• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASAS-ASAS HUKUM PIDANA FORMIL DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI

A. PENGANTAR

S

ebagamana dketahu, UU Korups d Indonesa merupakan undang-undang yang khusus. Artnya, sebaga undang-undang yang khusus, UU Korups memlk sfat-sfat yang “khusus” yang dmlk oleh undang-undang khusus bak tu dalam hukum pdana materlnya maupun hukum pdana formlnya.

Beberapa kekhususan dalam hukum pdana forml yang ditunjukkan oleh UU Korupsi antara lain:

1. Adanya nsttus khusus yang menangan tndak pdana korups yang dsebut dengan Koms Pemberantasan Korups (KPK);

2. Adanya prortas penanganan tndak pdana korups; 3. Pembalkan beban pembuktan;

4. Pengembalian asset hasil korupsi; 5. Peradlan n absenta;

6. Perluasan alat bukt;

7. Tidak berlakunya kerahasiaan bank dalam tindak pidana korups;

8. Putusan bebas tdak serta merta menghapus hak menuntut kerugan terhadap keuangan negara.

Meskpun dalam UU Korups terdapat kekhususan dalam hukum formlnya perlu dketahu bahwa asas-asas hukum forml yang berlaku dalam KUHAP tetap menjad nduk peraturan bag UU Korups, hanya saja asas-asas dalam KUHAP tersebut dsmpang sehngga UU Korups menjad lex specialis.

Sepert mengena penanganan perkara korups secara khusus dtangan oleh suatu koms yang dsebut dengan Koms Pemberantasan Korupsi sebagaimana diatur dalam Pasal 43 ayat (1) UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Korups dan Pengadlan Tpkor. Koms Pemberantasan Korups n memlk tugas dan wewenag melakukan koordnas dan supervs, termasuk melakukan penyeldkan, penydkan dan penuntutan sesua dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Artnya, dalam proses penanganan tndak pdana korups akan dkerjakan oleh nsttus khusus n. Untuk ketentuan mekansme dan kewenangannya dalam melakukan penyeldkan, penydkan dan penuntutan perkara tndak pdana korups datur secara jelas dalam UU No. 30 Tahun 2002 Tentang Koms Pemberantasan Tndak Pdana Korups.

Adanya ketentuan n menunjukkan adanya penympangan pada KUHAP sebaga asas umum dalam hukum acara dmana KUHAP menentukan bahwa kewenangan penyeldkan dan penydkan suatu perkara pdana adalah phak kepolsan. Sedangkan kewenangan untuk melakukan penuntutan ada d tangan kejaksaan. Demkan pula mengena pemerksaan perkara korups yang dlakukan d Pengadlan Tndak Pdana Korups oleh hakm tndak pdana korups juga bertentangan dengan pemerksaan perkara yang datur oleh KUHAP yang menentukan untuk setap perkara pdana dperksa d Pengadlan Neger.

B. SISTEM PEMBUKTIAN DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI

Dalam lmu pengetahuan hukum pdana dketahu ada 3 (tga) teor tentang sstem pembuktan dalam hukum pembuktan yaitu :

1. Sstem pembuktan menurut undang-undang secara postf; 2. Sstem pembuktan menurut keyaknan hakm; dan

3. Sstem pembuktan menurut undang-undang secara negatve.

Ketga teor tersebut secara umum mendeskrpskan tentang bagamana membuktkan kebenaran dar sesuatu hal dan bukt-bukt apa yang dapat dpergunakan. KUHAP sebaga hukum acara pdana juga merupakan hukum yang memuat tentang sstem pembuktan pada faktanya menganut teor sstem pembuktan menurut undang-undang yang negatve. Meskpun serngkal dalam praktk peradlan, teor sstem pembuktan yang dpergunakan adalah sstem pembuktan menurut undang-undang secara postf.

Terkat pembuktan, KUHAP menentukan bahwa pembuktan dlakukan oleh Jaksa Penuntut Umum (selanjutnya disingkat JPU), sebagaimana tertuang dalam Pasal 137 KUHAP. Artnya, dalam proses pemerksaan persdangan dan dalam upaya memberkan keyaknan hakm bahwa terdakwa bersalah, JPU-lah yang harus membuktkan kesalahan terdakwa. Dengan demkan, JPU harus mempersapkan bukt-bukt yang dapat dpergunakannya untuk memberkan keyaknan pada hakm tentang kesalahan terdakwa.

Hal tersebut berbeda dengan pembuktan dalam tndak pdana korups, dmana pembuktan dlakukan oleh terdakwa dan terdakwa harus dapat membuktkan bahwa perbuatannya tdak mengandung kesalahan, apabla terdakwa tdak dapat membuktkan drnya tdak bersalah maka a akan tetap dpdana. Model pembuktan oleh terdakwa n lazm dkenal sebaga model pembalkan beban pembuktan sebagamana datur dalam Pasal 12B, Pasal 37, Pasal 37A, dan Pasal 38B.

Model pembalkan beban pembuktan n berkembang d negara-negara dengan latar belakang Common Law System atau negara-negara penganut Case Law. Model pembalkan beban pembuktan n hanya dterapkan pada kasus-kasus tertentu seperti gratifikasi yang berindikasi suap.

Secara umum, hukum pdana formal bak tu dalam sstem

Common Law ataupun sstem Civil Law memberkan kewajban

dalam hal pembuktan kepada jaksa penuntut umum. Namun dalam beberapa stuas tertentu dmungknkan untuk menerapkan

model pembalkan beban pembuktan yang dkenal dengan stlah

reversal burden of proof khususnya dalam kasus-kasus tertentu dan

tdak dlakukan secara menyeluruh serta tetap ddasarkan pada batas-batas semnnal mungkn untuk tdak merusak konsep perlndungan dan penghargaan terhadap HAM. Dalam hal n terlhat bahwa sstem pembalkan beban pembuktan n berada dluar kelazman teorts pembuktan dalam hukum acara pdana secara unversal sebagamana dungkap oleh Indryanto Seno Adje.30

C. PERADILAN IN ABSENTIA

Secara umum, peradlan n absenta merupakan suatu proses peradlan dalam perkara acara pdana yang tdak dhadr oleh terdakwa. Ketentuan mengena peradlan n absenta tdak dtemukan dalam KUHAP Indonesa namun dalam UU Korups ada pengaturan tentang peradlan n absenta yakn dalam Pasal 38 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) UU Korupsi yang masing-masing berbunyi sebagai berikut :

1. Pasal 38 ayat (1): dalam hal terdakwa telah dipanggil secara sah dan tdak hadr d sdang pengadlan tanpa alasan yang sah maka perkara dapat dperksa dan dapat dputus tanpa kehadrannya.

2. Pasal 38 ayat (2): dalam terdakwa hadir pada sidang berkutnya sebelum putusan djatuhkan maka terdakwa wajb dperksa dan segala keterangan saks dan

surat-30 Indryanto Seno Adje, 2006, Korupsi dan Pembalikan Beban Pembuktian, Cet. Pertama, Prof. Oemar Seno Adje dan Rekan, Jakarta, h. 132

DISKUSIKAN.

Telusuri bunyi Pasal 12b, Pasal 37, Pasal 37A dan