A. TINDAK PIDANA KORUPSI BIDANG ADMINISTRASI
NEGARA
P
emerntah dtuntut memberkan pelayanan secara optmal, transparan dan akuntabel (optimalization ofpublic service) dalam pelaksanaan tugas pembangunan khususnya
berkatan kebjakan pengelolaan keuangan negara, dengan tujuan untuk mewujudkan kesejahteraan umum dan pembangunan nasonal.
Tndakan pemerntah haruslah darahkan pada tujuan yang telah d tetapkan oleh peraturan yang menjad dasarnya. Dalam hal pemerntah menympang dar tujuan yang telah dtetapkan, pemerntah telah melakukan tndakan yang “ondoelmatig”. Menurut praktk Conseil d’Etat d Perancs, tndakan yang demkan dsebut “detournement de pouvoir”.31
Tindak pemerintah dikualifikasikan sebagai penyalahgunaan wewenang (detournement de pouvoir) apabila:
1) Seorang pejabat pemerntahan menggunakan suatu wewenang dengan suatu tujuan yang nyata-nyata bukan untuk kepentngan umum melankan dengan suatu tujuan prbad atau tujuan poltk;
2) Seorang pejabat pemerntahan menggunakan suatu wewenang dengan suatu tujuan (yang harus nyata dar surat-surat yang bersangkutan) bertentangan dengan
31 Abdul Latif, 2014, Hukum Administrasi Dalam Praktik Tindak Pidana Korupsi, Prenada Meda Group, Jakarta, h. 215.
ketentuan dar undang-undang yang memuat dasar hukum dar wewenang tu;
3) Seorang pejabat pemerntahan melaksanakan suatu wewenang dengan suatu tujuan lan darpada yang nyata-nyata dkehendak oleh undang-undang dengan wewenang tu.32
Kebjakan atau tndakan pemerntah yang dber atrbut untuk kepentngan tertentu, menjad ttk rawan terjadnya penyalahgunaan wewenang, sebagamana tampak dalam kasus korups dewasa n. Bahkan data korups yang dtangan KPK, telah memetakan wlayah yang menjad ttk rawan korups dalam penyelenggaraan pemerntahan negara. Kendatpun berbeda modusnya namun semuanya melekat pada penggunaan kewenangan bebas, antara lain:
1) Korups d wlayah kewenangan, khususnya penyalahgunaan wewenang dan tndakan sewenang-wenang;
2) Korupsi fiskal atau anggaran. Pos belanja anggaran barang dan jasa sepert pengadaan nfra struktur, ATK dan proyek pembangunan fisik. Nilai pos anggaran ini tergolong besar dan selama era reformas terus menngkat.33
Dalam praktk tdak selamanya penyalahgunaan wewenang dapat dpandang sebaga perbuatan melawan hukum. Bahwa dalam tndak pdana korups, unsur melawan hukum merupakan
genusnya, sedangkan unsur penyalahgunaan wewenang adalah speciesnya. Dengan demkan setap perbuatan penyalahgunaan
wewenang sudah past melawan hukum. Dalam pemeriksaan
pengadilan jika ternyata unsur delik pada Pasal 3 UU No 31 Tahun 1999 Jo UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, tidak terbukti, apakah perlu dibuktikan Pasal 2 UU No 31
32 Philipus M.Hadjon, 1987, Pengertian-Pengertian Dasar tentang Tindak
Pemer-intahan (Makalah) dalam Pelathan Dosen Hukum Admntras, Surabaya.
h.12
33 Kastorus Snaga, 2008, Titik Rawan Penyimpangan Polisi, Forum Keadlan No.25, Jakarta, h. 14.
Tahun 1999 Jo UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Hal tersebut tdak perlu dbuktkan lag, karena penyalahgunaan wewenang tdak terbukt maka secara mutatis mutandis unsur melawan hukum tdak terbukt.34 Dalam realtasnya pandangan tersebut kurat tepat, karena tdak semua perbuatan penyalahgunaan wewenang merupakan perbuatan melawan hukum. Hal n dsmak dalam pertmbangan putusan Mahkamah Agung tanggal 8 Januar 1966, bahwa suatu tndakan pada umumnya dapat hlang sfatnya sebaga melawan hukum, bukan hanya berdasarkan ketentuan dalam perundang-undangan, melankan juga berdasarkan asas keadlan atau asas-asas hukum yang tdak tertuls dan bersfat umum, dalam banyak perkara yang terjad, msalnya faktor-faktor negara tdak drugkan, kepentngan umum dlayan dan terdakwa sendr tdak mendapat untung.35
Contoh yang tepat mengena detournement de pouvoir dkemukakan Laca Marzuk sepert dalam hal pengalhan anggaran untuk pembangunan sekolah, untuk kemudan djadkan sebaga anggaran pembangunan jembatan. Dalam contoh tersebut tampak adanya perbuatan menympang dar peraturan dasarnya, yatu tndakan mengalhkan anggaran sekolah menjad anggaran pembangunan jembatan. Kendatpun perbuatan tersebut, telah menympang dar peraturan dasarnya, namun tdak dapat dpandang sebaga perbuatan melanggar hukum atau melawan hukum, karena tujuan akhr dar tndakan pengalhan tersebut, adalah juga untuk kepentngan umum. Membangun sekolah dmaksudkan untuk kepentngan umum demkan pula halnya dengan pembangunan jembatan adalah untuk kepentngan umum. Jad tujuan akhr dar kegatan tersebut, meskpun dalhkan dar anggaran semula tetap memenuh sasarannya, yatu untuk kepentngan umum.36
34 Nur Basuk Mnarno, 2009, Penyalahgunaan Wewenang Dalam Pengelolaan
Keuangan Daerah yang Berimplikasi Tindak Pidana
Korupsi, Unverstas Ar-langga, Surabaya, h. 222.
35 Chaidir Ali, 1979, Yurisprudensi Indonesia tentang Hukum Pidana Korupsi, Bna Cpta, Bandung, h. 10.
Klasifikasi Risiko Tindak Pidana Korupsi Pengelola Keuangan Negara
Rsko merupakan akbat yang kurang menyenangkan (merugkan, membahayakan) dar suatu perbuatan atau tndakan, dalam hal n, Rsko jabatan dapat juga terjad pada lngkungan penanggungjawab dan pengelola keuangan negara atau daerah. Berhubungan dengan pengujan pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara terdapat klasifikasi Risiko baik dsengaja atau karena ketdaktahuan, Rsko-Rsko tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:37
Rsko 1 (R1) Rsko pejabat palng tngg terkena “perbuatan merugkan keuangan negara yang akhrnya menjad tndak pdana korups” pada umumnya mereka yang memegang jabatan dan tanggungjawab keuangan negara/daerah yang strategs, serta banyak yang menjad terdakwa dalam putusan pengadilan. Antara lain adalah: Pertama, Jabatan Menteri/ pmpnan lembaga atau kepala satuan kerja pemerntah daerah sebaga “pengguna anggaran”. Kedua; Pejabat Pembuat Komitmen atau PPK (PPK masuk pada klasifikasi R.1 karena secara aturan yang bertanggungjawab secara materl dan formal artnya quality control kelengkapan dan kebenaran admnstras pertanggungjawaban maupun kebenaran materl pekerjaan menjad tanggungjawabnya. Ketga; Pejabat Kepala Daerah (sebenarnya secara yurds formal kewenangan kepala daerah dalam hal keuangan daerah telah ddstrbuskan kepada kepala SKPD dan Bendahara, tetap terkadang kepala daerah yang terkena masalah tndak pdana korups karena “kut terlbat aktf” dalam menentukan pemenang lelang, kut terlbat aktf dalam menentukan pekerjaan dan perntah pencaran dana). Keempat; Pelaksanaan pekerjaan atau pemborong pekerjaan, (permasalahan pemborong pekerjaan jka melakukan pekerjaan dengan benar dan bak tdak akan ada masalah serus, tetap jka
37 Helnold Ferry Makawmbang, 2015, Memahami dan Menghindari Perbuatan
Merugikan Keuangan Negara dalam Tindak Pidana Korupsi dan Pencucian Uang,
pemborong terlbat dalam perkara tndak pdana korups pada ranah pelaksanaan pekerjaan, basanya ada mark up pekerjaan, kekurangan volume, kualtas barang lebh rendah, atau bahkan pekerjaan dilakukan secara fiktif).
Rsko 2 (R2), rsko pejabat yang cukup strategs terkena “perbuatan merugkan keuangan negara yang akhrnya menjad tndak pdana korups”, pada umumnya mereka yang memegang jabatan dan tanggungjawab keuangan negara/daerah yang “kut menentukan” pelaksanaan keuangan negara, serta cukup banyak yang menjad terdakwa dalam putusan pengadlan. Antara lain adalah: Pertama; Anggota DPR/DPRD (Panitia Anggaran mengusul dan menetapkan anggaran, sebenarnya jka hanya mengusul dan menetapkan anggara dalam kerangka meluruskan program pembangunan pemerntah, mash dalam batas kewajaran, hal n tdak ada masalah, tetap jka ddasar kepentngan memperoleh keuntungan fee, pekerjaan dan lannya dengan modus mark up sehngga merugkan keuangan negara, maka anggota DPR/DPRD yang melakukan “perbuatan pdana” tersebut akan nak kelas bukan saja Rsko 2 tetap menjad Rsko 1 sebaga pelaku utama). Kedua; Panta Pengadaan Barang dan Jasa atau PPBJ (permasalahan yang serng terjad dengan PPBJ adalah lemahnya proses dan penentuan harga perhtungan sendr atau owners estmate pengadaan barang dan jasa yang menjad tanggungjawabnya, sehngga “menguntungkan pelaksana pekerjaan dan merugkan keuangan negara”, permasalahan lan adalah proses dan penentuan “pemenang lelang atau pemenang pengadaan barang dan jasa”, sehngga memenangkan peserta yang tdak layak menang, permasalahan pokoknya terkadang proses seleks yang tdak profesonal dan tdak ndependen). Ketga; Pejabat Penanggungjawab Tekns Pekerjaan atau PPTK (permasalahan serng terjad adalah PPTK kut menyetuju pekerjaan yang melanggar hukum dan merugkan keuangan negara karena mendapat fee atau ucapan terma kash dar pemborong) dan Keempat; Bendahara Penerma/Pengeluaran (permasalahan yang dhadap bendahara
adalah kut menyetuju dokumen pencaran “menandatangan kuitansi” yang melanggar hukum atau fiktif, pekerjaan kurang, karena bendahara menandatangan kutans sebaga dasar pencaran sehngga pemborong dapat dbayar secara penuh, dalam kondisi ini bendahara secara hukum pidana di kualifikasi sebaga “melengkap perbuatan pdana atau voltooid”, padahal bendahara berhak menolak jka dokumen tdak lengkap atau dduga bermasalah, hanya terkadang karena perntah pmpnan, bendahara takut jabatannya hlang).
Rsko 3 (R.3) Rsko cukup rendah, basa jabatan yang kut melengkap perbuatan pdana, (karena tndakannya atau persetujuannya sehngga perbuatan pdana menjad lengkap) pada umumnya mereka yang memegang jabatan dan tanggungjawab keuangan satuan kerja perencanaan (pengusul spesifikasi barang/HPS), Panitia Penerima Barang, Unit Pelaksana Tekns Dana Alokas Khusus (DAK) dan Konsultan Pengawas (Kegatan Tekns) termasuk nstans terkat yang mengeluarkan surat rekomendas sehngga kegatan menjad lengkap.
Perhitungan Kerugian Keuangan Negara
Perhtungan kerugan keuangan negara dalam tndak pdana korups baru dapat dlakukan setelah dtentukan unsur melawan hukumnya sebaga penyebab tmbulnya kerugan keuangan negara. Tujuan dlakukannya perhtungan jumlah kerugan keuangan negara antara lan38:
1) Untuk menentukan jumlah uang penggant/tuntutan gant rug yang harus dselesakan oleh phak yang terbukt bersalah bla kepada terpdana dkarenakan pdana tembahan sebagaimana diatur dalam Pasal 17 dan 18 UU 31 Tahun 1999.
2) Sebaga salah satu patokan/acuan bag Jaksa untuk melakukan penuntutan mengena berat/rngannya hukuman yang perlu djatuhkan berdasarkan ketentuan perundang-undangan
yang berlaku dan bag hakm sebaga bahan pertmbangan dalam menetapkan keputusannya.
3) Dalam hal kasus yang terjad ternyata merupakan kasus perdata atau lannya (kekurangan perbendaharaan atau kelalaan PNS), maka perhtungan kerugan keuangan negara dgunakan sebaga bahan gugatan/penuntutan sesua dengan ketentuan yang berlaku.
4) Bukti-bukti dalam perhitungan kerugian keuangan negara. Unsur pentng dalam melakukan perhtungan kerugan keuangan negara adalah “kewenangan mengakses dan mendapatkan data” untuk memnta dokumen keuangan negara yang datur oleh undang–undang dalam proses pemerksaan keuangan negara. Hal yang dsebut dmuat dalam Pasal 10 UU No 15 tahun 2004, lebih lanjut disebutkan dalam praktek pelaksanaan tugas pemerksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara, diatur bahwa pemeriksa dapat: meminta dokumen yang wajb dsampakan oleh pejabat atau phak lan, mengakses semua data yang dsmpan d berbaga meda, aset, lokas dan segala jens barang atau dokumen dalam penguasaan atau kendal dar enttas yang menjad obyek pemerksaan atau enttas lan yang dpandang perlu dalam pelaksanaan, melakukan penyegelan tempat penympanan uang, barang dan dokumen pengelolaan keuangan negara dan memnta keterangan kepada seseorang serta memotret, merekam, dan/atau mengambl sampel sebaga alat bantu pemerksaan”.39
39 Helnold Ferry Makawmbang, Op.Ct, h. 202.