• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Pengumpulan Data

Dalam dokumen YAYASAN OMAH AKSORO INDONESIA (Halaman 38-0)

BAB I PENDAHULUAN

G. Metodologi Penelitian

4. Teknik Pengumpulan Data

Studi kepustakaan merupakan satu diantara teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini. Studi Pustaka menurut Koentjaraningrat adalah teknik mengumpulkan data dari bermacam-macam bahan yang terdapat di ruang kepustakaan, seperti koran, buku-buku, majalah, naskah, dokumen dan sebagainya yang relevsn dengan penelitian (Koentjaraningrat, 1983:420).

Dalam studi pustaka ini, mayoritas data penulis peroleh dari buku-buku yang relevan, kecuali data yang diperoleh dari lapangan. Adapun koran, majalah atau naskah adalah berfungsi untuk melengkapi.

b. Wawancara

Wawancara adalah dialog tanya jawab yang dilakukan antara penulis dengan informan, baik dilakukan secara terstruktur maupun tidak tersetruktur. Dalam wawancara ini penulis tentunya menggunakan tape recorder, kamera foto dan material lainnya sebagai alat bantu.

H. Sistematika Penelitian Bab I Pendahuluan

Pendahuluan berisi tentang latar belakang mengapa penelitian dilakukan. Di dalamnya terdapat pula rumusan masalah untuk membatasi objek penelitian.

Pendahuluan

Selain rumusan masalah, terdapat pula tinjauan pustaka, kerangka teori, teknik penelitian dan metode penelitian serta daftar pustaka.

Bab II Konstruksi Gender dalam Masyarakat Muslim Nusantara

Menjelaskan bagaimana gender ditinjau dari ajaran agama Islam yang bersumberkan pada Al-Qur’an dan Hadis serta pendapat para pemikir Muslim di Nusantara.

Bab III Biografi Ustadzah Hj. Sariani M. Yasin

Pada bab ini penelitian akan berkonsentrasi dengan mengupas profil Ustadzah Hj. Sariani Thaha Ma’ruf, yang terdiri dari biografi dan genealogi keilmuan-nya.

Bab IV Hj. Sariani Thaha Ma’ruf Sang Singa Podium Pada bab ini akan membahas bagaimana kemampuan Hj. Sariani dalam berorasi, baik untuk kepentingan organisasi keagamaan, maupun organisasi kemasyarakatan,

Bab V Analisis Kepemimpinan Keagamaan Hj. Sariani Thaha Ma’ruf

Bab ini membahas dasar permasalahan kepemimpin-an keagamakepemimpin-an ykepemimpin-ang diperkepemimpin-ankkepemimpin-an oleh Hj. Sarikepemimpin-ani dalam kaitanya dengan teori-teori yang diambil dari beberapa tokoh pemerhati gender

Bab VI Penutup

Berisi kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dan saran yang berupa anjuran-anjuran dan harapan Penulis kepada segenap pembaca terkait peranan Hj. Sariani, baik dalam ranah domestik maupun publik.

Konstruksi Gender dalam Islam

BAB II

KONSTRUKSI GENDER DALAM ISLAM

Kemitrasejajaran antara laki-laki dan perempuan telah diungkapkan dalam berbagai ayat dalam Al-Qur’an, dimana apabila ayat tersebut dipahami dengan penafsiran yang komprehensif maka tidak akan ditemukan adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam segi apapun.

Kemitrasejajaran laki-laki dan perempuan merupakan timbal balik, atau saling mendukung.1

Adanya keberagaman pandangan tentang kemitrasejajaran antara laki-laki dan perempuan diakibatkan adanya perbedaan pemahaman dalam membaca atau memahami teks, sebagian memahaminya secara tekstual/harfiah dan menganggapnya sebagai kebenaran yang sudah final, dan sebagian lagi memahami teks dengan segenap makna terdalamnya, substansial dan holistic. Karena mereka menganggap bahwa keberadaan teks tidak bisa lepas dari ruang dan waktu. Ia tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan refleksi dari kehidupan yang nyata, yang senantiasa mengalami proses perubahan dan dinamis.2

Pesan-pesan agama yang ditulis dalam teks-teks keagamaan selalu mengandung tujuan dan ruh kemanusiaan.

Tujuan ini dapat dipelajari dan diusahakan untuk

1 Zaitunah Subhan, Tafsir Kebencian: Studi Bias Gender dalam Qur’an, h. 181.

2 Free Hearty, Keadilan Jender: Perspektif Feminis Muslim dalam Sastra Timur Tengah, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2015), h. XXIII.

diwujudkan. Ia bersifat rasional dan bukan masalah yang terkait dengan skriptural.3

A. Latar Belakang Gender

Istilah gender tidak pernah ditemukan dalam Islam, baik pada masa kenabian maupun pada masa-masa sesudahnya, atau bahkan dalam literatur-literatur Islam terdahulu. Menurut M. Faisol, istilah gender digunakan di Amerika sejak tahun 1960-an sebagai bentuk perjuangan secara radikal konservatif, sekuler maupun agama untuk menyuarakan eksistensi perempuan yang kemudian melahirkan kesadaran gender.4

Showalter berpendapat, istilah gender mulai ramai dibicarakan di awal tahun 1977, ketika sekelompok feminis di London tidak lagi memakai isu-isu lama seperti patriarchal.

Sedangkan menurut Faisol, kata gender digunakan di Amerika pada tahun 1960-an sebagai bentuk perjuangan radikal, konservatif, sekuler maupun agama untuk menyuarakan eksistensi perempuan yang kemudian melahirkan kesadaran gender.5

Nasaruddin Umar berpendapat, pada awalnya istilah sex dan gender digunakan secara rancu.6 Wacana ini mulai berkembang pada tahun 1977, ketika kelompok feminis London meninggalkan isu-isu lama yang disebut dengan patriarchal, kemudian menggantikannya dengan isu gender.

3 Free Hearty, h. XXIV.

4 M. Faisol, Hermeneutika Gender, Perempuan dalam Tafsir Bahr al-Muhith (Malang: UIN-Maliki Press, 2012), h. 8.

5 M. Faisol, Hermeneutika Gender, Perempuan dalam Tafsir Bahr al-Muhith, h. 8.

6 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, (Jakarta: Paramadina, 1999), h. 36.

Konstruksi Gender dalam Islam

Sejak saat itu konsep gender memasuki bahasan dalam berbagai seminar, diskusi maupun tulisan di seputar perubahan sosial dan pembangunan dunia ketiga.7

B. Pengertian Gender

Kata gender dalam bahasa Indonesia dipinjam dari bahasa Inggris. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, gender diartikan sebagai seks atau jenis kelamin. Belum ada uraian yang mampu menjelaskan pengertian gender secara singkat dan jelas.

Secara harfiah kata gender berasal dari bahasa Inggris, yakni dari kata gendre, yang artinya jenis kelamin.8 Dalam Websters New World Dictionary, gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku.9 Sedangkan dalam Womens Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat‛.10

Adapun pengertian gender menurut beberapa tokoh Ilmuwan Sosial di Indonesia, diantaranya:

1. Nasarudin Umar mendefinisikan, bahwa gender berbeda dengan seks. Berdasarkan penelitiannya, ia berpendapat

7 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, h. 36.

8 John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 1983), h. 265.

9 Victoria N., Webster’s New World Dictionary, (New York:

Webster’s New World Clevenland, 1984), h. 561.

10 Helen Tiemey, Women’s Studies Encyclopedia, (New York:

Green Wood Press, t.th), h. 153.

bahwa gender secara umum adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial-budaya. Istilah gender diartikan sebagai interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin, yakni laki-laki dan perempuan. Menurutnya, gender dalam arti ini mendefinisikan laki-laki dan perempuan dari sudut non-biologis. Sedangkan seks secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi.11

2. Menurut Zaitunah Subhan, gender adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan berdasarkan karakteristik yang dihasilkan oleh interpretasi sosial dan simbolik yang pada akhirnya melahirkan adanya pembagian ruang dan peran.12

3. Mansour Faqih berpendapat, bahwa gender adalah suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural.

Misalnya, perempuan itu dikenal lemah lembut, cantik, emosional dan keibuan. Sedangkan laki-laki dikenal kuat, rasional, jantan dan perkasa.13

Kesimpulan yang dapat diambil dari pendapat para tokoh di atas adalah bahwa gender merupakan sifat yang diberikan kepada laki-laki dan perempuan berdasarkan adat istiadat yang terdapat di masing-masing wilayah, yang dikonstruksi secara sosial dalam waktu yang sangat lama.

11 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, h. 35.

12 Zaitunah Subhan, Tafsir Kebencian, Studi Bias Gender dalam Tafsir Alquran, (Yogyakarta: LKis, 1999), h. 23.

13 Mansour Fakih, Analisis Gender & Transformasi Sosal (Yogakarta: Pustaka Pelajar, 1997), h. 8.

Konstruksi Gender dalam Islam

Pensifatan ini tidak sama dari satu wilayah dengan wilayah yang lainnya, dan bahkan bisa berubah dari waktu ke waktu.

Kajian seputar gender di Indonesia, dewasa ini mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Hal ini tidak saja ditandai dengan melimpahnya publikasi yang mengangkat wacana gender dan Islam sebagai kerangka ideologi, melainkan juga fakta bahwa ia sudah merambah luas ke dalam suatu mainstream gerakan yang kemudian mengundang orang untuk dengan mudah menyebutnya sebagai ‚gerakan feminisme Islam‛. Meskipun definisi

‚feminisme Islam‛ itu sendiri masih dalam perdebatan serius di dalam kalangan aktivis perempuan Muslim, namun pada tingkat common vision mereka dapat bertemu untuk memperjuangkan keadilan dan kesetaraan gender.14 Dalam hal ini, tentu menjadi penting untuk meneliti akar-akar sejarah yang menjadi pemicu lahirnya gerakan feminisme Islam di Indonesia, yang kemudian secara aktif merespon isu-isu gender dalam kaitannya dengan Islam.

C. Teori Tentang Gender

Dalam analisis gender dikenal beberapa teori yang mampu menjelaskan bagaimana latar belakang persamaan dan perbedaan peran gender laki-laki dan perempuan.

1. Teori Psikoanalisa/Identifikasi

Teori ini diperkenalkan oleh Sigmund Freud (1856-1939). Teori ini mengungkapkan bahwa perilaku dan kepribadian laki-laki dan perempuan sejak awal ditentukan oleh perkembangan seksualitas. Freud

14 Arief Subhan, Citra Perempuan dalam Islam, Pandangan Ormas Keagamaan, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003), h. 1.

menjelaskan bahwa kepribadian seseorang tersusun di atas tiga struktur, yaitu:

Pertama, Id, sebagai pembawaan sifat-sifat fisik-biologis seseorang sejak lahir, termasuk nafsu seksual dan insting yang cenderung selalu agresif. Id bagaikan sumber energy, memberikan kekuatan terhadap kedua struktur berikutnya. Id bekerja di luar sistem rasional dan senantiasa memberikan dorongan untuk mencari kesenangan dan kepuasan biologis.

Kedua, Ego, bekerja dalam lingkup rasional dan berupaya menjinakkan keinginan agresif dari id. Ego berusaha mengatur hubungan antara keinginan subyektif individual dan tuntutan objektif realitas sosial. Ego membantu seseorang keluar dari berbagai problema subyektif individual dan memeliharanya agar bertahan hidup dalam dunia realitas.

Ketiga, Superego, berfungsi sebagai aspek moral dalam kepribadian, berupaya mewujudkan kesempurnaan hidup, lebih dari sekedar mencari kesenangan dan kepuasan. Superego juga selalu mengingatkan ego agar senantiasa menjalankan fungsinya mengontrol id.15

2. Teori Fungsionalis Struktural

Teori ini berasumsi bahwa suatu masyarakat terdiri atas berbagai bagian yang saling mempengaruhi. Dalam peran gender, pengikut teori ini menunjuk masyarakat pra-industri, sebagai contoh, betapa masyarakat tersebut terintegrasi di dalam suatu sistem sosial. Laki-laki berperan sebagai pemburu (hunter) dan perempuan

15 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, h. 46.

Konstruksi Gender dalam Islam

sebagai peramu (gatherer). Sebagai pemburu, laki-laki lebih banyak beraktifitas di luar rumah dan bertanggung jawab membawa makanan kepada keluarga. Pembagian peran seperti ini telah berfungsi dengan baik dan berhasil menciptakan kelangsungan masyarakat yang stabil. Dalam masyarakat seperti ini, stratifikasi peran gender sangat ditentukan oleh jenis kelamin (seks).

3. Teori Konflik

Teori Konflik diidentikkan dengan teori Marx.

Marx yang kemudian dilengkapi Friedrich Engels, mengemukakan suatu gagasan menarik bahwa perbedaan dan ketimpangan gender antara laki-laki dan perempuan tidak disebabkan oleh perbedaan biologis, tetapi merupakan bagian dari penindasan dari kelas yang berkuasa dalam relasi produksi yang diterapkan dalam konsep keluarga. Hubungan suami-istri tidak ubahnya dengan hubungan proletar dan borjuis, hamba dan tuan, pemeras dan yang diperas.16

4. Teori-teori Feminis

Feminis Liberal, laki-laki dan perempuan sama-sama mempunyai kekhususan-kekhususan. Secara ontology keduanya sama, hak-hak laki-laki dengan sendirinya menjadi hak-hak perempuan.17

Feminisme Marxis-Socialis, ketimpangan gender di dalam masyarakat adalah akibat penerapan sistem kapitalis yang mendukung terjadinya tenaga kerja tanpa

16 Mansour Fakih, Analisis Gender & Transformasi Sosal (Yogakarta: Pustaka Pelajar, 1997), h. 35.

17 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, h. 64.

upah bagi perempuan di dalam lingkungan rumah tangga.18

5. Teori Sosio-Biologi

Teori ini mengatakan bahwa semua pengaturan peran jenis kelamin tercermin dari ‚biogram‛ dasar yang diwarisi manusia modern dari nenek moyang primat dan hominid mereka. Intensitas keunggulan laki-laki tidak saja ditentukan oleh faktor biologis tetapi juga merupakan elaborasi kebudayaan atas biogram manusia.19

Dari teori-teori di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa gender sangat dipengaruhi oleh keadaan sosial geografis serta waktu dimana gender tersebut tumbuh dan berkembang.

D. Bentuk-Bentuk Ketidakadilan Gender

Pada beberapa dekade terakhir ini, atribut gender yang merujuk pada jenis kelamin biologis menimbulkan perdebatan yang berkepanjangan di dalam masyarakat.

Penetapan atribut gender yang merujuk pada faktor biologis dinilai mengandung bias gender yang merugikan perempuan.20 Kodrat perempuan dijadikan alasan untuk mereduksi berbagai peran perempuan di dalam keluarga maupun masyarakat. Seorang perempuan dengan sifatnya

18 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, h. 66.

19 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, 68.

20 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, 36.

Konstruksi Gender dalam Islam

yang lembut, halus dan emosional, memiliki peran gender tradisional dengan tugas merawat dan mengurus seluruh kebutuhan domestik rumah. Sementara seorang laki-laki dengan sifatnya yang keras, kasar dan rasional menjadikannya memiliki peran gender sebagai seorang yang bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan publik. Dalam pandangan kaum feminis, sifat-sifat sebagaimana disebutkan di atas, tidak lain merupakan sesuatu yang dikonstruksi secara sosial dan budaya. Dalam arti lain, ia dibuat oleh manusia sendiri, bukan pemberian dari Tuhan. Fakta-fakta sosial menunjukkan dengan jelas bahwa sifat-sifat tersebut dapat berganti dan dipertukarkan atau berubah menurut waktu, tempat dan kelas sosial.21

Menurut Zakiyyuddin Baidhawy, perbedaan gender sebenarnya tidak menjadi persoalan selama tidak menimbulkan ketidakadilan. Namun yang terjadi sebaliknya, gender justru menggiring dan melahirkan sikap dan praktik yang mendiskriminasikan perempuan. Sikap dan praktik diskriminatif ini menyiratkan hubungan yang bersifat politis, hubungan kekuasaan laki-laki atas perempuan.

Gender sebagai dasar pembagian tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan, ditetapkan secara sosial dan kultural, bukanlah kodrat Tuhan, melainkan suatu pembedaan yang dihasilkan dan disosialisasikan melalui sejarah yang panjang. Oleh karena itu, gender berbeda dari zaman yang satu ke zaman yang lain, dari suatu tempat ke tempat yang lain, dan dari suatu kelas ke kelas yang lain.

Maka gender akhirnya berkaitan erat dengan proses keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan

21 Husein Muhammad, Islam Agama Ramah Perempuan , Pembelaan Kiai Pesantren (Yogyakarta: LKiS, 2004), h. 7.

berpikir dan bertindak sesuai dengan ketentuan sosial dan budaya tempat di mana mereka berada.22

Sejalan dengan Zakiyyuddin Baidhawy, Mansour Fakih berpendapat, perbedaan gender sesungguhnya tidaklah menjadi masalah selama tidak melahirkan ketidakadilan.

Namun pada kenyataannya perbedaan gender telah melahirkan adanya perbedaan peran gender, dan perbedaan peran gender menimbulkan ketidakadilan gender. Dari hasil penelitiannya yang menggunakan analisis gender, mengatakan bahwa ditemukan banyaknya manifestasi ketidakadilan yang timbul akibat adanya perbedaan peran gender. Ketidakadilan tersebut diantaranya: marginalisasi (pemiskinan ekonomi), subordinasi (penomorduaan peran perempuan), stereotype (pelabelan negatif), violence (kekerasan) dan double burden (beban ganda).23

1. Marginalisasi atau pemiskinan, adalah sebuah keadaan dimana akses terhadap perempuan terbatas.

Marginalisasi banyak terjadi pada kaum perempuan.

Misalnya, banyak perempuan desa tersingkir dan menjadi miskin akibat program pertanian ‘Revolusi Hijau’ yang hanya memfokuskan pada petani laki-laki.

Atas dasar itu banyak petani perempuan tergusur dari sawah dan pertanian, seiring dengan tergusurnya ani-ani.

2. Subordinasi, dalam sistem ini perempuan dianggap tidak mampu/tidak cocok menduduki atau melakukan pekerjaan tertentu, misalnya pandangan tentang

22 Zakiyuddin Baidhawy, Perspektif Agama-agama, Geografis, dan Teori-teori, Wacana Teologi Feminis, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), h. viii.

23 Mansour Faqih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, h. 12-23.

Konstruksi Gender dalam Islam

kepemimpinan perempuan. Akibat adanya subordinasi, banyak kebijakan yang dibuat tanpa menganggap penting kaum perempuan. Bahkan pada masyarakat Jawa, dulu ada anggapan bahwa anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, karena pada akhirnya dia akan ke dapur juga.

3. Stereotipe atau pelabelan negatif adalah penandaan terhadap suatu kelompok yang diakibatkan adanya perbedaan gender. Hal ini banyak terjadi pada kaum perempuan. Dan akibat dari pelabelan ini, terjadi diskriminasi serta ketidakadilan lainnya. Misalnya, karena ada anggapan bahwa laki-laki adalah pencari nafkah, maka setiap pekerjaan yang dikerjakan oleh perempuan dianggap sebagai pekerjaan tambahan, dan oleh karenanya boleh dibayar lebih rendah dari laki-laki.

4. Violence atau kekerasan, pada umumnya terjadi pada kaum perempuan. Adanya anggapan bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah, maka laki-laki yang katanya makhluk kuat memperlakukan kaum perempuan dengan sekehendak hatinya. Kekerasan ini mencakup kekerasan fisik, seperti pemerkosaan, pemukulan sampai kekerasan dalam bentuk yang paling halus seperti pelecehan seksual dan penciptaan ketergantungan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Mansour Faqih, ada beberapa bentuk kejahatan yang bisa dikategorikan sebagai kekerasan gender, diantaranya:

Petama, kekerasan dalam bentuk pemerkosaan terhadap perempuan, termasuk perkosaan terhadap perkawinan.

Perkosaan terjadi jika seseorang melakukan paksaan untuk melakukan pelayanan seksual tanpa kerelaan yang bersangkutan. Ketidakrelaan ini seringkali tidak

diekspresikan karena adanya berbagai faktor, seperti ketakutan, malu, keterpaksaan ekonomi, sosial maupun kultural.

Kedua, pemukulan dan tindakan serangan fisik dalam rumah tangga, termasuk tindak kekerasan dalam bentuk penyiksaan terhadap anak.

Ketiga, kekerasan dalam bentuk penyiksaan yang mengarah kepada organ alat kelamin, misalnya penyunatan terhadap anak perempuan. Penyunatan terhadap alat kelamin perempuan dianggap sebagai sebuah kekerasan karena disinyalir dalam peristiwa ini terdapat bias gender yang terjadi pada masyarakat, yakni untuk mengontrol perempuan.

Keempat, kekerasan dalam bentuk pelacuran. Pelacuran merupakan kekerasan terhadap perempuan yang diselenggarakan oleh mekanisme ekonomi. Masyarakat dan negara menggunakan standar ganda terhadap pekerja seksual ini.

Kelima, kekerasan dalam bentuk pornografi, termasuk kekerasan dalam bentuk nonfisik, yakni pelecehan seksual dimana tubuh perempuan dijadikan objek tontonan demi keuntungan seseorang.

Keenam, kekerasan dalam bentuk pemaksaan sterilisasi dalam Keluarga Berencana. Kekerasan ini terjadi ketika perempuan dijadikan objek untuk memenuhi target program Keluarga Berencana. Meskipun semua tahu, bahwa hal ini tidak hanya bersumber pada perempuan sebagai penyebabnya, dan tidak hanya bisa dilakukan oleh perempun.

Ketujuh, kekerasan terselubung, yakni memegang atau menyentuh bagian tubuh perempuan dengan berbagai cara dan kesempatan tanpa ada kerelaan dari si pemilik tubuh.

Konstruksi Gender dalam Islam

Kekerasan ini banyak terjadi tempat kerja atau di tempat-tempat umum, seperti di bis.

Kedelapan, kekerasan dalam bentuk pelecehan seksual atau sexual harassement dan atau unwanted attention from men.

Ketidakadilan akibat adanya perbedaan peran gender berikutnya adalah Double Burden atau peran ganda perempuan. Double Burden biasanya terjadi pada keluarga kelas menengah ke bawah.

Adanya anggapan bahwa kaum perempuan memiliki sifat merawat dan rajin, serta tidak cocok untuk menjadi kepala rumah tangga berakibat bahwa semua pekerjaan domestik rumah tangga menjadi tanggung jawab kaum perempuan. Perempuan di keluarga miskin selain harus mengurusi seluruh kebutuhan domestik rumah, ia juga harus menanggung beban ekonomi keluarga.24

Karena peran gender perempuan adalah mengelola rumah tangga, maka banyak perempuan menanggung beban kerja domestik lebih banyak dan lebih lama. Dengan kata lain, peran gender perempuan yang bertugas menjaga, mengelola dan memelihara kerapian rumah tangga, telah mengakibatkan tumbuhnya tradisi dan keyakinan masyarakat bahwa mereka harus bertanggung jawab atas terlaksananya keseluruhan pekerjaan domestik. Adanya sosialisasi tersebut menyebabkan timbul rasa bersalah dan berdosa pada diri perempuan apabila tidak menjalankan tugas-tugas domestik tersebut.25

Double burden juga terlihat pada tingkat kebijakan, dimana pekerjaan perempuan cenderung tidak terlindungi dalam konteks hukum dan perekonomian. Buruh migran,

24 Mansour Faqih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, h. 21.

25 Mansour Faqih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, h. 76.

misalnya, adalah anak bangsa yang menyumbang bagi pembangunan di Indonesia, tetapi perlindungannya masih sangat terbatas.

E. Pandangan Islam terhadap Gender

Sudah menjadi pemahaman mayoritas umat, bahwa asal muasal kaum perempuan dalam agama Islam diyakini sebagai makhluk yang diciptakan dari tulang rusuknya kaum laki-laki. Keyakinan ini sudah mendarah daging di dalam pikiran setiap orang Islam, Meskipun bertolak belakang dengan isyarat penciptaan manusia sebagai mana yang tersurat dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Ayat-ayat Al-Qur’an justru menyebut asal-muasal semua manusia diciptakan dari air mani.26

Dialog kritis atas isu-isu gender dalam Islam, antara lain ditandai dengan suburnya lembaga-lembaga perempuan yang memfokuskan pada pengkajian, pendidikan dan penelitian. Di lingkungan ormas Islam sendiri, seperti Nahdlatul Ulama (NU), secara struktural bisa dirujuk pada keberadaan Muslimat dan Fatayat. Dua organisasi ini aktif menggulirkan dan memperjuangkan keadilan dan kesetaraan gender dalam Islam.

Kepedulian Muslimat terhadap Isu-isu gender salah satunya ditunjukkan Muslimat dalam agenda representasi politik perempuan dalam keterwakilannya di lembaga legislatif. Hal ini misalnya tampak pada Pemilu I 1955, ketika terjadi kejutan besar bagi NU, mengingat hasil yang dicapai oleh partai ini hampir enam kali lipat dibandingkan dengan perwakilannya di DPRS (45 kursi berbanding 8 kursi di DPRS). Anggota Muslimat yang dipilih berjumlah 10% (5

26 M. Faisol, Hermeneutika Gender, Perempuan dalam Tafsir Bahr al-Muhith, h. 81.

Konstruksi Gender dalam Islam

orang) dari seluruh perolehan kursi untuk DPR dan 6 orang untuk Konstituante. Ketika DPR hasil Pemilu I dibubarkan, dan dibentuk GR, keanggotaan Muslimat dalam

Konstruksi Gender dalam Islam

orang) dari seluruh perolehan kursi untuk DPR dan 6 orang untuk Konstituante. Ketika DPR hasil Pemilu I dibubarkan, dan dibentuk GR, keanggotaan Muslimat dalam

Dalam dokumen YAYASAN OMAH AKSORO INDONESIA (Halaman 38-0)