Kiprah Keagamaan Hj. Sariani Thaha Ma’ruf dalam Perspektif Gender
Dalam Perspektif Gender
YAYASAN OMAH AKSORO INDONESIA
THAHA MA’RUF
K iprah K eagamaan
HJ. SARIANI
Euis Wulan
Kiprah Keagamaan Hj. Sariani Thaha Ma’ruf dalam Perspektif Gender
©Euis Wulan
Cetakan I : Februari 2018
ISBN : 978-602-51516-2-0
Halaman dan Ukuran : xiv + 142 hlm (15,5 cm x 23 cm)
Layout & Desain : Rohul Reang
Hak cipta dilindungi undang-undang All Rights Reserved
Dilarang mereproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari buku ini dalam bentuk atau cara apapun tanpa izin tertulis dari penulis dan penerbit.
Diterbitkan oleh:
Yayasan Omah Aksoro Indonesia
Jl. Taman Amir Hamzah, No. 5 Jakarta Pusat
Kiprah Keagamaan Hj. Sariani Thaha Ma’ruf dalam Perspektif Gender
Motto
Sebaik-baik manusia adalah manusia yang memberi manfaat bagi manusia lain.
Barang siapa yang memudahkan urusan orang lain, maka Allah Swt.
permudah urusannya.
Insyaallah…
Kiprah Keagamaan Hj. Sariani Thaha Ma’ruf dalam Perspektif Gender
Kata Pengantar
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Swt, Rabb semesta alam, Tuhan yang telah memberikan rahmat, hidayah serta inayah-Nya sehingga penulisan buku ini dapat diselesaikan.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada manusia pilihan, panutan alam, teladan sepanjang masa, sekaligus pribadi yang membawa pencerahan bagi umat manusia, Nabi Muhammad Saw, beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang senatiasa istiqamah dalam sunnahnya hingga akhir zaman.
Kepemimpinan keagamaan yang diperankan oleh seorang perempuan dipandang perlu untuk terus dipupuk dan dikembangkan dalam upaya menghapus ketidakadilan- ketidakadilan yang menimpa perempuan. Ketidakadilan yang menimpa perempuan selama ini sebagian disebabkan adanya penafsiran-penafsiran akan tafsir keagamaan yang dikuasai oleh kaum laki-laki. Begitu pun dengan kebijakan- kebijakan publik, banyak diputuskan oleh kaum laki-laki.
Dalam upaya memerangi masalah tersebut di atas, penulis berusaha menggali informasi mengenai seorang pemimpin keagamaan yang diperankan oleh Hj. Sariani dalam perspektif gender. Hal ini mengingat masih kurangnya karya tulis-karya tulis yang bertemakan kepemimpinan keagamaan yang diperankan oleh perempuan sebagai akibat dari kurangnya penggalian informasi mengenai hal tersebut. Kenyataannya tidak sedikit
perempuan-perempuan Indonesia yang turut berperan dalam berdirinya bangsa ini.
Hj. Sariani adalah sosok perempuan yang patut diangkat rekam jejaknya untuk dapat diteladani oleh generasi sekarang dan yang akan datang. Ia adalah sosok perempuan yang mampu membimbing dan membawa umat ke arah yang lebih baik lagi. Namun sayang, tidak banyak orang yang mengetahui siapa dia sebenarnya. Orang lebih mengenalnya sebagai Ibu Thaha Ma’ruf, istri dari KH. Thaha Ma’ruf.
Dengan menggunakan teknik wawancara yang mendalam dan penelusuran kepustakaan, penelitian ini menyimpulkan bahwa Hj. Sariani adalah sosok perempuan yang memiliki andil besar dalam perkembangan keagamaan.
Sebagian hidupnya ia dermakan demi umat dan agama.
Berbagai perolehan dari hasil usahanya baik secara fisik maupun non fisik kini bisa dilihat dan dirasakan oleh umat.
Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah memberikan dedikasinya kepada penulis, baik secara langsung maupun tidak langsung sejak awal penulis memasuki Program Pasca Sarjana STAINU Jakarta hingga akhirnya dapat menyelesaikan penulisan buku ini. Mereka diantaranya:
1. Ayahanda dan ibunda tercinta, H. Memod dan Hj. Cucu yang telah mengasuh, mendidik dan membimbing dengan disertai bait-bait do’a terbaiknya yang setiap saat dipanjatkan, sejak kecil hingga saat ini, Ananda tidak mampu untuk membalasnya. Hanya do’a yang bisa di panjatkan, semoga kalian senantiasa ada dalam kasih sayang-Nya, sebagaimana kalian dulu mengasihi dan menyayangi Ananda. Dan semoga kalian senantiasa ada dalam ridho dan penjagaan-Nya.
Kiprah Keagamaan Hj. Sariani Thaha Ma’ruf dalam Perspektif Gender
2. Suami tercinta, Abdul Rozak serta anak-anak tersayangFatmah Rizkiyah Velayati Faqih dan Muhammad Hasyim Asy’ari, yang setia menemani, membantu, mensuport dan mengikhlaskan terganggunya sebagian waktu kebersamaan;
3. Dr. Mastuki HS, selaku Direktur Program Pasca Sarjana STAINU beserta jajaran, dosen dan staf, yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk menimba ilmu di sini. Bagi penulis, kesempatan belajar di sini adalah sungguh anugerah yang tidak terhingga nilainya.
4. Dr. H. Rumadi, MA dan Dr. Maria Ulfah Anshor, M.Si.
juga Hamdani Ph. D. selaku pembimbing penulisan Tesis yang senantiasa meluangkan waktunya untuk membimbing, kapan dan dimanapun tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu; dan seluruh dosen Program Pasca Sarjana STAINU yang telah gigih memberikan pembekalan intelektual kepada penulis selama proses pembelajaran;
5. Keluarga besar al-Mukarromah, al-Maghfurlah, Alm. Hj.
Sariani Thaha Ma’ruf, wabil khusus Ustdzh. Dra. Hj.
Marnita Ma’ruf (Ibu Upi) yang di tengah kesibukannya, senantiasa meluangkan waktu untuk memberikan ilmu dan pengetahuannya demi kelengkapan data tesis ini;
6. Teman-teman seperjuangan di STAINU atas kerja sama dan motivasinya;
7. Serta semua pihak, tanpa mengurangi rasa hormat tidak mampu menyebutkan satu persatu namanya, yang telah membantu terselesaikannya tesis ini, baik secara moril maupun materil. Terima kasih penulis ucapkan, semoga apa yang telah diberikan menjadi amal ibadah dan mendapat balasan dari Allah Swt.
Jazaakumullahu ahsanal jazaa…
Jazzakumullahu khoiron katsiiro…
Terakhir, semoga apa yang penulis suguhkan dalam tesis ini bisa bermanfaat khususnya bagi penulis sendiri, umumnya bagi setiap yang membacanya. Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan yang terdapat dalam tesis ini. Dan, demi kesempurnaan tesis ini, kritik dan saran sangat penulis harapkan.
Wallahul muwaffiq ilaa aqwaamit Thariiq Salaam…
Jakarta, Februari 2018 Penulis
Euis Wulan
Kiprah Keagamaan Hj. Sariani Thaha Ma’ruf dalam Perspektif Gender
Pedoman Transliterasi
Berikut adalah aksara Arab dan padanannya aksara latin Huruf
Arab Nama Huruf Latin Keterangan
Alif Tidak
dilambangkan
Tidak dilambangkan
Ba’ B Be
Ta’ T Te
Tsa’ Ts Te dan es
Jim J Je
Ha’ H Ha (dengan garis bawah)
Kha’ Kh Ka dan ha
Dal D De
Dzal Dz De dan zet
Ra’ R Er
Za’ Z Zet
Sin S Es
Syin Sy Es dan ye
Shat Sh Es (dengan garis bawah)
Dlad D De (dengan garis bawah)
Tha’ Th Te (dengan garis bawah)
Dzha’ Z Zet (dengan garis bawah)
‘ain ‘ Koma terbalik d atas
hadap kanan
Ghain Gh Ge dan ha
Fa’ F Ef
Qaf Q Ki
Kaf K Ka
Lam L El
Mim M Em
Nun N En
Wau W We
Ha’ H Ha
Hamzah ‘ Apostrof
Ya Y Ye
Vokal
Vokal Tunggal Vokal Panjang Vokal Rangkap
Fathah : a ا : â ْ ي َ : ai
Kasrah : i ي : î ْ و َ : au
Dhammah : u و : û
Kata sandang:
1. Kata sandang, yang diikuti alif lam ( لا ) qamariyah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya.
Contoh : ْةرقبنا : al-Baqarah تىيدمنا : al-Madinah
2. Kata sandang yang diikuti oleh alif-lam (لا ) syamsiyah ditransliterasikan sesuai dengan aturan yang digariskan di depan dan sesuai dengan bunyinya
Contoh : مجرنا : ar-rajul ةديسنا : as-Sayyidah 3. Syaddah (Tasydid)
Syaddah atau tasydid yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan tanda dalam alih aksara dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi syaddah. Aturan ini berlaku secara umum, baik tasydid yang berada di
Kiprah Keagamaan Hj. Sariani Thaha Ma’ruf dalam Perspektif Gender
tengah kata ataupun yang terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyahContoh: هيّدناْ ّنإ : inna ad-dîna ءاهفّسناْهمأ : âmana as-sufahâ’u 4. Ta Marbutah (ة)
Berkaitan dengan alih aksara ini, jika huruf ta marbutah terdapat pada kata yang berdiri sendiri, maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf /h/. hal yang sama juga berlaku jika ta marbutah tersebut diikuti oleh kata sifat (na’at). namun, jika huruf ta marbutah tersebut diikuti kata benda (ism), maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf /t/.
No. Kata Arab Alih Aksara
1. تقيرط Tarîqah
2. تيملاسلإاتعماجنا Al-jâmi’ah al-islâmiyyah
3. دىجىناةدحو Wahdah al-wujǔd
4 تبصاوتهماع Âmilatun nâshibah
5 يربكناْتيلأا Al-âyat al-kubrâ
Huruf Kapital
Meskipun dalam sistem tulisan Arab huruf kapital tidak dikenal, dalam alih aksara ini huruf kapital tersebut juga digunakan, dengan mengikuti ketentuan yang berlaku dalam Ejaan Yang Disemprnakan (EYD) bahasa Indonesia, antara lain untuk menuliskan penulisan kalimat, huruf awal nama tempat, nama bulan, nama diri, dan lain-lain. Penting diperhatikan, jika nama diri didahului oleh kata sandang, maka yang tertulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal atau kata sandangnya.
Contoh Abu Hamid al-Ghazali bukan Abu Hamid Al- Ghazali, al-Kindi bukan Al-Kindi. Khusus untuk penulisan
kata Al-Qur’an dan nama surahya menggunakan huruf kapital. Contoh: Al-Qur’an, Al-Baqarah, Al-Fatihah dan seterusnya.
Beberapa ketentuan lain dalam EYD sebetulnya dapat diterapkan dalam alih aksara ini, misalnya ketentuan mengenai huruf cetak miring (italic) atau cetak tebal (bold).
jika menurut EYD, judul buku itu ditulis dengan cetak miring, maka demikian halnya dalam alih aksaranya.
Demikian seterusnya.
Kiprah Keagamaan Hj. Sariani Thaha Ma’ruf dalam Perspektif Gender
Daftar Isi
Motto ... iii
Kata Pengantar ... v
Pedoman Transliterasi ... ix
Daftar Isi ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 01
A.
Latar Belakang ... 01
B. Rumusan Masalah ... 11
C. Tujuan Penelitian ... 11
D. Manfaat Penelitian ... 12
E. Tinjauan Pustaka ... 13
F. Kerangka Teori ... 16
G. Metodologi Penelitian ... 22
1. Ruang Lingkup Penelitian ... 22
2. Metode Penelitian ... 22
3. Sumber Data... 23
4. Teknik Pengumpulan Data ... 24
H. Sistematika Penulisan... 24
BAB II KONSTRUKSI GENDER DALAM ISLAM ... 27
A. Latar Belakang Gender ... 28
B. Pengertian Gender ... 29
C. Teori Tentang Gender ... 31
1. Teori Psikoanalisa/Identifikasi ... 31
2. Teori Fungsionalis Struktural ... 32
3. Teori Konflik ... 33
4. Teori-Teori Feminis ... 33
5. Teori Sosio-Biologi ... 34
D. Bentuk-bentuk Ketidakadilan Gender ... 40
E. Pandangan Islam terhadap Gender ... 72
1. Kedudukan Perempuan Sebelum Islam... 43
2. Kedudukan Perempuan Sesudah Islam ... 48
3. Gender dalam Al-Qur’an ... 57
BAB III
BIOGRAFI HJ. SARIANI THAHA MA’RUF ... 75
A. Asal-Usul Keluarga ... 75
B. Riwayat Pendidikan Hj. Sariani ... 80
BAB IV
KEPEMIMPINAN HJ. SARIANI THAHA MA’RUF ... 93
A. Kehidupan Rumah Tangga Hj. Sariani ... 93
1. Sebagai Istri dan Pendamping Suami ... 93
2. Merawat dan Mendidik Anak ... 97
B. Kehidupan Sosial Hj. Sariani ... 101
1. Sebagai Istri dan Pendamping Suami ... 101
2. Mendirikan LPI Al-Ma’ruf ... 104
3. Mendirikan Kursus Dakwah ... 111
4. Berdakwah ke Negeri Tetangga ... 119
C. Pengalaman Organisasi ... 120
1. Organisasi Kemasyarakatan ... 120
2. Organisasi Politik ... 121
BAB V
PENUTUP ... 133
A. Kesimpulan ... 133
B.
Saran-Saran ... 135
Daftar Pustaka... 137
Biografi Penulis ... 141
Pendahuluan
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Melalui kerja keras dan upaya yang terus menerus, wacana Islam dan perempuan Indonesia menjadi semakin terbuka dan dialogis. Bahkan beberapa kalangan aktivis perempuan Internasional menganggap bahwa Indonesia adalah salah satu pengecualian dalam pembicaraan mengenai Islam dan perempuan. Zainah Anwar, aktivis perempuan Muslim dari Malaysia, selalu mengingatkan pentingnya posisi Indonesia dalam diskursus perempuan dan Islam ini. Bahkan ia pernah mengatakan, Indonesia sebagai “tolok ukur” masa depan dalam hal perempuan dan Islam, berbeda dengan negara-negara Islam lainnya, seperti Mesir di Timur Tengah yang tradisi dan otoritas agamanya dalam masyarakat dan negara masih kuat.1
Keterlibatan ormas-ormas perempuan Islam seperti Aisyiyah, Muslimat NU, Persistri, al-Irsyad dan yang lainnya, menjadi pondasi awal dalam merespon isu-isu gender di Indonesia sehingga memiliki daya kontinuitas dalam konteks gerakan perempuan kontemporer. Mereka menorehkan mazhab tersendiri dalam peta pergerakan tersebut yang secara umum disebut mazhab feminisme Islam. Mazhab ini menjadi pembeda dari mazhab-mazhab yang ada di belahan
1 Amelia Fauzia, dkk, Tentang Perempuan Islam: Wacana dan Gerakan, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004), h. 133.
dunia seperti feminisme bermazhab liberal, marxis, sosialis dan radikal.2
Pemikiran dan gerakan gender baru bisa diterima dan berkembang di Indonesia setelah dirumuskan dalam tema- tema agama, khususnya Islam. Oleh karena itu, usaha rekonstruksi khazanah pemikiran Islam menjadi satu perhatian utama para sarjana Muslim di Indonesia. Mereka berusaha memberi perspektif dan penafsiran baru yang didasarkan pada argumen yang berpihak kepada perempuan tanpa terpaku pada wacana yang terdapat di Barat. Mereka justru lebih terkonsentrasi pada upaya rekonstruksi dari dalam. Fokus kajian mereka adalah khazanah keagamaan Islam, termasuk di dalamnya khazanah Islam klasik seperti literatur kitab kuning, yang sering kali terabaikan.3
Pada masa sejarah Pergerakan Nasional Indonesia abad ke XVII, hambatan keagamaan menjadi penyebab sangat kurangnya partisipasi kaum perempuan dibanding laki-laki, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Hal ini disebabkan karena sudah terlanjur dipersepsikan bahwa perjuangan fisik dan tugas-tugas politik adalah tugas laki-laki, sementara perempuan hanya mengurus rumah tangga. Padahal, keterlibatan perempuan di dunia publik pada masa Nabi Saw demikian besar.4 Peran perempuan yang dominan berada di wilayah domestik menjadikannya seakan tidak lebih penting dari peran laki-laki yang lebih dominan dengan masalah-
2 Arief Subhan, dkk, Citra Perempuan dalam Islam, Pandangan Ormas Keagamaan, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2003), h. 35.
3 Amelia Fauzia, dkk, tentang Perempuan Islam: Wacana dan Gerakan, h. 134.
4 Zaitunah Subhan, Tafsir Kebencian, Studi Bias Gender dalam Tafsir Qur’an, h. 3.
Pendahuluan
masalah publik. Akibatnya perempuan menjadi subordinasi dari laki-laki.Tahun 1920-an, untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, perempuan bergerak di sekitar kepentingan gender mereka. Mereka mengambil bentuk masalah sosio- kultural perempuan, dan mengorganisir diri atas dasar keagamaan dan daerah serta gerakan politik yang penting saat itu. Berbagai sekolah perempuan didirikan dan sejumlah majalah diterbitkan,5 diantaranya sekolah yang didirikan Dewi Sartika di Bandung pada tahun 1904 dan organisasi Putri Mardika adalah organisasi perempuan pertama di Jakarta pada tahun 1912.
Keadaan kehidupan perempuan Indonesia sekitar permulaan Abad XX tidak bisa digeneralisasi. Seandainya benar, bahwa pada saat-saat tertentu perempuan telah memegang kekuasaan politik yang besar, sebagai ratu atau penglima pasukan, maka akan menjadi benar juga bahwa banyaknya kisah perempuan Indonesia yang berjuang dalam dasawarsa pertama Abad XX, bukan bersumber akhir-akhir ini saja.6 Keikutsertaan perempuan Aceh ditemukan dalam perang pada tahun 1567, namun belum terhimpun dalam kesatuan yang khusus. Jennifer Dudley, mahasiswa doktoral Universitas Murdoch, menyebut, perempuan-perempuan itu bergabung ke dalam pasukan Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar. “Mereka menemani suaminya berperang, sementara sisanya adalah janda dan tunangan dari prajurit
5 Saskia Eleonora Wieringa, Penghancur Gerakan Perempuan di Indonesia. Penerjemah Hersri Setiawan, (T.tp:1999) h. 102.
6 Saskia Eleonora Wieringa, Penghancur Gerakan Perempuan di Indonesia, Penerjemah Hersri Setiawan, h. 96.
yang gugur dalam perang sebelumnya”.7 Ratu Tajul Alam Safiatuddin Syah adalah sultanah pertama yang memerintah di kerajaan Aceh. Beliau memerintah pada tahun 1641-1676, setelah suaminya, Sultan Iskandar Tsani mangkat tanpa mempunyai keturunan pada tanggal 15 Februari 1641.8 Di tengah penolakan dari kaum agamawan tentang kepemimpinan perempuan, ia tetap melaksanakan tugasnya sebagai penguasa tertinggi. Pada masa pemerintahannya, aspek ilmu pengetahuan, kebudayaan dan kesenian berkembang, walaupun aspek-aspek politik, ekonomi dan militer mengalami kemunduran.
Pulau Jawa pun mempersembahkan putri-putri terbaiknya. Tercatat Nyi Ageng Serang yang bertempur dengan heroik melawan kekejaman VOC Belanda. Dikala perempuan Jawa terkenal dengan tradisi pingitnya, Nyi Ageng Serang justru berkuda di barisan paling depan memimpin pasukannya. Atas keberaniannya ini, ia diangkat menjadi Penasihat Pangeran Diponegoro.9 Kalinyamat, Ratu Jepara penguasa lautan, adalah putri Pangeran Trenggana. Ia juga merupakan cucu Raden Fatah, pendiri Kesultanan Demak. Ia berhasil menjadikan Jepara daerah yang disegani.
Ia membangun Jepara menjadi negara maritim yang kuat.
Selama masa pemerintahannya, Jepara mengalami perkembangan yang sangat pesat, menjadi kota pelabuhan
7 Widia Astuti, Perempuan Pejuang, Jejak Perjuangan Perempuan Islam Nusantara dari Masa ke Masa (Bandung: Konstanta Publishing House, 2013), h. x.
8 Tim Nasional Penulisan Sejarah Indonesia, Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam, Jakarta: Balai Pustaka, 2011, h. 34.
9 Widia Astuti, Perempuan Pejuang, Jejak Perjuangan Perempuan Islam Nusantara dari Masa ke Masa, h. 30.
Pendahuluan
terbesar di Pulau Jawa dan memiliki armada laut yang besar dan kuat pada abad ke 16.10Uraian singkat di atas mendeskripsikan adanya perempuan-perempuan tangguh yang berjiwa pemimpin, turut berperan mempertahankan kemerdekaan negerinya.
Hal ini membuktikan adanya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan Muslim di Nusantara telah terjadi sejak sekian lama.
Kesetaraan gender pada masyarakat Muslim Nusantara mengalami kemajuan yang sangat pesat sejak tahun 1951.
Menteri Agama, A. Wahid Hasyim memberi hak kepada perempuan untuk menjadi hakim agama. Bahkan dalam keputusan Musyawarah Nasional NU di Lombok tahun 1997, menetapkan perempuan bisa menduduki jabatan politik.
Dalam keputusan hasil Musyawarah Alim Ulama tersebut, menyebutkan bahwa:
“Peran domestik wanita yang merupakan kesejatian kodrat wanita seperti, sebagai pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anak mereka, hamil, melahirkan, menyusui, dan fungsi lain dalam keluarga memang tidak mungkin digantikan oleh laki-laki. (As-Suro 49). Akan tetapi ada peran publik wanita, dimana wanita sebagai anggota masyarakat, wanita sebagai warga negara yang mempunyai hak bernegara dan berpolitik, telah menuntut wanita harus melakukan peran sosialnya yang lebih tegas, transparan dan terlindungi. Dalam kontek peran publik menurut prinsip- prinsip Islam, wanita diperbolehkan melakukan peran-peran tersebut dengan konsekwensi bahwa ia dapat dipandang
10 Widia Astuti, Perempuan Pejuang, Jejak Perjuangan Perempuan Islam Nusantara dari Masa ke Masa, h. 1-2.
mampu dan memiliki kapasitas untuk menduduki peran sosial dan politik tersebut.
Kemitrasejajaran antara laki-laki dan perempuan di Indonesia memiliki landasan yang kuat. Hal ini terdapat dalam Undang-undang Dasar 1945 Pasal 27 dan Pasal 28C-D tentang persamaan Hak dan Kewajiban Setiap Warga Negara, berbunyi:
1. Pada Pasal 27 ayat (2): Pemerintah menjamin warganya untuk dapat mengembangkan kualitas diri dan bekerja untuk mendapat penghidupan yang layak.
2. Pasal 28C ayat (1): setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.
3. Pasal 28D ayat (2): setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja.11
Kebijakan lainnya dalam merespon perkembangan internasional yang berhubungan dengan keanggotaan Indonesia dalam PBB menghasilkan ratifikasi tentang Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW), melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984,
1. Pasal 5: Penghapusan pembagian kerja berbasis gender.
2. Pasal 7, 8, dan 10: Kesetaraan proporsi perempuan dan laki-laki dalam bidang pendidikan dan politik.
3. Pasal 11: Kesetaraan di tempat kerja.12
11 Widjayanti M. Santoso, Penelitian dan Pengarusutamaan Gender:
Sebuah Pengantar, (Jakarta: LIPI Press, Anggota Ikapi, 2016), h. 19.
Pendahuluan
4. Aturan lain yang menegaskan kepedulian terhadap gender adalah Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, khususnya Bab 2 mengenai peningkatan kualitas hidup perempuan serta kesejahteraan dan perlindungan anak.13 Undang-undang tersebut berbunyi:a. Pembangunan Nasional diselenggarakan berdasarkan dengan prinsip-prinsip kebersamaan, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, serta kemandirian dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan Nasional.
b. Perencanaan Pembangunan Nasional disusun secara sistematis, terarah, terpadu, menyeluruh dan tanggap terhadap perubahan.
c. Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dilaksanakan berdasarkan Asas Umum Penyelenggaraan Negara.
d. Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional bertujuan untuk:
1) Mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan;
2) Menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antar daerah, antar ruang, antar waktu, antar fungsi pemerintah, maupun antara pusat dan daerah;
3) Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan;
12 Widjayanti, Penelitian dan Pengarusutamaan Gender: Sebuah Pengantar, h. 19.
13 Widjayanti, Penelitian dan Pengarusutamaan Gender: Sebuah Pengantar, h. 20.
4) Menjamin tercapainya penggunaaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Kemitrasejajaran antara laki-laki dan perempuan di Indonesia kini telah mencakup segala aspek kehidupan.
Perempuan Indonesia sudah banyak yang duduk di lembaga eksekutif, legislatif bahkan yudikatif, walaupun dari segi kuantitas masih kurang. Hal ini menandakan bahwa kesetaraan laki-laki dan perempuan sudah mengalami kemajuan walaupun belum sebagaimana yang diharapkan.
Keterlibatan perempuan dalam sektor publik dari waktu ke waktu menunjukkan adanya peningkatan. Pada tataran lembaga eksekutif, dari 7 presiden, Indonesia pernah dipimpin oleh seorang presiden perempuan, yakni Presiden kelima Indonesia, Megawati Soekarnoputri. Sementara, komposisi perempuan dalam Kabinet Kerja yang dibentuk oleh Presiden Joko Widodo merupakan yang terbanyak sepanjang sejarah kabinet di Indonesia, yakni sebesar 24%.14 Dari 34 kementrian yang dibentuk presiden, terdapat 9 kementerian yang dipimpin oleh perempuan, yakni: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Puan Maharani), Kementrian Luar Negeri (Retno Lestari Priansari Marsudi), Kementrian Keuangan (Sri Mulyani Indrawati), Kementrian Badan Usaha Milik Negara Rini M. Soemarno), Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Siti Nurbaya Bakar), Kementrian Kesehatan (Nila Juwita Anfasa Moeloek), Kementrian Sosial (Khofifah Indar Parawansa), Kementrian Kelautan dan Perikanan (Susi Pudjiastuti), Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Yohana
14 http://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/31/1357/
dinamika-pertumbuhan-srikandi-indonesia-di-sektor-publik, 13 Maret 2017.
Pendahuluan
Yambise). Namun untuk lembaga Yudikatif, yang terdiri dari Mahkamah Agung (MA), Mahkamah Konstitusi (MK), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Komisi Yudisial (KY), baru Mahkamah Konstitusi (MK) yang memiliki kepemimpinan perempuan.15Peraturan perundang-undangan No. 8 Tahun 2008 menyatakan bahwa: Parpol harus memenuhi kuota 30 persen bagi perempuan, terutama di Dewan Perwakilan Rakyat. Namun pada kenyataannya, hasil pemilu tahun 2014 belum mencapai 30 persen. Dari hasil pemilu tahun 2014 anggota DPR perempuan yang terpilih sebesar 17,32%.
Jumlah ini sedikit turun dari pemilu tahun 2009, yakni sebesar 17,68%. Hal ini juga berlaku bagi para legislator perempuan di DPD yang mengalami penurunan pada pemilu 2009 dibandingkan pemilu 2014, yakni 26,52%
menjadi 25,76%.16 Keterlibatan perempuan dalam dunia politik belum menunjukkan kemajuan yang diharapkan.
De Beauvoir menegaskan bahwa perempuan tak perlu diikat dengan berbagai pembatasan sosial yang dipaksakan atas dasar seks mereka. Perempuan dapat melampaui menjadi “yang lain” dan dapat menyertakan suara mereka di dalam perdebatan-perdebatan maskulin, hingga dengan demikian akan benar-benar menjadi lazim.17 Hal tersebut tercermin pada jejak langkahnya Hj. Sariani Thaha Ma’ruf binti H. M. Yasin dalam memimpin dan membina umat.
15 Kerja Sama Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Badan Pusat Statistik (Jakarta: KPP dan PA, 2013) h. 127.
16 http://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/31/1357/
dinamika-pertumbuhan-srikandi-indonesia-di-sektor-publik, 13 Maret 2017.
17 Saskia E., Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia, h. 39.
Keberhasilan yang telah ia capai membuktikannya bahwa ia tidak lebih rendah dari laki-laki, bahwa ia tidak lebih lemah dari laki-laki, bahwa ia pun mampu melakukan apa yang kaum laki-laki lakukan.
Menurut hasil penelitian literatur penulis, belum pernah ada karya khusus yang membahas tentang gender yang disertai dengan tokoh sebagai representatifnya. Padahal wacana Islam yang adil gender di Indonesia semakin hari semakin mudah ditemukan dalam karya-karya tulis yang bernafaskan agama maupun lainnya. Untuk itulah penulis menganggap perlu adanya penelitian tentang gender yang disertai dengan tokoh yang dianggap mampu menjadi representasi dari gerakan gender di kalangan perempuan Islam.
Dengan latar belakang sebagaimana paparan di atas, penulis tertarik untuk mengkaji ulang bagaimana konstruksi gender pada Masyarakat Muslim Nusantara yang direpresentasikan pada seorang tokoh perempuan yang bernama Hj. Sariani Thaha Ma’ruf di Cibubur-Jakarta Timur, dimana dia sebagai seorang tokoh perempuan yang lahir di Sumatra Barat, yang notabene di wilayah tersebut pada saat itu sedang berlangsung proses modernisasi/pembaharuan Islam. Ia dibesarkan di lingkungan patriarki, namun mampu melakukan sesuatu yang dianggap bahwa perempuan tidak akan mampu atau tidak boleh melakukannya. Sebagian besar hidupnya dia abdikan buat umat dan agama dengan kemampuan menguasai podium yang ia miliki. Selain aktif di organisasi kemasyarakatan dan keagamaan ia pun pernah aktif dalam sebuah organisasi politik, menjadi juru kampanye dan kompetitor di sebuah partai.
Penelitian ini menggunakan perspektif gender dengan tujuan untuk dapat mengetahui ada tidaknya permasalahan gender yang terjadi pada kehidupan Hj. Sarianidalam
Pendahuluan
penelitiannya, Faqih menemukan adanya beberapa permasalahan yang diakibatkan praktek gender, terlebih di negara yang menganut sistem patriarki seperti di Indonesia.Penggunaan perspektif gender cukup membantu menjawab mengapa tafsir agama yang bias gender dan melemahkan perempuan pada umumnya lebih popular dari pada tafsir agama yang menguatkan perempuan. Mengapa pula tradisi agama kerap melemahkan perempuan dalam dalam setiap tahap kehidupannya. Misalnya tradisi kawin gantung, dimana perempuan bisa mengalami dikawinkan sejak balita bahkan sejak dalam kandungan. Demikian pula perempuan dikawin paksa dilarang menolak ajakan hubungan seksual suami dengan alasan apapun, dan masih banyak lagi praktek-praktek yang melemahkan perempuan.18
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang digunakan penulis dalam melakukan penelitian ini, diantaranya:
1. Bagaimana relasi gender yang tercermin dalam perjalanan hidup Hj. Sariani Thaha Ma’ruf binti H. M Yasin?
2. Bagaimana praktek kepemimpinan keagamaan yang dipraktikan oleh Hj. Sariani?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk:
1. Mengungkap pola relasi gender yang tercermin dalam pengalaman hidup Hj. Sariani.
18 AD. Eridani, dkk, Merintis Keulamaan untuk Kemanusiaan: Profil Kader Ulama Perempuan Rahima (Jakarta: Rahima, 2014) h. xxx.
2. Mendeskripsikan pola kepemimpinan keagamaan Hj.
Sariani, pada:
a. Ranah Domestik b. Ranah Publik
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap hal-hal berikut:
1. Sebagai media informasi dan balajar terkait dengan peran tokoh perempuan dalam kepemimpinannya. Baik di ranah domestik dan publik.
2. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan penelitian selanjutnya yang serupa dan sedikit banyak penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pengetahuan ilmiah di bidang sejarah Islam di Nusantara tentang kepemimpinan keagamaan yang diperankan oleh seorang perempuan.
3. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang sejarah dan peran Ustadzah Hj. Sariani dalam memimpin dan membimbing umat dan menjadikannya sebagai suri tauladan bagi generasi selanjutnya.
4. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pembelajaran, inspirasi dan membangkitkan kesadaran akan fungsi dan peran perempuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
5. Penelitian ini diharapkan dapat memberi kesadaran pada kaum perempuan, bahwa perjuangannya itu bukan hanya untuk kebahagian dirinya di dalam rumah tangganya, tetapi juga demi kemaslahatan umat.
Pendahuluan
E. Tinjauan PustakaPenelitian yang membahas tentang gender dalam hubungannya dengan Islam sudah banyak dilakukan oleh kaum feminis muslim. Namun tidak banyak penelitian gender yang fokus terhadap tokoh perempuan yang mampu merefleksikan relasi gender dalam pola kepemimpinan keagamaannya.
Penelitian yang dilakukan oleh Amelia Fauzia, dkk pada tahun 2004, yang bertemakan Tentang Perempuan Islam: Wacana dan Gerakan, terbitan Gramedia Pustaka Utama. Dalam penelitiannya ini, Amelia Fauzia dkk.
menyebutkan bahwa, perubahan dan perdebatan tentang perempuan di Indonesia yang semuanya dihubungkan dengan Islam. Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa abad 20 adalah periode pertama ketika kaum perempuan mulai memasuki wacana sosial-intelektual Indonesia. Masa ini dijadikan penanda mulainya kaum perempuan merumuskan diri mereka di tengah arus perubahan sosial-budaya masyarakat Indonesia. Penelitian ini juga menghadirkan satu rekonstruksi pemikiran para sarjana Muslim Indonesia tentang perempuan yang terus mengalami perubahan.
Sementara AD. Eridani, dkk.: Merintis Keulamaan untuk Kemanusiaan, Profil Kader Ulama Perempuan Rahima, memfokuskan perhatiannya pada sejumlah tokoh perempuan yang mengikuti program Pendidikan Ulama Perempuan dan program Pendidikan Tokoh Agama yang dilakukan oleh Rahima. Melalui cerita-cerita yang membentang dari Banten sampai Madura, membuktikan bahwa setiap perempuan bisa berstrategi untuk melapangkan jalan pencapaian tujuan. Bersumber dari data yang didapat melalui interview langsung dengan para tokohnya, penelitian ini terbukti lugas dan dekat dengan pengalaman perempuan. Namun, data yang didapat melalui
interview, dalam penyajiannya, tidak ditemukan transkip wawancara yang sebenarnya penting untuk dikembangkan.
Nasaruddin Umar dalam penelitiannya tentang Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur’an, menyajikan kajian kritis terhadap anggapan-anggapan yang telah baku atas supremasi laki-laki terhadap perempuan dengan menyandarkan dalil-dalil keagamaan. Dalam penelitian ini secara historis-antropologis ia membahas bagaimana masyarakat Arab pada abad ke-6, ketika Al- Qur’an diwahyukan selama sekitar 23 tahun. Penelitian ini mencoba memposisikan Al-Qur’an diantara teori nature dan teori nurture. Teori Nature menganggap perbedaan peran laki-laki dan perempuan bersifat kodrati (nature). Anatomi biologi laki-laki dan perempuan menjadi faktor utama dalam penentuan peran sosial kedua jenis kelamin ini. Laki-laki memerankan peran utama di dalam masyarakat karena ia dianggap lebih potensial, lebih kuat, dan lebih produktif.
Organ reproduksi dinilai membatasi ruang gerak perempuan, seperti hamil, melahirkan dan menyusui.
Sementara laki-laki tidak mempunyai peran reproduksi tersebut. perbedaan ini melahirkan pemisahan fungsi dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki berperan di sektor publik dan perempuan mengambil peran di sektor domestik. Teori Nurture menganggap perbedaan relasi gender laki-laki dan perempuan tidak ditentukan oleh faktor biologis melainkan konstruksi masyarakat. Dengan kata lain, peran sosial yang selama ini dianggap baku dan difahami sebagai doktrin keagamaan, menurut penganut faham nurture, sesungguhnya bukanlah kehendak Tuhan dan tidak juga sebagai produk determinasi biologis, melainkan sebagai bentuk konstruksi sosial. Yang menarik dalam penelitian ini adalah kesimpulannya yang menyatakan bahwa Al-Qur’an tidak memberikan dukungan secara tegas
Pendahuluan
kepada salah satu teori tersebut, tetapi cenderung mempersilakan kepada kecerdasan-kecerdasan manusia di dalam menata pembagian peran antara laki-laki dan perempuan.Mochamad Subhan, dalam penelitiannya tentang Ulama Perempuan Betawi menjelaskan betapa pentingnya peran, posisi dan fungsi seorang ulama perempuan pada masyarakat Betawi. Penelitian ini menjelaskan bagaimana kiprah ulama perempuan Betawi dalam membangun masyarakat Muslim melalui lembaga pendidikan Islam.
Husein Muhammad dalam tulisannya yang bertemakan Fiqh Perempuan, dengan kekayaan rujukan pada kitab-kitab fiqh klasik ditambah dengan kemampuannya membaca secara kritis terhadap khazanah Islam, mencoba membentuk sebuah pemikiran yang cukup utuh dan sistematis mengenai fiqh perempuan perspektif keadilan gender. Tulisan tersebut disusun dengan sistematika tematis fiqh klasik, yakni: fikih ibadah, fikih pernikahan dan sosial kemayarakatan.
Kemitrasejajaran antara laki-laki dan perempuan telah diungkapkan dalam berbagai ayat dalam Alquran, yang apabila ayat tersebut dipahami dengan penafsiran yang komprehensif maka tidak akan ditemukan adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam segi apapun.
Kemitrasejajaran laki-laki dan perempuan merupakan timbal balik, atau saling mendukung.19
Adanya keberagaman pandangan tentang kemitrasejajaran antara laki-laki dan perempuan diakibatkan adanya perbedaan pemahaman dalam membaca atau memahami teks, sebagian memahaminya secara tekstual/harfiah dan menganggapnya sebagai kebenaran
19 Zaitunah Subhan, Tafsir Kebencian: Studi Bias Gender dalam Qur’an, h. 181.
Kepemimpinan Hj. Sariani
Ranah Domestik
1. Pendamping Suami
2. Kepala Rumah
Tangga 3. Perawat dan Pendidik Anak-
anak
Ranah Publik
1. Pendidiri Pendidikan Formal
Pendiri Pendidikan Non
Formal
Aktifis Partai
yang sudah final, dan sebagian lagi memahami teks dengan segenap makna terdalamnya, substansial dan holistik, karena mereka menganggap bahwa keberadaan teks tidak bisa lepas dari ruang dan waktu. Ia tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan refleksi dari kehidupan yang nyata, yang senantiasa mengalami proses perubahan dan dinamis.20
Pesan-pesan agama yang ditulis dalam teks-teks keagamaan selalu mengandung tujuan dan ruh kemanusiaan.
Tujuan ini dapat dipelajari dan diusahakan untuk diwujudkan. Ia bersifat rasional dan bukan masalah yang terkait dengan skriptural.21
F. Kerangka Teori
Tabel 1.
Peta Konsep Kepemimpinan Keagamaan Hj. Sariani Thaha Ma’ruf
20 Free Hearty, Keadilan Jende: Perspektif Feminis Muslim dalam Sastra Timur Tengah, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2015), h. XXIII.
21 Free Hearty, Keadilan Jende: Perspektif Feminis Muslim dalam Sastra Timur Tengah, h. XXIV.
Pendahuluan
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Gender. Dengan menggunakan teori ini, diharapkan dapat dihasilkan sebuah gambaran bagaimana kondisi kesetaraan gender yang terdapat dalam perjuangan Hj. Sariani dalam peranannya baik di ranah domestik maupun di ranah publik.Karena sesungguhnya, dijadikannya gender sebagai teori dalam penelitian didasarkan adanya kecenderungan bahwa
“pengetahuan perempuan berdasar pada premis bahwa semua pengalaman manusia adalah valid dan tidak boleh disingkirkan dari pemahaman yang ada, padahal pengetahuan patriarkis berasal dari premis bahwa pengalaman separuh manusia perlu dipertimbangkan dan versi yang dihasilkan dapat ditekankan kepada kelompok lain”.22
Saskia Eleonora dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa gender merupakan suatu konsep analitis yang digunakan, baik untuk meneliti kesinambungan subordinasi perempuan (dimana dengan satu dan lain bentuk perempuan disubordinasikan) serta ketidaksinambungannya (bentuk- bentuk sub ordinasi perempuan itu berbeda-beda; apabila suatu masalah terpecahkan, misalnya tentang hak pilih perempuan dan berbagai bentuk lainnya muncul).
Menurutnya, gender bergerak diantara dua kutub ini, dengan berusaha menjelaskan tentang gejala yang sebenarnya universal, yang muncul dalam bentuk yang terus menerus berubah. Gender bukan sekedar konsep deskriptif yang dipakai untuk mengurangi arti analisis radikal tentang penindasan terhadap perempuan, tapi juga tidak untuk menggali istilah “perempuan”. Gender digunakan untuk mengeksplorasi pertanyaan fundamental, yaitu bagaimana
22 Widjayanti M. Santoso, Penelitian dan Pengarusutamaan Gender:
Sebuah Pengantar (Jakarta: LIPI Press, 2016), h. 62.
fungsi gender dalam sejumlah hubungan kemanusiaan dan bagaimana gender dimanipulasi dalam semua hubungan ekonomi, politik dan sosial. Konsep gender digunakan untuk meneliti berbagai definisi yang berubah, baik mengenai keperempuanan maupun kelaki-lakian di dalam proses signifikasi.23
Al-Qur’an sebagai rujukan prinsip masyarakat Islam, pada dasarnya mengakui bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan adalah setara. Keduanya diciptakan dari satu nafs (nafs wahidah), dimana yang satu tidak memiliki keunggulan terhadap yang lainnya. Bahkan Al-Qur’an tidak menjelaskan secara tegas bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam sehingga kedudukan dan statusnya lebih rendah. Atas dasar itu, prinsip Al-Qur’an terhadap kaum laki-laki dan perempuan adalah sama, dimana hak istri diakui sederajat dengan hak suami. Dengan kata lain, laki- laki memiliki hak dan kewajiban terhadap perempuan dan sebaliknya perempuan juga memiliki hak dan kewajiban terhadap laki-laki.24
Keadilan gender adalah suatu proses menuju setara, selaras, seimbang, serasi tanpa diskriminasi.25 Dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri disebutkan kesetaraan dan keadilan gender adalah suatu kondisi yang adil dan setara dalam hubungan kerja sama antara laki-laki dan perempuan.26 Kesetaraan gender adalah posisi yang sama
23 Saskia Eleonora Wieringa, Penghancur Gerakan Perempuan di Indonesia, h. 47.
24 Mansour Faqih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), h.130
25 M. Faisol, Hermeneutika Gender, Perempuan dalam Tafsir Bahr al- Muhith (Malang: UIN-Maliki Press, 2012), h. 10.
26 Kepmendagri No. 132 tahun 2003 Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1.
Pendahuluan
antara laki-laki dan perempuan dalam memperoleh akses, partisipasi, kontrol dan manfaat dalam aktivitas kehidupan, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun berbangsa dan bernegara.27Prinsip-prinsip kesetaraan gender dalam Al-Qur’an, menurut Nasarudin Umar dalam penelitiannya adalah diantaranya:
1. Laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba (Q.S. Al-Zariyat/5: 56).
2. Laki-laki dan perempuan sebagai khalifah di bumi (Q.S.
Al-Baqoroh/2: 30).
3. Laki-laki dan perempuan menerima perjanjian primordial (Q.S. Al-A’raf/7: 172).
4. Laki-laki dan perempuan berpotensi meraih prestasi (Q.S. Ali-Imran/3: 195).28
5. Menurut Zaitunah Subhan dalam Tafsir Kebencian, untuk mengetahui apakah laki-laki dan perempuan telah menjadi mitra sejajar, dapat dipergunakan berbagai kriteria sebagai berikut:
a. Partisipasi aktif perempuan sebagai mitra sejajar laki-laki dalam perumusan kebijakan, pengambilan keputusan dan perencanaan serta dalam pelaksanaan kegiatan sehari-hari.
b. Manfaat yang diperoleh perempuan dari hasil pelaksanaan berbagai kegiatan, baik sebagai pelaku maupun sebagai penikmat hasilnya.
c. Akses dan kontrol/penguasaan perempuan terhadap berbagai sumber daya.
d. Dampak terhadap kedudukan dan peran wanita.29
27 M. Faisol, Hermeneutika Gender, Perempuan dalam Tafsir h.10.
28 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender, h. 263.
Pandangan sosial politik telah mengabsahkan perempuan mengendalikan jabatan publik dengan syarat memiliki kualifikasi-kualifikasi kepemimpinan sebagaimana dimiliki laki-laki. Paling tidak kita dapat menyebut dua negara yang berpenduduk mayoritas Muslim yang dipimpin perempuan: Benazir Bhutto di Pakistan dan Khalida Ziya atau Syeikh Hassina di Bangladesh. Di Indonesia pernah mencatat pemimpin publik perempuan yang masih popular dengan sebutan Malikah atau sultanah atau shah. Beberapa diantaranya adalah Taj al Alam Shah, Nur al-Alam Shah, Inayat Shah, semuanya di Sumatera, Nusantara.30
Perempuan Pejuang bukan hanya sebatas “Pejuang Perempuan” yang mencari hak diantara dominasi kaum laki- laki akan tetapi memperjuangkan hak-hak manusia untuk merdeka. Perempuan pejuang yang membentang dari masa ke masa membela keyakinan dan harapan, memperjuangkan tanah kelahiran tempat berbakti pada Ilahi.31
Sejarah perjalanan bangsa Indonesia sesungguhnya diwarnai dengan banyak perempuan hebat yang mempunyai kesempatan belajar agama bahkan lahir dari masyarakat yang religius namun kritis terhadap tradisi yang melemahkan perempuan, termasuk tradisi agama. Mereka diantaranya adalah Cut Nyak Dien (1848-1908) dan Cut Meutia (1870-1910) dari Aceh, Rohana Kudus (1884-1972) dan Rahma el-Yunusiyah (1900-1969) dari Sumatera Barat, Siti
29 Zaitunah Subhan, Tafsir Kebencian, Studi Bias Gender dalam Tafsir, h. 92.
30 Husein Muhammad, Islam Agama Ramah Perempuan , Pembelaan Kiai Pesantren, h. 70.
31 Widia Astuti, Perempuan Pejuang, Jejak Perjuangan Perempuan Islam Nusantara dari Masa ke Masa, h. 136.
Pendahuluan
Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan (1872-1946) dari Yogyakarta dan RA. Kartini (1879-1904) dari Jawa Tengah.32Terbukanya akses belajar keagamaan bagi perempuan pada tahun 193333, pada akhirnya melahirkan perempuan- perempuan yang mahir dalam masalah-masalah keagamaan.
Dan kini mereka menjadi pemimpin keagamaan. Dalam istilah lain dikenal dengan sebutan ulama perempuan.
Pemimpin keagamaan yang berasal dari golongan perempuan menjadi penting karena diskriminasi terhadap perempuan sampai saat ini masih berlangsung. Oleh karenanya, perempuan yang menjadi seorang pemimpin keagamaan harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Menguasai teks-teks keagamaan klasik dan kontemporer dengan perspektif keadilan gender yang berbasis Islam.
2. Mampu membaca realitas sosial dengan kritis (ketimpangan relasi, struktur yang menindas, budaya dan pemahaman keagamaan yang menindas).
3. Mampu dan berani berargumentasi dan mengartikulasi- kan (tulis + lisan) gagasan serta nilai-nilai keadilan dengan perspektif Islam.
4. Mampu dan berani mendialogkan kepentingan masyarakat yang terpinggirkan kepada para pemangku kebijakan di lokal, nasional dan global.
5. Mampu dan berani berkomunikasi secara lancar dalam bahasa lokal, nasional dan global.
6. Memiliki penghargaan terhadap tradisi lokal (kearifan).34
32 AD. Eridani, dkk, Merintis Keulamaan untuk Kemanusiaan, h.
xxxiv.
33 AD. Eridani, dkk, Merintis Keulamaan untuk Kemanusiaan, h.
xxvi.
34 AD. Eridani, dkk, Merintis Keulamaan untuk Kemanusiaan: h.
xxxv.
G. Metodologi Penelitian
1. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini difokuskan kepada seorang tokoh perempuan bernama Hj. Sariani M. Yasin, yang berasal dari Sumatera Barat, namun kemudian beliau berjuang mengembangkan potensi kemampuannya dalam menyebarkan ajaran Islam di daerah Betawi, tepatnya di kelurahan Cibubur, kecamatan Ciracas, kabupaten Jakarta Timur. Perjuangannya dimulai sejak beliau masih muda belia sampai akhir hayatnya.
2. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan biografis.
Metode Kualitatif adalah metode pengumpulan data baik secara lisan maupun tulisan yang dapat menghasilkan data yang mampu mendeskripsifkan informasi yang diperoleh. Pendekatan biografis adalah pendekatan yang bersifat mendalam tentang pengalaman hidup seseorang dan mengilustrasikannya melalui tulisan sehingga orang lain bisa menilai dan mengambil nilai-nilai positif dari isi penyampain tersebut.
Dalam pendekatan biografis ada beberapa tahapan yang harus dilakukan, diantaranya:
a. Pertama, peneliti dapat memulai studi biografi dengan mencari serangkaian pengalaman kehidupan yang bersifat objektif dari tokoh utama tersebut.
b. Tahap kedua, peneliti mulai mencari dan menggali data yang relevan mengenai biografi lengkap, konkert, konstekstual tentang Si Tokoh tersebut.
c. Tahap ketiga, dari data-data yang sudah diperoleh, peneliti mulai melakukan pemilihan data yang akan
Pendahuluan
diambil untuk dimasukkan dalam penulisan biografi tokoh.d. Tahap keempat, peneliti melakukan eksplorasi makna dari data-data yang telah didapat untuk memperoleh keterangan yang lebih baik, kejelasan, serta mencari makna lainnya untuk diceritakan.
e. Tahap kelima, mengaitkan arti data yang diperoleh dengan struktur yang lebih besar secara berkesinambungan, menarik, dan jelas.35
3. Sumber Data a. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber datanya. Data primer disebut juga sebagai data asli atau data baru yang memiliki sifat up to date.
Untuk mendapatkan data ini, penulis mengumpul- kannya dengan cara langsung mendatangi kediaman tokoh yang bersangkutan. Karena tokoh utama meninggal, maka data yang dibutuhkan tentunya akan diperoleh dari keluarga inti tokoh tersebut, seperti anak, menantu, cucu atau bahkan tetangga yang bersangkutan.
b. Data Sekunder
Data Sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari berbagai sumber yang telah ada (peneliti sebagai tangan kedua). Data sekunder ini diperoleh dari berbagai sumber seperti
35 Ghony, dkk., Metode Penelitian Kualitatif, (Jogjakarta: Pustaka Pelajar 2009).
Biro Pusat Statistik (BPS), buku, laporan, jurnal, dan lain-lain.
4. Teknik Pengumpulan Data a. Studi Pustaka
Studi kepustakaan merupakan satu diantara teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini. Studi Pustaka menurut Koentjaraningrat adalah teknik mengumpulkan data dari bermacam-macam bahan yang terdapat di ruang kepustakaan, seperti koran, buku-buku, majalah, naskah, dokumen dan sebagainya yang relevsn dengan penelitian (Koentjaraningrat, 1983:420).
Dalam studi pustaka ini, mayoritas data penulis peroleh dari buku-buku yang relevan, kecuali data yang diperoleh dari lapangan. Adapun koran, majalah atau naskah adalah berfungsi untuk melengkapi.
b. Wawancara
Wawancara adalah dialog tanya jawab yang dilakukan antara penulis dengan informan, baik dilakukan secara terstruktur maupun tidak tersetruktur. Dalam wawancara ini penulis tentunya menggunakan tape recorder, kamera foto dan material lainnya sebagai alat bantu.
H. Sistematika Penelitian Bab I Pendahuluan
Pendahuluan berisi tentang latar belakang mengapa penelitian dilakukan. Di dalamnya terdapat pula rumusan masalah untuk membatasi objek penelitian.
Pendahuluan
Selain rumusan masalah, terdapat pula tinjauan pustaka, kerangka teori, teknik penelitian dan metode penelitian serta daftar pustaka.Bab II Konstruksi Gender dalam Masyarakat Muslim Nusantara
Menjelaskan bagaimana gender ditinjau dari ajaran agama Islam yang bersumberkan pada Al-Qur’an dan Hadis serta pendapat para pemikir Muslim di Nusantara.
Bab III Biografi Ustadzah Hj. Sariani M. Yasin
Pada bab ini penelitian akan berkonsentrasi dengan mengupas profil Ustadzah Hj. Sariani Thaha Ma’ruf, yang terdiri dari biografi dan genealogi keilmuan- nya.
Bab IV Hj. Sariani Thaha Ma’ruf Sang Singa Podium Pada bab ini akan membahas bagaimana kemampuan Hj. Sariani dalam berorasi, baik untuk kepentingan organisasi keagamaan, maupun organisasi kemasyarakatan,
Bab V Analisis Kepemimpinan Keagamaan Hj. Sariani Thaha Ma’ruf
Bab ini membahas dasar permasalahan kepemimpin- an keagamaan yang diperankan oleh Hj. Sariani dalam kaitanya dengan teori-teori yang diambil dari beberapa tokoh pemerhati gender
Bab VI Penutup
Berisi kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dan saran yang berupa anjuran-anjuran dan harapan Penulis kepada segenap pembaca terkait peranan Hj. Sariani, baik dalam ranah domestik maupun publik.
Konstruksi Gender dalam Islam
BAB II
KONSTRUKSI GENDER DALAM ISLAM
Kemitrasejajaran antara laki-laki dan perempuan telah diungkapkan dalam berbagai ayat dalam Al-Qur’an, dimana apabila ayat tersebut dipahami dengan penafsiran yang komprehensif maka tidak akan ditemukan adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam segi apapun.
Kemitrasejajaran laki-laki dan perempuan merupakan timbal balik, atau saling mendukung.1
Adanya keberagaman pandangan tentang kemitrasejajaran antara laki-laki dan perempuan diakibatkan adanya perbedaan pemahaman dalam membaca atau memahami teks, sebagian memahaminya secara tekstual/harfiah dan menganggapnya sebagai kebenaran yang sudah final, dan sebagian lagi memahami teks dengan segenap makna terdalamnya, substansial dan holistic. Karena mereka menganggap bahwa keberadaan teks tidak bisa lepas dari ruang dan waktu. Ia tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan refleksi dari kehidupan yang nyata, yang senantiasa mengalami proses perubahan dan dinamis.2
Pesan-pesan agama yang ditulis dalam teks-teks keagamaan selalu mengandung tujuan dan ruh kemanusiaan.
Tujuan ini dapat dipelajari dan diusahakan untuk
1 Zaitunah Subhan, Tafsir Kebencian: Studi Bias Gender dalam Qur’an, h. 181.
2 Free Hearty, Keadilan Jender: Perspektif Feminis Muslim dalam Sastra Timur Tengah, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2015), h. XXIII.
diwujudkan. Ia bersifat rasional dan bukan masalah yang terkait dengan skriptural.3
A. Latar Belakang Gender
Istilah gender tidak pernah ditemukan dalam Islam, baik pada masa kenabian maupun pada masa-masa sesudahnya, atau bahkan dalam literatur-literatur Islam terdahulu. Menurut M. Faisol, istilah gender digunakan di Amerika sejak tahun 1960-an sebagai bentuk perjuangan secara radikal konservatif, sekuler maupun agama untuk menyuarakan eksistensi perempuan yang kemudian melahirkan kesadaran gender.4
Showalter berpendapat, istilah gender mulai ramai dibicarakan di awal tahun 1977, ketika sekelompok feminis di London tidak lagi memakai isu-isu lama seperti patriarchal.
Sedangkan menurut Faisol, kata gender digunakan di Amerika pada tahun 1960-an sebagai bentuk perjuangan radikal, konservatif, sekuler maupun agama untuk menyuarakan eksistensi perempuan yang kemudian melahirkan kesadaran gender.5
Nasaruddin Umar berpendapat, pada awalnya istilah sex dan gender digunakan secara rancu.6 Wacana ini mulai berkembang pada tahun 1977, ketika kelompok feminis London meninggalkan isu-isu lama yang disebut dengan patriarchal, kemudian menggantikannya dengan isu gender.
3 Free Hearty, h. XXIV.
4 M. Faisol, Hermeneutika Gender, Perempuan dalam Tafsir Bahr al- Muhith (Malang: UIN-Maliki Press, 2012), h. 8.
5 M. Faisol, Hermeneutika Gender, Perempuan dalam Tafsir Bahr al- Muhith, h. 8.
6 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al- Qur’an, (Jakarta: Paramadina, 1999), h. 36.
Konstruksi Gender dalam Islam
Sejak saat itu konsep gender memasuki bahasan dalam berbagai seminar, diskusi maupun tulisan di seputar perubahan sosial dan pembangunan dunia ketiga.7B. Pengertian Gender
Kata gender dalam bahasa Indonesia dipinjam dari bahasa Inggris. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, gender diartikan sebagai seks atau jenis kelamin. Belum ada uraian yang mampu menjelaskan pengertian gender secara singkat dan jelas.
Secara harfiah kata gender berasal dari bahasa Inggris, yakni dari kata gendre, yang artinya jenis kelamin.8 Dalam Websters New World Dictionary, gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku.9 Sedangkan dalam Womens Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat‛.10
Adapun pengertian gender menurut beberapa tokoh Ilmuwan Sosial di Indonesia, diantaranya:
1. Nasarudin Umar mendefinisikan, bahwa gender berbeda dengan seks. Berdasarkan penelitiannya, ia berpendapat
7 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al- Qur’an, h. 36.
8 John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 1983), h. 265.
9 Victoria N., Webster’s New World Dictionary, (New York:
Webster’s New World Clevenland, 1984), h. 561.
10 Helen Tiemey, Women’s Studies Encyclopedia, (New York:
Green Wood Press, t.th), h. 153.
bahwa gender secara umum adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial-budaya. Istilah gender diartikan sebagai interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin, yakni laki-laki dan perempuan. Menurutnya, gender dalam arti ini mendefinisikan laki-laki dan perempuan dari sudut non- biologis. Sedangkan seks secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi.11
2. Menurut Zaitunah Subhan, gender adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan berdasarkan karakteristik yang dihasilkan oleh interpretasi sosial dan simbolik yang pada akhirnya melahirkan adanya pembagian ruang dan peran.12
3. Mansour Faqih berpendapat, bahwa gender adalah suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural.
Misalnya, perempuan itu dikenal lemah lembut, cantik, emosional dan keibuan. Sedangkan laki-laki dikenal kuat, rasional, jantan dan perkasa.13
Kesimpulan yang dapat diambil dari pendapat para tokoh di atas adalah bahwa gender merupakan sifat yang diberikan kepada laki-laki dan perempuan berdasarkan adat istiadat yang terdapat di masing-masing wilayah, yang dikonstruksi secara sosial dalam waktu yang sangat lama.
11 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al- Qur’an, h. 35.
12 Zaitunah Subhan, Tafsir Kebencian, Studi Bias Gender dalam Tafsir Alquran, (Yogyakarta: LKis, 1999), h. 23.
13 Mansour Fakih, Analisis Gender & Transformasi Sosal (Yogakarta: Pustaka Pelajar, 1997), h. 8.
Konstruksi Gender dalam Islam
Pensifatan ini tidak sama dari satu wilayah dengan wilayah yang lainnya, dan bahkan bisa berubah dari waktu ke waktu.Kajian seputar gender di Indonesia, dewasa ini mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Hal ini tidak saja ditandai dengan melimpahnya publikasi yang mengangkat wacana gender dan Islam sebagai kerangka ideologi, melainkan juga fakta bahwa ia sudah merambah luas ke dalam suatu mainstream gerakan yang kemudian mengundang orang untuk dengan mudah menyebutnya sebagai ‚gerakan feminisme Islam‛. Meskipun definisi
‚feminisme Islam‛ itu sendiri masih dalam perdebatan serius di dalam kalangan aktivis perempuan Muslim, namun pada tingkat common vision mereka dapat bertemu untuk memperjuangkan keadilan dan kesetaraan gender.14 Dalam hal ini, tentu menjadi penting untuk meneliti akar-akar sejarah yang menjadi pemicu lahirnya gerakan feminisme Islam di Indonesia, yang kemudian secara aktif merespon isu-isu gender dalam kaitannya dengan Islam.
C. Teori Tentang Gender
Dalam analisis gender dikenal beberapa teori yang mampu menjelaskan bagaimana latar belakang persamaan dan perbedaan peran gender laki-laki dan perempuan.
1. Teori Psikoanalisa/Identifikasi
Teori ini diperkenalkan oleh Sigmund Freud (1856- 1939). Teori ini mengungkapkan bahwa perilaku dan kepribadian laki-laki dan perempuan sejak awal ditentukan oleh perkembangan seksualitas. Freud
14 Arief Subhan, Citra Perempuan dalam Islam, Pandangan Ormas Keagamaan, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003), h. 1.
menjelaskan bahwa kepribadian seseorang tersusun di atas tiga struktur, yaitu:
Pertama, Id, sebagai pembawaan sifat-sifat fisik- biologis seseorang sejak lahir, termasuk nafsu seksual dan insting yang cenderung selalu agresif. Id bagaikan sumber energy, memberikan kekuatan terhadap kedua struktur berikutnya. Id bekerja di luar sistem rasional dan senantiasa memberikan dorongan untuk mencari kesenangan dan kepuasan biologis.
Kedua, Ego, bekerja dalam lingkup rasional dan berupaya menjinakkan keinginan agresif dari id. Ego berusaha mengatur hubungan antara keinginan subyektif individual dan tuntutan objektif realitas sosial. Ego membantu seseorang keluar dari berbagai problema subyektif individual dan memeliharanya agar bertahan hidup dalam dunia realitas.
Ketiga, Superego, berfungsi sebagai aspek moral dalam kepribadian, berupaya mewujudkan kesempurnaan hidup, lebih dari sekedar mencari kesenangan dan kepuasan. Superego juga selalu mengingatkan ego agar senantiasa menjalankan fungsinya mengontrol id.15
2. Teori Fungsionalis Struktural
Teori ini berasumsi bahwa suatu masyarakat terdiri atas berbagai bagian yang saling mempengaruhi. Dalam peran gender, pengikut teori ini menunjuk masyarakat pra-industri, sebagai contoh, betapa masyarakat tersebut terintegrasi di dalam suatu sistem sosial. Laki-laki berperan sebagai pemburu (hunter) dan perempuan
15 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al- Qur’an, h. 46.
Konstruksi Gender dalam Islam
sebagai peramu (gatherer). Sebagai pemburu, laki-laki lebih banyak beraktifitas di luar rumah dan bertanggung jawab membawa makanan kepada keluarga. Pembagian peran seperti ini telah berfungsi dengan baik dan berhasil menciptakan kelangsungan masyarakat yang stabil. Dalam masyarakat seperti ini, stratifikasi peran gender sangat ditentukan oleh jenis kelamin (seks).3. Teori Konflik
Teori Konflik diidentikkan dengan teori Marx.
Marx yang kemudian dilengkapi Friedrich Engels, mengemukakan suatu gagasan menarik bahwa perbedaan dan ketimpangan gender antara laki-laki dan perempuan tidak disebabkan oleh perbedaan biologis, tetapi merupakan bagian dari penindasan dari kelas yang berkuasa dalam relasi produksi yang diterapkan dalam konsep keluarga. Hubungan suami-istri tidak ubahnya dengan hubungan proletar dan borjuis, hamba dan tuan, pemeras dan yang diperas.16
4. Teori-teori Feminis
Feminis Liberal, laki-laki dan perempuan sama- sama mempunyai kekhususan-kekhususan. Secara ontology keduanya sama, hak-hak laki-laki dengan sendirinya menjadi hak-hak perempuan.17
Feminisme Marxis-Socialis, ketimpangan gender di dalam masyarakat adalah akibat penerapan sistem kapitalis yang mendukung terjadinya tenaga kerja tanpa
16 Mansour Fakih, Analisis Gender & Transformasi Sosal (Yogakarta: Pustaka Pelajar, 1997), h. 35.
17 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al- Qur’an, h. 64.