) Asal-usul Reproduksi Manusia.
Dalam proses reproduksi juga tidak ditemukan perbedaan secara khusus antara laki-laki dan perempuan secara umum. Sedikitpun tidak ditemukan perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam proses dan mekanisme secara biologis. Oleh karenanya, proses dan mekanisme biologis tidak bisa dijadikan alasan untuk memojokkan atau mengistimewakan salah satu jenis kelamin.81 Adapun ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang proses reproduksi diantaranya terdapat dalam surat al-Mu’minun/23: 14, yakni:
Artinya: ‚Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu menjadi segumpal daging, dan dari segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu
80 Zaitunah Subhan, Tafsir Kebencian: Studi Bias Gender dalam Qur’a, h. 5.
81 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, h. 220.
tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia, makhluk yang berbentuk lain. Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik‛.
4) Substansi Manusia itu sendiri.
Menurut Nasaruddin Umar, dengan merujuk pada ayat-ayat Al-Qur’an maka substansi manusia terdiri dari 12 unsur, yakni air ( ءبٌّا ), tanah (ضسلا ), tanah yang gemuk (ةاشتٌا), tanah lempung (ٍٓغ), tanah tembikar (سبخفٌا يبصٍص ), tanah lempung yang pekat (ةصل ٍٓغ), dari diri yang satu (حذحاٚ ظفٔ ), sari pati tanah ( ٍٓغ ِٓ خٌلاع), mani yang ditumpahkan (ىٌّٕ ىِٕ), cairan mani yang bercampu (جبشِا خفطٔ), cairan yang hina ( ءبِ
ٍِٓٙ).
Tidak ada perbedaan substansi dalam proses penciptaan manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Adapun mengenai penciptaan Hawa terdapat dua pendapat kontroversial, yaitu pendapat pertama mengatakan bahwa Hawa berasal dari bagian tubuhnya Adam, yaitu tulang rusuk yang bengkok sebelah kiri atas. Para ulama yang berpendapat seperti ini adalah diantaranya:
Imam al-Qurtuby, Ibnu Katsir, Abu al-Sa’ud dan Imam Zamakhsyari. Sedangkan pendapat kedua berpendapat bahwa penciptaan Hawa sama sebagaimana penciptaan Adam, yakni dari jenis yang satu atau dari jenis yang sama. Pendapat kedua ini tidak sedikit didukung oleh ulama-ulama kontemporer seperti Quraisy Shihab,
Konstruksi Gender dalam Islam
Murtadha Muthahhari, , Ukaisyahh al-Tibbi dan Asghar Ali Engineer.82Tafsir Departemen Agama menerjemahkan kata nafs wahidah dalam surat al-Nisa 4:1 dengan diri yang satu, bukan seorang diri seperti pada terbitan lama. Dalam penafsirannya hanya disinggung bahwa menurut jmhur mufassirin, Allah menciptakan manusia dari seorang diri, yaitu Adam. Dengan demikian, maka Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah.
Kemudian dari diri yang satu, Allah menciptakan pasangannya yaitu Hawa, dan dari keduanya manusia berkembang biak. Demikian pula dalam penafsira terbitan baru. Di dalam menafsirkan nafs wahidah dalam surat al-A’raf 7:189 dijelaskan bahwa manusia diciptakan dari jenis yang satu, dan dari jenis yang satu itu diadakan istrinya. Dengan demikian dapat difahami bahwa menurut penafsiran ini, penciptaan wanita dalam hal ini Hawa, sama seperti Adam.83 Sehingga dapat disimpulkan bahwa dari awal penciptaan manusia, baik pria maupun wanita sudah menunjukkan adanya kemitrasejajarann
c. Prinsip-prinsip Gender dalam Al-Qur’an
Dalam penelitiannya, Nasaruddin Umar menggunakan beberapa variable sebagai tolok ukur
82 Zaitunah Subhan, Tafsir Kebencian: Studi Bias Gender dalam Qur’an, h. 45-48.
83 Zaitunah Subhan, Tafsir Kebencian: Studi Bias Gender dalam Qur’an, h. 55.
َِۡٓ
untuk menganalisa prinsip-prinsip kesetaraan gender dalam Al-Qur’an. Variable tersebut antara lain:84
1) Laki-laki dan Perempuan Sama-sama sebagai Hamba (Q.S. al-Nahl/16: 97).
Artinya: ‚Barang siapa yang beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia dalam keadaan beriman, maka Allah akan menghidupkannya dengan kehidupan yang baik, dan akan membalasnya dengan sebai-baiknya balasan sesuai dengan apa yang mereka kerjakan‛.
2) Laki-laki dan Perempuan sebagai Khalifah di Bumi (Q.S. al-An’am/ 6: 165).
Artinya: ‚Dan Dialah yang menjadikan kalian penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kalian atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepada kalian.
Sesungguhnya Tuhan kalian amat cepat
84 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, h. 247-264.
Konstruksi Gender dalam Islam
siksaan-Nya, dan susungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang‛.
3) Laki-laki dan Perempuan sama-sama Menerima Perjanjian Primordial Q.S. al-A’raf/ 7: 172.
Artinya: ‚Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‚Bukankah Aku ini Tuhanmu?‛
Mereka menjawab: ‚Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi‛. Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)‛.
4) Adam dan Hawa Terlibat secara Aktif dalam Drama Kosmis (al-A’raf/ 7: 20, 22, dan 23).
Artinya: ‚Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka (auratnya) dan syaitan berkata: ‚Tuhanmu tidak melarangmu untuk mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu tidak menjadi malaikat atau menjadi orang yang kekal di dalam surga‛.
َةبَجَت ۡع َفٱ
5) Laki-laki dan Perempuan Berpotensi Meraih Prestasi (Q.S. ‘Ali-‘Imran/ 3: 195)
Artinya: ‚Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman),
‚Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kalian, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kalian adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampong halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan kuhapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukan mereka ke dalam surge yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik‛.
Mereka yang membaca Islam sebagai agama‚misoginis‛ dan ‚sangat paternalistik‛
merujuk pernyataan yang diduga berasal dari Al-Qur’an tentang ketidaksetaraan gender dan juga pada sejarah panjang diskriminasi terhadap perempuandi kebanyakan masyarakat muslim.
Pendapat bahwa Al-Qur’an dapat dibaca dengan model patriarkhis mungkin sulit dibantah. Begitu
Konstruksi Gender dalam Islam
pula klaim teks-teks keagamaan Islam terselubungi oleh ‚budaya laki-laki‛ sehingga memunculkan persoalan serius bagi perempuan, seperti yang ditunjukkan oleh hukum Islam klasik yang mengesahkan ketidaksetaraan gender.85Permasalahan seperti ini tidak lepas dari konteks diturunkannya Alqur’an. Kehadiran Al-Qur’an dalam kultur patriarkal menyebabkan Al-Qur’an mengandung banyak wacana dan pesan yang ditunjukkan pada audiens laki-laki.
Sementara, ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara mengenai perempuan menyebar dalam sejumlah surat dalam Al-Qur’an. Ayat-ayat tersebut secara eksplisit menegaskan kesetaraan posisi dan peran laki-laki dan perempuan, dan ini merupakan apa yang disebut sebagai ayat-ayat universal.86 Dalam hal ini kultur sebuah masyarakat sangat menentukan arah sebuah penfsiran teks-teks keagamaan. Oleh karenanya kehadiran perempuan dalam ruang-ruang tersebut turut menentukan dalam rangka menghindari penafsiran-penafsiran yang subordinatif.
85 M. Faisol, Hermeneutika Gender, Perempuan dalam Tafsir Bahr al-Muhith, h. 41.
86 M. Faisol, Hermeneutika Gender, Perempuan dalam Tafsir Bahr al-Muhith, h. 42.
Biografi Hj. Sariani Thaha Ma’ruf
BAB III
BIOGRAFI HJ. SARIANI THAHA MA’RUF
A. Asal-Usul Keluarga
Hj. Sariani berasal dari keluarga cukup terpandang di kampungnya. Warga setempat cukup segan dan menghormati keluarganya. Ayahnya bernama H.
Muhammad Yasin, anak seorang lurah yang berasal dari Pariaman. Ia sangat dihormati, baik oleh penduduk Mandiangin, Sasak maupun Tiku. Begitu pun orang-orang Belanda, mereka sangat menghormatinya.
Selain dihormati sebagai cucu seorang lurah, ayahnya sterkenal sebagai seorang parewa, jagoan kampung atau seorang yang ditakuti. Ia seorang pemberani yang sangat dikagumi. Walaupun demikian ia tidak pernah menganiaya orang lain, tidak takut kepada siapa pun, kecuali kepada seorang ulama. ‚Dan itulah satu-satunya prestasi yang dimilik ayah‛.1
Ibunya bernama Hj. Fatimah, seorang perempuan dari keluarga biasa dan sederhana yang berasal dari Mandiangin, tempat dimana Hj. Sariani lahir dan dibesarkan. Desa yang terletak di pinggir laut dan terisolasi. Dia hanya bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua atau yang biasa disebut ojek (beca bermotor).2
Tidak ada keistimewaan lain yang dimiliki keluarga orang tua Hj. Sariani, selain mereka sangat menghormati
1 Rais Hidayat, Al-Ma’ruf dan Pendirinya, (Jakarta: Yayasan Al- Ma’ruf, 2004), h. 14.
2 Rais Hidayat, Al-Ma’ruf dan Pendirinya, h. 12.
orang-orang yang ahli dalam agama. Mereka sangat kagum dan segan terhadap ‘alim ‘ulama, sehingga apabila kampungnya kedatangan seorang ulama, mereka akan selalu mengikutinya, mendengarkan ceramahnya dan menjamunya.
Bahkan berebut sisa makanan dan minuman dari seorang ulama, sudah menjadi tradisi, dengan alasan ‚ngalap berkah‛.3
Kekagumannya kepada ulama, membuat orang tuanya berniat menjadikannya sebagai seorang penceramah perempuan. Terlebih ketika mereka mengenal seorang ulama perempuan yang bernama Rohana, yang datang tidak sengaja akibat kapal yang ditumpanginya terdampar di pantai, di pinggiran desa Mandiangin.
‚Pada suatu hari terdapat sebuah kapal yang terdampar di tepi desa Mandiangin, karena rusak dan tidak dapat melanjutkan perjalananya lagi. Oleh karenanya, maka terpaksa para penumpang kapal tersebut harus bermalam di Mandiangin. Diantara para penumpang tersebut, terdapat seorang ulama perempuan yang sangat pandai berceramah.
Kami memanggilnya Ibu Rohana.
Mendengar tentang kedatangan seorang ‘alim, para pemuka desa memukul canang (gong), memberitahukan kepada penduduk bahwa malam itu akan diadakan Tabligh agama Islam, dengan penceramahnya seorang perempuan. Saya pun malam itu diajak kedua orang tua saya menghadiri acara tersebut. Dalam keadaan bergelayutan di pangkuan Ibu saya, dan tidak paham apa yang disanpaikan. Saya mengikuti tabligh tersebut. Melihat kepandaian penceramah perempuan itu, kedua orang tua saya sangat terkagum-kagum padanya, dan menginginkan saya menjadi seperti penceramah tersebut.
Semenjak itu, kuatlah keinginan orang tua Saya untuk
3 Rais Hidayat, Al-Ma’ruf dan Pendirinya, h. 12.